Agitated Mind

Agitated Mind

Agitated Mind

Cast : Choi Minho, Choi Sulli

Length : Oneshoot

Genre : Surrealism, lil bit Horror, Absurd

Rating : PG- 15

Disclaimer : Hanya secuil kata yang mewakili bongkah demi bongkah khayalan yang melayang dikepala. Hanya untuk sesaat, jangan diulang-ulang. Sifat dan karakter tokoh dirombak secara fantastis. Yang sebenarnya milik mereka yang berhak. Hanya untuk setengguk semata!

Selamat membaca!

Ketakutan mengiris cuil demi cuil sisa keberanian yang ada

Hingga ketakutan yang menjadi kenyataan itu seolah candu yang ingin dihisap setiap hari

                Sulli baru menyelesaikan pekerjaannya sekitar tengah malam.Baru setengah jam yang lalu salah satu rekannya yang terakhir pulang. Kantor terlihat sangat remang dan sepi. Sinar bulan samar-samar mengintip lewat jendela. Meluluhlantahkan setiap pertahanan setiap pemberani. Setelah mengurus data diri klien yang sedang Sulli tangani ia berniat untuk pulang. Sulli menarik napas pelan, menyalurkan rasa letihnya yang amat sangat. Terkadang udara malam terasa begitu mencekik. Masuk dan bertukar di alveolus meninggalkan rasa berkedut yang sangat. Sulli menghapus peluh letihnya.

Jarum jam berdetak cukup keras

Di areal parkir itu hanya tertinggal van hitamnya seorang. Mematung seperti seekor anjing pitbull menunggu tuannya datang. Sulli menekan tombol kuncinya lalu benda hitam itu berbunyi beep. Dari kaca mobil, paras Sulli terlihat sangat pucat entah karena kelelahan ataupun kulitnya yang memang sangat cerah. Belum sempat ia memegang gagang setir lagi-lagi ia merutuki dirinya sendiri. Ada yang terlupa. Beberapa berkas yang berhubungan dengan kliennya. Bekerja di sebuah agen pencarian orang hilang dan orang bersamasalah bukan perkara mudah. Setiap hari ia harus mengurusi puluhan ibu-ibu atau puluhan petinggi negara yang mengaku anaknya hilang, ataupun juga mengurusi masalah peneroran dan sebagainya. Disetiap tindakannya ia harus berhati-hati, mendiami jabatannya yang sekarang ia banyak punya musuh. Ia harus pandai mengatur siasat. Salah satunya meninggalkan barang bukti yang bisa dicuri musuh kapan saja, itu bukan pilihan. Sungguh. Gadis itu membenturkan dahinya ke gagang setir.

Sulli keluar dari mobil, berniat kembali ke ruang kerjanya.

Sepasang mata mengawasi

Bulu tengkuknya berdiri. Ia berdeham untuk mengusir halusinasi aneh. Bukan sekali atau dua kali ia pulang selarut ini. Jadi gangguan seperti ini tak jarang ia rasakan. Serangkaian komat-kamit ia rapalkan sepanjang jalan. Sejatinya Sulli adalah gadis pemberani. Hantu atau terorispun tak jua membuatnya limbung. Tetapi ini sangat aneh. Semakin ia mendekati gedung tempat kerjanya, rasa aneh itu semakin menjalar. Merasuk di sela-sela dendritnya dan menembus otak. Menimbulkan efek halusinasi liar yang tak kunjung lenyap. Bagaimana jika seseorang mengawasinya? Bagaimana jika dia mafia? Bagaimana jika..

Sulli berbalik, memastikan seseorang sedang menatapnya.

Kosong.

Hanya kehampaan udara serta remangnya malam yang bersandar di belakangnya. Sulli mencoba menampik pikiran-pikiran itu. Meskipun dirinya yakin saat ini adalah waktu yang tepat bagi musuh untuk menyergapnya. Dengan kondisi lelah seperti ini. Sulli mempercepat langkahnya. Ia memasuki lift kemudian menekan tombol 12 –lantai ruang kerjanya.

Ruang tertinggi itu tampak sepi dan menyeramkan. Pot bunga setinngi satu meter di ujung lorong berkilat tertimpa sinar bulan. Daunnya seakan meraung dan melambai di gelapnya malam. Mengerikan. Sulli mengabaikannya. Ia bergegas ke ruangannya dan mengambil berkas-berkas dan beberapa benda.

Suli sengaja tak menyalakan lampu ruangannya. Ia berfikir akan sangat tidak bijak menyalakan lampu bila tidak diperlukan. Toh ia hanya masuk sebentar. Tanpa ia sadari tengkuknya mulai berkeringat. Mustahil, padahal malam ini begitu dingin menggigit. Ia mencoba merapikan ujung rambutnya. Mengikatnya agar keringat di tengkuknya berhenti mengalir.

Sinyal itu makin kuat.

Sulli semakin was-was. Ia memegang ponsel. Berjaga-jaga apakah ia akan di terror sekarang. Sangat lucu mengingat ia adalah seorang detektif. Belum pernah ia membaca satu Headline pun tentang seorang detektif yang dibunuh mata-mata. Ayolah, bukankah setiap detektif itu mata-mata.Pikiran liar silih berganti seperti kabut tipis yang menggelayuti pikirannya. Erangan-erangan itu seperti ombak di tengah oase yang kering kerontang. Ini Cuma malam. Malam yang sangat larut dan menyeramkan. Baru kali ini ia merasa terancam dan tersudut. Terlebih untuk sosok jangkuk berparas manis tersebut. Suli segera berlari menuju mobilnya.

***

Hari berikutnya berlalu dengan cepat. Agaknya mentaripun ingin cepat mengucapkan selamat tinggal. Tiba setelah waktu makan siang, Sulli harus merelakan waktu istirahatnya terenggut. Ia harus menyelesaikan beberapa proposal yang harus ia serahkan pada bosnya nanti malam. Seseorang mengulurkan secangkir kopi ke arahnya. Kepulan asap itu tepat membentur pipi Sulli. Luapannya yang hangat mau tak mau membuat hidungnya beringsut. Sulli langsung mendongakkan wajahnya. Jo Sang Wook, salah satu rekannya. Bukan rahasia lagi jika lelaki itu sering memberikan sesuatu pada Sulli, entah itu makan siang atau benda-benda unik. Pria itu tak malu mengakuinya, toh seluruh kantor juga tahu. Sepertinya lelaki itu sungguh menyukai Sulli, sayang sekali gadis itu selalu menampiknya.

“Sepertinya tidak baik menawarkan kopi disaat perut kosong. Aku janji akan mentraktirmu makan malam.” Ujarnya. Sang Wook merasa kikuk saat Sulli tak kunjung meraih cangkirnya. Ia letakkan begitu saja cangkir itu disebelah komputer Sulli. Setelah mendapat anggukan kecil dari Sulli, pria itu beranjak pergi.

“Tunggu!” teriak Sulli pada akhirnya. Sang Wook yang hampir menjauhinya berbalik dengan bingung. Ia memaksakan tersenyum meski dirinya sendiri tak yakin Sulli telah menahannya untuk pergi. Bagaimanapun juga, mendapat satu respon kecil dari orang yang kau cintai adalah perkara yang besar. Dan menyenangkan tentunya.

“Apa kau tidak ada acara malam ini?” Sulli bertanya dengan sedikit canggung. Untuk pertama kalinya ia mengajak Sang Wook untuk menemaninya. Lelaki itu sedikit terkejut lalu mengiyakan dengan sopan.

Ketakutan mulai menjalar

***

Sang Wook siap memacu mobilnya. Tangannya sedikit bergetar karena disampingnya Sulli sedang duduk dengan tenang. Berbanding terbalik dengan pikiran Sang Wook yang berkecamuk. Ia senang bukan kepalang saat Sulli memintanya untuk menemani dirinya. Meskipun itu hanya mengantar gadis itu menyerahkan proposal pada bos mereka.

“Tidak biasanya kau meminta seseorang mengantarmu?” Sang Wook berkata sambil memutar kunci mobilnya. Sulli hanya diam. Kemudian ia menatap pemuda itu yang sedikit banyak membuat Sang Wook terlonjak kaget. “Aku tidak tahu. Aku hanya ketakutan.”

Suara mobil berderu, mengalahkan suara bincang-bincang beberapa security di ujung areal parkir. “Kau… ketakutan?” Sang Wook menginjak pedal gas dan mobil melaju perlahan. Meninggalkan areal parkir yang masih dipenuhi mobil. “Sebenarnya aku tak pernah merasa setakut ini. Hanya saja kemarin malam aku merasa terawasi.” Sulli menyandarkan kepalanya ke kursi. Tiba-tiba saja bau mobil itu serasa berbau Sang Wook,sangat khas. Bau maskulin lelaki itu meresap bahkan sampai ke kursi mobilnya. Dan Sulli tak tahu mengapa ia merasa lebih nyaman seperti itu daripada merasa terawasi seperti kemarin. “Mana ada seseorang yang menganggumu di malam buta. Kecuali… ah tidak.” Seru Sang Wook sebelum ia menggeleng. Tidak jadi mengutarakan maksudnya.

“Kecuali apa?” Sulli asal mengatakannya. Ia tetap bersandar di kursi dan merasakan aroma Sang Wook yang menggelitik. Dalam duduknya Sang Wook tertawa kecil. “Setidaknya aku belum pernah mendengar jika kantor kita ada penunggunya.”

“Hantu? Mana ada hantu yang berani padaku.” Jawab Sulli. Aroma Sang Wook semakin nyaman, melarutkannya hingga ia tenggelam dalam lautan mimpi. .

Seseorang hampir menggigitku.

Sulli terlonjak saat Sang Wook menggoyangkan tangannya. Keringat bercucuran melalui pelipisnya. “Apa kau bermimpi?” tanya Sang Wook. Sulli dengan tegas menggeleng. Itu semua seperti nyata. Terlalu munafik untuk dilupakan begitu saja. “Aku harap begitu.”

Sulli membuka tasnya. Mencari-cari map yang berisi proposal yang sedari tadi ia kerjakan. Setelah menemukannya ia meminta Sang Wook untuk menunggunya. “Aku tidak apa-apa. Aku akan segera kembali.” Ucap Sulli. Ia langsung keluar mobil dan bergegas menuju kantor bosnya.

Didalam lift ia terus berfikir. Beberapa hari ini mimpi yang dialaminya terlalu nyata. Seolah-olah saat itu raganya memang mengalami kejadian dalam mimpinya. Sesuatu yang membuatnya sangat takut adalah seseorang yang mengincarnya. Bahkan puncaknya saat ia bermimpi di mobil Sang Wook, ia akan digigit. Mustahil jika manusia normal ingin menggigitnya. Ia menggosok lehernya sendiri sebelum memasuki ruangan bosnya.

Sulli mendapati Sang Wook sedang meneggak minuman soda saat ia menghampirinya. Lelaki itu menawarkannya satu pada Sulli sebelum gadis itu menolaknya. “Kita pulang saja, ini terlalu larut untuk makan malam.”

Sang Wook mengangguk kemudian membukakan pintu untuk Sulli. Gadis itu memasuki mobil dan aroma Sang Wook sudah menyambutnya. “Apa kau memakaikan parfum yang sama pada mobilmu?”

Sang Wook yang mencoba keluar dari areal parker lalu menjawab dengan asal. “Tidak juga. Mungkin karena hanya aku yang memasukinya. Jadi hanya bauku yang tertinggal. Kurasa nanti bau kita akan bercampur.”

Sulli tersenyum singkat. Ia mengeluarkan ponselnya. Memeriksa beberapa pesan yang ia abaikan sejak pagi tadi. Beberapa pesan dari ibu dan kakanya. Sudah makan? Aku punya anjing baru. Kau sudah mencoba kopi di kedai depan rumah kita? Ada sekitar sepuluh pesan yang semuanya bermuara pada dua orang cerewet yang melengkapi hidupnya. Sulli tersenyum kaku.

Ada satu pesan tanpa nomor di bawah pesan kakanya.

00.00

Apa arti angka itu? Apa itu menunjukkan waktu? Mengingat saat itu sudah pukul 23.55 KST. Lima menit sebelum tengah malam. “Sang Wook…”

“Ya.” Jawab lelaki itu tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Sulli cepat-cepat memasukkan ponselnya kedalam saku. “Apa kau tak keberatan jika mengantarku sampai rumah?”

Pertanyaan itu langsung disambut anggukan oleh Sang Wook. Ban berdecit saat melewati tikungan. Terdengar beberapa anjing menggonggong di tepi jurang. Berkoar-koar bertemu dengan teman mereka. Sulli meremas tangannya karena khawatir. Tetapi setelah Sang Wook memastikan bahwa ia akan mengantarnya sampai rumah, itu membuatnya sedikit tenang.

Sinyal aneh itu datang lagi.

“Hentikan mobilnya!” Sulli berteriak. Sang Wook yang sedang konsentrasi menyetir secara tiba-tiba menginjak rem. Sehingga tubuh mereka berdua berguncang. “Sulli, kau baik-baik saja?” Kata-kata Sang Wook terlihat khawatir. Apalagi saat ia melihat keringat bercucuran di wajah Sulli.

Sulli langsung melingkarkan kedua tangannya di bahu Sang Wook. Ia mendekap lelaki itu erat. Mengabaikan sikap terkejut Sang Wook. Ia merasa sangat ketakutan. Tanpa berkata apa-apa Sulli mulai menangis. Air mata bercucuran dari kedua matanya. Ia tak peduli jika kemeja Sang Wook akan basah karena air matanya. Lelaki itu pasti pandai mencuci.

Ia menyaksikan sendiri jam di mobil itu menunjuk angka 00.00

***

Sebenarnya hari itu ia berniat untuk tidak masuk kerja. Dengan alasan ia akan mengunjungi keluarganya di Busan. Tetapi karena tugas yang harus ia rampungkan hari itu juga, niatnya urung. Sulli mendengus. Tujuan utamanya bukan untuk mengunjungi keluarga, melepas rindu ataupun yang lain. Ia hanya pergi untuk berlindung dari ketakutan yang semakin mencekiknya. Hanya itu sebenarnya.

“Apa kau sudah mendingan?” tanya Sang Wook. Lelaki itu mengambil sebuah kursi lalu menyeratnya di dekat Sulli. Ia menempelkan telapak tangannya di dahi Sulli, memastikan bahwa gadis itu tidak sedang demam atau sakit. “Tidak apa-apa. Kemarin aku hanya ketakutan. Ngomong-ngomong terima kasih.”

Sang Wook belum sempat membalas terima kasih dari Sulli. Ponselnya berdering dan bergetar. Dari arah Sulli ia yakin lelaki itu sedang memaki benda putih yang ada di genggamannya itu. Ia mendapat telepon dari atasannya. “Maaf aku harus pergi.” Sang Wook langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Sulli. Hingga diujung ruangan dengan sangat pelan lelaki itu mengacak rambutnya. Sebuah selebrasi penyesalan yang sebenarnya amat kentara.

Pikiran aneh kembali berkecamuk dalam diri Sulli. Bagaimana malam ini akan ia lewati. Sangat tidak mungkin meminta Sang Wook utnuk mengantarnya lagi, meski ia yakin lelaki itu sangat menyetujuinya. Sulli mencoba menghapus pikiran-pikiran itu, ia mencoba fokus pada apa yang akan ia kerjakan sekarang.

Sulli selesai mengupload beberapa data dan menyelesaikannya tepat jam 10 malam. Setidaknya 2 jam lebih awal dari tengah malam. Ia segera menuju areal parkir kemudian bergegas pergi. Sebelum memasuki mobilnya tak lupa ia mengecek apakah ada benda yang tertinggal. Ia tak ingin kejadian kemarin malam menimpanya lagi.Setelah yakin tak ada yang tertinggal ia mencoba membuka pintu mobil. Selang beberapa sekon terdengar deruan mobil yang berasal dari sudut areal parkir. Dahi Sulli berkerut mengingat ia adalah orang terakhir yang pulang kerja. Mobil itu melaju melewati Sulli. Saat Sulli mencoba mengalihkan pandangannya, ia yakin benar mobil itu sedang berhenti.

“Sulli-ssi!” teriak seseorang itu.

Sulli membalikkan badannya. Memicingkan mata hingga ia menangkap seorang laki-laki. Seseorang berjas hitam sedang melongokkan kepalanya dari dalam mobil. Jarinya menunjuk kearah Sulli. “Minho?” Sulli bergumam.

Pria yang ia yakini Minho itu keluar dari mobilnya. Ia membenahi ujung jasnya yang kusut. “Aku tak menyangka kau pulang selarut ini.” Ucap Minho saat ia mulai dekat dengan Sulli.

Sulli mengangguk mantap. “Bukankah kau yang bernama Minho kan?” tanya Sulli kemudian. Pertanyaannya dibalas dengan senyuman yang manis. “Choi Minho dari bagian penyelidikan. Apa kau butuh tumpangan?”

Sebenarnya sangat tidak sopan mengajak seseorang yang tak dikenal. Apalagi baru kali ini Sulli bertatapan dengan Minho, setelah sebelumnya mereka sempat berbagi gula saat menuang teh. Suara-suara ajakan Minho terdengar seperti mantra yang memblokade setiap pertahanan. Memaksa Sulli untuk mengangguk malu menyetujui. Kau gila, siapa lelaki itu. Sulli merasa tertarik dengan ajakan itu. Rasa takut yang semakin membuatnya kacau membuatnya mengiyakan ajakan Minho. “Dengan senang hati.”

Berbeda dengan Sang Wook yang aroma mobilnya senada dengan baunya. Aroma mobil Minho lebih elegan dan memabukkan. Meski Sulli baru pertama kali berbicara dengan Minho, setidaknya ia tahu bau Minho berbeda dengan apa yang ia hirup di mobil. Anehnya Sulli merasakan kenyamanan saat menghirup bau itu. Lebih dari rasa nyaman yang ia dapatkan di mobil Sang Wook. “Apa kau menyukainya?”

Sulli terlonjak, Ia sedikit tersipu saat Minho mendapatinya tengah mengendus bau di mobilnya. “Aku menyukai bau seperti ini. Tapi kurasa banyak wanita yang tak menyukainya, bahkan ibuku pun tidak.” Seru Minho sambil terkekeh. Sulli menatap Minho dengan heran. Ia mengamati lekukan tubuh lelaki itu yang sangat tegas. Baru kali ini ia berfikir bahwa Minho adalah lelaki yang sangat tampan. “Aku menyukainya.”

Minho tak menjawab karena ia sedang konsentrasi menyetir. Tapi Sulli yakin lelaki itu pasti mendengarnya. Lamat-lamat Minho bersenandung dengan bibir tipisnya. Ia mematikan lampu dalam mobilnya. “Baunya akan semakin baik jika dinikmati saat gelap.”

Mobil mulai meredup dan Sulli bisa mencium bau mobil yang semakin kuat. Aroma seperti kayu bercampur bunga menjadi sangat nyaman. Menyerobot masuk ke dalam hidungnya yang sangat familiar dengan bau kantor yang sesak. Bau-bau itu seperti hitam ditengah putih, oase di tengah gurun, sangat menyenangkan. Ia mencoba menikmati bau-bauan itu sampil terpejam.

Sinyal aneh itu datang.

Sulli membuka matanya lagi. Jam digital yang bersinar merah itu masih menunjukkan pukul 22.45 malam. Tidak terlalu larut. Setidaknya masih jauh dari angka 00.00. Angka yang selalu membuatnya menggigil dan bergidik.

Semakin dekat

Sulli hampir menjerit. Sebelum ia meminta Minho untuk menghentikan mobilnya, lelaki itu sudah menginjak pedal rem terlebih dahulu. Sulli dibuat bingung. Minho dengan cekatan menyalakan lampu mobilnya. “Kau merasa ketakutan?”

Sulli membelalakkan matanya. Ia tak menyangka lelaki itu bisa merasakan ketakutannya yang semakin kuat. “Kau tahu? Bagaimana bisa?”

“Bahkan dalam gelap pun aku bisa merasakan deru nafasmu yang tak teratur.” Minho menjelaskan. Dengan gesit lelaki itu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sulli. Melakukan hal yang sama dengan Dong Wook. Meskipun tujuan mereka jelas berbeda. Ia mengarahkan telapak tangannya turun untuk membelai pipi Sulli yang anehnya tanpa ada niatan untuk ditolak. Gadis itu merasa pikirannya berkecamuk. Ia merasa ketakutannya semakin menjadi saat kedua iris Minho menusuk kedua matanya. Ketakutannya sangat nyata hingga ia berfikir Minho lah yang membuatnya ketakutan selama ini. Minho membelai pipi Sulli dengan lembut. Keringat mulai bercucuran dari dahi Sulli. Seperti balon yang tertusuk air. Mengucur dengan pasti. Tanpa melepaskan kontak mata antara mereka. Paru-parunya serasa sesak. Bahkan seperti melembung menusuk tulang rusuknya. Minho mengarahkan tangannya yang lain untuk membelai pipi kanan Sulli. Ia mendongakkan gadis itu untuk menatapnya. Mendekatinya. Mengarahkan kedua belah bibir itu kearah Sulli. Saat bibir Minho mulai dekat dengan bibirnya, Minho malah menurunkan wajahnya. Beralih pada leher Sulli. Seluruh darahnya berdesir di bawah vena. Di tengah pikirannya yang bergelontar luar biasa, gadis itu masih bisa meraih tangan Minho yang terasa sangat dingin. Sulli terpejam dan tangannya menggenggam.

Ciuman Minho terasa sangat runcing dan dalam.

Ribuan volt serasa membanjiri tubuhnya. Menusuk-nusuk hingga jantungnya serasa akan pecah. Ia merasa dunianya berputar. Ditengah warna hitam dan putih yang membuatnya hampir muntah. Ia mencengkeram bahu Minho dan mendorongnya. Saat ia membuka mata, penglihatannya semakin tajam. Warna disekelilingnya terasa lebih jelas dan berwarna. Hitam serasa lebih pekat dan merah serasa lebih menyala. Ia melihat bibir Minho dipenuhi darah, yang ia yakini adalah darahnya sendiri. Gadis itu bahkan tak sanggup untuk menjerit.

Sulli membelai lehernya sendiri dan merasakan ada guratan diantara lehernya yang masih basah akan darah. Menyadari hal itu, bulir-bulir air mulai mengucur deras dari pelupuknya. Di tengah sinar bulan yang keperakan ia bisa melihat gigi Minho yang mulai meruncing.

Anehnya ketakutan itu membuatnya lebih nyaman

Dalam diri yang sekiranya telah berubah

Menjadi satu jenis yang lebih sama

End.

Waks ini beneran udah end sampe sini :# Sejatinya aku belum nemuin konflik sama akhirnya. Yang nyantol di kepala cuma rasa takut Suli yang berlebihan. Sisanya ngalir kayak air mancur. Ini sih aku terinspirasi sama lagunya f(x) yang Dracula. Itu loh yang lagunya tenang banget kayak nina bobo. #diguyures

Berawal dari inspirasi nakal tentang arti jeritan di lagu itu. Well, emang sih aku setuju banget kalo pas ketemu sama dracula itu jeritnya pake nada tinggi kaya gitu. Gak cuma dracula aja sih, kalo hantu pribumi juga cocok di tereakin kayak gitu. Dari albumnya di f(x) yang lampu merah itu aku paling suka sama lagu Dracula. Dari judul kan gak ngebosenin ya. Terus lagu sama efek back songnya yang bisa bikin menggigil pas malem. Pokoknya TOP bingit.

Oke, jangan nanyain soal ending. Aku juga ga tau kenapa adegannya kayak *hening

dor

Ya wajar lah ya aku udah 17 tahun terhitung semenjak 14 september lalu wahaha

Ga nyambung sama ceritanya yaudah jangan baca, muak sama diksi yaudah lupain aja, males sama konflik yang itu aja yaudah tabokin itu laptot. Asal jangan muntah pas liat poster aja. Itu udah lebih sangat mencukupi diatas garis cukup😀

Aku gak menjanjikan tulisan yang bagus saat ini, mengingat hasil2 ku yang semakin menurun kayak prosotan😥

Akhir kata selamat membaca! telat

One response to “Agitated Mind

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s