[CHAPTER 9 – END] Together?

image

PREVIOUS CHAPTERS

Together? • Jiyeon, Myungsoo • Romance, family, marriage-life

Ga terasa ya, ini uda chap terakhir :’) Gomawo yang uda ikutin jalan ceritanya^^ Okay, let’s read it!~

“Perusahaanku.. perusahaanku bangkrut, Eunjung-ah..”

-Together? part 9 by RachelP start!^^-

Mworago?! Bagaimana bisa, Kangin-ah?” Terlihat raut kekagetan diwajah Eunjung. “Perusahaanku ditipu seseorang, Eunjung-ah.. eottokhae?” Kangin mengacak rambutnya frustrasi.

“Yasudahlah. Waktu tak dapat diputar balik. Jadi, kita harus bagaimana?” Kesedihan dan kekagetan terpampang jelas diwajah keduanya. “Suruh anak-anak kita untuk pulang ke Seoul. Dan suruh mereka menjual rumah mereka.”

“T-Tapi.. Kita tak mungkin mengganggu kebahagian mereka. Chorong akan segera menikah. Aish.. eottokhae? Eotteokhae?!” Eunjung langsung membanting tubuhnya ke ranjang. “Bagaimanapun, mereka harus kembali ke Korea.”

Mwo, Appa?! Kembali ke Korea? Bagaimana dengan pekerjaan kami? Bagaimana dengan Chorong?” Teriak Myungsoo kepada ayahnya melalui pesawat telepon. “Mau bagaimana lagi, Myung. Appa juga tak tahu, bagaimana orang yang sangat appa percaya dapat menipu appa dengan mudah.”

Nutt..nutt..
Sambungan telepon langsung ditutup oleh Myungsoo. “Wae, Myung?” Tanya Chorong yang menghampiri Myungsoo. “Perusahaan appa.. bangkrut.. Dan kita.. kita disuruh balik ke Korea, dan menjual rumah ini,”

Aish.. Eotteokhae? Nan eottokhae? Aku ‘kan akan menikah dengan Minho..” Chorong berlari kekamarnya dengan airmata yang menggenang. ‘Tak ada orang yang mengerti diriku. Betapa susahnya aku menemukan seorang yang mencintaiku apa adanya.. Apa aku harus meninggalkannya demi keluargaku? Dan tentunya, tak ada uang untuk biaya pernikahan’

“Minho-ah.. kurasa.. kita batalkan saja pernikahan kita. Abeojiku.. Perusahaannya bangkrut..” isakan tangis sudah terdengar sejak Chorong duduk diruang tamu rumah Minho. “Tapi, Rongie.. Sudah, kita tetap menikah. Biar aku saja yang membayar biaya pernikahan,”

“Rong-ah.. Kau bilang saja pada orangtuamu agar kau tidak meninggalkan Melbourne. Begini saja, biar kami yang membayar biaya tinggalmu, dan keluargamu. Eommonim tidak pernah melihat Minho sesenang ini. Ia mulai senang saat ia mengenalmu,” tambah eomma Minho. “Jeongmal, eommonim? Kau akan membayar tempat tinggal kami dan keluargaku?”

Eomma Minho mengangguk mantab. “Kami senang mempunyai calon menantu sepertimu, Rong.” Ucap appa Minho. “Ghamsahamnida, Eommonim, Abeoji.

Chukkae, my Chorongie~~ Mianae, eomma tidak bisa melihatmu menikah,” ucap Eunjung dari seberang telepon. “Gwaenchana, eomma. Terimakasih tidak memaksa kami untuk pulang ke Korea..”

“Berterimakasihlah pada mertuamu, Rong-ah.. Mereka sudah memberikan rumah untukmu, dan sudah membangun kembali perusahaan Kangin. Bersyukurlah, kau punya mertua sebaik dirinya,dan tentunya suami yang pengertian sepertinya.” Chorong terharu dengan ucapan ibunya. “Ne, eomma. Baiklah, aku akan menutup telepon. Gomawo, eomma,”

Chorong menutup teleponnya, dan kembali didandani oleh makeup-artist yang sudah berdiri dengan alat makeup ditangannya. Hyoje mendatangi Chorong yang tengah duduk dengan handphone putihnya. “Eonni, chukkae! Hyoje senang melihat eonni dan Minho oppa akan menikah. Jangan lupakan Hyoje setelah menikah, ne, eonni?”

Ne. Eonni janji padamu, Hyoje. Dan akan ada Jiyeon dan Taeyeon eonni yang selalu disisimu. Kalau kau bosan, kau bisa menelpon eonni. Pakailah telepon Jiyeon eonni.” Hyoje mengangguk. “araseo, eonni,”

“Hyojeee? Kemana kau, sayang?” Teriak Jiyeon. “Yak, kau lupa, yeobu? Ia sekarang sudah masuk sekolah, setelah libur musim panas.” Ingat Myungsoo. “Oh, iya. Aku baru ingat,” ucapnya cengengesan.

“Tapi.. sekarang sudah sore. Kenapa ia belum pulang?” Jiyeon mengambil tas selempangnya dan segera beranjak pergi. “Mau kemana, yeobu?” Tanya Myungsoo. “Tentu saja, mencari Hyoje.”

..

Berjalan mengitari jalan sekitar sekolah Hyoje selama satu jam sudah membuat kaki mereka pegal. “Kemana anak itu?” Gumam Jiyeon. Ia melihat sekelilingnya, dan menemukan kerumunan orang-orang.

“Ada apa itu?” Myungsoo bergumam dan langsung mendekat ke kerumunan orang-orang itu. Dan mereka langsung terkaget-kaget melihat…

HYOJE!

Hyoje sudah tergeletak dijalan dan sudah berlumuran darah. Saat Hyoje hendak menyebrang jalan, sebuah city car melintas dengan kecepatan melebihi yang sudah ditentukan.

“HYOJE-AH! JEBALL, JEBAL. KAJJIMA!” Teriak Jiyeon. Ia tak terima adik angkat, yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri tergeletak dengan darah terus mengucur dari tubuhnya. Ambulans segera datang dan membawa tubuh Hyoje kerumah sakit. Dan pengendara mobil itu dibawa kekantor polisi.

Ini tak mungkin. Tak mungkin! Ini pasti mimpi! Tolong cepat bangunkan aku!” Teriak Chorong sesampainya dikamar pasien Hyoje. “Kita tak bisa menolak kenyataan, Rong..” Mata Jiyeon dan Chorong sudah sangat berair. Tak bisa menahan tangis saat melihat Hyoje tak bisa terselamatkan. Dokter-dokter sudah berusaha sekeras-kerasnya, tapi tidak berhasil.

“Hyoje-aaa! Kau tidak boleh seperti itu! Kau jahat! Kau jahat! Kau meninggalkan eonni? Teganya kau! Sadarlah, Hyoje! Sadarlah! Kajjima! Aku rindu padamu, sayang..” Chorong masih merasa ini adalah sebuah mimpi.

“Aku rindu suaramu, gaya manismu, dan segalanya, Hyoje. Saranghae..” lirih Jiyeon. Myungsoo datang menghampiri istrinya yang sedang sedih. Ia tak tega melihat istrinya lemah seperti ini, dan juga tak tega melihat tubuh Hyoje yang sudah membiru.

“Sudahlah. Mungkin ini sudah takdirnya. Lepaskanlah dirinya dengan ikhlas. Pasti Hyoje dapat hidup tenang diatas sana, yeobu.”

..

Semua berkumpul dilaut dengan pakaian berwarna hitam. Jiyeon dan Chorong berhak untuk membuang abu dari tubuh Hyoje yang sudah dikremasi. Chorong tak bisa tidur memikirkannya. Minhopun khawatir padanya.

“Hyoje.. saranghae.. nan nigabilyohae.. aku tak bisa apa-apa tanpamu.” Gumam Chorong lemah. Ia mengibaskan abu dari tangannya ke laut. Ia masih teringat dengan ucapan selamat dari Hyoje atas pernikahannya.

“Kumohon, Hyoje. Hiduplah tenang disana. Aku pasti akan bertemu denganmu lagi. Kujanji padamu.” Lirih Jiyeon.

Eonni.. apa kau rindu Hyoje?” Tanya Jiyeon pada Taeyeon. “Sangat, Yeonie. Aku rindu padanya..” ucap Taeyeon. “Tapi.. kita sudah tak bersamanya lagi. Ia telah meninggalkan kita.. teganya dia,”

Noona, tak selamanya berarti begitu. Jika kita tak bersamanya disaat ini, berarti kita tidak bersamanya lagi? Ani. Itu salah. Kita akan bersama dengannya. Kita semua akan pergi menemuinya. Dan untuk sekarang, ia selalu bersama kita. Hyoje selalu ada dihati kita. Dan juga..selalu melindungi kita dari atas.”

“Woahh~ Myungie, sejak kapan kau sebijak ini? Daebak, daebak!” Ucap Jiyeon berlebihan. “Ah.. aniyaa.. aku hanya baru menyadarinya. Hyoje, aku berterimakasih padamu. Kau memberiku banyak pelajaran,” ucap Myungsoo.

Ne, kau benar. Terkadang, Hyoje bertindak dewasa, tetapi, umurnya saja masih kecil.” Tambah Taeyeon. Mereka mengangguk serempak. “Sudah, kita sekarang sudah bersatu dengannya. Bersatu didalam hati. Jadi, tak perlu terlalu sedih. Ayo, kembali keaktifitas masing-masing!”

“Ahh~ Inikah yang namanya Shanghai? Dingin sekali!” Jiyeon, Myungsoo, Taeyeon,Chorong,dan Minho sudah mengelilingi Asia selama satu bulan. Dan negara Cina-lah yang paling terakhir. Mereka akan ke Shanghai dan Beijing selama 4 hari. Mereka mengambil cuti selama satu setengah bulan, hanya untuk mengelilingi Asia.

Mereka naik ke shuttle bus yang akan mengantar mereka kehalte terdekat dengan hotelnya.

Brukk..

Shuttle bus itu menabrak sebuah tiang listrik. Dan..bus itu dalam keadaan terbalik.

….

Niiiiittttt…
Bunyi terakhir itulah yang membuat dokter-dokter mengelilingi tubuh lemah Jiyeon. Ya, Jiyeon dinyatakan meninggal. Kekurangan darah, merupakan salah satu akibatnya. Myungsoo, telah meninggalkan dunia karena tulang lehernya patah. Taeyeon, Chorong, dan Minho-pun meninggal karena tertiban bus besar itu.

Mungkin ini adalah yang terbaik untuk mereka. Mereka sudah berjanji akan bertemu kembali dengan Hyoje, dan ini adalah saatnya. Taeyeon-pun bisa bertemu dengan Jongin -mantan namjachingunya-. Tuhan sudah mempersiapkan jalan terbaik untuk mereka. Together? Ya. Mereka bersatu dihati, dan bersatu saat ini juga.

-END-

Gimana? Endingnya gajekah? Pasti yaa😀 Overall, gimana? Ada yang bingung? Klo bingung, tanya aja yaa^^ Neomu gomawo bagi yang ngebaca dari part 1nya, bahkan dari “Started from the First Time Met”😀 Ohya, gomawo buat bestie-ku satu ini, DenDon @denishawulandari buat ide + uda nunggu2 kelanjutannya^^

20 responses to “[CHAPTER 9 – END] Together?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s