[Chapter – Part 9] Love Is Not A Crime

LOVE IS NOT A CRIMEPart Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7] [8]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Sebuah mobil melaju dengan kecepatan cukup tinggi hingga tanpa ada yang menyadari terdengarlah suara dentuman tabrakan tepat di depan mata Gongju. Sejenak kemudian mobil yang menabrak seseorang itu langsung kabur begitu saja.

“Ahjumma!” teriak Gongju histeris. Tak dihiraukannya kerumunan orang-orang yang hanya ingin melihat korban tabrak lari itu. Jantung Gongju berdetak lebih cepat. Airmatanya mengalir deras melebihi debit air sungai Han.

Seseorang memanggil bantuan 911 dan dalam waktu sekejap, ambulance dan para polisi tiba di TKP. Gongju ikut masuk ke dalam ambulance. Dia memegang tangan kiri Taeyeon yang sedang sekarat. Yeoja paruh baya itu meninggalkan banyak noda darah di jalan raya dan benda lainnya.

Tiba di rumah sakit, Taeyeon langsung dibawa ke ruang operasi untuk mendapatkan beberapa penanganan kerusakan organ dan kemungkinan luka berat lainnya. Gongju sangat sedih. Taeyeon yang notabennya adalah bibi kandung Jaejoong sudah dianggapnya sebagai bibi kandungnya sendiri. Dengan berlinang airmata, Gongju mencoba menghubungi Jaejoong.

Tuuut…

“Yoboseo…” suara Jaejoong terdengar jelas di speaker ponsel milik Gongju.

Gongju menutup mulutnya. Berusaha mengatur nafasnya yang terisak dalam tangis yang terlalu dalam, mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang buruk pada orang yang disayanginya.

“Gongju-a, kau masih di sana? Yoboseo? Yaak, Gongju, waeyo?” Jaejoong cemas karena Gongju tidak segera menjawabnya.

Gongju menarik napas dalam-dalam kemudian memberanikan diri membuka mulutnya. “Oppa, mianhae oppa. Jongmal mianhae… Aku tak berguna, benar-benar bukan orang yang baik.” Cairan bening yang disebut airmata jatuh membasahi lantai di bawahnya.

“Gongju, waeyo? Kau menangis?”

Gongju sudah tidak kuat berkata apa-apa lagi. Matanya sudah tak senormal tadi pagi, dadanya terasa sesak, bajunya sekitar kerah telah basah oleh airmatanya.

Tut. Gongju menutup sambungan telepon. Ia beranjak dari tempatnya berdiri lalu berlari secepatnya ke luar rumah sakit.

Di luar rumah sakit yang nampak sepi, Gongju mengambil sebuah buku note kecil dari saku celananya dan pulpen dari dalam jaketnya. Ia menulis pesan kepada seseorang. Setelah selesai, Gongju meniup peluit yang diberikan oleh Myungsoo. Tak berapa lama kemudian seekor rajawali terbang ke arahnya. Gongju memberikan gulungan kertas suratnya pada sang Rajawali. Rajawai itupun segera mencengkeram kertas surat yang telah diberikan oleh Gongju.

“Sampaikan surat itu pada Jaejoong oppa.” Gongju meneteskan airmatanya lagi. Dengan langkah gontai, ia kembali menuju ruang operasi. Menunggu para dokter dan perawat yang menangani Taeyeon, ia berharap mereka keluar dengan ekspresi bahagia karena telah berhasil menolong Taeyeon. Lampu signal operasi belum berubah warna. Gongju berdoa dalam hati. Seandainya Taeyeon tidak dapat diselamatkan, ia berjanji akan mengungkap semua kejahatan Haeri dan menyelamatkan Korsel dari cengkeraman Haeri dan Korut. Gongju juga berjanji akan menyelamatkan Taehee dari Korsel. “Jaejoong oppa, aku berdosa padamu. Aku benar-benar orang yang tak tahu diri. Kau begitu.menyayangiku. Tapi aku malah menyebabkan bibimu.celaka. Aku janji akan memebus semuanya agar kau bisa memaafkanku.” Gongju tertunduk.sedih.

Di taman, Soo Hee memikirkan rencana untuk membantu Gongju. Apa yang harus ia lakukan untuk.membantu menyelamatkan Jung Kyung Ho. Masalag ini tidaklah enteng. Ia tidak bisa merengek pada appanya untuk membebaskan Jung Kyung Ho. Soo Hee akhirnya menemukan satu cara yang mungkin bisa ia lakukan untuk menolong Gongju. Ya, langkah pertama ia harus memahami dan tahu betul seluk beluk permasalahan yang terjadi. Malam ini ia memutuskan untuk kembali ke Korsel. Dia tidak.bisa berlama-lama di Korut. Polisi akan mencurigainya terutama mereka yang berjaga di perbatasan. Soo Hee berjalan keluar taman, tiba-tiba ia melihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam keluar dari mobil. Soo Hee mengeratkan tali mantelnya dan menutup kepalanya dengan topi untuk penyamaran. Sepertinya mereka mencurigakan. Soo Hee mengikuti mereka dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Para namja itu berjalan lebih cepat dibanding Soo Hee yang hanya seorang yeoja. Soo Hee sedikit berlari untuk menyeimbangkan langkahnya dengan mereka agar ia tidak kehilangan jejak para namja itu.

Mereka masuk ke dalam sebuah gedung yang bisa dikatakan gedung kosong tak terpakai. Soo Hee melihat gedung itu dari kejauhan. Para namja itu telah menghilang masuk ke dalam gedung sehingga Soe Hee hanya bisa mengikuti mereka sampai di depan gedung. Seandainya ada seseorang yang menemaninya, ia pasti akan masuk ke dalam gedung itu. Namun karena Soo Hee hanya seorang diri, ia mengurungkan niatnya mengijuti para namja itu sampai di dalam gedung. Tentu saja Soo Hee tidak ingin membahayakan dirinya sendiri. Mengingat tempat dimana ia berpijak sekarang bukanlah tanah airnya, tetapi negara lain yang kadang disebut sebagai musuh negaranya sendiri. Soo Hee masih menatap pintu gedung itu dari.kejauhan. Berharap ada salah seorang dari komplotan namja itu menampakkan diri. Ia yakin bahwa mereka ada hubungannya dengan Jung Kyung Ho karena dilihat dari penampilan mereka, para namja itu seperti orang yang sydah sangat ahli dalam hal kejahatan. Soo Hee cukup pandai menilai orang dari penampilannya. Tapi tidak untuk penilaiannya terhadap Gongju.

Ia mendesah kasar. Usahanya gagal. Apa boleh buat, ia harus merelakan rasa penasarannya tak terobati. Soo Hee beranjak menuju tempat ia menginap karena malam ini ia harus kembali ke Selatan. Apapun yang terjadi. Ia harus membantu Gongju dan Myungsoo memecahkan kasus Jung Kyung Ho.

Sesampainya di kamarnya, Soo Hee merebahkan tubuhnya dan memegang lengannya yang terluka. Masih sangat perih. Tak lama kemudian Soo Hee tertidur.

Di rumah sakit, sesuatu yang buruk terjadi pada Taeyeon. Operasi telah berjalan berjam-jam dan tah berakhir 10 menit yang lalu. Gongju duduk di bangku ruang tunggu, tertunduk dan sedih. Airmatanya tidak berhenti menetes. Gongju sangat merasa bersalah. Menurut laporan dari pihak kepolisian, mobil yang menabrak Taeyeon adalah mobil milik keluarga kaya di yang rumah kediamannya tidak jauh dari lokasi kejadian. Dua orang penumpang dan seorang lagi sebagai sopir. Mereka bertiga mengendarai mobil dalam keadaan mabuk. Kini pengendara mobil itu telah ditahan oleh polisi. Penangkapan tersangka tabrak lari yang mengakibatkan Taeyeon harus mendapat perawatan yang serius dari tim medis, dapat berjalan lancar karena ada beberapa banyak saksi di TKP. Beberapa diantara mereka bersedia menjadi saksi mata untuk prosea penyelidikan lebih lanjut. Kamera CCTV yang terpasang di atas lampu rambu lalu lintas juga sangat membantu. Kamera itu merupakan salah satu bukti paling kuat untuk menjebloskan ketiga orang itu ke penjara.

Gongju yang menerima laporan itu dari salah seorang perwakilan polisi, hanya bisa pasrah. Gongju curiga kalau Selatan lah dalang kecelakaan ini karena salah seorang dari keluarga presiden Korsel pasti ada yang tidak senang melihat Taeyeon masih hidup. Kecurigaannya dikuatkan dengan cerita Taeyeon padanya saat ia mereka baru bertemu. Taeyeon menceritakan bahwa orang yang sangat menginginkan bayi Soo Jin dibunuh adalah Haeri, salah satu isteri presiden Park. Itu artinya, yang menginginkan kematiannya adalah ibu kandung Soo Hee. Gongju menghela nafas dalam-dalam.

“Gongju-ssi…” panggil dokter.

“Nde.”

“Mohon maaf, kami harus mengatakan ini kepada Anda. Taeyeon bibi Anda tidak dapat diselamatkan lagi. Dia tidak dapat bertahan lebih lama. Kami sudha berusaha semaksimal mungkin namun rupanya Tuhan menakdirkan lain. Semoga Anda sekeluarga bisa menerima kenyataan ini.”

Gongju terduduk lemas. Ia benar-benar tidak menyangka Taeyeon akan meninggal dengan cara seperti ini, di depan matanya sendiri. Tangan kanannya menggenggam, memukul lantai yang tidak bersalah. Airmatanya menetes membasahi lantai rumah sakit di bawahnya.

Jiyeon pov.

Dadaku terasa sesak, nafasku berat. Aku harus menghadapi kenyataan ini. Anhi, Jaejoong oppa yang pasti merasa sangat sedih. Sesangi… eotteohkaeyo? Aku sangat menyayangi Jaejoong oppa. Aku tidak ingin kehilangan Jaejoong oppa. Tapi jika dia membenciku, bahkan tidak ingin bertemu denganku, aku rela. Pasti sakit rasanya. Aku telah bersalah, membuat Jaejoong oppa kehilangan satu-satunya keluarga yang ia sayangi.

Aku melihat sosok namja yang sangat ku kenal berjalan ke arahku sendirian. Langkahnya ia percepat ketika kami semakin dekat. Aku masih terduduk di tempatku. Kakiku tidak kuat berdiri menopang tubuhku.

“Gongju-a…” panggil Jaejoong oppa.

Aku hanya diam, tak menjawab panggilan oppa. Aku tidak tahu apa yang harus kukeluarkan dari mulutku. Apakah Jaejoong oppa akan percaya padaku lagi atau akan mengusirku dan membenciku seperti musuhnya. Mataku tak berhenti mengeluarkan cairan bening yang kini telah membasahi pipiku. Jaejoong oppa memegang kedua lenganku, membantuku berdiri kemudian mendekapku ke dalam pelukannya. Aku semakin larut dalam tangisku. Aku telah membuat Jaejoong oppa tambah menderita.

“Mi, mianhae, oppa. Jongmal mianhaeyo. Semua ini salahku. Aku tidak menjaga Taeyeon ahjumma dengan baik. Aku pantas untuk dihukum.”

“Sudahlah, Gongju-a. semua ini bukanlah salahmu. Yang menabrak Taeyeon ahjumma bukan dirimu. Merekalah yang bersalah. Jangan menyalahkan dirimu sendiri.”

Aku memeluk Jaejoong oppa erat-erat. Aku tidak ingin kehilangan oppaku. Jaejoong oppa adalah segalanya bagiku. Aku tidak menyesal telah dibuang oleh kedua orangtuaku. Mereka telah memberiku seorang malaikat tampan bahkan Jaejoong oppa lebih baik dari malaikat. Aku telah berjanji pada diriku sendiri dan Jaejoong goppa bahwa aku aku akan mencari dan menyelamatkan eomma Jaaejoong oppa dan Kyung Ho saem. Aku harus bisa menyelamatkan mereka untuk menebus kesalahanku pada oppa. Dengan segala cara, aku akan melakukannya.

Jenazah Taeyeon ahjumma segera dikremasi. Beberapa sanak keluarga datang memberikan salam belasungkawa mereka. Sanak keluarga yang datang memang tidak banyak karena mereka bukanlah keluarga kandungku, mereka adalah saudara Jung Soo Min ahjumma, orangtua angkatku dan Jaejoong oppa. Saat sedang melihat foto Taeyeon ahjumma yang terpasang di depan mataku, aku ingat seseorang. Ya, Soo Hee. Dia berniat membantuku mencari Kyung Ho saem. Aku harus menemuinya.

Setelah berganti pakaian dan tidak lupa mengambil pedangku, ku ayunkan kakiku menuju tempat penginapan Soo Hee. Di tengah perjalananku menuju ke tempat Soo Hee, aku melihat sosok yeoja yang kucari sedang membeli obat di sebuah minimarket. Mungkin ia ingin mengobati lengannya yang terluka. Aku menghampirinya.

“Park Soo Hee…” panggilku lirih pada yeoja yang baru keluar dari sebuah minimarket.

Soo Hee menoleh ke araku. “Gongju-a…”

“Kau mau kemana?” tanyaku saat kami sudah menduduki sebuah bangku kosong di tepi jalan. Soo Hee kesulitan mengobati lengannya, akupun membantunya.

“Aku harus kembali malam ini juga. Setelah ini aku akan bersiap-siap. Tengah malam nanti aku akan melewati perbatasan.”

“Apa wilayah perbatasan cukup aman?” tanyaku yang entah kenapa menjadi khawatir pada yeoja yang notabennya adalah saudaraku sedarah.

Soo Hee menunduk. Mungkin sedang memikirkan jawaban untuk pertanyaanku. “Molla. Apapun yang terjadi, aku harus segera kembali. Aku harus memberitahu seseorang tentang masalah yang penting. Selain itu, eomma Soo Jin pasti mengkhawatirkanku.”

Hatiku terasa sedikit tertusuk saat Soo Hee menyebut nama eomma Soo Jin. Taeyeon ahjumma bilang, Park Soo Jin adalah nama eomma kandungku.

“Oh iya, kau sudah tahu tentang eommaku?”

Aku terperangah mendengar pertanyaan dari Soo Hee. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu padaku? “Eoh, Myungsoo oppa pernah menceritakan sedikit tentangmu.”

Soo Hee tersenyum. “Aku punya dua eomma. Eomma Soo Jin dan eomma Haeri. Eomma kandungku adalah eomma Haeri. Karena seorang presiden hanya dibolehkan memiliki satu orang isteri, jadi yang dianggap isteri sah appa adalah eomma Soo Jin, dan aku harus mengakui emma Soo Jin sebagai eommaku. Dia sangat baik. Bahkan aku terlihat lebih dekat dengan eomma Soo Jin dibanding dengan eomma Haeri yang merupakan eomma kandungku.”

Aku hanya menunduk diam. Ingin sekali rasanya aku bertemu dengan eomma. Seperti apa wajah eomma? Apa eomma baik-baik saja? Apa eomma masih mengingatku? Apa eomma masih sayang padaku? Beruntungnya Soo Hee. Dia memiliki dua orang eomma yang sangat menyayanginya. Sedangkan aku? Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan eommaku. Aku juga belum yakin kalau aku masih mempunyai keluarga. Apa aku benar-benar anak Park Soo Jin eomma?

“Gongju-a, kau mau ikut aku?”

“Eodi?”

“Ke penginapan. Aku ingin makan bersama seseorang. Karena Myungsoo oppa jam segini sedang istirahat, jadi aku memintamu menemaniku makan malam. Eotte?”

Aku mengiyakan tawaran Soo Hee. Lagipula aku juga membutuhkan hiburan dan ngobrol dengan seseorang karena kepergian Taeyeon ahjumma.

Jiyeon pov end.

Jam dinding di kamar Soo Hee menunjukkan pukul 11 malam. Sudah larut malam namun Gongju belum ingin pulang ke rumah. Ia masih depresi atas apa yang menimpa Taeyeon yang membuat Gongju menyalahkan dirinya sendiri. Selesai makan tadi, Soo Hee memberesi semua barangnya. Ia juga sudah berpakaian rapi dengan penyamarannya. Gongju hanya melihat saudaranya itu tengah sibuk memasukkan semua barnag yang telah ia siapkan sebelumnya.

“Apa kau yakin akan kembali ke selatan sekarang juga?” tanya Gongju yang mengubah posisinya. Ia berdiri di samping lemari pakaian.

“Eoh. Sebenarnya eomma Soo Jin lah yang memintaku masuk ke Utara.”

Gongju mengerutkan keningnya. “Kenapa dia memintamu masuk ke Utara?”

Soo Hee telah selesai bersiap-siap. “Eomma mengenal Jung Kyung Ho. Dia memintaku untuk menyelidiki langsung apa yang terjadi pada Jung Kyung Ho. Jadi, itulah alasanku masuk ke Utara. Aku harus melakukan penyamaran seperti ini untuk bisa melewati perbatasan. Malam itu, penjaga perbatasan melarangku melewati perbatasan, jadi aku terpaksa melukai diriku sendiri agar mereka membawaku ke rumah sakit Korut yang dekat dengan perbatasan.”

Gongju semakin penasaran. Kenapa eommanya ingin tahu tentang Kyung Ho saem?

“Soo Hee-a, apa aku boleh mengantarmu sampai perbatasan? Setidaknya aku bisa menjagamu.”

Soo Hee terkejut. “Pasti. Kau boleh ikut. Apa sekarang kita berteman?”

Gongju mengangguk mantab. Ia tersenyum pada Soo Hee. Ini kali pertamanya Gongju menunjukkan senyumnya pada Soo Hee karena sebelumnya hubungan mereka berdua tidak seakrab sekarang ini.

Gongju dan Soo Hee baru tiba di perbatasan. Mereka naik taksi kemudian turun di dekat wilayah perbatasan dan memutuskan untuk berjalan kaki hingga sampai ke perbatasan.

Di sana terlihat beberapa tentara penjaga dari Korut dan Korsel. Sepi. Hanya para penjaga itu yang mondar-mandir berjaga-jaga. Soo Hee menunjukkan kartu identitasnya pada penjaga dari Korut. Dari kejauhan, tentara Korsel yang berjaga di perbatasan mengawasi Soo Hee. Dia nampak akrab dengan orang-orang Utara hingga membuat beberapa tentara Korsel curiga kepadanya. Soo Hee lolos pemeriksaan identitas di Utara. Ia pamit pada Gongju dan berpelukan dengan yeoja itu. Akhirnya kini Soo Hee berjalan melewati perbatasan.

Sesampainya di Selatan, Soo Hee dicegat beberapa tentara Selatan. Tentu saja mereka tidak tahu kalau yang mereka cegat adalah putri presiden Park. Mereka menemukan kejanggalan dalam identitas Soo Hee. Soo Hee tetap bersikukuh kalau dia harus segera sampai di rumah. Gongju menyaksikan pencegatan Soo Hee oleh tentara Selatan dari kejauhan. Ia mendekati garis perbatasan. Beberapa penjaga melarangnya, namun ia janji tidak akan melewati garis itu.

Gongju melihat Soo Hee diikat tangannya dan dipaksa masuk ke dalam pos penjaga. Soo Hee terlihat memberontak. Tentu saja ia tidak mau. Soo Hee ingin mengatakan kalau dirinya adalah putri presiden, tapi ia mengurungkan niatnya. Ia ingat Soo Jin. Ini adalah permintaan eommanya. Soo Jin hanya sekali ini meminta sesuatu dari Soo Hee. Ia pun berusaha bertahan dan tidak mau dibawa menghadap ke jenderal Hwang. Tiga orang tentara penjaga menodongkan senjatanya pada Soo Hee agar yeoja itu menurut. Namun Soo Hee tetap tidak mau. Akhirnya salah seorang penjaga itu menembakkan peluru ke atas sebagai tembakan peringatan. Soo Hee takut namun ia harus terlihat kuat.

“Kalian tidak memiliki bukti untuk membawaku kepada jenderal.”

“Diam! Menurut saja atau kami terpaksa melumpuhkanmu!”

Gongju dan para tentara penjaga dari Korsel bersiap di dekat garis perbatasan. Berjaga-jaga jika nantinya ada sesuatu yang tidak diharapkan terjadi di tempat itu.

“Tiarap!”

Soo Hee tidak menurut. Ia mengutuk tentara itu. Berani-beraninya membentak putri presiden sembarangan.

“Tiarap!” Seorang penjaga menendang kaki Soo Hee hingga yeoja otu meringis kesakitan.

“Chakkaman!” seru Gongju tepat di sebelah garis perbatasan. Ia hanya berjarak kurang dari 10 cm dari garis perbatasan. Sangat dekat.

Tentara Utara menoleh ke arah Gongju. Mereka menodongkan senjata ke arahnya. Di belakang Gongju, para tentara Korsel juga bersiap dengan senjata mereka. Jenderal Lim dari Utara keluar dari markas. Ia masih belum mengerti kenapa ada Gongju di sana, apalagi Gongju berteriak pada tentara Selatan.

“Tolong lepaskan dia. Bukankah dia warga negara kalian? Kenapa kalian begitu tega padanya?” kata Gongju.

“Identitasnya bermasalah. Dia melewati perbatasan dengan cara yang tidak diijinkan.”

“Lengannya terluka. Apa itu juga tidak diijinkan? Tentara apa yang tega menahan warga negaranya yang tidak bersalah?” Gongju tetap berceloteh.

“Diam kau! Beraninya bicara keras pada kami.”

“Aku berani bicara pada siapapun. Lepaskan yeoja itu!” teriak Gongju.

Situasi memanas. Setiap tentara yang berjaga di sana telah bersiap menarik pelatuk senjata mereka masing-masing. Gongju yang berada diantara tentara Korsel-Korut tidak gentar sedikitpun padahal di depan dan di belakangnya banyak tentara sedang menodongkan senjata mereka. Tentara Korut terpancing karena tentara Korsel seperti kehilangan kendali. Sedangkan tentara Korsel yang sudah panas, semakin tidak terkendali saat Gongju berseru pada mereka untuk melepaskan Soo Hee. Soo Hee takut. Dia mundur dan bersandar pada dinding pos penjagaan namun seorang tentara berhasil menangkapnya dan membawanya masuk ke dalam pos.

Melihat saudaranya diperlakukan seperti narapidana, membuat Gongju semakin panas. Emosinya meluap. Ia nekad melangkahkan kakinya melewati garis perbatasan. Semua tentara Utara tertegun melihatnya. Mereka tidak ada yang tidak mengenal Gongju karena yeoja itu adalah salah satu pengawal di istana presiden Korut.

“Berhenti!” teriak tentara Selatan pada Gongju yang terus berjalan di tanah Korsel. “Tangkap dia!”

Seorang tentara Korsel maju ke depan untuk menangkap Gongju. Yeoja itu tidak takut. Setelah jarak mereka dekat. Tentara itu menampar Gongju namun ia berusaha menangkis tangan tentara itu.

“Kau belum tahu siapa aku?” tanya Gongju yang langsung menendang dan memukul kepala tentara itu.

Doooorr!! Terdengar suara tembakan yang dilepaskan oleh salah satu tentara Korsel.

Tbc

Mian update nya lama chingudeul. Lagi sibuk sih…

Aku tunggu komennya ya… gomawo🙂

42 responses to “[Chapter – Part 9] Love Is Not A Crime

  1. Lg asyik2 baca mlah tbc tuh Siapa lg yg kena tembak, drrpda pnasaran lanjut baca part 10..

  2. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  3. Gongju sungguh berani!! Tidak mahu saudara nya berkelakuan begitu. Tapi jiyeon tercedera? Harap tidak

  4. Pingback: [Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s