[CHAPTER – PART 5] 15:40:45 – Again

myung-ji-154045-1

15:40:45

Again

written by Quinniechip

T-ara’s Jiyeon – Infinite’s L – EXO’s Sehun – SHINee’s Minho || and other minor cast || Romance Friendship School Life || Chapter

Poster here | Previous here

-oOo-

Jiyeon masih terisak bahkan saat Minho terus berusaha menenangkanya. Ini bukanlah hari tersedih dalam belasan tahun kehidupan Jiyeon, tapi saat ini juga bukan hari paling bahagia baginya. Hari ini hanyalah hari yang tak pernah ingin ia jalani.

Jiyeon sudah menyangka sebelumnya bahwa semua akan menjadi seperti ini, rasa kehilangan itu pasti ada, tapi ia sama sekali tak pernah membayangkan sebelumnya bahwa menjalaninya tak akan semudah apa yang dibayangkan.

“Baiklah, aku tak akan mengatakan bahwa kau jelek saat menangis..”

Minho tampak menyerah menatap datar pada gadis di depannya, “Menangislah jika itu benar-benar membuatmu lega. Aku tak akan melarangnya.”

Jiyeon menangis semakin keras setelah mendengar apa yang Minho ucapkan. Ia berusaha mengeluarkan seluruh perasaan yang dirasakannya, berusaha membuat dirinya sendiri lega, berharap setidaknya hatinya tak akan seberat ini lagi nantinya.

“Aku sudah mendengarnya dari Sehun, tentang bagaimana hubungan kalian selama ini dan.. ah bagaimana aku mengatakannya..”

Minho menggaruk kepalanya tak gatal, “Dan jika aku kira, sepertinya kau yang menginginkan hal ini terjadi.”

Tangis Jiyeon mulai mereda, dan ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda jawaban atas ucapan yang baru saja Minho lontarkan. Jiyeon mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya.

“Memang benar.” Sekali lagi Jiyeon mengangguk mengiyakan, “Aku yang menginginkannya.”

“Ada apa denganmu sebenarnya? Bukankah seharusnya kau merasa lega atau apalah itu, perasaan yang seharusnya kau terima disaat keinginanmu menjadi kenyataan.”

Jiyeon hanya terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ia pun bingung dengan dirinya sendiri. Sebaris kata yang ingin ia ungkapkan selama ini terucap sudah, dan apa yang terjadi tak seperti apa yang ia harapkan.

Ia lega, tetapi masih ada perasaan aneh yang baru ia rasakan setelah ia melepasnya, setelah Sehun benar-benar pergi karena ulahnya sendiri, ia yang menginginkan lelaki itu menjauh tanpa terikat apapun lagi dengannya. Benar-benar terpisah tanpa ada benang setipis apapun yang mengikat satu sama lain.

“Kau menyesal?”

Pertanyaan sarkastik Minho hanya ia jawab dengan pandangan kaget tak sengaja, “A.. apa?”

“Hal semacam ini selalu terjadi pada sebagian besar orang, atau bahkan semuanya?” Ucap Minho sambil tersenyum kecil, “Menyesal hanya terjadi di akhir, seperti gula yang kau makan, bukankah manisnya hanya terasa setelah butirannya terakhirnya berhasil meleleh dan masuk ke dalam tenggorokanmu..”

“Seperti itulah rasa sesal.”

“Aku tidak menyesal.” Sanggah Jiyeon cepat, “Atas dasar apa kau menyimpulkannya seperti itu.”

Minho hanya mengendikkan bahunya, “Entahlah, mungkin aku yang salah. Lagipula aku hanya mengatakannya tanpa ada maksud apapun yang berlebihan, kau saja yang terlalu serius menanggapi.”

“Oh..” Sahut Jiyeon pendek.

Ia kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Apa yang dikatakan Minho memang tak salah, hanya saja ia tak tahu apakah ini pantas disebut sebagai penyesalan.

Ia tak ingin kembali, ia tak ingin mengikat Sehun lagi disaat dirinya sendiri ingin lepas, hanya saja ia merasa sendiri.

Mungkin ia hanya belum terbiasa. Ya pasti karena itu..

“Seperti yang kau tahu, jika kau berani mengambil keputusan, kau juga harus menerima apapun konsekuensinya, baik atau buruknya.”

Minho mendekatkan kepalanya pada Jiyeon, “Dan kau harus mencari solusinya, seperti mencari sesuatu yang baru, mungkin..”

-O-

Memang sudah biasa jika bel sudah berbunyi dan pelajaran seharusnya sudah dimulai, tetapi si pengajar belum datang juga dengan alasan masih banyak urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.

Tak ada yang bisa dilakukan para murid yang masih terbebas tanpa pengawasan, atau bisa dikatakan mereka akan lebih bahagia jika si pengajar semakin terlambat masuk, karena itu sama artinya dengan semakin panjangnya waktu mereka untuk bermain.

Minah hanya bisa terdiam disaat Myungsoo terus menggoda dirinya tentang statusnya yang telah berubah sejak dua hari yang lalu, dan Bomi yang berada disebelahnya hanya bisa ikut tertawa puas bersama yang lainnya disaat Myungsoo terus melancarkan aksinya.

“Sekarang terbukti bahwa selama ini perhatianku padamu tak pernah dihiraukan. Tak ada gunanya sama sekali.”

“Bukan seperti itu..”

Sebenarnya bukan salah siapa-siapa jika cepat atau lambat Minah akan ada yang memiliki, dan yang pasti bukan Myungsoo orangnya. Sejak awal tahun ajaran, tanda suka dari Kyungsoo memang sudah ditunjukkan pada Minah, begitu juga sebaliknya.

Siapa yang tidak menyukai lelaki tampan yang memiliki kelebihan bermain piano yang membuatnya tampak sebagai lelaki yang memiliki tingkat keromantisan tinggi. Benar-benar lelaki idaman wanita.

Juga tak salah jika Kyungsoo menyukai Minah, gadis cantik yang memiliki bakat menari luar biasa, walau terkadang apa yang ia katakan sedikit menyakitkan hati.

“Ah pasti karena mobil mewah milik Kyungsoo sunbae.” Ucap Myungsoo, “Aku tahu motor milikku memang tak sebanding dengan mobil mewah yang dibawa olehnya.”

Minah terus menggeleng menyanggah, “Aniya..”

“Aku baru sadar ternyata apa yang terlihat juga sanat penting, karena itu akan menjadi kesan pertama bagi kita.” Jimin ikut menimpali.

“Tidak, bukan karena-”

Myungsoo mengangguk cepat, “Sudah tak perlu menyangkal. Kau jahat. Jika tahu akan seperti ini, lebih baik aku bersama Bomi saja.”

“Hei..” Tawa Bomi seketika berhenti, “Aku tidak mau denganmu.”

“Sudah ceroboh, pemaksa pula. Apa kau tidak malu?”

Myungsoo hanya membalas dengan dengusan kecil, “Tidak usah diungkit lagi. Huh, lagipula salah siapa yang tidak mau kumintai bantuan. Pergi dengan alasan-”

“Asal kau tahu saja, ini sudah menjadi kebiasaan pada pukul sembilan, sudah waktunya untuk..”

Myungsoo melirik singkat pada Jimin, “Alasan yang tidak masuk akal.”

“Lalu salah siapa jika saat itu aku marah padamu. Seenaknya mengambil barang orang lain dan mengakuinya.” Balas Bomi melawan, “Tidak membantu sama sekali, bahkan minta maaf saja tidak. Memang tukang paksa tak tahu diri!”

Myungsoo hanya tertawa lebar tanpa rasa bersalah, “Maafkan aku. Tak akan kuulangi lagi. Janji.”

Acungan dua jari Myungsoo hanya dibalas dengan tatapan singkat dari Bomi, “Lihatlah wajahnya saat marah. Itulah yang membuatku ingin terus menggodanya.”

“Jangan mencoba menyentuh rambutku. Bisa rusak nanti.” Ucap Bomi menghentikan tangan Myungsoo yang akan mengacak rambutnya.

“Baiklah Yoon Bomi..”

Myungsoo menarik tangannya kembali, “Memang apa yang dikatakan Jiyeon pada kalian?” Myungsoo menatap Jimin dan Bomi secara bergantian.

“Dia kesal setengah mati padamu.”

“Dia marah, bodoh..”

Myungsoo sudah menduga bahwa apa yang dikatakan Jiyeon pasti tidak jauh dari apa yang ia pikirkan selama ini. Myungsoo sadar bahwa apa yang ia lakukan adalah salah, tapi ini bukanlah murni kesalahannya, tidak hanya dari Bomi dan Jimin yang tak membantunya sama sekali waktu itu, tapi Jiyeon juga tak mengaku jika Park Jiyeon yang dicari adalah dirinya.

“Ah biarlah. Ini bukan sepenuhnya salahku.”

Myungsoo melangkah pergi dan meninggalkan teman lainnya yang masih terdiam tak percaya, “Lihatlah, dasar manusia tanpa rasa bersalah!”

-O-

“Akui saja jika kau masih menyukainya.”

“Tidak.”

Sehun sudah terlihat jengah dengan sederet pertanyaan yang Jeongmin lontarkan sejak tadi. Terus menerus Jeongmin menanyakan satu pertanyaan yang sama dan sebenarnya telah dijawab oleh Sehun dengan jawaban yang pasti pula.

“Jangan bohong.” Tunjuk Jeongmin dengan jari telunjuknya.

Sehun menatap Jeongmin malas, “Jika aku masih menyukainya untuk apa aku berpisah dengannya?”

“Entahlah.” Jeongmin mengendikkan bahunya, “Mungkin karena pertengkaran satu pihak kalian atau ada alasan lain yang tidak kuketahui.”

“Sudah tak usah menggangguku lagi dengan pertanyaan bodoh itu.”

Sehun beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Jeongmin yang masih belum puas dengan jawabannya.

“Ya! Kau tak akan bisa membohongiku, semua sudah terbaca dari raut wajahmu!”

Sehun terus melangkah pergi meninggalkan Jeongmin yang terus berteriak kencang bahkan masih terdengar olehnya walaupun sudah berjalan cukup jauh.

“Dasar memalukan! Lelaki macam apa yang bisa teriak sekencang itu..” Ucap Sehun sambil melihat ke belakang menatap segaris tubuh Jeongmin yang terlihat masih berdiri di depan pintu.

“Mungkin mu-”

Buukkk..!!

“Aaawww..!!” Ringis Sehun pelan saat tubuhnya jatuh menyentuh tanah. Tangannya masih sibuk mengusap bokong yang lebih dulu mencium lantai saat ia sadar bahwa ia terjatuh karena seseorang.

“Aduh..”

Sehun menatap seseorang yang juga jatuh terduduk di depannya, “Choi Jinri!”

“Ah ternyata kau Oh Sehun..” Balas Jinri tersenyum saat ia tahu siapa orang yang menabraknya.

Jinri menatap setumpuk buku yang ia bawa tadi dan dengan cepat membereskannya lagi, “Maaf, aku tak melihatmu berjalan di depanku tadi.”

“Dengan buku sebanyak itu yang bahkan tertumpuk lebih tinggi darimu, pantas saja jika kau tak dapat melihat apa yang ada di depanmu.” Sehun menggelengkan kepalanya heran.

“Tapi salahku juga yang berjalan tak melihat ke depan.”

“Tidak-”

Ucapan Jinri seketika saja terputus saat Sehun tiba-tiba mengambil setumpuk buku yang ia bawa dengan susah payah.

“Harus aku bawa kemana buku-buku ini?” Tanya Sehun, “Ya Tuhan, siapa yang tega menyuruh seorang gadis membawa buku sebanyak dan seberat ini.”

Jinri hanya menggaruk kepalanya, “Tidak sebenarnya ini hanya inisiatifku saja, lagipula tidak ada yang mau kumintai tolong, semuanya sibuk dengan urusannya masing-masing.”

“Inisiatif macam apa yang pada akhirnya akan menyusahkan diri sendiri.” Ucap Sehun heran, “Cepat katakan harus kubawa kemana buku ini, oh sudah hampir copt rasanya tanganku ini.”

“Ah kita harus mengembalikannya ke perpustakaan.”

Dengan cepat Sehun langsung melangkahkan kakinya menuju perpustakaan dan segera mengembalikan beban yang ia bawa saat ini ke tempat asalnya. Jinri terus mengikuti di belakangnya, berusaha menyamakan langkahnya dengan Sehun.

“Apa perlu aku bawa separuhnya?”

Pertanyaan Jinri hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Sehun. Walaupun sebenarnya ini benar-benar berat, tapi mana mungkin ia mengembalikannya pada Jinri. Ia tahu Jinri sudah cukup lelah membawanya, bisa ia lihat dari lengannya yang terus ia gerakkan sejak tadi.

Sebenarnya Jinri bisa meninggalkan Sehun untuk mengembalikan buku itu sendiri, toh perpustakaan juga tak jauh lagi. Tapi Jiri masih tahu sopan santun dan ia terus mengikti Sehun walau tak membantu apapun.

Sama seperti yang dilakukan Jinri sebelumnya, setelah Sehun berhasil membawa setumpuk buku itu ke tempatnya, Sehun terus menggerakkan lengannya setidaknya agar pegalnya hilang walau hanya sedikit.

Kruuyuukk…

Sehun menatap Jinri seketika dengan pipinya yang lama kelamaan semakin memerah menahan malu. Matanya membesar dengan ekspresi yang entah harus disebut apa. Dalam hati ia mengutuh perut sialnya yang meraung minta diisi disaat yang tidak tepat.

“Baiklah.” Jinri berusaha menahan tawanya, “Bagaimana jika aku mentraktirmu makan di kantin, ya sebagai balasan kau telah membantuku.”

“Tidak, tak-”

“Sudah, aku tahu kau lapar.” Ucap Jinri sambil menarik tangan Sehun.

Sehun hanya bisa mengikuti kemana Jinri membawanya, karena tangannya yang tertarik olehnya. Tak sengaja Sehun menatap kearah tangannya dan Jinri yang saling menempel sekarang, rasanya tak asing, hanya saja ia sudah lama tidak merasakan hal ini lagi.

Jinri dan Sehun saling terdiam satu sama lain sesaat setelah mereka memesan makanan. Sehun berusaha menyibukkan diri dengan ponselnya, setidaknya agar ia memiliki alasan untuk diam saat ini, tetapi ia baru ingat jika ponselnya mati karena Jeongmin terus memakainya sepanjang hari ini.

“Aku-”

“Aku-”

“Kau-”

“Kau-”

Lagi-lagi keduanya terdiam sambil bertatapan bingung. Seketika saja Jinri tersenyum, “Terimakasih.”

“Terimakasih?” Sehun menatap Jinri bingung, “Untuk?”

“Kau telah membantuku membawa buku itu. Aku belum sempat mengucapkan terimakasih, bukan..”

“Ah..” Sehunhanya menganggukkan kepalanya, “Tak masalah.”

“Dan hei ternyata kau masih sama seperti dulu, di waktu senggang seperti ini pasti kau memesan delimanjoo.”

Jinri tertawa kecil, “Ya, kau tahu ini memang favoritku. Tapi masih tidak ada yang bisa menandingi delimanjoo milik Han ajusshi, hah aku jadi menginginkannya sekarang.”

“Apalagi jika kau yang traktir.”

“Selalu seperti itu.” Sehun mencibir, “Kau selalu menyukai segala hal yang gratis.”

“Memang beruntung kau pernah memiliki pacar yang sebaik dan setampan ak-”

Seketika Sehun menghentikan ucapannya. Ia menutup mulut dan mengutuknya dalam hati.

“Ah, lupakan saja..”

Sekarang keduanya benar-benar terdiam. Jinri berusaha menyibukkan diri dengan ponselnya dan Sehun lebih memilih membersihkan meja dengan tisu, mengingat bahwa ponselnya benar-benar kehabisan energi.

Sehun sendiri tak mengira bahwa mulutnya akan mengeluarkan kata-kata itu. Kalimat yang entah bagaimana bisa muncul begitu saja di dalam pikirannya. Mungkin karena ia baru saja kembali dekat dengan Jinri setelah sekian lama atau hanya ucapan tak penting yang tak sengaja ia katakan.

“Jinri-ya!”

Panggilan dari arah yang cukup jauh terdengar memanggil Jinri.

“Jinri-ya, Miss Hong mencarimu.”

Sekertika Jinri berdiri, “Ah Miss Hong mencariku, ambil saja delimanjoo milikku, aku yang bayar. Bye!”

Dengan cepat Jinri berlari kearah seseorang yang memanggilnya. Lelaki manis yang tak terlalu tinggi, siapa lagi jika bukan Lee Taemin, lelaki yang kemarin mengambil foto bersama Jinri dengan pose lucu dan berhasil menuai banyak pujian dari teman yang lain, benar-benar pasangan yang manis.

Saat Jinri menghampirinya, Taemin langsung meraih tangan Jinri dan menggenggamnya erat, berjalan berdampingan meninggalkan Sehun yang tak melepas pandangannya dari punggung mereka, bahkan mengedipkan matanya sedetikpun.

-O-

Ruang studio musik benar-benar terasa penuh karena seluruh anggota yang biasa latihan secara terpisah kini bergabung menjadi satu, selain karena latihan pada hari sebelumnya ditiadakan, hari ini juga akan diumumkan pada grup apa mereka berada.

“Benar kau telah berpisah dengannya?”

“Ne..”

Hyeri terlihat takjub tak percaya dengan apa yang baru saja Jiyeon ceritakan padanya. Mendengar kabarnya langsung saja baru ia ketahui tiga hari yang lalu, dan sekarang Jiyeon mengatakan bahwa ia sudah tidak berhubungan lagi dengan Sehun.

“Lalu?”

“Lalu apa?” Jiyeon tampak tak mengerti dengan pertanyaan Hyeri.

“Kau sudah punya penggantinya?”

Wajah Jiyeon berubah, “Bahkan aku belum melupakannya sama sekali.”

Hyeri hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya.Walaupun ang terjadi sekarang adalah seperti itu, tapi Hyeri masih belum bisa menerimanya begitu saja.

Menurutnya Sehun adalah lelaki yang baik, walaupun usianya lebih muda daripada Jiyeon, tapi ia bisa melihat bahwa sifat Sehun jauh lebih dewasa dibandingkan Jiyeon, dan menurutnya hal itulah yang dibutuhkan dalam suatu hubungan. Tak salah jika Hyeri bertanya apa alasan utama yang menyebabkan mereka berpisah.

Jika bergantung pada alasan yang Jiyeon katakan sebelumnya, sepertinya hal itu kurang masuk akal. Jiyeon memanglah seseorang yang teledor, tapi ia bukanlah sosok yang menggebu dalam masalah ambil keputusan. Pati ia akan memikirkannya matang-matang sebelum berani melangkah mengambil keputusan.

“Apa alasan-”

“Selamat sore anak-anak!”

Ucapan Hyeri terpotong saat Miss Noh memasuki ruang studi musik. Semuanya mendadak diam, memperhatikan gerak Miss Noh dan kertas yang ia bawa.

“Seperti yang kalian tahu, hari ini aku akan membagi kalian kedalam sebuah grup yang sesuai dengan aliran kalian masing-masing.” Jelas Miss Noh.

Miss Noh mengambil nafas sebelum melanjutkan ucapannya, “Minggu lalu kalian sudah tampil secara individu dan aku sudah menilai juga menentukan grup kalian.”

“Lee Hyeri, Do Kyungsoo, Kevin Woo, Park Jiyeon, Byun Baekhyun, dan Kim Myungsoo.”

Miss Noh menatap kearah siswa yang baru saja ia sebutkan namanya, “Kalian akan berapa dalam satu grup dengan aliran musik jazz.”

Hyeri sudah menatap Jiyeon senang sejak nama mereka diumumkan berada dalam satu grup, “Sudah aku duga bahwa kita akan ditempatkan dalam satu grup yang sama, dan wah kita sangat beruntung karena berada di grup yang sama dengan Kyungsoo sunbae.”

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya setuju, tapi ia terdiam setelah menyadari sesuatu, “Tunggu, tadi apa yang Miss Noh katakan, Kim.. Myungsoo?”

Hyeri mengerutkan dahinya heran dan menganggukkan kepalanya pelan,”Kita ini grup band dan Myungsoo bertugas memainkan drum.”

“Ya!”

Teriakkan Jiyeon membuat ucapan Miss Noh yang sedang membacakan pembagian grup lainnya terhenti.

“Ah maaf..” Jiyeon hanya tersenyum malu.

Setelah ia rasa tak ada tatapan mata lagi yang tertuju padanya, ia kembali menoleh ke arah Hyeri, “Ya! Bagaimana bisa ia berada satu grup dengan kita?”

“Bukankah itu bagus.” Jawab Hyeri masih bingung dengan sikap Jiyeon, “Myungsoo merupakan drummer terbaik yang ada, dan seharusnya kita bersyukur karena itu.”

Jiyeon hanya mendecih tak setuju, “Ia hanya lelaki menyebalkan tanpa sopan santun yang diberi kelebihan bermain drum, huh bahkan aku lebih memilih mendapat drummer yang biasa saja tapi setidaknya ia masih memiliki sopan santun.”

“Kau memiliki masalah dengannya?” Tanya Hyeri.

“Ini bukan masalah lagi.” Jawab Jiyeon menggebu, “Kekesalanku sudah sampai ke ubun-ubun.”

“Memangnya ada-”

“Aku dan dia tidak saling mengenal, tapi bagaimana bisa ia bersikap tak sopan dihadapanku. Membentakku bahkan saat aku bicara baik-baik dengannya. Mungkin hal semcam itu akan dimaklumi jika saja aku dan dia saling kenal, tapi apa dengannya, melihatnya saja rasanya tak pernah, tapi dengan mudahnya ia bersikap seperti itu. Kesan pertama yang sangat buruk!”

Hyeri hanya membalasnya dengan tawa dan Jiyeon hanya mendengus melihatnya.

“Jangan terlalu seperti itu, apalagi sampai membencinya, nati kau bisa jatuh cinta padanya.”

Jiyeon hanya bisa mengeluarkan ekspresi jijik tak percaya, “Jangan harap aku mau.”

“Jika seperti itu, nikmatilah waktu kita menjadi satu grup selama satu tahun kedepan ini..” Hyeri menepuk pundak Jiyeon pelan.

“Jadi lagu apa yang akan kita bawakan nanti?”

Tanya seseorang tiba-tiba. Jiyeon melihat sekitarnya dan beberapa orang yang disebutkan tadi sudah berkumpul, entah sejak kapan.

Seketika Jiyeon menangkap siluet seseorang yang baru saja ia bicarakan dengan Hyeri. Perawakannya masih sama dengan kejadian saat itu, tak berbeda dengan wajahnya, masih angkuh dan berani.

Dalam hati Jiyeon berjanji tak akan bermasalah lagi dengan Kim Myungsoo. Menghindari segala kontak yang mungkin akan banyak terjadi saat mereka berada dalam satu grup. Bahkan tak akan bicara dengan Myungsoo jika bukan dalam keadaan yang mendesak.

-To be Continued-

Note :

Haaaiiiii!!!! Akhirnya setelah sekian lama, aku kembali dengan membawa 15:40:45 nya

Janjinya kemaren mau ngepost dalam minggu yang sama ya,tapi nggakpapa sih ya ngaret sehari kok, soalnya kemaren akunya sedang tidak berada ditempat, aku sedang dalam situasi yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal semacam ini ._.

Comment please, yes! Sarannya juga boleh kok~

73 responses to “[CHAPTER – PART 5] 15:40:45 – Again

  1. Si minho kode-kodean mulu. Tembak aja kali, cowo bukan sih xD

    Oiya, jiyeon-sehun, ini yg diputusin siapa, yg sedih siapa coba . . kalo hyeri bilang sih jiyeon ga bakal ngambil keputusan sembrono, so, alesannya apa nih, mutusin sehun yg baiknya kebangetan , trus abis mutusin malah jiyeonnya *rada* nyesel trus nangis?

  2. Seru nih kayanya.. woahh awalnya lucu buat MyungYeon.
    Benci memang akan menjadi cinta hahha dan aku harap begitu juga dengan Myungyeon.
    Tapiiii………. agak rela Sehun semudah itu move on. hehhe tapi yasudahlah.. MyungYeon yg terpenting^^

  3. ohh jd sehun am jinri mantan toh ,ehm bisa nieh balikan lagy , hihihihi
    ampun myung dasar gg ada kerjaan godain cewek mulu , hahha
    nah nah nah jiyi sekelompok am myung , ekwkwkwwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s