[CHAPTERED] THE HEIR’S SECRETARY (4th)

the heirs secretary3

| arin yessy | The Heir’s Secretary (4th) | starring : Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Kim Woobin | lenght : multichapter | rated : PG-15 for now | Disclaimer : don’t copycut my idea or the whole story, don’t be silent readers |

~~ happy reading ~~

Sinar bulan sabit menerangi malam tanpa bintang. Sinarnya yang seharusnya terang telah tertutupi oleh awan-awan akibat efek polusi yang dihasilkan oleh industri-industri di wikayah Korea.
Udara dingin seakan menusuk pori-pori kulitku yang paling dalam. Namun siapa peduli, dadaku bergemuruh cepat dan sungguh aneh karena aku merasa kepanasan. Bagian tubuhku terasa panas.

“Benarkah kalian kakak adik?” myungsoo menatapku. Tatapannya seakan menelanjangiku dan aku hanya dapat melirik sekilas ke arah woobin yang kini telah memeluk bahuku dengan santainya.

“Woaa.. Anda benar-benar.. Sangat sulit untuk membuat anda percaya eoh? Bagaimana jika sesekali datang ke rumah kami untuk makan malam? Jiyeon akan memasak untukmu, benar kan jiyeon sayang?”

Dalam hati aku mengumpat sejadi-jadinya pada si tiang listrik ini. Berani-beraninya dia mengatakan hal bodoh dan bualan omong kosong macam ini di hadapan myungsoo. Aku bersumpah bahwa kali ini ia tak akan selamat, lihat saja kau kim wobin.

“Benar kan jiyeon-a?”

“Nee…” jawabku setengah hati. Mana sudi aku memasak makanan untuk laki-laki yang paling kubenci di dunia ini. Ah bukan, aku sebenarnya tak terlalu membenci kim myungsoo, tapi ayahnya yang membuatku turut menjadikannya sasaran balas dendamku.

“Dan anda tahu, selain pintar masak, adikku ini juga sangat populer. waktu ia menempuh pendidikan S1nya di Korea univeristy, banyakkk sekali laki-laki yang datang di akhir pekan untuk mengajaknya berkencan..”

Omo, omo! Omong kosong apa lagi ini.

“Lalu?”

Apapun bualan woobin, sekarang myungsoo benar-benar sudah sangat tertarik pada hal itu.

“Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah. Kau tahu, jiyeon itu sangat high class jadi yahh minimal dia harus mendapatkan seorang presiden direktur sebagai calon suaminya”

“Woobin!.. Ah oppa… Kau ini kenapa? Apakah kau ingin membocorkan semuanya di hadapan bosku?”

Aku menatapnya tajam seakan ingin menelannya bulat-bulat, walaupun sebenarnya aku sangat ingin menelannya saat ini juga.

“Haha.. Waeyo? Apa kau malu?”

“Aigoo.. Lihatlah myungsoo-ssi., bukankah adikku sangat cantik ketika ia sedang malu?”

“Mwoya..” aku memukul lengan woobin berusaha menumpahkan segala kekasalanku padanya. Namun usahaku percuma karena ia bahkan tak bergeming barang sedikitpun.

“Ne.. Adik anda sangat cantik woobin-ssi..” kata-kata itu keluar dari bibir myungsoo dan cukup membuatku terhenyak. Aku sangat terganggu dengan kata ‘sangat’ yang terselip dari kalimat yang ia ucapkan. Apa maksudnya sangat, sangat cantik? Apakah ia bermaksud sesuatu dengan mengatakan hal itu.

“Ah.. Aku harus menemui komisaris maeda, kutitipkan adikku padamu myungsoo-ssi.. Jitak saja kepalanya jika ia merepotkanmu”

Tanpa rasa bersalah laki-laki gila itu berlalu pergi setelah menyelesaikan kalimatnya yang membuat kompor hatiku meletup-letup. Apakah ia tak tahu bahwa aku bisa saja nekat mendorong myungsoo dari ketinggian lantai tiga puluh ini daripada harus menghabiskan waktu bersama laki-laki yang sangat tidak kusukai karena ia adalah putera pembunuh kedua orang tuaku. Bagaimana bisa aku hidup dengan menghabiskan waktu barang tiga puluh menit bersamanya? Bahkan aku tak pernah datang ke ruangannya jika tidak ada hal yang sangat mendesak. Tak mengertikah kau kim woobin?!

“Hmm.. Kau mau tequilla?” tawar myungsoo dengan suara penuh wibawa yang selalu ia tunjukkan.

“Ne..”

“Kalau begitu tunggulah disini, aku akan mengambilkannya untukmu..”

Aku mendesah pelan melihat punggung myungsoo yang semakin jauh menembus kerumunan tamu-tamu yang hadir. Kedua manik mataku menyusuri satu persatu spot di tempat ini dan memutuskan untuk menunggunya di depan sebuah pagar pembatas di sisi barat bangunan.

Tanganku refleks menyentuh ke arah sebuah liontin dari kalung yang terpasang indah di leher jenjangku. Sekelebat ingatan beberapa hari lalu entah kenapa bisa masih membekas dalam ingatanku. Ketika myungsoo mengatakan bahwa kalung itu adalah milikku dan aku harus memakainya, ia tampak sangat berbeda. Seakan ia memohon padaku yang memang menolak kedua pemberiannya dari awal. Sungguh aku pun merasa sesuatu mengganjal dari dalam relung hatiku. Namun aku tak tahu apa yang membuatku merasa begitu.

“Kau cantik sekali mengenakan kalung itu” laki-laki yang kupikirkan kini telah berdiri di sisiku entah sejak kapan. Ia mengulurkan sebuah tequilla sunrise dan kuterima dengan sikap ragu-ragu.

“Kamsahamnida..”

Myungsoo menyesap tequilla sunrisenya sementara aku hanya berkutat pada gelas milikku yang belum tersentuh sedikitpun. Hati kecilku memperingatkanku untuk tak meminumnya.

“Wae? Kau tak meminumnya?”

“Rasanya perut saya sangat penuh presdir, saya tak sanggup lagi meminum apapun.”

“Oh begitu.. Sini biar aku yang meminumnya”

Ia mengambil alih gagang gelas dalam genggamanku dan menenggak habis isinya dalam sekali tegukan.
Ku tatap ia lekat-lekat namun sepertinya ia tak menunjukkan tanda-tanda keanehan yang berarti ia tak meracuni tequilla milikku seperti yang kupikirkan.

Aishhh.. Semuanya sungguh membuatku bingung. Aku tak ingin mempercayainya, pikiranku di penuhi oleh serentetan rencana balas dendam pada si brengsek tua kim jong suk. Melihat begitu baiknya puteranya memperlakukanku sebagai sekretaris pribadinya, membuat otakku bekerja lebih cepat untuk menyusun rencana balas dendam melalui kim myungsoo. Tampak sekali bahwa kim jong suk sangat mencintai puteranya, dan aku sangat penasaran apakah ia akan terluka jika aku melukai putera kesayangannya?

Namun kini semuanya terbalik tanpa pernah kuduga sebelumnya. Kupikir myungsoo tertarik padaku entah kenapa aku merasa seperti itu karena insting wanita tak pernah salah. Terlebih jika itu instingku.
Ia mulai membelikanku ini dan itu, sebuah makan malam di restoran perancis, dan terakhir adalah sebuah kalung berkilauan yang kuyakini adalah berlian yang harganya jelas tak murah. Dan sangat tak patut rasanya jika seorang atasan memperlakukan bawahannya seperti itu jika bukan karena….

“Jiyeon-ssi,, aku menyukaimu..”

Jderrr!!!!

Lamunanku buyar. Seseorang yang kutahu itu myungsoo membisikkan kalimat singkat itu tepat di depan telingaku. Hembusan nafasnya yang tertatur menggelitik indera pendengaran dan leherku, hingga dapat kurasakan bulu kudukku meremang secara otomatis.

“Jiyeon-ssi kau tak mendengarku?” ia meraih bahuku, dengan gerakan lembut hingga membuatku berhadapan dengannya dengan jarak yang tak lebih dari sepuluh inchi.

“Ne??” dengan mengais-ngais sifat keras kepalaku yang tersisa, kuberanikan diri untuk menatapnya langsung ke dalam irish matanya yang berwarna cokelat kayu.

“Aku menyukaimu park jiyeon, sejak awal kita bertemu dan seterusnya.”

Nafasku tertahan, dan anehnya perutku semakin bergejolak. Pikiranku kosong seakan myungsoo telah membawa lari arwah dari ragaku.

“Maukah mau menerima perasaanku dan menjadi lebih dari hanya sekedar sekretaris dan atasannya? Calon pendamping hidupku?”

Nyawaku belum sepenuhnya kembali dalam ragaku ketika myungsoo mengatakan hal yang sama untuk kedua kalinya. Jari jemarinya menyentuh milikku yang bebas, namun aku tak ingin terlena dalam perasaan aneh ini. Perasaan yang justru akan membuatku tampak menjadi gadis lemah dan menyedihkan. Apakah aku park jiyeon yang telah melalui kerasnya hidup yang telah kujalani sejak masih kanak-kanak akan menjadi lemah hanya karena satu orang laki-laki masuk ke dalam kehidupannya.

“Jiyeon..!!” woobin memanggilku dan memberiku isyarat untuk menghampirinya di antara kerumunan laki-laki berjas yang tengah di ajaknya berbicara.

“Mianhae presdir, saya permisi dulu..” aku menundukkan kepalaku dan berlalu dari hadapannya, tak cukup berani untuk melihat kebelakang karena aku takut ia akan menunjukkan ekspresi yang sangat tak kuharapkan yang pada akhirnya akan membuat perasaan aneh dalam dadaku ini akan semakin menggelora. Omo… Apa yang baru saja kupikirkan. Sadarlah park jiyeon, ingatlah bagaimana wajah ayah dan ibumu! Wake up!

Woobin menyambut uluran tanganku dan memperkenalkanku pada laki-laki paruh baya yang sedari tadi di ajaknya mengobrol.

“Komisaris kim,, perkenalkan ini adikku jiyeon..”

mataku membulat sempurna ketika laki-laki yang mengenakan tongkat silver itu menoleh ke arahku.

‘Kim jong suk’ batinku tak tertahankan.

Jujur saja selama aku bekerja menjadi sekretaris presdir KJS group, tak pernah sekalipun aku bertatap muka dengannya. Memangnya seberapa berat sih tugas komisaris? Ia cuma perlu duduk di rumah duduk manis dan memerintah puteranya untuk menjalankan operasional perusahaan, atau memantau pergerakan harga saham.

Hanya saja perbuatan kejam yang telah ia lakukan pada keluargaku yang membuat ingatan wajahnya tak pernah pudar dalam memoriku. Bagaimana bisa aku melupakan wajah pembunuh kedua orangtuaku? Dan tanpa rasa bersalah mengirimku ke rumah sakit jiwa serta membuat kejadian lima belas tahun silam seolah-olah hanya sebuah kecelakaan belaka. Omong kosong! Demi apapun aku sangat membenci dirinya.

Dan lihatlah si brengsek ini. Rambutnya telah beranjak memutih dengan kerutan yang menghiasa sebagian permukaan kulitnya. Juga tongkat silver yang membantunya untuk berjalan dengan baik. Aku bisa saja menjegalnya dan membuat posisinya berlutut di depanku.

“Tunggu dulu.. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya nona?” tatapannya menyelidik memperhatikanku dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tak dapat kupingkiri bahwa jantungku berdentam-dentam lima kali lebih cepat dari yang kuharapkan. Seumur hidupku aku tak pernah merasa begitu terancam seperti ini, hingga yang dapat kulakukan sekarang adalah menggenggam erat telapak tangan woobin lebih kuat lagi. Memintanya untuk menyelamatkanku lagi dan lagi seperti yang selalu ia lakukan.

“Ermm..”

Woobin berdehem sebentar sebelum memulai kembali pembicaraan.

“Ah.. Apakah anda tidak tahu komisaris kim? Adikku jiyeon adalah sekretaris presdir kim, putera anda.. Jadi mungkin anda pernah bertemu dengannya di kantor.”

“Benarkah? Sepertinya ingatanku semakin buruk karena aku semakin tua.”

“Tidak apa-apa komisaris, kami mengerti..”

“Jadi, nona cantik ini adalah adikmu sekaligus sekretaris anakku? Woah.. Dunia ternyata sangat sempit” ia membetulkan letak kacamatanya sambil masih sesekali mengambil jeda untuk memperhatikanku. Oh shit! Aku benar-benar harus melarikan diri dari sini sebelum ia mencurigaiku.

“Ne.. Tapi ngomong-ngomong, benarkah kabar yang saya dengar bahwa putera anda akan segera bertunangan?”

Aku melayangkan tatapan heran ke arah woobin setengah tak percaya akan apa yang baru saja ia ucapkan. Benarkah? Kenapa hanya aku di dunia ini yang tidak tahu? Tapi.. Kenapa aku harus tahu tentang hal itu, toh aku tak menyukai laki-laki itu bukan? Aku tak tertarik pada myungsoo kan? Aku tak mencintainya kan? Duh.. Kenapa rasanya kepalaku pusing sekali mengetahui fakta ini. Dan apa lagi ini, woobin bahkan tak memberitahuku. Mwoya? Woobin sudah mulai bermain rahasia-rahasiaan kepadaku. Awas saja kau kim woobin, aku tak akan bercerita apapun lagi padamu. Tapi tunggu… Kenapa aku harus marah pada sahabatku sendiri hanya karena ia tak memberitahuku tentang rencana pertunangan myungsoo? Aishhhh.. Aku pasti benar-benar sudah gila sekarang.

“Iya memang benar adanya.. Kalau begitu aku permisi tuan kim, nona jiyeon”

Aku dan woobin menunduk sekilas dan memperhatikan laki-laki tua itu berjalan dengan kedua orang bodyguard di belakangnya.

“Bughh…”

“Arggghhh!!! Appo” aku sengaja menginjak keras-keras sepatu woobin menggunakan heels tujuh centimeter yang kugunakan.

“Apa-apaan kau? Mengatakan pada semua orang bahwa kita kakak adik? Lalu apa maksudnya memperkenalkanku pada kim jong suk” bisikku dengan nada tak suka ke arah telinga sahabatku ini untuk memastikan tak ada satu orang pun yang mendengar ucapanku.

“Aish jinjja? Berpikirlah sedikit lebih pintar anak bodoh, kau pikir apa yang harus kukatakan pada myungsoo jika aku yang membawamu ke sini eoh? Hanya ada dua pilihan kau tahu itu? Menjadi pacarku atau adikku? Ataukah aku harus mengatakan bahwa kau adalah ibuku?”

“Mwooo??”

“Arggghh.. Appo!! Berhentilah menginjak kakiku”

“Mian, yang barusan aku tak sengaja”

“Ckk kau ini! Kajja..” si tiang listrik ini menarik pergelangan tanganku hingga mau tak mau aku menuruti kemana ia melangkah.

“Kemana?”

“Makan”

Aku mengamati woobin yang sedang menghabiskan salad buah terakhir yang berada di atas meja. Ia memiliki nafsu makan yang sangat baik. Entahlah aku pun tak dapat menghitung berapa banyak makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya.

“Wae? Kau tak makan?”

Aku menggeleng pelan

“Bagaimana kau tahu bahwa myungsoo akan bertunangan?” walaupun aku telah menolak mentah-mentah untuk memasukkan myungsoo dalam daftar hal-hal yang harus kupikirkan, namun rasa penasaranku tentang hal ini tak pernah berkurang.

“Kau tak pernah baca berita? Desas desus ini sudah lama menyebar di media nasional”

“Ohh….” aku menyesap habis segelas kecil tequilla sunrise yang ada dalam genggamanku.

“Wae? Jangan bilang kau mulai menyukai bosmu”

“Andwee!! Aku tak pernah menyukainya” jika saja aku sedang tak berada di pesta formal seperti ini, mungkin aku sudah menyemburkan segalon air ke arah wajahnya yang katanya tampan itu.

“Sudah.. Jujurlah padaku jiyeon-a.. Sampai natal monyet pun kau tak akan bisa membohongiku”

“Aniya, jika aku bilang tidak berarti memang tidak”

“Benarkah? Terserah kau saja, tapi jangan datang padaku dan mengatakan kau menyukai myungsoo”

“Tidak akan”

“jinjja?” sahabat jahilku ini malah menaikkan sebelah alisnya dengan smirk yang menghiasi wajah tampannya. Selain pandai menyelamatkanku, ia juga sangat tahu bagaimana cara menguras kesabaranku.

“yak! kau in—–…”

belum sempat aku membalaskan dendamku melalui kata-kata, suara mic yang berdengung membatalkan niatku. omo! apa yang dilakukan kim jong suk di atas panggung kecil di sana? ia tak berencana mengatakan kepada semua orang tentang rencana pesta pertunangan puteranya kan?

“saya minta waktunya sebentar..” ucapnya sambil berdehem. Dan apa sebegitu besar pengaruhnya hingga semua orang yang hadir meninggalkan kegiatan mereka demi menyimak pidato tak penting itu. ck

“anda semua sudah tahu bagaimana hubungan kerjasama KJS Group dengan Maeda industrial yang sangat menguntungkan bukan hadirin yang terhomat? untuk itu saya dan presiden Bae berencana untuk semakin mempererat hubungan kami melalui ikatan persaudaraan. dan rencanya akan segera terlaksana karena pesta pertunangan putera-puteri kami akan segera di langsungkan dalam waktu dekat. untuk itu kami meminta dukungan dari semua pihak……….”

bla bla bla,, aku bosan mendengar pidatonya yang menoton. Kedua lensa mataku lebih sibuk mencari sosok myungsoo di antara kerumunan orang-orang ini. kira-kira ekspresi apa yang akan ia keluarkan? apakah ia akan terkejut? atau justru ia akan bersikap tenang seolah telah mengetahui semuanya dari awal.

oh itu dia… sepertinya tebakanku meleset. Nampak sekali ekspresi keterkejutan terpancar dari raut wajahnya. bahkan aku berani bertaruh bahwa sebentar lagi gelas yang ada dalam genggamannya itu akan remuk dalam hitungan detik saja.

“prannngg!!!”

TBC AGAIN…

 

comment apapun boleh asalkan jangan bilang “kependekan thorr” nama saya arin, yessy, sisi, rin bukan thorr😀 karena jujur saya lebih nyaman kalau nulis tidak terlalu panjang -_-

oke, comment or no, it’s up to you guys~ aku ra po po nek ra di komen, matur nuwun sedoyo

visit juga http://fanfictionsindo.wordpress.com

karena banyak ff jiyeon lainnya yang saya publish disana, mau polling?? boleh aja, visit makanya😀

30 responses to “[CHAPTERED] THE HEIR’S SECRETARY (4th)

  1. siapa tunangannya myungsoo? suzy kah? soalnya tadi tuan kim nyebut-nyebut marga bae gitu kekeke
    ekheeeemmm ciyeee aja yg udah ngomong suka😀 wkwkwk
    okelah ini dutunggu banget nih kelanjutannya😀

  2. Bae ??? Pasti sih nenek sihir atau sih kemoceng warna warni itu ckck tp pasti sih nenek sihir diihhhh ogah banget dgr nama dy –” blacklist aja napa sih ntu anak !!!

  3. mwoya? jngan blang klau myung juga ga tahu klau dy itt nau di jodohin.
    mngkin itt yeija yg mau di jodohin sma myung adlah suzy lagi kan? abis marga nya Bae si.
    Tn. Kim mau jdohin myung tapi ga di bilangin dlu ke myung ya?
    hmm.. ntar jiyeon nya ginana dong?
    itt srius myung udah suka sma jiyeon sjak prtama kali ya? wahhhh. suka. suka. suka….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s