[CHAPTER – PART 8] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIMEPart Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6] [7]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Rencana Soo Hee untuk menyelinap masuk ke perbatasan Utara dan Selatan didukung oleh Park So Jin.
Usaha awal, ia gagal. Bukan Soo Hee namanya jika dia tidak berhasil mewujudkan apapun yang diinginkannya. Setelah ditolak mentah-mentah oleh para prajurit dan beberapa petugas imigrasi di perbatasan, Soo Hee berjalan gontai sambil memikirkan cara lain agar usahanya berhasil. Ia berdiri di belakang gedung dekat perbatasan yang lebih dikenal dengan tempat perlindungan perbatasan Korsel. Soo Hee mendapat ide yang diperolehnya secara tiba-tiba. Ia mencari suatu benda tajam di sekelilingnya untuk melukai dirinya sendiri. Tak jauh dari tempatnya berdiri, Soo Hee melihat sebuah tong yang berisi pecahan kaca dan botol. Mungkin pecahan-pecahan itu belum diangkut oleh tukang sampah.
Soo Hee mengambil satu pecahan kaca yang berukuran cukup besar lalu menggoreskan pecahan  kaca itu di pangkal lengannya sepanjang 10cm. Soo meringis menahan sakit. Tapi apalah daya, hanya ini satu-satunya cara untuk bisa masuk ke Utara.
Darah mengucur dari lengannya. Soo Hee menggigit bibir bawahnya menahan perih di lengan kirinya dan berjalan perlahan-lahan mendekati petugas penjaga wilayah perbatasan. Soo Hee tahu betul bahwa di dekat perbatasan itu ada satu rumah sakit di wilayah Utara. Ia sengaja melukai dirinya agar mereka membawanya ke rumah sakit itu dan akhirnya dia bisa masuk ke Selatan.
Dengan menahan rasa perih di lengannya, Soo Hee menghampiri salah seorang prajurit Korsel.
“Ahjussi, tolong aku. Jebal…” Dengan gaya tak berdaya yang sangat meyakinkan, Soo Hee menarik lengan baju seorang petugas yang berdiri di depannya. Karena melihat seorang yeoja yang merintih kesakitan, petugas itupun langsung merespon Soo Hee.
“Jeogiyo, kau kenapa?” Petugas itupun melihat darah yang mengucur dari lengan Soo Hee.
“Tolong aku, ahjussi. Tadi aku dirampok. Aku berusaha melawannya tapi begini akhirnya,” terang Soo Hee yang tentu saja berbohong. Tapi rasa perih di lengannya bukanlah suatu kebohongan. Kalau bukan demi eommanya, Soo Jin, Soo Hee tidak akan melakukan hal ini. Ia harus berhasil masuk ke Korut dengan segala cara yang aman.
Petugas itu membawa Soo Hee ke hadapan Jenderal Lim dan melaporkan bahwa yeoja itu sedang terluka parah di lengannya. Tanpa pikir panjang, Jenderal Lim memerintahkan seorang petugas untuk mengantarnya ke rumah sakit yang letaknya tidak jauh dari perbatasan. Maka Soo Hee dan petugas itupun pergi ke RS.

Tiba di rumah sakit, Soo Hee langsung dibawa ke Unit Gawat Darurat untuk menerima pengobatan luka yang tidak biasa,  akibat ulahnya sendiri. Saat perawat sedang mengobati lukanya, Soo Hee memikirkan langkah selanjutnya. Ia harus berhasil menemui Myungsoo.

Malam ini Gongju berlatih pedang sendirian. Ia memforsir tenaganya dengan latihan bela diri selama berjam-jam. Saat nafasnya sudah sangat tersengal-sengal, Gongju berhenti sejenak. Kedua mata indahnya memerah. Masih terbayang dalam ingatannya, Kyung Ho saem dengan telaten melatih Gongju, Myungsoo dan Jaejoong. Dipandangnya pedang indah yang pernah menjadi milik gurunya itu. Dadanya terasa sesak mengingat masa-masa dengan gurunya. Tak terasa, airmata pun meleleh jatuh membasahi kulit mulusnya. Gongju terduduk lemas. Ia berpikir keras, bagaimana cara membebaskan gurunya. Ini pasti jebakan. Gongju yakin, bahkan sangat yakin gurunya adalah orang yang paling baik sedunia. Ia bertekad menyelamatkan gurunya dengan cara apapun.
“Gongju-a.” Tiba-tiba Taeyeon datang menghampiri Gongju yang terduduk di tanah, halaman depan.
Gongju menoleh ke arah Taeyeon. Yeoja itu berjalan pelan ke tempat Gongju.
“Ahjumma…” Gongju berdiri lalu berjalan mendekati Taeyeon agar ahjumma itu tidak berjalan terlalu jauh. “Ahjumma, kenapa kau keluar rumah? Apa kesehatanmu sudah lebih baik?” tanya Gongju yang khawatir akan kesehatan Taeyeon.
“Malam ini tidak seperti malam biasanya.” Taeyeon mendongakkan kepalanya menatap langit yang gelap tanpa cahaya bulan dan tanpa hiasan bintang-bintang.
“Apa maksud ahjumma?” tanya Gongju yang tidak mengerti dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Taeyeon.
Taeyeon mengalihkan pandangannya ke Gongju. Kedua matanya terlihat sayu. “Manusia hidup di dunia hanya menjalankan takdir dari Yang Maha Kuasa. Manusia berjuang keras mengubah takdir mereka. Gongju-a, apa kau juga akan merubah takdirmu?”
Gongju terperanjat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Taeyeon. “Ahjumma, kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Kau adalah putri presiden Park, apakah kau ingin menjadi seperti appamu? Kekuasaan di Selatan bisa kau raih dengan mudah, Gongju-a. Apa kau tidak ingin kembali pada keluargamu?”
Kali ini Gongju benar-benar kaget. Ia tidak pernah berpikir bahwa kekuasaan menjadi prioritasnya. Ia bahkan tidak mengetahui seberapa besar pengaruh kehadirannya di dunia politik Korea Selatan. “Ahjumma, jika aku bisa masuk.ke Selatan, hal yang pertama kali akan aku lakukan adalah mencari Kyung Ho saem dan menyelamatkannya. Bagiku, Kyung Ho saem lebih dari keluarga. Aku sudah menganggapnya seperti appaku sendiri.” Gongju berhenti sejenak. Mengumpulkan ketegarannya untuk melanjutkan kata-katanya. “Keluargaku memang benar ada di Selatan, tapi penyelamatku lah yang paling penting. Aku tidak menyalahkan appa dan eommaku karena telah membuangku. Alasan mereka membuangku mungkin masuk akal saat itu. Tapi jika tidak ada Kyung Ho saem dan keluarga Jung, aku tidak akan seperti ini. Anugerah terbesar dalam hidupku adalah, aku dikelilingi orang-orang yang sayang padaku.” Tak terasa, cairan bening mengalir begitu saja dari kedua ujung mata indah Gongju. Taeyeon menahan tangisnya. Ia benar-benar tidak mengerti akan jalan takdir orang-orang di sekitarnya. “Tuhan punya rencana. Manusialah yang dapat mewujudkannya. Kau harus sabar, Gongju-a.”
Gongju mengangguk pelan, kepalanya tertunduk, airmatanya semakin deras. Gongju dan Taeyeon pun berpelukan.
“Gongju-a, jika kau pergi menyelamatkan Jung Kyung Ho, tolong bawalah aku. Aku ingin membantumu. Keluargaku sudah berhutang budi banyak sekali padanya. Aku akan menyesal seumur hidup jika tak bisa membalas hutang budi itu pada Kyung Ho.”
Taeyeon melepas pelukan Gongju.
“Tidak usah, ahjumma. Senjata sama sekali tidak akrab denganmu. Aku tahu kau sangat menyayangi Kyung Ho saem. Aku akan menyelamatkan Kyung Ho saem dengan caraku. Tolong bantu aku dengan doa, ahjumma.”
Taeyeon menangis semakin dalam. Sulit baginya untuk bernafas normal karena isakan dari tangisnya.

Yeoja pantang menyerah, Park Soo Hee, baru saja keluar dari rumah sakit dengan balutan perban di lengan kirinya. Hatinya sedikit lega. Ia telah berhasil membohongi petugas jaga di perbatasan.

Park Soo Hee pov
Akhirnya aku berhasil masuk ke utara. Meski harus mengorbankan lenganku yang indah ini, aku tidak akan menyesal melakukannya. Segera kukeluarkan ponselku dari dalam tas. Ya, ponsel yang biasa aku gunakan jika aku berada di utara. Hanya ada satu nomor kontak di dalamnya. Aku harus menghubungi Myungsoo oppa. Anhi.
Apa sebaiknya aku tidak menghubunginya? Menggunakan alat komunikasi elektronik bisa berbahaya. Utara maupun Selatan pasti bisa melacaknya. Lebih baik aku temui oppa besok saja. Sekarang atau besok ya? Waktu adalah emas. Bersusah payah aku ke sini, misiku harus berhasil. Ya, aku akan temui oppa sekarang juga.
Aku naik taksi untuk segera sampai di dekat istana presiden Korut. Menanti sebuah mobil mewah milik Myungsoo oppa lewat. Aku yakin oppa belum pulang, jadi aku harus bersabar.
30 menit, rupanya aku sudah menunggu oppa selama itu. Bukan waktu yang singkat. Ah, aku lapar. Tadi sebelum melancarkan aksiku, aku menolak makanan yang disuguhkan pelayan untukku. Sekarang aku meyesalinya.

Malam-malam begini, ternyata masih banyak restoran yang buka. Aku makan di kedai saja. Ada kedai makkchang di depan sana. Waah sepertinya enak. Aku ke sana saja.
Omo, aku terkejut melihat seseorang masuk ke dalam kedai. Di sana, di bangku pojok, seorang yeoja yang tidak asing bagiku sedang menikmati makan malamnya sendirian. Anhi, bukan menikmati. Ia tampak seperti terpaksa makan. Tiba-tiba yeoja itu melihatku. Tatapannya seperti seorang polisi yang menangkap penjahat. Sangat dingin dan seakan membunuh. Aku mengalihkan pandangan dan mencari tempat duduk yang jauh darinya.
Tap tap tap!
Suara langkah seseorang terdengar mendekatiku. Aku menoleh. Benar, Gongju menghampiriku. Biasanya ia tidak seperti ini.
“Dangshineun Park Soo Hee?” Gongju berdiri di samping kursi yang kududuki.
“Ne. Waeyo?” tanyaku penasaran kenapa dia menghampiriku.
Gongju mengajakku bicara empat mata di taman. Aku menyetujuinya. Lagipula dia bilang hanya sebentar saja. Myungsoo oppa mungkin juga belum pulang. Gongju selalu memakai pakaian tertutup dan menyukai setelan celana panjang dan kaos, pikirku. Ia menghentikan langkahnya tepat saat kami baru saja memasuki pintu masuk taman ini.
Soo Hee pov end.

Gongju duduk di atas kursi besi menghadap air mancur yang selalu mengeluarkan air siang dan malam. Sedangkan Soo Hee duduk di kursi sebelah kanan Gongju. Mereka menatap air mancur itu. Belum ada yang membuka suara. Keduanya masih diam selama kurang lebih dua menit. Namun akhirnya Soo Hee membuka suara. Jika berdiam terus, ia takut akan semakin lama di taman itu dan dia tidak bisa bertemu dengan Myungsoo.
“Gongju-ssi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?”
Gongju menolehkan kepalanya ke arah Soo Hee. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Park Soo Hee, aku tahu kau adalah putri presiden Park. Langsung saja, aku ingin bertanya tentang penangkapan Jung Kyung Ho, guruku. Kau tahu sesuatu tentangnya?” Gongju memilih to the point bertanya tentang gurumya. Ia sudah tidak tahan untuk menanyakan hal ini pada seseorang yang berasal dari selatan. Ternyata yang muncul di hadapannya adalah Park Soo Hee. Jadi dia bertanya pada yeoja yang seumuran dengannya itu.
Soo Hee sangat terkejut. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya. Bagaimana mungkin Gongju bertanya tentang masalah itu padanya. Dia sendiri pun tidak tahu menahu tentang hal itu.
“Mian, Gongju-ssi. Maksudmu apa? Aku tahu Jung Kyung Ho adalah gurumu. Tapi apa masalahnya? Kenapa kau bertanya padaku?”
Gongju mengira Soo Hee mengetahui masalah gurunya yang ditangkap oleh orang-orang selatan. “Apa kau belum tahu kalau sesuatu telah terjadi pada guruku? Dan coba tebak, siapa yang melakukannya?”
Soo Hee mengerutkan keningnya. “Tahu tentang apa? Katakan sejelas-jelasnya.”
Gongju mulai geram. Emosinya berhasil terpancing namun ia tetap berusaha mengontrol emosinya. “Guruku ditangkap oleh orang-orang selatan. Mereka melumpuhkannya dengan menembakkan peluru lalu membawanya pergi. Kau tahu rasanya? Rasanya amat sakit di sini.” Gongju mencengkeram bajunya sendiri tepat di depan dadanya. Airmata mulai bergulir keluar dari muara.
Soo Hee syok. Dia baru mengetahui kabar ini. Kali ini dia tidak membenci Gongju, yeoja itu malah merasa prihatin atas kejadian itu. “Gongju-ssi, jujur saja, aku baru mendengar kabar ini langsung darimu. Apa yang melakukannya adalah tentara kami?”
Gongju menggeleng. “Dilihat dari penampilan mereka, para namja itu seperti pembunuh bayaran. Aku tahu betul bagaimana gelagat seorang prajurit dan gelagat pembunuh bayaran.”
Soo Hee terpaksa harus memutar otaknya ekstra keras menebak-nebak siapa yang melakukannya. “Itu…tidak mungkin atas perintah appa atau PM Changmin. Mereka tidak mungkin bertindak sekejam itu.”
Gongju mengarahkan bola matanya ke arah Soo Hee. “Apa maksudmu?” tanya Gongju.
“Aku benar-benar mengenal appa dan PM Changmin. Untuk urusan luar negri atau apapun itu, semua orang yang ada di Korsel akan tunduk pada keputusan presiden dan perdana menteri selama tidak menyalahi aturan dan tidak merugikan siapapun. Apa kau berpikir yang melakukannya adalah pemerintah Korsel?” tanya Soo Hee seakan mengintimidasi pernyataan Gongju. “Apa gurumu punya musuh di Selatan?”
“Molla,” jawab Gongju singkat.
“Molla? Lalu bagaimana kau bisa tahu kalau mereka berasal dari selatan?” tanya Soo Hee dengan nada cukup tinggi. Dia emosi karena Gongju sudah menjelek-jelekkan nama baik keluarganya apalagi negaranya.
“Kau bisa bertanya dengan nada rendah dan kata-kata yang baik. Aku tahu karena aku sendiri yang menyaksikan guruku ditembak dan dibawa oleh beberapa namja. Mereka menyebut kata ‘nyonya’. Dan apa kau tahu? Dalam rapat negosiasi, pemerintah Korsel meminta Kyung Ho saem diserahkan ke Selatan karena mereka ingin menahannya atas tuduhan pengkhianatan. Karena… Karena Kyung Ho saem adalah mantan jenderal berpangkat paling tinggi di Selatan. Jika kau melihat orang yang kau sayangi diperlakukan seperti itu, apa yang kau rasakan, eoh?” Gongju tidak dapat lagi menahan airmatanya yang mengalir deras dan emosi yang telah memuncak. Nafasnya tersengal karena menahan tangisnya agar tidak pecah di taman itu, dadanya juga sesak karena terlalu sedih meratapi nasib gurunya.

Tak jauh dari tempat kedua yeoja itu bertemu, seorang namja memperhatikan mereka berdua. Menatap sedih pada yeoja bernama Gongju. Namja yang tidak lain adalah Kim Myungsoo meneteskan airmatanya. Semua kata-kata Gongju terlalu menyakitkan, bagi siapa saja yang mendengarnya pasti akan menangis.

“Kau tahu, Park Soo Hee? Kyung Ho saem adalah orang yang paling aku hormati dan aku sayangi setelah Jaejoong oppa. Orang yang menyelamatkanku, membesarkanku, mendidikku, dan menyayangiku.” Gongju beranjak dari duduknya. Ia melangkahkan kaki, pergi.menjauh dari Soo Hee.
“Chakkaman!” seru Soo Hee. Gongju berhenti, berdiri mematung. Soo Hee menghampirinya. “Gongju-ssi, apa kau ingin meminta bantuanku? Aku bisa membantumu mencari tahu dang di balik kejadian itu.”
Gongju membalikkan badan. “Jinjja?”
Soo Hee mengangguk mantab. Mengisyaratkan bahwa ia benar-benar serius dengan perkataannya barusan.

“Ternyata kalian berdua di sini,” ucap Myungsoo yang keluar dari tempatnya. Namja itu berjalan santai menuju dua yeoja yang mencintainya.
Ingin rasanya Gongju memeluk namja itu. Tentu saja hal itu tidak mungkin ia lakukan karena di sana ada Soo Hee. Gongju dan Soo Hee bengong. Kenapa Myungsoo bisa ada di sana.
“Gongju-a, pulanglah. Kau pasti lelah. Jangan kau paksakan tenagamu terlalu keras. Kyung Ho saem pasti akan memarahimu jika beliau tahu.” Myungsoo memegang lengan kiro Gongju. Awalnya Gongju menolak karena dia masih punya sesuatu yang akan dibicarakan dengan Soo Hee. Namun karena ia tidak ingin Myungsoo mengkhawatirkannya, Gongju pun menurut. Ia pergi meninggalkan Myungsoo dan Soo Hee.
“Ikuti aku.” Myungsoo melangkah pergi dan menyuruh Soo Hee mengikutinya.
Mereka tiba di sebuah penginapan dekat taman.
Hanya memerlukan waktu kurang dari 10 menit, mereka sampai di penginapan itu. Myungsoo dan Soo Hee masuk ke dalam kamar. Soo Hee melepaskan jaketnya. Kini lengannya yang terluka dan dibalut perban yang sudah terkena darah terpampang jelas. Myungsoo bertanya-tanya apa yang telah terjadi pada yeoja itu.
“Kau tidak usah memandangku seperti itu, oppa.” Soo Hee tahu bahwa Myungsoo mengarahkan penglihatannya ke arah lengannya yang diperban.
“Lenganmu kenapa?”
Soo Hee merebahkan tubuhnya di atas ranjang, memegang lengannya yang terasa cenut cenut. Sedangkan Myungsoo duduk di sofa yang berhadapan dengan ranjang.
“Ceritanya panjang. Intinya aku melukai diriku sendiri agae bisa masuk ke Utara karena mereka menjaga perbatasan terlalu ketat.”
Myungsoo mulai curiga dengan tekad bulat Soo Hee.
“Eomma memintaku menanyakan sesuatu tentang Jung Kyung Ho. Eomma bilang, dulu ia sangat mengenal gurumu itu.”
“Ya, karena Kyung Ho saem adalah mantan jenderal terhormat di negaramu. Untuk apa eommamu memintamu datang kemari? Tunggu, eomma yang mana?”
“Soo Jin eomma. Meskipun dia bukan eomma kandungku, Soo Jin eomma sangat dekat denganku. Berbeda dengan Haeri eomma. Ia selalu memintaku melakukan ini itu. Baru pertama kali ini So Jin eomma meminta sesuatu dariku. Jadi, aku harus melakukannya dengan cara apapun.”
Myungsoo manggut-manggut mengerti maksud Soo Hee. Ia tak menyangka bagwa Soo Hee juga sangat menyayangi keluarganya.
“Oppa, kau pasti sudah tahu kalau Kyung Ho saem mu itu dibawa oleh orang-orang selatan entah kemana perginya. Aku sudah mengatakan pada Gongju bahwa aku akan membantunya. Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?”
Myungsoo mengernyitkan dahinya. Berpikir. “Mungkin kau bisa mulai menyelidiki siapa orang yang telah melakukan hal itu pada Kyung Ho saem. Dalam hal ini kau harus.pandai bersandiwara. Jangan ada yang tahu bahwa sebenarnya kau mencari informasi tentang masalah itu. Selain itu, kau bisa membicarakannya pada appamu atau PM Changmin. Katakan pada mereka untuk menjaga rahasia ini agar orang-orang jahat itu tidak mengetahui bahwa kita sedang menyelidikinya. Mintalah appamu dan PM Changmin untuk melakukan sesuatu secara rahasia. Namun jika sampai terjadi apa-apa pada Kyung Ho saem, aku akan menghancurkan negaramu tanpa sisa. Hal itu juga sudah dibahas pada rapat negosiasi waktu itu.”

Kali ini justru Soo Hee yang berpikir keras. Usulan dari Myungsoo benar, bahkan sangat benar dan tidak sulit dilakukan. Tapi masalahnya, dari mana dia harus memulai penyelidikan itu?
“Gurae, aku pulang dulu. Badanku.benar-benar capek. Kau istirahatlah. Obati lukamu dan jaga diri baik-baik.”
Myungsoo telah pergi, kini hanya ada Soo Hee sendiri di kamar itu. Ia senyum-senyum sendiri mengingat kata-kata Myungsoo sebelum namja itu pergi.

Pagi ini Gongju bersiap-siap pergi bekerja. Seragam warna hitam-putih telah melekat sempurna di tubuh indahnya.
Tok tok tok…
Seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. “Ne…” Gongju segera membuka pintu itu. “Ahjumma, waeyo? Pagi-pagi begini tumben ahjumma mencariku.”
“Gongju-a, nanti kau pulang jam berapa?” tanya Taeyeon.
“Hmm.” Gongju melihat arloji yang melingkar indah di pergelangan tangannya. “Nanti aku pulang sore. Sekitar pukul 4 sore.”
“Araseo. Nanti jika kau sudah pulang, apa kau bisa mengantarku ke supermarket?”
“Bisa, ahjumma. Nanti akan langsung pulang.”
“Gongju-a, igeo.” Taeyeon menyerahkan amplop putih pada Gongju.
“Ige mwonde, ahjumma?”
“Itu adalah tulisan tanganku. Suatu saat pasti akan berguna.”

Gongju memperhatikan amplop surat itu. Ia penasara, apa maksud Taeyeon memberinya sepucuk surat yang katanya akan berguna kelak.

Seperti biasa, Gongju bekerja mengawal pejabat negara di istana presiden, termasuk sang putra presiden yang sekaligus namjachingunya. Gongju masih kepikiran tentang ucapan Soo Hee yang ingin membantunya. Bahkan yeoja itu berjanji dengan sangat meyakinkan.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Myungsoo yang mnirukan gaya Gongju bersandar di dinding tepatnya di samping pintu ruang kerjanya.

Gongju menundukkan kepalanya, terlalu berat baginya untuk mengangkat kepala yang banyak pikiran seperti dia. “Aku memikirkan kata-kata Soo Hee. Apakah dia bisa dipercaya? Menurutmu bagaimana, oppa?”

Myungsoo berdehem. Dengan lagak soko bijaksana dia berkata,”Ada baiknya kau percaya pada Soo Hee. Tapi tetaplah waspada jika kemungkinan terburuk akan terjadi.”

Gongju tersenyum tipis. Ya, mungkin benar ucapan Myungsoo itu.

Gongju telah menyelesaikan tugasnya di istana presiden, ia hampir lupa kalau Taeyeon menunggunya di rumah. Yeoja paruh baya itu ingin mengajaknya ke supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan karena persediaan di rumah sudah menipis. Sebenarnya Taeyeon ingin mengajak Jaejoong, tapi dia sibuk dengan kegiatannya melatih anak-anak di sebuah lembaga khusus karate di daerah Pyongyang.

Setelah menempuh perjalanan 30 menit, Gongju tiba di rumah. Ia melihat Taeyeon yang sudah siap dengan tas jinjing warna coklat tua. Gongju bergegas ganti baju dan mengajak Taeyeon untuk segera berangkat karena takutnya hari semakin malam dan udara semakin kencang berhembus menyentuh kulit setiap orang yang dilaluinya. Perjalanan naik bus selama 10 menit telah dilalui, kini mereka tiba di depan supermarket, tepatnya di seberang jalan. Gongju dan Taeyeon harus menyeberang jalan yang padat lalu lintas itu. Saat mereka tiba di peseberangan jalan, lampu rambu pejalan kaki masih berwarna hijau. Gongju meminta Taeyeon berjalan lebih cepat agar mereka tak harus menunggu lampu itu berubah warna hijau lagi. Taeyeon berjalan lebih dulu, sedangkan Gongju di belakang agak jauh karena ia sekaligus mengawasi keadaan sekitar jika ada yang mencurigakan karena ini kali pertamanya Taeyeon keluar rumah sejak yeoja itu tinggal di rumahnya apalagi dia merupakan mantan pelayan di istana presiden Korsel yang mungkin saja nyawanya juga terancam, sama seperti gurunya.

Taeyeon sudah sampai di tengah jalan, sedangkan Gongju masih berada di pinggir jala dan belum menyeberang. Saat Gongju ingin melangkahkan kakinya menginjak jalan beraspal di depannya, tiba-tiba sebuah mobil melaju cukup kencang dari arah sebelah kanannya. Gongju yang mengetahui situasi gawat itu takut jika mobil itu akan menabrak Taeyeon.

Brrruukkkk!!

Sepasang mata indah Gongju terbelalak, semakin lama semakin panas. “Ahjummaaaa!!” teriak Gongju.

34 responses to “[CHAPTER – PART 8] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s