[Chapter – 5] HIGH SCHOOL LOVERS : Another

hsl1

High School Lovers : Another

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

“Ada yang datang kembali menuntut sebuah kisah lama.

Mereka membuka lembaran memori baru,

Dan akhirnya menyisakan kebahagian dan luka.

Dua orang dengan jenis berbeda itu berjalan berdampingan dalam hening di antara bisingnya suasana bandara. Mereka tidak saling mengenal, tentu saja. Gadis bersurai kecoklatan itu mengangkat kacamata hitamnya sedikit, menoleh ke samping, memperhatikan sosok pria jakung dengan warna kulit kecoklatan yang mempesona. Gadis itu membenarkan kembali letak kacamatanya dan melanjutkan langkahnya dengan begitu anggun. Sementara sosok pria itu hanya tetap pada pendiriannya, diam menikmati setiap detik yang terlewat. Senyum terukir cukup jelas di bibir pria itu, menambahkan satu lagi nilai plus selain wajahnya yang tampan.

 

Sampai di luar bandara, dua orang yang saling tak mengenal itu sudah berpisah arah. Pria itu pergi ke arah depan, sementara gadis itu sendiri tetap di tempatnya menunggu sebuah taksi lewat. Gadis itu –Bae Suji, atau mereka biasanya mengejanya dengan Suzy, memberikan senyum manisnya selama berdiri menanti taksi datang. Tidak ada sama sekali guratan kesal di wajah cantiknya akibat menunggu, entah lah mungkin suasana hatinya tengah sangat baik efek kembali ke kota kelahirannya semenjak dua tahun berada di negeri orang meregang nyawa. Dia mengangkat tangannya menutupi wajahnya yang terkena sinar cerah matahari. Dari sisi ruas-ruas jemarinya Suzy kembali mengulas sebuah senyuman yang manis. Dia terkenang kembali kepada sosok pria itu. Sosok pria yang telah membuatnya menghabiskan menit-menit berharga sisa hidupnya hanya untuk mencintainya. Dia merindukannya, sangat malah. Dan dalam beberapa waktu lagi dia bisa melihat wajah pria itu, tapi dia memiliki sebuah harapan besar untuk memiliki hati pria itu lagi. Dia ingin posisi itu masih bisa terisi kembali oleh dirinya, semoga saja.

 

Pria itu –Kim Jong In. Melepaskan kacamatanya dengan santai begitu mendudukkan dirinya di kursi penumpang taksi. Dia menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, menikmati waktu istirahatnya sejenak. Matanya tetap terbuka memperhatikan sisi jalanan yang seperti biasanya ramai dipadati kendaraan. Tidak ada yang berubah, semuanya tetap seperti sebelumnya. Sama sepertiku juga di sini, batinnya. “Ahjussi, antarkan aku ke alamat ini.” Jong In menunjukkan selembar kertas kecil yang terlihat sudah lusuh. Pria itu hanya berharap jika pria setengah baya ini bisa membaca tulisan itu dengan benar.

 

“Baiklah.”

 

*

 

Suasana kediaman Myungsoo dan Soojung begitu ramai dengan teriakan cempreng Soojung, suara bentakan Myungsoo, suara tawa Minho, dan jangan lupakan suara lembut Jiyeon yang menjadi penengah. Tidak ada yang mengetahui jalan cerita awalnya bagaimana mereka bisa menjalin hubungan berlabel perteman. Bahkan Jiyeon sendiri masih tidak menyangka bisa menerima orang baru dalam hidupnya. Dan, tentu saja gadis itu tidak menyesali semuanya, dia justru bahagia. Tidak ada lagi ketakutan yang tersimpan dalam dirinya semenjak bersama dua bersaudara itu dan tentu saja Choi Minho.

 

“Ya, Jiyeon-ah, coba lihat Oppaku curang lagi. Aku memberimu saran jauhi Oppaku yang licik ini sebelum kau menyesal nantinya,” teriak Soojung lantang dengan nada suara khas miliknya. Gadis itu mendengus memperhatikan Myungsoo yang sibuk menekan stick play stationnya dengan wajah serius bak tengah beradu asli, padahal kakaknya itu tengah beradu melawan computer.

 

“Aku tidak akan menyesal, Soojung.” Jiyeon membalas ucapan Soojung dengan tenang dan santai. Gadis itu memposisikan dirinya berada di samping Myungsoo, memperhatikan kegigihan Myungsoo untuk memenangkan game ini. Dia sesekali terkikik begitu mendapati Soojung berusaha membuat Myungsoo kalah, namun adanya pria itu tetap tak tergoyahkan.

 

“Aku tidak mengerti, bagaimana ada sepasang saudara idiot seperti kalian.” Minho menimpali. Pria itu tidak memperdulikan tatapan membunuh yang dilayangkan padanya. Dia malah tersenyum mengejek. Sesekali Minho mengambil kesempatan luangnya melihat Soojung. Kerutan tanda bingung jelas tercipta di antara keningnya. Bagaimana tidak, dia ingat betul beberapa minggu lalu Soojung menyatakan perasaannya, dan dia belum menjawab apa-apa. Lalu, coba lihat apa ini, gadis itu bahkan masih bersikap santai padanya seolah tidak ada yang terjadi.

 

Ting~tong

 

Suara bel rumah Myungsoo berbunyi keras mengalahkan kegaduhan yang ditimbulkannya bersama Soojung, Minho, dan Jiyeon. Myungsoo mengajak Jiyeon menemaninya ke depan pintu. Namun, sekitar dua langkah sebelum mencapai pintu Myungsoo merasa ada perasaan tidak enak menghampirinya. Dia mundur berniat kembali dan menyuruh Soojung membuka pintu, tapi sayangnya, Jiyeon dengan suaranya yang sialan lembutnya itu menahannya.

 

“Kenapa tidak dibuka? Kau tidak kasihan pada tamunya? Mereka menunggu, Myungsoo.”

 

Oh baiklah, lupakan firasat aneh itu. Anggap saja hanya angin, pikir Myungsoo. Lalu, dengan ragu diraihnya gagang pintu dan membukanya dengan perlahan. Sejenak Myungsoo lupa bagaimana caranya untuk bernapas begitu iris matanya menangkap bayangan sosok cantik yang berdiri di hadapannya. Ini bukan mimpi, ini kenyataan. Myungsoo berusaha menarik napasnya dalam-dalam dan menghebuskannya dengan pelan. Ya Tuhan, apa lagi ini sekarang.

 

“Aku merindukanmu, Myungsoo-ya.” Gadis itu tanpa canggung melingkarkan lengannya di pinggang Myungsso. Sama sekali tidak memperdulikan sosok lain yang diam membeku di tempatnya akibat ulahnya. Gadis itu melepaskan pelukannya, dan menatapi Myungsso dengan kesal, “Tidak merindukanku, huh?”

 

“Oh.. Tidak, aku sangat merindukanmu, Suzy-ah.” Myungsoo tersenyum hambar. Suasananya sekarang jauh berbeda. Rasanya ada yang membuat dirinya tercekik dan sulit bernapas sampai-sampai dia ingin mati. Myungsoo sebenarnya tidak memungkiri kenyataan jika dia merindukan Suzy, tapi mengingat kembali dua tahun lalu gadis ini pergi tanpa peringatan membuatnya seperti membuka luka lama yang tengah dalam penyembuhan.

 

“Siapa dia? Teman, atau kekasihmu?” Suzy bertanya tenang, walaupun ada selipan nada khawatir di dalamnya. Sekeras mungkin dijaganya ekspresi wajahnya agar tidak menampakkan kekecewaan. Dia harus menerima apa yang akan Myungsoo katakana sekarang.

 

“Dia temanku, Park Jiyeon.”

 

Oke, ini gila, batin Jiyeon. Ini pertama kalinya dia benci Myungsoo menyebutnya teman. Bukan karena alasan apa, tapi karena nada suara pria itu yang ragu sehingga membuatnya sedikit sedih. Dia memperhatikan Suzy dari ujung kaki sampai kepala dengan pandangan menilai. Dia cantik. Pasti sebentar lagi Myungsoo akan melupakanku, batinnya sedih.

 

“Kau tidak berubah sama sekali, Myungsoo-ya.”

 

Jiyeon mengeryit, bertanya-tanya sendirian. Dari cara bicara gadis itu yang diketahuinya bernama Suzy, mereka pasti sangat dekat. Lihat saja tatapan mata mereka seperti saling merindu satu sama lain. Dan hal itu semakin membuat perasaan Jiyeon sendiri menjadi tidak menentu.

 

“Oppa, siapa?” Soojung mendesis. Ya Tuhan, setelah dua tahun pergi tanpa kabar, dan gadis itu, bagaimana bisa dia kembali dengan senyum cerah pada Oppanya. Soojung membuang nafasnya kesal. Ini tidak bisa. Dia tidak akan membiarkan Suzy merusak Oppanya lagi, tidak akan pernah. “Eoh, aku pikir siapa. Ternyata tamu tak diundang,” tutur Soojung sinis. Kalau boleh jujur, dia sangat tidak menyukai Suzy, entahlah untuk alasan apa selain karena dia membencinya sebab gadis itu meninggalkan Oppanya.

 

“Oh, hei Soojung.”

 

Bagai tersambar petir di tengah terik matahari, Soojung membeku di tempatnya. Dia tentu tahu siapa yang baru saja memanggil namanya. Itu bukan Minho, tentu saja. Sekali pun mengetahui siapa pemilik suara itu, dia tetap berusaha mendongak untuk memastikan siapa sebenarnya yang memanggil namanya.

 

“Wah, Jong In-ah, sudah lama sekali.”

 

Sudah terjawab. Soojung tidak berkata lagi. Ini bukan saat yang tepat. Kenapa dua orang yang pernah mengisi memorinya dan kakaknya harus kembali saat mereka nyaris menutup kembali kenangan itu. Ah, sial.

 

Apa ini reuni? Pikir Jiyeon. Gadis itu mundur, berniat meninggalkan Myungsoo dan Soojung bersama teman lama mereka. Dia tidak mau merusak suasana hangat yang tengah tumbuh diantara mereka. Biarkan saja mereka berbincang dulu dan melepas rindu satu sama lain. Satu-satunya hal yang harus dilakukannya sekarang hanya pergi kembali pada Minho di ruang tengah.

 

“Ini sudah dua tahun. Apa kau marah padaku?” Suzy bertanya dengan nada khawatir. Dia duduk di samping Myungsoo, menatapi tiap pergerakan yang dilakukan lelaki itu. Semuanya sesuai perkiraannya. Myungsoo tentu saja kecewa akibat tindakannya yang mendadak, tapi apa mau dikata, waktu itu nyawanya sudah berada di ujung tanduk, jika saja dia tidak pergi mungkin sekarang maniknya tak akan sanggup melihat wajah Myungsoo lagi.

 

“Tidak. Tidak juga,” balas Myungsoo singkat. Dia mati-matian menahan reaksi tubuhnya untuk tidak mendekat dan memeluk Suzy. Bae Suzy, gadis ini sudah membuatnya menunggu terlalu lama, gadis ini adalah orang yang mengambil tahun-tahun hidupnya untuk mencintai sosoknya, dan sekarang gadis ini sudah kembali padanya. Sama seperti dua tahun lalu, masih dengan senyum secerah matahrinya.

 

“Aku pikir kau marah, Myungsoo-ya. Tapi, aku ada alasan sungguh.”

 

“Ya, kau tentu punya alasan.”

 

“Gadis tadi, Park Jiyeon. Sejak kapan kau mempunyai teman dekat perempuan selain aku?” Ini cemburu. Nada sumbang di suaranya pun terdengar sangat kental. Tentu hanya orang bodoh yang tidak menangkap maksud dari perkataannya.

 

“Sejak satu bulan yang lalu, mungkin.” Myungsoo menghitung dalam hati, lalu tersenyum begitu mengingat kembali bagaimana susahnya dia dulu untuk menjadi teman seorang Park Jiyeon.

 

“Kau menyukainya?”

 

“Tidak. Dia temanku.”

 

“Aku pegang ucapanmu, dan aku harap saat aku menanyakan kembali hal yang sama jawabanmu tidak berubah.”

 

*

 

Sementara itu, Soojung dan juga Jong In mengambil tempat di taman rumah Soojung. Gadis itu mendongak melihat Jong In, membandingkan wajah lelaki itu dengan wajah bocah lelaki berusia lima belas tahun yang diingatnya dulu. “Kau menjadi lebih kecoklatan, Jong In-ah.”

 

Jong In tersenyum menananggapi ucapan Soojung. Dia tidak akan menapik perkataan Soojung. Kulitnya memang kian hari makin berubah menjadi kecoklatan, jadi dia tidak begitu peduli dengan ucapan Soojung. “Kau tujuh belas tahun sekarang, tiga tahun lalu kau masih empat belas tahun. Dan waktu itu kau jauh lebih imut dari sekarang.”

 

“Apa aku banyak berubah?”

 

“Tidak. Kau tetap cantik, Krystal,” ucap Jong In lembut.

 

Krystal, pria itu memanggilnya dengan Krystal lagi. Nama itu hanya pemberian Jong In untuknya, sebab dulu dia sangat menyukai benda yang berkilauan seperti diamond, dan secara spontan saja Jong In memanggilnya Krystal. Soojung tidak keberatan atas nama itu, dia senang malah karena nama yang Jong In berikan cantik.

 

“Kau mengingatnya.”

 

“Tentu saja. Nama itu hadiah terbesar dariku. Aku benar?”

 

Soojung tidak menjawab dengan suaranya, melainkan dengan sebuah anggukan kecil. Dia ingat beberapa menit lalu dia begitu tidak menginginkan bertemu pria ini lagi, tapi sepertinya dia berubah pikiran. Bertemu lagi dengan teman semasa kecilnya bisa memberikan kesenangan tersendiri baginya.

 

*

 

Jiyeon mendengus. Dia melirik jam tangan yang melingkar di lengannya dengan kesal. Sekarang sudah pukul lima sore dan dia masih terjebak di rumah Myungsoo bersama Minho yang tengah sibuk dengan stick play station. Sementara sang pemilik rumah sibuk bercengkrama dengan tamu dadakannya. “Minho seunbe, aku pulang dulu.”

 

“Ya, jaga diri Jiyeon-ah.”

 

Oh sial. Bahkan seniornya ini hanya menjawabnya tanpa berbalik sedikit pun sampai membuatnya merasa benar-benar menjadi orang asing sekali lagi. Dia mulai melangkah melewati beberapa ruang, dan akhirnya dia hampir melewati pintu rumah Myungsoo.

 

“Kau mau pulang? Biar aku antar.”

 

Suzy bangkit dari posisinya mengikuti pergerakan yang dilakukan Myungsoo. Gadis itu memandang menilai pada Jiyeon. Wajah Jiyeon datar, itu lah satu-satunya fakta yang dapat Suzy ungkapkan sekarang.

 

“Tidak perlu.”

 

“Tidak ada penolakan. Suzy-ah, kalau kau mau kembali kau bisa berpamitan pada Soojung, tapi kalau masih ada yang mau kau bicarakan, kau bisa menunggu. Itu pun kalau kau tidak keberatan.”

 

“Tidak, aku akan kembali sekarang. Lagi pula aku harus membenahi barang-barangku, dan besok aku juga harus mulai sekolah.”

 

Myungsoo membiarkan Suzy keluar terlebih dahulu. Ini langkah terbaik yang bisa dilakukannya. Dia harus menghindari Suzy, atau dia mau mengambil resiko kembali jatuh ke dalam pelukan gadis itu.

 

“Ayo.”

 

Perjalanan mereka tidak ditemani oleh suara-suara seperti biasanya. Entahlah apa yang salah pada Myunsoo sampai pria itu memilih membungkam mulutnya rapat-rapat. Keduanya menjaga jarak, ada kecanggungan yang kembali terbentang di antara mereka. Terlebih Jiyeon menyadari jika ini efek gadis bernama Suzy tadi. Dan, Jiyeon cukup sadar diri untuk tidak menuntut jawaban atas pertanyaan yang berkumpul di kepalanya.

 

“Kita sampai,” Myungsoo membuka suara. Pria itu mengulas sebuah senyum singkat untuk Jiyeon. Sekarang dia hanya harus pulang dan menenangkan dirinya sendiri. Kepulangan Suzy tentu membuat dunianya kembali jungkir balik.

 

“Ehm, Myungsoo-ya, dia –Suzy, kalian sangat dekat ya?”

 

Myungsoo menggkat bahunya tidak mengerti. Dia pribadi masih bingung apakah dirinya dan Suzy bisa dikategorikan dekat atau tidak. Lalu, dia sedikit tersadar. Lelaki itu mendongak, melihat, dan menanti sebuah kalimat lagi dari Jiyeon.

 

“Apa mungkin setelah ini kau akan melupakanku sebagai temanmu?”

 

Sentakan muncul dalam hati Myungsoo. Apa sebenarnya yang gadis ini coba katakana padanya. Tangannya bergerak mengacak anak-anak rambut pendek Jiyeon. Wajahnya sudah lebih santai dari sebelumnya. Rahangnya pun sudah tidak terlihat mengeras dalam beberapa waktu. “Tentu saja tidak.”

 

“Aku harap begitu.”

 

“Kau tidak percaya? Kau takut, atau..” Myungsoo memotong ucapannya, “kau sedang cemburu.”

 

Semburat warna pink manis menghiasi pipi tirus Jiyeon. Gadis itu menggeleng secepat mungkin, menyangkal tuduhan yang baru saja Myungsoo berikan padanya. Oh astaga, atas dasar apa dia harus cemburu? Dia ‘kan hanya teman. “Kau gila.”

 

“Ya, ya, ya, aku gila.” Myungsoo mendekat pada Jiyeon, mengeliminasi jarak di antara mereka, dan detik berikutnya lengannya melingkar bebas pada tubuh rinkih Jiyeon. “Aku tidak mungkin melupakanmu. Kau temanku tersayang, dan kau juga sangat berarti, ingat.”

 

Jiyeon tersenyum samar. Ada kehangatan yang secara perlahan merambat ke seluruh tubuhnya akibat semua yang dilakukan Myungsoo. Pria itu menanggapnya berarti. Ya Tuhan, sudah sangat lama semenjak ada seseorang yang menanggapnya sebegitu berarti seperti Myungsoo.

 

“Terima kasih,” ucap Jiyeon tulus diiringi dengan senyuman kecil. Dia menyentil kening Myungsoo menjauh darinya.

 

“Kalau begitu aku pulang. Kau harus segera tidur, besok masih harus sekolah.”

 

“Ya. Dan, kau hati-hati.”

 

*

 

 

Hari berikutnya datang dengan sangat cepat. Sang surya sudah semenjak tadi menduduki tahtanya, setelah berhasil menggeser sang rembulan yang indah. Setiap pelosok, tanpa tersisa satu pun sudah terkena sinar cerah dari sang surya, seperti sebuah peringatan kepada mereka yang masih senang bergemul di balik selimut tebal.

 

“Hei, Park Jiyeon.” Myungsoo berteriak, dan langsung berlari pada Jiyeon. Seperti sudah menjadi kebiasaan, pria itu merangkul Jiyeon tanpa canggung sedikit pun. Dia menoleh pada Jiyeon, sekali lagi dengan tampang polos agar gadis itu tidak mengeluarkan kalimat berbentuk protes. “Bagaimana tidurmu? Nyenyak? Aku pikir aku pasti berada dalam mimpimu.”

 

Jiyeon nyaris menghentikan langkahnya begitu mendengar penuturan Myungsoo yang gamblang. Dia tidak memperdulikan pertanyaan Myungsoo yang ia golongkan sebagai pertanyaan bodoh. Langkahnya tetap bergerak meski terkadang Myungsoo kerap kali mengganggunya. “Kau benar-benar permen karet. Ini masih pagi, dan kau sudah menempel padaku.” Jiyeon mendegus.

 

“Aku bahkan bisa sangat menempel padamu lebih dari ini, Jiyeon sayang.” Myungsoo tidak lagi merangkul Jiyeon, pria itu malah memegang pinggang Jiyeon, berusaha membuat mereka tanpa jarak.

 

Park Jiyeon nyaris memuntahkan semua makanan yang sempat dicernanya sebelum ke sekolah akibat ucapan Myungsoo. Dan, lagi ada apa dengan tangan gila Myungsoo. “Lepaskan, atau kau mati.”

 

“Tenang, tenang. Aku lepas, lihat.” Myungsoo melepaskan dirinya dari Jiyeon. Dia tidak bisa mengambil resiko mati hanya untuk menggoda Jiyeon, lagi pula perjalanan hidupnya masih sangat panjang. “Sebagai gantinya, lebih baik seperti ini.” Myungsoo meraih tangan Jiyeon, dia menautkan jemari mereka dengan erat, kemudian tersenyum idiot.

 

Mungkin bagi sebagian orang yang tidak mengenal mereka secara langsung, pasti akan berspekulasi bahwa mereka sepasang kekasih, sama seperti gadis berambut sebahu berawarna coklat itu. Dia memandang Myungsoo dan Jiyeon dengan pandangan terluka. “Akan lebih baik kalau aku bertanya langsung,” putus gadis itu.

 

*

 

Jarum jam bergerak sangat lamban, seperti itu lah pemikiran nyaris semua siswa yang tengah diam memperhatikan pengajar mereka sembari menanti-nanti bunyi bel pertanda istirahat. Memang sudah menjadi kebiasan anak-anak yang masih dibangku Sekolah untuk berlaku seperti itu. Tentu hebat, jika ada seorang siswa yang tidak ingin mendengar bel istirahat.

 

Moon Hae Soo memperhatikan para siswanya yang terlihat terkantuk-kantuk setelah dirinya mulai menerangkan. Baiklah, dia cukup mengerti mengapa anak-anak ini bosan, pasalnya materinya ‘kan hanya membahas soal etika-etika, tapi tentu dia tidak bisa membiarkan siswanya bermalas-malasan seperti sekarang. “Kalian semua jangan coba-coba tidur di kelasku!” Moon Hae Soo tertawa dalam hati melihat mata-mata yang semula sayu sudah terbuka sangat lebar. “Kalian..”

 

Tidak sempat wanita muda itu menyelesaikan kalimatnya, bunyi bel yang sudah dinanti-nantikan terdengar ke seluruh ruang kelas, sontak para siswa berteriak kegirangan saking senangnya. Mereka mulai memasukkan semua alat tulis mereka ke dalam tas. Tak terkecuali Jiyeon dan Soojung, mereka pun tertawa senang.

 

“Kalian boleh istirahat sekarang.”

 

Selepas Moon Hae Soo mengucapkan beberapa kata, para siswa sudah berhamburan ingin menyerbu kantin. Mereka keluar bagai harimau yang kelaparan. Soojung menarik Jiyeon keluar secepat mungkin agar mereka bisa mendapat tempat mereka yang biasanya. Di dekat jendela.

 

Sesampainya di kantin, Jiyeon sedikit diam. Masalahnya sekarang gadis itu –Suzy tengah duduk manis di samping Myungsoo, dan satu lagi Kim Jong In teman Soojug juga ada di meja itu. Sejak kapan mereka bersekolah di sini? Dalam hati Jiyeon bertanya-tanya.

 

“Kau tidak duduk, Jiyeon-ah?”

 

Suara Myungsoo membuyarkan semua lamunan panjang Jiyeon. Gadis itu tersenyum canggung sembari mengusap belakang lehernya. Dia akhirnya memposisikan dirinya di samping Soojung, dan sekali lagi berhadapan dengan Myungsoo. Sementara Soojung berdekatan dengan Minho dan di hadapannya sudah ada pria berkulit coklat itu –Kim Jong In.

 

“Mereka masuk ke kelas kami pagi tadi,” ucap Minho santai. Dia sedikit memandangi Jong In dengan pandangan tidak suka. Dan, kemudian mengalihkan pandangannya pada Soojung, “Berbicara soal mereka, aku pikir kau tidak pernah mengatakan punya teman pria bernama Kim Jong In, ‘kan Soojung?”

 

Soojung membalas pandangan Minho. Apa sekarang dia terjebak di antara dua kaki? Gadis itu melirik Jong In dengan ekor matanya. Dia memutar otak secepatnya mencari jawaban dari pertanyaan Minho. “Aku pikir itu tidak begitu penting untukmu, Oppa.”

 

“Sejak kapan hal tentangmu tidak penting untukku?”

 

“Wah, Soojung, Minho cemburu.” Myungsoo melerai dengan menggoda kedua dari mereka. Pria itu terkikik geli. Tanpa dirinya sadari Jong In sudah melempar tatapan menantang pada Minho. Mungkin kalau seandainya ini film animasi, sekarang pasti sudah ada gambar petir-petir di antara mereka.

 

“Ah, Jiyeon-ssi, semalam kita belum berkenalan. Aku Bae Suzy, teman lama Myungsoo, atau mungkin bisa aku katakan mantan kekasihnya.”

 

Jiyeon mendongak kaget. Pantas saja, pikirnya. Mereka pernah lebih dari sekedar teman jadi itu hal wajar. Dia memaksa menarik otot wajahnya untuk tersenyum, tetapi semuanya terlihat begitu jelas. “Ya, Aku Park Jiyeon.”

 

“Sekarang sebaiknya kita makan, atau waktu istirahat kalian akan terbuang percuma.” Jong In memutuskan mengakhiri pembicaraan kecil dengan suasana tegang di antara mereka semua.

 

Myungsoo memperhatikan Jiyeon sesekali yang nampak memisah-misahkan sayuran dari makanannya. Pria itu tersenyum jahil. Diambilnya sayur miliknya dengan banyak dan ia letakkan di nampan milik gadis itu. “Kau harus makan banyak supaya tubuhmu bisa tumbuh, Jiyeon-ah.” Myungsoo mengelus puncak kepala Jiyeon sembari tertawa kecil.

 

Hal yang dilakukan Myungsoo tentu berefek. Entah itu pada Jiyeon, Suzy, atau dirinya sendiri. Jiyeon nyaris tersedak kalau saja Soojung tidak segera memberikan air mineral padanya. Dia mendesis pada Myungsoo mengeluarkan kejengkelannya. “Kau!”

 

“Makan pelan-pelan, Jiyeon­-ah.” Myungsoo mengerling nakal pada Jiyeon, dan sebagai balasannya dia mendapat pekulan kecil pada tangannya. “Kau marah lagi, Nona.” Dia menanggapi perlakuan Jiyeon dengan singkat, seolah pukulan kecil itu hanya sapuan kecil untuknya.

 

“Myungsoo-ya, aku pikir aku butuh bicara padamu.”

 

Jiyeon dan Soojung sama-sama menoleh, bertanya-tanya atas alasan apa Suzy mengatakan hal seperti itu pada Myungsoo. Apa hal yang ingin dibicarakan Suzy sebegitu pentingnya sampai hanya ingin mereka berdua yang mengetahuinya.

 

“Tentu saja.”

 

Selepas itu, mereka melanjutkan makan mereka, masih tidak tenang. Terkadang ada hal-hal yang salah satu dari mereka katakan membuat tawa hambar tercipta, dan kadang kala pula ada sepatah kata yang tak disengaja membuat dua orang saling menatap menantang, seperti itu lah jalannya istirahat mereka.

 

*

 

Myungsoo dan Suzy berdiri berhadapan di belakang Sekolah. Tangan Myungsoo dimasukkan ke dalam saku celananya, dan punggungnya bersandar pada dinding. Dia menunggu, menanti apa yang akan dikatakan Suzy padanya.

 

“Kau sudah melupakanku, ya?”

 

Myungsoo menautkan alisnya, “Maksudmu? Aku tidak mengerti, Suzy-ah.”

 

“Jiyeon, kau menyukainya, ‘kan?” Nada suara Suzy tentu saja sarkastik. Dia tidak suka, tentu saja. Dia masih menyimpan Myungsoo dalam hatinya, dan kalau memang Myungsoo sudah tidak menyimpan dirinya dalam hati pria itu, maka dia akan sangat menyesal telah kembali ke tanah kelahirannya.

 

“Tentu saja, dia temanku.”

 

“Kau tahu maksudku, Myung. Bukan sebagai teman, sebagai seorang wanita.”

 

“Apa yang ingin kau dengar?” Myungsoo sudah tidak selembut sebelumnya. Ada kilatan di kedua matanya. Pria itu melakukan pergerakan, dicengkramnya bahu rapuh milik Suzy. “Aku masih mencintaimu, puas! Jiyeon, dia hanya temanku tidak akan lebih, dia hanya seseorang yang membuatku penasaran!”

 

Ini yang ingin Suzy dengarkan semenjak kemarin, dan akhirnya pria itu mengatakannya. Dia tersenyum lembut, tangannya memegang tangan Myungsoo yang masih mencengkram bahunya. “Aku harap kau mau mendengar alasanku pergi waktu itu. Tapi, itu kalau aku sudah siap.”

 

“Aku akan menunggu. Sementara ini, aku ingin kita tetap seperti ini, sebagai teman sama seperti mereka yang lainnya.”

 

“Tentu saja.”

 

Gadis itu menitikkan air matanya. Pria itu hanya penasaran padanya, lalu apa maksud dari perkataan pria itu kalau dirinya berarti? Ini terasa sama seperti dulu waktu Ayahnya menemukan kembali cinta pertamanya, dan akhirnya meninggalkan dia dan Ibunya sendiri. Perasaan luka yang digoreskan Ayahnya kembali terasa menusuk dadanya. Dia akan bernasib sama seperti Ibunya. Myungsoo akan meninggalkannya setelah rasa penasarannya musnah. Dan setelah itu dia akan sendiri. Seperti sebelumnya. Dia terduduk, mengeluarkan butiran bening dari kelopak matanya. Kali ini, dia sangat butuh untuk menangis.

 

TBC

Saya kembali dengan lanjutan HSL.

Semoga tidak mengecewakan.

Dan terima kasih sudah menyempatkan diri menengok ff saya dan sudah memberikan apresiasi terhadap karya saya🙂

 

53 responses to “[Chapter – 5] HIGH SCHOOL LOVERS : Another

  1. Myungsoo cuma nganggap jiyeon temen?
    Ckckck myungsoo tega, klo dy ninggalin jiyeon, dy sama aja kyk appa jiyeon
    Hiksss mulai mellow nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s