Happy – Sequel of Come Back Home

nyimasRDA - Happy

nyimasRDA present

Happy – Sequel of Come Back Home

Cast:

Kim Myungsoo

Park Jiyeon

Genre: Romance, hurt, fantasy

Rating: G

-oOo-

Tuhan, apa boleh aku berbahagia? Bersama dengan wanita yang ku cinta? – Kim Myungsoo

-oOo-

Denting-denting jarum jam serta suara yang keluar dari alat bantu pernafasan memenuhi ruangan yang ku tinggali, tiga tahun sudah aku berdiri disini, disudut ruangan tempat tubuh seorang pria – yang adalah diriku – terbaring koma, menatap tubuh itu dan meminta kepada Tuhan untuk memberikan kesempatan untuk kembali tersadar. Kecelakaan, kecelakaan yang menimpahku tiga tahun lalu tengah merenggut semua kebahagiaanku bersama wanita yang ku cintai, Park Jiyeon.

Pintu ruang rawatku sedikit terbuka dan detik berikutnya aku dapat melihat seorang wanita masuk kedalam dengan membawakan setangkai bunga ditangannya. Wanita itu berjalan ke arahku, menggantikan tangkai bunga yang ia bawa kemarin lusa kemudian duduk di samping tubuhku. Wajahnya yang terlihat semakin menirus setiap harinya juga pakaiannya yang semakin tak karuan, belum lagu tubuhnya yang mengurus. Namun itu semua tak mengurangi kadar kecantikannya.

“Selamat pagi, Kim Myungsoo, aku datang.”

Sapa Park Jiyeon, wanita yang ku nikahi tiga tahun lalu. Wanita yang sangat ku cintai, wanita yang begitu berarti sampai-sampai aku harus merelakan karir ku yang telah ku rintis dua tahun setelah kelulusan hanya demi meminangnya. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana aku melamar Jiyeon, saat aku memutuskan untuk kembali dari London dan memulai hidup dengan teman sekelasku saat duduk dibangku kuliah dulu.

Aku berdiri di hadapannya, dengan kotak mungil berisi seuntai kalung dengan initial namanya, menunggu jawaban yang akan mengubah hidupku kelak, bahkan sampai saat ini, aku masih merasakan debaran hatiku kala bertemu atau mendengar suaranya.

“Jiyeon-ah, maaf telah membuatmu lama menunggu, keunde, aku sungguh mencintaimu, kau mau menikah denganku?”ujarku di tengah malam natal tiga tahun lalu, tepat saat jam besar di tengah kota Seoul berdenting.

Dengan linangan air mata, Jiyeon menganggukan kepalanya, menjawab semua pertanyaanku. “Kenapa lama sekali, Myungsoo-ya? Aku bisa saja berpaling saat merasa lelah.”jawab Jiyeon pelan.

Lalu tanganku menariknya, merengkuh tubuh mungil Jiyeon yang masih bergetar lantaran menangisi apa yang aku lakukan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain minta maaf, meminta maaf karena telah membuatnya lama menunggu. Aku tahu, waktu lima tahun bukanlah waktu yang sebentar dan aku sungguh kagum padanya, Jiyeon mau menungguku selama itu.

Jiyeon mengangkat tangannya, mengulurkan jemari lentiknya yang terlihat sedikit pucat kemudian membelai wajahku, lembut. Air mata berlinang di pelupuk mata indah miliknya sampai isakan tangis itu mulai terdengar.

“Bagaimana keadaanmu, sayang? Sudah merasa lebih baik?”

Lebih baik? Jiyeon menanyakan keadaanku disaat ia tahu bahwa sudah tak ada lagi harapan untuku. Ia masih bisa berharap aku menjadi lebih baik, bahkan saat dokter sudah memintanya untuk merelakanku.

“Aku membawakan kau bunga matahari, Myungsoo-ya.”ujar Jiyeon berusaha menahan air matanya. “Kau masih ingat dengan cerita bunga matahari yang kau ceritakan padaku? Kau bilang, bunga matahari hanya dapat hidup jika ia menghadap matahari, kau juga bilang bunga matahari perlahan akan mati jika matahari tak bersinar.”

Aku berusaha tersenyum, mendengarkan setiap celotehan Jiyeon sambil terus mengingat-ngingat bagaimana hari-hari yang aku dan dirinya lalui dulu.

“Seperti itu pula aku. Kau tahu, kau seperti cahaya matahari untukku. Entah sejak kapan, aku juga tidak tahu kapan dimulainya, tapi kini, aku sudah sepenuhnya bergantung padamu, Myungsoo-ya. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan, tapi, aku tidak bisa hidup jika kau tidak ada.”

Sukses, kali ini air mata Jiyeon dengan sukses membanjiri pipi tirusnya, turun sampai ke dagunya yang lancip hingga menetes tepat di pungguh tanganku. Jiyeon, Park Jiyeon, bagaimana bisa kau mengatakan kalau kau tidak bisa hidup tanpa aku? Padahal kenyataannya aku lah yang terus bergantung padamu. Jika saja kau tak mengunjungiku, tak mendoakan dan terus mengharapkan kesembuhanku, aku yakin, aku pasti sudah pergi sejak tiga tahun lalu. Kau, kau selalu menjadi penyemangatku, kau selalu menjadi Matahari untukku, Jiyeon-ah.

“Cepatlah bangun, Myungsoo-ya, jebal.”pinta Jiyeon sambil lalu memeluk telapak tanganku, menangis tersedu disana.

Selama tiga tahun ini, aku selalu mendengar dan melihat dirinya seperti ini. Menangisi keadaanku, mengharapkan kesembuhanku. Sekali lagi, aku dibuat kagum olehnya. Selama tiga tahun ia menungguku, mendoakanku, juga menangisi kesehatanku yang tak juga membaik. Bahkan orang tua, dokter juga diriku sendiri sudah mulai lelah dengan keadaan ini.

“Aku hampir putus asa, Myungsoo-ya. Aku hampir melepaskanmu. Karena itu, aku mohon, segeralah bangun. Kembalilah padaku selagi aku masih sanggup bertahan.”

Jiyeon-ah, apa aku terlalu menyiksamu? Aku ini terlalu berat untukmu? Apa aku sudah tak tahu diri? Memintamu menungguku selama tiga tahun setelah sebulan kita menikah, apa ini sudah keterlaluan? Yah, aku tahu aku keterlaluan, aku bahkan sempat meminta pada Tuhan untuk mencabut nyawaku saja. Melihatmu setiap hari datang dengan setangkai bunga, menangis dalam diam, sendiri, itu membuatku sakit. Lantas aku meminta pada-Nya, meminta untuk mencabut nyawaku, meski aku tahu, diriku sendiri tak sanggup meninggalkanmu.

“Kau tahu apa yang dibicarakan para dokter tentang keadaanmu, Myungsoo?”

Aku terkekeh pelan, tentu aku tahu, aku sangat tahu apa yang dikatakan dokter itu, Jiyeon sayang. Mereka berdiskusi tepat di depan tubuhku, lalu bagaimana caranya aku tidak tahu apa yang mereka katakan.

“Mereka bilang kau sudah tak ada harapan lagi..”isak Jiyeon. “Dokter macam apa mereka, bagaimana bisa mereka mengatakan hal-hal bodoh seperti itu. Bukankah seharusnya mereka menguatkanku? Meyakinkanku bahwa kau akan sembuh? Tapi kenapa, kenapa mereka justru mengatakan hal buruh seperti itu.”

Jiyeon sayang, waktu tiga tahun terbaring koma bukanlah waktu yang sebentar. Mungkin aku memang sudah tidak ada harapan lagi. Mungkin semua pengorbanan dan doamu selama ini sia-sia. Mungkin aku memang tak bisa lagi disembuhkan.

“Myungsoo-ya, aku berjanji, jika kau bangun nanti, aku akan berhenti bersikap kekanakkan, aku tidak akan merengek, memintamu membelikan boneka atau apapun.”Jiyeon menarik telapak tanganku, mendekatkannya pada pipi tirus Jiyeon. “Apa mungkin kau seperti ini karena kau jengah dengan sikapku? Begitukah? Myungsoo-ya, mianhe, mianhe, maafkan aku jika aku selalu membuatmu kesal dengan sikapku. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi, karena itu, aku mohon, bangunlah. Myungsoo, jebal, jangan siksa aku seperti ini.”

Jiyeon mulai menjerit, memukul-mukul tubuhku dan mengguncangnya dengan sedikit lebih kuat dari biasa.

“Jiyeon-ah, tenanglah, jangan seperti ini.”ujar Eomma yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping tubuh kurus Jiyeon.

“Eomma, aku sudah tak tahan. Apa yang harus aku lakukan agar Myungsoo mau kembali padaku.”jerit Jiyeon.

Eomma semakin erat memeluk Jiyeon sampai akhirnya semua terjadi. Derap langkah mulai terdengar, suara nging panjang mengisi seluruh ruangan, garis lurus panjang terlihat dari dalam monitor EKG dan isak Jiyeon semakin besar.

“Nyonya, harap anda menunggu diluar.”ujar dokter muda yang biasa merawatku.

“Myungsoooo! Jangan tinggalkan aku, jebal, aku mohon kembali.”jerit jiyeon.

Air mata ku menetes, menyaksikan bagaimana tubuhku dikejutkan oleh alat defibrillator.

“Suster, 200 joule, all clear?”tanya dokter yang terlihat lebih tua.

“Clear.”jawab suster bersama anggukan kepalanya dan detik berikutnya tubuhku terhentak keatas.

Lama, waktu seakan berjalan sangat lama sampai akhirnya monitor EKG mengeluarkan suara lain.

“Kau tak ingin kembali ke tubuhmu?”

Aku menolehkan pandanganku, mencari sumber suara dari berbagai arah, sampai akhirnya aku mendapati sesosok makhluk berjubah hitam berdiri dibelakangku.

“Bukankah aku seharusnya sudah meninggal? Dokter-dokter itu bilang sudah tidak ada lagi harapan untukku.”

Terdengar tawa menggelegar kala pertanyaan itu meluncur mulus dari bibirku.

“Kau sungguh ingin mati? Meninggalkan wanita yang sangat kau cintai?”

Aku menggeleng cepat.

“Tuhan begitu murah hati, Ia memberikan kau kesempatan untuk terus hidup dan menjaga istrimu.”

“Lalu bagaimana caranya aku kembali pada tubuhku?”

“Tutup matamu dan bayangkan saat paling indah, maka kau akan kembali pada tubuhmu, menjalani kehidupanmu yang belum saatnya berakhir.”

Makhluk berjubah hitam itupun menghilang, bersama dengan pandanganku yang semakin nyata.

-oOo-

Harum kopi menyeruak tajam, memaksa masuk kedalam hidungku bersamaan dengan sinar matahari yang malu-malu menyentuh tubuhku. Aku tersenyum samar saat tangan mungil seorang wanita menyentuh punggungku.

“Oppa, ireona.”lantunan suara merdu Park Jiyeon masuk ke dalam telingaku. “Bukankah hari ini jadwal kita terapi? Ayo cepat bangun, aku sudah siapkan sarapan untukmu.”

“Lima menit lagi, Jiyeon-ah.”jawabku pelan berusaha menutupi wajahku yang sesungguhnya sudah segar sejak lima belas menit lalu.

“Tidak bisa, Oppa. Kita ada janji dua jam lagi, jadi kau harus segera bangun, bersiap dan sarapan, setelah itu kita langsung pergi ke rumah sakit. Dokter Jung sudah mengingatkan janji kita sepuluh menit lalu.”

Jiyeon membantuku untuk duduk dari tidurku, ia tersenyum sangat cerah sampai aku rela menukarkan apapun milikku hanya untuk terus melihat senyumnya.

“Sudah mau mandi sekarang?”tanya Jiyeon yang ku jawab dengan anggukan kepala.

Jiyeon segera melingkarkan tanganku pada pundaknya, memapahku untuk masuk ke dalam kamar mandi. Yah, seperti inilah keadaanku sekarang. Setelah kecelakaan dan koma selama tiga tahun, beberapa jaringan tubuhku tak bekerja secara sempurna. Aku harus melakukan terapi berjalan selama setahun ini dan Jiyeon, Jiyeon masih begitu setia sampai saat ini. Ia bahkan terus menguatkanku, mengatakan kalau aku akan segera berjalan secara normal. Bagaimana bisa aku tidak mencintai wanita sebaik Jiyeon? Bagaimana bisa aku berpaling darinya? Aku sungguh lelaki paling beruntung di dunia ini karena memiliki Jiyeon sebagai istriku.

“Jiyeon-ah..”lirihku pelan membuat Jiyeon menghentikan aktifitasnya membuka bajuku.

“Ne Oppa?”

“Gomawo..”ujarku pelan yang disambut senyuman oleh Jiyeon.

-oOo-

“Oppa, kenapa bunga matahari selalu menghadap matahari?”

“Karena bunga matahari tidak bisa hidup tanpa cahaya matahari.”

“Eh? Benarkah begitu?”

“Tentu saja, sama sepertiku yang tidak bisa hidup tanpa kau Jiyeon. Kau tahu, kau itu seperti matahari untukku. Karenanya, tetaplah disisiku, sehingga aku bisa terus hidup, teruslah menyinariku, karena aku hanya melihat kearahmu.”

-oOo-

Tuhan, dulu, saat aku masih terbaring koma, aku pernah mengajukan satu pertanyaan pada-Mu. Dan kini semuanya terjawab. Terima kasih atas kemurahan hati-Mu Tuhan, terima kasih atas kesempatan untukku hidup bahagia, bersama wanita yang aku cintai. Terima kasih.

end

58 responses to “Happy – Sequel of Come Back Home

  1. Wow sungguh kagum sama jiyeon… penuh kesabaran dan setia. Such an angel ftom heaven..
    Feelnya dapet…. sempet sedih sama keadaan mereka. Ditunggu ff myungyeon lainnya author-nim

  2. aaaaaaaaa ini sukses buat aku nangis._.😥 huwaaaa keren banget jiyeon nunggu 3 taun😥 mana sebelumnya dia udah nunggu 5 taun😥 jadi kalo dijumlahin jiyeon itu nunggu selama 8 taun😥 aaaa itu keren bangeeeettt😥
    akhirnya happy end juga setelah nyesek-nyesekan😀 haha suka! keren! ditunggu ff myungyeon lainnya^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s