[CHAPTER – PART 4] MY PRINCESS

Suzy Miss A & L Infinite (265)

© POSTER CHANNEL by: imjustagirls

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Sooji membuka matanya perlahan begitu merasakan benda hangat yang kini menyelimutinya. Namun, ia terbelalak kaget begitu menyadari wajah koki tampan yang baru dikenalnya beberapa hari lalu kini berjarak beberapa sentimeter darinya.

“KAU?! Apa yang kau lakukan disini? Kau mengikutiku?”

Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar serentetan pertanyaan dari gadis itu. Sifatnya tak berubah. Tetap saja ketus. “Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Nona. Apa yang kau lakukan malam-malam disini?”

Sooji hanya diam. Tak berniat menjawab. Melihat itu, Myungsoo kembali membuka suara. “Apa ini ada hubungannya dengan berita pagi ini?”

“Kau sudah dengar rupanya.” Sooji tersenyum lirih. “Wae? Kau mau menertawakanku? Tertawa saja. Aku tidak keberatan,” ujarnya sakratis.

“Bukan begitu. Aku…”

“Atau kau malah mau mengasihaniku? Kalau kau ingin melakukannya, sebaiknya kau pergi.” Sooji mendengus kesal melihat Myungsoo bukannya pergi meninggalkanya tapi malah menatapnya lekat. “Kalau begitu aku yang pergi!”

Baru saja Sooji akan pergi meninggalkan Myungsoo ketika perut gadis itu mengeluarkan bunyi yang nyaring. Myungsoo hanya bisa menahan senyumnya.

“Aku lapar. Kau mau menemaniku makan malam?” tawarnya tulus.

Myungsoo tersenyum simpul melihat gadis dihadapannya ini sepertinya sangat lahap menikmati ramyeon-nya yang mungkin masih panas. Apa gadis itu tak takut lidahnya terbakar? “Makannya pelan-pelan saja. Apa kau tak pernah makan ramyeon sebelumnya?”

Sooji mengangguk, membuat Myungsoo tercengang. Ini kali pertama gadis itu memakan ramyeon? Dasar Tuan Putri! Lelaki tampan itu menggeleng-gelengkan kepalanya begitu melihat sisa ramyeon disudut bibirnya. “Bukankah aku menyuruhmu makan dengan perlahan?”

Bae Sooji tersentak kaget begitu Myungsoo mencondongkan tubuhnya kearahnya. Lelaki itu kini membersihkan sudut bibir Sooji dengan tissue. “A… aku bisa sendiri!” ujarnya gelagapan. Sooji sontak merebut tissue tersebut dari tangan Myungsoo.

Myungsoo mendesis. Ada apa dengan gadis ini? “Omong-omong, kau akan berencana tidur dimana malam ini?”

“Aku belum tahu,” Sooji mengidikkan kedua bahunya.

Lelaki itu terdiam sejenak lalu menarik nafasya panjang. “Tinggallah dirumahku.”

Sooji sontak menatap lekat lelaki itu. Tinggal? Dirumahnya?

“Jangan menatapku seperti itu. Kau tenang saja. Aku tinggal bersama ibuku. Jadi, aku tidak akan berbuat sesuatu padamu,” ujarnya, menekankan kata “berbuat sesuatu”.

Gomawo,” ujar Sooji pelan. “Aku akan membayar semuanya setelah mendapatkan pekerjaan.”

Myungsoo mengangguk. Ternyata Tuan Putri bisa mengucapkan terima kasih padanya.

“Kita sudah sampai.”

Myungsoo membuka pagar rumahnya lalu mempersilahkan Sooji masuk. Gadis itu sempat ragu untuk masuk begitu melihat kondisi rumah Myungsoo yang cukup kecil, namun akhirnya gadis itu memaksakan dirinya untuk tetap masuk. Memangnya ia mau tinggal dimana? Hotel?

Mata indah Sooji menatap dengan seksama setiap penjuru rumah milik Myungsoo. Rumah yang terbuat dari beton ini hanyalah satu setengah kali luasnya dengan kamar mandi di rumah – lama – Sooji. Didepan pintu rumahnya ada beberapa bunga bonsai tertanam rapi didalam pot bunga dan juga tanaman lain yang Sooji sendiri tak tahu apa namanya. Ayolah, Sooji! Ini tidak terlalu buruk.

“Silahkan masuk,” Myungsoo mempersilahkan Sooji.

Sooji mengangguk kecil. Namun, gadis itu tersentak kaget begitu seorang wanita paruh baya memanggil Myungsoo dengan suara yang nyaring.

“Kau sudah pulang?” tanya wanita itu, Nyonya Kim – ibu dari Kim Myungsoo. Alis wanita itu terangkat sebelah begitu melihat sosok  asing yang kini berada tepat disebelah putra tunggalnya. “Siapa?”

Myungsoo menelan salivanya. Sial! Ia belum memikirkan alasan apa yang akan diberikannya pada ibunya kalau ia mengajak Sooji tinggal dirumahnya. Seorang anak lelaki dan anak gadis yang tidak sedarah tinggal dalam satu atap? Yang benar saja!

“Ibu, dia Bae Sooji. Untuk sementara, dia akan tinggal disini.”

Mata wanita itu membesar, terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan Myungsoo. Apa ia tidak salah dengar? Tinggal? Disini? Wanita itu mengepalkan tangannya lalu bergegas berjalan kearah anaknya itu dan langsung memukul kepala Myungsoo dengan tangannya yang sudah keriput, membuat Myungsoo meringis kesakitan. “Ya! Kau gila! Kita sudah susah! Dan kau menyuruh gadis yang aku bahkan tidak mengenal asal usulnya ini untuk tinggal dirumah kita? Benar-benar!” Nyonya Kim menarik nafasnya panjang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan putranya.

“Tapi, dia tidak punya tujuan lain,” rengeknya. Sooji bahkan bergidik ngeri dengan aegyo Myungsoo.

“Banyak orang yang tidak punya tujuan lain! Kenapa tidak kau suruh semua orang itu tinggal dirumah kita?”

“Ibu…”

“Katakan pada ibu kenapa gadis ini harus tinggal disini?” Nyonya Kim menatap tajam Sooji yang sedari tadi hanya diam mendengar perdebatan mereka.

“Itu…” Myungsoo memutar kedua bola matanya, berusaha mencari alasan yang tepat untuk ibunya. Apa yang harus ia katakan? Sial! Kenapa disaat seperti ini otaknya tak bekerja sama sekali? Berpikir, Kim Myungsoo! Berpikir! Seakan baru saja mendapatkan ide yang menurutnya brilliant, lelaki tampan itu sontak tersenyum. Ia lalu merangkul pundak Sooji. “Maaf terlambat memperkenalkannya padamu. Dia Bae Sooji, kekasihku.”

Nyonya Kim mengangakan mulutnya. Ia cukup terkejut mengetahui anak lelakinya kini sudah memiliki kekasih. Sepertinya tak hanya Nyonya Kim saja yang terkejut, karena kini Sooji merasakan hal yang sama. Gadis itu kini mencubit pinggang Myungsoo.

“Sejak kapan aku jadi kekasihmu?” bisik Sooji.

“Sejak hari ini,” balasnya. “Kau tidak mau tidur dijalanan malam ini bukan? Jadi, ikuti saja permainanku”

Melihat kedua insan itu asik bernegoisasi membuat Nyonya Kim berdeham, membuat Sooji akhirnya mengulum senyum terpaksanya. “Annyeonghaseyo, eomonim. Choneun Bae Sooji-imnida.” Sooji membungkukkan badannya.

“Jadi, boleh dia tinggal disini?”

“Tetap tidak boleh! Aku tidak mungkin membiarkan kalian bermesraan kalau aku tidak ada!”

Sooji hampir saja memuntahkan makan malamnnya mendengar perkataan Nyonya Kim. Bermesraan? Tidak mungkin! Sooji lebih memilih bermesraan dengan Damon – anjing lucu yang pernah dipeliharanya ketika ia kecil – dibanding dengan lelaki menyebalkan ini.

“Apa ibu tega melihat kekasihku ini tidur dijalanan?” Myungsoo mulai mengeluarkan aegyo-nya lagi.

Daebak! Sooji hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Myungsoo. Sepertinya lelaki itu layak mendapatkan julukan Drama King.

Nyonya Kim akhirnya mendesah pasrah. Oh, baiklah. Ia mengalah. “Gadis ini…” Mata Nyonya Kim menatap tajam Sooji. “… boleh tinggal disini .”

Sooji dan Myungsoo tersenyum senang mendengar keputusan Nyonya Kim.

“Tapi… gadis ini harus membayar uang sewa sebesar 25 ribu won!”

Senyum keduanya meluntur mendengar lanjutan dari ucapan Nyonya Kim. Kenapa wanita ini perhitungan sekali? Sulit dipercaya!

“Baiklah. Aku akan membayar uang sewanya sebanyak yang kau mau, ibu tua!”

Ya! Kau bahkan belum mendapat pekerjaan. Kenapa menerima tawaran ibuku?” bisik Myungsoo.

“Tenang saja, Tuan Kim. Aku ini jenius. Jadi akan mudah bagiku menemukan pekerjaan,” ujarnya sombong.

“Tersserah saja,” gumam Myungsoo malas.

“Kalau begitu, kau bisa antarkan gadis ini ke kamar kita yang kosong,” titah Nyonya Kim lalu berlalu pergi.

Myungsoo mengangguk mengerti. Ia segera membantu Sooji mendorong kopernya lalu berjalan menuju kamar baru Sooji yang langsung diikuti oleh gadis itu. Myungsoo dan Sooji memasuki lorong-lorong rumah Sooji. rumah ini memang tergolong kecil. Di ruang keluarga, hanya ada meja baca dan juga bantal untuk alas duduk serta televisi yang hanya berukuran sekitar 21 inch. Diatas benda tersebut, terpajang rapi foto Myungsoo, ibunya dan – mungkin – ayahnya. Keluarga bahagia. Entah kenapa, melihat foto tersebut membuat ia rindu dengan ayah dan ibunya. Dimana mereka sekarang? apa mereka hidup dengan baik? Mereka tinggal dimana? Makan apa?

“Kenapa kau melamun?”

Sooji tersentak kaget mendengar pertanyaan Myungsoo. Ia lalu menggeleng. “Aku tidak melamun,” elaknya, membuat Myungsoo menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tahu jelas gadis itu berbohong.

Tak mau ambil pusing, Myungsoo segera membuka pintu kamar Sooji. “Ini kamarmu.”

Tanpa disuruh, Sooji segera masuk kedalam kamar tersebut. Matanya membulat seketika. A… apa ini? Kamar ini hanya seperempat dari kamar mandinya. Hanya ada meja baca dan juga alas tidur. Dimana Magnetic Floating Bed-nya?! “K… kau pasti bercanda,” ujar Sooji tak percaya. “Bagaimana aku bisa tidur disini?!”

“Hanya ini yang bisa kusediakan. Tidurlah. Selamat malam dan sampai jumpa besok,” pamit Myungsoo.

Sooji mempoutkan bibirnya seraya memandangi punggung Myungsoo yang mulai menghilang dari pandangannya. Dengan malas, gadis itu segera duduk di kasur barunya. Ia merogoh kopernya dan mengeluarkan parfum mahal miliknya. Sooji segera menyemprotkan parfum itu keseluruh sudut ruangan.

Setelah selesai, ia mengambil selimut lembutnya lalu mulai membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Ia berharap, setelah ia bangun, semuanya akan kembali seperti semula. Ayah, ibu, Choi Sulli dan juga… Choi Minho.

“Minho Oppa, aku merindukanmu.”

Sooji membuka matanya perlahan saat dirasanya hari telah berganti. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. Hal yang diharapkannya semalam tak terwujud. Tak ada yang berubah dari hidupnya. Ia tetap miskin. Dan semua itu nyata.

Suara ketukan pintu membuat Sooji membuyarkan lamunannya. “Masuk saja,” suruhnya dengan suara seraknya – khas orang yang baru saja bangun tidur. Ia tahu siapa itu. Tentu saja Kim Myungsoo.

Mendengar ucapan Sooji, Myungsoo segera menggeser pintu tersebut. Oh, apakah ia sudah bilang bahwa rumah ini menggunakan model rumah tradisional?

Kepala Myungsoo menyembul dari balik pintu tersebut. “Sarapan sudah siap.”

Sooji mengangguk mengerti. Ia lalu meraih handuknya yang dilipat rapi dari dalam kopernya. “Antarkan saja makananku kedalam kamar. Aku harus mandi.”

Gadis itu baru saja akan berjalan melewati Myungsoo ketika dengan cepat Myungsoo menahan lengannya. Lelaki tampan itu mendesis. “Dirumah ini, ada aturan harus makan di ruang makan. Kau mau makan atau tidak?”

“Oh, baiklah. Aku akan menyusulmu setelah menggosok gigi,” ujarnya malas.

Myungsoo hanya tersenyum simpul melihat Sooji.

Sooji menatap tajam hidangan yang kini ada dihadapannya. Hanya ada kimchi dan bibimbap. Sepertinya tidak terlalu buruk. “Selamat makan.”

Untuk beberapa menit, hanya terdengar kunyahan diruang makan rumah makan Keluarga Kim pagi itu, hingga akhirnya Myungsoo membuka suara.

“Apa rencanamu hari ini?”

“Aku akan melamar pekerjaan.”

“Bagaimana kalau kau kerja di restoran Tuan Bang? Kebetulan kami kekurangan pegawai,” tawar Myungsoo.

“Maksudmu restoran kecil tempat kau bekerja itu?” Sooji meggeleng-gelengkan kepalanya. “Aku tidak mungkin kerja ditempat seperti itu. Kalau aku mau, aku bahkan bisa bekerja sebagai model,” ungkapnya sombong.

“Jadi kau mau melamar kerja dimana?”

“Di restoran hotel bintang lima.” Sooji tersenyum, menunjukkan smirk andalannya.

“Jadi bahasa asing apa saja yang kau kuasai?”

Lelaki setengah baya itu menatap Sooji sejenak lalu kembali pada surat lamaran Sooji. Benar, gadis itu kini tengah melakukan interview pertamanya.

“Aku bisa bahasa inggris, jepang, cina, prancis, jerman dan juga beberapa bahasa lain.”

Onamaehanandesuka?” (Siapa namamu?”

Watashi wa Bae Sooji.” (Namaku Bae Sooji)

Wo wohnst du?” (Dimana kau tinggal?)

Ich lebe nicht weit von hier.” (Aku tinggal tak jauh dari sini)

Nǐ yǐqián zài nǎlǐ gōngzuò?” (Dimana kau kerja sebelumnya?)

méiyǒu gōngzuò, yīnwèi wǒ jīnnián gāng bìyè.” (Aku tidak bekerja karena aku baru saja lulus tahun ini)

Lelaki itu tersenyum senang, cukup puas dengan kemampuan Sooji. Gadis seperti ini yang ia cari. Muda, berpenampilan menarik dan juga berpendidikan. “Selamat, Sooji-ssi. Kau diterima kerja disini dan mulai bekerja hari ini,”ujar lelaki itu lalu menjabat tangan Sooji. Tak lama, lelaki itu memanggil seorang gadis yang sebaya dengannya. Katanya, gadis itu yang akan membimbing Sooji selama bekerja disini. Namanya Lee Jieun.

“Ini seragammu,” ujar Jieun lalu memberikan seragam Sooji padanya.

Gomawo, unnie.

“Tidak masalah. Ganti baju dulu, setelah itu aku akan memberitahukanmu apa saja yang harus kau kerjakan.”

Sooji mengangguk mengerti. Gadis itu kemudian menarik nafasnya panjang. etah kenapa ia gugup sekali. Ayolah, Bae Sooji. Kau bisa melakukannya. Fighting!!

TO BE CONTINUED

113 responses to “[CHAPTER – PART 4] MY PRINCESS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s