[CHAPTER 4] School Rush!! Season 2

school-rush-season-2

 

fanfiction intro-_-

A/N : MIANHAE~~~ (udah terlalu banyak minta maaf) udah 2 bulan gak publish2 nih FF. JUjur, bellalang lagi sibuk pake banget. Bahkan tiap sabtu sama Minggu aja gak ada waktu buat ngetik T.T buat tidur aja tipis.. sibuk latian drama, bikin mading, dan latian buat lomba lagi, belum PR dan tugas yang numpuknya mpe lupa ada apa aja.. -_- Peringatan juga, mungkin chapter selanjutnya juga bakalan lama…

“Kim Xiumin imnida! Mulai hari ini aku adalah ketua OSIS kalian menggantikan adikku Myungsoo yang akan menjadi wakilku”

“Apa kau tidak akan menyesal, hyung?”Aku tertegun mendegar pertanyaannya kali ini. Apakah aku akan menyesal? Aku tidak tahu. Yang kutahu adalah aku akan menyesal jika terus berbohong pada mereka. Hanya itu.

“Apa kau pernah melihatku menyesal akan keputusanku sendiri?” Aku hanya menjawabnya dengan jawabannya yang bahkan akupun ragu ketika mengatakannya.

“Keundae, hyung…”Myungsoo akan terus bertanya jika aku tidak membuatnya puas dengan jawabanku.

“Aku tidak ingin terus hidup dalam kebohonganku sendiri. Semua yang kulakukan saat ini dimulai dengan kebohongan, tapi aku tidak ingin mengakhirinya juga dengan kebohongan”Aku mengatakkannya. Jawaban yang sesungguhnya dari apa yang akan kulakukan besok. Muncul dihadapan G class dengan sosokku yang lain, menambah daftar kebohonganku pada mereka. Aku bahkan tidak mampu memaafkan diriku sendiri. Tapi ini adalah kebohonganku yang terakhir, ini adalah rencana yang kubuat untuk mereka. Karena aku ingin mereka baik-baik saja tanpa aku. Hal terakhir yang bisa kulakukan sebagai ketua kelas dan sebagai seorang sahabat

“Myungsoo, bukankah aku sendiri yang berjanji padamu bahwa aku akan pulang setelah Sport & Art festival selesai? Tapi, jika aku terus bersama dengan mereka, semakin banyak juga kenangan indah yang kubuat dengan mereka dan akan semakin sulit untukku meninggalkan mereka. Bagiku, makan malam kemarin adalah hal terindah terakhir yang pantas untuk kurasakan. Ini saatnya untukku pergi dan membantu mereka dari tempatku yang sekarang akan jauh lebih mudah. Aku tahu mereka memiliki banyak sekali masalah, aku ingin mencari tahu dan membantu mereka menyelesaikannya. Karena aku adalah ketua kelas mereka” Dapat kudengar Myungsoo menarik napas dalam dan menghembuskannya keras.

“Jika menurut hyung ini adalah cara terbaik untuk menyelesaikan semuanya, maka aku tidak memiliki hak untuk menghalangimu, hyung”

~o~

Tepukan tangan meriah memenuhi seluruh tempat ini. Sedangkan aku berusaha untuk berakting sebaik mungkin saat ini agar tidak terlihat gugup. Aku gugup bukan karena berdiri di atas podium ini ataupun karena posisiku yang baru sekarang, aku gugup karena G class mulai memperhatikan apa yang akan kusampaikan.

“Sebagai ketua OSIS yang baru, aku akan menambahkan beberapa peraturan baru. Peraturan pertama, tidak boleh ada sistem kasta di sekolah ini. Kedua, tidak ada pembullyan. Ketiga, TIDAK BOLEH ADA YANG MELANGGAR KEDUA PERATURAN YANG BARU SAJA KUSEBUTKAN!” untuk kalimat terakhir aku memakai gaya bicara seorang jendral. Tidak ada yang bicara ataupun mengobrol dengan teman disampingnya sesaat setelah aku selesai berteriak.

“Tiga peraturan ini akan selalu ada selama aku menjabat sebagai ketua OSIS. Jika ada yang tidak terima dengan peraturan baru ini, silakan datang padaku dan tunjukkan bahwa kalian jauh lebih pantas menjadi ketua OSIS daripada aku. Akan kuberitahukan juga, peraturan yang kubuat adalah mutlak. Perkataan yang kuucapkan juga adalah mutlak. Jika kalian melanggar atau membantah perkataanku, itu artinya kalian membuat perang denganku. Untuk saat ini hanya tiga peraturan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Penjelasan untuk Art Festival akan disampaikan oleh Chanyeol” Kulihat beberapa murid menghembuskan napas pelan. Seakan-akan baru saja selamat dari sebuah bencana. Kembali kulirik daerah belakang aula ini, G class masih memperhatikan gerak-gerikku. Rasanya ini akan lebih sulit dari perkiraanku.

Jiyeon POV

Kim Xiumin, namja yang waktu itu membantuku dan Suzy secara tidak sengaja rupanya adalah saudara dari si sombong Kim Myungsoo. Entah kenapa aku merasa namja bernama Kim Xiumin ini tidak seburuk adiknya. Setidaknya dia membuat peraturan yang menguntungkan bagi orang-orang terbully seperti kami. Dan rasanya, aku tidak merasa asing dengan kemunculannya, rasanya aku sudah menganalnya sejak lama. Wajahnya memang menjadi salah satu faktor kenapa dia menjadi tidak asing. Tapi, selain faktor wajah sebuah faktor lain yang aku tidak tahu apa itu, membuatku merasa dia adalah Kim Minseok. Mungkin hanya prasangkaku sendiri saja. Karena tidak mungkin bukan Minseok membohongi sahabatnya sendiri selama ini?

Suzy POV

Sudah dua kali aku melihat wajah yang serupa dengan Minseok itu, Kim Xiumin. Tapi entah mengapa dalam benakku aku masih menganggapnya sebagai Kim Minseok untuk beberapa saat sebelum dia memperkenalkan diri di depan semuanya. Sesuatu tentang namja ini, (selain wajah dan bentuk tubuhnya yang memang sangat menyerupai Minseok) membuatku selalu berpikir bahwa dia adalah Minseok. Tidak, tidak mungkin! Seorang Kim Minseok tidak mungkin menipu sahabatnya sendiri!

Sohee POV

Apa-apaan wajah itu? Kim Xiumin? Kenapa wajahnya bisa mirip sekali dengan si Pabbo Baozi? Dan rasanya walaupun aura mereka berbeda, tapi aku merasa tidak asing dengan kehadiran Kim Xiumin. Apakah dunia sesempit ini? Pertama L yang benar-benar serupa dengan Kim Myungsoo, sekarang Kim Xiumin yang benar-benar serupa dengan Kim Minseok. Terlebih keduanya memiliki hubungan saudara. Dan aku merasa wajahku menjadi agak familiar di Korea, karena jujur kukatakan wajahku ini adalah wajah Kim Minseok versi yeoja, dan itu berarti wajahku ini dimiliki oleh 3 orang di Korea? Dunia benar-benar sempit.

Jinri POV

Apakah yang dikatakan oleh orang-orang tentang dua wajah yang serupa di dunia ini adalah benar? Sudah dua kasus yang kulihat langsung. Tapi, namja bernama Kim Xiumin itu rasanya hanya terlalu serupa dengan Minseok. Wajahnya, bentuk tubuhnya dan sesuatu yang sangat sulit diungkapkan tentang Minseok pun aku rasa ada pada diri Kim Xiumin. Aku merasa sangat familiar dengan segala hal tentangnya.

~o~

S classroom

Minseok POV

Kuhempaskan tubuhku ke sofa yang berada ditengah ruangan. Pandanganku tidak dapat kulepaskan dari jendela yang menghadap ke arah lapangan berumput sekolah ini. Disana, setiap peserta festival sedang diberikan pengarahan oleh Chanyeol. Ya, aku menyuruh Chanyeol untuk memberikan penjelasan di lapangan untuk memisahkan peserta dengan penonton, menurutku itu lebih efisien. Seluruh sandiwara kebohonganku ini membuatku lelah, karena aku bukanlah Luhan yang tanpa usahapun dapat membohongi semua orang dengan aktingnya. Dapat kulihat dari tempatku sekarang, ekspresi datar Jiyeon yang tidak ingin menatap kedepan, kearah Chanyeol.

“Jiyeon-a, masalah apa yang sedang kau alami?” gumamku pelan. Ekspresi wajah Jiyeon berbanding terbalik dengan ekspresi wajah Suzy. Yeoja itu tersenyum gembira saat menatap Chanyeol. Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan melihat ekspresi wajah Suzy.

“Apa yang akan kau lakukan jika tahu bahwa Jiyeon adalah adik dari idolamu itu?” Sedangkan Jinri dan Sohee, mulut keduanya bergerak, itu berarti mereka sedang membicarakan sesuatu, entah apa itu. Beberapa menit kemudian, ekspresi kelimanya menjadi sama. Ekspresi itu, ekspresi kekecewaan dan terpukul yang pertama kali kulihat dari mereka. Chanyeol pasti sudah mengatakannya. Syarat keikutsertaan Art Festival yang kutambahkan sendiri.

“’Setiap kelas wajib mengirimkan 5 perwakilan, jika tidak maka kelas tersebut tidak dapat mengikuti semua pertandingan’. Mianhae, karena ini adalah keegoisanku sendiri. Sangat melelahkan bagiku untuk terus berakting dingin pada kalian, sementara aku sangat ingin mengikuti festival ini bersama kalian. Tanpaku, kalian tidak boleh mengikuti festival ini” Dari lapisan kaca jendela yang tipis dapat kulihat pantulan wajahku sendiri. Wajah yang dipenuhi dengan rasa bersalah. Sebuah tangan merangkul punggungku dari belakang. Bahkan tanpa membalikkan tubuhkupun aku tahu tangan siapa yang merangkulku. Aroma tubuhnya yang membuatku tenang dan pelukkan hangatnya yang membuatku tidak bisa membohonginya.

“Jieun-a, aku sangat menyayangi mereka”

“Hm, ara”

“Jieun-a, aku merindukan mereka”

“Hm, ara”

“Jieun-a, tolong jangan sakiti mereka lagi”

“Hm, ara”

“Jieun-a, apa ini yang terbaik?” Jieun melepaskan pelukkannya. Aku membalikkan tubuhku untuk dapat melihatnya.

“Jika menurutmu ini adalah yang terbaik, maka itulah yang terbaik. Tapi, jika menurutmu ini bukanlah yang terbaik, maka ini bukanlah yang terbaik. Kau adalah Kim Minseok, namja yang tahu dengan pasti apa yang harus dilakukannya dan tidak pernah mendegarkan pendapat orang lain” Aku tersenyum mendegar jawaban Jieun. Terkadang dia bisa menjadi sangat egois dan kekanakan, tapi terkadang dia bisa menjadi seseorang yang dewasa.

“Ne, aku adalah namja yang seperti itu. Tapi, untuk kali ini, batinku mengatakan bahwa ini bukanlah yang terbaik, berbalik dengan akalku yang mengatakan bahwa ini adalah yang terbaik” ujarku pelan.

“Kalau begitu, kali ini kau harus memilih. Mana yang akan kau pilih antara batinmu atau akalmu? Ucapkan pilihanmu dalam hatimu, berulangkali, sehingga tidak ada lagi keraguan dalam pilihanmu itu” Mendengar apa yang dikatakannya, dapat kurasakan mataku mulai panas. Sekarang aku benar-benar menunjukkan sisi lemahku pada Jieun. Airmata mulai mengalir turun dari mataku. Tangan mungil Jieun mengusap airmata itu berulangkali.

“Ini- ini adalah yang terbaik” ujarku terisak. Senyuman Jieun kembali terlihat, senyuman yang menenangkan

“Kalau begitu, maka inilah yang terbaik”

~o~

Jiyeon POV

“Hmmp! Peraturan apa itu?? Cihh! Menyebalkan! Arghhh!!!” Setelah selesai si tuan muda Park itu selesai mengucapkan peraturan yang membuatku marah aku segara melangkahkan kakiku menjauhi lapangan. Saat ini aku sedang berada di lapangan rumput sisi barat yang berjarak cukup jauh dari lapangan rumput utama yang tadi digunakan untuk penjelasan peserta. Tidak lupa kubawa juga ‘obat’ penghilang amarahku, sebuah kamera coklat bermodel retro. Aku mulai menekan tombol shutter berulang kali, mengambil foto dari semua objek yang dapat kulihat dengan mataku. Langit, tanah, rumput, ataupun burung yang mendarat tidak jauh dari tempatku berdiri. Dan secara ajaib, amarahku yang barusan sudah tidak dapat kurasakan lagi. Rasanya seperti kamera ini mengambil amarahku lalu menggantikannya dengan sesuatu yang mampu membuatku tersenyum.

Ckrek!

Aku membalikkan tubuhku ketika kudengar suara shutter kamera dibelakangku. Kim Myungsoo. Namja sombong itu!

“Apa yang kaulakukan?” ujarku dingin. Namja di hadapanku ini adalah namja kedua yang paling kubenci setelah Park Chanyeol. Wajahnya yang menyebalkan menjadi lebih menyebalkan lagi sejak ia merubah warna rambutnya menjadi pirang.

“Apa? Aku hanya menekan tombol shutter kameraku. Mengambil foto memalukan dari wajah sepertimu” ucapnya dengan wajah tidak bersalah. Aku ingin membalas perkataannya, tapi setelah kupikir lagi, membalasnya hanya akan menghabiskan tenagaku. Jadi kuputuskan untuk tidak memperdulikan kehadirannya disini.

“Sayang sekali aku tidak bisa mengalahkanmu di festival tadi. Dan juga tidak bisa mendapatkan foto dengan wajah merahmu dengan kameraku, jadi kuambil saja wajah dengan seyuman menjijikan ini. Setidaknya, ini bisa kujadikan target di papan dartku” Mendengar ucapannya itu, rasanya aku tidak ingin menghemat tenaga untuk membalasnya.

Ckrek!
“Ini bisa kujadikan perangkap tikus dirumahku!” Dia membelalakan matanya mengetahui apa yang kulalukan.

“He, tentu saja kau bisa. Bahkan tikus pun mengetahui ketampananku” Aku menggit bibirku kesal.

“Kenapa orang setampan kau bisa menghampiriku dan dengan tiba-tiba mengajakku untuk bertengkar. Aku bahkan ragu kau tahu namaku! Jadi, tolong jangan ganggu aku, tuan Kim Myungsoo” ujarku kesal.

“Aku memang tidak tahu namamu. Aku hanya ingin mengganggumu sehingga kau segera pergi dari tempat ini” Aku tersentak mendengar perkataannya. Namja ini benar-benar tidak punya sopan santun! Dengan langkah kesal dan rasa marah yang kembali padaku, aku pergi dari lapangan itu dan mencoba untuk kembali tenang dengan mencari tempat yang baru.

~o~

Luhan POV

“Luhan-ah, bagaimana kalau sekarang kita pergi ke mall? Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu. Aku yakin kau akan menyukai yang satu ini” seorang yeoja yang aku lupa siapa namanya yang adalah yeojachinguku ini sedari tadi terus berbicara. Membuatku ingin menyumpal mulutnya dengan segumpalan kertas. Yeoja ini berwajah manis, bertubuh mungil dan ramping. Mungkin namja-namja lainnya tidak akan pernah menolak perkataan dari yeoja yang menyerupai boneka disampingku ini. Tapi tidak denganku, yeojachinguku yang ke10 bahkan jauh lebih manis dari dia.

“Bisakah kau tutup mulutmu itu, huh? Aku sedang berbaring dan aku tidak suka diganggu ketika aku sedang berbaring seperti ini” Dia menggembungkan pipinya, mencoba untuk terlihat menggemaskan.

“Lulu!” Aku tersentak mendengar yeoja itu menyebutku Lulu. Segera aku berdiri dari posisi terbaringku dan bergerak mendekatinya dengan tatapan tajam.

Plakk!

Dengan ringannya tanganku menampar pipi kanannya yang tirus itu dan menatapnya dingin.

“Bukankah sudah kukatakan padamu sejak awal aku menerima pernyataan cintamu yang menjijikan itu? Aku benci dipanggil dengan nama itu. Keluar!” Mendengar perintahku yeoja itu segera berlari keluar dari apartemenku.

“Aku benci nama itu”

“Luhan-ssi?” Seketika tubuhku seperti membatu mendengar suara itu. Ahn Sohee. Aku membalikkan tubuhku dan melihatnya berdiri di depan pintu apartemenku yang terbuka. Rupanya yeoja tadi lupa menutup pintu itu kembali.

“Ahh, kau sudah datang rupanya. Masuklah, kebetulan sekali aku sedang merasa lapar” Sohee melepaskan sepatu sportnya dengan kebiasaannya yang dulu. Melepasnya dengan cara menekan ujung belakang sepatunya ketanah sehingga sepatu itu akan terlepas.

“He, kebiasaanmu itu masih belum hilang rupanya” Sohee menatapku kaget. Aku hanya membalasnya dengan senyumanku seperti biasa.

“Apa yang ingin kau makan, Luhan-ssi?” Dia berjalan kearah pantry yang berada tidak jauh dari jendela yang menghadap kearah luar. Ahh, apakah dia lupa lantai berapa ini? Langkahnya terhenti ketika dia baru menyadari jendela besar transparan yang menampilkan pemandangan kota Seoul dari titik tertinggi. Gedung apartemen ini adalah gedung apartemen tertinggi di Korea. Dan aku menempati kamar paling atas, yang artinya adalah kamar dengan pemandangan paling tinggi di kota Seoul. Dan, Sohee memiliki phobia tinggi. Bahkan pohonpun tidak berani dipanjatnya.

“Lu-Lu” Aku dapat mendengar gumamannya. Tubuhnya bergetar ketakutan, dan ketika dia ketakutan seperti ini, namakulah yang selalu keluar dari mulutnya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya, kutarik tangannya semakin dekat dengan jendela.

“Bukalah matamu, jendela ini tidak akan pecah. Jadi kau tidak akan jatuh dari sini” Tangannya masih dalam genggamanku, gemetarnya masih belum berhenti. Aku tersentak karena tindakkanku sendiri, kembali kulihat tanganku yang masih menggenggam tangannya. Dengan agak kasar kulepaskan tanganku.

“Cepatlah buatkan aku makanan” Aku melangkah menjauhinya dan masuk ke kamarku. Kulepas baju yang kukenakan dan masuk ke kamar mandi. Setidaknya, aku ingin menyiram kepalaku agar aku sadar bahwa Sohee bukan siapa-siapa untukku.

“She’s nothing to you, Xi Luhan. She’s nothing”

 

Sohee POV

Dapat kudengar suara air dari arah sebuah kamar yang kuduga adalah kamar Luhan. Kenapa dengan bodohnya aku tidak sadar bahwa ini adalah lantai paling tinggi di apartemen ini? Dan dengan bodohnya juga aku memanggilnya Lulu? Ahh!! Jijja!! Sohee pabbo!! Dengan perlahan dan dengan tubuh yang masih gemetar aku melangkah mundur menuju pantry. Dengan susah payah aku berusaha untuk melupakan kenyataan bahwa aku berada di tempat yang sangat tinggi. Lulu, tempat kau tinggal sekarang memang sangat tinggi. Seperti sebuah bintang, dari atas sini kau dapat melihat seluruh kota Seoul dibawah kakimu. Seperti saat ini, aku takut berada ditempat yang sangat tinggi, maka dari itu untuk selamanya aku tidak akan pernah bisa berada disini, bersamamu.

Kubuka kulkas Luhan dan dapat kutemukan banyak sekali bahan makanan instan disana.

“Aisshh, kenapa dia belum berubah sama sekali? Bagaimana bisa dia memakan semua makanan instan ini?” Tidak puas aku membuka kulkasnya, kubuka juga semua kabinet di pantrynya. Dan apa yang kutemukan membuatku semakin marah. Namja bodoh itu menyimpan banyak sekali vodka dan gin, belum lagi beberapa bungkus rokok dan makanan ringan yang bertumpuk. Kubereskan semua yang kulihat itu. Aku melangkah ke arah kamar Luhan dan mengetuk pintunya keras.

“Lu-” Pada ketukkan yang ketiga, pintu kamarnya terbuka. Oh God! Saat ini ingin rasanya aku menceburkan diriku sendiri ke sungai Han. Luhan berdiri dihadapanku, ralat, tepat hanya beberapa centi berada di hadapanku. Tubuh bagian atasnya tidak ditutupi oleh pakaian kecuali handuk yang masih bertengger di bahu kirinya. Aroma tubuhnya yang menjadi sangat maskulin itu memasuki indra penciumanku. Rambutnya yang basah masih meneteskan air yang jatuh dihidungku, menandakan seberapa dekatnya jarak antara aku dan Luhan saat ini. Jujur, aku sama sekali tidak dapat menggerakkan tubuhku saat ini.

“Ada apa?” Entah mengapa suaranya yang masuk ke indra pendengaranku dapat membuat pipiku menjadi sangat merah.

Luhan POV

Dari posisiku saat ini, dapat kulihat wajahnya yang berubah menjadi sangat merah. Ini bukan hal yang baru pertama kali terjadi. Sudah ratusan kali aku melihat wajah seorang yeoja memerah, entah itu di dalam film atau drama, ataupun di kehidupan nyata. Seorang yeoja membatu ketika aku berada pada jarak yang sangat dekat. Bagiku, itu hal yang sudah sangat biasa dan tidak berefek apapun padaku. Ahn Sohee, kenapa lagi-lagi kau membuatku merasa seperti namja bodoh? Jarak sedekat ini denganmu kenapa membuatku tidak dapat memikirkan hal lain?

“Kau tidak memiliki bahan makanan, aku ingin membeli beberapa di supermaket” Setelah keheningan yang cukup lama, akhirnya Sohee membuka mulutnya. Dan dengan ucapannya itu, aku kembali tersadar bahwa saat ini topengku mulai lepas dihadapannya. Aku memejamkan mataku sejanak untuk kembali memasang topengku. Kulingkarkan tangan kiriku di pinggangnya, membuat jarak antara kami menjadi hilang. Kedua tangannya berada diatas tubuh polosku.

“Apa yang akan kau masak untukku, chagi?” Kuucapkan kalimat itu didekat daun telinganya, seperti yang selama ini kulakukan pada yeoja lain. Dapat kurasakan tangannya bergetar. Dan seperti yang sudah kuduga, dia mendorong tubuhnya menjauh dariku.

“Mianhae, Luhan-ssi. Sepertinya, aku merasa kurang sehat. Permisi” Sohee melangkah kembali ke pantry untuk mengambil tasnya dan segera berjalan cepat keluar dari apartemenku.

“Pasti kau akan menangis lagi” Aku berjalan kearah pantry dan menemukan beberapa stikcy notes berwarna kuning di pintu kulkasku.

  • Kau ingin mati, hah? Ganti semua makanan ini dengan sayur dan buah, Rusa Gemuk!!
  • Jika aku datang lagi, akan kubuang semua gin dan vodkamu itu! Dan akan kubawakan kau susu dan yoghurt
  • Riwayat rokokmu itu sudah tamat, Xi Luhan! Aku sudah membuangnya! :p

Membaca semua sticky note yang dibuatnya, membuat topengku hampir kembali lepas. Jika saja yeojachinguku yang ke12 tidak datang, mungkin topengku akan benar-benar lepas.

“Chagiya, kanapa kau tidak mengenakan pakaian? Apa kau ingin menggodaku?” yeojachinguku ini memelukku mesra dari belakang. Aku mengambil napas panjang lalu menghembuskannya dan memejamkan mataku. Sambil mengulang kembali mantraku ‘Ahn Sohee is nothing to you, Xi Luhan”

“She’s nothing” Aku merasakannya, rasa nyeri yang sekilas menyerang jantungku ketika aku mengucapkan mantra ini di mulutku.

“Hmm? Siapa yang kau maksud?” Aku melepaskan pelukkan yeoja ini dan membalikkan tubuhku.

“Let’s have a party in Hoya’s club, babe”

Sohee POV

Kusandarkan punggungku di pintu depan apartemen Luhan. Aku tidak sanggup melangkahkan kakiku, rasanya kaki lemas dan bahkan tidak mampu menopang tubuhku sendiri. Kenapa selalu seperti ini? Bahkan aku tidak mampu membuatmu lemah dan menangis ataupun memikirkanku, tapi kau selalu membuatku lemah dan menangis. Tidak pernah sekalipun aku tidak memikirkanmu, Luhan.

Get out of my way, beggar. You blocking way to my boyfriend apartement” Seorang yeoja mendorongku menjauhi pintu apartemen Luhan. Luhan’s another girlfriend. Ahh, tentu saja tidak akan ada tempat untukku di otak Luhan. Aku Ahn Sohee hanya yeoja biasa dengan wajah yang menurut Luhan bahkan tidak masuk dalam kategori yang pantas dilihat. Aku tersenyum pahit pada diriku sendiri. Berhenti bermimpi, Ahn Sohee. Luhan yang kau kenal dulu hanyalah salah satu tokoh protagonis yang diciptakan seorang genius akting Xi Luhan.

“Ahhhh~ Lapar~ Aku harus segera kembali ke cafe” Aku mencoba untuk melupakan segala hal yang terjadi tadi. Hanya itu yang bisa kulakukan.

~o~

Incheon Airport

Seorang namja berwajah bulat menggembungkan pipinya dengan raut kesal. Wajahnya yang bulat menjadi semakin bulat. Dia menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya. Tampak sekali bahwa ia sedang menunggu seseorang dan mungkin sudah sedari tadi dia melakukan aktivitas menunggunya itu. Berulangkali dia melihat jam berwarna hitam ditangannya dan juga menghentak-hentakkan kakinya pelan.

“MINSEOK-AH!!!” Namja itu mendongakkan kepalanya ketika ia mendengar namanya diteriakkan oleh seorang yeoja. Yeoja itu berambut panjang dan berponi samping, setiap namja yang lewat disekitarnya tidak pernah lupa untuk memalingkan wajah mereka walau hanya untuk melihat punggung yeoja ini. Yeoja itu mendekati si namja bernama Minseok dan memeluknya erat seperti seorang kakak.

“Minseok-ah, long time no see, huh

Don’t you remember that i hate to wait for someone, Park Chorong? You made me wait for fiveteen minutes” Namja itu menghembuskan napasnya kesal.

“Ya! I’m older than you! Don’t shout at me!” Sekarang giliran yeoja bernama Park Chorong itu yang menghembuskan napasnya kesal. Minseok membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan menjauh dari Chorong. Chorong yang sepertinya sudah mengerti kearah mana Minseok pergi mengikutinya dari belakang.

“Minseok-ah, bukankah ini arah menuju basement untuk parkir mobil?” Namja itu tidak menjawab dan terus berjalan menuju basement yang dimaksud oleh Chorong. Dia area basement itu, hanya ada 1-5 mobil. Dan semuanya adalah mobil dengan harga yang tidak murah. Minseok mendekati sebuah mobil berwarna hitam metalik yang berada di sudut basement dan membuka pintu kemudinya. Tetapi sebelum Minseok masuk kedalam mobil tersebut, Chorong menahannya.

“Apakah kau sudah kembali menjadi Minseok yang dulu?” Minseok membatu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Chorong. Dia menyingkirkan tangan Chorong perlahan dari pintu mobilnya.

“Aku akan jelaskan nanti, Park Chorong. Masuklah” Dengan ragu Chorong melangkah kesisi lain dari mobil tersebut dan duduk di bangku sebelah pengemudi.

Selama perjalanan, tidak ada satupun dari kami yang bersuara. Chorong hanya memandang keluar jendela dengan dahi yang berkerut. Dia menunggu jawaban dari pertanyaannya pada Minseok tadi. Minseok menghela napas panjang.

“Semuanya akan menjadi jelas seiring berjalannya waktu. Jawaban untuk pertanyaanmu tadi, adalah belum sepenuhnya. Belum sepenuhnya aku menjadi Minseok yang dulu” Pandangan Minseok tetap terpaku pada jalan raya Seoul, tapi pikirannya dipenuhi dengan segala kemungkinan respon dari Chorong.

“Hentikan mobilmu!” Minseok menepikan mobilnya di sisi kiri jalan. Sesaat setelah mobilnya menepi, Chorong membuka pintu mobil lalu turun dari mobil hitam itu. Terlihat dari wajahnya bahwa ia sedang memiliki mood yang kurang baik. Yeoja bermarga Park itu melangkahkan kakinya dengan kesal menjauhi mobil Minseok. Sedangkan Minseok sedang berusaha untuk tetap berakting tidak peduli dan segera melajukan mobilnya kembali, melewati Chorong yang berjalan di atas pedestarian way.

“Sebenarnya apa yang ada di dalam otak geniusmu itu, Kim Minseok? Apa yang membuatmu memutuskan untuk kembali ke dirimu yang dulu?”

FLASHBACK

“APA? Kau ingin pergi dari rumah? Wae?” Aku berteriak pada Minseok yang menjelaskan itu semua dengan nada santai. Namja pipi tembam ini masih berusia 8 tahun dan sudah terpikir olehnya untuk pergi dari rumah? Aku benar-benar tidak percaya akan hal ini.

“Lalu kau akan tinggal dimana? Bersama siapa? Bagaimana kau akan menghidupi dirimu sendiri?”

“Aku akan tinggal bersama dengan Song haraboeji, pengurus kebunku yang baru saja pensiun. Sampai usiaku 15 tahun aku akan bekerja sendiri dan mengganti uangnya” Terkadang aku meragukan usia Minseok. Dia terlalu pintar untuk anak seusianya. Begitupun dengan adiknya Myungsoo. Dan terkadang pula aku iri pada Minseok, karena dia memiliki adik yang sangat manis. Sedangkan aku adalah anak tunggal yang kedua orangtuanya sudah berecerai. Aku ingin tinggal bersama appa, akan tetapi dengan sangat terpaksa tinggal bersama eomma.

“Apa alasanmu pergi dari rumah? Kau sudah memiliki segalanya Kim Minseok” ujarku. Aku tidak bisa mengerti namja bernama Kim Minseok ini.

“Eumm, semakin lama aku semakin membenci cara hidupku yang seperti ini. Semuanya sangat teratur dan terjamin, masa depanku sudah kuketahui sejak lama. Aku ingin menjalani hidup yang dapat kutentukan sendiri dengan keputusanku dan menanggung resiko dari keputusan itu” Aku tertegun mendengar jawaban Minseok. Perkataannya bukan seperti anak seusia kami. Jujur aku sedikit tidak mengerti apa yang dikatakannya.

“Kau yakin ingin pergi dari rumahmu itu?” Minseok menganggukan kepalanya tanpa keraguan sedikitpun.

“Aku tidak akan melakukan sesuatu dengan ragu-ragu”

“Minseok-a, yeoja yang bersamamu barusan, apa kau mengenalnya?”

“Eum, maksudmu Jiyeon? Park Jiyeon? Tentu saja aku mengenalnya, dia teman baruku di G class. Jika aku tidak mengenalnya, itu hal yang mustahil. Hanya ada 3 orang murid di G class, aku, Jiyeon dan Sohee” Dia tidak mengalihkan pandangannya dari barista yang sedang membuat kopi di dalam sebuah cafe. Tidak lama ini Minseok sangat tertarik pada kopi. Bahkan dia berkata padaku bahwa suatu hari nanti dia akan menjadi seorang barista. Cita-cita yang menurutku terdengar sedikit lucu jika Minseok yang mengatakannya, mengingat fakta bahwa ia adalah salah satu ahli waris dari grup perusahaan terbesar di Korea.

“Ya, Park Jiyeon. Dia adalah adik tiriku yang sering kubicarakan denganmu. Bukankah dia sangat manis? Ahh, Jiyeon-a bogoshipda”

“Eohh? Jinjja?” Minseok membulatkan matanya, membuat kedua matanya yang sudah bulat menjadi semakin bulat.

“Hemm! Awas kau jika kau berani membuatnya menangis! Kau akan berurusan denganku!”

“Aishh, bahkan mungkin dialah yang akan membuatku menangis” Aku hanya membalas candaannya dengan tawa ringan.

FLASHBACK end

Aku terus melanjutkan perjalananku walaupun kaki-kakiku mulai terasa sakit. Mataku berbinar saat aku melihat papan nama cafe tujuanku, ‘BWCW Cafe’. Dengan langkah riang aku berjalan semakin mendekat dengan cafe tersebut. Sampai suatu hal membuat langkah kedua kakiku terhenti. Di balik kaca jendela cafe yang berukuran besar, dengan sangat jelas terlihat seorang yeoja sedang merangkul pundak seorang namja. Dan ingin rasanya aku menenggelamkan yeoja itu sampai ke dasar sungai Han!

TBC

 

 

 

 

 

40 responses to “[CHAPTER 4] School Rush!! Season 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s