Medallion

FF Medallion

Tittle : Medallion

Author : brownpills

Length : Oneshoot

Rating : PG14

Genre : Special for Luhan, Outing Luhan, Sad

Cast : Luhan EXO & Bae Suzy

Kekalahan terjadi karena kemenangan,

Begitu pula diriku yang tidak bisa bertahan-

 

.Medallion.

Luhan menganggap medallion itu jimat penghantar menjadi idola. Namun ia memberikan medallion itu pada gadis yang dicintainya. Siapa sangka ketika medallion itu tidak berada di tangan Luhan, keberuntunganya ludes seketika. Sedangkan si gadis?

.Medallion.

.

.

“Luhan sempat mengungkapkan dirinya ingin fokus pada kegiatan pribadinya karena alasan kesehatan. Kami tengah membahas mengenai kegiatannya. Jujur saja, gugatan ini sungguh membingungkan,” ujar wakil dari SM Entertainment, dilansir dari Nate, Jumat (10/10/2014).

“Melihat ini, gugatan yang diajukan Luhan sama seperti yang dilakukan Kris. Kami berpikir Luhan berani melakukan tindakan tersebut setelah merasa dirinya terkenal. Kini, ia lebih memilih keuntungan dirinya. Luhan bahkan mengabaikan perasaan rekan-rekannya di EXO yang juga akan terkena dampak dari pemutusan kontraknya—“

 

BRAK!

 

Suara itu terdengar saat ponsel berwarna merah muda mengenai kaca depan van mobil yang kini ditumpangi oleh seorang gadis. Sementara seorang pria berbingkai kacamata di balik kemudi terlonjak menghindari lemparan ponsel dari gadis yang duduk di kursi belakangnya.

YA! Noona!” bentaknya yang merupakan manager si gadis.

Sedangkan yang dibentak hanya bergeming sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Style duduknya bak model dengan dagunya yang terangkat dan mimik wajah memberikan kesan sombong.

“Kuli tinta, sh*t,” umpatnya.

“Abaikan saja info itu, Suzy. Lagipula itu tidak ada kaitannya denganmu,” celetuk Fei yang duduk di sebelah Suzy.

“Fei benar, mengapa kau begitu marah,” sindir Jia dengan mata setengah terpejam.

Suzy mengatupkan rahangnya tak berniat menyahut perkataan temannya.

“Bagaimana, noona? Kau benar benar ingin turun di sini?” suara Manager Kim membuyarkan pikiran Suzy yang sempat kosong.

Suzy melemparkan pandangannya keluar. Saat ini van putihnya tengah berada di depan rumah sakit. Seperti segerombolan semut, di lobby rumah sakit penuh sesak oleh wartawan, jurnalis, dan lainnya.

“Wah, jadi benar Luhan dirawat di sini,” kagum Min angkuh.

“Rumor buruk membuat seseorang menjadi tenar dalam sekejap,” desis Fei direspon tatapan tajam dari Suzy.

Noona, bagaimana?” ulang Manager Kim karena sedari tadi Suzy malah tak berkata sedikitpun.

Justru gadis itu menutupi kepalanya dengan syal tebal dan menautkan kacamata hitam di hidung bangirnya seraya membuka pintu van mobil.

YA! Michesseo?!” pekik Fei, Jia, dan Min hampir bersamaan.

“Suzy! Eodika?! Kau tidak bisa kabur begitu saja?!” teriak Managernya.

Namun ia hiraukan semua itu hingga ia menerobos dirinya ke dalam kerumunan. Dengan pakaian yang tertutup, ia lebih leluasa dan terhindar dari sorotan wartawan.

Dewi Fortuna sedang berpihak padanya saat ini karena ia tidak dikenali. Memang Suzy sudah tiba di lantai empat belas -di depan kamar inap Luhan- tetapi masih ada rintangan yang harus dilewatinya.

Beberapa pria berbadan kekar berdiri tegap di depan pintu kamar Luhan. Jas hitam membalut tubuh berotot mereka. Dari awal Suzy sudah menebak pasti ada rintangan seperti ini.

Ia menarik nafas pelan untuk mementapkan diri. Gadis itu membuka kacamata hitamnya dan berlagak seolah ia bukanlah orang asing.

“Aku Bae Suzy, ingin menjenguk Luhan.”

“Maaf Tuan Luhan tidak bisa diganggu sekarang.”

“Aku tidak berniat menganggu, tetapi MENJENGUK.”

“Maaf, nona. Sebaiknya anda datang lain waktu.”

Kesabaran Suzy mulai terbakar habis tidak tahan dengan sifat keras kepala bodyguard itu.

“Apa kau tidak pernah melihat televisi?” sopan santun Suzysedikit memudar, “Aku—Bae Suzy dari girlband Miss A.”

“Sudah banyak yang mengaku seperti itu, nona.”

Tawa sinis Suzy meledak sejenak. Ia mengasihani pria ini yang begitu terisolasi dari dunia hiburan di televisi.

“Lihatlah wajahku, apakah aku seperti remaja lainnya?! Apakah wajahku ini hanya terlihat seperti topeng?!” Suzy mengatakannya dengan memamerkan wajah mulusnya di dekat kedua penjaga itu.

“Suzy?”

Perhatian mereka teralihkan pada sosok pria yang baru saja datang. Emosi Suzy melunak melihat kedatangan D.O yang melempar senyuman singkat.

.

.

Berkat D.O, Suzy dapat menapakkan kaki di dalam kamar Luhan. Aroma jeruk nipis menyambutnya. Deru mesin penghangat terdengar nyaring. Namun, Suzy hanya mematung di ambang pintu.

.

.

Sekujur tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan. Jarum infuse menancap di pergelangan tangannya. Rambutnya tak tersisir rapi. Yang jelas sosoknya berbeda jauh dengan sosoknya yang selalu tampil cerah di panggung.

Mata sebelah kanannya diperban. Mata sebelah kanannya pula yang membuatnya berbaring berhari-hari di rumah sakit itu.

Begitu mendengar pintu kamarnya terbuka ia membangunkan dirinya, mencoba untuk duduk bersandar. Jantungnya serasa berhenti berdetak melihat gadis itu berada di hadapannya.

Tidak berbeda jauh dengannya, gadis itu juga terhenyak dengan mulutnya yang sedikit terbuka.

“Ini pesanan buburmu,” bahkan suara D.O tak mampu menyadarkannya.

Dunia ini serasa hanya ada dirinya dan gadis itu, Luhan dan Suzy. Mereka saling bertukar pandang. Mencoba memahami satu sama lain. Luhan selalu ingin membaca pikiran Suzy.

“Kau—bagaimana bisa?” tanya Luhan akhirnya.

D.O yang tadinya berpikir untuk mengabaikan kedua orang itu, tetapi dirinya tetap tak bisa melepaskan perhatiannya. Kegiatannya menata bubur tertahan.

Ragu, Suzy mulai mendekati ranjang Luhan. Wajah gadis itu tidak ada harapan. Datar tanpa ekspresi. Tanpa setetes air mata membekas di sana.

Bugh.. bugh.. bugh..

Gadis itu memukul bahu Luhan dengan kepalan tangannya., “Babo-ya,” isaknya tidak berhenti memukuli Luhan, “Babo.”

Secara tegas Luhan mencengkram kedua tangan gadis itu. Menjauhkan pukulan gadis itu darinya.

Suzy menghentikannya, ia mencoba mengatur nada suaranya dan berusaha merangkai kalimat yang tepat.

“Sampai di sini saja usahamu?” tanya Suzy.

“Eo.”

“Kau menyerah?”

“Eo.”

“Inikah yang kau inginkan?”

Untuk yang ketiga kalinya Luhan menjawab dengan diam sejenak, “Iya,” sahutnya mengangkat kepala untuk menatap Suzy.

Sakit rasanya melihat wajah gadis itu dari dekat. Luhan tenggelam dalam mata yang berkaca-kaca di hadapannya. Melihat hidung memerah Suzy. Melihat bibir Suzy yang gemetar. Ingin sekali ia merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Lengan Suzy meraih medallion yang bersembunyi di balik syal tebalnya. Ia menarik lengan Luhan dan menyimpan medallion itu di telapak tangan Luhan.

Mwoya?” tanya Luhan mengamati kalung emas di genggamannya, “Aku tidak membutuhkan benda seperti ini LAGI.”

“Kau membutuhkannya. Percayalah,” yakin Suzy.

D.O yang merasa tidak nyaman masuk di antara mereka segera berkata, “Sepertinya obatmu tertinggal di lobby. Lebih baik aku ke sana dulu,” pria itu menggeser pintu kamar Luhan dan menghilang dalam sekejap.

“Setelah kesehatanmu pulih, tidak bisakah kau kembali ke dunia hiburan?” tanya Suzy.

Aniy.”

Wae?”

“Aku sudah kalah.”

Mwo?”

Mulutnya terbungkam tak mampu menjawab pertanyaan Suzy. Pandangannya melekat pada manik mata milik Suzy.

Usahanya sebelum dan sesudah audisi bagai kaset yang berputar dalam benaknya. Perjalanannya menuju seorang idola yang kini pecah berkeping-keping. Tersisa serpihan yang pantas untuk dibuang.

“Ini adalah lingkungan kerja di mana rasanya seperti robot di pabrik,” ucap Luhan.

“Tetapi—bukankah ini impianmu? Menjadi idola?”

“Impian?” Luhan meringis dingin, “Impian yang telah merebut sebelah penglihatanku?”

Suzy terhenyak mendengar perkataan kasar dari Luhan. Gadis itu membulatkan matanya.

“Kekalahan terjadi karena kemenangan. Begitu pula diriku yang tidak bisa bertahan sampai akhir,” dalam suara Luhan sambil mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya menunduk, takut jika penderitaannya terpampang jelas.

“Sooji-ya, gomawo. Untuk semuanya—“

“—tanpa bantuanmu aku tidak bisa melangkah sejauh ini. Tanpa bantuanmu pula mungkin rumor mengenai diriku sudah tersebar sejak aku debut. Kau sudah menjaga baik privasi diriku, Sooji. Kau sudah cukup membantu. Kini kau tidak perlu bersembunyi di balik wartawan. Kau boleh mengatakan semuanya—“

“—mengenai kesehatanku. Aku tidak akan marah. Toh, hal itu nantinya akan diketahui semua orang.”

“Tetapi…”

“Karena itu!” sela Luhan cepat, “—bertahanlah menjadi idola—untukku.”

Sia-sia dirinya. Asanya terbang mendengarnya. Namun ia menggerakan bola matanya menahan agar air matanya tidak berjatuhan. Ia berdehem dan menguatkan diri sejenak. Suzy mantap berkata, “Baiklah, jika itu yang kau mau.”

Gadis itu membalikkan punggungnya. Ingin lenyap dari hadapan Luhan. Setelah itu ia bisa menangis tanpa sepengetahuan Luhan.

“Sooji!”

Langkah kaki yang terasa berat tertahan sejenak.

Saranghae…”

Air mata meleleh, hatinya bergetar, badannya menggigil.

“Nado,” sahutnya tk berniat menghadap Luhan, “Jagalah medallion itu untukku.”

‘Jika Luhan memintanya untuk bertahan menjadi idola, maka ia meminta pria itu untuk menjaga medallion. Medallion kemenangan yang menemani perjuangannya’

Medallion temani Luhan sebentar saja…, batin Suzy.

-END-

 Comeback Home~ can you comeback home, yeah~~~ *setooppp, hehe* Hellooow Hara balik kyakya lama nggak berjumpa, wks. Sediihhh. Hara banyak kegiatan di SMA ini *maklum nak baru*. Sebelum ke Pretend, FF ini nongol bentar gpp kan? Buat para exotic, khusus special enggak pake telor. Kris, Luhan, dan Jessica semoga pilihan kalian itu benar dan baik untuk kalian. Buat para penggemar kita tidak boleh larut sedih, masih banyak idola lain. *tetep aja Hara juga sedih ngeliat SM pecah belah nggak karuan T,T* Udahlah, Hara mau moveon! Karena itu kalian juga harus Moveon! Ganbatte!

6 responses to “Medallion

  1. bagus thor ceritanyaa aku sukaa >.<
    ada squelnya engga thor? aku suka couple luhan suzy :')
    aku juga sedi pas denger berita ttg luhan soalnya dia bias yg paling aku sukai di exo TT,TT aku sedih dan syok dengernya tp apapun keputusan luhan oppa aku harap itu yg terbaik buat luhan oppa :')
    thor kapan" buat ff luhan sama suzy yaaa yg chapter xD gomawo thor😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s