[Chapter – 4] HIGH SCHOOL LOVERS : Confession

hsl1

High School Lovers : Confession

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

Angin berhembus pelan menerbangkan beberapa helai anak rambut Jiyeon yang sejak awal tidak tertata rapi. Gadis itu meremas kedua tangannya takut-takut bercampur ragu. Sesekali ekor matanya melirik sosok tinggi menjulang di sampingnya hanya memasang wajah santai yang terkadang dihiasi senyum tipis yang harus dirinya akui jika itu manis. Baiklah, lupakan. Sekarang hal yang dikhawatirkannya adalah tentang sebuah janji bodoh yang sekitar dua jam, duapuluh dua menit yang lalu telah dibuatnya bersama Myungsoo. Sebuah pertanyaan menggantung sedari tadi berkeliling di kepalanya sehingga mau tidak mau dia harus merasa pusing sendiri.

 

Memikirkanku, atau janji kecil tadi, hum?” Myungsoo berhenti sejenak untuk melihat reaksi yang diberikan Jiyeon, lalu kembali berjalan setelah mengetahui wajah gadis itu masih sama. Datar-datar saja. “Kau masih mendengarku, ‘kan?” Oh baiklah, ini sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak, dia sudah berusaha membuka bahan pembicaraan dan sama sekali tak ada tanggapan yang diberikan kepadanya, bahkan hanya sebuah kata ‘ya.’

Jiyeon tersadar setelah nada ganjil yang terselip diantara suara Myungsoo masuk ke pendengarannya. Dia menoleh cepat, menangguk lalu menggeleng, dan kemudian menganggukkan kepalanya lagi tanpa alasan. “Ehm, maaf aku hanya..”

“Kau memikirkan janji itu rupanya. Tenang saja, kau bisa percaya padaku.”

Senyum pria itu mengembang dan memberikan kesan hangat pada Jiyeon. Sesaat gadis itu tersadar bahwa dasarnya Myungsoo memang sejak awal sudah ingin menjadi temannya, dia saja yang terus mendorong pria itu menjauh darinya. “Hanya sedikit. Tapi, aku akan coba untuk percaya padamu, Myungsoo-ssi.”

Myungsoo menghela nafasnya kesal. Lihat-lihat, Jiyeon masih memanggil namanya dengan embel-embel ssi, pertanda jika gadis itu mungkin saja masih menganggapnya orang asing. Dia berhenti dan menghadap pada Jiyeon. “Kau bisa memanggilku apa saja, tapi jangan panggil aku dengan embel-embel ssi. Jarak usia kita hanya satu tahun, ingat.”

“Tapi aku lebih nyaman..” Ucapan Jiyeon terhenti setelah melihat lemparan tatapan tajam Myungsoo. Dan satu lagi fakta yang Jiyeon lupakan soal Myungsoo. Laki-laki itu jenis orang yang suka memaksa.

“Tidak ada penolakan. Cepat, aku takut kau akan terlambat sampai ke rumahmu.”

Myungsoo meraih pergelangan mungil Jiyeon. Menarik gadis itu agar langkahnya berubah menjadi lebih cepat, tidak seperti sebelumnya yang nampak bak wanita yang sedang latihan berjalan di altar pernikahan.

Lalu mereka hanya larut dalam keheningan selama perjalanan. Baik Myungsoo maupun Jiyeon sama-sama berpikir tentang memahami diri mereka satu sama lain sebelum mereka bisa benar-benar berteman.

*

Langit sejak beberapa saat lalu sudah gelap ditambah dengan hadirnya beberapa bintang. Jiyeon berjalan sendirian sembari membawa sebuah plastic berukuran sedang yang sepertinya berisi beberapa kudapan untuknya. Gadis itu diam di seberang jalan menunggu lampu lalu lintas berubah hijau. Beberapa kali matanya menangkap pemandangan-pemandangan yang tak terlalu menyenangkan, seperti pasangan yang secara terang-terangan bertengkar di tempat umum seperti ini sampai pada orang-orang yang saling berebut taksi.

“Kau Park Jiyeon teman sekalas Soojung, ‘kan?”

Jiyeon berhenti memusatkan perhatian pada hiruk pikuk di hadapannya setelah menoleh untuk melihat siapa pemilik suara berat yang baru menegurnya. Alisnya saling tertaut, berpikir. Dia sebenarnya ingat pria ini pernah bersama Myungsoo, tapi dia sama sekali tidak mengetahui apa pun tentang pria asing ini.

“Aku Choi Minho.”

Jiyeon hanya mengangguk singkat. Kemudian dia kembali tidak peduli tentang semua pergerakan yang dilakukan oleh Minho. Yang sekarang ada dipikirannya hanya segera sampai di rumah dan menyantap kudapan miliknya.

“Ehm, Minho-ssi, aku pergi.”

Seperti dejavu saat Myungsoo melompat ke arahnya bagai pahlawan, kali ini semua itu terjadi secepat satu kedipan mata. Dia sama sekali tida tahu apa-apa, dan mendapati dirinya sudah berdiri berhadapan dengan Minho dengan jarak yang terbilang tipis. Sial. Ini semua karena taksi yang tidak tahu diri itu yang tiba-tiba melaju padahal jelas-jelas sekarang giliran pejalan kaki untuk berjalan. Dan apa ini, sekali lagi dia berakhir dengan hutang budi pada orang lain.

“Lain kali hati-hati.”

“Terima kasih, aku pergi.”

Minho tersenyum samar setelah kepergian Jiyeon. Sekarang Minho tahu pasti apa penyebab Myungsoo begitu penasaran terhadap Jiyeon. Gadis itu berbeda, tentu saja. Tapi, ada sesuatu dalam diri Jiyeon yang entah kenapa bisa membuat mereka tertarik dan mulai menjadi penasaran. Sejenis magnet, mungkin. Sekarang sepertinya Minho juga akan menjadi seperti Myungsoo.

*

Soojung menahan senyum sekaligus menahan batinnya agar tidak berteriak sekeras mungkin saking senangnya. Ini semua ulah Minho. Pria itu tadi tanpa alasan langsung mengajaknya bertemu selarut ini, dan hebatnya lagi dia melarang Myungsoo untuk ikut bersamanya. Pikirannya mungkin sedikit melenceng dari seharusnya, tetapi tetap saja dia tidak bisa menghilangkan harapan besarnya.

“Soojung-ah, di sini.”

Soojung melihat Minho tengah melambaikan tangan ke arahanya dengan senyum tiga jari, yang menurut Soojung tidak biasa. Dalam hati dia bertanya-tanya apa yang membuat pria itu sampai bahagia sekali. Dia mendekat pada Minho dengan langkah yang ragu. Ini sudah terlambat, dia tidak bisa mundur sekarang. Persetanan dengan apa yang akan Minho ucapkan nanti, yang penting setidaknya dia bisa menghabiskan waktunya bersama Minho.

“Oppa, ada apa memanggilku malam-malam?”

Minho tersenyum penuh arti. Masih memilih diam sembari memandang lurus ke depan. Mungkin masih menimbang-nimbang untuk bertanya pada Soojung perihal Jiyeon. Tapi, bagaimana kalau nanti Soojung memberitahukannya pada Myungsoo. Sial.

“Oppa?” Soojung mengkerutkan keningnya kebingungan. Pasti ada yang salah pada pria ini. Dia memutar otak mencari-cari masalah apa yang mungkin tengah dihadapi oleh pria ini. Apa dia baru saja ditolak? Itu lah satu-satunya ide Soojung yang menggambarkan Minho sekarang. Mungkin memang benar pria itu tidak terlihat malakonis seperti biasanya ketika habis ditolak, dia terlihat bahagia malah. Dengan senyum bodoh nan idiot. Tunggu, jangan coba katakan kalau pria itu jatuh cinta. Demi Tuhan, telinga Soojung sekarang sedang sangat tidak siap. Kalau bisa dia ingin lari dan segera bersembunyi di balik selimut tebalnya.

“Baiklah. Aku pikir aku juga mulai penasaran, atau mungkin meyukai Park Jiyeon.”

Tidak. Ini tidak boleh. Soojung pasti akan setuju-setuju saja dan berlagak bodoh lagi jika itu gadis lain, tapi ini Park Jiyeon. Gadis yang juga sudah berhasil menarik minat kakaknya setelah insiden dua tahun lalu. Dia menjatuhkan tatapannya pada Minho. Ada serat ketidak sukaan pada matanya. “Tidak! Oppa, kau tidak boleh!”

“Kenapa tidak? Lagi pula Myungsoo hanya sekedar penasaran padanya, ‘kan?”

“Tidak! Pokoknya tidak boleh. Jiyeon, dia gadis pertama yang menarik Myungsoo Oppa, dan aku tidak bisa biarkan Oppaku terluka lagi hanya karena sahabatnya mungkin menyukai orang yang disukainya.”

“Kau salah, Soojung. Myungsoo hanya penasaran.”

“Dia menyukai Jiyeon, aku tahu pasti itu. Hanya saja sekarang dia sedang berbohong dengan berkata dia penasaran.”

Minho tersentak dengan perubahan suara Soojung yang kian meninggi hingga memecah kesunyian di sekeliling mereka. Soojung pasti sudah salah paham sekarang. Minho yakin dan percaya jika Soojung menganggapnya menyukai Jiyeon. Padahal sebelumnya sudah dia katakan dia penasara atau mungkin menyukai Jiyeon. Itu masih mungkin dan Soojung sudah semarah ini.

“Tetap saja, aku masih..”

“Aku pergi!”

Soojung mengucapkan kalimatnya dengan kasar. Dia sudah meninggalkan Minho yang masih sibuk berpikir mengenai semua ucapan Soojung.

*

Myungsoo merutuki lagi kebodohannya sendiri. Coba lihat apa yang sekarang tengah dia lakukan ; berdiri bagai orang bodoh di depan rumah Jiyeon, tengah malam pula. Dia tetap berdiri mematung, sibuk berpikir untuk melemparkan sebuah batu kerikil kecil ke keca jendela rumah Jiyeon, tapi bagaimana jika yang keluar nanti adalah Ibunya? Sial, sial.

“Apa yang kau lakukan?”

Myungsoo tersentak, lantas berbalik ke belakang dan menemukan Jiyeon menatapinya dengan tatapan yang menuntut jawaban. Nafasnya tercekat, terlalu kaget karena Jiyeon tiba-tiba muncul bagai hantu, terlebih aura Jiyeon juga selalu menyebarkan kegelapan. Dia tergagap, bingung jawaban apa yang bisa membuat gadis itu nantinya tidak kesal.

“Menurutmu?”

Jiyeon menggerutu, memaki Myungsoo dalam batinnya. Ya Tuhan, sekarang dia menyesal memiliki teman idiot seperti Myungsoo. Seharusnya sejak awal dia tetap hidup dalam kehampaan saja, setidaknya dia merasa lebih baik, tidak perlu ada gangguan dan beberbagai macam hal yang membuat kepalanya berdenyut saking stressnya.

“Kau mau mencuri,” ucap Jiyeon santai tanpa beban sedikit pun. Dia mengangkat bahunya tidak mau tahu lagi apa yang ingin Myungsoo ucapkan. Sekilas matanya melihat ekspresi kesal terlukis di wajah milik Myungsoo. Masih sama, tidak ada sedikit pun rasa peka terhadap ekspresi Myungsoo, dia justru tersenyum mengejek.

“Ya! Sejak kapan ada orang tampan sepertiku mau mencuri? Demi Tuhan, kau sangat lucu, Park Jiyeon.”

“Kau mau masuk, atau pulang? Jawab dalam sepuluh detik.”

“Eh?”

“Aku anggap jawabannya kau mau pulang.”

Jiyeon bersiap-siap menutup pagar rumahnya namun ternyata Myungsoo sudah lebih dahulu menahannya, hingga mau tidak mau pagar itu kembali terbuka. “Apa?”

“Aku masuk. Tapi, Ibumu? Dan bagaimana jika tetanggamu salah paham?”

“Ibuku tidak ada, tetanggaku mungkin hanya akan berbisik-bisik di belakangku. Jadi?”

Myungsoo nampak terheran-heran. Gadis itu sama sekali tidak keberatan jika orang lain menilainya buruk, padahal biasanya gadis pada umumnya akan melindungi mati-matian harga diri mereka. Ah, Park Jiyeon memang berbeda, dan selalu akan jadi berbeda dari orang lain di luar sana.

“Aku setuju. Tapi, aku sedikit tidak enak kalau hanya ada dua orang di rumah ini. Aku panggil adikku, bagaimana?”

Jiyeon memjawabnya hanya dengan anggukan singkat, lalu dia mempersilahkan Myungsoo masuk. Sebenarnya dia cukup was-was setelah keputusan gilanya tadi, tapi biarlah lagi pula adik Myungsoo juga akan datang, jadi tidak ada lagi yang harus dikhawatirkan.

“Kau tidak duduk?”

Myungsoo meringis. Jiyeon memang menawarkannya untuk duduk, tapi dari nada suaranya seperti sebuah perintah yang harus Myungsoo lakukan. Pria itu berusaha bersikap senyaman mungkin sementara matanya terus menjelajahi setiap lekuk ruang di rumah Jiyeon. Keningnya berkerut. Tidak ada foto Ayahnya, semuanya hanya foto Jiyeon dan seorang wanita setengah wabaya yang Myungsoo yakini adalah Ibu Jiyeon. “Foto keluargamu..”

“Aku tidak punya Ayah.”

Oh, terkutuklah mulut berengseknya ini. Myungsoo melirik raut wajah Jiyeon sekilas, lalu menghembuskan nafas pelan mengetahui jika Jiyeon terlihat baik-baik saja seolah gadis itu benar-benar tidak terluka akibat kalimat singkatnya.

“Kau tidak apa-apa, ‘kan? Maksudku, ehm tentang keluargamu.”

“Tentu saja. Apa memang yang kau harapkan? Aku terluka, begitu?”

Myungsoo merasa tertohok akibat ucapan Jiyeon. Gadis ini terbuat dari apa sebenarnya? Cangkaknya sangat keras. Pria itu menggeleng tidak mengerti. Bahkan sudah semenjak siang tadi dia berusaha untuk paham tentang Jiyeon, tapi sampai sekarang dia bahkan tidak paham apapun mengenai gadis itu, justru sekarang dia malah semakin kebingungan.

“Apa adikmu jadi datang?”

Myungsoo menggeleng lagi. Ini benar-benar buruk. Dengan ketidak datangan Soojung siapa lagi yang akan menyelamatkannya sekarang. Setidaknya jika ada Soojung mungkin suasana kelam di rumah ini sudah menghilang karena suara-suara cempreng Soojung. Dan untuk pertama kalinya Myungsoo merasa kesal karena Soojung tidak ada bersamanya.

Setelah itu suasana hening menyelimuti Myungsoo dan Jiyeon. Mereka hanya saling melempar pandangan. Sampai akhirnya Jiyeon berucap dan mengundang amarah Myungsoo.

“Myungsoo-ssi, sepertinya kita tidak terlalu cocok untuk menjadi teman.”

“Apa maksudmu? Tidak, tidak.”

Myungsoo berdiri mendekat pada Jiyeon. Dia mencengkram bahu Jiyeon kuat. Sorot matanya tajam dan membunuh. Astaga, gadis ini benar-benar tidak tahu apa-apa. Dia bahkan sudah berusaha sekeras mungkin untuk beradaptasi dengan cara Jiyeon bersosialisasi yang sangat kaku, dan sekarang dengan seenak jidatnya Jiyeon mengatakan jika mereka tidak cocok menjadi teman.

“Apa yang kau lakukan?”

Myungsoo masih terdiam, lalu entah bagaimana pemikiran gila muncul di kepalanya secara cepat. Dia menelan salivanya, kemudian menatapi Jiyeon dengan serius. “Kau mengatakan kita tidak cocok sebagai teman, berarti kita lebih cocok jika lebih dari teman. Bagaimana?”

Jiyeon terbelak kaget. Dia paham betul apa maksud perkataan Myungsoo. Lebih dari teman? Tidak boleh terjadi. Dia meronta meminta lepas, namun memang kekuatan Myungsoo lebih besar darinya hingga perlawanannya sia-sia. “Kau sehat, ‘kan?”

“Tentu saja. Aku memberikan penawaran terakhir. Kita sebagai teman atau kita sebagai sepasang kekasih. Aku yakin opsi pertama terdengar jauh lebih baik untukmu.”

Myungsoo menyeringai. Ya Tuhan, gadis ini benar-benar polos. Lihat semua ekspresi-ekspresi yang dikeluarkannya. Semuanya terlihat sangat manis, dan wajah datar itu menghilang semenjak ide gilanya dia cetuskan secara terang-terangan.

“Tentu saja aku memilih opsi pertama. Lagi pula, gadis gila mana yang mau menjadi kekasihmu.”

Berhasil. Myungsoo bersorak dalam hati. Sosok gadis itu keluar. Jiyeon yang sekarang terlihat lebih manis dengan semua tingkahnya, jauh berbeda dengan beberapa menit sebelumnya.

“Dan apa kau pikir aku adalah pria gila yang mau menjadi kekasihmu, Nona Park?”

Myungsoo terbahak di hadapan Jiyeon. Ini benar-benar diluar dugaan. Awalnya dia hanya berniat agar Jiyeon tetap ingin bertaman dengannya, tapi siapa yang sangka jika dia bisa membuat gadis itu melepaskan topengnya.

“Kau tahu, tadi kau sangat manis dengan wajah cemberut.”

Myungsoo mencubit kedua pipi Jiyeon tanpa canggung seolah-olah pria itu sudah sangat akrab dengan Jiyeon. Sementara Jiyeon, gadis itu diam-diam tersenyum senang.

“Permen karet bodoh!” Jiyeon menganggkat tangannya dan melayangkan pukulan singkat di kepala Myungsoo, lalu dia tertawa melihat Myungsoo meringis sekaligus mengusap kepalanya dengan pelan.

Myungsoo tertegun. Gadis itu tertawa, dan itu karenanya. Demi Tuhan, dia sendiri tidak pernah tahu jika tawa Jiyeon benar-benar membawa efek membahagiakan untuk dirinya sendiri. Entahlah datang dari mana keingan egois itu, tapi dia sangat ingin semua tawa Jiyeon disebabkan olehnya.

“Seharusnya kau lebih sering tertawa. Kau sangat cantik, kalau kau mau tahu.”

Jiyeon merona. Dari dulu gadis itu sering mendengar beberapa teman Ibunya mengatakan jika dia cantik, tapi selama ini itu hanya dianggapnya sebagai formalitas antara para orang tua, saling memuji anak satu sama lain. Nanti setelah Myungsoo yang mengatakannya barulah dia benar-benar percaya pada semua pujian yang pernah ditujukan untuknya.

“Terima kasih.”

“Tidak apa-apa. Aku ‘kan temanmu, Nona Park. Kalau begitu aku pulang, ini sudah larut.”

Jiyeon mengantar Myungsoo sampai pintu pagar lalu memberikan senyum sekenanya. Pria itu melambai padanya dan juga berteriak selamat malam dengan raut wajah senang.

“Kau juga. Selamat malam, Myungsoo-ya.”

*

Soojung berjalan tanpa semangat memasuki area sekolah. Wajahnya ditekuk, ditambah tataan rambutnya yang tak serapi biasanya. Satu-satunya kata yang paling cocok untuk gadis itu pastinya hanya kacau.

“Kim Soojung!”

Tidak, jangan pedulikan dia Soojung. Lanjutkan jalanmu dan jangan pernah coba untuk menoleh, batin Soojung. Gadis itu berjalan dengan cepat berusaha menghindari sosok yang sedari tadi menyerukan namanya. Merasa sudah lebih jauh dari sosok itu dia berhenti, mengatur nafasnya yang tak beraturan.

“Ini.”

Soojung mengangkat sebelah alisnya memandangi satu botol air mineral yang diberikan padanya. Gadis itu melihat siapa pemilik botol itu, dan kemudian sedikit terkejut mendapati Jiyeon lah yang barus saja menawarkannya air. Jiyeon. Park Jiyeon teman sekelasnya. Tidak bisa dipercaya, pikir Soojung. Tetapi setelah berpikir dia meraih botol air mineral itu, lalu langsung meneguknya seperti orang yang sangat kehausan akibat tidak minum selama berhari-hari.

“Kenapa semalam kau tidak datang?”

Soojung tersedak oleh air mineral itu nyaris memuntahkannya kembali setelah mendengar pertanyaan Jiyeon. Ya Tuhan, jadi semalam Jiyeon menunggunya. Wah-wah, kakaknya sepertinya patut diberi sedikit penghargaan.

“Ah, maaf. Aku sangat lelah kemarin.”

“Apa yang kalian berdua lakukan?”

Soojung menggerutu kesal. Suara kakaknya benar-benar memperburuk suasana hatinya. Dia melempar tatapan yang menyiratkan aku akan membunhumu, pada Myungsoo.

“Ada apa denganmu, adikku sayang? Patah hati, heh?”

Berengsek. Kim Myungsoo berengsek, maki Soojung. Sekarang rasanya Soojung ingin sekali melompat, lalu memberikan pukulan keras ke wajah yang dibanggakan Myungsoo, lalu mencakar wajah itu agar menjadi buruk rupa.

“Ya Tuhan, kau sangat menakutkan, Soojung. Baiklah, aku selesai. Aku hanya mau mengambil Nona Park. Kalau begitu selamat berjuang dengan kisah cintamu.” Myungsoo menarik Jiyeon, lalu melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon. Pria itu menengokkan kepalanya melihat Soojung dengan wajah prihatin. Kemudian, kembali melanjutkan tujuannya, membawa Jiyeon jauh dari Soojung yang sekarang sibuk memerangi batinnya sendiri.

“Kalian berdua seperti tidak saling menyayangi untuk ukuran sepasang saudara.”

Myungsoo tertawa sebentar menanggapi ucapan Jiyeon yang bisa dikatakan terlalu polos. Dia menggeleng, dan berucap, “Tidak. Kami saling menyayangi. Sangat malah.”

“Tapi, tadi kalian..”

“Bentuk kasih sayang tidak selalu diungapkan dengan ucapan dan perilaku yang baik. Kau tahu terkadang untuk orang sepertiku dan Soojung yang tidak bisa mengekspresikan perasaan lebih memilih pertengkaran sebagai ungkapan kami saling peduli satu sama lain. Kau paham, Nona Park?”

Jiyeon hanya menganggukkan kepalanya mengerti mendengar penjelasan singkat oleh Myungsoo. “Aku paham.”

*

Dan di sinilah Soojung kini terjebak. Balkoni sekolah bersama Choi Minho. Gadis itu mendengus, mengelus pegelangannya yang memerah akibat cengkraman tangan besar Minho. Dia menatap Minho marah, dan juga menutut.

“Kenapa kau menghindariku? Apa karena ucapanku semalam? Astaga, Soojung. Kau tidak berpikir aku akan merebut Jiyeon dari Myungsoo, ‘kan?”

“Memangnya kenapa kalau aku berpikir begitu?”

“Sebenarnya aku cukup bingung dari kemarin. Sebenarnya kau marah karena takut aku merebut Jiyeon dari Myungsoo, atau kau marah karena cemburu pada Jiyeon, sebab gadis itu sudah menyita perhatian kakakmu dan juga aku.”

“Aku marah karena keduanya!”

“Kau cemburu? Pada Jiyeon?”

“Tentu saja. Itu karena dia bisa membuatmu tertarik.” Soojung menutupi mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Dia baru tersadar setelah ucapan lantangnya itu kelur dengan sangat keras. Sekarang mau dikemanakan wajahnya. Ini pengakuan, ‘kan? Secara tidak langsung dia baru saja mengatakan jika dia menyukai pria kodok itu. Ya Tuhan, bunuh saja aku sekarang, Soojung berguman pelan. Gadis itu mengambil langkah besar, berbalik, dan kemudian berlari meninggalkan Minho untuk melindungi sisa harga dirinya.

“Ah, Kim Soojung, kau sangat manis. Dan setelah semua ini bagaimana bisa aku menganggapmu sebagai adikku lagi?”

*

Selamat memabaca bagi readers setiap ff aneh aku. *Kecup

47 responses to “[Chapter – 4] HIGH SCHOOL LOVERS : Confession

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s