[CHAPTER] PLUSH – Part 2

PLUSH ICAQUEARTUntitled-1 copyBased on PLUSH Movie (American erotic thriller film 2013)
[Park Sang Hyun as Thunder] [Kahi as PLUSH’s Manager]
Untuk yang kesekian kalinya aku membuat fanfiction berdasarkan film yang sudah ada. Setelah IN TIME dan UPSIDE DOWN, kali ini aku mencoba menyajikan PLUSH Movie dalam bentuk fanfiction. Big Warning untuk adek-adek manis kita yang masih di bawah umur. Aku nggak akan menceritakan kisah PLUSH ini segamblang seperti yang ada di filmnya karena kalau boleh di bilang PLUSH Movie ini tergolong film unrated yang sangat tidak diizinkan untuk dinikmati oleh remaja di bawah umur. So, buat kalian yang di bawah umur, setelah membaca fanfiction ini, mudah-mudahan kalian tidak tergoda untuk menonton film aslinya yang dibintangi oleh Emily Browning (diperankan oleh Jiyeon), Xavier Samuel (diperankan oleh Seungri) dan Cam Gigandet (diperankan oleh Myung Soo). Seratus persen jalan ceritanya sama, hanya saja ada beberapa dialog dan adegan yang aku ubah sendiri.

PARK JIYEON P.O.V

Kubuka pintu kamar hotel Seungri yang sudah setengah terbuka, menampakkan sosoknya yang hanya berbalut celana jeans. Dia pun membalikkan tubuhnya dan tersenyum. Gitarnya berhasil menutupi pusarnya yang di kelilingi tatoo.

“Morning,” ucap Seungri lagi-lagi tersenyum, sementara tangannya sibuk memetik gitar.

Jujur saja, aku ingin marah, tadinya. Emosiku sempat meletup di tempat tahu Seungri dengan lancangnya mencampurkan botol martiniku dengan absinthe keparat milik Kahi, tetapi setelah melihat wajahnya sekarang, seakan-akan absinthe sisa semalam mulai bereaksi kembali di dalam kepalaku. Bahkan aku tidak mampu menemukan kata-kata makian yang sudah aku persiapkan beberapa detik yang lalu.

“Ambil jaketmu,” ucapku pada akhirnya. “Dan bawa gitarmu.”

Seungri pun mengangguk menuruti ucapanku. Pada akhirnya aku malah membawanya ke suatu tempat, tempat favoritku dulu sewaktu kecil. Hanya sebuah taman biasa, tetapi taman ini memiliki arti berbeda karena Thunder menyukainya. Dia sering tidur-tiduran di atas rumput hijau yang halus dan lembab, sementara gitar kecilnya tergeletak manis di atas dadanya. Sedangkan aku sibuk di sebelahnya dengan syair-syairku.

“Kahi mengatakan padaku untuk menulis sebuah lagu baru buat PLUSH,” ucapku setelah menemukan satu area yang pas bagi kami untuk menggali inspirasi. “Dan aku punya beberapa syair yang belum pernah aku perdengarkan ke orang lain.”

“Lalu biarkan aku mendengarkannya,” ucap Seungri yang sedang bersender pada tembok batu.

“Um…tetapi liriknya benar-benar berbeda, maksudku…agak sedikit kasar,” ucapku memberitahu.

“PLUSH membutuhkan lirik kasar,” ucap Seungri seakan-akan apa yang aku buat tidak pernah salah di matanya.

Aku pun memberikan buku kecilku kepada Seungri. Dia membacanya lalu tersenyum singkat.

“Bagaimana?” tanyaku. Aku tak tahu mengapa aku begitu gugup sekarang, seakan-akan aku sedang memberikan buku tugasku kepada guru.

Seungri tak menjawab apa-apa.

“Seharusnya aku tidak bertanya soal lirik itu, aku tahu lirik itu sama artinya dengan sampah,” ucapku dengan ekspresi frustasi terdalam yang kupunya.

“Tidak,” ucap Seungri akhirnya buka suara. “Ini hebat. Aku menyukainya.”

“Kau pikir lirik itu hebat?” tanyaku ragu, walaupun sedikit senang.

“Yeah, ini seperti isi hatimu yang keluar tanpa batasan,” jawab Seungri sementara tangannya mulai memetik gitarnya, mencoba mencari nada yang pas untuk lirik kasar itu. Aku pun tersenyum. Seungri memang berbakat, dia hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit untuk membuat lirik kasarku menjadi sebuah lagu yang kurasa cocok untuk comeback PLUSH.

“Woa,” ucapku pelan seraya menatap kagum dirinya. Aku benar-benar kagum. “Kau hebat. Kahi seharusnya menemukanmu dari dulu…”

“Aku pasti akan senang jika dapat menjadi bagian dari PLUSH sejak dulu,” ucap Seungri yang tiba-tiba saja mendorongku ke rumput sebelum menibaniku. “Dan tidak akan ada Myung Soo yang dapat mencuri start dariku…”

Aku shyok mendengarnya berbicara seperti itu kepadaku. Dan lagi-lagi aku harus melihat tatapannya kepadaku yang terkesan…bernafsu?

“Ini gila,” ucapku seraya mendorong tubuh Seungri sehingga kami kembali pada posisi duduk.

“Apanya yang gila?” tanya Seungri. “Kita berdua hebat. Kita membuat lagu bersama…”

“Dan bahkan bercinta bersama?” tanyaku seakan menembak dirinya.

Seungri tertawa pelan, membuat rasa kesalku dalam sekejab muncul.

“Park Jiyeon…” Seungri kembali menatapku. “Semalam kita tidak benar-benar bercinta.”

“Lalu bisa kau jelaskan mengapa pagi tadi aku menemukan diriku dalam kondisi telanjang bulat?” tanyaku. Yeah, bagaimana pun rasanya aku harus tetap menanyakan hal ini. Aku harus memastikan apakah aku sudah berhasil mengkhianati suamiku sendiri.

“Aku hanya memijatmu,” jawab Seungri sederhana. Apa dia pikir rasa penasaranku akan terbayar begitu saja setelah dia menjawab seperti itu?

“Aku punya suami dan dua orang anak,” ucapku pelan tetapi penuh penekanan. “Aku hanya butuh kejujuran darimu karena aku tidak berhasil mengingat apapun tentang kejadian semalam karena kau dengan suksesnya mencampurkan martiniku dengan absinthe milik Kahi. Dan aku telanjang bulat. Lalu kau bilang kau hanya memijatku? Menurutmu apa aku bisa mempercayaimu?”

Lagi-lagi Seungri berhasil membuatku kesal karena tawanya.

“Aku sedang tidak ingin bercanda, sungguh…” ucapku dengan tatapan memusuhi.

“Oke,” ucap Seungri seraya mengangkat kedua tangannya. “Kita memang bercinta…”

“Tidak!” teriakku terkejut. Aku berharap Seungri tetap berkata bohong bahwa kami tidak bercinta semalam. Tentunya saja aku tidak ingin bercinta dengan seorang gay! Dan aku punya suami.

“Jadi apa yang sebenarnya kau inginkan?” tanya Seungri seraya bersender kembali pada tembok batu. “Iya atau tidak sepertinya bukan jawaban yang kau mau.”

“Kau gay!” Ucapanku lagi-lagi menembaknya.

“Gay?” Kini Seungri terbahak seperti orang kurang waras. “Darimana kau tahu bahwa aku gay?”

“Bukan itu poinnya, Lee Seungri,” ucapku yang sudah beranjak berdiri. “Aku tidak pernah ingin bercinta dengan orang yang memiliki kelainan seksual…”

“Dan itu artinya kau bersedia bercinta denganku jika aku ini normal? Begitu maksudmu?” tanya Seungri ikut berdiri berhadapan denganku. Tatapan matanya kearahku begitu nakal. “Tidak perduli dengan statusmu yang sudah menjadi istri orang. Dan anak kembarmu bukan masalah penting.”

“Mereka penting bagiku,” ucapku kesal. Aku tahu aku sudah buat pernyataan yang salah. Tentu aku tidak mungkin bercinta dengan pria lain sementara Myung Soo masih menunggu dengan sabar kapan dia bisa menyentuhku kembali.

“Percayalah,” ucap Seungri lagi. “Aku bukan gay.”

“Pernyataanmu tidak akan membuatku mengizinkanmu untuk menyentuhku….lagi,” ucapku cepat. “Aku tidak ingin menyakiti siapapun.”

“Kau baru saja menyakitiku,” ucap Seungri pelan seraya berbalik untuk mengambil gitarnya sebelum pergi meninggalkanku.

Aku frustasi karena pria ini. Demi Tuhan.

Aku berusaha memanggilnya untuk kembali tetapi dia tetap pergi.

“Kau tidak boleh menceritakannya pada siapapun soal semalam!” Ucapanku yang ini ternyata mampu membuat langkahnya berhenti. Lalu Seungri berbalik dan berjalan kembali ke arahku sebelum akhirnya menciumku dengan agak kasar.

Seungri berhenti karena tahu aku nyaris kehabisan nafas karena ulahnya.

“Aku pandai menjaga rahasia…” ucapnya seraya berbisik di telingaku. “…asalkan kau mau melanjutkannya bersamaku sampai akhir.”

Aku terdiam. Shyok dan bingung. Melanjutkan hubungan penuh nafsu bersama dengannya? Sementara Myung Soo dan anak kembarku setia menungguku sampai kapanpun?

“Kenapa kau tidak terima saja fakta bahwa aku sudah menikah?” tanyaku pelan, tidak ingin membuatnya kembali brutal dengan bibirku.

“Sederhananya….aku mencintaimu,” ucap Seungri seraya menatap dalam mataku. “Single atau bahkan janda, aku tetap bisa mencintaimu. Karena perasaan adalah perasaan. Kau tidak bisa memaksaku untuk mengubah perasaanku kepadamu. Kenapa kau tidak terima saja bahwa aku ini bisa menjadi partner sex-mu selama kau melakukan tour? Kau pasti akan selalu berada jauh dari Kim Myung Soo.”

“Jadi kau anggap aku hanya sebagai teman sex-mu?” tanyaku dengan nada menuduh.

“Selain mencintaimu, aku juga mencintai sex,” jawab Seungri. “Aku tahu ini agak sedikit keterlalun, tetapi bukankah semua orang menginginkan sex di dalam hubungan mereka?”

Aku menggeleng seraya menjawab, “Tidak semuanya, Lee Seungri.”

“Tetapi aku harus, Love,” ucap Seungri cepat seraya mengecup bibirku. “Aku harus memiliki itu di dalam suatu hubungan. Percayalah, Love. Aku tidak akan menyakitimu. Justru hal ini akan memberikan efek yang baik untukmu. Anggap saja sex sebagai setrum otak yang mampu memicu inspirasimu.”

Aku tidak tahu apa yang dikatakan Seungri benar atau tidak. Tetapi faktanya, dua hari setelah keadaan itu, lagu baru PLUSH benar-benar terbit dan tanpa diduga sukses di pasaran. Bahkan lagu itu lebih melejit dari lagu ciptaan Thunder.

“Jey…” Penata riasku menghampiriku dengan sebuah surat. “Dari fansmu.”

“Surat?” gumamku seraya membaca isi surat itu. “I LOVE YOU…”

“Myung Soo sangat romantis,” ucap penata riasku ikut membaca.

Aku menggeleng seraya berkata, “Tidak. Ini bukan darinya.”

Fans fanatikku yang dulu kembali. Dia menuliskan surat ini dengan lipstik hitam. Gila.

“Penggemar gila yang menyeramkan,” gumamku seraya meremas surat itu sebelum melemparnya ke kotak sampah di bawahku.

**

“Jadi…aku dan Seungri akan membuat lagu baru lagi untuk PLUSH,” ucapku di depan personil PLUSH yang lain. “Dan lagu ini pasti akan membuat otakmu meledak. PLUSH akan meledak!”

“Yeaaaah!” teriak mereka seraya mengangkat tubuhku tinggi-tinggi.

“Sekarang berikan aku…um…apapun, tequila, vodka, martini atau…”

“Absinthe?” Seungri sudah menyodorkan segelas kecil absinthe di depan wajahku.

Aku terdiam.

“Hanya malam ini?” tanya Seungri. “Untuk keberhasilan lagu kita?”

Tidak ada buruknya juga minum sedikit absinthe untuk merayakan lagu kami yang sukses malam ini.

“Yeah, untuk lagu kita. Lagu PLUSH,” ucapku akhirnya menerima gelas di tangan Seungri.

Aku yakin aku dengan yang lainnya akan kembali gila malam ini.

“Kapan aku dengan yang lainnya bisa mendengar lagu itu?” tanya Kahi yang sudah menyambar sebotol absinthe di tangan kanannya.

“Kau rencanakan saja pesta dukungan berikutnya,” jawabku yang kini tak sungkan menerima gelas kedua absinthe dari Seungri. “Kau akan mendapatkan lagunya besok pagi.”

“I love it,” ucap Kahi seraya meneguk absinthe langsung dari botolnya.

“Kau akan gila berhari-hari, Kahi-ah!” teriak salah satu personil PLUSH di akhiri tawa tipsinya.

“CHEERS!” teriak Kahi yang sudah benar-benar gila.

**

Intinya, aku dan Seungri jadi lebih sering bersama dengan alasan lagu baru yang sering kami buat untuk PLUSH. Dan hal ini membuat kami menjadi lebih sering bercinta. Kurasa Seungri memang benar-benar mencintaiku. Dan mungkin sangat menggilaiku. Dia tidak pernah berhenti mengambil kesempatan dan celah untuk mencium bibirku.

“Bibirmu adalah drugs buatku,” ucap Seungri lagi-lagi menciumku. “Otakku akan mulai bekerja setelah bibirku bertemu dengan bibirmu.”

Dan aku hanya bisa tersenyum. Aku hanya bisa menerima semua perlakuannya kepadaku.

Lalu bagaimana dengan Kim Myung Soo dan si kembar?

Myung Soo masih suamiku dan si kembar masih menjadi permata hatiku. Tidak akan ada yang berubah untuk soal itu. Seungri hanyalah pelengkap buatku. Dan tentunya aku tidak akan mengatakan hal ini kepadanya. Aku bahkan bilang kepadanya bahwa perlahan-lahan aku mulai mencintainya. Yeah, resikonya dia jadi semakin menggilaiku dan tidak pernah bosan mengatur jadwal bercinta kami. Tetapi efek baiknya PLUSH semakin berkibar. Lagu PLUSH merajai tangga nada dan Thunder di surga pasti menyukainya.

Seperti malam ini, aku benar-benar terkejut saat melihat bokong Seungri di penuhi tatoo bergambar wajahku dan Thunder.

“Aku dan Thunder?” gumamku pelan.

“Yeah,” ucap Seungri seraya berbalik kemudian mencium keningku. “Semua tentangmu dan Thunder….aku menyukainya. PLUSH. Otak Thunder yang brilian dan kau, Love. Aku mencintaimu, disini.” Seungri menunjuk dadanya.

Aku hanya bisa tersenyum.

“I love you,” ucap Seungri seraya meletakkan tubuhku di atas pangkuannya.

Aku masih diam. Bahkan tidak tersenyum.

“Kau tidak mau membalasnya?” tanya Seungri seraya mengelus wajahku.

Kusadari bahwa aku bisa menjadi yang Seungri mau hanya disaat absinthe masuk ke dalam perutku dan mulai memanipulasi otakku. Dan pada saat itu aku akan dengan mudahnya merespon semua yang Seungri lakukan padaku. Disaat efek minuman itu habis, aku akan kembali menjadi Park Jiyeon yang masih berusaha setia kepada suami dan anak-anakku. Saat melihat tatoo di bokong Seungri, pada saat itulah efek absinthe pada diriku habis. Aku jadi sulit membalas ungkapan cinta Seungri. Aku juga mulai membawa logika ke dalam pikiranku. Mengapa Seungri meletakkan wajahku dan Thunder di bokongnya jika dia menyukai kami? Menyukai PLUSH. Bukankah seharusnya dia menghormatiku? Oh ya, aku lupa bahwa seseorang yang sudah berani mengajakku bercinta disaat aku sudah memiliki suami dan anak, bagaimana mungkin aku berharap mereka akan menghormatiku?

“I love you,” jawabku pelan dan Seungri kembali memainkan diriku di atas ranjang hotelnya.

**

Aku kembali hari ini ke L.A. Aku senang karena dengan begitu aku akan bertemu si kembar permata hatiku. Setelah konser sukses PLUSH yang terakhir ini, aku akan kembali bertemu PLUSH yang lain paling tidak satu bulan lagi. Aku akan benar-benar memanfaatkan waktu satu bulan ini untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluargaku, dengan si kembar dan tentunya dengan Myung Soo. Jujur saja, keadaan di Korea membuat rasa bersalahku pada Myung Soo dan si kembar menggelembung seperti balon udara.

Aku tiba di rumah saat malam hari. Dan aku benar-benar di kejutkan dengan pintu rumah yang tidak dikunci dan kondisi yang sepi total. Tidak ada yang menyahut saat kupanggil Myung Soo dan si kembar. Bahkan pembantu rumah tanggaku, Mrs. Renata, tidak menjawab.

“Dimana mereka semua?” gumamku seraya beranjak naik ke lantai dua, ke kamar si kembar.

“MOMMY!” teriak si kembar saat aku membuka pintu kamarnya.

“Ternyata kalian disini,” ucapku seraya menghela nafas lega. Kucium dahi keduanya seraya bertanya,”Kenapa sepi sekali? Dimana ayah kalian? Dimana Mrs. R ?”

“Mrs. R sedang izin menjenguk keluarganya di Puerto Rico,” ucap seseorang yang berhasil mengejutkanku. “Maaf. Aku Jenny, pengganti Mrs. R yang di sewa oleh Tuan Kim, suamimu. Bukankah dia sudah meng-emailmu untuk memberitahumu?” tanya Jenny seraya membantu si kembar naik ke atas ranjang mereka.

“Um, aku belum mengeceknya,” jawabku. Aku memang sudah lama tidak membuka email sejak diriku dibuat sibuk oleh Seungri. “Lalu mengapa pintu di depan tidak dikunci?”

“Untuk soal itu maaf, aku sedang terburu-buru di dapur sehingga lupa dengan pintunya,” jawab Jenny. “Tetapi tenang saja. Aku ini seperti ninja yang mampu menghadapi jenis kejahatan apapun.”

“Yeah, kalau begitu keputusan suamiku untuk membawamu kesini sangatlah tepat,” jawabku diakhiri tawa.

“Apa kau membawa hadiah yang kami pesan, Mom?” tanya si kembar bersamaan.

“Tentu saja,” jawabku seraya menghampiri mereka. “Hadiahnya ada dibawah.”

Dan tanpa banyak membuang waktu, si kembar langsung meluncur ke bawah dan mulai mengobrak-abrik koperku.

“Dimana Mom?” tanya si kembar. “Kami tidak menemukannya.”

“Um…mungkin hadiahnya tertinggal di limo,” ucapku seraya menepuk dahi. Yeah, aku bodoh. Absinthe membuatku bodoh.

Dan tiba-tiba saja telepon rumahku berbunyi.

“Itu pasti dari supir limo,” ucapku seraya bergegas mengangkat telepon.

“Hai, Love…” Suara Seungri terdengar. “Kau mencari hadiah yang tertinggal?”

“Um, yeah…” jawabku dengan suara pelan. “A-apa mereka ada di limo?”

“Yeah, boneka-boneka ini sedang bersama denganku,” jawab Seungri.

“Kapan waktu yang tepat untuk mengambilnya?” tanyaku seraya berjalan menjauh dari si kembar dan Jenny.

“Bagaimana jika sekarang?” tanya Seungri balik bertanya.

Aku terdiam. Sekarang? Dia mau bertemu denganku sekarang? Setelah aku memutuskan untuk tidak bertemu dengannya selama satu bulan ke depan ini? Seharusnya aku tidak dengan bodohnya meninggalkan hadiah-hadiah itu. Ini semua salahku.

“Um, bisakah kau berikan saja hadiah-hadiahnya kepada supir dan menyuruhnya untuk mengantarkannya ke rumahku?” tanyaku mencoba mencari cara lain.

“Kenapa?” tanya Seungri. “Kau tidak ingin bertemu denganku?”

“Tidak, bukan begitu,” jawabku cepat. Putar otak, Jey… coba cari alasan.

“Kalau begitu aku akan ke rumahmu sekarang,” ucap Seungri.

Belum sempat aku berbicara, Seungri sudah memutuskan teleponnya.

Beberapa menit kemudian Seungri datang dan aku langsung menemuinya di halaman depan.

“Ini hadiahnya,” ucap Seungri seraya menyerahkannya kepadaku.

“Thanks,” jawabku. “Um, maaf sudah merepotkanmu. Sudah malam. Kalau begitu selamat…”

“Aku merindukanmu,” sela Seungri otomatis membuatku bungkam.

“Um…kita baru berpisah beberapa menit dan….”

“Aku sangat merindukanmu,” selanya lagi.

“O-oke, aku juga kalau begitu,” jawabku pelan, sangat pelan.

Dan tiba-tiba saja si kembar sudah berada di belakangku untuk menyambar hadiah mereka.

“Jadi merekalah permata hatimu?” tanya Seungri yang belum sempat kujawab. “Hai, guys…kalian kelihatan hebat. Aku Seungri, salah satu PLUSH.”

“Halo,” jawab si kembar bersamaan.

“Jadi, boneka ini bisa bicara kata Mom?” tanya Kim Lou, kembar yang tertua, yang lahir lebih dulu.

“Yeah, mereka akan bicara jika kau menekan tombol ini,” jawab Seungri memberitahu. “Tetapi sebelumnya kalian harus merekam suara kalian lebih dulu pada boneka ini.”

Dan Seungri pun memberikan contoh kepada si kembar. Si boneka berbicara ‘I LOVE YOU’ setelah Seungri merekam suaranya.

“Awesome!” teriak Kim Sean takjub. “Biar aku coba.” Sean pun merebut bonekanya dari tangan Seungri.

“Kalau begitu masuklah,” ucap Lou yang tiba-tiba saja menggandeng tangan Seungri.

“Jadi kita bisa bermain sebentar?” tanya Seungri seraya melirik diam-diam ke arahku. “Kata ibu kalian hari sudah malam…”

“Ayolah, Mommy….” rengek Lou tiba-tiba. “Boneka ini hebat dan Seungri harus menemani kami bermain.”

Jadi aku harus bagaimana sekarang? Keluargaku, khususnya si kembar, mereka tidak boleh mengenal sosok Seungri. Tetapi pria ini malah berhasil membuat Lou dan Sean menyukainya.

Aku belum memberi izin dan Seungri sudah berhasil digeret masuk oleh si kembar. Aku hanya bisa mendesah penuh kekhawatiran.

**

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Si kembar masih asik bermain dengan Seungri.

“Waktunya tidur, guys,” ucapku kepada Lou dan Sean. “Kalian perlu sekolah besok.”

“Besok libur, Mom,” ucap Lou mengingatkan.

“Um…libur?” tanyaku terlihat linglung. Tentu saja besok libur, jadi kenapa aku bisa lupa dengan jadwal sekolah anakku sendiri? “Tetapi kalian tetap harus tidur. Dan Seungri perlu pulang karena dia letih sekali sejak PLUSH mengharuskan kami unjuk gigi dari pagi tadi.”

Lou dan Sean otomatis menunjukkan ekspresi sedih mereka.

“Jangan lupa gosok gigi lebih dulu. Mommy akan menyusul,” ucapku seraya mengecup kepala mereka yang kini sedang berjalan lesu ke lantai dua, tempat kamar mereka berada.

“Aku pun akan pulang,” ucap Jenny yang sudah siap dengan tasnya. “Kontrakku disini tidak ada acara menginap. Karena aku pun punya keluarga dekat sini.”

“Oh ya? Jadi aku bisa main kapan-kapan ke tempatmu?” tanyaku pada Jenny.

“Tentu saja,” jawab Jenny. “Keluargaku pasti akan senang melihatmu.”

“Kau bisa bareng denganku kalau begitu,” ucap Seungri menawarkan diri. “Sudah malam dan kau wanita.”

Walau awalnya agak ragu, pada akhirnya Jenny menerima tumpangan gratis dari Seungri. Aku hanya penasaran apa Seungri juga akan mengajak Jenny bercinta di dalam limo kami? Aku hanya berharap dia tidak memberikan Jenny sisa absinthe kami.

**

Aku berhasil terbangun saat jam menunjukkan pukul dua malam. Myung Soo sudah datang dan sudah tertidur di sebelahku entah sejak kapan. Ini pertama kalinya kami berada satu ranjang lagi sejak kematian Thunder. Rasa berdosa lagi-lagi menjeratku sejak bayangan wajah Seungri terpampang jelas di pikiranku. Aku bahkan sudah tidur dengan pria lain setelah aku membuang Myung Soo sejak Thunder meninggalkanku. Rasanya untuk memutuskan tidur satu ranjang kembali bukanlah hal yang bagus. Maka dengan sangat pelan aku mencoba turun dari ranjang, tetapi tangan Myung Soo sudah menahanku.

“Tidak secepat itu, Jey,” ucap Myung Soo seraya menarikku kembali ke atas ranjang.

“Maksudmu?” tanyaku.

“Kau tahu aku merindukanmu,” jawab Myung Soo seraya mengambil posisi di atasku dan mulai menciumiku.

Yeah, beginilah seharusnya keadaannya. Aku setia berada di sebelah suamiku dan melayaninya. Ini yang namanya kehidupan pernikahan. Lalu kehidupan seperti apa yang sudah aku jalani beberapa minggu kemarin di Korea? Apa aku masih pantas disebut manusia jika keadaannya sudah begini?

Intinya kami berhasil melakukannya sejak sudah lama sekali kami tidak melakukannya. Walau aku agak kecewa karena Myung Soo hanya sebentar lalu kembali tidur di sebelahku.

“Sepertinya kau tidak suka melakukannya,” ucap Myung Soo seraya berusaha mencari jawaban di mataku.

“Aku menyukainya,” jawab cepat dan itu kejujuran.

“Kau hanya diam saja,” ucap Myung Soo terdengar kecewa.

“A-aku hanya lupa bagaimana cara melakukannya dengan baik,” jawabku pasti terdengar sangat bodoh di telinganya. Dan benar saja, Myung Soo langsung tertawa kemudian kembali diam.

“Kalau begitu aku akan bantu kau mengingatnya,” ucap Myung Soo kembali mengambil posisi di atasku.

To Be Continue

27 responses to “[CHAPTER] PLUSH – Part 2

  1. Masih ngerasa aneh ma Seungri,,
    Bener jg tuh yg dipikirin Jiyi, kalo Seungri cinta Jiyi & Thunder knapa tattonya dibokong??
    Seungri sprti na berbahaya (😀 )
    Jiyi jd takut & ngerasa bersalah…
    Kasihan jg Myung
    Lanjut kak icha😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s