[CHAPTER – PART 5] LOST IN BALI

LOST IN BALI 2

Poster by kimleehye19 (me) @nicefanfiction.wp.com

Part sebelumnya:

[1] [2] [3] [4]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Check it out!

Hwayoung yang baru datang dari Jakarta sama sekali belum tahu kalau Jiyeon ketinggalan pesawat. Dengan polosnya, Hwayoung nyerocos membahas Jiyeon. “Jiyeon-ssi, kau tidak jadi pulang ke Korea? Kenapa? Apa hanya aku yang baru tahu?” Hwayoung menyeret sebuah kursi di bawah meja kemudian mendudukinya.
Luhan yang tadi saling pandang dengan Lay malah menyuruh Lay menjelaskan kepada yeojachingunya itu.
“Dia ketinggalan pesawat,” sahut Myungsoo. Sontak semua mata tertuju padanya kecuali sepasang mata indah milik Jiyeon.
“Ne. Aku ketinggalan pesawat saat sedang mencari ponselku yang tertinggal di toilet. Mungkin ini sudah nasibku.” Jiyeon telah menyelesaikan ritual mengisi perut.
Hwayoung membelalakkan matanya. “Kok bisa?”
“Ceritanya panjang. Kau ini banyak tanya,” sela Lay yang tak ingin lagi mendengar yeojanya itu mengoceh.
Myungsoo meninggalkan ruang makan, begitu juga dengan Lay dan Hwayoung. Tinggal Jiyeon dan Luhan di tempat itu.
“Luhan-ssi, gomawoyo. Kau selalu baik padaku.”
“Ah, tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu.”
“Luhan-ssi, apa di sekitar sini ada lowongan kerja?”
“Aku rasa ada kok. Nanti kalau sepulang kerja akan aku usahakan mencari lowongan untukmu. Oh ya, bagaimana jika kau memanggilku tidak seformal itu? Jika kau lebih muda dariku kau bisa memanggilku oppa. Jika kita sebaya atau kau lebih tua, kau bisa memanggilku Luhan saja.”
“Jongmal? Ne, saat ini aku semester akhir program diploma. Aku lebih tua atau lebih muda?” tanya Jiyeon ragu-ragu.
“Kau lebih muda dariku. Waaah, ada satu orang lagi yang memanggilku oppa. Haha… Berasa paling tua…”
Jiyeon tertawa mendengar kata-kata Luhan yang terakhir. “Oh ya Jiyeon-a, bahan persediaan sudah menipis. Apa kau bersedia berbelanja?”
“Aku mau. Tapi aku tidak tahu manapun di sini. Takutnya malah merepotkan lagi karena nyasar.”
“Oh itu… Gurae, Myungsoo akan menemanimu. Eotte?”
Jiyeon membelalakkan kedua matanya. Myungsoo? Namja itu? Jiyeon takut bakalan ada kejadian aneh dan sial lagi jika bersama Myungsoo. Tapi dia tidak mungkin menolak permintaan Luhan yang sudah terlalu baik padanya. Akhirnya Jiyeon mengiyakan tawaran Luhan.

Jam menunjukkan pukul 1 siang. Myungsoo dengan santainya.tiduran di atas sofa panjang dan menatap layar tv. Kadang ia tertawa sendiri melihat acara tv luar negeri. Jiyeon yang melewati ruangan itu memutuskan untuk berhenti sejenak. Memperhatikan namja yang menurutnya aneh. Ternyata benar, aneh. Tertawa sendiri, bicara sendiri. Jiyeon melihat arlojinya.
“Omo! Sudah siang!” seru Jiyeon yang tanpa disadarinya, Myungsoo mengarahkan pandangannya ke arah Jiyeon yang berdiri tidak jauh dari sofa yang ditidurinya.
“Yaak, jangan berisik.” Jiyeon yang mendengar kata-kata Myungsoo barusan malah mendekati namja itu dan duduk di sofa yang satunya.
“Myungsoo-ssi, Luhan oppa bilang tadi kau harus menemaniku belanja.”
Myungsoo terlonjak kaget. Bukan karena Jiyeon mengatakan kalau dia harus mengantarnya belanja. Tapi karena Jiyeon memanggil Luhan dengan embel-embel ‘oppa’.
“Oppa? Kau panggil hyung tadi apa?”
“Oppa. Wae? Kau tidak suka? Apa kau juga mau ku panggil oppa?”
Myungsoo memalingkan wajahnya. “Jangan harap aku mau kau panggil ‘oppa’. Terlalu menggelikan di telinga.”
“Sudahlah, ayo cepatlah bersiap. Hari sudah semakin siang dan di sini panas sekali.”
Myungsoo tak menggubris ucapan Jiyeon. Ia masih asyik dengan kegiatannya menonton tv. Jiyeon kesal. Ingin rasanya dia menendang namja itu atau memukul dan membuangnya ke tengah laut. Tiba-tiba Myungsoo beranjak dari sofa yang mungkin sudah tidak betah diduduki olehnya. Jiyeon hanya memandangnya aneh.
“Wae? Katamu kita harus segera berangkat. Kajja!”
….
Myungsoo dan Jiyeon memasuki supermarket yang berjarak 5km dari villa milik Luhan. Myungsoo memimpin dengan berjalan di depan sedangkan Jiyeon hanya mengekor di belakangnya. Jiyeon melihat-lihat sekelilingnya. Ternyata supermarket ini sama ramainya dengan yang ada di Seoul. Bedanya, supermarket di Seoul lebih besar. Myungsoo berhenti di depan rak minyak goreng. Ia bingung memilih minyak goreng. Akhirnya dapat satu.
Saat ingin meletakkan minyaknya di atas troli, Myungsoo ingat kalau mereka belum mengambil troli dorongnya.
“Pegang ini. Aku mau ambil troli dulu. Kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana.” Myungsoo meyerahkan minyak goreng yang dipeluknya kepada Jiyeon.
“Memangnya aku anak kecil?” protes Jiyeon.
“Kau kan baru pertama kali ke sini. Kalau kau hilang atau nyasar lagi, aku juga yang akan repot,” kata Myungsoo sewot. Jiyeon bertambah kesal.
Kenapa Luhan tidak menyuruh Lay yang menemaninya belanja. Lay kan orangnya baik, tidak seperti Myungsoo yang aneh itu. Myungsoo kembali dengan troli dorongnya. Jiyeon bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana Myungsoo bisa secepat itu.menghafal segala yang ada di sini? Myungsoo seperti peduduk asli yang sudah tahu segalanya.

Troli mereka sudah hampir penuh. Myungsoo mendorongnya menuju rak kue dan snack. Jiyeon mengerutkan kening. Bukankah mereka hanya akan membeli barang-barang yang menjadi kebutuhan utama? Snack.tidak penting, pikir Jiyeon.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Jiyeon.
Myungsoo menoleh sedikit. Dia hanya melirik Jiyeon. “Apa kau tidak tahu? Aku sedang memilih snack yang enak.”
“Snack? Yaak, Kim Myungsoo, sampai kapan kau jadi namja aneh begini. Luhan oppa bilang kita cuma belanja kebutuhan sehari-hari tapi kau malah membeli makanan tak sehat dan membuang uang.”
Myungsoo kesal mendengar kata-kata Jiyeon. Ia membalikkan badan. Menatap dingin yeoja yang berdiri tepat di depannya.
“Kali ini giliranku membiayai kebutuhan selama dua minggu.”
“Mworago?” Jiyeon tidak mengerti.
“Pabbo yeoja…” ucap Myungsoo lirih. Mata Jiyeon melotot. “Kami ber… Berapa ya? Kami berdua, aku dan hyung belanja bergiliran. Dua minggu sekali kami bergantian membiayai kebutuhan sehari-hari. Ara?”
Jiyeon baru tahu ternyata Myungsoo dan Luhan cukup kompak. Mereka mau bergantian membiayai kebutuhan mereka sehari-hari. Kini tak hanya dua namja itu yang tinggal dalam satu villa. Tapi dirinya juga tinggal di sana. Hwayoung juga akan tinggal di villa itu. Jadi, mereka berempat harus bergantian mengeluarkan biaya hidup. Tapi masalahnya Jiyeon belum memiliki pekerjaan. Hari ini Luhan akan mencoba mencari info lowongan kerja di beberapa tempat. Semoga hasilnya sesuai harapan.
“Yaak!” seru Myungsoo membuyarkan lamunan Jiyeon. “Kau mau pulang apa tidak? Semua barang yang kita butuhkan tinggal dibawa ke kasir. Kalau kau mau di sini terus maka aku tidak keberatan.” Myungsoo mengayunkan langkahnya perlahan menuju kasir. Jiyeon mengikutinya di belakang.
Acara belanja hari ini cukup melelahkan bagi Myungsoo karena dia harus memilih barang-barang yang akan dibeli apalagi dia jug harus mendorong trolinya sendirian. Sebenarnya Jiyeon ingin membantu memilih beberapa barang. Namun Myungsoo melarangnya karena takut kalau Jiyeon malah membeli barang yang tidak dibutuhkan.

Di bawah terik matahari yang terasa panas di ubun-ubun, Myungsoo dan Jiyeon berjalan kaki membawa barang-barang belanjaan mereka. Sebenarnya mereka telag naik taxi, namun lagi-lagi nasib malang mengikutu mereka. Taxi yang membawa Myungsoo dan Jiyeon dalam perjalanan sejauh 4 km lebih kini harus masuk bengkel karena mogok. Myungsoo dan Jiyeon terpaksa harus berjalan kaki kurang lebih sejauh 1km dengan belanjaan yang banyak. Tentu Myungsoo tidak sanggup membawa semua barang itu. Dia meminta Jiyeon membawa barang-barang yang ringan. Ternyata Jiyeon juga sanggup membawa barang-barang yang berat karena fisik yeoja itu kuat. Sebagai pemegang sabuk hitam taekwondo, Jiyeon mudah mengangkat barang yang sangat berat untuk ukuran yeoja.
Setelah berjalan selama 20 menit, akhirnya mereka sampai di villa. Pintu villa tidak dikunci. Pasti ada seseorang di dalam.
“Kalian berdua baru belanja?” tanya Lay yang sedang menikmati jus alpukat dingin. Dia baru saja membuatnya sendiri.
Myungsoo melihat jus yang dipegang oleh Lay, dia pun langsung mendekati Lay. “Hyung, bolehkah aku meminta sedikiit saja.”
Lay dan Jiyeon bengong. Bisa-bisanya Myungsoo minta jus milik Lay. Lay pun memberikan segelas jus itu untuk Myungsoo.
Kemudian Lay membantu Jiyeon membawa barang-barang belanjaan ke ruang makan. Mereka meletakkannya di atas meja makan yang tentu saja tidak jauh dari dapur.
Kriiiing…
Ponsel Lay berbunyi. Dilihatnya layar ponsel itu. Rupanya Luhan yang memanggil. “Yoboseo hyung. Wae?”
“Yaak, Lay-a, malam ini orangtuaku akan sampai di rumah.”
“Mwo?” Lay kaget. Jiyeon memandangnya aneh, ada apa gerangan?
“Apa ada yang gawat?” tanya Jiyeon.
Lay menggeleng.
“Yaak, dengarkan dulu. Orangtuaku akan pulang malam ini. Mereka meminta kita memasakkan makanan Jawa kesukaan mereka.”
“Aneh sekali… Kenapa orangtuamu menyulitkan kita seperti itu hyung? Keurom, eotteohkeyo?”
“Aku juga tidak tahu. Apa Hwayoung ada di sana?”
“Eoh. Wae? Apa kau memintanya untuk menyiapkan makanan itu? Oh itu ide buruk. Percuma hyung. Ia tidak bisa memasak.”
“Keunde, siapa lagi yang bisa membantu? Myungsoo?”
Lay seperti ingin muntah mendrngar nama yang disebutkan oleh Luhan barusan. “Bagaimana kalo Jiyeon?”
“Jiyeon? Apa dia bisa? Ya sudahlah, kau atur sendiri. Aku pulang jam 4, nanti akan langsng menjemput appa dan eomma di bandara. Oh ya, jika bahan-bahan yang diperlukan tidak ada persediaannya di rumah, kalian bisa pergi ke pasar tradisional.”
“Eoh, araseo, araseo.” Lay mematikan sambungan teleponnya. Myungsoo mencuci gelas bekas jus alpukat rampasannya, ia mendengar sedikit percakapan antara Lay dan Luhan. “Luhan hyung menghubungimu?” tanyanya yang baru saja meletakkan gelas di rak piring.
“Eoh.” Lay terdiam. “Mana Hwayoung?”
“Aku di sini.” Hwayoung berdiri di belakang Jiyeon. Sedangkan Myungsoo berdiri dekat rak piring yang berhadapan langsung dengan Jiyeon.
“Dengarkan semuanya. Malam ini, orangtua Luhan datang dari luar negeri. Mereka ingin merasakan masakan khas Jawa yang dimasak langsung di sini.” Lay mengakhiri pengumumannya.
“Mworago?” Hwayoung syok.
“Aneh sekali…” gumam Jiyeon.
Myungsoo bersikap cuek. Dia sudah hafal kebiasaan paman dan bibinya ketika baru saja tiba di rumah. “Ahjumma dan ahjussi menyebalkan sekali. Kenapa tidak sekalian meminta kita membersihkan genteng?” timpal Myungsoo yang langsungg mendapat signal dari Jiyeon untuk segera menutup mulutnya. Myungsoo mendengus kesal.
“Masalahnya siapa yang bisa memasak makanan Jawa? Kalau makan sih aku bisa,” kata Lay.
“Serahkan padaku.” Myungsoo angkat bicara. Kali ini sikapnya memang baik dan gentle, tapi bukan sikapnya yang diutamakan melainkan implikasi dari sikapnya.
“Mwo?” ketiga orang yang lain membelalakkan mata.
“Andwae!” seru Jiyeon. Ia tidak ingin melihat kekacauan lain yang ditimbulkan oleh Myungsoo.
“Yaak, apa maksudmu? Kau meremehkanku?” tanya Myunhsoo pada Jiyeon.
“Eoh, aku meremehkanmu. Wae?” ejek Jiyeon.
“Oppa, sebaiknya yang pergi ke pasar tradisional adalah orang yang bisa bahasa Indonesia dan mengerti bahan yang diperlukan,” usul Hwayoung yang mulai bicara setelah beberapa saat tadi hanya diam.
Semuanya setuju dengan usulan Hwayoung. Maka dari itu Lay dan Jiyeon yang berangkat ke pasar tradisional.
“Baguslah aku tidak terpilih. Aku ingin istirahat saja.” Myungsoo beranjak ke kamarnya di lantai dua.

Sepulang dari pasar tradisional, Lay dan Jiyeon mengeluarkan bahan-bahan yang mereka beli tadi lalu mengeceknya di list yang sudah dibuat Jiyeon. Ya, Jiyeon yang akan menjadi koki utama karena dia bisa masak beberapa makanan Indonesia terutama masakan Jawa.
Hari sudah petang. Sebagian bahan yang diperlukan untuk memasak telah disiapkan oleh Jiyeon dan Lay. Lay sedikit tahu tentang bumbu masakan Indonesia karena dari kecil namja itu tinggal di Indonesia.
Tap tap tap…
Suara sepatu yang beradu dengan lantai terdengar dari arah pintu utama. Luhan membawakan barang-barang orangtuanya.
Di depan sepi tidak ada yang menyambut mereka karena semuanya berkumpul di dapur kecuali Myungsoo yang sbuk dengan kegiatannya di kamar.

Tuan dan Nyonya Xi memasuki ruang tengah villa milik mereka, terdengar suara candaan di dapur. Rupanya Jiyeon, Lay dan Hwayoung sedang sibuk menyiapkan alat dan bahan untuk acara mereka nanti. Luhan masuk ke dapur, memanggil mereka bertiga untuk menyambut kedua orangtuanya. Lay, orang yang pertama kali bersemangat menyambut orangtua Luhan. Disusul Hwayoung lalu Jiyeon.

“Annyeonghaseo ahjussi dan ahjumma. Welcome home…” Lay memasang senyum paling indah yang dimilikinya. Begitu juga dengan Hwayoung, ia senang bertemu dengan tuan dan nyonya Xi yang terkenal dengan kebaikan hati mereka, sama seperti puteranya.

Jiyeon membelalakkan matanya ketika pertama kali melihat tuan dan nyonya Xi. Ia tidak menyangka akan bertemu mereka di villa itu.

tbc.

Haaai aku tunggu komennya ya,, apapun pendapat kalian, tuangkan dalam kolom komentar juseyo🙂

39 responses to “[CHAPTER – PART 5] LOST IN BALI

  1. Pingback: [Chapter - Part 7] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s