[ CHAPTER – PART 17 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

Tittle : Rainbow After The Rain

Author : gazasinta

Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo

Genre : Family, Friendship, Romance

Rating : PG-17

Poster created by @Chomichin

Part  17

Serrrr….

Angin bertiup begitu kencang, menggugurkan sebagian daun-daun yang memang tidak lagi kuat menggantungkan dirinya didahan pohon, batang pohon yang tinggi menjulang meliuk-liukkan tubuh nya mengikuti irama sang angin kemana membawa mereka bertiup.

Suasana pagi di area pemakaman memang selalu tampak sepi, namun tidak berarti suasana disana begitu menyeramkan. Dua pasang tapak kaki berjalan menyusuri jalan yang masih basah karena hujan yang mengguyur sebagian besar wilayah Seoul semalaman, batu-batu kecil menambah sulit langkah kaki mereka untuk menyusuri jalan.

Myungsoo menatap  tersenyum, tidak sedikitpun beralih dari sosok yeoja dengan seragam hotel yang masih melekat ditubuhnya, rambut panjangnya yang digelung ke atas memperlihatkan leher putihnya yang jenjang, yeoja itu berjalan pelan di depannya, meski tak beriringan namun langkah keduanya begitu kompak.

Gubuk yang menjadi tujuan mereka belum terlihat dari tempat keduanya kini berpijak, namun tidak sedikitpun itu terasa berat dan melelahkan untuk mereka melangkah kembali kesana, Myungsoo memindahkan sekantong plastik berisi bahan bakar dari tangan kanan ke tangan kirinya, beberapa kali bibirnya bergerak untuk berhitung, berharap pada hitungan ketiga yeoja itu menoleh dan tersenyum padanya, ia menginginkannya karena sejak kedua mata mereka terbuka yeoja itu menghindar malu bertatapan dengannya.

“ Aaarrrgkkk…”

Batu yang terinjak tidak sengaja hampir saja membuat yeoja yang bernama Bae Jiyeon itu hilang keseimbangan dan terjatuh, namun gerakan cepat Myungsoo dari arah belakang yang menopang bahunya berhasil menyelamatkannya.

“ Kau tidak apa-apa ? “ Wajah dan nada suara Myungsoo begitu khawatir menatap Jiyeon dari jarak yang kini begitu dekat.

Tidak ada jawaban cepat yang meluncur dari Jiyeon, ia masih hanya menatap Myungsoo dalam diam, ketika tersadar “ Kakiku…. “ Jiyeon meringis mengalihkan pandangan ke kakinya sekaligus  menahan debaran jantungnya yang begitu cepat.

Senyuman terukir dari sudut bibir tipis Myungsoo menyadari Jiyeon yang terlihat begitu gugup, Myungsoo menjongkokkan tubuhnya perlahan “ Pegang bahu ku “ titah Myungsoo seraya melepas salah satu sepatu dikaki Jiyeon.

“ Ini memerah, apa begitu sakit ? “ tanya Myungsoo mendapati kulit kaki Jiyeon yang memerah, Jiyeon hanya membalasnya dengan anggukan.

Didekatkannya kaki Jiyeon yang memerah lalu ditiupnya lembut untuk mengurangi rasa perih “ Naiklah ke punggungku “ Myungsoo membalikkan tubuh menyediakan punggungnya untuk Jiyeon.

Jiyeon tak bergeming, namun matanya tidak lepas dari punggung Myungsoo.

“ Aku masih kuat jika berat badanmu tidak lebih dari 60 kg “ Myungsoo menolehkan wajahnya seraya tersenyum, menyadari Jiyeon yang masih terdiam di tempatnya.

“ Apa aku terlalu berat ? “ tanya Jiyeon merasa tidak nyaman berada dipunggung oppanya.

Myungsoo memperbaiki posisi tubuh Jiyeon yang sedikit merosot dipunggungnya, gesekkan tubuh keduanya sejenak membuat Myungsoo dan Jiyeon terdiam bersamaan.

“ Eoh “ canda Myungsoo mencoba mencairkan kegugupan mereka.

“ Mianhae merepotkanmu, oppa bisa menurunkanku…“ entah mengapa setelah kalimat itu terucap Jiyeon tidak benar-benar berharap Myungsoo akan mengabulkan permintaannya.

“ Aku hanya mengatakan tubuhmu berat, tidak mengatakan jika aku tidak sanggup, aku……menyukai ketika kau berada dipunggungku “ kalimat terakhir Myungsoo terdengar tertahan.

Pipi seputih susu Jiyeon merona merah, sekelompok kupu-kupu serasa beterbangan didalam perutnya, tanpa ia sadari dagunya kini sudah berada diatas bahu Myungsoo hingga harum rambut oppanya menyeruak tajam menembus indera penciumannya.

Wajah tampan Myungsoo semakin terlihat jelas dari arah sampingnya memandang, membuat darah yang semula berjalan normal kembali berdesir.

Nafas lembut Jiyeon yang membelai pipinya menggelitik keinginan Myungsoo untuk dengan sengaja lebih mendekatkan wajahnya agar pipinya tersentuh oleh bibir Jiyeon yang tepat berada disampingnya.

“ Eoh…mianhae “ Jiyeon menjauhkan wajah serta dengan gugup mengangkat dagu dari bahu oppanya ketika ujung hidung dan bibirnya menyentuh lembut pipi Myungsoo.

Meski tersenyum, sesuatu yang berdetak didadanya meminta Myungsoo untuk segera menormalkan kembali detakannya.

Tangan kecil Jiyeon terangkat hendak menyentuh rambut hitam tebal milik oppanya “ Beruntung sekali wanita yang bisa memilikinya tanpa harus ada perasaan bersalah yang mengganjal “ ia berkata lirih dalam hati.

“ Oppa….” ucap Jiyeon sangat pelan, dikepalkan kembali tangannya mengurungkan niat untuk menyentuh lembut rambut oppanya.

“ Mwo ? “ tanya Myungsoo.

“ Ahniya….aku hanya ingin segera pulang “ ucap Jiyeon lemah berubah resah.

“ Eoh “ jawab Myungsoo singkat menyadari perubahan dari nada suara Jiyeon.

Kini hanya tinggal sepasang tapak kaki Myungsoo yang berjalan diatas jalan berbatu dan basah, dengan Jiyeon yang masih berada dipunggungnya, sepanjang menyusuri jalan ada doa yang Myungsoo panjatkan, berharap ini merupakan langkah awal untuk keduanya mengakhiri perasaan yang tertahan selama ini, meski Jiyeon belum mengatakan apapun tentang perasaannya.

“ Suzy-ah…bogoshipo, aku senang kau sudah kembali “ Sulli memeluk Suzy dengan erat, ketika calon adik iparnya itu datang ke hotel menemuinya.

Cukup lama mereka melepas kerinduan, hingga Sulli tersadar jika Suzy tidak sendiri, ada seseorang yang juga ia kenal datang bersama Suzy “ Minho-ssi !! “ ucap Sulli melepaskan pelukannya kepada Suzy dan kini tersenyum ramah ke arah Minho.

Minho membungkukkan tubuhnya dan tersenyum membalas sapaan Sulli.

“ Eonnie mianhae, aku baru menemuimu sekarang, pekerjaanku belum bisa aku tinggalkan “ ucap Suzy merasa tidak enak.

“ Eoh gwencana, kajja kalian masuklah “ Sulli meraih tangan Suzy dan menuntunnya masuk kedalam, Minho mengikuti keduanya dari belakang.

Minho mengedarkan pandangannya membiarkan dua yeoja didepannya berjalan saling bergandengan dan bercakap-cakap , Suzy melirik Minho yang ada dibelakang.

“ Ada apa ? “ tanya Sulli, dahinya berkerut heran melihat Minho dan Suzy seperti mencari sesuatu di kamarnya.

Minho dan Suzy menoleh ke arah Sulli bersamaan, sikap Suzy yang seperti orang gugup membuat Sulli penasaran dengan apa yang mereka sembunyikan.

“ Eum ahniyo “ ucap Suzy.

“ Minumlah, selagi hangat “ Sulli meletakkan 3 cangkir teh hangat di meja.

“  Kalian tidak bersama Myungsoo ? “ tanya Sulli yang langsung menjawab pertanyaan Minho dan Suzy.

“ Op-ppa..” belum selesai Suzy menjawab Minho menyela ucapannya.

“ Jadi Myungsoo tidak bersamamu ? “ ucap Minho tanpa basa-basi tidak peduli Suzy kini menatap kearahnya memprotes sikap to the point namja jangkung ini.

“  Myungsoo oppa berangkat pagi-pagi sekali hari ini….aku pikir ia akan mengunjungimu terlebih dahulu… “ ucap Suzy berusaha untuk menutupi perasaan tidak enaknya terhadap Sulli.

“ Tch…” Minho menarik sudut bibir atasnya menatap sinis Suzy yang berusaha menyembunyikan sesuatu dari Sulli.

“ Baiklah, niat awalku hanya ingin bertemu dengan calon tunanganmu, aku kira dia sedang bersama denganmu,  terimakasih untuk teh hangatnya “ ucap Minho menyempatkan menyeruput sedikit saja teh hangat yang Sulli sediakan dan kemudian berdiri hendak meninggalkan kamar Sulli.

“ Eonni, mianhae….aku akan kembali mengunjungimu sore nanti, aku harus pergi sekarang “ ucap Suzy menarik tasnya terburu-buru menyusul Minho.

“ Tapi….” ucap Sulli yang masih berwajah bingung memandang keduanya.

Perasaan Sulli menjadi tidak tenang, ia lalu buru-buru mengambil telepon genggam dan menekan angka 1,  daftar panggilan cepat yang ia simpan untuk Myungsoo.

“ Tidak aktif, sebenarnya ada apa ? “ tanya Sulli tidak mengerti, ia menggigit ibu jarinya semakin penasaran.

“ Chogiyo…permisi apa kau mengenal Bae Jiyeon ? “ Minho menghentikan langkah seorang pelayan.

Sejenak pelayan itu terpana, mengamati mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki Minho.

“ Apa kau mengenal Bae Jiyeon ? “ ulang Minho sekali lagi.

“ Eoh….Jiyeon ?? Oh nde Bae Jiyeon ? eum…saya tidak tahu apakah ia libur hari ini atau tidak karena saya belum melihatnya tuan “ dan kembali yeoja itu tersenyum menikmati ketampanan Minho.

“ Baiklah, terimakasih “ ucap Minho menatap yeoja itu heran karena masih saja tersenyum, dilangkahkan kakinya lebih jauh menuju pantry Hotel.

“ Tuannn…” teriak pelayan hotel yang seketika tersadar jika ia masih bisa memberi petunjuk untuk Minho.

Minho menghentikan langkahnya dan berbalik, berdiam ditempatnya menunggu pelayan itu mendekat ke arahnya.

“ Anda bisa bertanya pada Lee Jieun, Jiyeon dan Jieun tinggal bersama “ ucap pelayan dengan nafas sedikit memburu.

“ Kamsahamnida “ ucap Minho dan tidak ingin berlama-lama melihat tingkah aneh pelayan itu, iapun segera pergi.

Tap….

Suzy berhasil menghalangi Minho melangkah lebih jauh, wajah piasnya menunjukkan kekesalan kepada Minho “ Minho-ah di dunia ini tidak hanya tentang kau dan yeoja yang kau cintai, bisakah kau tidak bersikap berlebihan seperti ini ? kau harus menjaga perasaan orang lain ? “ ucap Suzy menatap Minho kecewa.

Minho memicingkan matanya menatap Suzy tajam “ Wae ? perasaan siapa yang harus aku jaga ? perasaanmu ? “ ucap Minho yang membuat Suzy sedikit tersinggung dengan ucapannya.

Suzy menghela nafasnya berat “ Ini bukan tentang perasaanku, tapi mengenai Sulli eonni, harusnya kau tidak mengatakan seolah-olah oppaku dan Jiyeon sedang bersama, lagipula kita  tidak bisa membuktikan apa-apa tentang kebersamaan mereka “ ucap Suzy berharap Minho mengerti.

“ Mengapa begitu khawatir dengan perasaan wanita itu,  jikapun Myungsoo dan Jiyeon bersama, bukankah kau bilang ia mengenal mereka sebagai sepupu, apa yang perlu dikhawatirkan ? “ ucap Minho tajam dengan senyum sinisnya.

Suzy menahan nafasnya kesal “ Kau sangat sulit untuk diajak berbicara, mengapa kau seolah-olah menjadi orang yang paling berhak atas apapun yang Jiyeon lakukan ? “

Kali ini Minho yang terdiam, menatap Suzy yang menyiratkan kekecewaannya terhadapnya, Suzy benar ia akan mudah terbawa emosi jika itu menyangkut tentang Jiyeon, hingga tidak peduli apakah orang lain suka atau tidak dengan apa yang dilakukan.

“ Bukan hanya kau, akupun juga ingin bertemu dengannya, jadi berhenti untuk hanya memikirkan tentang kalian berdua, aku disini…ingin bersamamu bertemu dengannya  “   tangan Suzy masuk ke sela-sela lengan Minho dan berusaha tersenyum kembali meski ia masih sedikit jengkel dengan sikap Minho.

Jieun menopang dagu dengan tangannya diatas mesin yang sedang menggiling pakaian, sesekali kepalanya terantuk dan kemudian bangun kembali, hingga mesin penggiling pakaian itu berhenti berputar , Jieun tidak menyadarinya.

“ Hoammmm….” ia membiarkan mulutnya terbuka lebar karena menguap.

“ Eoh sudah berhenti ? “ Jieun terbangun akhirnya dan memutar kembali tombol putar di mesin penggiling pakaian.

Sapaan seseorang di pintu sana tidak terdengar tenggelam dengan deru mesin yang baru saja ia putar.

“ Permisi, apa kau yang bernama Jieun ? “ kini terdengar suara lainnya.

Jieun menoleh kearah suara dibelakangnya, seperti yeoja sebelumnya yang tertegun ketika melihat namja jangkung ini, sama halnya dengan Jieun yang juga tiba-tiba tertegun dengan sosok tampan, tinggi dan berkharisma yang kini berada dihadapannya, namun sosok yeoja disamping sang namja dan tersenyum ramah kearahnya membuat Jieun segera tersadar dari kekagumannya.

“ Ah nde, saya Lee Jieun, apa ….anda mencari saya ? “ Jieun begitu gugup karena baru kali ini seoarang namja tampan mencarinya.

“  Aku sedang mencari Bae Jiyeon, apa kau mengenalnya ? “ Jieun menarik kedalam sudut bibirnya yang sempat tersenyum menyadari bukan dia yang namja tampan ini cari.

“ Eoh dia sahabatku “ ucap Jieun masih belum mengerti dua orang yang nampaknya berbeda levelini  mencari Jiyeon.

“ kamsahamnida, aku akan menghubunginya kembali nanti “ ucap Minho seketika ketika Jieun mengatakan Jiyeon tidak kembali kerumahnya sejak semalam.

Semakin kuat feeling Minho bahwa Myungsoo dan Jiyeon sedang bersama “ Apa yang sedang kalian lakukan ? “ hati Minho berkata tidak nyaman.

Minho berbalik dan meninggalkan ruangan itu, sementara Suzy masih disana dan mendekat ke arah Jieun “ Kamsahamnida, na neun Kim Suzy imnida, dan namja tadi Choi Minho “ ucap Suzy ramah.

“ Nde aku Lee Jieun “ balas Jieun tidak kalah ramah.

Suzy mengeluarkan sesuatu dalam dompetnya “ Ini kartu namaku, mohon kau memberikannya pada Jiyeon, sekali lagi terimakasih “ Suzy membungkukkan tubuhnya dan berlalu cepat menyusul Minho.

“ Tunggu nona, ini…silahkan kau menyimpan nomorku juga, siapa tahu kau membutuhkannya “ ucap Jieun dengan cengiran lebarnya.

Suzy menerimanya dengan senyum heran “ Eoh terimakasih, aku permisi “

Sepeninggalan keduanya….

Jieun menggaruk kepalanya yang tidak gatal  “ Choi Minho ? apa itu oppanya Jiyeon ? bukankah seharusnya bermarga Kim ? ahh molla…tapi sungguh namja itu tampan sekali “ Jieun masih tersenyum mengingat wajah Minho.

Kring….

Dengan cepat Jieun merogoh kantong seragamnya, meraih telepon genggam yang berbunyi begitu nyaring, wajahnya berubah seperti monster yang ingin memakan orang ketika nama orang yang ditunggu untuk menghubunginya tertera disana.

“ Yya!!! Jiyeon-ah, neo eodiga ? mengapa membuatku begitu khawatir memikirkanmu, kau ini sebenarnya kemana? mengapa tidak memberikan kabar apapun padaku eoh ? kau ingin membuat mataku berkantung hitam seperti panda karena terus menunggumu kembali ? “ cerocos Jieun tidak memberikan Jiyeon kesempatan untuk menjelaskan.

“ Mianhae, baterai handphoneku habis…aku tidak bisa memberitahumu “ ucap Jiyeon diseberang sana merasa bersalah.

“ Huh…selalu seperti itu, beberapa hari ini kau sangat senang membuatku khawatir, apa itu sudah menjadi hobimu ? “ suara Jieun masih terdengar marah.

“  Mianhata, katakan apa yang harus aku lakukan agar kau tidak marah padaku ? “ ucap Jiyeon memohon.

Jika sudah seperti ini Jieun tidak mungkin tidak memaafkan sahabatnya itu “ Kau tidak perlu melakukan apapun, asal kau baik-baik saja aku sudah memaafkanmu, kau harus menceritakan semuanya padaku nanti eoh “ ucap Jieun emosinya sedikit teredam.

“ Nde…Jieun-ah sekali lagi mianhae “ ucap Jiyeon berharap Jieun benar-benar tulus memaafkannya.

“ Eoh, sekarang beristirahat dan nikmatilah hari liburmu “ Jieun menutup sambungan telepon.

“ Tch….selalu saja membuatku khawatir “ dengus Jieun, namun setidaknya ia sudah bisa bernafas lega Jiyeon menghubunginya.

Jieun kembali menopang dagu dengan kedua tangannya, mencuri lagi sedikit waktu untuk ia memejamkan mata hingga mesin penggiling itu berhenti berputar.

Selamat pagi!! eoh kita baru saja berpisah bahkan hari belum berganti,  tiba-tiba aku menginginkan sup rumput laut untuk sore hari, apa kau bisa membuatkannya untukku ? hahha…aku hanya bercanda, Yeonnie-ah beristirahatlah dan jangan memikirkan apapun selain tentangku.

– Kim Myungsoo

Jiyeon hanya tersenyum ketika membuka kembali pesan yang Myungsoo kirim sesaat setelah mengantar dirinya pagi tadi, dan entah keberanian darimana kini ia sudah berada didalam bus untuk mengabulkan keinginan Myungsoo menikmati sup rumput laut, ia tolehkan pandangannya ke arah samping kaca bus yang tertutup, disana pipi meronanya begitu jelas terlihat, perlahan jemarinya ia arahkan ke bibir tipis merah muda yang ia miliki membayangkan kembali ketika Myungsoo mencium bibirnya.

“ Mengapa begitu manis ? “

Flashback on

Myungsoo menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya, wajahnya semakin ia rendahkan untuk membunuh jarak diantara keduanya, tenggorokannya begitu sulit untuk menghirup oksigen karena berbagai macam perasaan yang kini menghinggapinya, namun akhirnya bibir Myungsoo sampai tepat di mata indah Jiyeon, Myungsoo mencium mata yeoja itu bergantian dan berusaha menghapus air yang keluar dari sana dengan bibirnya.

“ Oppa…..” ucap Jiyeon lirih dengan air mata yang semakin mengalir.

Myungsoo membuat sedikit jarak diantara wajah mereka, memastikan bahwa Jiyeon tidak terganggu dengan apa yang ia lakukan, dilihatnya yeoja itu hanya menunduk menyembunyikan semburat merah yang muncul diwajahnya.

Satu tangan Myungsoo beralih meraih leher Jiyeon, mencengkramnya cukup erat, sementara tangan lainnya tetap berada di dagu lancip milik yeoja ini, dengan menahan debaran jantung yang semakin berpacu Myungsoo perlahan mendekatkan kembali wajahnya membunuh jarak diantara keduanya.

Jiyeon menahan nafasnya, mata indahnya yang besar ia pejamkan dengan paksa, terlalu takut untuk menatap manik mata Myungsoo, meski perasaan bersalah menderanya namun ia memilih untuk mengabaikannya.

Dirasakannya bibir dan ujung hidung Myungsoo semakin turun membelai lembut permukaan wajahnya.

Cup…

Kenyal dan manis, ia merasakan bibir Myungsoo kini berada tepat diatas bibirnya, semakin dalam Myungsoo melumat bibirnya, ia ingin membalas namun sungguh ia tidak berani, hingga tangan Myungsoo menekan lehernya memaksanya untuk membalas ciuman oppanya.

Jiyeon tidak kuat lagi untuk tidak membalas apa yang Myungsoo lakukan, ia membuka sedikit mulutnya, memberi kesempatan lidah Myungsoo untuk bermain didalam rongga mulutnya, hingga kini terdengar suara kecupan yang semakin panas di dalam gubuk yang hanya dihuni mereka berdua.

Mata keduanya terpejam, menikmati segala sensasi yang muncul yang membuat jantung keduanya ingin melompat keluar, cukup lama mereka melakukannya hingga akhirnya Jiyeon menarik dirinya.

Jiyeon memalingkan wajah dan menutup bibir dengan punggung tangannya, rasa bersalah itu kembali datang. Perasannya tersandera dengan bayangan Sulli yang hadir sejak Myungsoo mencoba menghapus air mata dengan bibirnya.

“ Mianhae….ada sesuatu yang tidak bisa lagi untuk ku sembunyikan, untuk kata yang selama 7 tahun aku menundanya, aku sangat merindukan orang itu dan memikirkan dirinya di setiap hariku…..saranghae…jeongmal saranghaeyo, aku benar-benar sangat mencintaimu “ kalimat itu meluncur dari mulut Myungsoo.

Sesak, Jiyeon merasa dadanya begitu sesak , ia mendengarnya lagi, kalimat tentang ungkapan hati , bukan dari orang lain namun langsung dari namja yang telah berhasil memiliki hatinya…..entah sejak kapan.

“ Maukah kau menjaga ini hanya untukku ?  jangan biarkan orang lain menghapus jejak yang baru saja kutinggalkan “ ucap Myungsoo menyentuh lembut bibir Jiyeon yang memerah karena ciumannya.

Flashback off

Jiyeon tersadar dari lamunannya ketika bahu seseorang menyentuh bahunya, nenek tua yang kemudian duduk disamping dan tersenyum ramah padanya menyadarkan Jiyeon dari lamunannya tentang Myungsoo, namja yang mendapatkan first kissnya.

Oppanya, yang telah mengusai seluruh hatinya meski ia sadar ini tidak akan mudah untuk keduanya.

Kriettt….

“ Boleh aku masuk ? “ tanya Sulli ketika Myungsoo membukakan pintu untuknya.

Wajah Myungsoo tampak lelah dengan rambutnya yang berantakan serta hanya memakai training hitam dengan kaos oblong berwarna putih, meski tidak mengurangi ketampanannya namun ini menjadi pemandangan yang aneh untuk Sulli.

“ Tentu “ ucap Myungsoo membuka lebih lebar pintu apartemennya membiarkan Sulli bergerak masuk ke dalam dan berjalan mendahuluinya.

Myungsoo memperhatikan Sulli dari arah belakang, yeoja ini nampak sedang melihat setiap sudut ruangannya seolah mencari sesuatu, Myungsoo sangat lelah dan butuh waktu yang tepat untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan dan keputusan yang akan ia ambil, meski ia tidak yakin Sulli akan mudah mengerti.

“ Aku sudah beberapa kali menghubungimu, tapi telepon genggammu tidak aktif, Ada apa ? “ tanya Sulli  yang kini sudah duduk di sofa berwarna putih yang sengaja Myungsoo letakkan menghadap ke arah ranjang tidurnya, ia berharap kali ini jawaban Myungsoo bisa menepis kecurigaannya.

“ Aku lupa untuk mengisi baterainya “ ucap Myungsoo mengusap wajah dengan kedua tangannya seolah ingin terlihat santai dan tidak terjadi hal yang perlu dikhawatirkan.

“ Memangnya kau berada dimana? Hari ini apa kau tidak bekerja ? “ tanya Sulli semakin mendesak  Myungsoo untuk menjawab pertanyaannya dengan jujur.

Myungsoo menatap Sulli, menimbang-nimbang apakah harus berkata jujur sekarang ? namun merasa ini akan terlalu rumit ia memilih untuk menyembunyikannya kembali.

“ Aku bekerja hingga larut malam dikantor, sekarang aku begitu lelah dan merasa badanku tidak begitu sehat, aku hanya ingin beristirahat, kau tunggu disini aku akan mengambilkan minuman untukmu “ ucap Myungsoo mencoba menghindar.

 Myungsoo oppa berangkat pagi-pagi sekali hari ini….aku pikir ia akan mengunjungimu terlebih dahulu… “

Sulli menatap Myungsoo kecewa, jawabannya tidak sama sekali cocok dengan apa yang Suzy ucapkan, Sulli terus memperhatikan setiap gerakan Myungsoo, hingga kini namja itu sudah berada didepannya dan menyodorkan sekaleng minuman untuknya.

Myungsoo menjatuhkan tubuhnya kembali di sofa, tepat disamping Sulli yang terus menatapnya tanpa berkedip, hingga Myungsoo meneguk minuman, ekor matanya masih menangkap Sulli belum beralih dari wajahnya.

“ Mianhae, jika kau ingin marah padaku …aku akan mendengarkannya “ ucap Myungsoo merasa Sulli akan marah padanya.

“ Kenapa aku harus marah padamu ? aku hanya….sangat mengkhawatirkanmu, eoh dimana bagian tubuhmu yang sakit ? “ Sulli bergerak mendekat ke arah Myungsoo mencoba memeriksa keningnya, namun…

“ Gwencana, kau tidak perlu mengkhawatirkanku “ Myungsoo menepis tangan Sulli untuk menyentuh keningnya, ia tidak ingin lagi Sulli terlalu baik padanya, jika pada akhirnya ia akan menjadi namja yang paling kejam untuknya.

“ Aku hanya khawatir dengan keadaanmu “ ucap Sulli dengan nada kecewa dan menurunkan kembali tangan yang sempat terangkat.

“ Aku ingin mengatakan sesuatu padamu “ ucap Myungsoo akhirnya memutuskan untuk jujur sekarang, ia berusaha memberanikan diri menatap Sulli.

Sulli hanya mengangguk pelan, namun hatinya tiba-tiba begitu takut jika hal buruk yang akan Myungsoo sampaikan padanya “ Katakanlah “ ucap Sulli menyembunyikan ketakutannya.

Myungsoo menarik nafasnya panjang, menatap Sulli dengan wajah serius berharap yeoja ini akan baik-baik saja setelah ia mengatakan jujur tentang perasaannya, meski itu adalah pemikiran yang paling gila yang ia harapkan.

“ Kau adalah yeoja yang sangat baik yang pernah aku kenal….sebagai namja….aku mengatakan jika diriku sangat beruntung…. karena kau telah memilih untuk bersamaku, meski aku tahu selama itu kau tidak pernah bahagia “ ucap Myungsoo dengan kalimat yang semakin berat untuk ia ungkapkan.

Yeoja lain mungkin akan menganggap kalimat yang Myungsoo ucapkan adalah sebuah pujian, namun tidak bagi Sulli, kekhawatirannya kini  bertambah menjadi dua kali lipat , ini bukanlah gaya Myungsoo yang ia tahu, namun ia memilih untuk kembali mendengarkan tanpa berniat menginterupsi sebelum ia dapat menangkap dengan jelas maksud Myungsoo.

“ Dan sekarang aku ingin kau bahagia “  lanjut Myungsoo, setelahnya matanya lekat menatap manik mata Sulli menunggu apa yang akan dikatakan yeoja ini.

“ Aku tidak mengerti “ ucap Sulli belum menangkap jelas maksud Myungsoo, hatinya semakin berdebar-debar kini.

“ Carilah pria lain yang bisa memberi kebahagian untukmu “ ucap Myungsoo dengan susah payah mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya.

Raut wajah Sulli berubah, ia bukan yeoja bodoh yang tidak bisa menangkap maksud kalimat Myungsoo barusan, petir seolah-olah menyambar meski matahari begitu kuat memancarkan sinarnya diluar sana, kepalanya menggeleng lemah tidak percaya dengan apa yang baru saja Myungsoo katakan.

“ Ada apa denganmu ? ini masih terlalu pagi untuk memberikanku kejutan “ ucap Sulli berusaha menepis kekecewaannya.

“ Aku mengatakan yang sesungguhnya “ ucapan Myungsoo semakin pelan, namun masih dapat didengar jelas oleh Sulli.

“ Aku tidak ingin mendengar pernyataan konyol dari bibirmu, aku kesini hanya ingin melihat keadaanmu, aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi mengapa kau melakukan ini padaku ? “ Sulli tidak bisa lagi mengontrol emosinya, intonasi suaranya naik beberapa tone dan matanya nampak berkaca-kaca.

Myungsoo terdiam, menundukkan pandangannya dalam ia sangat benci jika harus menyakiti seorang yeoja, namun ia harus melakukan ini, menghentikan kesulitan berperang dengan dirinya sendiri.

“ Ini sama sekali tidak lucu dan kekanak-kanakan, katakan kau hanya bercanda, kau hanya bercanda Kim Myungsoo!!!! “ Sulli bangkit dan mengguncang-guncang bahu Myungsoo.

“ Ada seseorang yang teramat aku cintai, dia yang pertama dalam hidupku dan untuk sisa umurku, dia….akan menjadi satu-satunya untukku, mianhae…ak-..” ucapan Myungsoo terhenti karena Sulli memotong sebelum ia selesai mengatakannya.

“ Keumanhe….aku tidak ingin mendengar apa-apa lagi darimu, 2 minggu lagi acara pertunangan kita akan dilaksanakan, dan kau pernah mengatakan bahwa kau menginginkanku untuk memegang erat tanganmu, agar tidak ada yeoja lain yang merebutmu dari ku, lalu apa ini ? “ Sulli berteriak seraya menutup kedua telinganya tidak ingin mendengar apapun lagi dari Myungsoo.

“ Aku benar-benar minta maaf padamu “ ucap Myungsoo pelan dan memohon.

Dengan penuh kemarahan Sulli berbalik dan meraih kasar tas tangan dari sofa Myungsoo, tanpa peduli lagi dengan Myungsoo ia mendekat ke arah pintu dan…

Kriettt…

Blam….

Sulli membanting keras pintu apartemen Myungsoo..

Myungsoo meremas rambutnya, merasa gagal untuk memberi pengertian pada Sulli, tentu saja…..yeoja manapun jika berada diposisi Sulli pasti akan sangat marah dan sedih jika diperlakukan seperti itu oleh seorang namja, bahkan namja itu sudah banyak memberikan banyak pengharapan.

“ Yeonnie-ah, aku tidak akan pernah menyerah hanya karena ini, kita akan tetap bersama, karena cintamu telah meyakinkanku “ ucap Myungsoo lirih.

Jiyeon menyembunyikan tubuhnya dibalik dinding , sosok Sulli tidak sengaja tertangkap oleh matanya, yeoja itu begitu tergesa-gesa keluar pintu apartemen.

Meski jarak pandang Jiyeon cukup jauh, namun punggung tangan Sulli yang menutup sebagian wajahnya seolah memberikan penjelasan bahwa yeoja itu sedang menangis.

Jiyeon menyandarkan lemah tubuhnya, menatap rantang sup ditangannya dengan sedih “ Apa yang kau lakukan padanya oppa ? mengapa mencintaimu begitu sulit, haruskah aku bahagia ketika orang lain menderita karena kebahagianku “ ucap Jiyeon lirih.

Diseret kakinya lemah menuju pintu keluar, perasaan senangnya langsung surut, ia tidak lagi berniat untuk menemui Myungsoo, tidak saat ini ketika yeoja lain sedang menangis karenanya.

“ Ah nde, gomawo aku melihatnya disana, Jieun-ssi gomawo “

Klik…

Suzy menghentikan mobilnya tepat di sebuah lapangan yang didepannya terdapat sebuah rumah kecil yang baru saja ia minta Jieun mengarahkannya lewat handphone, kaki jenjangnya menapak jalan berkerikil dan mendekat kearah rumah kecil yang nampak begitu asri.

Disekelilingnya banyak ditumbuhi bunga-bunga cantik, yang ia yakin Jiyeon lah yang menanamnya, sejak kecil Jiyeon memang sangat menyenangi bunga-bunga dan sangat pandai menjaganya.

Tepat ketika hanya beberapa langkah tersisa…

“ Chogiyo….apa kau mencari seseorang disana ? “ suara lembut seorang yeoja menghentikan langkah Suzy.

Suzy membalikkan tubuhnya perlahan, suara itu, apakah benar yeoja yang ingin ia temui.

“ Ji…yeon…-ah “ ucap Suzy terbata.

Jiyeon memiringkan wajahnya mencoba mengenali yeoja cantik yang memanggil namanya, sebelum akhirnya matanya terbelalak kaget dan rantang ditangannya hampir saja terjatuh.

“ Suzy ??? apa itu kau ? “ ucap Jiyeon terharu menatap yeoja tinggi putih dengan rambut panjangnya yang sangat indah.

Suzy mengangguk tersenyum, air yang masih menggenang di pelupuk matanya tidak sanggup ia pertahankan, seraya mengusap airmatanya lembut Suzy melangkah cepat memeluk Jiyeon yang masih tidak percaya menatapnya.

“ Jiyeon-ah…..bogoshipo, neomu neomu bogoshipo…aku sangat merindukanmu “ Suzy tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena Jiyeon merentangkan tangannya dengan senyum tulus untuk menyambutnya..

“ Nado, aku juga sangat ingin melihatmu Suzy-ah “ Jiyeon membelai lembut bahu Suzy, yeoja itu masih menangis memeluknya erat.

Keduanya menikmati teh hangat bersama yang Jiyeon buatkan, tidak ada kecanggungan diantara keduanya untuk saling bercerita, Suzy tidak ingin lagi sikapnya yang sekarang dibayangi oleh sikap kasar masa lalunya, Jiyeon adalah saudaranya, seseorang yang keluarganya juga begitu menyayanginya.

“  Appa dan eomma akan kembali minggu ini, mereka pasti akan sangat terkejut melihatmu, eoh mereka begitu merindukanmu, aku dan Myungsoo oppa belum mengabarkan apapun , ini akan menjadi kejutan yang besar “ ucap Suzy  seraya memegang kedua tangan Jiyeon begitu senang.

“ Aku jauh lebih merindukan mereka “ tatapan Jiyeon menerawang membayangkan semua keluarganya kembali bersama.

“  Kau tau ? eomma selalu memintaku untuk menemaninya tidur, dan begitu kesal jika ia memanggilku dengan namamu, huh….kau begitu melekat dihatinya, hingga namaku dilupakan “ ucap Suzy berpura-pura kecewa.

“ Jeongmal ? “ Jiyeon tersenyum memamerkan gigi putihnya yang rapi.

Suzy mengangguk dengan masih cemberut “ Yeonnie, itu terdengar imut, aku juga akan memanggilmu seperti itu, apakah boleh ?  “ tanya Suzy.

“ Tentu saja  “ ucap Jiyeon seraya mengangguk senang.

“ Yeonnie…Yeonnie-ah…“ ucap Suzy menggoda Jiyeon.

Ha..ha…ha..ha

Tawa keduanya terhenti,ketika telepon genggam dalam tas Suzy berbunyi “ Eoh changkaman “ ucap Suzy mengisyaratkan Jiyeon untuk menunggunya sejenak.

“ Yeobboseo” sapa Suzy, matanya melirik Jiyeon yang sempat tahu siapa yang menghubunginya.

“ Eum, aku masih dikantor eonni, mianhae….pekerjaanku sangat banyak, tapi aku akan membayar janjiku besok, bagaimana ? “ tanya Suzy menggigit bibir bawahnya berharap Sulli percaya.

“ Baiklah, sekali lagi maafkan aku eonni….nde, baiklah selamat malam “ ucap Suzy dan menutup telepon genggamnya.

“ Apa kau ingin menambah teh hangatnya ? “ tawar Jiyeon mengalihkan tatapanya ke arah cangkir kosong Suzy, khawatir Suzy akan membicarakan tentang Sulli.

“ Ini sudah cukup “ ucap Suzy dengan senyum kakunya, menyadari perubahan sikap Jiyeon.

Keduanya menjadi terdiam, sibuk dengan pikirannya masing-masing, namun timbul kembali rasa penasaran Suzy tentang penjelasan Jiyeon dan oppanya yang menghilang bersamaan, Suzy melirik ke arah Jiyeon, yeoja itu masih terdiam memainkan jemarinya yang ia taruh di kedua lututnya.

“ Eum…apa kau bersamanya kemarin malam ? “ Tanya Suzy ragu.

Jiyeon menghentikan keasyikannya memainkan jemarinya, merasa dirinya tidak mungkin berbohong ia kemudian menatap ke arah Suzy merubah raut wajahnya agar Suzy percaya “ Kami…tidak sengaja bertemu, oppa bilang seharusnya ia menjemputmu, aku tidak tahu jika kau juga mengunjungi makam eomma “ ucap Jiyeon akhirnya.

Suzy tersenyum “ Eoh, aku tidak pernah sekalipun mengunjungi makam eomma, maka aku menyempatkan diriku untuk pergi ke sana “ ucap Suzy.

“ Yeonnie-ah….dia tidak pernah berubah, perasaannya masih seperti yang pernah aku katakan padamu dulu …apa…. kau masih mengingatnya ? “ Suzy menatap tepat pada mata Jiyeon mencari kejujuran disana.

Jiyeon menahan nafasnya, akhirnya pembicaraan mereka sampai juga ke arah ini, ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, setiap jawaban seperti buah simalakama untuknya.

“ Saat itu…. aku hanya menganggap apa yang kau katakan adalah gurauan, tidak  sama sekali menganggapnya serius, dan sekarangpun aku masih saja tersenyum jika mengingatnya, hanya karena Minho….sampai kau melontarkan kalimat itu …ha..ha..ha…aku benar-benar tidak menganggapnya serius  “ ucap Jiyeon  berpura-pura tertawa menutupi yang sebenarnya.

“ Jadi perasaan oppa selama ini sia-sia ? “ pikir Suzy.

“ Kau menyukai Minho ? “ Suzy mengganti object pertanyaannya, seketika hatinya begitu  takut jika Jiyeon bersedia menjawab.

“ Sudah malam…apa kau akan menginap disini ? “ Jiyeon mengalihkan pertanyaan Suzy, dilihatnya   wajah Suzy yang menyiratkan kekecewaan.

“ Tidak, lain kali saja, oppa pasti mencariku, baiklah aku akan mengabarkanmu jika appa dan eomma kembali, kita akan menjemputnya bersama “ Suzy berdiri dan meraih tas.

Jiyeon mengangguk, mengantar Suzy hingga yeoja itu menghilang dari pandangannya.

“ Jikapun Minho menyukaiku, aku akan merelakannya untukmu “ ucap Jiyeon tersenyum lemah.

Keesokan harinya….

“ Jiyeon-ah, gaji hari ini sudah masuk, kajja kita makan siang dikantin “ ajak Jieun seraya mengambil sebuah kartu dari dalam dompetnya.

Jiyeon masih sibuk menghubungi seseorang yang belum juga mengangkat teleponnya “ Jieun-ah, kau duluan saja aku akan menyusulmu “ ucap Jiyeon yang diangguki Jieun.

Sepeninggalan Jieun…

“ Apa dia marah ? “ gumam Jiyeon.

Seseorang mendekati Jiyeon dan menepuk pundaknya dari arah belakang “ Ommo…Minho ? “ ucap Jiyeon memegang dadanya karena terlalu terkejut.

Minho tersenyum dan mengangguk “ Makan siang bersama denganku “ ucap Minho dan meraih tangan Jiyeon, tanpa sempat Jiyeon berkata apapun.

Jiyeon terus memandangi wajah Minho yang sibuk memilih menu, memastikan bahwa tidak ada raut kemarahan dalam wajah tampan namja jangkung ini karena kejadian dua hari lalu dan ia belum menjelaskan apapun.

“ Pesan apapun yang ingin kau makan, hanya memandang wajah tampan ku tidak akan membuatmu kenyang “ ucap Minho menyadari Jiyeon menatapnya sejak tadi.

Jiyeon menaikkan sudut bibir atasnya, tersenyum mengejek dengan kepercayaan diri Minho, namun akhirnya ia merasa lega karena Minho tidak marah padanya “ Aku menghubungimu seharian ini, tapi kau tidak mengangkatnya, ku kira kau marah padaku, tidak menyangka kau malah datang menemuiku “ ucap Jiyeon.

Minho membuka kacamata coklat yang membuat dirinya bertambah keren, dan memandang Jiyeon dengan tatapan datar “ Apa kau mau menjelaskannya ? “ tanya Minho kemudian menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.

“ Aku tidak sengaja bertemu dengan oppa, sebenarnya ia ingin menemput Suzy, tapi tidak menemukannya, kami terjebak disana karena mobil oppa kehabisan bensin…mianhae aku tidak bisa menghubungimu karena handphoneku pun mati “ ucap Jiyeon polos.

Hanya mendengar Myungsoo dan Jiyeon terjebak berdua dalam keadaan seperti itu membuat pikiran Minho tidak lagi fokus untuk mendengarkan penjelasan Jiyeon, otaknya sudah bisa menyimpulkan sendiri kejadian apa yang selanjutnya terjadi dengan keduanya, hingga tidak sadar pesanan telah datang dan Jiyeon sudah berkali-kali memanggil namanya.

“ Minho-ah…” panggil Jiyeon kini mencoba menyentuh tangan Minho yang entah kenapa sudah terkepal dan menampakan urat-urat yang menegang disana.

“ Aku bertemu Sulli kemarin pagi, dan ia sangat khawatir tidak mendapat kabar apapun tentang Myungsoo yang ditunggunya….jika ia tau Myungsoo baik-baik saja bersamamu, ia tidak mungkin sekhawatir itu “ ucap Minho tajam.

Jiyeon seketika terdiam merasa sangat bersalah mengetahui ada orang lain yang lebih berhak bersama dengan oppanya yang sedang menunggunya khawatir, tapi ia merebutnya tanpa memikirkan perasaan orang itu.

Minho menatap Jiyeon mencoba menahan rasa cemburu didadanya “ Makanlah dan jangan memikirkan apapun “ ucap Minho dan mengalihkan perasaannya kini pada makanan yang ia pesan, meski kini lidahnya sama sekali mati rasa untuk tahu apa rasa makanan yang masuk ke dalam mulutnya.

“ Gomawo atas traktirannya “ ucap Jiyeon sebelum memasuki lift, Minho mengantarnya kesana.

“ Eoh “ ucap Minho singkat.

Jiyeon tersenyum, ia memasuki lift dan hampir saja pintu lift tertutup rapat, kedua tangan Minho mencegahnya.

“ Jiyeon-ah, apa yang baru saja kau ceritakan padaku….aku tidak senang mendengarnya “ ucap Minho memandang Jiyeon datar.

Jiyeon menatap Minho, tidak mengerti dengan ucapannya.

“  Disini, seperti berdenyut-denyut dan begitu sakit “ ucap Minho seraya memegang dadanya.

Jiyeon terkesiap, ia tidak mungkin lagi mengabaikan dugaannya tentang perasaan Minho kepadanya, meski ia begitu polos namun tidak mungkin ia tidak mengerti jika seorang namja mengatakan hal itu, ia menangkap perasaan cemburu pada diri Minho, dan itu membuatnya menjadi bingung.

“ Aku harap kau bisa menjaga perasaan orang disekitarmu, terutama perasaanku “ ucap Minho pelan, ia berbalik berjalan menjauh meninggalkan Jiyeon yang kini perasaannya menjadi campur aduk.

“ Minho ? “ ucap Jiyeon yang kini benar-benar bingung.

“ Jwesonghamnida nona, tuan Choi tidak memberitahu kemana ia akan pergi tadi “ ucap seorang wanita yang ternyata adalah sekretaris ketika Suzy kembali bertanya perihal Minho.

“ Aku akan menunggu hingga ia datang “ ucap Suzy.

Kembali ia berjalan pelan menuju ruang tunggu, Suzy sudah menghabiskan 3 majalah yang tersedia disana, namun Minho belum juga kembali, ia melirik jam ditangannya dan membuang nafasnya kecewa.

“ Sudah 45 menit sebenarnya dia kemana ? “ Suzy menyandarkan bahunya, ia selalu menoleh setiap kali muncul seseorang diujung sana, namun lagi-lagi ia harus kecewa karena bukan Minho yang ditunggunya yang muncul.

“ Aku titipkan ini untuk tuan Choi, berikan padanya jika ia kembali, dan yang satu ini …..untukmu, kamsahamnida “ Suzy menyerahkan kardus makanan yang ia bawa, dan merelakan bagiannya kepada sekretaris Minho, ia tidak lagi memiliki selera untuk menikmati makan siangnya.

“ Mengapa tidak satupun ia membalas pesanku ? “ ucap Myungsoo yang sedari tadi menatap ke layar telepon genggamnya, berharap itu menyala dan pesan balasan yang ditunggunya datang, sudah berkali-kali ia mengirim pesan namun tidak satupun Jiyeon membalasnya.

“ Dia pasti sedang sibuk “ senyum Myungsoo mencoba berprasangka baik.

Ia berdiri dan mengendurkan dasinya, tersenyum sendiri ketika ia mengingat bahwa ia telah memiliki kenangan yang begitu manis dengan Jiyeon, tidak menyangka namun membuatnya yakin bahwa yeoja itu adalah takdirnya.

Dilihatnya kembali layar yang ia harap berkedip, namun beberapa menit tidak berkedip juga Myungsoopun memasukkannya kembali kedalam sakunya.

Jiyeon membuka gelungan rambut panjangnya dan merubahnya menjadi kunciran satu dibelakang, cermin dihadapannya memperlihatkan wajah putih pucatnya, menyadarkan dirinya bahwa ia butuh istirahat cukup dan melepaskan penat di kepalanya.

Di belakangnya Jieun masih nampak kesulitan untuk mengikat sepatu, karena tas selempang yang selalu mengganggunya, seseorang datang diantara mereka.

“ Jiyeon-ssi,  kau sudah bersiap untuk pulang ? kamar nomor 135 memanggilmu, ia bilang ingin berbicara denganmu “ ucap seorang teman Jiyeon.

“ Ada apa dia memanggilmu ? kau harus memintanya membayar uang lemburmu, karena ia tamu hotel dan ini sudah jam pulang, orang kaya memang selalu seenaknya saja memperlakukan pegawai, kita ini begitu lelah, memangnya dia tidak punya teman untuk diajaknya mengobrol ? “ sungut Jieun kesal.

Jiyeon mengendik tidak mengerti, meski ia tidak maupun, ia harus tetap pergi ke sana “ Aku harap ini bukan tentang oppa “ ucapnya dalam hati.

“ Apa kau mau menungguku ? aku akan mentraktirmu jika kau bersedia, kau mau kan eoh ? “ ucap Jiyeon merayu agar Jieun tidak lagi bergumam kesal.

“ Baiklah, pastikan ini tidak akan lama eoh “ ancam Jieun.

“ Gomawo, saranghae “ ucap Jiyeon dan melangkah cepat menuju kamar Sulli.

“ Ini tentang Myungsoo oppa, sepupumu “ ucap Sulli membuka pembicaraan membiarkan Jiyeon hanya berdiri dihadapannya, sementara ia duduk dengan anggun di sofa empuknya.

Jiyeon tidak lagi menunjukkan keterkejutannya, ia sudah menduga sebelumnya tujuan Sulli memangggilnya, namun ia mencoba bersikap seperti biasa.

“ Apa kau mengetahui sesuatu tentangnya ? “ Tanya Sulli, wajah lembutnya tergantikan dengan ketidaksukaan menatap Jiyeon.

“ Beberapa hari ini aku tidak bertemu dengan Myungsoo oppa “  ucap Jiyeon membalas tatapan Sulli.

Sulli menatap sinis Jiyeon, wajah polos Jiyeon tidak lagi membuat dirinya senang dengan yeoja yang mengaku sepupu dari kekasihnya ini “ Ia memutuskan untuk tidak lagi meneruskan pertunangan kami “ ucap Sulli menahan sakit.

Mata Jiyeon membelalak, kali ini Jiyeon benar-benar terkejut, tidak menyangka Myungsoo akan mengambil tindakan secepat ini, keberanian dirinya membalas tatapan Sulli seketika melemah.

“ Aku sudah bersamanya sejak 3 tahun lalu, dengan segala ketulusan dan kesabaran yang aku miliki… meski selama ini dia bersikap dingin padaku, tapi aku yakin aku bisa bertahan dan membuatnya jatuh cinta padaku, yeoja lain mungkin akan menyerah tapi aku bisa , bahkan hingga detik ini “ ucap Sulli menahan emosi yang membuncah.

Jiyeon menunduk hanya mendengarkan Sulli yang menumpahkan perasaan hatinya.

“  Dia mengatakan jika ia mencintai yeoja lain, meski ia tidak mengatakan siapa yeoja itu, namun aku tahu siapa dia  “ ucap Sulli semakin menyudutkan Jiyeon.

Tidak sama sekali Jiyeon mengeluarkan suara, ia sungguh bingung terjebak dalam suasana yang sama sekali tidak disangka ia harus menghadapi sendirian mengenai ini.

“  Aku tidak bisa membayangkan jika dia menghilang dari hidupku, aku tidak pernah mencintai seorang namja hingga seperti ini jadi aku mohon biarkan kami bersama “ ucap Sulli semakin melemah disetiap kalimatnya membuat Jiyeon benar-benar begitu merasa bersalah.

Jiyeon menarik nafas seraya memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap Sulli dengan kekuatannya, ia tidak ingin mengeluarkan airmata yang justru membuat Sulli akan salah paham.

“ Kau salah….bukan aku… bukan aku yeoja yang ia cintai, namun jikapun aku….itu akan sia-sia, karena aku tidak MENCINTAInya, aku harap kau tidak salah paham pada ku, aku permisi nona “ ucap Jiyeon dan membalikkan tubuhnya meninggalkan Sulli tanpa peduli lagi apa yang Sulli pikirkan tentangnya.

Jiyeon semakin cepat berlari menyusuri koridor sepi dan menahan airmata nya untuk tidak lagi jatuh hanya karena perasaannya, ia tidak ingin menjadi lemah, tidak juga menjadi orang yang tidak berperasaan, meskipun akhirnya ia melakukan pada dirinya sendiri.

“ Tch, kau tahu hutangmu banyak sekali, mengenalkan oppamu, dan sekarang mentraktirku, kau ini suka sekali berjanji “ sungut Jieun berjalan disamping Jiyeon.

Tidak ada jawaban dari Jiyeon yang ada disampingnya, sahabatnya ini hanya berjalan dengan pandangan lurus kedepan, merasa aneh Jieun meraih pundak Jiyeon memaksanya untuk berhenti berjalan  “ Jiyeon-ah kau kenapa ? “

“ Ahniyo, kajja ….besok pagi-pagi sekali aku harus menjemput appa dan eommaku, aku harus segera beristirahat “ ucap Jiyeon lemah dan kembali berjalan mendahului Jieun.

“ Huh….gagal lagi “ Jieun mengerucutkan bibirnya kecewa dan terpaksa berjalan menyusul Jiyeon.

Bersikaplah seperti tidak ada apa-apa, aku tidak ingin orangtuamu curiga, masalah kemarin aku harap kau memikirkannya kembali, kau hanya lelah, aku mengerti dirimu, dan ku harap kau bisa membalas pengertianku dengan sikap adilmu.

– Choi Sulli

Myungsoo meletakkan ponselnya sembarang, merasa kecewa karena bukan Jiyeon yang membalas pesannya, melainkan Sulli.

Myungsoo memijit kepalanya, walau bagaimanapun sikap terburu-burunya tidak akan memnyelesaikan masalah, ia harus lebih bijkasana untuk mencari jalan keluar untuk perjuangannya.

“ Jam berapa pesawat mereka akan tiba ? “ tanya Sulli kepada Suzy yang berada disampingnya.

“ Sebentar lagi, eoh Yeonnie-ah tanganmu dingin sekali, seperti akan bertemu dengan superstar yang kau idolakan “ ucap Suzy menyadari Jiyeon begitu gugup menunggu kedatangan appa dan eommanya.

Sulli melirik dengan pandangan berbeda kearah Jiyeon, masih terbayang pembicaraan keduanya kemarin.

“  Itu…itu mereka !!! “ seru Suzy membuat Jiyeon dan Sulli mengarahkan matanya mengikuti arah telunjuk Suzy.

“ Appa…eomma “ lirih Jiyeon dengan mata yang berkaca-kaca.

Dari arah sana..

Jaejoong dan Nana berjalan seraya menyeret barang bawaannya, belum menyadari jika ada seseorang yang sudah menjatuhkan airmata bahkan hanya mendengar namanya.

Mata Jaejoong menangkap dua orang yang melambaikan tangan ke arah mereka “ Itu Suzy dan Sulli “ ucap Jaejoong berjalan semakin cepat menuju kesana.

“ Yeobbo “ Nana terkesiap, langkah kakinya terhenti sejenak ketika melihat sosok lain yang menatap haru dengan airmata yang sudah berderai, yeoja berambut panjang dan bermata besar disamping Suzy.

“ Waeyo ? kajja Suzy dan Sulli disana “ ajak Jaejoong lagi yang belum menyadari sikap Nana yang terlihat begitu syok.

“ Yeonnie-ah, benarkan itu putri ku ? apa aku tidak salah melihatnya ? “ ucap Nana yang membuat Jaejoong menajamkan kembali pandangannya ke arah putri dan calon menantu yang sedang menunggunya.

“ Yeonnie ? “ kagetnya setelah memastikan bahwa apa yang dilihat istrinya adalah putrinya yang lama mereka cari.

Begitu rindu hingga tidak sadar langkah kaki Nana dan Jiyeon seperti berlari, pandangan heran orang-orang disekitar serta deraian air mata tidak lagi  mereka pedulikan, terlalu bahagia dengan apa yang mereka lihat dan rasakan.

“ Eomma….huhuhu “

“ Yeonnie-ah…putriku…eomma sangat merindukanmu “

Mereka berpelukan ditengah kerumuman banyaknya orang yang lalu lalang, hingga tidak ada celah untuk udara melewati keduanya, Nana mencium rambut, kening, kedua pipi serta hidung Jiyeon dengan mencurahkan segala kerinduannya, putri kecilnya, putrinya yang seperti malaikat telah kembali dihadapannya.

“ Yeonnie-ah, kau kemana saja, eomma hampir gila karena begitu ingin bertemu denganmu eoh ? “ ucap Nana berderai air mata mengusap rambut Jiyeon dan menciumnya kembali.

“ Yeonnie-ah, appa juga sangat merindukanmu “ Jaejoong akhirnya mendekat dan menatap Jiyeon dengan pandangan berkaca-kaca.

Jaejoong merengkuh Jiyeon dan Nana yang masih sibuk dengan tangisannya, dua kali…ya dua kali Jaejoong ada dalam posisi seperti ini, ia sering merasakan kehilangan namun jika itu miliknya ia akan kembali dan seperti ini, merasakan kebahagian yang lebih besar dari sebuah pertemuan kembali.

Suzy memandang ketiganya begitu terharu, tisu ditangannya tidak lagi kering dan beraturan bentuknya, perasaan rindu ketiganya begitu dapat ia rasakan karena ia pun pernah dalam posisi seperti itu.

“ Selamat datang keluarga utuhku, semoga kebahagian menyertai kita semua “ doa Suzy dalam hati.

“ Eomma, aku saja yang memanggangnya “ Jiyeon mengambil alih panggang yang dipegang Nana.

Nana menatap Jiyeon dengan mengerutkan dahinya seolah tidak percaya akan hasil panggangannya nanti.

“ Eommaaa…kau jangan menatapku seperti itu, aku tidak akan membuat daging ini menjadi hitam dan pahit untuk dimakan “ rengek Jiyeon manja.

“ Ha..ha..ha, baiklah eomma percaya “ Nana lalu membiarkan panggangannya dipegang Jiyeon.

“ Eoh Sulli, kau sudah menghubungi Myungsoo, ia terlalu sibuk bekerja sampai-sampai orangtuanya datang ia tidak bisa menjemput “ tanya Nana kepada Sulli.

“ Myungsoo sedang menuju kesini omonim, sebentar lagi akan sampai “ ucap Sulli seraya melirik kearah Jiyeon yang sibuk memanggang.

“ Kau harus bisa mengubah sikapnya nanti jika sudah menikah, ia tidak bisa lagi bersikap cuek dan tidak peduli dengan orang sekitarnya “ nasehat Nana dan diangguki senyuman oleh Sulli.

“ Pasti, ia pasti bisa berubah jika sudah menikah nanti, aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya “ ucap Sulli.

Jiyeon terus membolak-balikkan panggangan, meski ia berusaha untuk mengabaikan pembicaraan keduanya, namun ia bisa mendengar jelas setiap kalimatnya.

Tidak berapa lama Suzy, Myungsoo dan Minho muncul bersamaan dari pintu yang memisahkan antara ruang makan dengan taman yang mereka sedang pakai untuk pesta barbeque, Suzy menyambut keduanya yang datang bersamaan dipintu utama tadi.

“ Annyeonghaseyo abonim, omonim…oreinmaniyo, sangat lama tidak bertemu, senang bertemu  kembali, selamat datang kembali di Korea “ ucap Minho sopan dan membungkukkan tubuhnya.

“ Tch…ini seperti bukan kau “ ejek Myungsoo ke arah Minho dengan pandangan mengejek yang dibalas senyuman kesal oleh Minho.

Semuanya tertawa melihat tingkah mereka yang seperti kekanak-kanakan.

Tidak sengaja mata Myungsoo bertabrakan dengan Jiyeon yang sedang menatap kearahnya seraya membolak-balikkan daging kecil yang berbaris pada sebuah tusukan, Myungsoo pun melempar senyumnya ke arah Jiyeon, namun seketika memudar karena dengan cepat Jiyeon memalingkan kembali wajahnya dan berusaha fokus untuk meneruskan aktifitas memanggangnya, Sulli dan Minho memperhatikan keduanya.

“ Ini pesta barbeque kecil-kecilan untuk merayakan kembali pertemuan ini, jadi siapapun harus gembira dan tidak sungkan eoh, ayo silahkan menikmati “ ucap Jaejoong yang kemudian membantu Nana menata meja makan agar menambah selera makan mereka.

“ Kau sudah berada disini sejak kapan ? “ tanya Minho yang kemudian duduk disamping Jiyeon.

Sulli mendekat ke arah Myungsoo, sebelum namja ini menyusul Minho menghampiri Jiyeon, ia mencoba mengalihkan pandangan Myungsoo kepada Jiyeon, dan berharap Minho dapat membantunya.

“ Eoh, nde…” ucap Jiyeon gugup teringat kembali kalimat terakhir Minho di lift kemarin.

“ Boleh aku bergabung disini? “ tanya Suzy yang tiba-tiba muncul diantara mereka.

Jiyeon bernafas lega, karena jika tidak ia akan menjadi patung yang memiliki jantung yang berdetak hebat, karena terlalu bingung untuk menghadapi Minho.

“ Eoh tentu saja “ ucap Minho.

“ Kajja, semuanya sudah siap untuk disantap, mari kita rayakan pertemuan yang sangat bahagia ini, nikmati dan habiskan semuanya “ Jaejoong membuka botol soju dan menuangkannya ke setiap gelas dibantu oleh Nana.

“ Hanya para namja, kita tidak boleh menikmatinya “ ucap Nana mengingatkan.

“ Arraseo “ ucap Suzy merengutkan bibirnya.

“ Ini makanlah “ Minho menaruh lobak didalam piring Jiyeon.

Jiyeon hanya tersenyum kaku dan membiarkan Minho menuangkan lobak dalam piring makannya, ia hanya menunduk, terlalu takut untuk melihat reaksi yang lainnya melihat apa yang Minho lakukan padanya, terutama Myungsoo dan Suzy.

Myungsoo menghentikan sejenak kegiatan memotong daging dan melirik tidak suka ke arah Minho, sementara Sulli semakin menatap kesal ke arah Jiyeon meski yeoja itu tidak melakukan apapun.

“ Ia tidak menyukai lobak ? “ ucap Myungsoo tajam akhirnya.

Semua mata menatap Myungsoo, tidak terkecuali Jaejoong dan Nana yang saling berpandangan tidak mengerti. Jiyeon menghela nafasnya berat, ia menyadari situasi akan berubah menjadi tidak enak jika kedua namja ini berada ditempat yang sama. Perlahan ia menancapkan jari garpu menusuk lobak yang Minho taruh kedalam piringnya dan memakannya perlahan.

Minho, ia tersenyum sinis menatap Myungsoo yang hanya melihat Jiyeon memasukkan lobak kedalam mulutnya

 “ Huhhh…apakah eomma lupa bahwa aku tidak suka lobak ? “

“ Ini untukmu, aku sangat tahu oppa sangat suka lobal, tapi mengapa justru tidak ada lobak disana, apa bekal kita tertukar ?

“ Ini untukmu, kau harus juga memakan ini “ giliran Sulli yang menaruh lobak diatas piring Myungsoo membuyarkan lamunan Myungsoo tentang Jiyeon.

Suzy terus memasukkan daging kecil kedalam mulutnya, mencoba mengabaikan suasana yang berubah menjadi tidak enak, namun kemudian ia meletakkan garpu dan memandang Minho “ Bisakah kau melakukan hal yang sama kepadaku, aku sangat menyukai lobak “ ucap Suzy disertai senyuman lebarnya.

Minho hanya tertawa ringan kemudian mengambil lobak dan menaruhnya juga dipiring Suzy, suasana kembali tenang, namun tidak untuk Myungsoo ia terus menatap Jiyeon yang sedang memasukkan potongan lobak dengan tanpa terlihat berpura-pura suka ke dalam mulutnya, padahal dulu ia begitu susah dibujuk untuk memakan lobak bahkan oleh eommanya, dan kini Minho ? dengan mudahnya Jiyeon menyukai hal yang tidak ia sukai hanya karena Minho.

Hati Sulli begitu panas karena saat ini ia seolah tidak terlihat oleh Myungsoo, meskipun Myungsoo sudah mengatakan jujur tentang perasaannya, namun ia tidak begitu saja merelakan Myungsoo untuk wanita lain.

“ Eomma, biar aku bantu “ ucap Jiyeon meletakkan dagu dibahu eommanya yang sedang membersihkan piring-piring sehabis mereka berpesta.

“ Kau tidak mengantar Minho ? “ tanya Nana.

Jiyeon menggelengkan kepalanya “ Ada Suzy yang mengantarnya “ ucap Jiyeon lalu mengambil piring yang sudah dibersihkan oleh Nana dan menaruhnya di lemari.

“ Oppamu ? “ tanya Nana kemudian.

“ Oppa sedang mengantar Sulli eonni kembali ke hotel “ ucap Jiyeon santai.

“ Hah…putra dan putriku sudah besar, sebentar lagi eomma harus merelakan perhatian Myungsoo terbagi dengan pasangan hidupnya, kau sudah tahu kan sebentar lagi oppamu dan Sulli akan bertunangan, eomma bahagia sekali, meski eomma merasa takut jika oppamu itu sulit berlaku adil antara keluarga dan keluarga barunya kelak “ ucap Nana masih sibuk dengan piring ditangannya.

Jiyeon yang masih menata piring-piring kedalam lemari menoleh lemah ke arah eommanya, ia merasakan sesuatu yang berat yang mengganjal dihatinya mendengar apa yang eommanya katakan, Myungsoo….ia memikirkan perasaan Myungsoo kini, dan…

Perasaannya….

Ia baru menyadari, ia tidak menyukai ketika Myungsoo begitu dekat dengan Sulli tadi, ia selalu merasa sesak jika setiap kalimat yang menyandingkan Myungsoo dengan wanita lain, dan ia begitu takut jika kelak ia harus merelakan Myungsoo tidak lagi bersamanya, ia….

“ Oppa….aku ingin sekali jujur, aku ingin sekali berani mengatakan nado, saranghae oppa “ batin Jiyeon, airmatanya terlanjur jatuh tanpa sempat ia sembunyikan, hingga….

“ Kau kenapa ? Yeonnie-ah ada apa denganmu ? “ Nana segera membersihkan tangannya ketika ia menoleh dan melihat Jiyeon menangis dan menundukkan wajahnya.

Jiyeon mencengkeram dadanya yang terasa sesak, kemudian memeluk eommanya begitu erat, Nana tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan putrinya.

“ Katakan pada eomma, apa yang kau rasakan eoh ? “ ucap Nana khawatir dan mengusap rambut Jiyeon.

“ Ahniya eomma, aku hanya terlalu senang bersamamu..hiks..hiks “ Jiyeon sulit menghentikan isak tangisannya, tidak ada siapapun kini tempatnya untuk berbagi karena cintanya untuk Myungsoo hanyalah cinta orang ketiga yang siapapun pasti tidak merestuinya, termasuk orangtuanya yang kini sudah menerima Sulli untuk putranya.

Nana berusaha tersenyum meski ia menangkap sesuatu  yang berbeda dari tangisan putrinya, bagaimanapun ia seorang ibu yang memiliki ikatan batin terhadap anak-anaknya, namun Nana berusaha untuk mempercayainya agar putrinya tidak terbebani dengan apa yang disembunyikan.

“ Aku pulang “ ucap Minho.

“ Eoh hati-hati, aku sangat senang sekali malam ini…gomawo “ balas Suzy dengan senyum cantiknya yang ia berikan untuk Minho.

Minho kini menatap wajah Suzy dengan serius “ Suzy-ah aku masih sangat mencintainya “ ucap Minho tiba-tiba seolah memperingatkan Suzy untuk tidak lagi menaruh harapan padanya.

“ Eoh aku tahu, aku hanya melakukan apa yang ingin aku lakukan, apa kau merasa terganggu ? “ Suzy nampak tidak main-main dengan ucapannya.

Minho hanya tersenyum tidak percaya dengan kalimat yang meluncur dari bibir Suzy, yeoja ini begitu berbeda dari yang ia kenal, namun tidak dipungkiri perubahannya sedikit membuatnya kagum.

“ Minho-ah, didunia ini ada sesuatu yang tidak dapat dipaksakan, apakah kau tahu itu apa ? hal-hal seperti takdir, terlepas dari seberapa keras kau berusaha untuk meraih, kau tidak bisa mencengkeram itu, dan bahkan jika kau berhasil mendapatkannya, itu tidak akan tinggal ditanganmu selamanya” ucap Suzy dan setelahnya ia berjalan meninggalkan Minho.

Suzy merasa lega telah mengatakannya, ia tidak ingin lagi menjadi yeoja yang mudah menyerah, tidak ingin terlalu banyak mengeluarkan airmata untuk seseorang yang ia cintai, seperti yang ia katakan pada Minho ia percaya akan takdir, dan ia percaya Minho adalah takdirnya, hanya saja mereka sedang berada di tengah perjalanan yang berseberangan dan suatu hari nanti akan bertemu di satu titik.

Kriett…

Myungsoo memicingkan matanya berusaha menangkap jelas pandangannya yang tertutup gelapnya ruangan karena lampu-lampu yang dipadamkan.

Kakinya hendak melangkah menuju anak tangga dan…

Clekkk..

Seseorang menyalakan lampu membuat pandangan Myungsoo mengarah kepadanya, Jiyeon…ia melihat yeoja itu berdiri tidak jauh dari anak tangga.

“ Kau belum tidur ? “ tanya Myungsoo.

“ Eoh “ ucap Jiyeon singkat dan setelahnya ia berlalu menuju dapur, Jiyeon menuang segelas air dan meminumnya hingga habis.

“ Apa ada sesuatu yang terjadi padamu ? “ tanya Myungsoo melihat mata Jiyeon yang sedikit berbeda.

“ Ahni “ ucap Jiyeon tanpa menatap wajah Myungsoo yang sedang bertanya padanya dan hendak kembali kekamar, namun…

“ Sejak kapan kau menyukai lobak ? “ Myungsoo menahan tangan Jiyeon mencegahnya untuk meninggalkannya.

Jiyeon mendongak dan menatap Myungsoo dengan perasaan kesal, tidak tahukah namja ini jika ia benci untuk bersikap egois dan membiarkan banyak hati yang terluka hanya untuk melindungi hatinya.

“ Oppa, aku tidak ingin membesarkan masalah yang kecil seperti itu “ ucap Jiyeon melepas tangannya paksa.

Myungsoo mengerutkan dahinya tidak mengerti sikap Jiyeon yang tiba-tiba berubah padanya “ Mengapa seperti ini, mengapa kau begitu mudah berubah ? “ tanya Myungsoo dengan suara kecewa yang tertahan.

Jiyeon tetap melangkah meninggalkan Myungsoo yang kini rahangnya mengeras karena marah “ Kita saling mencintai, mengapa kau membuatnya menjadi begitu sulit ? “ ucap Myungsoo.

Jiyeon tak bergeming dan tetap melangkah…

“ Jika kau takut untuk berjuang bersamaku, setidaknya kau memberikan senyuman untukku “ ucap Myungsoo kembali semakin kencang karena Jiyeon yang semakin menjauh.

Tap…

Tap..

Tap..

Blam…

Jiyeon menutup pintu kamarnya kencang, membiarkan Myungsoo kini berdiri sendirian dibawah sana dan hanya memandang kecewa pintunya yang kini tertutup rapat.

“ Sesuatu pasti telah terjadi padamu ? Yeonnie-ah, tidak peduli apapun, cukup kau mengatakan kau mencintaiku hal lainnya bukanlah halangan “ ucap Myungsoo menekankan kalimatnya.

TBC.

Next Part….

 “ Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku !!!! “

“ Aku tidak mencintaimu !!! “

“ Kau bohong!!!”

“ Aku benar-benar tidak mencintaimu !!!”

“ Saekiyaaa…pukul aku jika memang kau seorang namja eoh “

“ Hentikann!!! Aku bilang hentikan !!! mengapa dua sahabat harus berkelahi hanya untuk masalah seperti ini “

“ Ayo memancing bersamaku, sebelum kita benar-benar tidak bisa lagi bersama, setelahnya aku tidak akan lagi memaksamu untuk bersamaku “

“ Kau tau seseorang pernah mengatakan padaku, daun jatuh karena kerasnya angin bertiup, atau memang karena pohon yang tidak pernah memintanya untuk tinggal. Masalahnya kau atau dia yang menjadi daun eoh ? “

“ Aku manusia biasa, bukan malaikat seperti yeoja yang kau cintai, tapi mengapa tidak sedikitpun kau menghargai usahaku, sekarang aku harus mengatakan aku lelah, aku  lelah selalu mengemis cinta padamu “

 “ Jangan pergi, aku membutuhkanmu tetaplah disini dan merawat hingga aku sembuh “

“ Kau adalah yeoja perebut kekasih orang lain, apa kau tidak malu mendengar itu eoh !!! “

“ Maafkan aku, kau memang seorang yeoja yang memiliki banyak pendukung untuk kalian bersama, tapi kau tidak memiliki hatinya, dia…dia adalah seorang namja dengan satu yeoja dalam hatinya, dan itu aku “

****

Kyaaaaaa…..Mianhae untuk readers yang sudah ngejar2 author *Ngarep.com

Terlalu lama update…:(  Fiuhh!! Part ini entahlah, author ga yakin ini ga membosankan…..tapi inilah kemampuan author dinikmati saja yah.

Gomawo utk yang masih setia memberikan cintanya untuk author, kalian adalah penyemangat author utk menyelesaikan ff ini, jeongmal gomawoyo.

Untuk yang masih jadi siders ( ???  ) author ga marah jikapun kalian hanya komen mulai dari part ini, karena author udah mutusin untuk ga protect ff ini, jadi balas kebaikan author dengan kejujuran kalian yah.

Tinggal menyisakan 2 part lagi, author bakal update lebih cepet kalo komennya sesuai dengan target author, tp maaf author ga kasih tau targetnya yah…hehhee ( author aneh )

Seperti biasa, tetap setia menunggu…bubyeeee…

126 responses to “[ CHAPTER – PART 17 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. Ihh itu buat next part nya bikin penasaran ihh!!!!!!!!!
    hah semua makin ruwet , coba ada 1 orang yang ngalah buat nyerah sama perasaan nya , pasti gg akan seruwet ini , tapi seruu seh cerita ini ,. hehehe

  2. Suzy jdi pribadi yg top top bangett hahah beda banget sma yg dluu.. Senang banget :3
    Tpi.. Huwa koq kisah cinta myungyeon rumit bangett??? T_T
    Lanjut ya kaa fightingg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s