[ CHAPTER – PART 16 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

ra2r

Tittle : Rainbow After The Rain
Author : gazasinta
Main Cast : Park Jiyeon, Bae Suzy, Choi Minho, Kim Myungsoo
Genre : Family, Friendship, Romance
Rating : PG-17

Poster created by @Chomichin

Gazasinta is back….hohoho, maaf kepada para readers yang kecewa karena tiba-tiba author menghilang, author ga bener2 menghilang, hanya sedang sibuk dengan urusan duniawi yang REM to de PONG, karena author emang sejenis KEPOMPONG ( red : KEpo dan remPONG ), hehehe silahkan dinikmati, and mian jika banyak typo, I’m just a human being with a lot of mistakes, so enjoy with this ff.

Part 16

“ Mianhae, aku….tidak bermaksud untuk melakukan ini padamu “ ucap Myungsoo lemah, suaranya terdengar bergetar dengan perasaan yang campur aduk.

Keduanya masih berdiri dipintu masuk kamar Sulli, Myungsoo menundukkan wajahnya seolah menyesali apa yang baru saja ia lakukan..

“ Eum, gw-gwencana…ak-akku, aku senang kau melakukannya “ ucap Sulli mengusap tengkuknya dengan wajah yang nampak tersipu malu.

Myungsoo sungguh merutuki kebodohannya, ia sadar apa yang baru saja dilakukannya membuat yeoja ini akan berharap lebih banyak padanya, meski ia tidak pernah benar-benar ingin melakukan hal itu karena hatinya.

Penyesalan selalu saja datang di akhir, waktu yang berlalu tidak mungkin bisa ia putar kembali dan detik yang berjalan tidak akan pernah mampu ia hentikan, bukan hanya hati Sulli kelak yang akan tersakiti, bahkan sejak lama ia telah menyakiti hatinya sendiri, cintanya membuat pria seperti Kim Myungsoo menjadi bodoh dan lemah, dan sialnya ia hanya bisa membiarkan dirinya benar-benar menjadi bodoh dan lemah.

Drrrttt….

Drrrttt….

Drrrttt….

Getar yang ditimbulkan telepon dalam genggamannya membuat Jiyeon tersentak, meski hanya getaran kecil namun berhasil menyadarkan Jiyeon dari lamunannya.

“ Kau dimana ? “ suara Minho terdengar begitu khawatir.

Jiyeon mengedarkan penglihatannya, memastikan dimana dirinya sekarang berada “ Eoh, ak-ak..aku… “ ia nampak seperti orang yang bingung.

Jiyeon tertunduk menahan sedih yang datang kembali, ia benar-benar tidak sadar sedang berada dimana dirinya kini, punggunga tangannya ia gunakan untuk menutup rapat bibirnya agar isak tangis yang tiba-tiba datang lagi tidak terdengar oleh Minho, sungguh ia merasa kesal dengan dirinya sendiri entah karena apa ia tidak tahu dengan pasti penyebabnya.

“ Jiyeon-ah wae ? apa sesuatu terjadi padamu ? “ ucap Minho semakin khawatir.

Jiyeon berusaha menghirup lebih banyak oksigen “ Aku akan segera datang, kau tetaplah disana, tidak perlu mencariku “ ucap Jiyeon mencoba meyakinkan Minho bahwa dirinya baik-baik saja.

Meski kedua kakinya begitu lemah, Jiyeon bangkit dari duduknya dan mulai melangkah menuju tempat dimana Minho memarkirkan mobilnya.

Jari jemari Minho bergerak mengetuk-ngetuk setir mobilnya, berkali-kali pandangannya ia arahkan bergantian ke arah pintu masuk hotel dan jam ditangannya, sudah 20 menit sejak ia menelepon namun sosok Jiyeon belum juga muncul disana.

“ Mengapa begitu lama ? “ ucap Minho khawatir.

Diraihnya knop pintu dan membukanya, namun baru saja sebelah kakinya menjejak ditanah, sosok Jiyeon yang ditunggunya sudah nampak disana, Minho pun tersenyum lega.

“ Wae ? “ raut wajah Minho berubah saat menyadari Jiyeon berjalan gontai dan tatapannya nampak kosong.

Minho melangkahkan kakinya menghampiri Jiyeon yang berjalan seperti tidak ke arahnya, Jiyeon seolah tidak menyadari keberadaan Minho.

Tap…

Ditangkapnya sebelah tangan Jiyeon, menghalangi yeoja itu yang entah akan melangkah kemana “ Jiyeon-ah “

Seketika Jiyeon tersadar, dengan segera ia menyembunyikan wajahnya tepat ketika sosok Minho ada dihadapannya, tangannya dengan cepat bergerak untuk mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Minho menatap lekat Jiyeon yang matanya nampak merah seperti habis menangis “ Apa ada sesuatu yang terjadi ? “ tanya Minho memastikan.

Seolah tidak mendengar Jiyeon terus merogoh sesuatu dari dalam tasnya, Minho hanya memperhatikan apa yang Jiyeon lakukan.

“ Handphoneku, ah nde… ternyata ini ada disini….. pabboya!!! “ jawab Jiyeon akhirnya setelah menemukan apa yang ia cari dan memperlihatkannya pada Minho, berharap namja ini mempercayainya.

“ Apa ada sesuatu yang terjadi ? “ ulang Minho lembut menyadari ada yang aneh dari sikap Jiyeon.

Jiyeon terdiam dengan senyum yang mengambang, lidahnya nampak kelu untuk mengatakan sesuatu, pertanyaan Minho seolah mengungkit kembali kejadian yang baru saja ia lihat, dan itu dengan jelas terekam diotaknya seperti kaset film yang terus menerus diputar.

Perasaanya teramat sesak membuat airmatanya seperti terdorong ingin keluar, namun tidak ingin Minho salah paham, Jiyeon pun menarik kedua sudut bibirnya dihadapan Minho “ Ahniya, jika aku tahu telepon genggamku ada bersamaku, aku tidak akan berlari seperti orang bodoh kembali kegedung itu dan membuatku ……lelah “ ucap Jiyeon dengan kata lelah yang entah mengapa bermakna lain yang ditangkap oleh Minho.

Minho tersenyum dan menarik Jiyeon untuk mendekat ke arahnya “ Kajja, sudah malam kau butuh istirahat “.

Klik

Alunan lagu come back home milik 2NE1 terdengar, mencoba memecah keheningan suasana diantara Minho dan Jiyeon.

Minho kembali melirikkan pandangannya ke arah Jiyeon, meski yeoja itu masih betah hanya berdiam diri melempar pandangannya ke arah luar. Walau kecewa, namun Minho mencoba memahami dan membiarkan Jiyeon melakukan apa yang membuatnya nyaman.

15 menit berlalu Jiyeon masih tak bergeming, bahkan Minho pun tidak tahu kemana tepatnya ia akan mengantar Jiyeon.

“ Kita tidak akan pernah sampai jika kau tidak memberitahu dimana tempat tinggalmu “ ucap Minho mencoba membuat Jiyeon menyadari keberadaannya.

Berhasil, Jiyeon kini menoleh ke arahnya, “ Mianhae “ ucap Jiyeon pelan.

Minho terdiam ketika justru kata pertama yang ia dengar dari bibir Jiyeon adalah permintaan maaf, yang bahkan ia tidak tahu untuk apa Jiyeon meminta maaf kepadanya “ Waeyo ? “ tanya Minho mencoba mencari wajah Jiyeon yang kembali menunduk.

“ Mianhae jika aku tampak seperti mannequin dan begitu membosankan, aku hanya merasa begitu lelah hari ini, sekali lagi mianhae “ ucap Jiyeon dengan perasaan bersalah.

Minho tersenyum getir, bukan kalimat itu yang sebenarnya ingin ia dengar dari Jiyeon, namun ia juga tidak bisa memaksa Jiyeon untuk bercerita kepadanya.

“ Gomawo “ Jiyeon membungkukkan tubuhnya ketika mereka tiba dihalaman rumah yang Jiyeon tempati.
Minho belum juga berlalu dari hadapan Jiyeon, ia terus menatap Jiyeon lekat dari balik kemudinya, tepat ketika Jiyeon akan meninggalkannya

“ Jiyeon-ah “ panggilnya membuat Jiyeon kembali menoleh ke arahnya, namun kemudian Minho hanya terpaku, memikirkan kalimat apa yang ingin ia ucapkan agar Jiyeon memahami perasaannya.

Jiyeon menunggu Minho mengatakan sesuatu, namja itu nampak mencoba menghirup oksigen lebih banyak disekitarnya untuk mengatasi kegugupannya.

“ Aku tidak ingin melihat mu menangis, namun jika akhirnya kau harus menangis, aku berharap hanya bahuku yang akan kau cari untukmu bersandar, dan hanya jari ini yang akan mengusap airmatamu “ ucap Minho dengan gemuruh didadanya.

Jiyeon terdiam sejenak mendengar kalimat yang Minho ucapkan, hatinya begitu tenang saat Minho mengatakan hal itu, namun justru bukan dari bibir Minho yang ingin ia dengar untuk mengucapkan kalimat itu.

“ Minho-ah….jika saja engkau yang menjadi oppaku, aku….pasti tidak akan merasa sesakit ini “ ucap Jiyeon dalam hati, diusapnya butiran bening yang tiba-tiba keluar tanpa ia inginkan, meski hanya setetes namun sakit yang ia rasakan tidak bisa ia gambarkan.

Minho tersenyum lemah menahan rasa perih didadanya , ia bahkan sangat mengerti maksud dari tetesan airmata Jiyeon.

Jiyeon berbalik, meninggalkan Minho yang masih berkutat dengan perasaannya.

“ Seperti ini rasanya mencintai seseorang yang hatinya tidak bersama kita, Jiyeon-ah aku masih berharap ada sedikit ruang untukku dihatimu “

“ Mengapa selarut ini ? apa kau sudah makan ? “ tanya Jieun mengalihkan tatapannya dari layar televisi ketika Jiyeon baru saja masuk.

“ Eoh, kau…belum tidur ? “ Jiyeon berjalan gontai menuju kamar, digantungkannya tas punggung yang selalu ia bawa di balik pintu, ia kembali dengan handuk yang sudah ia sampirkan dipundaknya.

“ Apa kau baik-baik saja ? “ tanya Jieun menatap heran Jiyeon yang terlihat seperti orang bingung hendak memasuki kamar mandi.

“ Eoh “ ucap Jiyeon singkat mencoba tetap tersenyum.

Jieun membenarkan letak kacamatanya dan terus menatap Jiyeon hingga pintu kamar mandi itu tertutup “ Apa benar dia baik-baik saja ? “ gumam Jieun ragu, namun kembali tatapannya fokus ke arah layar televisi.

10 menit berlalu, pintu kamar mandi terbuka dan Jiyeon muncul dari sana dengan wajah yang terlihat lebih segar dan baju tidur yang sudah ia kenakan. Jieun memperhatikan hingga Jiyeon menggelar kasur dan menyelimuti tubuhnya.

“ Apa kau sudah makan ? kau langsung ingin tidur ? “ tanya Jieun heran karena biasanya Jiyeon selalu menyempatkan dirinya membaca buku ataupun menonton acara kesayangannya bersama Jieun.

“ Aku sangat lelah, mianhae tidak bisa menemanimu menikmati acara televisi “ ucap Jiyeon dan langsung menutup tubuhnya dengan selimut.

Jieun meletakkan remote televisi yang sejak tadi ia pegang dan perlahan mendekat duduk disamping Jiyeon, namun seketika Jiyeon memutar arah tubuhnya membelakangi Jieun membuat dahi Jieun mengernyit benar-benar heran dengan sikap tidak biasa Jiyeon.

“ Apa ada yang ingin kau ceritakan ? “ tanya Jieun penasaran ada apa dengan Jiyeon.

Jiyeon menggeleng dan perlahan memejamkan matanya, Jieun membuang nafasnya lembut dan mencoba untuk memahami Jiyeon “ Kau tahu running man episode kali ini adalah aktor pujaanmu, kau benar tidak ingin menontonnya ? “ Jieun kembali mencoba merayu Jiyeon, meski sahabatnya itu sama sekali tidak menatap ke arahnya.
Jieun mendesah, baru saja ia ingin beranjak dari duduknya tiba-tiba Jiyeon berkata dengan suara yang begitu pelan namun masih sangat jelas ia dengar.

“ Aku sudah menemukannya “ ucap Jiyeon masih membelakangi tubuh Jieun.

Jieun mengernyitkan keningnya tidak mengerti siapa yang sedang Jiyeon bicarakan, namun belum sempat Jieun bertanya Jiyeon kembali berkata “ Oppaku, aku sudah menemukannya, aku sudah menemukan anggota keluargaku “ ucap Jiyeon lirih.

Jieun terdiam sejenak mencoba memahami apa yang Jiyeon katakan, dan wajah bingungnya kini berubah tersenyum begitu lebar, dengan antusias ia pun meraih tubuh Jiyeon memaksa sahabatnya itu untuk menatap ke arahnya melihat ekspresi tidak percayanya.

“ Jinjja ? benarkah apa yang kau katakan ? kau….kau sudah menemukan oppamu ? lalu ? Yyaaa!!!! Bae Jiyeon bukankah ini mimpi yang sangat kau inginkan untuk terwujud ? lalu mengapa kau tidak semangat seperti ini ? Akkhhh…Jiyeon-ahhh…chukaeeee akhirnya kau menemukan mereka “ ucap Jieun seraya memeluk Jiyeon begitu erat hingga tubuh keduanya berguncang diatas kasur tipis dan membuat semuanya berantakan.

Jiyeon tersenyum miris menyadari reaksi Jieun yang begitu gembira dengan perasaan yang meluap-luap memeluknya.

“ Yya Jiyeon-ah, kau harus segera mengenalkan oppamu padaku, selama ini kau hanya menyebut dia adalah oppamu, tapi siapa namanya kau tidak pernah memberitahu, Jiyeon-ah kapan kau akan mengenalkannya, jebbal cepat kenalkan aku padanya “ ucap Jieun menangkup kedua pipi Jiyeon dan terlihat begitu antusias.

“ Aku pasti mengenalkannya padamu “ ucap Jiyeon dengan senyum yang sulit sekali ia tunjukkan.

“ Jeongmal ? akhh… aku sungguh tidak sabar menunggu itu, oppamu pasti berkali-kali lipat lebih tampan dan baik dari apa yang sudah pernah kau ceritakan padaku, aku ingin segera pagi datang, Oh…baiklah aku merelakan acara running man kali ini “ ucap Jieun terus saja berbicara seraya berjalan cepat ke arah televisi dan mematikannya.

“ Kajja kita tidur “ ucapnya seraya kembali menghampiri Jiyeon dan segera menggelar kasur disamping Jiyeon “ Selamat tidur dan mimpi indah, hari yang bahagia sudah di depan mata “ ucap Jieun dan segera menarik selimutnya, lalu tertidur dengan perasaan senang dengan kabar yang Jiyeon terima.

Jemari Jiyeon bergerak mencari letak dadanya yang kembali begitu sesak, apa yang tertangkap Jieun sungguh berbeda dari yang sebenarnya ia rasakan “ Tidak seperti ini, setidaknya kegembiraanku harus sama seperti yang Jieun rasakan “ batin Jiyeon tidak mengerti mengapa perasaannya tidak segembira Jieun yang hanya mendengar cerita keluarga Kim dari bibirnya.

“ Oppa, aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan, kau memang tidak pernah berubah dan tidak akan pernah berubah, kau akan tetap menjadi oppa untukku, jadi kau jangan selalu mengatakan hal-hal yang membuat aku bingung”

“ Oppa, nona Sulli sangat baik dan cantik, kalian berdua sangat serasi, chukae….akhirnya aku akan memiliki kakak ipar, aku harap kau akan segera mengenalkanku secara resmi “

“ Huh…seharusnya aku menyadari bagaimana kau menganggapku “ ucap Myungsoo mengulum senyum pahit seraya mengesap rokok ditangannya.

Dikendurkan dasi yang seolah mencekik lehernya, membiarkan banyak oksigen masuk ke dalam paru-parunya, sementara bibirnya terus mengesap rokok dari tangannya mengeluarkan asap tebal yang ia hembuskan jauh ke depan, hal yang baru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya meski ia sangat membenci jika melihat orang lain melakukan hal itu dihadapannya.

Ia duduk dipagar balkon apartemennya, mata tajamnya memandang jauh ke depan, berharap perpaduan cantik lampu warna-warni dari gedung-gedung pencakar langit yang terlihat dihadapannya dapat merubah perasaannya. Sudut bibir atasnya tertarik membentuk senyum sinis mengingat kalimat Jiyeon yang begitu menghujam jantungnya.

Tring…

Layar teleponnya menyala, menandakan 1 pesan masuk dalam inboxnya, Myungsoo meraih telepon genggamnya, nama Minho tertera disana.

“ Apa kau sudah tidur ? hubungi aku setelah kau membaca pesan ini “

Myungsoo meletakkan telepon genggamnya begitu saja, mengabaikan pesan Minho untuknya, ia tidak ingin membuat keadaannya semakin rumit, apa yang telah ia katakan kepada Minho cukup menjelaskan jika ia telah merelakan Jiyeon.

Hatinya sudah buruk malam ini, dan ia tidak ingin patah hati untuk yang ke sekian kali karena orang yang sama, Jiyeon hanya menganggap Myungsoo sebagai oppa untuknya, dan itu tidak mungkin berubah.

Suara klakson dan deru mesin dibawah sana membuat Myungsoo tidak menyadari hari semakin larut, bahkan angin kencang tidak membuatnya ingin beranjak dari posisinya kini, berharap pikiran beratnya tertiup terbawa angin dan hilang tanpa bekas.

“ Jaga kesehatan selama kami tidak bersamamu, dan berjanjilah untuk tidak bekerja hingga larut malam di depan laptopmu “ ucap Nana seraya mengelus lembut pipi Suzy dan enggan untuk berpisah.

Suzy tersenyum dan memeluk eommanya yang begitu protektif padanya “ Baiklah eommaaaa… kita hanya 1 minggu berpisah, mengapa begitu mengkhawatirkan ku “ ucap Suzy tersenyum geli.

Nana nampak tidak peduli dengan apa yang Suzy katakan, ia hanya mengerucutkan bibirnya dan membalas pelukan Suzy tidak kalah erat “ Apa kau tidak senang jika eomma mengkhawatirkan putrinya ? “ ucap Nana.

“ Tentu saja aku senang, tapi eomma terlalu berlebihan “ ucap Suzy menggoda eommanya.

Tiba-tiba tangan seseorang menarik tubuh eomma dan menjauhkannya dari Suzy “ Suzy-ah, paliwa pesawatmu akan segera berangkat, biar eomma mu ini appa yang mengurusnya “ ucap Jaejoong seraya menarik Nana yang berat melepas tubuh Suzy jauh darinya.

“ Mengapa kau terlalu sibuk, hingga kita tidak bisa kembali bersama dengan Suzy ? “ ucap Nana dengan nada menyalahkan Jaejoong.

Jaejoong membuang nafasnya lembut dan mencoba tersenyum dengan ucapan istrinya yang lebih terkesan merengek “ Kau… apa tidak ingin kita menikmati waktu berdua saja tanpa ada gangguan mereka eoh ? “ ucap Jaejoong yang membuat Nana mengernyitkan dahinya aneh dengan sikap Jaejoong

“ Kau sudah terlalu tua untuk mengatakan hal yang menggelikan seperti itu “ ucap Nana sedikit kesal.

“ Ha…ha..ha “

Jaejoong dan Suzy tertawa bersamaan melihat reaksi eommanya, Suzy melirik jam ditangannya “ eoh ini sudah waktunya aku berangkat “ ucap Suzy seraya mengambil alih koper dari tangan appanya dan kini berdiri dengan wajah nampak serius.

“ Baiklah, appa eomma aku berangkat, mungkin aku tiba besok pagi di Korea, ingat kalian jangan memberitahukan ini pada oppa, aku tidak ingin mengganggu pekerjaannya “ ucap Suzy

Keduanya pun mengangguk, Jaejoong meraih kepala Suzy dan memberikan kecupan di dahi “ eoh, pergilah….appa dan eomma segera menyusulmu “ ucap Jaejoong.

“ Hati-hati Suzy-ah “ ucap Nana dengan senyumnya yang nampak sedih.

Suzy mengangguk, ia kemudian menyeret kopernya melangkah menuju pesawat yang akan membawa dirinya ke negeri kelahirannya.

Jaejoong dan Nana masih berdiri dibelakang mengiringi kepergian Suzy, sesekali putrinya itu melemparkan senyum ketika kembali menoleh ke arah mereka.

“ Dia telah tumbuh dewasa dan semakin cantik “ ucap Nana tidak melepas pandangannya dari tubuh Suzy yang semakin menghilang dari pandangannya.

“ Eoh, sikapnya pun sungguh jauh berbeda dari pertama kali ia datang ke dalam keluarga kita, gomawo kau telah merawatnya dengan sangat baik “ sambung Jaejoong tersenyum bangga pada istrinya.

Hati Nana sungguh merasa sedih, tiba-tiba matanya berkaca-kaca, mengingat Suzy tentu saja membuka kembali kenangannya akan sosok putrinya yang lain, yang sampai saat ini tidak sekalipun ia menerima kabarnya.

“ Kau pasti mengingatnya ? “ tanya Jaejoong yang seolah paham apa yang istrinya rasakan, karena tidak bisa ia pungkiri, selama 7 tahun pertumbuhan anak-anaknya, sosok Jiyeon kerap kali juga hadir dalam benaknya, hanya saja ia lebih memilih diam agar istrinya tidak selalu bersedih.

“ Eoh, yeobbo….aku sungguh ingin sekali melihat bagaimana Yeonnie sekarang “ ucap Nana semakin sedih.

Jaejoong menarik tubuh Nana kedalam dadanya “ Uri Yeonnie pasti tidak kalah cantik dan sehebat Suzy, bersabarlah….kita pasti akan kembali bersama “ ucap Jaejoong menghibur Nana.

“ Selamat pagi nona “ ucap Jiyeon membungkukkan tubuhnya ketika Sulli membukakan pintu untuknya.

“ Eoh, kau ? apa kau ingin membersihkan kamarku sekarang ? “ tanya Sulli sibuk dengan roll rambut yang ada dikepalanya.

Jiyeon sedikit bingung dengan pertanyaan Sulli, bukankah ini memang jadwal dirinya untuk membersihkan kamar sebelum ia mengambil baju tamu hotel untuk dicucinya, Ia melihat Sulli yang mengangkat tangannya dan melirik ke arah jam tangan dan nampak berpikir sejenak

“ Sebenarnya kekasihku sebentar lagi akan datang menjemputku, tapi baiklah aku tidak keberatan….kau bisa melakukannya sekarang “ ucap Sulli akhirnya.

Kini Jiyeon yang nampak terkejut, baik Myungsoo atau dirinya belum menceritakan apapun jika mereka memiliki hubungan yang mereka sebut saudara, jika hari ini ia bertemu Myungsoo dihadapan Sulli pasti akan menimbulkan salah paham pada dirinya.

“ Eoh jika begitu, aku akan kembali nanti saja maafkan aku nona “ Jiyeon membungkuk hormat dan memutar tubuhnya mendorong alat pembersih yang ia bawa segera berlalu dari sana.

Namun langkah Jiyeon tiba-tiba terhenti, jarak 3 meter dari hadapannya masih cukup untuk matanya mengenali seorang pria yang baru saja keluar dari lift dan kini melangkah ke arahnya, Jiyeon terdiam ….. detak jantungnya seakan melompat-lompat seiring dengan derap langkah pria itu yang semakin mendekat, meski tujuan utamanya bukanlah menghampirinya.

Kim Myungsoo, langkah namja berkaki panjang itu pun melemah, tatkala ia juga menyadari siapa yeoja yang kini ada dihadapannya, ia tidak berhenti ataupun berbalik, meski ia menginginkan untuk melakukannya. Sosok Sulli masih berdiri dan tersenyum ke arahnya yang justru mata dan pikiran Myungsoo hanya tertuju pada yeoja yang hanya menganggapnya oppa. Bagaimanapun, Jiyeon dan Sulli……Myungsoo harus mengenalkan keduanya dengan status masing-masing, dongsaeng dan calon tunangan untuk dirinya.

Ketika hampir tidak ada jarak lagi “ Annyeong oppa “ ucap Jiyeon dengan suara yang teramat pelan dan gesture tubuh yang ia sembunyikan agar Sulli tidak menyadari apa yang ia lakukan.

“ Sulli disana, aku akan mengenalkannya padamu “ balas Myungsoo tidak tahu apakah ini waktu yang tepat namun ia memang harus melakukannya seperti yang juga Jiyeon inginkan.

Jiyeon terdiam, ia benar-benar tidak menginginkan perasaan di pagi harinya sama seperti kemarin malam ketika ia melihat keduanya berciuman “ Oppa, aku mohon tidak sekarang, aku…..aku harus menyelesaikan pekerjaanku “ ucap Jiyeon dengan suara lemah yang memohon.

Tidak peduli apa yang Jiyeon ucapkan “ Aku tidak ingin Sulli salah paham, sekarang ia menatap kita “ ucap Myungsoo.

Hati Jiyeon mencelos, Myungsoo mengabaikan perasaannya hanya karena tidak ingin Sulli salah paham terhadapnya, namun akhirnya ia hanya pasrah mengikuti langkah Myungsoo yang menarik pergelangan tangannya.

Myungsoo menggengam erat tangan Jiyeon dan menariknya, meninggalkan apa yang Jiyeon bawa dan mendekat ke arah Sulli, langkah keduanya diiringi tatapan tidak percaya Sulli yang masih berdiri di pintu kamarnya.

Sulli terdiam, dihadapannya Myungsoo kekasihnya menggenggam erat tangan yeoja yang ia tahu adalah seorang pelayan hotel mendekat kearahnya , berbagai macam dugaan kini ada dikepalanya.

“ Kalian ? “ heran Sulli ketika Myungsoo dan Jiyeon ada dihadapannya, Jiyeon dengan segera melepaskan tangannya yang masih digenggam oleh Myungsoo.

“ Kenalkan, dia…. calon tunanganku …..Choi Sulli “ ucap Myungsoo seraya memberanikan dirinya menatap mata Jiyeon, namun setelah mengatakannya hatinya terasa sesak.

Jiyeon menarik kedua sudut bibirnya mencoba tersenyum membalas tatapan Myungsoo yang mengenalkannya meski setelah mendengar itu, ia sulit menelan air liurnya sendiri “ Annyeong nona…..kita sudah saling mengenal, aku Bae Jiyeon…..dongsaeng Myungsoo oppa “ ucap Jiyeon membungkukkan tubuhnya, sementara Myungsoo kini mengalihkan tatapan matanya mencoba menahan kesedihannya.

Sulli masih begitu terkejut, ia menutup mulutnya dan belum percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui dari keduanya “ Kalian ? mengapa …mengapa kalian tidak bercerita sejak awal ? kau ini dongsaeng Myungsoo ? maksudku dongsaeng ? “ ucap Sulli masih belum mengerti, karena marga keduanya berbeda.

“ Kami….kami….adalah….adik…” Jiyeon benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, hingga….

“ Sepupuku “ ucap Myungsoo menyelamatkan Jiyeon dari pertanyaan Sulli.

“ Kami sudah lama tidak bertemu, karena keluarga ku memutuskan menetap di Amerika, meninggalkan keluarganya sendiri di Korea “ ucap Myungsoo menjelaskan pada Sulli.

Jiyeon menunduk merasa bersalah, apa yang Myungsoo ucapkan memang tidaklah benar, bukan Myungsoo yang meninggalkannya, melainkan dirinya yang meninggalkan keluarga Kim, namun ia bisa apa ? Jiyeon hanya terdiam membiarkan Myungsoo yang menjelaskan tentang hubungannya.

“ Begitu ? ahh pasti kalian sangat saling merindukan, 7 tahun kau di Amerika bukan waktu yang singkat ? tapi kenapa kau baru mengatakannya ? kapan tepatnya kalian kembali bertemu ? apa ketika Jiyeon mengantar sarapan ke apartemenmu ? kau tahu, Jiyeon-ssi adalah wanita yang kau…. “ Sulli menggantung kalimatnya ketika melihat wajah Jiyeon yang seolah tahu apa yang ingin Sulli ucapkan dan memohon untuk tidak mengatakannya.

Myungsoo mengernyitkan dahinya ketika Sulli menggantungkan kalimatnya, namun buru-buru Sulli mengalihkan pembicaraan.

“ Tidakkah sebaiknya kita masuk ? “ ucap Sulli akhirnya, sementara Jiyeon berharap Myungsoo tidak lagi mengungkitnya.
Entah mengapa Jiyeon tidak ingin Myungsoo tahu bahwa ia pernah berada dalam keadaan bahaya dan hampir kehilangan kesuciannya jika Myungsoo tidak datang ketika itu, ia tidak ingin Myungsoo khawatir yang berlebihan ketika mengetahuinya, meski ia tidak yakin apakah kepedulian Myungsoo tetap sama dengan 7 tahun yang lalu.

Minho membuka kacamata coklat nya, melihat ke setiap orang yang baru tiba di terminal kedatangan, dan ketika ia melihat orang yang ditunggunya sudah muncul, ia pun sedikit berlari dan menyambutnya.

“ Annyeonghaseyo nyonya Seo “ ucap Minho membungkukkan tubuhnya memberi salam.

“ Annyeonghaseyo, kau tuan Choi Minho ? aigo ternyata kau masih sangat muda, aku tidak menyangka jika pemimpin perusahaan furniture besar di Korea adalah seorang pria muda tampan seperti mu “ ucap nyonya Seo yang adalah rekan bisnis Minho yang baru datang dari Amerika.

“ Hahaha….kamsahamnida nyonya, anda terlalu berlebihan, baiklah silahkan nyonya “ ucap Minho memberikan jalan untuk mendampingi nyonya Seo.

“ Kamsahamnida, tapi bisakah kau menunggu sebentar saja, aku bersama seorang wanita yang bekerja di rumah mode milik anak ku, ia juga menaiki pesawat yang sama denganku, eoh itu dia !!! “ ucap nyonya Seo seraya menunjuk seorang wanita yang baru saja keluar dari toilet di terminal kedatangan.

Minho terhenyak, wanita tinggi semampai, dengan rambut panjang hitamnya yang bergelombang indah serta wajah bersinarnya yang begitu memancar berjalan ke arahnya, wanita itu yang beberapa hari lalu menghubunginya dan mengatakan merindukan kebersamaan mereka kini sudah nampak dimatanya.

“ Annyeonghaseyo, oreinmaniya….Choi Minho “ ucap wanita yang ternyata adalah Kim Suzy adik dari sahabatnya Kim Myungsoo membungkukkan dirinya

Minho masih terdiam menatap Suzy lekat , tidak hanya terkagum akan kecantikkan Suzy namun rasa haru yang datang tiba-tiba karena mereka bisa kembali bertemu, 7 tahun yang lalu terakhir kali ia melihat Suzy ditempat yang sama, bandara Incheon yang akhirnya mengantarkan Suzy dan keluarganya pergi ke negeri yang berbeda 14 jam dari negerinya, dan mulai merubah hidupnya karena semua orang yang dekat meninggalkannya sendiri di Korea..

“ Eoh annyeong Suzy-ah, lama kita tidak bertemu “ ucap Minho masih tidak percaya.

“ Suzy banyak bercerita tentangmu dipesawat tadi, aigo…..dunia ini begitu sempit, tidak menyangka aku dan Suzy yang begitu jauh, mengenal orang yang sama, baiklah Suzy akan ikut bersama denganku terlebih dahulu, sebelum nanti aku akan mengantarnya ke perusahaan anakku, apakah kau tidak keberatan ? “ tanya nyonya Seo.

“ Eoh tentu saja nyonya, mana mungkin aku keberatan, dia juga sahabat ku “ ucap Minho.
Suzy tersenyum menatap Minho, hatinya begitu bahagia sosok Minho tidak lagi hanya angan-angan yang hanya ada dipikirannya selama 7 tahun ia berada dinegeri yang berbeda, Minho pria ini semakin menarik dengan kharisma yang kuat yang nampak dimata Suzy.

Jiyeon berjalan lemah dilorong hotel, meski air conditioner di dalam kamar hotel begitu baik entah mengapa ia merasa sesak didalamnya.

“ Hari ini kami akan fitting baju pertunangan, kau sudah mendengarnya bukan ? beberapa minggu lagi acara pertunangan kami akan digelar , pastikan kau juga berdandan cantik tidak kalah denganku…hahaha “

Jiyeon menggelengkan kepalanya, berharap kalimat itu hilang dari pikirannya, ia mendorong kembali alat pembersih dan melangkah cepat menuju lift.

Ia menyandarkan tubuhnya didalam lift yang pagi ini begitu sepi, membuang nafasnya kasar “ Yeonnie-ah sebenarnya apa yang kau rasakan ? “ tanyanya pada diri sendiri.

“ Mianhae, aku tidak bisa melakukannya hari ini…..aku harap kau mau menungguku lagi untuk kali ini “ mohon Myungsoo yang entah mengapa ia membatalkan janjinya dengan Sulli tiba-tiba, padahal awalnya ia datang karena ia menyetujui permintaan Sulli untuk melakukan fitting baju pertunangannya

Kali ini Sulli begitu kecewa dengan penolakan Myungsoo, hari pertunangan semakin dekat dan ia sudah begitu lelah mengurus semuanya sendiri, ia merasa Myungsoo seolah-olah mengundur apapun jika itu berhubungan denga persiapan pertunangannya.

“ Apa karena pekerjaanmu ? “ tanya Sulli masih penasaran alasan Myungsoo kali ini membatalkan jadwalnya.
Myungsoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa ada penjelasan apapun yang membuat Sulli ragu untuk mempercayainya.

“ Jika begitu mengapa kau datang menemuiku ? kau bisa menelepon untuk membatalkannya tidak perlu repot-repot membuang waktumu “ ucap Sulli meski bernada lembut namun jelas terlihat kekecewaan dari raut wajahnya.

“ Sebenarnya aku hanya merasa tidak enak pada pemilik butik, karena sudah berjanji hari ini, tapi jika kau tidak bisa, ya aku harus bagaimana ? “ ucap Sulli akhirnya seraya berdiri menuju kamarnya meninggalkan Myungsoo dan melemparkan tasnya kearah ranjang serta melepas anting-antingnya, ia berdiri menatap dirinya di cermin meja riasnya.

“ Sulli-ah, mianhae…..” ucap Myungsoo menggantung.

Sulli mendengar lagi permintaan maaf Myungsoo dari kamarnya, ia terdiam menunggu Myungsoo kembali mengatakan sesuatu.

“ Aku memang tidak pernah bercerita apapun padamu, karena memang tidak mudah untukku bercerita apapun yang aku rasakan pada semua orang, jika kini aku tidak bisa memenuhi harapan atau apapun yang kau inginkan, bukan karena aku ingin menghindarinya, hanya saja aku belum bisa melakukannya, aku seperti ini dan inilah aku, aku harap kau mau mengerti “ ucap Myungsoo menunduk mengatakan apa yang ia rasakan berharap Sulli kembali mengerti, meski ia sadar jika ia terlalu egois.

Sulli terdiam, namun terlintas pikiran konyolnya jika ini berhubungan dengan pertemuannya dengan Jiyeon tadi.

“ Bisakah kita tidak membicarakan ini ? “

Sulli kembali mengingat Myungsoo menghentikan pembicaraan tentang pertunangannya kepada Jiyeon, meski ia tidak tahu apakah karena Myungsoo tidak ingin membicarakannya, atau karena Jiyeon.

“ Baiklah, aku mengerti, katakan padaku jika kau sudah siap melakukannya “ ucap Sulli yang kini berdiri di pintu kamarnya menatap Myungsoo.

Myungsoo menyadari jika Sulli begitu kecewa, tapi entah mengapa hari ini ia hanya ingin melakukan apa kata hatinya, ingin begitu egois setelah sekian banyak hal ia menahannya, meski kini ia menyakiti Sulli.

“ Kamsahamnida Tuan Choi, kau sangat baik, tapi benar kau tidak apa-apa jika harus mengantar Suzy ? “ tanya nyonya Seo ketika Minho mengambil alih janjinya untuk mengantar Suzy ke rumah mode anaknya.

“ Ah nde, cheonmanayo….justru saya yang harusnya berterimakasih pada anda, Suzy sahabat saya dan mana boleh nyonya yang mengantar pegawainya “ ucap Minho membuat nyonya Seo tersenyum.

“ Kami pamit nyonya Seo, istirahatlah, dan saya berharap proyek kita akan terus berlanjut “ ucap Minho membungkuk.

“ Tentu saja, aku senang dengan pelayananmu dan sikap profesional dirimu , kamsahamnida “ nyonya Seo juga membungkukkan tubuhnya.

Di dalam mobil Minho….

“ Apa kau tidak meminta oppamu menjemputmu ? “ tanya Minho membuka percakapan.

Suzy menatap Minho “ Ahniyo, aku sengaja tidak memberitahunya “ ucapnya singkat menahan debar didadanya karena harum tubuh Minho menyeruak dan masuk ke dalam indra penciumannya, ia menyukai nya, ahni ia memang menyukai apapun tentang Minho.

“ Kami sudah bertemu, apa Myungsoo sudah bercerita padamu “ pandangan Minho masih fokus menyusur jalan, tidak menyadari Suzy terkesiap dengan apa yang dikatakannya, meskipun Minho tidak menyebutkan siapa yang sedang ia bicarakan, namun Suzy memahami jika ini mengenai yeoja itu, Bae Jiyeon.

“ Se- sejak kapan ? oppa tidak mengatakan apapun padaku “ ucap Suzy masih terkesiap.

“ Apa kau tahu alasan oppamu tidak mengatakannya padamu ? “ Minho tersenyum sinis ketika membayangkan alasan Myungsoo merahasiaka pertemuannya.

“ Ahniyo, kau tahu “ Suzy bertanya balik, namun Minho hanya mengendikkan bahunya tidak ingin mengatakan apa yang ia pikirkan.

“ Aku…..juga sangat ingin bertemu dengannya, terakhir kami bertemu, aku menyakitinya, dan itu menyisakan penyesalan yang mendalam pada diriku, bagaimana keadaannya? apa dia masih berhati malaikat seperti oppa dan kau selalu pikirkan ? “ ucap Suzy dan kini dirinya penasaran dengan apa yang akan Minho katakan.

“ Dia tidak berubah, bahkan semakin mengagumkan orang yang mengenalnya “ ucap Minho.
Suzy tersenyum dan menganggukkan kepalanya menyetujui apa yang Minho katakan, meski ia ingin mendengar Minho juga menilai dirinya sebaik Jiyeon.

“ Apa…..kau masih…. menyukainya ? “ tanya Suzy memberanikan dirinya mengilik lebih dalam perasaan Minho.

Minho tidak segera menjawab, namun tatapan Suzy seolah menuntutnya untuk menjawab “ Mengapa kau menanyakan itu ? apa kau tidak sakit hati jika aku akhirnya mengatakan perasaanku belum berubah, aku masih sangat mencintainya “ ucap Minho dan setelahnya ia menyadari sikap gugup Suzy.

“ Aku baru sadar, begitu banyak perbedaanku dengan Jiyeon, salah satunya adalah dalam hal mempertahankan cinta seseorang, Jiyeon…. ia begitu hebat membuat pria-pria yang menyukainya tidak mudah berpaling bahkan semakin mencintainya, sedangkan aku ? entahlah…bahkan aku tidak bisa mempertahankan sahabatku untuk tetap bersama dan peduli padaku “ ucap Suzy tersenyum meski hatinya terasa begitu sedih.

Minho merasa bersalah mendengar apa yang Suzy katakan, menjaga cinta dengan sahabat memang begitu sulit, namun entah mengapa pada akhirnya ia lebih memilih cintanya dan menyakiti sahabatnya.

“ Gomawo, kau sudah bersedia mengantarku, apa kau keberatan jika kelak aku meminta dirimu yang mengantarkanku menemui Jiyeon ? “ tanya Suzy menahan sementara langkahnya untuk memasuki kantor barunya.

“ Mengapa aku, mengapa tidak oppamu ? “ tanya Minho heran, namun begitu, ia juga tidak berniat menolak jika memang Suzy memintanya.
Suzy tersenyum dan berbisik pelan dihadapan Minho “ Jika oppa, aku harus meminta ijin pada Sulli eonnie terlebih dahulu agar mengijinkan oppa menemui Jiyeon “

Minho membelalakkan matanya dan menatap Suzy dengan pandangan tidak mengerti, apa itu artinya Suzy tahu bahwa oppanya menyukai Jiyeon ? sejak kapan ? jika saja Suzy masih menyukai dirinya, bukankah Suzy akan senang apabila Myungsoo dan Jiyeon dapat bersama ? apakah justru Suzy yang akan menghalangi langkahnya untuk mendapatkan Jiyeon ? pikiran Minho sudah sangat jauh menebak apa yang akan terjadi di depan, tidak sadar jika Suzy sedang tertawa menatap wajah bengongnya.

“ Aku masuk dulu, sampai jumpa “ ucap Suzy melambaikan tangannya dan segera meninggalkan Minho.

“ Jwesonghamnida ibu kepala, nona Sulli sangat baik padaku, karena itu aku merasa tidak enak terus-menerus menerima pemberiannya, jadi ku mohon pilih saja orang lain yang bertanggungjawab untuk mengurus kamarnya “ ucap Jiyeon memohon.

Kepala kebersihan hotel berpikir sejenak untuk mengabulkan permintaan Jiyeon meminta dirinya untuk dipindahkan kekamar lain, alasan yang Jiyeon ucapkan memang tidak ia pahami, namun mengingat jika Jiyeon adalah pegawainya yang rajin dan jujur ia merasa harus sedikit mengapresiasi pegawainya ini.

“ Baiklah, mulai hari ini kau tidak perlu lagi bertanggungjawab atas kamar nona Sulli, tapi kau tidak keberatankan jika tamu penggantinya adalah seorang halmeoni yang sangat cerewet ? “ ibu kepala seolah berkelakar.

“ Nde, kamsahamnida bu kepala , itu tidak masalah untukku “ ucap Jiyeon membungkukkan tubuhnya dan tersenyum senang.

Jiyeon melangkah untuk kembali bekerja, meski tidak yakin jika ia akan benar-benar terhindar dari kedua orang yang saat ini begitu tidak ingin untuk ia temui, namun untuk membuat dirinya nyaman saat ini sangatlah penting.

“ Kau sudah membersihkan kamar nona Sulli ? “ tanya Jieun ketika ia melihat Jiyeon masuk ke area pantry.

Jiyeon berdiri didepan cermin seraya merapikan seragam yang ia kenakan agar terlihat lebih rapi, perlahan ia memejamkan matanya dan membuang nafasnya “ Mulai hari ini, aku sudah tidak bertanggungjawab atas kamar nona Sulli “ ucapnya tersenyum lega.

Jieun mengernyitkan dahi dan menghampiri Jiyeon yang masih berdiri dihdapan cermin “ Jeongmal ? ada apa ? “ tanya Jieun penasaran.

Jiyeon kemudian memandang Jieun dan mencengkeram lembut kedua bahu Jieun, sudah ia tebak orang yang pertama kali bertanya mengenai alasan kepindahannya adalah Jieun.

“ Aku hanya menjalankan perintah ibu kepala saja “ ucap Jiyeon berbohong.

“ Waeyo ? apa kau berbuat kesalahan ? mengapa kau dipindahkan “ ucap Jieun masih tidak puas dengan jawaban Jiyeon.

Jiyeon menghela nafasnya dan memandang Jieun seolah memohon “ Aku sungguh hanya diperintahkan untuk bertanggungjawab atas kamar lainnya, kau tidak percaya padaku ? “ balas Jiyeon agar Jieun tidak lagi membahas kepindahannya.

“ Baiklah, aku tidak bertanya lagi “ ucap Jieun akhirnya meski tidak benar-benar percaya dengan alasan yang Jiyeon katakan.

Myungsoo hanya membolak-balikkan kertas yang seharusnya sudah ia tanda tangani sejak sekretarisnya mengantarkan itu 1 jam yang lalu, namun hingga kini jangankan untuk menandatanganinya, untuk memahami apa isinya saja otaknya terasa buntu.

Tok…tok..tok

“ Aisshhh, apa dia tidak mengerti aku pasti akan memanggilnya jika ini sudah selesai “ ucap Myungsoo moodnya terasa bertambah buruk.

Pintu ruangannya terbuka sebelum ia memberi ijin untuk pintu itu bergerak “ Yyyaaa….aku sudah bilang aku ak-…..” teriakannya terhenti ketika wajah lain yang muncul dari balik pintu.

Bukan wajah sekretarisnya yang berkali-kali datang dan menanyakan dokumen-dokumen yang harus ia tandatangani melainkan sosok Minho yang kini sedang berjalan kearahnya.

“ Apa mood mu sedang tidak baik ? “ tanya Minho dan langsung duduk dihadapan Myungsoo tanpa menunggu Myungsoo mempersilahkannya.

Myungsoo menyandarkan tubuhnya di bahu kursi dan melempar malas pena yang sejak tadi ia pegang “ Biasa saja, ada apa ? “ tanya Myungsoo singkat.

Minho menatap Myungsoo yang saat ini juga sedang menatap kearahnya “ Apa kau tidak membaca pesanku ? “ tanya Minho.

Myungsoo menaikkan sebelah alisnya, tidak menjawab pertanyaan Minho ia justru berdiri dan melangkah menuju lemari es yang tersedia dipojok ruangannya “ Kau mau minum apa ? panas, dingin, manis atau biasa saja ? “ ucap Myungsoo menawarkan minuman untuk Minho.

“ Apapun yang tersedia disana “ ucap Minho masih memandang lekat kearah Myungsoo.

Myungsoo menganggukkan kepalanya mengerti dan memilihkan minuman yang sama dengannya untuk Minho.

“ Jadi, apa kau sudah membaca pesanku ? “ Minho kembali mengulang pertanyaannya.

Myungsoo hanya menganggukan kepalanya sekali untuk menjawab pertanyaan Minho, ia kembali berjalan menuju kursinya dan menaruh minuman dihadapan Minho.

” Lalu kenapa kau tidak menghubungiku ? apa kau sudah tahu apa yang akan aku bicarakan ? “ pandangan Minho terus mengikuti kemana Myungsoo bergerak.

Merasa Minho seolah memojokkannya dengan pertanyaan, Myungsoo pun tersenyum mengejek “ Jika melihat wajahmu yang seperti itu …..sepertinya ini persoalan yang sangat serius , katakankanlah “ ucap Myungsoo seraya membuka kaleng minumannya paksa dan meneguknya perlahan.

Minho terus menatap Myungsoo, entah mengapa melihat wajah Myungsoo ia seperti melihat wajah Jiyeon yang sedang menangis didalamnya.

“ Ada dua hal yang ingin aku bicarakan padamu “ ucap Minho mengangkat sebelah kakinya dan menaruh dikakinya yang lain.

“ Pertama, apa kau tahu…Suzy sudah kembali ke Korea, aku baru saja mengantar ke kantor barunya ? apa kau tahu ? “ tanya Minho.

Myungsoo hampir saja tersedak “ Uhuk…uhuk…uhuk, jeongmal ? “ tanyanya dengan wajah kagetnya.

“ Wae ? mengapa kau begitu kaget, ada sesuatu yang kau sembunyikan darinya ? “ tanya Minho ingin tahu.

Myungsoo melap bibir basah dengan ibu jarinya, ia sama sekali belum menceritakan pada Suzy mengenai Jiyeon, ia harus mencegah Suzy bertemu dengan Sulli terlebih dahulu untuk menghalangi kesalahpahaman jika saja apa yang Suzy katakan tidak sama dengan apa yang sudah ia sampaikan pada Sulli.

“ Ahniyo, aku belum memberitahu jika aku sudah bertemu dengan Jiyeon” ucap Myungsoo nampak khawatir.

“ Lalu dimana letak masalahnya ? “ tanya Minho tidak mengerti.

“ Eoh….tidak ada “ ucap Myungsoo akhirnya tidak lagi ingin membuat Minho berpikiran aneh kepadanya.

Meski tidak mengerti alasan Myungsoo menyembunyikan tentang pertemuannya dengan Jiyeon, namun Minho tidak lagi peduli tentang itu “ Dan yang kedua, Jiyeon kembali ke hotel untuk mengambil barangnya yang tertinggal semalam, namun ketika kembali, aku tidak mengenalnya sebagai Jiyeon, apa kau bertemu kembali dengannya dan mengatakan sesuatu ? “ tanya Minho memastikan apa yang tidak ia dapatkan dari Jiyeon semalam.

Myungsoo menatap Minho, mencoba memahami pertanyaan Minho, pagi tadi ia bertemu Jiyeon, yeoja itu masih bersikap seperti biasanya, tidak ada yang aneh seperti yang baru saja Minho tanyakan “ Kau selalu menanyakan padaku apapun tentang Jiyeon, mengapa kau tidak mencari tahunya sendiri ? “ ucap Myungsoo dengan senyumnya yang lebar merasa lucu dengan pertanyaan Minho, meski kini ia penasaran apa maksud Minho.

Minho tersenyum sinis ke arah Myungsoo “ Tch, apa kau tidak merasa heran jika tiba-tiba seorang yeoja meneteskan air mata meski kau tidak mengatakan apapun padanya ? kau juga benar-benar tidak ingin tahu jika yang meneteskan airmata itu Jiyeon ? “ ucap Minho dengan suara pelan namun begitu jelas disetiap kalimatnya.

Myungsoo terdiam, Jiyeon menangis ? sungguh hanya mendengar bahwa yeoja itu menangis saja, kakinya sudah ingin segera berlari dan menemuinya, namun Myungsoo memilih menyembunyikan kegelisahannya.

“ Minho-ah, kita baru menemukan Jiyeon kemarin setelah berpisah begitu lama, selama itu….pasti banyak perubahan besar yang terjadi pada dirinya, kau dan aku……kita berdua sama-sama orang lain dalam hidupnya kini, orang yang sama-sama tidak mengenal baik dan memahami perasaannya “ ucap Myungsoo menahan segala gejolak dihatinya.

Myungsoo merasa tidak adil jika air mata Jiyeon selalu dikaitkan karenanya, bahkan Myungsoo akan merelakan kebahagiannya untuk ditukar agar yeoja itu tak pernah meneteskan air matanya .

“ Aku hanya bertanya apakah kau bertemu kembali dengannya dan mengatakan sesuatu semalam ? iya atau tidak, hanya itu yang perlu kau jawab “ tegas Minho.

“ Tidak, aku tidak bertemu dengannya “ Myungsoo pun menjawab dengan tegas kali ini.

“ Geurae, aku paham…..ini tidak ada hubungannya denganmu “ ucap Minho berusaha menunjukkan kelegaan hatinya meski sebenarnya masih terasa mengganjal.

Minhopun berdiri dan tersenyum kearah Myungsoo “ Aku pergi, mianhae menganggu waktumu, kembalilah bekerja eoh “ ucap Minho.

Tiba-tiba Minho mengingat sesuatu, sebelum kembali melangkah….

“ Myungsoo-ah, pertunanganmu bukankah sebentar lagi ? jika boleh aku sarankan sebaiknya kau menahan dirimu untuk bertemu dengan Jiyeon agar hatimu tidak menjadi goyah “ Minhopun melangkah meninggalkan Myungsoo yang hanya terdiam dengan perasaan sakit dihatinya.

Matahari berangsur-angsur bersembunyi di balik awan, panasnya tidak lagi sekuat beberapa jam yang lalu, hanya awan teduh yang menggantikan tugas matahari di sore hari kota Seoul kini, jalan-jalan pun mulai dipenuhi orang-orang yang bersiap untuk kembali kerumah untuk melepas lelah setelah seharian bekerja.

Jiyeon dan Jieun berjalan bersama, mereka memutuskan untuk menikmati makanan di seberang hotel sebelum pulang ke rumah, makan ramen setiap hari tentu membuat perut keduanya bosan, meski hanya kedai dipinggir jalan namun rasanya yang enak dan harga yang bisa mereka jangkau, meskipun sesekali membuat kedai itu selalu ramai dikunjungi pembeli.

“ Mohon cepat ya, kami sudah sangat lapar “ ucap Jieun seraya mengelus perutnya ketika pelayan sudah mencatat pesanan mereka.

“ Eoh Jiyeon-ah, kapan kau akan mengenalkanku kepada oppamu ? aku sungguh penasaran bagaimana rupanya “ cerocos Jieun mengambil satu buah tusukan gigi dan kini sibuk menggigitnya agar rasa laparnya sedikit teralihkan.

“ Eum…Jieun-ah bisakah hari ini kau…” Jiyeon menghentikan apa yang ingin ia katakan, menolak membicarakan tentang oppanya pasti menimbulkan kecurigaan Jieun padanya.

“ Ia pasti akan menemuiku jika pekerjaannya tidak begitu sibuk “ ucap Jiyeon akhirnya.

“ Begitu ya ? memangnya dia bekerja dimana ? “ tanya Jieun kembali karena jawaban Jiyeon yang begitu singkat mengenai oppanya.
Jiyeon terlihat berpikir keras untuk menjawab pertanyaan Jieun tentang oppanya, namun tidak lama pelayan datang dengan membawa menu yang mereka pesan, Jiyeon bernafas lega karena kini perhatian Jieun langsung tertuju pada makanan yang kini sudah berada dihadapannya.

“ Selamat makan Jieun-ah “ ucap Jiyeon lembut yang hanya dijawab anggukan Jieun karena kini sahabatnya itu disibukkan dengan segala makanan yang ia pisahkan dipiringnya.

Suzy nampak serius mendengarkan Myungsoo yang bercerita tentang pertemuannya dengan Jiyeon, Minho, serta tentang hubungannya dengan Sulli, meski hanya mendengar cerita oppanya, Suzy dapat merasakan apa yang oppanya berusaha sembunyikan, terlebih ketika Myungsoo mengatakan telah berkomitmen kepada Sulli, dan mencoba melupakan Jiyeon.

Airmata Suzy tidak bisa lagi ia tahan ketika oppanya bercerita tentang keadaan Jiyeon, meski pekerjaan sebagai pelayan hotel tidaklah buruk, namun jika ia flashback begitu berprestasinya yeoja itu, Suzy merasa sangat menyesal dan menganggap dirinya yang bersalah telah merampas hak Jiyeon untuk menjadi orang yang berhasil seperti ia dan oppanya , tetapi untuk mengatakan bahwa kepergian Jiyeon karena yeoja itu telah mengetahui perasaan oppanya, sungguh ia sangat takut.

“ Antarkan aku menemuinya oppa, aku ingin meminta maaf padanya “ ucap Suzy sudah berlinang airmata.

Myungsoo tersenyum meski reaksi Suzy yang menangis terisak disampingnya “ Ahniyo, Ini sudah jalan Tuhan kau tidak perlu merasa bersalah, meski begitu aku melihat ia sangat bahagia “ ucap Myungsoo memegang pucuk kepala Suzy, membuat Suzy semakin merasa bersalah.

“ Oppa, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, aku tidak ingin mengambil keuntungan jikapun kau berhasil mendapatkan Jiyeon, bagiku kebahagian kita bukan sebuah simbiosis yang saling menguntungkan, jika memang Jiyeon harus bersama Minho, aku sama sekali tidak memikirkan kesedihanku “ ucap Suzy menghapus sisa airmatanya dan menatap sedih wajah Myungsoo disampingnya, Suzy memahami besar cinta oppanya terhadap Jiyeon, walau pada kenyataannya oppanya tidak lagi sendiri.

“ Aku mencintai wanita yang mencintai orang lain, dan gilanya orang lain itu adalah orang yang adikku cintai….tch takdir kita begitu rumit “ Myungsoo tersenyum pahit mengatakan rantai hubungan yang mengikat mereka, Suzy hanya tersenyum mendengarnya, namun ia masih berharap akan mendapatkan kebahagian tanpa ada satupun yang tersakiti nantinya.

“ Tch….aku hampir lupa memarahimu, kau …..mengapa kau lebih memilih Minho yang menjemputmu ketimbang oppamu eoh ? “ ucap Myungsoo mengalihkan pembicaraan dan berpura-pura kesal, namun hanya ditanggapi cengiran Suzy disampingnya.

“ Oppa, aku sudah mengatakan maaf di awal , kau mana boleh mengungkitnya lagi , perutku sudah sangat lapar kajja kita makan, kau harus membuatkan ramen untukku “ ucap Suzy merapikan poni dengan jarinya menutupi matanya sehabis menangis.

“ Baiklah aku akan membuatkan ramen spesial untukmu “ ucap Myungsoo tersenyum lepas.

Myungsoo mengarahkan mobilnya memasuki parkiran apartemennya, ia senang Suzy datang lebih awal, karena jujur saat ini hanya adiknya yang bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik, mengembalikkan sikap hangat yang dimilikinya dan tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

….

Tiga hari berlalu….

Jiyeon termenung didepan mesin cuci yang sedang menggiling pakaian yang menjadi rutinitasnya, sudah 3 hari berlalu sejak ia memutuskan untuk tidak lagi bertanggungjawab atas kamar Sulli perasaannya tidak serta merta bisa ia lepaskan dari sosok orang yang sangat ingin ia hindari, kini justru dirinya sangat merindukkan pria itu.

“ Mengapa oppa tidak mencariku ? apa benar kau terlalu sibuk dengannya hingga tidak ada waktu untuk sebentar saja mencariku “ lirih Jiyeon.

Mesin cuci sudah berhenti, namun Jiyeon masih berdiri termenung disana, hingga suara langkah kaki seseorang menyadarkannya.

“ Eoh Jiyeon-ah, kajja kita makan siang, sudah waktunya beristirahat “ ucap Jieun yang baru saja masuk terburu-buru dan mengeluarkan kotak bekal makan siangnya.

Meski sedang tidak berselera makan, namun Jiyeon pun mengeluarkan kotak makan siang dari tasnya.

“ Jiyeon-ssi, Jieun-ssi, kalian makan dimana, kajja kita ke kantin ? “ ajak teman-teman lainnya hendak menghambur keluar.

“ Kami makan disini saja, lagipula kantin sangat ramai “ Jieun beralasan.

“ Eoh, kalau begitu kami pergi, selamat menikmati makan siang “ ucap yang laiinya dan meninggalkan Jiyeon dan Jieun.

“ Senangnya jika gaji kita cukup untuk makan siang dikantin setiap harinya, kita pasti tidak perlu repot-repot bangun pagi dan memasak makanan untuk kita bawa kesini “ keluh Jieun seraya menyuap makan siang ke dalam mulutnya.

“ Jieun-ah, mana boleh kau berkata seperti itu, apa yang ada dihadapan kita adalah rejeki kita hari ini, kau tidak pernah melihat pengemis dijalan-jalan ? bahkan hanya sekali dalam sehari saja mereka sulit mendapatkannya “ ucap Jiyeon bijak, namun Jieun hanya membalasnya dengan merengut lucu.

“ Ha..ha..ha…lagipula bukankah masakan kita lebih enak dari kantin disana ? jika kau mau, aku akan memasakkan apapun yang kau minta setiap harinya, tidak membantuku pun tidak apa-apa, otthe ? “ rayu Jiyeon agar Jieun tidak lagi menrengut.

“ Aku kejam sekali jika seperti itu, kau kan sahabatku, bukan pembantuku “ ucap Jieun manja.

Meski hatinya sedang dalam keadaan tidak begitu baik, namun Jiyeon tetap berusaha menghibur Jieun yang kini sedang memasang wajah manyun dihadapannya, ia tahu jika sampai Jieun seperti ini karena sahabatnya sedang kedatangan tamu bulanannya, untuk itu Jiyeon berusaha untuk tidak membuatnya lebih sensitif dan menghiburnya.

Sore hari…

Suzy memasang dupa dan melakukan ritual dihadapan makam Taehee, ia menyempatkan dirinya untuk mengunjungi makam Taehee karena sangat merindukan kehadiran eomma yang pernah disakitinya, setelahnya ia hanya menatap sedih tempat yang menjadi peristirahatan abadi eommanya, berharap eommanya kini sudah bisa tersenyum disana.

“ Makammu sangat bersih, pasti Jiyeon yang merawatnya begitu baik, mianhae jika dalam beberapa tahun ini aku tidak mengunjungimu, bukan aku tidak menyayangimu, aku bahkan sangat merindukanmu, merindukan masakanmu dan merindukkan kata-kata sinismu padaku “ Suzy tersenyum terbayang kebersamaan dengan eommany Taehee.

“ Mianhae….. tapi aku sungguh-sungguh merindukan itu lagi, aku harap kau sudah bisa tersenyum tulus disurga sana, mengenai Jiyeon….. aku berjanji akan berusaha untuk menjadi saudara yang baik untuknya dan akan selalu bersama dalam suka maupun duka, jadi aku mohon kau tidak perlu khawatir dan hanya tersenyum disana “ ucap Suzy lembut.

Hari semakin gelap namun langkah Jiyeon tidak surut untuk terus mendaki agar segera sampai ditempat tujuannya “ Sebentar lagi “ ucapnya menyemangati langkahnya yang semakin melemah.

Jiyeon terus berjalan, menyusuri jalan berbukit dan cukup terjal agar segera sampai sebelum matahari berganti bulan, makam eommanya sudah terlihat didepan mata.

“ Huh, syukurlah “ Jiyeon menghela nafasnya lega ketika akhirnya ia sudah berada dihadapan makam sang eomma.

Namun seketika dahi Jiyeon mengernyit heran ketika melihat asap yang masih mengepul dikeluarkan dupa di makam eommanya “ Siapa yang datang ? “ karena penasaran ia menoleh ke semua penjuru makam, namun tidak menemukan siapapun disana.

Ia pun mengabaikannya dan mulai menyalakan dupa yang ia bawa “ Annyeonghaseyo eomma, apa kabarmu hari ini ? eomma hari ini aku begitu senang, tidak menyangka ternyata ada orang lain yang mengunjungimu, meski aku tidak melihat dan tahu siapa orang itu, namun pasti ia sangat menyayangimu “

Jiyeon terus bercerita mengenai apapun pada eommanya, setiap minggu Jiyeon selalu menyempatkan dirinya untuk datang dan merawat makam eommanya agar selalu bersih, ia tidak membayangkan jika ia benar-benar pergi dari Seoul, eommanya pasti akan bersedih karena tidak ada yang mengunjunginya, meski eommanya yang meminta Jiyeon untuk meninggalkan Seoul.

Tidak terasa langit sudah menjadi gelap, dan tiba-tiba air menetes dari langit “ Eoh hujan ? “ ucap Jiyeon.

Jiyeon pun segera membereskan semua peralatan dan melangkah untuk segera berlindung.
….

“ Issshh mengapa tiba-tiba hujan ? eoh dimana dia ? mengapa telepon genggamnya mati ? “ Suzy terus menggerutu karena tidak bisa menghubungi orang yang berjanji akan menjemputnya, namun hingga hari gelap dan hujan turun mereka belum juga bertemu.

“ Otthokae ? “ ucapnya sedikit takut karena hari semakin gelap dan hujan yang turun semakin deras.

Minho menajamkan pandangannya, mobilnya berjalan pelan untuk mencari sosok yang akan dijemputnya, derasnya hujan menghalangi Minho untuk menangkap dengan jelas yang dicarinya, namun seketika matanya menangkap sosok perempuan yang sedang berdiri disebuah gubuk tua yang ada disana.

“ Eoh itu dia ? “ ucap Minho.

Minho segera menghentikan mobilnya tepat di depa gubuk tua, ia bergegas turun dari dalam mobilnya dan menghampiri yeoja yang kini sedang menutup wajahnya karena silau lampu mobil Minho.

“ Suzy ? “

“ Minho ? “

“ Aku tidak melihatnya, aku baru saja dari sana ? atau mungkin dia didepanku ? “ tanya Suzy mencoba menganalisa.

Wajah Minho berubah khawatir, karena tidak menemukan Jiyeon, ia juga sudah berkali-kali menghubungi Jiyeon namun telepon genggamnya mati “ Kau tunggulah di mobilku, hingga oppamu datang, aku akan kesana mencarinya “ ucap Minho segera mengambil keputusan.

Meski Suzy takut, namun ia mengiyakan apa yang Minho katakan, sebelum Minho beranjak meninggalkannya “ Minho-ah……aku harap tidak lama kau akan menemukannya “ ucap Suzy bergetar jelas terlihat rasa takut dimatanya.

Minho, sebenarnya ia tidak tega meninggalkan Suzy sendiri disana, namun jika mengajaknya akan membuang waktu, karena jalan yang berbukit menuju makam “ Eoh, tidak apa-apa, kau aman didalam mobilku, aku akan segera kembali “ ucap Minho dan segera bergegas mencari Jiyeon.


Ditempat yang sama namun berbeda arah,

“ Aku lupa mengisi penuh baterai ini, bagaimana Minho menemukanku ? “ ucap Jiyeon cemas, ia sudah merelakan dirinya untuk kembali dan berdiam dimakam beberapa menit yang lalu agar Minho mudah menemukannya, namun karena ia terus bersin-bersin akhirnya memilih untuk berlindung di sebuah sebuah pohon besar cukup jauh dengan makam eommanya.

“ Hatchi…hatchi “ hidungnya semakin memerah karena terus saja ia sentuh untuk menghilangkan rasa gatal.

Myungsoo terus melajukan mobilnya menembus pekatnya malam dan hujan yang mengguyur begitu deras, ia tidak tahu dimana Suzy menunggunya, dan sialnya kini telepon genggamnya pun tidak berpihak kepadanya.

Mobil Myungsoo terus menyusuri jalan berbatu dan berkelok menuju makam, dan seketika perasaannya begitu lega menyadari ada seseorang yang berdiri dibawah pohon berjarak sekitar 3 meter dari mobilnya berada dan ia meyakini bahwa itu adalah Suzy dongsaengnya.

Jiyeon tersenyum lega tatkala sebuah mobil mendekat ke arahnya hampir saja ia berpikiran ia akan terjebak di area pemakaman yang dingin dan gelap “ Syukurlah Minho menemukanku “ ucap Jiyeon.

“ Minho-ah “

“ Suzy-ah “

Degh ….

Keduanya lantas terdiam ditempatnya kini, meski air hujan terus mengguyur pakaian keduanya hingga basah, namun tidak satupun dari keduanya saling menyadarkan, hati keduanya sibuk berperang dengan apa yang dilihatnya, bukan sosok orang yang seharusnya mereka temukan kini yang ada dihadapannya, namun orang yang beberapa hari ini mereka hindari meski begitu ingin mereka temui.

“ Aku baru saja berdoa untuk bertemu dengannya, dan apa ini ? mengapa Tuhan begitu baik mengabulkan permintaanku secepat ini“ lirih Jiyeon dalam hati, dan tidak menyadari airmatanya menetes karena terlalu senang, namun ia tak berniat untuk menghapusnya meskipun juga ia tidak ingin Myungsoo melihatnya, ia hanya berharap air hujan yang akan menyamarkan airmatanya.

“ Yeonnie-ah “ panggil Myungsoo pelan seiring langkahnya yang semakin pelan mendekat ke arah Jiyeon.

Panggilan yang amat Jiyeon rindukan, yang hanya diucapkan keluarga Kim untuknya, ia mendengarnya lagi, bahkan ini pertama kalinya ia dengar, karena Myungsoo tidak menyebut namanya selama beberapa hari pertemuannya kembali.

“ Oppa, gomawo, kau menyelamatkanku kembali hiks…hiks “ ucap Jiyeon yang langsung menangis karena terlalu merasa lega Myungsoo menemukannya, meski bukan dirinya lah yang sebenarnya Myungsoo cari.

Tangan Myungsoo meraih kepala Jiyeon dan meletakkan dengan pelan didadanya “ Aku sudah berada disini, berhentilah menangis “ ucap Myungsoo menyadari ketakutan Jiyeon.

“ Kau tidak menemukannya ? “ tanya Suzy yang kini berubah khawatir.
Minho menggeleng lemah, namun ia segera masuk karena hujan semakin deras diluar.

“ Lalu bagaimana ? “ tanya Suzy membuat Minhopun tidak tahu harus menjawab apa.

“ Aku sudah mencarinya ke semua tempat di sekitar pemakaman, aku rasa ia sudah tidak lagi berada disana “ ucap Minho meski dirinya masih sangat penasaran untuk menemukan Jiyeon.

“ Kau yakin ? apa kita akan mencarinya lagi ? “ saran Suzy.

“ Baiklah, tapi tidak disekitar makam, kurasa mungkin ia sudah berjalan ke arah luar “ ucap Minho mencoba membuat Suzy sedikit tenang.

“ Aku harap jika tidak kita, Myungsoo oppa yang akan menemukannya “ ucap Suzy sangat pelan, namun masih dapat Minho dengar.

“ Oppamu ? apa ia benar-benar menjemputmu ? “ tanya Minho.

“ Eoh..eum…mianhae “ Suzy menjadi tidak enak ketika Minho menyadari ucapannya.

“ Sekarang aku atau oppamu sudah tidak penting lagi siapa yang akan menemukan, kau tidak perlu merasa tidak enak, yang terpenting adalah diantara kita berhasil menemukan Jiyeon “ ucap Minho dengan nada yang berbeda membuat Suzy menyesali ucapannya.

“ Suzy-ah!!!! Kim Suzy !!!!

Petir terus menyambar , suaranya yang menggelegar masih setia menemani hujan yang turun semakin deras meredam suara Myungsoo yang terus berteriak menyebut nama Suzy.

Myungsoo berharap Suzy atau siapapun akan mendengarnya, sementara Jiyeon menutup tubuhnya dengan jaket tebal yang Myungsoo berikan padanya, meringkuk berusaha menghilangkan rasa dingin didalam mobil Myungsoo. Suara bantingan pintu mobil membuatnya terkejut, sosok Myungsoo kini sudah berada disampingnya dengan sekujur tubuh yang basah.

“ Apa yang harus kita lakukan sekarang? “ tanya Jiyeon dengan suara mengigil membuat kini Myungsoo menoleh padanya dengan wajahnya sangat khawatir.

“ Suzy sudah pulang ke apartemenku, sekarang giliranku untuk mengantarmu pulang “ ucap Myungsoo tidak ingin membuat Jiyeon khawatir.

Tidak ada suara dari Jiyeon yang menyahut, gadis itu sudah tertidur dengan wajah putih pucat dan bibir serta tubuhnya gemetar karena udara yang terlalu dingin, Myungsoo memperhatikan sejenak tubuh Jiyeon yang basah karena hujan, ia mendekat, meraih jaket tebal yang sedikit merosot dan menutupi kembali tubuh Jiyeon dengan sempurna.

“ Kau sudah bangun? “ Myungsoo menoleh ketika mendengar suara lenguhan Jiyeon dibelakangnya.

“ Kita dimana ? “ tanya Jiyeon.

Diedarkan matanya untuk mengenali dirinya dan Myungsoo sekarang berada, ruangan dengan bilik bambu yang sudah cukup tua, dan

penerangan yang hanya mengandalkan dari kayu dan ranting-ranting yang dibakar api yang ada dihadapan Myungsoo.
Myungsoo hanya tersenyum, dan melemparkan lebih banyak ranting-ranting kedalam api yang menyala dihadapannya, ia terpaksa membawa Jiyeon ke tempat ini karena mobilnya tiba-tiba kehabisan bensin.

Jiyeon mengamati tubuhnya yang terasa hangat kini, yang ia tahu tubuhnya begitu menggigil karena baju basah yang ia gunakan tadi, dan ketika matanya mengarah pada tubuhnya sendiri, seketika Jiyeon menganga kaget.

“ Pa-ppakaiann kuu ? “ ucapnya terkejut mendapati tubuhnya hanya diselimuti kain putih tebal yang entah darimana asalnya.

Myungsoo berdiri dan meraih pakaian yang ia gantung diatas perapian, ia kemudian melangkah mendekat ke arah Jiyeon “ Ini sudah bisa kau pakai “ ucapnya singkat tanpa menjelaskan kebingungan Jiyeon.

Keduanya kemudian terdiam, terlihat begitu canggung untuk bertanya atau menjelaskan keadaan yang sebenarnya.

“ Pakailah, aku akan keluar “ ucap Myungsoo agar Jiyeon tidak merasa risih.

Beberapa menit berlalu…

“ Oppa….” panggil Jiyeon

Myungsoo menolehkan pandangan ke arah Jiyeon “ Kau sudah selesai “ tanyanya.

Jiyeon hanya mengangguk, ia pun melangkah dan memilih duduk disamping Myungsoo “ Mianhae, mobil itu mogok, aku lupa untuk mengisi bensin tadi “ ucap Myungsoo yang entah mengapa perasaannya begitu gugup bahkan Jiyeon hanya berada disampingnya.

“ Hatchi…..Hatchi “

Myungsoo menoleh ke arah Jiyeon, tubuh yeoja itu masih menggigil “ Apa kau sakit ? “ tangan Myungsoo reflek menyentuh kening Jiyeon.

“ Eum ahniyo akuuu…” Jiyeon menjauhkan keningnya ketika tangan Myungsoo menyentuhnya, entah mengapa begitu gugup.

“ Kajja kita ke dalam saja “ ucap Myungsoo tidak menyadari Jiyeon bersusah payah untuk menetralkan detak jantungnya, ia takut bunyinya di dengar oleh oppanya.

Keduanya kemudian masuk kembali kedalam, Myungsoo meraih apapun yang ada disana untuk menyelimuti tubuh Jiyeon yang masih menggigil “ Pakai ini, ini….dan… “ Myungsoo membuka kemeja yang ia kenakan hingga kini tubuhnya topless hanya untuk membuat Jiyeon merasa hangat.

Mata Jiyeon terbelalak menyadari Myungsoo tidak memakai apapun untuk menutupi tubuh atletisnya yang kini terekspose, Jiyeon merasa tidak nyaman, jantung yang sudah perlahan-lahan ia usahakan untuk berdetak normal kini kembali tidak karuan “ Oppa, aku….tidak mau kau sakit, ini pakai saja, selimut dan jaketmu sudah cukup untuk menghangatkanku “ ucap Jiyeon.

“ Oppaku belum sampai diapartemen ? apa mungkin ia bertemu dengan Sulli eonni ? “ ucap Suzy menjawab pertanyaan Minho yang meneleponnya.

Minho berpikir sejenak, memikirkan segala kemungkinan yang terjadi, namun tidak menemukan penjelasan apapun apakah belum pulangnya Myungsoo ada kaitannya dengan Jiyeon “ Baiklah, aku mengerti “ ucapnya tiba-tiba.

“ Mak……” belum selesai Suzy bicara Minho sudah memutuskan komunikasi mereka.

“ Sud mu mengerti apa ? “ Suzy melanjutkan pertanyaannya meski Minho tidak lagi berada di seberang sana.

Suzy meletakkan telepon genggamnya “ Aku harap oppa menemukan Jiyeon dan membawanya pulang “ ucapnya dan segera mematikan lampu disamping nakas, Suzypun memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuh dan matanya setelah seharian banyak jadwal yang ia selesaikan.

“ Minho pasti sangat mengkhawatirkanmu, huh…mengapa bisa seperti ini ? telepon genggam kita yang tidak menyala, dan mobil yang mogok “ ucap Myungsoo tidak mengerti dengan semua kebetulan yang terjadi.

“ Eoh, akupun merasa bersalah padanya “ ucap Jiyeon tidak menyadari setelah kalimat itu terucap raut wajah Myungsoo berubah.

Myungsoo kembali melempar beberapa ranting pohon ke dalam api, agar tungku yang menyala tetap terjaga “ Apa….. kalian…. saling menyukai ? “ tanya Myungsoo terus menatap ke arah perapian dan berharap jawaban Jiyeon tidak membuat hatinya sepanas api yang kini menyala-nyala dihadapannya.

“ Ia pria yang sangat baik, aku menyukainya “ ucap Jiyeon meski ia tidak menjelaskan lebih detail rasa sukanya.

Myungsoo terdiam mencoba meredam rasa cemburu yang datang karena jawaban Jiyeon yang sama sekali tidak ia inginkan untuk ia dengar, ia merutuki mulutnya yang begitu bodoh bertanya, jika pada akhirnya perasaannya menjadi tidak baik.

“ Oppa kau ingat, bukankah ini seperti dejavu ? bukankah kita pernah mengalami ini ? “ ucap Jiyeon mengingat kenangan kecil mereka, membuyarkan lamunan Myungsoo yang bergelut dengan kecemburuannya.

Myungsoo menatap wajah Jiyeon dan mencoba tersenyum “ Eoh, kau masih mengingatnya ? “ tanya Myungsoo.

“ Tentu saja, aku tidak mungkin lupa, bahkan kau menakuti ku waktu itu, kau jahat sekali oppa “ ucap Jiyeon dengan wajah kesal dan bibir merengutnya yang lucu.

“ Kau memang penakut , sudah sebesar itu masih saja takut “ ucap Myungsoo mencoba meleburkan perasaan sesaknya dengan menggoda Jiyeon yang kini nampak kesal menatap ke arahnya.

“ Tapi sekarang tidak lagi oppa, aku bukan lagi gadis penakut seperti yang kau katakan “ ucap Jiyeon membela diri.

Myungsoo mendekat ke arah Jiyeon, senyumnya yang tadi ia tunjukkan kini tidak lagi ada, berubah dengan wajah dingin dan sorot mata yang tajam membuat Jiyeon mengernyit dan tiba-tiba takut oppanya bersikap demikian.

“ Jeongmal ? kau benar-benar tidak takut “ tanya Myungsoo masih dengan wajah dinginnya.

“ Igeo, aku kali ini tidak bercanda…..disampingmu, kau melihatnya “ tunjuk Myungsoo dengan jarinya yang seolah ragu untuk ia angkat.

“ Oppaaa…..kau…ini benar-benar tidak lucu “ ucap Jiyeon melirik ke arah samping dengan ekor matanya.

Jegerrrr

“ Kyaaaa oppaaaa “

Myungsoo menangkap tubuh Jiyeon yang menghambur ke arahnya karena suara petir yag menggelegar, kepala Jiyeon bersembunyi di dada bidang Myungsoo yang terbuka karena kancing baju yang tidak tertutup sempurna, keduanya saling terdiam dengan kegugupan yang lebih dahsyat dari yang awal keduanya rasakan.

Mata Jiyeon terbelalak kaget, ia bisa mendengar detakan jantung Myungsoo karena kepalanya tepat berada disana “ Op-ppa, wae ? wae jantungmu berdetak seperti ini, mengapa bisa sampai terdengar seperti ini ? “ ucap Jiyeon dalam hati benar-benar terkejut.

Myungsoo memejamkan matanya, berharap Jiyeon tidak menyadari jika ia tidak bisa mengontrol perasaannya, meski kini Myungsoo hanya pasrah jikapun Jiyeon akan bertanya perihal jantungnya yang berdetak hingga detakannya terdengar begitu jelas.

Myungsoo memberanikan diri membuka matanya, ia tundukkan wajahnya agar dapat dengan jelas melihat wajah Jiyeon dipelukkanya.

Dan Mwo ? Myungsoo sungguh terkejut mendapati butiran bening yang mengalir disela-sela mata Jiyeon, ia merasa bersalah telah membuat Jiyeon sampai mengeluarkan airmata karena begitu takut dengan gurauannya..

“ Wae ? kau menangis ? Mianhae…. “ ucap Myungsoo begitu menyesal.

“ Ahniyo oppa, bukan karena itu “ ucap Jiyeon dengan suara yang bergetar.

Myungsoo menangkup wajah Jiyeon dengan kedua tangannya, wajahnya semakin ia rendahkan untuk membunuh jarak diantara keduanya, tenggorokannya begitu sulit untuk menghirup oksigen karena berbagai macam perasaan yang kini menghinggapinya, namun akhirnya bibir Myungsoo sampai tepat di mata indah Jiyeon, Myungsoo mencium mata yeoja itu bergantian dan berusaha menghapus air mata dengan bibirnya,

“ Oppa…..” ucap Jiyeon lirih dengan air mata yang semakin mengalir.

“ Oppa, nona Sulli sangat baik dan cantik, kalian berdua sangat serasi, chukae….akhirnya aku akan memiliki kakak ipar, aku harap kau akan segera mengenalkanku secara resmi “

“ Hari ini kami akan fitting baju pertunangan, kau sudah mendengarnya bukan ? beberapa minggu lagi acara pertunangan kami akan digelar , pastikan kau juga berdandan cantik tidak kalah denganku…hahaha “

“ Bolehkah kali ini aku tidak mempedulikan siapapun ? aku hanya ingin merasakan kehangatan oppaku, meski ini akan menjadi yang pertama dan terkahir, aku mohon sekali saja aku merasakannya “ Jiyeon menangis dalam hatinya meski ia sadar jika ia melakukan kesalahan.

“ Aku mohon kau mematuhi janji yang sudah kita buat, meski aku bukanlah yang pertama menemukannya, tapi aku harap kau menghormati perasaan Sulli, ia wanita yang baik dan tidak pantas untuk kau sakiti, meski aku tidak tahu bagaimana perasaan Jiyeon, namun aku tidak ingin melihatnya kembali menangis karena mu “

“ Minho-ah, Sulli-ah mianhae….mianhae aku benar-benar sudah berusaha untuk menyembunyikannya, aku benar-benar tidak ingin menyakiti siapapun, tapi takdir Tuhan yang selalu mengaitkan dia denganku, aku mohon jangan lagi memaksaku, aku hanya akan mengikuti kemana takdir ini menuntunku “ ucap Myungsoo dalam hatinya.

TBC

Woahhhh panjang sekaleeee….sampe pegel2 dah author, mianhae jika romantis dan feelnya ga dapet, author ud baca 2x tapi otaknya dah buntu, dan males baca untuk yang ke 3x saking panjangnya…hehehe jika ada yang merasa kesal dengan Myungsoo ataupun Minho, silahkan adukan ke author, author akan menampungnya dan menghukum mereka agar bersikap lebih baik di peran selanjutnya : )
Semoga tetap sabar menunggu part selanjutnya yah, gomawo.

134 responses to “[ CHAPTER – PART 16 ] RAINBOW AFTER THE RAIN

  1. Ommo………. akhirnya.. moment myungyeon yg kutunggu2^^ sorry author gak bisa banyak komentar di chapter ini. Udah gregett bgt mau liat chapter berikutnya………. author jjang !!!!!!!!!!!!!!!!! *2 jempol buat author* hihhi……….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s