[Chapter-Part 3] Shadow Sun

shadowsun1

Title : Shadow Sun

Author : Nealra(dulunya Ayhu Park)

Casts :

  • Kim Myungsoo
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Suzy Bae
  • Park Jungsoo/Park Ahjussi

Genre : Time Machine, Joseon Era, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-13

Disclaimer : Tokoh milik diri mereka,orang tua, dan Tuhan.Author cuman pinjam nama.Plot,alur cerita hasil hayalan author.

A/N : FF ini adalah gabungan FF author yang lain yaitu Miracle Power dan The Lost Moon.

~^_^~

Joseon Era

Jiyeon merasa sedikit tenang setelah ia memeluk Myungsoo, walau kini jantung Myungsoo yang berdegup kencang. Park Ahjussi masuk di saat yang sama.

“Agasshi, minumlah ini” Park Ahjussi memberikan ramuan herbal. Jiyeon mengangguk lalu meminumnya.

Park Ahjussi memberikan kode kepada Myungsoo agar ia keluar. Myungsoo hendak keluar sebelum Jiyeon menahannya “Kalau kalian ingin bicara, biarkan aku mendengarnya”. Park Ahjussi tidak dapat melakukan apapun.

Suasana di dalam kamar itu menjadi sangat tegang. Myungsoo yang merasa tercekik memilih untuk keluar dengan sendirinya. Park Ahjussi juga berniat keluar tapi Jiyeon segera menahannya.

“Tolong berhentilah, Ahjussi” Pinta Jiyeon.

“Saya hanya melakukan ini demi agasshi. Saya tidak akan membiarkan apapun terjadi pada agasshi. Kim Myungsoo itu adalah pembawa sial. Dan kejadian ini adalah buktinya” Park Ahjussi menggebu-gebu.

“Hal yang terjadi tadi itu bukanlah bukti apapun, tapi itu adalah keinginanku untuk menolongnya”

“Tidak, agasshi. Kim Myungsoo itu pembawa sial” Bentak Park Ahjussi.

Jiyeon perlahan menunduk, mencoba menyembunyikan air matanya “Aku capek, ahjussi. Aku tidak bisa lagi hidup sendiri tanpa bertemu dengan orang lain selain ahjussi. Aku yakin Myungsoo lah yang akan mengembalikan semuanya. Myungsoo akan menuntunku ke tempat yang semestinya. Tempat dimana aku bisa bertemu dengan keluargaku”

“Maafkan saya, agasshi. Saya begitu takut terjadi sesuatu pada agasshi tanpa mempertimbangkan perasaan agasshi. Kalau begitu, saya akan mengijinkan Kim Myungsoo untuk tinggal disini. Tapi, agasshi tidak boleh keluar dari paviliun bersamanya. Terlebih lagi besok. Besok adalah harinya. Jadi agasshi tidak boleh kemana-mana”

“Saya berjanji tidak akan kemana-mana” angguk Jiyeon lalu menghapus air matanya.

~^_^~

Langit tampak kemerah-merahan dengan bercak hitam yang disebabkan oleh sekumpulan burung yang hendak kembali ke tempatnya. Jiyeon yang sudah bisa berdiri memilih untuk menyiram bunga-bunga yang tumbuh di pekarangan depan.

Setelah menyiram bunga-bunga itu, Jiyeon duduk di depan paviliun sambil menatap langit kemerahan dengan sekumpulan  burung yang berterbangan.

Myungsoo duduk di sampingnya.

“Bagaimana punggungmu?” tanya Myungsoo.

“Sudah mulai baikan” Jawab Jiyeon sambil tersenyum.

“Aku minta maaf atas semua kerepotan yang telah kusebabkan, dan aku berterima kasih karena kau telah membantuku menyelesaikan kerepotan itu” Ucap Myungsoo menatap lurus ke depan. Jiyeon hanya mengangguk sambil menatap ke langit.

Myungsoo menatap Jiyeon sekilas lalu mengikuti pandangan Jiyeon ke langit “Boleh aku jujur?”. Jiyeon mengangguk.

“Kau benar-benar aneh” Ucap Myungsoo yang hanya dibalas senyuman oleh Jiyeon.

“Pertama, kau membiarkanku tinggal disini, lalu menyelamatkanku dari amukan warga. Padahal kau tidak mengenaliku sama sekali…”

“…Kedua, paviliun ini sangat mewah untuk ukuran paviliun yang berada di tengah hutan…”

“…Dan ketiga, kau tampak seperti bangsawan tapi tidak seharusnya wanita bangsawan tinggal di tengah hutan seperti ini. Atau jika memang kau diasingkan, harusnya pelayanmu 3 sampai 5 orang, tapi pelayanmu Cuma Park Ahjussi, bahkan Park Ahjussi tidak tinggal disini”

Jiyeon tertawa kecil mendengar penuturan Myungsoo “Benarkah aku seperti itu?”. Myungsoo mengangguk.

“Aku juga tidak ingin kehidupan seperti ini. Tapi aku tidak punya pilihan lain” Jiyeon mencoba tersenyum.

~^_^~

Dua hari telah berakhir, Minho dan Suzy belum mendapat clue apapun tentang keberadaan Myungsoo di jaman joseon ini. Minho tidak dapat menutupi kekhawatirannya, karena semakin lama seseorang berada di jaman joseon tanpa izin OSEP, maka hukumannya akan semakin berat.

“Aku yakin kita akan segera menemukan Myungsoo” Suzy menepuk bahu Minho untuk menenangkan parternya itu.

Mereka telah kembali lagi ke abad 21 untuk melapor. Seperti sebelumnya, setelah melapor, mereka diizinkan untuk pulang.

Ketika Minho membuka pintu rumahnya, ibunya dan seorang ahjussi tampak menunggu kedatangan Minho.

“Minho, kau baik-baik saja, nak?” tanya ibu Minho, perhatian.

“Aku baik-baik saja, eomma. Eomma tidak perlu khawatir. Saat ini, aku tergabung dalam tim pencarian Myungsoo” ucap Minho yang membuat ahjussi itu tampak terkejut.

“Jadi, kau sudah tahu dimana Myungsoo sekarang?” tanya ibunya, lagi. Minho mengangguk “Kami sudah mengetahui keberadaannya dan sekarang kami sedang berusaha menjemputnya”

“Bisakah saya ikut? Dia pergi karena saya. Saya sangat ingin menjemputnya” Sahut Ahjussi itu memohon.

“Minhoya, dia adalah ayahnya Myungsoo, Kim Sooro” Ibunya memperkenalkan ahjussi itu yang tidak lain adalah tunangannya sendiri.

“Oh iya, perkenalkan nama saya Choi Minho” Minho memperkenalkan dirinya dengan hormat.

“Maaf, kita harus bertemu dalam keadaan yang seperti ini. Saya juga tidak menduga Myungsoo akan berbuat sejauh itu” Tampak nada penyesalan diucapkan oleh Sooro ahjussi.

“Jika saya masih seumur Myungsoo, mungkin saya akan melakukan hal yang sama, Myungsoo masih labil sehingga dia belum bisa mencerna semuanya dengan benar. Jadi, saya sangat mengerti perasaan Myungsoo” Ucap Minho mengerti.

“Jadi, Minhoya, kau bisakan membawa Myungsoo kembali?” tanya ibu Minho memastikan.

“Aku janji akan membawa Myungsoo kembali dengan selamat” Ucap Minho yakin.

“Terima kasih, sayang” Ibu Minho memeluk Minho. Sooro ahjussi tersenyum pada Minho “Kau sangat berbesar hati. Aku sangat berterima kasih” Minho membalasnya dengan senyuman.

~^_^~

Abad 29

Suzy bersama beberapa orang tampak memanjatkan doa di depan sebuah makam yang nisannya bertuliskan ‘Zizi Park’.

“Ini sudah lima tahun, tapi eomma belum bisa merelakanmu,nak” Seorang ahjumma berucap dengan sedihnya. Suzy dan ibunya segera menenangkan ahjumma itu.

“Gwenchana, immo. Zizi sudah tenang di alam sana. Immo harus mendoakannya” Suzy memeluk ahjumma itu.

“Iya. Kau tidak boleh menangis. Zizi melihatmu dari atas sana” ibu Suzy juga mencoba menenangkan ahjumma itu.

Mereka pun kembali ke rumah walau masih banyak orang yang berturut-turut mengunjungi makam itu. Terlihat jelas kalau ibu Suzy cemas akan sesuatu.

“Eomma, jangan dipikirkan lagi” Ucap Suzy.

“Bagaimana bisa eomma tidak memikirkannya, sementara kita semua tahu kalau Zizi meninggal karena tugasnya di jaman joseon. Dan saat ini, untuk kedua kalinya setelah mengetahui dengan jelas keadaan Zizi, eomma sulit untuk membiarkanmu bertugas di jaman itu” Khawatir Ibu Suzy.

“Ini sudah tugasku, eomma. Jika bukan aku, siapa lagi yang akan melakukannya” Suzy menatap ibunya lalu memeluknya “Aku akan baik-baik saja”

~^_^~

Abad 21

Minho kembali ke kantor tapi Suzy belum kunjung datang. Ia berkeliling untuk mencari udara segar. Disaat bersamaan dia bertemu dengan Inspektur So.

“Detektif Choi, kenapa kau masih ada disini?” tanya Inspektur So.

“Saya sedang menunggu Suzy yang belum kembali dari abad 29” Jawab Minho.

“Dia belum kembali? Oh benar! Hari ini tepat lima tahun meninggalnya Zizi Park. Agen yang ditugaskan bersama Agen Bae untuk meneliti jaman joseon tapi sayangnya dia meninggal dalam tugasnya itu di jaman joseon. Yang sekaligus adalah sepupu Agen Bae sendiri” Jelas Inspektur So. Minho mengangguk-mengangguk. Walaupun dia telah mengetahui fakta itu tapi dia tidak pernah ingin tahu kejelasan mengenai hal itu.

Setelah pamit, Minho memilih kembali ke ruangannya sambil menunggu Suzy. Tidak lama setelah itu, Suzy pun datang.

“Maaf, aku terlambat” Suzy membungkuk meminta maaf.

“Aku tahu, kok” Balas Minho tak mempermasalahkan.

Mereka pun menuju ke jaman joseon.

“Kita ga’ usah pake baju polisi lagi. Soalnya kalau pake baju polisi kesannya terlalu kuat, ujung-ujungnya kita malah jadi bahan tontonan” Saran Minho.

“Iya juga sih. Nanti kalau keadaannya mendesak, kita bisa keluarin tanda polisi kita” Setuju Suzy.

“Kita akan memakai baju ala bangsawan. Kamu juga bisa kok pake baju perempuan saja”

“Tidak perlu! Aku sama sekali tidak berniat menggunakan baju perempuan. Aku akan tetap menyamar nanti” Tolak Suzy.

~^_^~

Park Ahjussi tengah meramu obat untuk Jiyeon. Ia merasa kekurangan bahan. Disaat bersamaan, Myungsoo yang baru selesai menjemur pakaiannya lewat di depan Park Ahjussi.

“Kim Myungsoo!” Panggil Park Ahjussi. Myungsoo menghampiri Park Ahjussi.

“Pergilah ke pasar dan beli bahan-bahan ini” Park Ahjussi memberikan selembar kain beserta uang. Myungsoo hanya bisa mengangguk lalu segera pergi.

Sementara Park Ahjussi berjalan ke tengah hutan untuk mengambil daun untuk obat Jiyeon. Park Ahjussi sibuk memilih-milih daun, ketika Minho dan Suzy menghampiri Park Ahjussi.

“Ahjussi, kita bertemu lagi” Sapa Suzy. Park Ahjussi hanya menatap mereka sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Tiba-tiba, sebuah ide melintas di kepala Park Ahjussi.

“Chogiyeo! Bukankah kalian mencari seorang buronan?” tanya Park Ahjussi, membuat Minho dan Suzy mempusatkan perhatian mereka pada Park Ahjussi “Iya. Memangnya ahjussi tahu keberadaan buronan itu?” Minho tidak sabaran.

“Saya melihatnya beberapa kali di hutan ini dan juga di pasar” Jawab Park Ahjussi.

“Di hutan ini dan di pasar? Baiklah. Terima kasih, ahjussi” Suzy dan Minho pun berlari meninggalkan Park Ahjussi.

Langkah mereka terhenti di depan paviliun Jiyeon “Aku masih ragu dengan paviliun ini. Jadi, aku akan memeriksanya sementara kau duluan ke pasar” Perintah Minho. Suzy mengangguk.

Minho masuk ke dalam pekarangan paviliun. Bersamaan dengan itu, Jiyeon keluar dari paviliun.

“Apa yang anda lakukan lagi disini?” tanya Jiyeon sedikit kesal. Minho membungkuk minta maaf “Saya hanya ingin memastikan keberadaan buronan itu, tapi tampaknya, dia benar-benar tidak ada. Kalau begitu, saya permisi”

Minho berjalan pergi sambil bergumam “Jadi benar kata ahjussi itu”

Jiyeon dapat mendengar gumaman Minho “Ahjussi? Apa yang dia maksud Park Ahjussi? Tadi Park Ahjussi menyuruh Myungsoo ke pasar. Jangan-jangan mereka juga akan ke pasar” Jiyeon buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil tudungnya lalu berjalan cepat keluar.

~^_^~

Myungsoo tidak dapat menemukan pasar yang menjual bahan-bahan yang tertulis dari Park Ahjussi. Myungsoo malah tersesat sampai ke depan rumah bordil. Beberapa gisaeng memperhatikan Myungsoo sambil berbisik “Lihat orang itu! Dia sangat cakep. Sayang dia hanya orang miskin”

Myungsoo berusaha tidak peduli dengan omongan para gisaeng itu. Ia berjalan lemas karena bingung harus pulang dengan kosong atau terus mencari.

Tiba-tiba, Myungsoo menabrak pria dengan baju ala bangsawan yang terlihat sedikit mabuk.

“Kau!” Myungsoo dan pria itu sama-sama terkejut. Disaat bersamaan, Jiyeon datang dan menarik Myungsoo menjauh.

“Ayo cepat lari! Dia bisa mengejar kita” Sahut Jiyeon sambil menggenggam erat tangan Myungsoo.

“Dia… Dia calon kakakku” gumam Myungsoo dengan wajah kebingungannya. Tanpa disadari, kedua ujung bibir Jiyeon terangkat membentuk senyuman.

Myungsoo melihat ke belakang tapi tidak ada satupun yang mengejar mereka. Mereka pun masuk ke dalam hutan. Dan dengan tidak disangka sebuah panah melesat ke arah Myungsoo tapi karena mereka sedang berlari, Jiyeonlah yang terkena panah itu.

Myungsoo melihat ke belakang dan dapat melihat samar-samar bahwa orang yang memanah itu adalah orang yang menabraknya di depan rumah bordil tadi. Myungsoo buru-buru menggendong Jiyeon. Mereka berhasil kabur setelah memanfaatkan keadaan yang sudah gelap.

Setelah bebas dari Minho, Myungsoo buru-buru membawa Jiyeon ke paviliun. Terlihat raut kemarahan dan kekhawatiran di wajah Park Ahjussi. Park Ahjussi buru-buru merawat luka Jiyeon.

“Ambilkan aku kain di dalam gudang. Letaknya di atas lemari” Perintah Park Ahjussi. Myungsoo segera ke gudang dan mencari di atas lemari. Ia menemukan sebuah kotak, setelah ia membuka kotak itu terpampang lah tumpukan lukisan wajah. Myungsoo berniat mengambil kotak itu lalu kembali mencari kotak kain. Ia pun dapat menemukan kotak kain.

Ia keluar dan memberikan kain itu pada Park Ahjussi. Setelahnya Myungsoo memilih menunggu di teras. Ia membuka kotak tadi. Terlihat lukisan dua orang wanita. Myungsoo dapat mengenali Jiyeon di lukisan itu. Lalu di bawahnya ada lukisan lagi. Dan selanjutnya ada sebuah foto Jiyeon dan seorang wanita dengan kertas foto “Apa kertas foto sudah ada di jaman ini?”

Myungsoo melihat foto selanjutnya, dan foto inilah yang membuat Myungsoo terdiam membeku. Foto Jiyeon dan seorang wanita dengan baju modern.

TBC

.

.

.

Jeongmal mian~ Postnya ngaret banget… Author punya proyek lain jadi ga’ bisa fokus ke Shadow Sun aja…

Ingat! Nama Author sekarang ‘NEALRA’

Author udah berusaha semaksimal mungkin, so, don’t forget to leave your mark.

34 responses to “[Chapter-Part 3] Shadow Sun

  1. Pingback: [Chapter-Part 1] Shadow Sun 2 – Minho Meet Jiyeon And Suji | High School Fanfiction·

  2. Pingback: Shadow Sun[Epilog] | Nealra Note·

  3. Pingback: Shadow Sun[Chapter 6/END] | Nealra Note·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s