3 Hours

3hours

3 Hours
by Shaza (@shazapark) | Myungsoo & Jiyeon| 1000+ words of romance and fluff |


Berulang kali Myungsoo menjelaskan, berulang kali pula Jiyeon tidak paham.


.

.

Keduanya tengah terduduk di atas karpet bulu yang digelar di atas ubin kamar. Tertimpa meja pendek tempat di mana buku dan alat tulis Jiyeon teracak. Sosok di sebelahnya, pria bersurai arang dengan rahang tegas itu tengah menekuri kamus bahasa Belanda yang sejak sebulan lalu tengah ia rangkum di otak.

Jiyeon yang sejak tiga jam lalu telah mendapat soal latihan dari pria itu hanya dapat mengetuk jemarinya di atas meja, menanti kekasihnya menyudahi kegiatan membaca, lantas memberikan atensi sepenuhnya pada dirinya. Sejak awal, Jiyeon telah diberi penerangan yang sangat detil dan jelas oleh Myungsoo—kekasihnya yang kini tengah membaca kamus di sebelahnya—namun, ia tak kunjung menangkap materi yang telah berulang-ulang dijelaskan oleh pria itu.

Desing pendingin ruangan memenuhi pendengaran Jiyeon sejak tiga jam yang lalu, ia berulang kali menggerakkan tubuhnya, menghapus bosan di tengah rumitnya sekumpul angka yang telah tergambar di kertas pada tangannya. Ia merenggangkan tulang di jemarinya, kemudian melirik Myungsoo lagi, mulai bosan.

“Myungie.” Panggil Jiyeon, akhirnya. Dibalas gumaman oleh kekasihnya. Gadis itu menggaruk dagunya, tak merasa gatal—namun ia gugup.

“A-aku masih belum paham dengan—” gadis itu tak jadi melanjutkan kalimatnya ketika melihat Myungsoo mengempaskan kamus tebalnya di atas karpet tebal yang saat ini menahan singgungan langsung kaki mereka dengan lantai. Wajah Myungsoo tampak jengkel, terlebih ketika ia membuang napas terang-terangan di depan mata Jiyeon yang dipenuhi gugup.

“Apa lagi yang belum kau pahami? Apa penjelasanku kurang jelas?” Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon dengan kelopak mata yang turun seperti kelelahan. Melihat itu, Jiyeon segera mengibas kedua tangannya di depan dada.

“Tidak ada! Tidak ada! Aku paham semua, kok. Sungguh, aku akan mengerjakannya.” Jiyeon berdalih, terburu-buru meraih pensil yang ia letakkan di samping siku, kemudian berpura-pura menyibukkan diri dengan kertas-kertas soal di depannya. Myungsoo memejamkan matanya, kemudian meluruskan kaki.

Ini telah menjadi keseharian Myungsoo untuk membimbing masa belajar Jiyeon yang mulai padat. Jiyeon kini telah berada di angkatan teratas, bukan lagi seorang junior yang akan dengan mudah ditindas, tetapi ia harus maju melewati ujian akhir dalam masa sekolahnya.

Dalam satu bulan ini, Myungsoo yang memiliki jadwal kuliah yang sedikit renggang, akan menemani Jiyeon untuk belajar. Menambal kekurangan Jiyeon dalam belajar, lantas membuat gadis itu menjadi seratus persen memahami soal yang akan muncul di ujian akhir masa sekolahnya.

Berulang kali Myungsoo menjelaskan, berulang kali pula Jiyeon tidak paham. Ia merasa tak enak hati setiap kali harus memanggil pria itu dengan cicitan—meminta bantuan untuk menyelesaikan satu soal Matematika—lantas mendapati wajah mengerikan Myungsoo yang dihias gurat lelah berkata, “Kenapa kau belum mengerti? Aku sudah menjelaskannya berulang kali.”

Jiyeon tidak ingin menyalahkan cara Myungsoo dalam menjelaskan materi yang juga telah berulang-ulang ia temui di sekolah, namun ia menyalahkan otaknya yang mudah lupa dan sulit menangkap. Jiyeon bukan gadis bodoh, tetapi ia memiliki konsep lain dalam belajar, dan tak ada seorang pun yang sampai saat ini bisa mengajarnya dengan konsep itu, bahkan Myungsoo-pun tidak bisa.

“Sudah tiga jam, Sayang.” Myungsoo berujar dengan mata yang mengarah pada jam dinding di kamar Jiyeon, kemudian ia menoleh ke arah punggung kecil gadisnya yang tengah menekuni soal latihan. Diam-diam, Myungsoo merasa terlalu mengekang gadis itu dalam belajar.

Merasa ujarannya tak disahuti, Myungsoo memutuskan untuk beringsut mendekati Jiyeon, kemudian ia menyadari bahwa punggung gadis itu rupanya merunduk. Di sanalah matanya menangkap bahwa kepala kekasihnya telah terkulai di atas meja lesehan tempat mereka belajar, dengan kertas soal sebagai bantalan pipinya.

Myungsoo tersenyum geli sekaligus merasa iba. Ia melirik kertas soal yang dikerjakan oleh Jiyeon, kemudian menyadari bahwa kekasihnya hanya mengerjakan sebagian dan itupun salah semua, tidak ada yang benar. Myungsoo menggeleng kecil, kemudian berdecak gemas dengan kekasihnya yang tak kunjung memahami materi.

Ia meletakkan kepalanya di atas meja, ke arah kanan—berhadapan dengan wajah Jiyeon yang terlelap. Dengkuran halus gadis itu terdengar bagaikan melodi pengantar tidur untuk Myungsoo, pria itu terpaksa merangkul bahu gadisnya untuk mendekat, kemudian mengecup pipinya sekilas.

“Maafkan aku.” Ia mengusap keringat yang menyapu pelipis Jiyeon, kemudian memutuskan untuk mengawasi tidur gadis itu.

.

.

Jiyeon terbangun dari tidur panjangnya ketika merasakan hawa dingin yang menyelinap masuk melalui selimut tebalnya. Ia mengernyit ketika menyadari bahwa kini ia sudah berada di atas ranjang, ia mengerjap. Sekelebat momen di mana Myungsoo yang menerangkan materi padanya itu melintas, ia kemudian menyentakkan kepalanya ke arah pusat ruang di kamarnya.

Meja pendek itu masih dipenuhi oleh buku, kertas, dan alat tulisnya. Ia melirik sedikit ke samping, segera matanya disuguhi oleh punggung tegap seorang pria yang sedang menekuri kertas dengan segenggam pena di tangannya. Ia terduduk dari posisi baringannya, kemudian mengerling lagi ke arah jendela yang telah dipenuhi pemandangan langit yang gelap.

Hari sudah malam.

“Myungsoo?” ia memanggil nama itu dengan suara serak. Perlahan, ia menjatuhkan sepasang kakinya dari atas ranjang, kemudian memaksa tungkai itu untuk tergerak ke arah pria di sana. Ia dapat melihat bahwa kekasihnya itu sedang menulis rumus dan beberapa catatan di ujung kertasnya.

“Apa yang kau lakukan, Myung?” Jiyeon terduduk di sebelah pria itu. Rambutnya yang mulai memanjang hingga sebahu itu tampak berantakan, namun ia tak peduli. Myungsoo sudah terlalu sering melihat keburukannya, jadi ia tak merasa sungkan lagi.

Myungsoo menggumam sebelum menoleh. “Sudah bangun?” ia melirik sekilas, kemudian kembali terfokus pada kegiatannya menulis di selembar kertas putih. Jiyeon mengangguk, “Um!” kemudian kepalanya tersandar di bahu Myungsoo selagi pria itu menulis.

Ia menguap lebar, membuat matanya berair karena mengantuk. Myungsoo terkikik, kemudian cepat-cepat menyelesaikan kegiatan menulisnya. “Jiyi, aku membuat rangkuman untukmu.” Myungsoo kemudian membebaskan pena dari genggamannya ketika menyelesaikan tulisannya.

Jiyeon mengangkat kepalanya yang bersandar di bahu Myungsoo, kemudian melirik ke arah kertas yang dijulurkan oleh kekasihnya. Ia seketika tersenyum ketika melihat bahwa kertas itu juga dibubuhkan gambar animasi lucu yang membuatnya mudah mengingat setiap detil tulisan unik di dalam sana.

Whatever the score you got, you will always be the best, okay?” Myungsoo mengangkat wajah Jiyeon yang sejak tadi menunduk memandang kertas, memerangkap pipinya ke dalam telapak tangannya. “Jangan pedulikan seberapa besar nilaimu, mengerti? Yang terpenting adalah, kau jujur.” Myungsoo memberikan usapan singkat di ubun-ubun Jiyeon sebelum akahirnya tersenyum lebar.

“Nah, sekarang—yang perlu kau lakukan hanya belajar dengan giat. Kau bisa menekuninya lebih jauh, percayalah.” Mata Myungsoo mengirim ribuan cahaya penyemangat untuknya, dan itu kembali menggugah asa Jiyeon untuk segera meloloskan diri di antara ujian akhir masa sekolahnya.

Myungsoo berdiri dari posisi terduduknya di ubin yang dilapisi karpet, kemudian merenggangkan tulangnya. “Sudah malam, aku harus segera pulang.” Kemudian pria itu membenahi kamus dan meja belajar Jiyeon yang berantakan. Sementara itu, Jiyeon memandang kekasihnya, masih terhenyak dengan seluruh penuturan yang ia berikan barusan.

Mengenai nilai yang sesungguhnya tidaklah penting, serta pria itu yang masih ingin mengajarnya meski telah berulang kali pula dirinya menambah kantung di bawah mata pria itu.

Ketika Myungsoo akan mengancing tas ranselnya, Jiyeon menarik pergelangan Myungsoo, membuat pria itu menoleh. “Ada apa?” kemudian gadis itu melirik kertas di genggamannya takut-takut.

“Itu… hm, kau tahu—aku tidak sejenius kau. Aku tidak serajin kau. Aku… bukan gadis yang bisa dengan mudah memasuki SNU, dan aku—” Myungsoo terburu-buru menjatuhkan tubuhnya di atas ubin ketika mendapati wajah pesimis Jiyeon. Jiyeon kontan menghentikan ucapannya, dahinya masih dilekuki oleh garis kerutan yang menggambarkan seluruh kecemasannya.

Myungsoo mengangkat telapak tangan kanan Jiyeon ke atas, lantas menyatukannya di depan dada gadis itu sendiri. “Kau merasakan jantungmu masih berdetak? Maka selama itu pula, kau bisa mendapatkannya, Sayang. Percayalah, kumohon.” Jiyeon memandang Myungsoo lurus.

Mengaitkan hubungan antara detak jantung dengan bisa mendapatkannya. Myungsoo adalah sosok yang pengertian, namun ia menyampaikannya melalui isyarat lain. Dan, Jiyeon cukup sering menerka bentuk perhatian Myungsoo melalui kepalanya.

Selagi jantungmu masih berdetak, maka kau bisa mendapatkannya. Serupa artinya dengan—kau akan selalu sukses. Selalu. Selama jantungmu masih berdetak.

Menyadari akan hal itu, membuat Jiyeon tanpa sadar merasa sesak. Matanya seperti terdesak oleh cairan, dan ia tahu sebentar lagi ia akan menangis. “Hei, hei! Tidak ada tangisan lagi, oke? Kau lupa janjimu? Ayolah.” Myungsoo tak kuasa untuk menahan tangannya lagi, ia menarik tubuh Jiyeon ke dalam dekapannya. Enggan melihat tetes air yang menganak sungai di pipi kekasihnya, maka ia menyembunyikan wajah itu dalam pelukannya.

It’s okay. Never mind, honey. Jika kita tidak berada di universitas yang sama, lalu kenapa? Apakah hal itu akan mengganggu hubungan kita? Apakah kita akan segera menemui ajal?” ketika Myungsoo mengakatan ‘ajal’ di ujarannya, Jiyeon mengeratkan dekapannya. Myungsoo tersenyum paham, menyibak rambut sebahu Jiyeon.

“Kita akan belajar lagi besok, mengerti? Mulai sekarang, jika kau masih kesulitan dalam memahami materi, aku bebaskan kau untuk bertanya padaku, apapun itu.” Myungsoo merasakan Jiyeon mengangguk.

“Sungguh, maafkan aku, Myungsoo~” Jiyeon merengek. Sikap balitanya kambuh, pikir Myungsoo. Pria itu gemas menjepit pipi kekasihnya dengan jari. “Iya, kenapa kau senang sekali meminta maaf?” Jiyeon kembali merengek, ia jatuh lagi ke dalam pelukan Myungsoo.

“Jangan lepaskan, aku ingin tidur seperti ini saja.” Gumam Jiyeon ketika dirinya telah merasa nyaman di dalam dekapan Myungsoo. Pria itu menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Jiyeon, kemudian membiarkan Jiyeon sepenuhnya bersandar pada tubuhnya.

Jiyeon menyembunyikan wajahnya di bahu Myungsoo. “Aku selalu menginginkan kesuksesanmu, oke?” dan Jiyeon mengangguk setelah mendengar pertanyaan Myungsoo barusan.

Ia akan memasuki universitas yang sama dengan Myungsoo, itu mimpi Jiyeon saat ini. Dan, Myungsoo selalu ada untuk mendorongnya menuju kesuksesan. Beruntungnya dirimu, Park Jiyeon.

.

.

// finite. //

.

.

Lama tidak berjumpa semua. Selamat Hari Raya Idul Adha yo!
Oh iya, kakak-kakakku semua.. aku mau mengabarkan nih kalau aku—as soon, alias akan—membuat fanfiksi chaptered di sini. Duh, meski ragu-ragu, tapi aku pengen banget FF-ku dipajang di side bar sebagai FF recommended.

Yah, doakan aja aku bakal posting secepatnya. Abis kadang mood suka naik-turun. Dan, buat cast FF chaptered itu—muehehehehe, udah bisa ditebaklah yaaa! Oke, kutunggu pendapat kalian.

54 responses to “3 Hours

  1. Pingback: Tension [1]: Future | High School Fanfiction·

  2. Pingback: Tension [2]: Future | High School Fanfiction·

  3. Pingback: Tension [3]: Unmarried Feeling | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s