[CHAPTER – PART 3] MY PRINCESS

L Infinite & Suzy Miss A (244)

© ExoShiDae FF and Graphic by: loyalslatte

Title : My Princess | Author : dindareginaa | Main Cast : Bae Sooji, Kim Myungsoo | Additional Cast : Find by yourself! | Genre : Comedy – Romance | Rating : Teen

DISCLAIMER :

Inspired by Taiwanese Drama

Sooji mengerjapkan matanya ketika membaca kutipan judul yang tertera pada surat kabar pagi itu. Sooji mencoba menutup matanya dan membukanya kembali, tapi tulisan tersebut tak berubah.

“Soo… Sooji-ah,” panggil Sulli begitu melihat Sooji kini bangkit dari duduknya.

Gadis itu berlari kecil menuju ke lantai bawah. Namun, ia tak menangkap aktivitas apapun dirumahnya. Apa yang terjadi sebenarnya?

Appa! Eomma! Kalian dimana?” panggilnya. Tapi tak seorangpun menyahut teriakannya. Sooji baru saja akan masuk ke kamar orangtuanya begitu suara televisi menghentikan langkahnya. Sooji sontak menoleh kesumber suara. Matanya membulat melihat foto kedua orangtuanya terpampang di layar kaca tersebut.

“Dunia perekonomian Korea Selatan tengah dihebohkan dengan berita gulung tikar salah seorang pengusaha tersukses, Tuan Bae Yong Joon. Tuan Bae dikabarkan telah tertipu oleh salah seorang pemegang saham hingga menyebabkan kerugian hingga sebesar 1 Miliar Won. Saat ini para pekerja di perusahaan Tuan Bae tengah mengadakan demonstrasi karena hak mereka sampai saat ini belum dibayar.”

Sooji mengangakan mulutnya mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh sang reporter. Ia mengepalkan kedua tangannya. Tidak mungkin! Katakan ini semua hanyalah mimpi! Sooji lalu mencubit lengannya. Sakit! Ini… bukan mimpi seperti yang diharapkannya.

“Sooji-ah…”

Sooji sontak menoleh kearah Sulli. Sahabat sekaligus asisten pribadinya itu kini menyerahkan secarik kertas yang telah dilipat rapi pada Sooji. “Aku menemukannya di kamar orangtuamu.”

Mendengar ucapan Sulli, Sooji sontak merebut kertas tersebut lalu langsung membaca kalimat demi kalimat yang terpampang disana. Ia membulatkan matanya.

“Sooji-ah, mianhae. Jjeongmal mianhae. Ayah dan ibu terpaksa harus meninggalkanmu disaat seperti ini. Kau tahu, hidup kita tak bisa seperti dulu lagi. Maka dari itu ayah dan ibu memutuskan untuk pergi. Kami janji, setelah kami bisa berpijak pada kaki kami sendiri seperti dulu, kami akan segera kembali. Sebentar lagi, mungkin rumah kita akan segera disita. Kita sudah tidak punya tempat tinggal lagi, Sooji-ah. Untuk sementara, tinggallah di rumah Sulli. Kami yakin dia tidak akan keberatan. Sekali lagi, maafkan kami, Sooji-ah.”

Sulli segera menahan tubuh Sooji sebelum gadis itu ambruk “Neo gwenchana?

Sooji menggeleng. Tentu saja ia sedang tidak baik! Bagaimana ia bisa baik-baik saja begitu megetahui nasibnya saat ini? Ia segera mengusap pipinya kasar begitu sebulir air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. Sooji lalu berlari kecil, keluar dari istana megahnya.

Eomma! Appa!” panggilnya, walau ia tahu kedua orangtuanya tidak akan menyahut. Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Ia lalu terduduk diatas aspal dia bahkan tak peduli baju mahalnya akan kotor. “Jahat! Kalian jahat! Kenapa kalian meninggalkanku sendirian?!”

Myungsoo baru saja berniat memasak pesanan pelanggan mereka begitu Oh Sehun menepuk bahunya. “Wae?” tanyanya tak suka. “Kalau kau berniat menyuruhku mengantar pesanan pelanggan, maaf saja! Aku sedang sibuk dan tidak bisa diganggu!”

“Bukan. Bukan itu. Aku hanya ingin bertanya, gadis cantik yang tempo hari menemuimu itu bukankah anak tunggal dari pengusaha Bae Yong Joon?”

Myungsoo menoleh sekilas pada Sehun lalu mengangguk. “Wae?

“Apa kau tahu kalau orangtua gadis itu bangkrut dan melarikan diri?”

Mendengar ucapan Sehun, Myungsoo sontak menghentikan aktivitasnya. Apa? Gadis itu… Tidak mungkin!

Ya! Kau mau kemana?” tanya Sehun begitu Myungsoo pergi meninggalkannya. Ia menatap bingung punggung Myungsoo yang mulai menghilang. “Ada apa dengannya?”

Myungsoo megayuh sepedanya secepat yang ia bisa. Ia bahkan tak peduli dengan mobil dan motor yang kini sibuk membunyikan klaksonnya karena Myungsoo yang mengendarai sepedanya dengan kecepatan tinggi. Yang kini ada dipikirannya adalah gadis itu, Bae Sooji. Dimana ia sekarang? Apakah ia baik-baik saja? Apa ia sudah tahu berita mengenai orangtuanya?

Myungsoo tersenyum begitu mendapati Sooji kini terduduk lemah dengan badan yang bergetar dihalaman istananya. Gadis itu kini menangis. Baru saja Myungsoo ingin menghampiri Sooji begitu suara berat yang asing terdengar ditelinganya.

“Sooji-ah!

Myungsoo menoleh kesumber suara. Ia terhenyak begitu melihat Sooji kini berhambur ke pelukan lelaki itu. Ia tersenyum lirih. Sadarlah Kim Myungsoo! Kau bukan siapa-siapa untuknya! Saat ini, orang yang paling Sooji butuhkan tentu saja tunangannya, Choi Minho. Tak ingin lebih lama sakit hati, Myungsoo segera meninggalkan tempat tersebut.

“Sooji-ah!”

Sooji mendongak begitu mendegar suara berat memanggil namanya. Ia tersenyum lirih begitu menyadari Choi Minho kini berdiri tak jauh dari dirinya. “Minho Oppa!

Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera menghambur kepelukan lelaki tampan itu.

Minho menatap iba Sooji. ia lalu mengusap lembut pipi gadis itu yang kini telah basah. “Aku sudah tahu semuanya. Apa kau baik-baik saja?” tanyanya hati-hati.

“Tidak. Aku sedang tidak baik-baik saja,” jawabnya dengan suara yang bergetar.

“Sekarang kau ikut denganku saja,” Minho menarik lembut tangan Sooji, namun gadis itu dengan segera menahan tangan Minho.

“Orangtuamu… Apa mereka sudah tahu?”

Minho menggeleng. Orangtuanya memang belum mengetahui tentang keadaan Sooji sekarang karena Minho langsung bergegas ke rumah Sooji begitu menonton televisi yang menyiarkan berita pagi itu. “Geogjjeongmal. Aku yakin orangtuaku akan menerimamu. Kajja.”

Sooji mengangguk lalu segera mengikuti langkah Minho, masuk ke mobilnya.”

 ∞

“APA KAU GILA, CHOI MINHO? Apa kata rekan bisnisku bila mereka tahu bahwa calon mertua anakku adalah seorang penipu?”

Sooji tersentak kaget begitu mendengar ucapan –atau lebih tepatnya teriakan dari Tuan Choi. Terlebih lagi Minho. Ia tak menyangka bahwa ayahnya akan berbicara seperti ini. “Benar! Aku sudah gila! Aku gila karena mencintainya! Ayah, Sooji tidak tahu apa-apa tentang ini. Dia hanyalah korban.”

“Dari mana kau tahu bahwa dia tidak tahu apa-apa mengenai hal ini? Jangan-jangan dia sudah tahu sebelumnya bahwa dia akan mengalami hal ini. Maka dari itu dia mendekatimu!” Nyonya Choi kini membuka suara.

“Ibu! Sooji bukanlah orang yang seperti itu!”

“Aku tidak mau tahu! Sekarang suruh dia pergi dari rumah kita!” titah Nyonya  Choi.

Minho membelalakkan matanya, tak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut sang ibu. Sedetik kemudian, ia langsung memegang erat tangan Sooji. “Jika dia pergi, maka aku juga akan pergi!” ancamnya.

Kedua orangtua Minho menatap anak tunggalnya itu tak percaya. Anak mereka yang biasanya penurut kini menjadi pembangkang hanya karena gadis dihadapan mereka? Yang benar saja! “Kau…”

Baru saja Tuan Choi berniat mendaratkan tamparannya pada Minho begitu Sooji yang sedari tadi hanya menjadi pendengar membuka suara. “Hentikan…” lirihnya, membuat Minho sontak menoleh padanya.

“Sooji-ah…”

“Aku bilang hentikan, Oppa,” Sooji mengangkat kepalanya yang sempat tertunduk lalu menatap lirih Minho. “Jika ada orang yang harus pergi disini, itu adalah aku. Aku tidak ingin kau menjadi anak pembangkang hanya karena aku. Selamat tinggal.”

Baru saja Minho berniat mengejar Sooji begitu Tuan Choi menahan lengannya. “Lupakan dia.”

Minho menatap kedua orangtuanya tak percaya lalu menoleh pada punggung Sooji yang mulai menjauh.

Sooji melangkahkan kakinya perlahan. Namun, langkahnya terhenti begitu melihat Sulli kini duduk di teras rumah besarnya dengan barang-barang mereka yang kini berada diluar.

“Apa yang terjadi?” tanyanya ketika ia sudah berada dihadapan gadis itu.

Sulli sontak mengkat kepalanya. Ia menatap lirih Sooji. “Sooji-ah, tadi ada orang dari Bank yang mengatakan bahwa kita tak bisa tinggal disini lagi. Rumah ini akan segera dijual.”

Sooji menatap Sulli tak percaya. benarkah apa yang baru saja didegarnya ini? “Kalau begini, aku harus tinggal dimana?”

Sulli lalu beranjak berdiri. Ia menepuk pelan kedua pundak Sooji. “Kau bisa tinggal dirumahku. Bukankah Paman dan Bibi Bae sudah berpesan seperti itu padamu?”

Gomawo,” Sooji memeluk erat Sulli.”Jjeongmal gomawo.

Sooji menatap dengan seksama rumah yang kini akan menjadi tempat tinggalnya. Benarkah yang ia lihat ini? Dirinya akan tinggal dirumah yang mungkin lebih kecil dari kamar mandinya?

“Maafkan aku.”

Sooji tersentak kaget begitu mendengar ucapan Sulli. Ia sontak menoleh pada gadis yang kini sudah berada disebelahnya.

“Rumah ini mungkin akan terasa kecil bagimu. Tapi, aku hanya mampu menyewa rumah ini,” ujar Sulli seraya mengedarkan padangannya ke seluruh penjuru.

Sooji tersenyum. “Ani. Gwenchana. Kurasa aku akan terbiasa tinggal disini.”

Ya! Bagaimana nasib Tuan Putrimu itu?”

Myungsoo menoleh malas pada Sehun lalu mendesah. “Dia baik-baik saja. aku yakin sekarang dia sudah hidup enak lagi bersama pangerannya itu.”

“Pangerannya itu… bukankah maksudnya Choi Minho?”

Myungsoo menghentikan aktivitasnya begitu mendengar pertanyaan Sehun. “Bagaimana kau tahu?”

“Aku membaca surat kabar. Katanya lelaki itu akan menikah dengan pewaris tunggal Park Group. Kalau tidak salah namanya Park Jiyeon.”

“Ti… tidak mungkin.”

 Sooji membulatkan matanya begitu membaca untaian kalimat yang tertera di surat kabar yang baru saja dibelinya beberapa saat yang lalu. Ia menghembuskan nafasnya perlahan. “Sudahlah, Sooji-ah. Kau sudah tidak memiliki urusan lagi dengannya,” gumamnya pada dirinya sendiri.

ia lalu beranjak berdiri. Dari pada ia membuang waktu dengan kegiatan yang tidak berguna, lebih baik ia segera membantu Sulli megerjakan pekerjaan rumah. Baru saja Sooji berniat memanggil Sulli, namun hal itu diurungkannya begitu melihat gadis itu tengah sibuk dengan kertas-kertas yang ada dihadapannya. Sepertinya gadis itu tengah serius hingga tak menyadari keberadaan Sooji. Sooji bahkan bisa mendegar suara desahan gadis itu.

“Apa yang harus kulakukan?” gumam Sulli. “Bagaimana aku bisa membayar semua tagihan ini?”

Sooji membuka mulutnya begitu mengerti apa yang sedang terjadi. Ini pasti karenanya. Tagihan Sulli akan semakin membengkak jika Sooji tinggal bersamanya. Ia tersenyum lirih lalu segera menghampiri gadis itu

“Sulli-ah!” panggil Sooji. Ia lalu duduk dihadapan gadis itu.

Sulli yang sadar akan kehadiran Sooji segera merapikan kertas-kertas tersebut. ia lalu terseyum,seolah tak terjadi apa-apa. “Wae?”

“Aku sudah memutuskan untuk pergi dari sini,” ujar Sooji yakin.

“W… wae?”

“Aku tidak bisa tinggal disini lebih lama lagi. Selain aku akan merepotkanmu…”

“Kau tidak merepotkanku,” sanggahnya.

“Biarkan aku meyelesaikan ucapanku.”

Sulli mengangguk mengerti.

“Aku juga ingin hidup mandiri. Aku tidak ingin terus bergantung padamu.”

“Tapi, kau akan tinggal dimana?”

“Tenang saja. aku ini pintar. Aku bahkan sudah memikirkan tujuanku. Aku akan tinggal di rumah nenekku. Apakah aku sudah pernah kenatakan aku memiliki nenek di Busan?”

Sulli menggeleng. Selama ia bekerja dengan Sooji, baru kali ini ia medengar bahwa Sooji memiliki anggota keluarga lain selain kedua orangtuanya. Tentu saja. Karena nenek yang Sooji ceritakan adalah sebuah kebohongan. Ia memang harus berbohong agar Sulli tak khawatir atau bahkan kasihan dengannya. Mungkin, dengan begini Sulli akan melepaskannya.

“Kau yakin akan pindah dari sini?”

Sooji mengangguk lalu kembali memasukkan baju-bajunya kedalam koper besarnya. “Tentu saja. aku bahkan sudah menghubugi nenekku agar dia menyambutku.”

“Aku pasti akan merindukanmu,” Sulli menghembuskan nafasnya perlahan ia segera memeluk Sooji hangat.

“Aku juga,” ujar Sooji. Tak ingin menjatuhkan air matanya untuk yang kesekian kalinya, Sooji segera melepaskan pelukannya. “Kalau begitu aku pergi dulu.”

Sooji baru akan pergi ketika Sulli menahan lengannya. “Tunggu.”

Sooji menatap heran Sulli. “W…wae?”

“Ini mungkin tidak banyak, tapi kau bisa menggunakannya,” Sulli segera memberikan sebuah amplop berisikan uang pada Sooji.

Sooji yang menyadari hal itu segera menolaknya. “Ani. Kau lebih membutuhkannya dari pada aku. Setelah aku bertemu dengan nenekku, aku bisa segera memperbaiki hidupku. Kalau begitu, aku pergi,” Sooji segera melangkah pergi sebelum Sulli sempat menahannya lagi.

Sooji menghembuskan nafasnya perlahan. Sudah lebih dari sejam ia berjalan, tapi tak juga ditemukannya tempat perhentian. Ia kemudian mengelus lembut perutnya yang baru saja berbunyi.

“Ah, aku lapar,” gerutunya. Ia memang tak sempat makan malam dirumah Sulli tadi. Sekarang ia benar-benar merutukinya karena tak mengisi perutnya sebelum pergi. Sooji lalu merogoh dompetnya. Ia menghela nafasnya. Dompetnya benar-benar kosong. Yang ada hanyalah beberapa kartu kredit yang mungkin sudah diblokir. “Apa yang harus kulakukan sekarang?” Sooji lalu memutuskan untuk duduk dihalte yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Mungkin dengan tidur, ia akan segera melupakan rasa laparnya.

Ne, eomma,” Myungsoo segera memindahkan ponselnya ke telinga kanannya. “Aku tidak lupa membeli bahan makanan yang kau suruh. Ne. Keuno,” Myungsoo segera memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ia kemudian menatap kantungan plastik yang kiniada ditangannya. Ia lalu mendesah “Kenapa malam ini dingin sekali?” gerutunya.

Myungsoo segera mempercepat langkahnya bagaimanapun juga, ia tak mau mati beku disini. Namun, lelaki tampan itu segera menghentikan langkahnya begitu pandangannya tertuju pada sosok yang sedang duduk di halte bis. Myungsoo tak bisa menarik langkahnya untuk mendekati sosok tersebut. Entahlah. Ia merasa ia harus mendekati orang tersebut.

Myungsoo segera menutup mulutnya yang terbuka dengan sebelah tangannya begitu melihat orang tersebut dengan jelas. Gadis ini… Tuan Putri? Myungsoo menjongkokkan tubuhnya agar ia bisa menatap sang putri – Bae Sooji – lebih jelas lagi. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ia bisa berada disini malam-malam begini? Tak tega melihat Sooji, ia segera melampirkan jaketnya pada tubuh Sooji.  Namun, lelaki itu segera memundurkan langkahnya begitu sadar sang putri sepertinya terganggu dengannya.

Sooji segera membuka matanya perlahan. Namun ia terbelalak kaget begitu melihat wajah seseorang kini berada tepat dihadapannya. “KAU?!”

TO BE CONTINUED

102 responses to “[CHAPTER – PART 3] MY PRINCESS

  1. suzy sekarang miskin..kira2 dy nnt tinggal dmn??apa suzy liat myung??minho tunangan sm wanita lain???orang tuanya minho muka 2…giliran orang tua suzy bangkrut aj suzy dihina2….next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s