[ONESHOT – Sequel ‘Happy Birthday’] OUR DESTINY

OUR DESTINY MY

Happy Birthday

Park Jiyeon-Kim Myungsoo

Kai-Jiyeon ver <

amaliachimo

Romance

PG-15

Happy reading..

Sequel ->> Happy Birthday

Sesaat Myungsoo diam mempersiapkan diri. Setelah dirasanya cukup, Myungsoo pun berbalik. Dapat dilihatnya dengan jelas gadis itu kini, mata bulat yang membesar dan mulut yang membentuk huruf ‘O’. Ya, Jiyeon sukses terkejut, tentu saja ini sungguh diluar dugaannya.

Gomawo. Happy birthday too.”

.
.
.

Duduk bersandar di bawah pohon maple, menikmati udara pagi yang cerah. Sekilas Myungsoo tersenyum sebelum akhirnya memulai permainan gitarnya. Ia sedikit bersenandung mengikuti irama gitar di pangkuannya. Ia begitu menikmati suasana pagi yang sepi di taman belakang sekolah.

Sinar mulai menyilaukan, pertanda waktu pagi mulai menipis, sepi pun kian terusik. Myungsoo suka ketenangan, karena itu ia menghentikan petikan apik di gitar coklatnya sekarang. Ia beranjak dari tempatnya duduk bersila. Sambil memandang lurus kedepan, Myungsoo berjalan menopang gitarnya dengan tangan kanan.

Myungsoo sengaja berjalan ke arah yang tidak seperti biasanya. Ke arah di mana seseorang biasa bersembuyi dari pandangan matanya. Gadis yang duduk di atas bangku persegi berbahan dasar kayu itu menunduk, seperti dugaan Myungsoo. Melihatnya, Myungsoo tersenyum jahil sambil menetralkan sesuatu yang berdesir mengusik aliran darahnya.

Seandainya kau membiarkanku untuk melihat wajahmu, itu akan lebih baik, kau sangat cantik Park Jiyeon.

.
.
.

Kala itu, untuk pertama kalinya Myungsoo tertarik dengan sosok bayangan yang selalu bersembunyi di balik matanya. Jiyeon duduk di pinggir lapangan olahraga sekolahnya, gadis itu sedikit berkeringat akibat pemanasan yang baru ia lakukan. Tanpa ia tahu, ada Myungsoo yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.

Berawal dari pandangan kagumnya, Myungsoo penasaran. Segala pertanyaan mucul, hingga membuat pemuda ini meneliti keadaan itu sendiri. Dan sekarang Myungsoo sudah mulai tertarik untuk membalas perbuatan gadis itu. Satu hal yang paling ingin Myungsoo tahu, siapa namanya?

“Jiyeonaa! Park Jiyeon!”sesorang dari arah lapangan berteriak membuat gadis itu terkesiap, dan beranjak dari tempatnya duduk.

Ah, jadi itu namanya, baiklah. Batin Myungsoo.

Gadis itu berlari masuk ke dalam perkumpulan yang Myungsoo yakini adalah teman-teman sekelasnya. Sesaat ia memberi high five pada seorang gadis yang memangilnya tadi, lalu ikut bergabung untuk bermain bola tangan. Tawanya dan semua gerakan biasa yang ia lakukan justru semakin membuat Myungsoo tertahan di posisi itu hanya untuk memperhatikannya. Park Jiyeon.

.
.
.

Olahraga. Jam pelajaran sebelum istirahat, khusus kelas Myungsoo. Beberapa orang kadang malas melakukannya, namun bertolak belakang dengan Myungsoo. Ia sangat bersemangat. Selain karena ia suka berolahraga, ada motif lain yang membuat semangatnya bahkan lebih dari 100% sekarang. Alasanya, ya Gadis itu.

Myungsoo tahu, kalau lapangan olahraga ini berhadapan dengan deretan kelas 12—termasuk kelasnya dan gadis itu, meski kelas 12  berada di deretan lantai paling atas. Ia juga tahu kalau gadis itu duduk di bangku paling pojok dekat jendela. Dan yang pasti, gadis itu tidak akan bisa melewatkannya.

Senyum miring Myungsoo terukir setelah sekilas melirik ke atas—tepat ke jendela kelas gadis itu.

.
.

Langkahnya terhenti, tepat di depan Jiyeon yang tengah berjongkok dengan satu tangan terkepal ke atas dan tangan lainnya menyeka keringat. Myungsoo terkejut sekaligus iba melihat Jiyeon, hingga tak sadar ia menjatuhkan sebotol air mineral dari tangan kanannya.

Botol tersebut sukses menggelinding ke arah Jiyeon dan. Dumm. Membentur ujung sepatu kets biru milik Jiyeon. Saat itu Myungsoo baru sadar akan kebodohannya, ia bergumam sebentar dengan detak jantung tak karuan yang  membuatnya tidak bisa tenang. Buru-buru ia meraih botol tersebut, tentunya sebelum Jiyeon bergerak lebih dulu darinya.

Demi terhindar dari salah tingkah atau mati gaya. Myungsoo memilih menenangkan diri dengan air mineral yang mengisi botolnya. Namun, dibalik itu ia menikmati susana ini. Ditambah gadis itu sekarang sedang memandanginya.

“Uhuk..Uhukk”

Sayangnya ada seseorang yang merusak suasana. Orang itu menepuk bahu Myungsoo, berhasil membuat ia tersedak dan batuk-batuk di hadapan Jiyeon. Sama sekali tidak keren. Byun baekhyun yang menyengir tanpa rasa bersalah itu penyebabnya.

Pali, ganti bajumu beberapa menit lagi bell istirahat berbunyi!”

Karena itu, dengan terpaksa Myungsoo hanya tertawa setelah terbatuk-batuk. Demi Tuhan, sebenarnya Myungsoo ingin sekali membals Baekhyun. Tapi, mengingat ada Jiyeon, ia harus lebih bersabar. Baekhyun yang jahil, memang sulit dipercaya.

.
.

Sekarang waktunya, kali ini kau tidak akan lolos Park Jiyeon. Batin Myungsoo, yang tengah menaiki tangga bus. Dan sekilas senyum pun terukir dari bibir merahnya.

Menit ke menit berlalu, sampai Myungsoo terbangun dari tidurnya. Sebenarnya Myungsoo tidak benar-benar tertidur, ia hanya mengistirahatkan kepalanya dan bertindak seolah tidak menyadari akan hadirnya Jiyeon di sekitarnya. Pernah pemuda ini berpikir untuk tetap berpura-pura tidur hingga tempat tujuannya, ia ingin tahu apakah Jiyeon akan berani membangunkannya. Tapi, rencana itu pasti tidak akan berhasil. Myungsoo paham, rencana semacam itu justru akan menyulitkan gadis pemalu ini.

Myungsoo pun lebih dulu turun dari bus sambil melepaskan kedua headset yang sejak tadi terpasang di telinganya. Membiarkan kedua telinganya bebas dari lagu berjudul ‘Happy Birthday’ yang dinyanyikan oleh anak kecil itu. Lucu sekali, setiap tahunya di tanggal yang sama Myungsoo selalu mendengarkan lagu klasik yang sama pula.

.
.

Iringan bayangan yang melawan sinar matahari terbenam itu, seakan mendaki bukit. Tidak butuh waktu lama, Myungsoo pun sampai di puncak bukit tujuannya. Tak terasa, gelap menemaninya kini. Tunggu, bukan ‘nya’ tapi mereka berdua.

Myungsoo memperhatikan suasana kota yang mulai diterangi oleh lampu-lampu buatan. Waktunya beraksi seperti tahun-tahun sebelumnya, di bulan dan tangal yang sama. 5 Agustus 2014.

“Tepat pada hari ini usiaku bertambah satu tahun, aku akan terus berusaha berada di tingkat yang lebih tinggi dari sebelumnya, hingga saatnya aku sampai di puncak. Aku akan membanggakan dunia dan terus menjadi yang terbaik. Sukses Kim Myungsoo!”teriaknya dengan semangat yang membara, sambil tangan terkepal dan tiga kali menghentak ke atas.

Setelahnya Myungsoo mengatur nafas, lalu melirik ke belakang seperti menunggu sesuatu. Beberapa menit kemudian samar-samar terdengar.

Happy birthday Kim Myungsoo.”

Myungsoo sengaja menajamkan telinganya , tidak disangka ia benar-benar bisa mendengar kalimat singkat itu tahun ini. Sebelumnya ia hanya bisa menyadari Jiyeon yang mengintip di balik pohon.

Senyum pun merekah sempurna di bibir Myungsoo, hingga deretan gigi putih itu terlihat bersamaan dengan matanya yg menyipit. Myungsoo butuh waktu untuk menggendalikan dirinya sebelum akhirnya berbalik. Tepat di saat Jiyeon masih melihat punggunya–pasrah.

Gomawo. Happy birthday too.”

Dapat dilihatnya dengan jelas gadis itu kini, mata bulat yang membesar dan mulut yang membentuk huruf ‘O’. Ya, Jiyeon sukses terkejut, tentu saja ini sungguh diluar dugaannya.

“Mulai sekarang, jangan lagi berdiri di tempat yang tidak terlihat olehku!”

Myungsoo merebut kertas yang menampilkan gambar manga itu dari kedua tangan Jiyeon. Ia perhatikan gambar itu dan membaca tulisannya. Jiyeon masih terdiam, takut-takut ini hanya mimpi.

“Dan yang seperti ini, kita jadikan kenangan. Perlu kau tahu, aku akan memahamimu lebih dari sekedar angin.”

Tanpa kata. Jiyeon hanya mampu membalas tatapan tulus Myungsoo. Ini sungguh diluar batas imajinasinya.


Kau yang selalu memandangiku dari jauh
Berdiri dibalik pohon
Mengikutiku diam-diam
Mengagumiku dengan seribu bahasa tubuh yang tidak bisa aku lihat
Aku menyukainya
Diam-diam, aku pun menikmatinya
Tikus kecilku, jangan lari lagi saat aku menyadari dan mendekatimu
Kau penguntit kecil yang manis
Aku jatuh cinta padamu
Aku putuskan kutukanmu berakhir dihari ulang tahun kita
Jadilah putriku sekarang
Pendamping hidupku selamanya
Terimakasih—Myungsoo—

.

.

Ciuman kecil itu disambut oleh ratusan tepuk tangan para undangan pernikahan Myungsoo dan Jiyeon. Pesta kebun, memang sangat cocok untuk meresmikan ikrar cinta seumur hidup keduanya.

Tahun-tahun pun berlalu, di jalan yang sama seperti 15 tahun lalu. Keduanya saling mengaitkan tangan masing-masing. Suasana yang berbeda dan posisi yang juga berbeda. Kebersamaan ini di harapkan akan terus bertahan seperti takdir mereka yang indah. Myungsoo dan Jiyeon saling berpandangan dan melempar senyum.

Saranghae.“kata Myungsoo.

Nado.”balas Jiyeon

Ketulusan menemani pasangan itu, Myungsoo pun mengecup kening istrinya. Inilah takdir kami.

FIN

Setiap orang memiliki takdir yang berbeda. Berusahalah di jalanmu demi menemukan takdir itu..!

Oia seharusnya tanggal 5 Agustus di Korea itu Musim panas dan otomatis sekolah di sana libur, jadi maaf yaa aku gak merhatiin itu kemarin. Karena ini berupa cerita fiksi jd angep aja kalau tgl segitu bukan musim panas yaa. lain kali aku lebih merhatiin lagi, thank you🙂

16 responses to “[ONESHOT – Sequel ‘Happy Birthday’] OUR DESTINY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s