The Heir’s Secretary (3rd chapter)

 

the heirs secretary

Arin  yessy

Presents

The Heir’s Secretary (3rd chapter) 

Read the recent chapter on category ‘arin yessy’ in the sidebar

| starring : Kim Myungsoo, Park Jiyeon, Kim Woobin | support cast : Daniel Henney | genre : AU, drama, family, romance | lenght : multichapter | rated : PG-15 |

Happy reading and don’t forget to leave your comments ^^

Sorry for typos and bad story

Apa yang? Sampai kapan ia akan terus menjadi sekretaris kim myung soo? Dan bagaimana ini, hari ini tepat seminggu ia bekerja di perusahaan kim jong suk dan gadis itu bahkan belum menemukan satu pun petunjuk tentanf apa yang harus ia lakukan? Namun yang pasti Ia tetap harus waspada pada putera kim jong suk. Ia bukanlah laki-laki yang gampang sekali di bodohi. Dan sikap manisnya benar-benar patut di pertanyakan.

“Woobin-ah..” jiyeon berteriak antusias tepat ketika pintu bus terbuka. Sosok laki-laki yang sangat ingin ia temui bersandar santai di samping mobil sport hitam keluaran terbaru tak jauh dari halte pemberhentian bus.

“Yak, park jiyeon,, kenapa kau lama sekali eoh?”

“Mian, aku baru berhasil keluar dari neraka sekarang..” jiyeon menghampiri woobin sambil berlari-lari kecil bahkan gadis itu hampir membuat tubuh bagian belakang woobin membentur kaca mobil dengan keras akibat dirinya yang kelewat  terlalu antusias untuk memeluk sahabat satu-satunya yang ia miliki, ah bukan memeluk tepatnya, tapi menubruk dengan brutal.

“Aigoo.. Jiyeon-na..”

“Wae?”

“Kau kelihatan lebih berisi sekarang, aku hampir terjungkal ketika kau menubrukku”

“Benarkah? Apakah aku gemuk? Apa???!!” jiyeon menatap refleksi dirinya dalam kaca mobil woobin sambil berteriak heboh. Ia tak percaya, baru seminggu ia bekerja di KJS group dan ia sudah bertambah gemuk.

“Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali?” sahabat laki-lakinya itu tergelak sambil menyenggol bahu jiyeon sekilas.

“Ah..! Dasar kau,” gadis itu melemparkan handbagnya ke arah woobin dan merangkulkan pergelangan tangganya pada lengan kokoh sahabat terbaiknya.

“Kajaaa….”

“Mau kemana?”

“Refreshing..”

“Yak, park jiyeon.. Berhentilah minum!” Woobin merebut paksa gelas terakhir dalam genggaman jiyeon tepat ketika gadis itu hendak menegguknya.

“Woobin-ah.. Satu kali saja” rengeknya namun tak cukup berhasil untuk membuat woobin mengembalikan gelas berisi minuman beralkohol sejenis bir itu.

“Kau sudah minum tiga botol jiyeon-ah dan kau sekarang mabuk berat”

“Woobin-ah..” gadis itu kini menarik-narik jaket kulit yang laki-laki itu kenakan kendati tenanganya tak seberapa ditambah dengan keadaannya yang mabuk berat, sambil sesekali gadis itu mengeluarkan sifat manjanya yang jarang ia tunjukkan pada orang lain.

“Aish,, jinjja kau ini! ” Woobin yang mendesah pasrah bercampur dengan perasaan kesalnya, akhirnya memberikan gelas terakhir itu kepada sahabatnya yang langsung ia habiskan dalam sekali tegukan.

Jiyeon yang sudah kehilangan setengah kesadarannya kini menyandarkan kepalanya di atas bahu woobin. Rasa pusing luar biasa membuat kepalanya seakan ingin pecah ditambah lagi dengan pandangan matanya yang mulai mengabur. Beruntung gadis itu masih mengenali wangi aroma mint bercampur lavender khas milik woobin yang sangat ia sukai. Setidaknya ia tak akan salah memeluk laki-laki lain.

Musik upbeat masih setia di perdengarkan dengan intensitas suara yang membuat pekak telinga siapapun yang mendengarnya. Beruntung woobin adalah laki-laki kaya yang sangat menyanyangi kedua telinga miliknya hingga laki-laki itu lebih memilih untk memesan sebuah ruang khusus dalam klub malam terpopuler di kota Seoul. Jadi hanya akan terdengar suara sayup-sayup musik dari luar ruangan.

“Woobin-ah..”

“Heum..”

“Gomawo..”

“Heum..”

“Kau memang sahabatku..”

“Heum”

“Yak kim woobin!”

“Wae?”

“Aish jinjja! Kau membuatku gila” Jiyeon menenggelamkan kembali tubuhnya ke dalam pelukan sahabatnya dan mulai meracau tak jelas.

“Aku tadi berada di neraka”

“Aku sangat membenci kim jong suk, kim myungsoo.. Aku benci hidupku” gadis itu berucap sambil memejamkan kedua kelopak matanya.

“Aku ingin menyusul appa dan umma saja”

Woobin yang benar-benar mengenal sosok park jiyeon membelai lembut puncak kepala sahabat yang paling ia sayangi. Bagaimanapun, gadis berusia dua puluh empat tahun ini telah melewati begitu banyak hal sulit dalam hidupnya. Namun tak pernah sedikitpun ia goyah kendati dulu banyak siswa yang sebaya dengannya mengejeknya, memusuhinya, menfitnahnya, menyebarkan rumor-rumor palsu. Tapi jiyeon dengan segala sikap dingin dan tak acuhnya mengabaikan perlakuan buruk itu.

Woobin bukanlah seseorang yang ahli membaca pikiran orang lain. Beribu-ribu kali gadis itu mengatakan bahwa ia baik-baik saja ‘ jangan khawatirkan aku woobin-ah ‘ . Namun woobin benar-benar mengenal sorot mata jiyeon yang tak akan bisa berbohong kepadanya. Sahabatnya tidak pernah dalam keadaan baik-baik saja.

Ia menyesal kenapa ia tak dapat berbuat banyak untuk jiyeon. Pernah terbersit sebuah ide untuk mengajak jiyeon pindah sekolah ke luar negeri, Jepang misalnya. Beruntung ibu woobin sangat menyukai jiyeon karena yah tak dapat dipungkiri bahwa jiyeon adalah puteri idaman semua orang tua. Gadis itu cantik dan ia tak memiliki masalah dengan tingkah laku kecuali sikap dinginnya setelah kepergian kedua orangtuanya. Namun sungguh disayangkan bahwa kepedihan hidup yang ia rasakan sedikit-demi sedikit menggerus senyuman yang semula selalu tersungging di wajah cantiknya.

Pernah woobin utarakan niat baiknya itu di penghujung musim semi tahun kedua mereka bersekolah di tingkat junior high school. Tapi gadis itu begitu keras kepala dan kata-kata balas dendam meluncur dengan lancar dari bibir gadis yang masih berusia tiga belas tahun. Bahkan gadis kecil seusianya telah mengenal arti kata balas dendam dengan sangat baik. Rupanya kim jong suk telah menanamkan bibit kebencian yang akan selaku tumbuh besar dan meninggi setiap waktu.

‘Aku tak akan mati tenang sebelum dendamku terbalaskan woobin-ah, aku akan menembak kim jong suk dengan tanganku sendiri’ ucapnya berapi-api. Bahkan woobin sangat mengingat kilatan amarah sorot matanya yang tak pernah berubah sampai sekarang. Niat balas dendamnya tak pernah pudar sedikitpun kendati sudah lima belas tahun peristiwa itu telah berlalu.

“Woobin-ah.. Apakah kau akan tetap bersamaku sampai akhir?” antara sadar dan tidak gadis itu meracau.

“Heum..”

“Yaksok?”

“Ya.. Aku berjanji jiyeon-ah”
Woobin mempererat rengkuhannya pada tubuh ringkih jiyeon, sekedar membagi rasa nyaman kepada sahabatnya.

Laki-laki itu sangat paham bahwa hanya ia satu-satunya orang yang dimilikinya di dunia ini. Tempatnya bersandar, berkeluh kesah, berbagi mengenai apapun. Dan beruntung karena woobin menjalankan peran itu dengan sebaik mungkin. Ia mungkin sibuk, karena ibunya yang merupakan seorang bussiness woman menyerahkan tampu kepemimpinan hyundae grup kepadanya yang bahkan saat ini baru menempuh pendidikan S2 sekolah bisnis Korea university. Namun sebagai anak satu-satunya yang tidak memiliki ayah lagi, laki-laki itu setuju kendati ia harus benar-benar membagi waktu antara jiyeon dan pekerjaannya.

Cukup mudah sebenarnya. Jiyeon yang sekarang berstatus sebagai sekretaris presiden direktur KJS group menghabiskan pagi hingga malam hari di kantor sama sepertinya. Setelah itu, mereka dapat melewatkan waktu malam bersama-sama, termasuk mabuk-mabukan di klub malam yang menjadi hobi baru gadis itu sekarang.

Laki-laki jangkung itu sebenarnya tak ingin melihat jiyeon menghabiskan mas mudanya dengan melakukan pembalasan dendam seperti ini. Ia tak ingin menyaksikan sahabat yang paling ia sayangi memiliki rasa benci yang teramat dalam kepada orang lain. Tapi pengalaman pahit masa kecilnya tak akan semudah itu dilupakan begitu saja. Jadi, woobin sebagai sahabat terbaik akan tetap menepati janjinya untuk selalu bersama-sama dengan jiyeon sampai akhir.

Ya… Sampai akhir

Jiyeon merapikan trenchcoat yang ia pakai dan memastikan penampilannya sempurna hari ini. Rambut cokelat panjangnya ia kuncir kuda dan make up natural semakin menyempurnakan penampilannya.

Meskipun ia bangun pagi dalam keadaan hangover akibat menghabiskan tiga botol whisky secara brutal semalam, namun obat anti mabuk yang di selipkan woobin dalam saku mantelnya benar-benar sangat berguna karena setelah itu jiyeon memuntahkan sebagian besar alkohol yang masih tersisa di dalam lambungnya.

Tapi ngomong-ngomong soal sahabatnya itu, bahkan jiyeon selalu lupa berterimakasih kepadanya. Yah tak dapat di pungkiri akhir-akhir ini peran seorang kim woobin benar-benar sangat vital dalam hidupnya. Bagaikan kolam tanpa ikan atau ayam goreng tanpa soju. Sebuah perpaduan yang sempurna. Sepertinya jiyeon harus membelikan jam tangan baru untuk woobin setelah gaji pertamanya keluar.

‘Ting’

Pintu lift terbuka dan jiyeon melangkah ringan masuk ke ruang sekretaris. Terdapat tiga buah meja kerja di ruangan ini. Meja milik sekretaris President Director, Vice President, dan CEO. Sementara ruang kerja myungsoo hanya dipisahkan oleh pintu kaca yang berjarak beberapa kaki dari meja kerja yang ditempati oleh jiyeon.

Namun sesuatu yang berada di atas meja kerjanya tertangkap oleh penglihatan tajam gadis itu.

Sebuket bunga baby breath dan sebuah kotak kecil berwarna merah marun tergeletak manis di atas meja kerjanya.

Gadis itu menatap sekelilingnya dan tak menemukan siapapun di ruangan ini. Mungkinkah seseorang salah mengirimkannya.

“Surat?” gumam jiyeon pelan dan membuka sebuah lipatan kertas yang diletakkan di antara bunga-bunga kecil baby breath.

‘Kau melupakan bungamu jiyeon-ssi’

Jiyeon menaikkan sebelah alisnya heran, kemudian menyadari sesuatu setelah beberapa detik berlalu. Mungkinkah ini bunga yang seharusnya diberikan myungsoo saat makan malam, sayang ia telah lebih dahulu kabur dan menemui woobin. Namun bukankah ini terlalu berlebihan? Ia bahkan tak suka bunga baby breath, gadis itu lebih menyukai mawar merah yang cantik namun memiliki duri yang dapat melukai tangan atau jemari orang lain jika tak berhati-hati menyentuhnya. Bisa dikatakan mawar merah adalah kepribadian yang sangat cocok disandang olehnya.

Gadis itu menghela nafasnya dan beralih untuk membuka kotak berbentuk persegi yang sepertinya dikirim bersamaan dengan bunga baby breath ini. Benar-benar membuatnya penasaran setengah mati.

“Neomu yeppo..” sebuah kalung berwarna silver dengan liontin berbentuk bulan sabit berkilauan di terpa cahaya lampu. Pastilah kalung ini berharga sangat mahal, mungkin saja terbuat dari berlian.

Jiyeon segera menggelengkan pelan kepalanya untuk mengumpulkan ego yang tersisa. Apapun itu ia tak boleh lengah bahkan untuk benda cantik ini. Ia harus sadar bahwa tujuannya datang ke tempat ini setiap hari dan menghabiskan jam kerja seharian penuh bukanlah untuk menggaet sang presiden direktur yang tampan, tapi untuk balas dendam. Kim jong suk harus menerima karma dan akibat dari perbuatannya pada seorang gadis berusia sembilan tahun yang ia lakukan lima belas tahun silam.
Maka ditutupnya dengan kasar kotak itu dan meletakkannya kembali ke atas meja. Ah, jeongmal.. Berani taruhan bahkan woobin dapat membeli kalung sejenis ini seratus biji sekalipun jika memang gadis itu yang minta. Ck..

Jiyeon tampak berpikir sejenak sambil memutar-mutarkan kursi kerjanya. Tampak suasana kantor sudah mulai ramai karena kedua sekretaris yang menempati ruangan ini telah berada di balik meja masing-masing.
Sejujurnya jiyeon tengah menunggu myungsoo sekarang, namun laki-laki itu belum tampak batang hidungnya. Ataukah ia sudah berada dalam ruangannya?

Sedikit berjingkat dan , jiyeon mengintip dari celah pintu dan menemukan sosok myungsoo bergulat di depan laptopnya dengan ekspresi wajah tegang dan serius yang sangat kentara.

“Knock.. Knockk..” dengan sopan gadis itu mengetuk pintu atasannya hingga sang empunya ruangan mempersilahkannya masuk.

“Waeyo sekretaris park?” tanya laki-laki itu tanpa mengalihkan fokusnya pada layar laptop di depannya. Sepertinya ia sudah tahu maksud dan tujuan sekretarisnya mendatangi ruang kerjanya.

Jiyeon berdehem sebentar dan melangkah lebih dekat ke depan meja kerja myungsoo. Sungguh lega ia tak perlu memanggil myungsoo dengan sebutan myungsoo-ssi lagi. Ah.. Jeongmal, bahkan ia sendiri tak sanggup mengucapkan nama putera tunggal laki-laki berengsek pembunuh kedua orangtuanya.

“Predir, saya menemukan ini di atas meja kerja saya pagi ini. Saya rasa kedua barang ini milik anda”

“Bukan., itu milikmu sekretaris park”

“Ne?”

“Aku memberikannya untukmu, jadi keduanya milikmu sekarang” laki-laki itu akhirnya menggentikan aktivitasnya sejenak dan menatap sosok jiyeon dengan intens.

“Tapi maaf, saya tidak dapat menerimanya presdir, permisi.. Selamat pagi” jiyeon meletakkan sebuket baby breath dan sebuah kotak berwarna merah marun itu di atas meja kerja myungsoo dan kemudian hendak bergegas keluar dari ruangan presiden direktur sebelum sebuah suara berat itu menghentikan langkahnya dengan paksa.

“Tunggu sekretaris Park”

“Tunggu sebentar” myungsoo mengambil kalung yang ia beli pagi ini dari dalam kotaknya dan menghampiri jiyeon yang berdiri mematung dengan posisi membelakangi dirinya.

“Kau mungkin tak suka baby breathnya, tak masalah jika kau tak mau menerimanya. Namun aku akan sangat senang jika kau memakai kalung ini”

Jiyeon masih tampak mencerna situasi yang sedang ia hadapi saat ini, detik ini, menit ini. Sementara tanpa perlu persetujuannya, myungsoo telah memakaikan kalung berliontin bulan sabit itu di leher jenjang jiyeon dan terakhir menyibakkan kuncir kuda rambut gadis itu.

“Presdir.. Ini..” jiyeon membalikkan tubuhnya hingga posisi mereka kini tengah berhadapan.

“Kau cantik sekali sekretaris park”

“Presdir, jangan seperti ini saya mohon kepada anda..” gadis itu menatap atasannya setengah memohon. Tindakan presdirnya ini benar-benar di luar dugaan yang telah ia perkirakan sebelumnya. Semuanya salah besar, nol besar. Tak ada satupun teori jiyeon yang benar jika berkaitan dengan myungsoo. Dalam hatinya gadis itu berharap setengah mati agar kelak laki-laki itu tak mengacaukan rencananya.

“Akan ada pertemuan antar petinggi perusahaan di seantero Korea Selatan lusa di malam hari. Kau harus datang dan aku ingin melihatmu mengenakannya”
Jiyeon meraba liontin berbentuk bulan sabit itu dan menatap ragu ke arah myungsoo.

“Kau pantas mendapatkannya sekretaris park.. Kumohon jangan menolaknya, aku akan sangat kecewa jika kau tak mengenakannya” myungsoo menyentuh pelan kedua bahu jiyeon sementara walaupun sebenarnya ia tak ingin menerimanya, akhirnya gadis itu mengangguk pelan dan berlalu secepat kilat keluar dari ruangan myungsoo.

“Hey, park jiyeon.. Beruntung sekali kau, baru bekerja kurang dari dua minggu dan kau sudah mendapatkan hadiah liontin.. Ck.. Kau benar-benar pandai menjilat ya?” suara dari seberang meja kerjanya terdengar sangat menyakiti pendengaran jiyeon. Gadis itu menelengkan wajahnya dan menatap sinis ke arah sekretaris CEO.

“Ya, aku sangat beruntung sekali karena atasanku memberiku hadiah mahal tanpa aku harus menjilatnya. Sekretaris jung jika kau menginkan kalung seperti ini, tidakkah kau seharusnya menjilat bosmu yang tua itu? Atau bisa saja kau menjadi istri keduanya” jawab gadis itu santai sambil membuka map laporan keuangan per triwulan. Sementara sekretaris jung mati-matian menahan emosinya. Mungkin ingin sekali rasanya ia mencakar wajah cantik jiyeon. Namun tentu saja ia tak ingin kehilangan pekerjaannya hanya karena masalah sepele seperti ini.

“Oh.. Woobin-ah.. Waeyo?” jiyeon yang tengah mengaduk-aduk ramennya dalam kemasan siap saja, di interupsi oleh panggilan telepon dari sahabatnya.

“Apa kau akan berangkat ke pertemuan itu?”

“Pertemuan apa?” ucap gadis itu santai sambil melahap ramen yang belum terlalu matang itu. Ia terlalu lapar atau tepatnya sangat kelaparan kendati dua porsi sup daging telah ia habiskan saat jam makan siang di cafetaria kantor.

“Ck, apa bosmu itu tidak mengajak serta sekretarisnya di acara tahunan asosiasi pengusaha korea selatan?”

“Omo! Aku lupa! Eotohkke? Pantas saja myungsoo menyuruhku pulang lebih awal dari biasanya”

“Kau, benar-benar.. Mau berangkat denganku?”

“Baiklah.. Tapi sepertinya aku harus shopping dulu, aku tak memiliki gaun cukup bagus untuk ke acara-acara seperti itu.”

“Aku sudah membelikannya untukmu, akan tiba dalam waktu.. Sekarang!”

Dan benar saja, tepat setelah woobin menyelesaikan kalimatnya, seseorang mengetuk beberapa kali pintu flat yang ditinggali oleh gadis itu. Dengan sedikit perasaan heran yang tersisa, akhirnya jiyeon memutuskan untuk membukakan pintu untuk si pengantar gaun.

“Yak park jiyeon! Apa saja yang kau lakukan? Kenapa kau belum juga bersiap-siap? Satu jam lagi acaranya dimulai”

Jiyeon memutar kedua bola matanya dan mendapati sahabatnya kim woobin berdiri di ambang pintu flat murahnya dengan pakaian rapi dan celotehan dengan nada memerintah.

“Pakai ini..”

Jiyeon menerima sebuah kotak berukuran besar yang di bawa serta woobin untuknya.

“Apa ini?”

“Yak, ppali, cepatlah siap-siap” diurungkannya niat gadis itu untuk mengintip isinya dan memilih untuk melesat menuju kamar tidurnya guna berdandan sesuai perintah sahabat karibnya itu.

Jiyeon membuka kotak besar yang lebih mirip kardus kemasan ramen isi dua puluh biji itu, hanya saja kardus ini berlapiskan kertas kado yang snagat cantik. Sebuah gaun panjang tanpa lengan berwarna gading mendominasi penglihatannya. Tanpa banyak berpikir, jiyeon langsung mengenakan gaun itu dan segera menyadari bahwa ukurannya begitu pas, sangat indah dan menonjolkan perpotongan leher jiyeon yang jenjang dan lekuk tubuhnya yang sempurna.

“Park jiyeon, kenapa kau lama sekali?” woobin yang sudah tak sabar lagi ingin melihat bagaimana sosok sahabatnya dalam balutan gaun pilihannya, akhirnya memutuskan menerobos masuk ke dalam kamar jiyeon. Dan harus diakui bibir laki-laki itu menganga sempurna melihat begitu cantiknya sosok yang sedang berdiri di hadapannya.

“Eotte?” jiyeon membalikkan tubuhnya dan sedikit berputar beberapa kali untuk menunjukkan spot terbaik gaun yang terletak pada ekornya yang mencapai mata kaki.

“Waa.. Aku sangat pandai memilih gaun, sepertinya aku sangat berbakat menjadi designer”

“Yak! Kim woobin, kau ini benar-benar sahabatku atau bukan sih? Kenapa kau malah mengomentari gaunnya, eoh?”

Woobin terkekeh pelan memperhatikan tingkah lucu jiyeon yang amat sangat menggemaskan. Walaupun akhir-akhir ini pikiran gadis itu sebagian besar telah tersita untuk membalaskan dendamnya pada kim jong suk dan puteranya, tapi woobin menyadari suatu hal bahwa jiyeon lebih sering menunjukkan sisi feminim dan sikap manja kepadanya. Dan laki-laki tampan itu cukup senang mengetahui bahwa ia dapat sedikit memberikan kegembiraan pada gadis kesayangannya.

“Aku hanya bercanda.. Kau cantik sekali bahkan aku sampai lupa caranya bernafas”

“Omo, kau berlebihan sekarang”

Woobin tergelak dan menghampiri sahabatnya untuk memangkas jarak di antara mereka.

“Kau butuh bantuan dengan rambutmu?”

“Ani.. Aku hanya akan mem-blownya pada bagian bawah dan menggerainya saja. Sejujurnya aku tak terlalu nyaman dengan bahu yang terbuka” gadis itu mulai menggunakan alat pengeriting rambutnya.

“Ah, mianhae.. Aku hanya memilih gaun yang paling mahal. Karena yah, setahuku semua hal di dunia ini sama dengan sebuah kurva ekonomi dan fisika. Semakin besar X maka semakin besar Y, semakin besar gaya maka semakin besar aksi, lebih mahal suatu gaun maka semakin baik kualitasnya.”

Jiyeon memutar bola matanya dan menggeleng heran. Woobin benar-benar sangat ahli menerapkan ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia benar-benar jjang walaupun kadang gadis itu muak sekali mendengarkan penjelasannya yang sangat ribet.

“Yah, terserah kau saja kim woobin”

Laki-laki itu tertawa pelan dan duduk di pinggir ranjang dekat cermin rias yang tepat berada di sisi tempat tidur milik jiyeon. Laki-laki itu memandang kesekeliling kamar tidur jiyeon dan mendesah pelan. Ada sebuah kesedihan yang tak dapat ia sembunyikan ketika melihat bahwa jiyeon tak seperti gadis-gadis kaya yang sering ia temui di lingkungan universitas. Mereka mengenakan baju terbaik, make up mahal, tas dan sepatu brand keluaran merek terkenal. Namun jiyeon sahabatnya masih terkungkung dalam flat murah nan sempit ini semenjak beberapa tahun terakhir.

Bukannya laki-laki itu tak peduli. Hanya saja jiyeon adalah gadis keras kepala luar biasa yang selalu menolak apartemen di pusat kota Gangnam yang laki-laki itu sering tawarkan kepada sahabatnya. Jiyeon beralasan bahwa telah banyak hal yang woobin lakukan kepadanya, begitu banyak hingga gadis itu tak dapat lagi menghitung kebaikan yang woobin lakukan kepadanya.

Tapi sungguh woobin bukanlah sosok pria abad dua puluh satu kebanyakan yang akan meminta imbalan atau timbal balik untuk kebaikan yang mereka lakukan. Hal itu sangat bukan gayanya. Ia tak pernah menghitung jumlah kebaikan yang ia lakukan untuk jiyeon karena menurutnya tak ada yang lebih penting selain kebahagiaan sahabat satu-satunya yang ia miliki.
Gadis itu tak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan, dan woobin sebagai sosok yang selalu ada di sampingnya ingin selalu memastikan bahwa jiyeon dapat menjalani hari-harinya dengan lebih mudah. Namun selalu saja gadis itu mempersulit langkahnya dengan sifat keras kepala yang tak dapat terlepas bagai trade mark atau merek pribadi seorang park jiyeon.

“Jiyeonnie, kapan kau akan pindah dari sini?”

“Sampai uangku terkumpul cukup banyak untuk membeli sebuah rumah” ucap gadis itu sembari tangannya bergerak lincah menggunakan alat pengeriting rambut yang ia kenakan untuk menambah keindahan rambut cokelat panjangnya.

“Kenapa kau tak pindah ke apartemen baru yang pernah kutunjukkan waktu itu? Apartemen itu milikmu sekarang.”

“Kim woobin, berhentilah memaksaku untuk tinggal di sana. Kau telah melakukan banyak hal untukku woobin-ah, setidaknya beri aku waktu untuk membalas kebaikanmu”

Woobin menggeleng pelan

“Aku tulus melakukannya, aku sama sekali tak meminta balasan darimu jiyeon-ah”

“Aku tahu.. Tapi aku hanya ingin melakukan sesuatu dan tak ingin selalu menyusahkan sahabat terbaikku” jiyeon menyentuh pelan permukaan pipi kiri woobin sekilas dan kembali menghadap cermin untuk mengenakan eyeliner yang selalu ia pakai setiap saat.

Beberapa saat mereka berdua terdiam, hingga akhirnya Jiyeon mengurungkan niatnya untuk mengenakan eyeliner hitam itu dan menatap lekat-lekat sosok woobin dari balik refleksi cermin riasnya. Laki-laki itu menatap datar punggung jiyeon dengan sekelebat ekspresi kesedihan yang dapat ditangkap oleh penglihatan jeli gadis itu.

Jiyeon berbalik menghadap ke arah woobin yang tersentak dari lamunnya akibat gerakan tiba-tiba yang ia lakukan.

Gadis itu mengenggam erat kedua tangan sahabat laki-laki yang selalu menemaninya semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama.

“Jangan mengkahwatirkan tentang diriku woobin-ah..” gadis cantik itu mengembangkan senyum terbaik yang ia miliki dan memeluk tubuh sahabatnya itu. Jiyeon dapat melihat bahwa terkadang woobin yang menyebalkan dapat terlihat begitu menyedihkan jika memikirkan tentang kehidupan yang harus dijalani oleh gadis itu. Dan sunggu jiyeon pun tak ingin membuat woobin bersedih. Hanya dengan memberikan pelukan hangat seperti ini setidaknya dapat meredakan kekhwatiran laki-laki itu.

Jiyeon berjalan beringingan dengan mengaitkan tanggannya di lengan kokoh woobin ketika memasuki lokasi pertemuan asosiasi pengusaha seantero Korea itu. Dan jujur saja ia sedikit terkejut karena dipikirnya pertemuan akan benar-benar diadakan di dalam hall besar dengan bangku-bangku yang di tata rapi dalam suasana awkward. Namun pada kenyataannya suasana pertemuan yang mengambil tempat di sebuah taman yang berada di lantai paling atas gedung hotel bintang enam di pusat kota Gangnam itu lebih mirip seperti private party diamana mereka saling menyapa satu sama lain dengan ramah.

Gadis itu mencengkeram erat lengan sahabatnya sambil menatap horror kesekelilingnya. Ia bahkan tak berniat memperhatikan sosok pengusaha-pengusaha sukses korea yang datang bersama pasangan mereka masing-masing entah itu sekretaris pribadi mereka, istri-istri mereka, kekasih mereka masing-masing atau bahkan selingkuhan mereka mungkin.

“Woobin-ah.. Aku benar-benar tidak cocok berada di tempat ini, kenapa mereka semua menatapku seakan ingin menelanku bulat-bulat?” bisik jiyeon sembari memastikan woobin masih dapat mendengar kata-katanya yang beradu dengan alunan musik jazz yang samar-samar diperdengarkan dari atas panggung.

“Itu karena kau terlihat sangat cantik,, perhatikan keselilingmu lebih seksama, para wanita itu hanya menatapmu iri karena kau mengalahkan kecantikan mereka, hingga seakan-akan mereka hendak menelanmu bulat-bulat.”

“Tapi tetap saja mereka menakutiku woobin-ah..”

“Aigoo.. Tak perlu takut, aku akan melindungimu seandainya mereka benar-benar ingin menelanmu” laki-laki itu terkekeh pelan sambil tetap membimbing jiyeob untuk menyapa satu persatu tamu yang sama-sama hadir di acara pertemuan tahunan ini.

“Sekarang tegakkan wajahmu dan tersenyumlah”

Setengah ragu jiyeon menuruti titah woobin. Perlkahan-lahan gadis itu mulai nyaman dengan posisi kepalanya yang tegak. Lagipula memang benar apa yang dikatakn oleh sahabatnya, mereka, para wanita itu hanya iri dengan kecantikan yang ia miliki terlebih dengan siapa ia datang ke acara pertemuan ini, kim woo bin presiden direktur Hyundae Group yang merupakan jaringan supermarket terbesar dan terkemuka di seantero ranah korea selatan.

Jiyeon yang masih setia mendampingi woobin menyapa para pengusha yang lainnya dikejutkan oleh sentuhan tangan seseorang di bagian pundaknya.

Refleks gadis itu menoleh dan menemukan sosok myungsoo di sana.

“Presdir..”

“Kupikir kau tak akan datang”

“Jiyeonnie.. Nugu?” woobin turut mencari ke arah sumber suara

“Ah… Presdir Kim Myungsoo, bagaimana kabar anda?”

“Presdir kim woobin, kabar saya baik.. Ngomong-ngomong sudah lama kita tak bertemu.”

Kedua presiden direktur itu saling menjabat tangan masing-masing sementara jiyeon hanya menyaksikan dalam diam pemandangan yang ada di hadapannya. Dua orang laki-laki tampan yang sedang berjabat tangan temanya.

“Apakah kalian berdua sepasang kekasih?” Myungsoo menatap woobin dan jiyeon secara bergantian. Sedangkan jiyeon hanya membeku dalam posisinya, ia tak mengucapkan sepatah katapun sejak myungsoo mendatanginya.

“Tidak myungsoo-ssi, apakah jiyeonie belum memberitahumu jika kami adalah kakak adik?”

“Kakak adik?”

To be continued ~~~

Pertama kali aku mau bilang terimakasih sama readers yang udah menyempetkan waktunya buat baca ff abal karyaku :-D N makasih juga karena udah bersedia meninggalkan komentar walaupun kadang aku juga sering patah hati karena yang baca banyak tapi yang comment cuma sedikit. Tapi setidaknya kan kalian bisa like FF aku kalaupun enggak mau repot2 comment. Mian juga kalau aku nggak bisa balas comment kalian satu persatu TT___TT
Dan pesanku untuk silent readers di luar sana, jangan mengembangkan hobi yang sesat seperti itu. Jangan terus-terusan jadi siders lah, kenapa sih kalian tidak bisa menghargai orang lain? Memang ffku enggak begitu wowww n aku sadar kalau ffku enggak sebagus lainnya. Tapi Aku sebagai author sejujurnya seneng banget kalau liat comment kalian baik berupa kritik atau saran, karena semakin banyak yg comment semakin semangat aku buat nerusin ffnya. Gitu..

Ohiya.. Yang mau baca sekuelnya Vampire Girl (Underworld Queen) yang udah aku publish sampe chapter 3, visit aja di http://fanfictionsindo.wordpress.com ya ~ aku tunggu kunjungan n comment kalian *bow

Akhir kata, selamat beraktivitas semuanya ^^

Salam sayang,
arin yessy

Posted from WordPress for iOS

Posted from WordPress for iOS

45 responses to “The Heir’s Secretary (3rd chapter)

  1. gila! woobin baik banget ya😀 haha dan jiyeon juga keren banget! dia ga mau manfaatin kebaikan sahabatnya yg kaya!
    okefix ini makin seru aja ditunggu banget kelanjutannya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s