[Chapter – Part 10] Love Is Not A Crime

LINAC

Part Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8] [9]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Lee Donghae, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

PG – 17

Happy reading, mian for typos🙂

Doooorr!

Terdengar suara tembakan yang dilepaskan oleh salah seorang tentara Korsel. Tentara itu berniat memberi peringatan pada Gongju agar yeoja itu tidak melangkahkan kakinya lebih jauh di wilayah selatan. Naas, peluru yang ia tembakkan ke udara kosong rupanya malah menembus dada kanan seorang tentara Korut yang sedang berjaga di aras menara pengintai. Jenderal Lim melangkah maju untuk mendekati Gongju.

Salah seorang tentara Korut memborgol tangan Soo Hee dan tubuhnya diikatnya di tiang bendera di depan pos jaga. Soo Hee meronta minta dilepaskan namun tentara yang mengikatya tidak menggubris sama sekali. Bahkan mulut Soo Hee sampai dibungkam dengan kain yang diikatkan di kepalanya. Soo Hee hanya bisa pasrah. Ia tak tahu lagi harus bagaimana, tenaganya habis terkuras.

Melihat saudaranya diperlakukan seperti seorang tahanan, Gongju semakin naik darah. Biar bagamanapun juga, Soo Hee adalah saudaranya. Jadi Gongju harus menyelamatkan Soo Hee. Gongju terus melangkahkan kakinya di tanah Korsel. Ia tak mengindahkan seruan-seruan dari tentara Korsel dan Korut. Yeoja itu berdiri diantar banyak prajurit yang menodongkan senjata api mereka namun Gongju tidak genta hingga tiba-tiba sebuah geranat tangan milik militer Korsel dilempar dan jatuh tepat di bawah kaki Gongju. Ia kaget namun segera sadar bahwa dirinya harus segera menjauh dari benda berbahaya itu. Gongju berlari secepat mungkin untuk menghindari ledakan geranat itu dan peluru yang ditembakkan pihak Korsel padanya.

Pada saat geranat meledak, Jenderal Lim dari Korut memerintahkan anak buahnya.untuk.melancarkan serangan pada tentara Korsel karena mereka telah berani melempar geranat ke arah Gongju.

Gongju yang selamat dari ledakan gerat itu, berusaha bangkit dan mengendap-endap di belakang pos jaga.

Ia berhasil mendekati Soo Hee karena para tentara Korsel sibuk baku tembak dengan tentara Korut. Gongju segera melepas tali yang mengikat tubuh Soo Hee dan membuka ikatan kain yang.membungkam mulut saudaranya itu.

“Gwaenchana?” tanya Gongju pada Soo Hee yang memegang lengannya yang terluka.

Meski lengannya terasa sangat perih dan ngilu, yeoja itu mengangguk. Dia tidak ingin Gongju malah celaka karena mengkhawatirkan keadaannya. “Gomawoyo…”

Gongju berhasil melepaskan Soo Hee dari ikatan yang menyiksanya. Tapi ia tidak bisa membuka borgol yang melingkar indah di kedua pergelangan tangan Soo Hee.

“Mian aku tidak bisa membuka borgolnya.”

“Gwaenchana. Apa kau hanya membawa pedang?” tanya Soo Hee yang takut kalau Gongju tidak bisa mengalahkan tentara Korsel.

Gongju mengangguk dengan cepat. “Aku percaya pada pedangku. Jadi aku tidak takut melawan mereka. Kalau aku mati, mungkin itu sudah takdirku. Carilah tempat untuk sembunyi.”

Soo Hee menurut. Gongju melanjutkan aksinya. Dia harus.bisa keluar dari tempat itu sebelum terlambat karena baik pihak Korsel maupun Korut akan menghungungi kantor pusat atas kejadian ini. Jika mereka yang dari pusat sudah ikut campur, masalahnya akan tambah runyam dan dia pasti akan dipenjara atau bahkan dihukum mati.

Gongju mengendap-endap mendekati salah seorang tentara Korsel yang berdiri paling belakang. Untungnya Gongju menemukan sebuah papan kayu yang bisa ia gunakan sebagai tameng jika ada yang ingin menembaknya. Satu orang tentara Korsel mati terhunus pedang Gongju yang belum pernah kena noda darah, kini malah meneteskan darah segar.

Gongju mampu mendekati beberapa.orang tentara yang berdiri paling belakang kemudian membunuhnya. 6 orang sudah tewas di tangan Gongju. Sebelum membunuh para tentara itu, Gongju meminta maaf pada mereka. Setelah itu barulah ia menghunus pedangnya untuk mencabut nyawa mereka.

Sadar akan bahaya yang menyerang bagian belakang, para tentara Korsel menembak Gongju. Yeoja itu menggunakan papan kayu sebagai tameng meskipun masih ada beberapa peluru yang mampu.menembus papan itu. Gongju berhasil membunuh satuborang lagi. Ia melihat tentara Korsel yang terkapar karena pedangnya itu dengan penuh penyesalan.

“Mian…” lirih Gongju. Saat ia menunduk, Gongju melihat sepasang sepatu mendekatinya. Gongju mendongak dan terkejut. Ternyata Jenderal Hwang Chan Sung telah menodongkan senjatanya pada Gongju. Tanpa disadari Gongju, dari arah utara, Jenderal Lim telah menodngkan senjatanya.pada Jenderal Hwang. Gongju tak.bisa berkutik.

Jenderal Hwang menarik pelatuk senjatanya, begitu juga Jenderal Lim. Gongju menghindari peluru dari senjata Jenderal Hwang. Ia bersalto ke samping.

Dooorr!!

Dooorr!!

Gongju kaget mendengar suara tembakan dua kali. Ia melihat Jenderal Hwang terkena tembakan di lengan kanannya. Lalu Gongju menoleh ke belakang. Di Utara, Jenderal Lim terkapar. Ia terkena peluru yang ditembakkan Jenderal Hwang yang menembus jantungnya.

Gongju merasakan sesak di dadanya. Jenderal yang paling setia dan paling dekat dengan pemerintah Korut telah meninggal dunia. Airmatanya meleleh.

“Jenderal Lim…” lirihnya dengan suara parau.

Gongju teringat saat ia pertama kali bertemu dengna Jenderal Lim. Saat itu ia sedang bekerja sebagai pengawal Myungsoo di istana. Jenderal Lim datang untuk melaporkan keadaan di perbatasan. Airmata Gongju semakin deras mengalir membasahi pipinnya. Tatapannya beralih pada Jenderal Hwang Chan Sung yang berdiri tidak jauh darinya. Jenderal itu masih menodongkan senjatanya pada Gongju. Dengan secepat kilat, Gongju mengambil papan kayu yang ia taruh di tanah saat ia menghunuskan pedangnya ke ulu hati salah satu tentara Korsel tadi.

Tanpa rasa takut, Gongju berjalan mendekati Jenderal Hwang. Ia menggenggam pedangnya erat-erat dan tak akan melepaskan pedangnya sekalipun.

Dengan perasaan sedih dan sorot mata penuh kebencian, Gongju berdiri tepat di depan Jenderal Hwang. Jarak mereka hanya 1 meter.

Door!!

Jenderal Hwang menembakkan peluru ke arah Gongju. Satu peluru berhasil bersarang di lengan kanan Gongju. Gongju menahan sakit. Airmatanya terus mengalir. Kini dia merasa dekat dengan kematian. Dia teringat lagi masa lalunya bersama keluarga angkatnya, Kyung Ho saem, Jaejoong, dan terutama Myungsoo. Bibirnya bergetar menahan tangis.

“Kau tahu, apa yang aku benci?” tanya Gongju pada Jenderal Hwang.

Jenderal itu terpaku di tempatnya dengan tangan yang emmegang senjata dan siap menembak Gongju lagi.

“Kau tahu apa yang aku benci? Orang-orang yang aku sayangi… kalian mengambil orang-orang yang aku sayangi. Wae?!!” teriak Gongju dan sesaat kemudian ia menghunuskan pedangnya tepat di ulu hati Jenderal Hwang hingga menembus tubuh jenderal itu. Gongju menarik pedangnya. Darah segar menetes dari pedang itu. Lalu Gongju menghunuskan pedangnya lagi. Ia harus memastikan Jenderal Hwang mati di tangannya.

Door!!

Dalam keadaan sekarat, Jenderal Hwang menembakkan pelurunya tepat mengenai dada kanan Gongju. Yeoja itu sudah tak dapat menahan sakitnya lagi.

Doorr!!

Suara tembakan lagi. Salah seorang tentara Selatan yang masih bertahan, berhasil menembak kaki kanan Gongju hingga akhirnya ia terduduk lemas dengan pedang yang masih dalam genggamannya.

Soo Hee meneteskan airmata dan menutup mulutnya. Ia tidak percaya Gongju akan mengalami kejadian seperti ini. ia melihat sendiri Gongju ditembak tiga kali oleh orang-orangnya. Soo Hee yang belum mengetahui bahwa Gongju adalah saudaranya, menangis sedalam-dalamnya.

Tak berapa lama setelah Gongju dibawa pergi oleh tentara Korsel, bantuan dari pihak Korut datang. Dalam rombongan itu ada Myungsoo dan Jaejoong. Mereka berdua belum mengetahui kalau Gongju dan Soo Hee lah yang menyebabkan insiden itu terjadi.

Menjelang pagi, Jaejoong sibuk mencari keberadaan Gongju. Begitu juga Myungsoo. Ia menelpon dan SMS Gongju namun tak ada jawaban maupun balasan dari yeoja itu. Myungsoo dan Jaejoong khawatir. Mereka berdua mengira Gongju masih terpukul atas meninggalnya Taehee.

Pada pagi harinya, Myungsoo menghadiri pemakaman 15 orang tentaranya yang meninggal karena insiden tadi malam. Salah satu yang paling Myungsoo sesali adalah kepergian Jenderal Lim yang sangat ia andalkan. Perasaannya hancur apalagi hingga saat ini ia belum bertemu dengan Gongju.

Setelah selesai memakamkan para tentaranya, Myungsoo kembali ke istana kepresidenan. Di dalam ruangannya, ia merasa sangat kesepian. Ia bertanya-tanya dimana Gongju berada. Kenapa sampai saat ini tidak ada kabar sama sekali tentang yeojachingunya itu. Myungsoo melihat kalung keberuntungannya yang ia berikan pada Gongju namun Gongju memberikannya lagi padanya saat akan berangkat negosiasi dengan Korsel. Tak terasa airmata Myungsoo mengalir dari kedua sudut matanya. Pilu ia rasakan jauh di lubuk hatinya. Ia terbayang-bayang kehadiran Gongju.

Saat melihat sofa putih di sudut ruangannya, ia melihat Gongju sedang asyik membaca surat kabar atau memainkan ponselnya. Myungsoo tersenyum melihat Gongju. Senyumnya memudar saat ia menyadari Gongju yang ia lihat tidaklah nyata.

Beberapa hari Myungsoo tidak bertemu dengan Gongju dan sekarang malah tidak ada kabar tentang yeoja itu. Myungsoo merasa akan gila jika seperti ini terus. Sepanjang hari ia hanya bermalas-malasan di ruangannya. Saat mau pulang, tiba-tiba appanya memanggilnya untuk menghadap. Myungsoo pun menuruti perintah appanya.

Di ruangan presiden, appanya telah menunggunya dengan berbagai rencana. Di sana juga ada PM Lee. Myungsoo sempat kaget dengan kehadiran perdana menteri. Namun ia segera mengerti maksud appanya memanggilnya ke sana.

“Kau sudah datang. Gurae, mari kita mulai meeting darurat ini.” Presiden Park membuka pertemuan mereka.

Myungsoo mengerutkan kening. “Appa, waegurae?”

Presiden Kim tak menghiraukan pertanyaan puteranya. “Kita semua telah mengetahui bahwa semalam ada insiden yang sangat memalukan dan seharusnya tidak pernah terjadi. Hanya karena warga sipil, hubungan kedua negara memanas lagi. Kita tidak bisa berdamai lagi dengan Korsel. Aku rasa ini saatnya kita menentukan langkah yang harus kita ambil.”

“Presiden Park, jujur aku sedang memikirkan sesuatu. Apakah kau juga berpikiran hal yang sama denganku?” tanya PM Lee.

Myungsoo semakin tidak mengerti. Ia hanya diam.

Presiden Kim ingin meminta pendapat Myungsoo. Puteranya adalah salah satu kandidat presiden atau PM kelak. “Kim Myungsoo, bagaimana pendapatmu?”

“Pendapat apa?” Myungsoo masih belum bisa fokus pada pertemuan petang itu.

“Menurutmu apa yang harus kita lakukan pada Korsel untuk memberi peringatan padanya? Aku dengar mereka menangkap dua warga negara kita. Jung Kyung Ho dan satu lagi ditangkap atas insiden semalam. Identitasnya belum diketahui karena orang itu tidak membawa kartu identitas.”

Myungsoo belum menjawab.

“Aku dan PM Lee berpikir bahwa kita akan menyerang Korsel dan menundukkan negara itu. Kejadian tadi malam sudah melampaui batas. Aku tidak bisa mentolerirnya lagi.”

Kini Myungsoo mengerti arah pembicaraan kedua orang terpenting di Korut. “Aku setuju, appa. Aku menyesal dulu kita tidak menyerang Selatan. Sekarang karena kejadian semalam sangat menyakitkan hati, terutama atas meninggalnya jenderal Lim, aku sangat menyetujui rencana itu.”

Presiden Kim dan PM Lee tersenyum senang. Kemudian mereka membahas rencana yang akan mereka lakukan. Myungsoo juga ikut andil dalam rencana ini.

Di Korea Selatan, Gongju sedang dirawat di sebuah rumah sakit di Seoul. Di dalam kamarnya, ada seorang polisi bersenjata lengkap sedang menjaga keamanannya. Di depan kamarnya bahkan ada tiga orang polisi. Tidak sembarang orang dapat masuk ke ruang perawatan Gongju. Kini Gongju dianggap sebagai orang yang berbahaya. Ia juga mendapat status baru sebagai tahanan Korsel.

Presiden Park datang untuk melihat yeoja yang katanya memiliki keahlian bela diri. Ia didampingi oleh beberapa orang pengawal. Presiden Park masuk ke dalam ruang perawatan Gongju. Ia melihat yeoja muda seumuran Soo Hee dengan paras yang sangat cantik. Entah kenapa, Presiden Park justru tersenyum melihat Gongju yang statusnya adalah tahanan. Ia merasa pernah bertemu dengan yeoja itu. Namun ia lupa kapan dan dimana. Atau ini hanya perasaannya saja.

“Barang apa saja yang kalian temukan?” tanya Presiden Park pada seorang polisi yang berjaga di dalam kamar Gongju.

“Kami menemukan banyak barang, Presiden Park.”

“Barang-barang yang sekiranya tidak membahayakan, kembalikan saja padanya,” perintah Presiden Park.

Haeri melakukan pertemuan dengan dua orang yang setia padanya. Jenderal Im dan satu anak buahnya. Mereka mengadakan pertemuan di istana kepresidenan yang kebetulan di sana juga ada Soo Jin. Soo Jin melihat gelagat aneh Haeri yang masuk ke dalam ruangan bersama dua orang militer itu. Ia berdiri di depan ruang itu, tentu saja di tempat yang tidak diketahui oleh Haeri. Soo Jin ingin tahu apa yang akan Haeri bicarakan dengan dua orang anggota militer itu.

“Bagaimana kalian tidak mengenal putriku Soo Hee? Dan beraninya kalian menyiksanya?” Haeri langsung marah-marah pada kedua orang anggota militer itu.

Jenderal yang bernama lengkap Im Siwan. “Nyonya, semalam saya tidak ada di perbatasan. Saya mengetahui kejadian itu setelah mereka menangkap seorang yeoja dari Korut.”
“Yeoja dari Korut? Kau bawa fotonya?”

“Ye, nyonya,” jawab salah seorang anggota militer yang merupakan tentara biasa.

Tentara itu menunjukkan foto yeoja yang mereka tangkap semalam. Haeri terlonjak kaget melihat foto itu. Jantungnya berdetak tak karuan. Ia mulai takut dan cemas.

“Park Jiyeon. Dia Park Jiyeon!” kata Haeri mantab.

Soo Jin yang menguping pembicaraan mereka dari luar ruangan, tidak percaya pada apa yang diucapkan Haeri. Apa yang Haeri maksdu adalah puterinya Park Jiyeon?”

“Nyonya, siapa yang nyonya maksud?” tanya Jenderal Im.

“Dia, dia Park Jiyeon. Puteri kandung Park Soo Jin.”

Jenderal Im dan anak buahnya mengerutkan kening. Mereka tidak percaya puteri kandung Park Soo JI masih hidup. Begitu pun Soo Jin. Cairan bening menyeruak keluar dari kedua sudut matanya. Dadanya terasa sesak. Antara parecaya dan tidak percaya. Apa benar puterinya masih hidup? Park Jiyeon masih hidup. Soo Jin menguping lagi.

“Siwan-a, kau harus memastikan bahwa dia benar-benar Park Jiyeon. Setelah itu laporkan padaku.”

“Bagaimana aku bisa memastikan bahwa dia adalah Park Jiyeon, nyonya?”

“Lihat luka bekas tusukan di dada kirinya, di bawah tulang selangka bagian kiri. Aku telah menusuknya saat dia masih bayi. Jika dia benar-benar Park Jiyeon, seharusnya tanda itu masih ada.”

“Baiklah, nyonya. Nanti malam saya akan memastikan apa yang Anda katakan. Kami undur diri.”

Soo Jin berlari menjauhi ruangan itu agar tak diketahui oleh dua orang anggota militer itu. Rencananya untuk menemani Soo Hee di rumah sakit ia tunda. Soo Jin bersandar [ada tiang besar dan tinggi di teras istana kepresidenan. Hatinya gundah gulana. Apakah mimpi yang menjadi pertanda bahwa Jiyeon masih hidup benar-benar menjadi nyata? Ia masih belum percaya bahwa puterinya benar-benar masih hidup. Jika Jiyeon ditangkap atas kejadian semalam, berarti dia yang berusaha melindungi Soo Hee. Teringat nama Soo Hee, Soo Jin bergegas pergi ke rumah sakit. Ia ingin menemani Soo Hee di sana sekaligus menanyakan apa benar semalam dia dilindungi oleh seorang yeoja yang seumuran dengannya.

Soo Jin menyiapkan makanan untuk Soo Hee. Haeri melihat Soo Jin melakukan aktifitasnya tersebut. Ia datang mendekati Soo Jin.

“Apa kau ingin ke rumah sakit?” tanya Haeri.

“Apa aku harus menjelaskannya padamu atau meminta ijin padamu jika ingin melakukan itu?” Soo Jin balik bertanya pada Haeri. Ia kesal pada Haeri yang menutupi kebenaran bahwa Jiyeon masih hidup. Soo Jin masih belum sadar bahwa Haeri bahkan akan membunuh Jiyeon.

“Kenap kau begitu sinis padaku?” tanya Haeri yang ingin memojokkan Soo Jin.

“Keurom, apa kau pernah baik padaku? Dengar, semua orang akan berbelas kasihan padaku jika terjadi apa-apa padaku. Tapi jika sesuatu terjadi padamu, apakah mereka akan berbelas kasihan padamu? Bukankah mereka tidak mengenalmu sebagai Ibu Negara mereka?” Soo Jin tidak ingin kalah dari haeri. Ia selesai menyiapkan segala sesuatu yang akan dibawa ke rumah sakit.

Soo Hee sudah sadar. Ia masih sedikit syok atas kejadian semalam. Yang ingin ia ketahui adalah dimana Gongju berada. Soo Hee merenung di dalam kamar perawatannya. Kenapa semakin lama semakin banyak masalah?

Tok tok tok!

Soo Hee menoleh. Eomma Soo Jin datang. Tentu saja Soo Hee sangat senang.

“Eomma, kau datang?”

“Nde, chagiya… Eomma bawakan makanan kesukaanmu. Kau pasti belum makan kan?”

“Apa aku boleh makan makanan ini, eomma? Aku kan ada di rumah sakit…”

“Tenanglah, kau hanya mengalami syok dan luka luar. Bagaimana dengan luka di lenganmu> apa masih terasa sangat sakit?”

“Anhiyo, eomma. Sudah lebih baik dibanding semalam. Aku benar-benar benci orang-orang yang memborgolku dan mengikatku di tiang bendera.”

“Soo Hee-a, eomma dengar semalam ada yang menyelamatkanmu dari perlakuan kasar tentara kita. Apa itu benar?”

Soo Hee tertegun. Ia merasa sangat bersalah pada Gongju. Dimana dia dan bagaimana keadaannya?

“Park Soo Hee…” panggil Soo Jin membuyarkan lamunan Soo Hee.

“Eoh, nde, eomma. Dia seorang yeoja yang ahli bela diri. Dia bisa apa saja, taekwondo, wushu, memanah, bermain pedang, tapi dia tidak bisa kungfu.” Soo Hee tampak sedih. Soo Jin menyadari itu. “Eomma, dimana Gongju sekarang?”

Soo Jin yang belum tahu pasti tentang keberadaan Gongju juga bingung. Tapi ia teringat kata-kata Haeri yang mengatakan bahwa Jiyeon atau Gongju sedang dirawat di rumah sakit.

“Dia ada di rumah sakit. Eomma dengar, yeoja itu belum sadarkan diri.”

“Mwo? Ini semua salahku, eomma. Aku yang menyebabkan insiden semalam terjadi. Aku melihat banyak tentara tewas. Aku melihat Gongju kehilangan jenderal dari Korut lalu dia membunuh jenderal Hwang padahal saat itu dia sudah terkena tembakan jenderal Hwang. Aku bersalah, eomma. Dimana Gongju?”

“Gongju dari Utara?”

“Ne, eomma. Gongju adalah salah satu murid Jung Kyung Ho.”

“Mworago? Kenapa kau tidak cerita pada eomma?”

“Aku menyesal, eomma. Dulu hubunganku dengan Gongju tidak baik. Tetapi kemarin dia baik padaku dan mau berteman denganku. Akupun menerima niat baiknya. Jung Kyung Ho memiliki beberapa murid spesial. Diantaranya adalah Myungsoo oppa, Gongju, dan Kim Jaejoong.”

“Kim Jaejoong?”

“Eomma, kenapa eomma begitu kaget mendengar nama Jaejoong?”

“Ah, anhiyo. Dulu kau bilang murid Jung Kyung Ho hanya Myungsoo. Siapa Jaejoong itu?”

“Dia adalah oppa Gongju. Aku tidak tahu apakah dia adalah saudara kandungnya Gongju atau bukan. Yang aku tahu, Gongju dan Jaejoong memiliki orangtua angkat.”

Deg!

Soo Jin sangat terkejut mendengar cerita Soo Hee. Ya, itu pasti Jiyeon dan Jaejoong. Ia yakin puterinya benar-benar masih hidup. Tapi masalahnya sekarang, status Jiyeon adalah tersangka pembunuhan Jenderal Hwang.

Di internet dan berbagai media lainnya, rakyat Korsel menyampaikan tuntutan mereka agar Gongju dihukum mati. Sesuai dengan apa yang sudah ia lakukan yaitu membunuh Jenderal Hwang dan beberapa tentara Korsel. Namun yeoja yang dituntut itu justru malah tidak mengetahui perkara itu karena dia belum sadarkan diri.

Di rumah sakit, penjagaan agak dilonggarkan. Hanya ada dua orang polisi di depan pintu kamar perawatan Gongju. Polisi yang berjaga di dealam kamar Gongju sudah ditarik.

Gongju mulai sadarkan diri. Ia merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya terutama bagian tubuh yang terkena tembakan semalam. Kepalanya terasa berat. Gongju melihat sekelilingnya, hanya ada warna putih hingga ia sadar bahwa sekarang ia berada di rumah sakit.

Gongju berusaha mengingat kejadian semalam. Ia ingat Jenderal Lim telah tewas. Matanya memerah. Gongju tidak ingin menangis lagi. Ia harus kuat. Dia menoleh ke arah meja kecil yang terletak di samping ranjangnya. Di atas meja ada barang-barangnya kecuali pisau lipat dan pedangnya. Gongju melihat kalung peluit yang diberikan oleh Myungsoo. Kali ini ia tidak dapat menahan tangisnya.

“Oppa…” lirihnya. Ia mengambil kalung itu. Menggenggamnya erat. Ia meremas kerah bajunya. Gongju akan melakukan hal itu jika ia merasa sangat sedih atau saat merindukan seseorang. Dadanya terasa sesak, ia kesulitan bernafas. Gongju terlalu larut dalam tangisnya. “Oppa… Myungsoo oppa… bogosiposeo…” Gongju sesenggukan, bibirnya bergetar, kedua matanya terpejam, merasakan rindu yang teramat berat pada Myungsoo. Ia meniup peluit itu. Tak lama kemudian seekor rajawali datang, hinggap di jendela kamarnya. Gongju kaget. Ia mengira bahwa rajwali itu tak akan datang jika ia berada di Selatan.

Gongju mendapatkan ide. Ia menulis pesan singkat untuk Jaejoong. Pesan itu berisi kabar tentang dirinya yang kini berada di Selatan. Gongju juga meminta Jaejoong merahasiakan hal ini pada Myungsoo. Ia tidak ingin Myungsoo terganggu dalam membantu appanya mengurus urusan negara.

Setelah selesai menulis pesannya, Gongju melipat kecil kertas itu dan memberikannya pada rajawali. Sang rajawali pun mengerti bahwa ia disuruh menyampaikan surat itu.

“Sampaikan surat ini pada Jaejoong oppa. Secapatnya, nde… Kau rajawali yang pintar.” Gongju membelai bulu kepala rajawali itu sebelum rajawalinya pergi menyampaikan pesan Gongju.

Gongju merasa sedikit lega. Ia masih belum mengetahui bahwa rakyat Korsel menuntut dirinya dihukum mati. Gongju memakai kalung itu lagi. Lalu ia melihat apa lagi yang ada di atas meja kecil itu. Ada satu lagi benda berharga milik Gongju, yaotu surat yang diberikan oleh Taeyeon kepadanya. Gongju menatap lekat-lekat amplop surat itu.

Setelah kesehatannya pulih, Gongju dipindahkan ke sel. Yeoja itu dipenjara, statusnya adalah tersangka pembunuhan. Gongju hanya bisa pasrah. Saat berjalan menuju selnya, Gongju melihat Soo Hee yang kemudian menghampirinya.

“Gongju-a… mianhae, jongmal mianhae…” Soo Hee memeluk Gongju. Soo Jin yang menyaksikan kedua putrinya berpelukan tak dapat menahan airmatanya.

Gongju dapat melihat kehadiran Soo Jin yang berdiri di belakang Soo Hee. Soo Jin terisak semakin dalam. Gongju belum tahu kalau yeoja yang ia lihat adalah eomma kandung yang sangat ia rindukan.

Tbc

Sekian untuk part ini ya chingu. Aku udah gak kuat ngetiknya. Aku ngetik part ini sambil nangis, ingat drama aslinya dan terbawa oleh kata-kata di FF ini yang bikin nyesek banget. T_T

Semoga part ini tidak mengecewakan. Aku tunggu komennya.

Gomawoyo

39 responses to “[Chapter – Part 10] Love Is Not A Crime

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s