The Heir’s Secretary (2nd Chapter)

the-heir_s-secretary

The Heir’s Secretary

by : arin yessy

| Main Cast : Kim Myungsoo, Park Jiyeon | Support Cast : Kim Woobin | Genre : Romance, Tragedy | Lenght : Multichapter | Rated : PG-15 |

Comment juseyo ^^ sorry for typo and bad story~

poster by : Sifixo @ Indo FF Arts

Jiyeon sengaja menatap tajam kedua manik mata myungsoo sementara laki-laki itu kini tengah sibuk menjelaskan saham KJS group di bursa efek yang mengalami penguatan beberapa persen. Sementara gadis itu, ia bahkan tak tertarik untuk mendengarkan hal-hal membosankan berbau keuangan yang sama sekali ia tak mengerti. Ia hanya sedang berusaha mengerjai myungsoo dengan tatapannya. Sukur-sukur laki-laki pujaan semua gadis di negeri ini akan bertekuk lutut kepadanya. Benar-benar menjadi suatu hal yang amat menarik jika itu terjadi.

Jiyeon hanya perlu memastikan bahwa myungsoo akan jatuh cinta setengah mati kepadanya. Well, di balik semua rencana pembalasan dendam yang di susun oleh gadis itu, menjadi kekasih presiden direktur sama sekali tak buruk bukan? Ia bisa membeli merek sepatu high heels yvest saint lauren yang paling mahal sekalipun. Impiannya untuk berbelanja barang-barang branded di pusat kemewahan Gangnam bukanlah hal yang sulit lagi terlebih untuk memikirkan uang. Hah.. Rasanya kepala gadis itu akan meledak memikirkan hal itu.

“Sekretaris Park… Apakah kau mendengarkanku?” Laki-laki itu akhirnya menyadari tatapan kosong yang dilayangkan Jiyeon untuknya.

“Mianhae presdir, saya hanya sedang memikirkan sesuatu..”

Myungsoo mengerutkan alisnya. Ia menangkap raut kesedihan terpancar dari kedua kelopak mata cantik itu.

“Apa itu?”

“Presdir sangat mirip teman masa kecilku sewaktu di panti asuhan” Jiyeon mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan petinggi perusahaan ini. Jujur saja ia sedikit tak suka atau bisa dikatakan ia gugup juga ketika myungsoo menatap intens tepat ke arah kedua manik matanya.

“Lalu di mana dia?”

“Saya tidak tahu..”

“Apa yang terjadi?”

“Setiap orang terkadang memiliki banyak hal pahit di dalam hidupnya seperti perpisahan, dan saya adalah gadis yang telah sering mengalami korban kehidupan yang sangat kejam”

Oke, sekarang gadis cantik itu memulainya dengan seutas kalimat yang terdengar sangat melankolis dan memuakkan. Ia hanya sedang berbohong, seperti nya berbohong adalah hal yang paling ia sukai akhir-akhir ini. Ia bahkan tak memiliki satu temanpun di panti asuhan. Tak ada yang mau berteman dengan gadis cilik yang diduga mengalami gangguan kejiwaan.
Tapi jangankan berbohong, apapun akan jiyeon lakukan untuk membalaskan dendam pribadinya.

Andai saja orang tuanya dapat kembali jika ia membunuh Kim Jong Suk bereksek itu, pasti akan ia lakukan saat ini juga. Detik ini ia akan menyeret Kim Jong Suk dari tidur nyamannya dan menancapkan pisau daging tepat ke arah ulu hatinya hingga menembus jantung yang merupakan organ vitalnya. Ia kemudian akan tertawa bahagia karena berhasil berkumpul kembali bersama orang tua yang paling di kasihinya.

Andai saja semua hal berjalan mudah sesuai kehendaknya.

“Maksudmu?”

“Anda begitu beruntung hidup di dalam keluarga yang berkecukupan dan dapat memeluk kedua orang tua anda. Tapi saya sebaliknya…” sebuah senyum getir tersungging dari bibir jiyeon yang ia poles dengan lipstik merah marun.

“Saya tak pernah bertemu kedua orang tua saya dan hidup di panti asuhan..”
Gadis itu mulai menitikkan air matanya. Bukan air mata buaya yang mengalir dari kedua sudut matanya. Ia hanya begitu sedih memikirkan kedua orang tua yang paling ia cintai di dunia ini. Dan fakta bahwa mereka tak akan pernah kembali di sisinya benar-benar membuatnya tersakiti.

“Rasanya… Manhi manhi.. Appo.. Seakan dunia ini benar-benar membenciku presdir. Takdir dan semesta tak pernah berpihak kepadaku..”

Myungsoo yang nampaknya telah termakan oleh kata-kata manis nan menyedihkan Jiyeon hanya mampu menatap gadis itu iba. Apa yang harus dilakukan ketika ada seorang gadis yang menangis tepat di hadapanmu karena pertanyaan konyol yang keluar dari bibirmu? Aish.. Myungsoo tak pernah mempelajari hal-hal seperti ini di Amerika. Semua gadis disana sangat ceria dan hobi mereka adalah berkeliaran di klub malam. Mungkin mereka tak pernah menangis akibat terlalu senang berdansa dan mabuk.

“Mianhae sekretaris park..” Myungsoo yang bersalah kini beranjak dari kursi kerjanya dan menghampiri Jiyeon yang duduk di seberangnya. Ia mengulurkan sebuah sapu tangan yang diambilnya dari balik saku celananya ke arah gadis itu.

“Kamsahamnida presdir..” jiyeon menerima sapu tangan berwarna putih itu dan menyeka air matanya. Ia hanya mampu mengingat laki-laki gentle dan tampan seperti Park Chanyeol ayahnya. Hsss.. Andai saja appa dan umma ada di sini.

“Sepertinya cukup sampai di sini penjelasan mengenai sahamnya.. Kau bisa kembali ke ruanganmu sekretaris park”

“Ne presdir, aku akan mengembalikan ini besok setelah mencucinya..”

“Jangan pikirkan mengenai sapu tangannya sekretaris park, aku memiliki banyak di rumah”

‘Geurae.. Tak diragukan lagi bocah kaya’ batin jiyeon dalam hatinya kendati gadis itu tengah menunjukkan senyum malaikat andalannya.

“Saya keluar dulu presdir..” gadis itu membawa kembali tumpukan berkas yang telah selesai di tandatangani myungsoo dan berjalan keluar ruangan, sebelum myungsoo menyerukan namanya kembali.

“Sekretaris park, kau mau makan malam bersamaku setelah pulang bekerja?”

Jiyeon yang langsung tanggap dengan ucapan myungsoo berusaha menahan dirinya dan memilih untuk bersikap datar-datar saja lalu kemudian mengangguk pelan mengiyakan ucapan presiden direkturnya sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu.


Jiyeon patut merasa beruntung karena akhir-akhir ini semesta berpihak kepadanya. Ia hanya membutuhkan waktu seminggu semenjak kedatangannya ke perusahaan ini untuk memikat sang presiden direktur.

Betapa beruntungnya ia memiliki ayah yang tampan luar biasa dan ibu yang memiliki kecantikan alami hingga ia memiliki gen super perpaduan dari mereka berdua hingga menjadi Jiyeon yang cantik luar biasa seperti sekarang.

Bayangkan saja ketika ia keluar dari taksi ketika tiba di kantor, semua mata pegawai laki-laki mengarah tepat ke arahnya di jejali dengan tatapan iri para pegawai perempuan. Jiyeon bahkan tak tampak berusaha mengenakan baju dengan terbaik yang ia miliki ataupun berdandan dan menata rambutnya seindah mungkin. Dengan dandanan natural dan penampilan biasa pun jiyeon terlihat mencolok di antara banyaknya pegawai perempuan di kantor ini.

Kali ini gadis itu tengah sabar menunggu myungsoo keluar dari ruangannya dengan membereskan meja kerjanya yang berantakan dengan files-files yang berserakan di atasnya. Ia benar-benar tak mahir mengurusi masalah keuangan dan myungsoo memintanya untuk mempelajari semua berkas-berkas ini terlebih dahulu agar sewaktu-waktu jiyeon dapat membantu atasanya memeriksa laporan keuangan triwulan yang di susun manager keuangan.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menumpuk rapi map map tersebut karena jiyeon kini telah bersandar pada kursi kerjanya dan mengeluarkan sesuatu dari balik tas chanel mahal yang dihadiahkan oleh seorang teman saat tahun baru china kemarin. Sebuah cermin kecil dan lipstick merah kesukaanya.

Di usapkannya secara perlahan dengan rapi ke seluruh bagian permukaan bibirnya, dan voila! Gadis itu nampak lebih menggoda dengan bibir semerah darah. Laki-laki manapun tak akan sanggup menahannya.

Jiyeon memasukkan kembali lipstick dan cermin miliknya dan menunggu myungsoo dengan sabar. Sesekali ia mengecek ponselnya sambil memainkan kursi kerjanya yang dapat berputar 360 derajat. Ia menghentikan aktivitasnya ketika terdengar bunyi pintu terbuka.

“Sekretaris park, Kau sudah siap?”

“Ne.. presdir”

Jiyeon menyambar tasnya dan berjalan membuntuti myungsoo dan membuat gadis itu sesekali menghentikan langkahnya karena sang presiden direktur terus saja membalikkan badannya.

“Kenapa kau berjalan membuntutiku sekretaris park?”

“Ne??” jiyeon tak mengerti dengan ucapan laki-laki ini.

“Berjalanlah di sampingku..”

“Tidak perlu presdir, rasanya sangat tidak sopan..”

“Tidak sopan apanya? Kemarilah..” Myungsoo meraih pergelangan tangan jiyeon dan menggenggamnya erat sambil meneruskan langkahnya. Sedangkan jiyeon hanya mendesah pasrah, ‘dasar laki-laki keras kepala’

Cukup lama myungsoo menggandeng tangan jiyeon. Bahkan saat beberapa security melihat mereka dan seberapa keras pun jiyeon melepaskan genggaman tangan myungsoo, sama sekali laki-laki itu tak bergeming.

“Kau akan berjalan membuntutiku laki jika ku lepaskan”

Jiyeon hanya mengeleng tak percaya dengan perbuatan presiden direkturnya yang kelewat aneh. Apakah mungkin kim myung soo mulai menyukainya? Sesingkat itukah? Ia bahkan baru berkerja di tempat ini tepat seminggu yang lalu. Ataukah yang terjadi adalah sebaliknya? Myungsoo yang sedang membuat jiyeon jatuh hati padanya. Apakah myungsoo telah mengetahui motif utamanya untuk masuk ke kantor ini sebagai sekretaris pribadinya. Aish.. Semua hal yang berputar dalam kepala gadis itu membuatnya parno. Jadi ia lebih memilih untuk mengosongkan pikirannya dan menyimpannya untuk ia pikirkan nanti.

“Presdir, mau kemana kita?” jiyeon menerawang ke arah luar jendela mobil banley sport hitam yang tengah dikendarai oleh seorang Kim myung soo dengan kecepatan rata-rata.

“Berhentilah memanggilku dengan sebutan presdir jika sedang di luar kantor”

“Waeyo? Presdir kan memang presdirku..”

“Aigoo..’sekarang kau malah mengucapkannya dua kali..”

Jiyeon mengangguk pelan dan menunjukkan ekspresi datar di wajahnya. Gadis itu benar-benar mahir melakukan jenis ekspresi datar alias tanpa ekspresi seperti ini. Walaupun tak ada yang tahu jika sebenarnya jiyeon sedikit muak dengan atasannya. Ah bukan, ia bahkan terlalu muak untuk menghabiskan waktunya bersama myungsoo. Jika saja otakknya tidak terpatri dengan pikiran-pikiran mengenai balas dendam, ia lebih memilih untuk makan ayam dan bir bersama woobin.

Ngomong-ngomong bagaimana kabar laki-laki itu, kim woo bin. Jiyeon bahkan tak bisa untuk tak memikirkannya barang sehari saja. Karena hanya woobin yang mau berteman dengannya semenjak duduk di sekolah menengah kendati kabar buruk tentangnya yang pernah masuk rumah sakit jiwa berhembus di seantero sekolah. Namun kebaikan hati ibu woobin sebagai pemilik yayasan lah ia dapat tetap bertahan dengan beasiswa penuh.

Sesekali jiyeon tersenyum kecut ketika mengingat masa suram kisah remaja yang harus ia lalui. Bagaimana ia menghadapi ledekan dari semua siswa, tingkah mereka yang benar-benar melecehkan harga dirinya, dan semua fitnah yang menyebar. Ia benar-benar belum bisa memaafkan mereka semua. Pernah terbersit keinginannya untuk membalas perlakuan buruk mereka di masa depan. Tapi sepertinya ia harus mengurungkan niat tersebut setelah ia benar-benar berhasil membalaskan dendam atas kedua orang tuanya pada Kom Jong Suk berengsek itu.


Restoran perancis menjadi tempat yang mereka datangi. Debuah restoran yang terletak di pinggiran kota gangnam dengan desain interior berbau victorian seperti mengembalikkan memori orang-orang akan suasana perancis abad pertengahan.

Jiyeon sedikit terhenyak dan terkagum-kagum dengan segala hal yang ditata begitu apik. Benar-benar indah..

Sebuah meja kosong yang terletak menghadap ke arah balkon di lantai dua telah menunggu untuk di duduki. Myungsoo sengaja memesannya semenjak siang hari, karena tempat ini dipastikan akan di penuhi oleh orang-orang kaya terlebih ketika waktu makan malam tiba.

Jiyeon menatap iri kesekelilingnya. Yah, gadis itu sangat iri melihat bagaimana sebagian besar orang yang berada di dalam restoran ini bercengkerama dengan hangat satu sama lain. Tak tampak beban pikiran dalam raut wajah mereka. Tebaknya, mereka bahkan tak perlu memikirkan masalah uang dan kebutuhan hidup mereka dengan penghasilan yang melimpah. Benar-benar sebuah keberuntungan memiliki hidup sempurna seperti mereka. Jika saja myungsoo tak mengajaknya ke tempat ini, mungkin tak akan ada kesempatan ia dapat duduk manis di kursi empuk dengan beberapa pelayan yang membawakan wine tahun terbaik dan lamb steak menu khas restoran ini.

“Wae? Apakah kau melupakan sesuatu?”

“Aniyo.. Hanya saja saya tidak terbiasa berada di tempat semewah ini.”
Jiyeon menelengkan kepalanya menatap ke arah deretan vas bunga besar yang tertata rapi di setiap pojok ruangan.

“Bahkan bunga-bunganya pun sangat cantik sekali..” gumam gadis itu pelan namun myungsoo masih dapat tersenyum kecil mendengar ucapan polos yang keluar dari bibir sekretarisnya itu.

“Kau ingin sebuket bunga jiyeon-ssi..”

“Ne??… Ah aniya.. Saya hanya mengatakan bahwa bunga itu cantik sekali..”

Myungsoo memberikan isyarat pada seorang pelayan karena dengan refleks pelayan laki-laki itu menghampirinya dengan sopan.

“Ada yang bisa saya bantu tuan..”

“Tolong belikan bunga untuk sekretarisku.. Buket yang paling bagus” myungsoo memberikan credit card miliknya kepada si pelayan, sedangkan jiyeon.. Gadis itu membelalak tak percaya dengan sikap bosnya itu.
Apa maksudnya ini? Ia bahkan tak memintanya dan dengan begitu mudahnya myungsoo tanpa basa basi langsung memberikan apa yang ia suka.

Tapi.. Tunggu.. Gadis itu masih tetap dalam posisi waspada. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan lensa mata tajam miliknya hingga berakhir tepat ketika ia memandang laki-laki yang tengah mengiris steak dengan tenang di hadapannya.

“Ada apa jiyeon-ssi?”

“Seharusnya presdir tidak perlu berlebihan seperti itu .. “

“Sudah berapa kali kukatakan padamu tadi untuk jangan memanggilku presdir di luar jam kantor? Eoh?”

“Ah.. Mianhaeyo..”

“Kau bisa memanggilku menggunakan namaku saja, kupikir jarak umur kita mungkin hanya satu atau dua tahun..”

“Myungsoo-ssi?” aigoo… Bahkan jiyeon sebenarnya ingin memanggil laki-laki itu dengan sebutan ahjussi.

“Heum.. Katakan lagi..”

“Myungsoo-ssi???”

“Bagus.. Seperti itu”

Gadis berparas cantik itu mendengus kesal. Ia benar-benar tak memiliki petunjuk sama sekali tentang apa-apa yang tengah di pikirkan myungsoo sekarang. Sungguh jiyeon benar-benar di buat mati penasaran oleh berbagai tingkah atasannya yang kelewat aneh ini.

Untuk apa seorang bos mau mengeluarkan uangnya hanya untuk membelikan bunga agar sekretarisnya senang jika tak ada maksud tersembunyi di dalamnya. Kenapa pula myungsoo malah mengajak sekretaris barunya ini makan malam di sebuah restoran perancis yang sangat romantis dan mahal jika ia tidak merencanakan apa-apa.

Insting gadis itu memperingatkannya. Ia harus tetap waspada dan fokus jika tak ingin rencananya hancur di tengah jalan dan ia berumpah tidak akan mati tenang sebelum dendamnya terbalaskan. Jiyeon hanya ingin menuntut apa yang seharusnya menjadi miliknya yang telah direnggut oleh si berengsek Kim Jong Suk. Sungguh ia membenci laki-laki tua bangsat itu.

“Myungsoo-ssi..” jiyeon menghela nafasnya sebelum melanjutkan kalimatnya. Mengucapkan nama myungsoo dengan embel-embel ‘ssi’ benar-benar membuatnya muak setengah mati. Lagipula siapa dia? Jiyeon lebih suka memanggilnya dengan anak si berengsek kim jong suk atau laki-laki itu.

“Kenapa sebenarnya myungsoo-ssi memilihku sebagai sekretaris pribadimu?”
Myungsoo menyesap winenya dengan tenang.

“Karena aku tertarik dengan CVmu. Lalu kau sangat mahir berbahasa inggris dan sangat memenuhi kriteria sebagai sekretarisku..”

“Ohh..”

“Wae?”

“Aniya..” Jiyeon mengelap kedua sudut bibirnya menggunakan tisue sebelum melontarkan pertanyaan berikutnya,

“Tapi…. Sebenarnya aku ingin menanyakannya sesuatu dari kemarin-kemarin..”

” mwoga?”

“Park chanyeol nuguseyo?” Jiyeon menatap atasannya itu dengan tatapan menyelidik, kendati wajahnya begitu lihai menutupi rasa keingintahuannya yang besar dengan pura-pura bersikap bingung. Hingga dengan sangat jelas jiyeon dapat menangkap perubahan mimik wajah yang sangat kentara dari seorang kim myungsoo yang selalu bersikap tenang.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tidak.. Hanya saja sangat aneh ketika anda hanya menanyakan itu padaku dan langsung mengangkatku menjadi sekretaris”

“Well.. Sebenarnya park chanyeol adalah saingan bisnis ayahku..”

“Lalu?” oh.. Jiyeon mengucapkan kata yang seharusnya tak ia katakan, karena kini myungsoo malah menatap tajam ke arahnya.

“Kenapa kau begitu ingin tahu sekali?”

“Ah mianhae.. Saya sangat lancang.. Saya tidak akan bertanya lagi..” gadis berambut panjang itu menelengkan kepalanya menatap ke arah meja di sudut ruangan dimana terdapat sebuah keluarga kecil harmonis sedang menghabiskan waktu malam mereka. Sungguh.. Ia sangat iri melihat kebersamaan sebuah keluarga yang utuh. Hal yang sangat ia impikan dari dulu. Bagaimana rasanya ketika ayahnya memeluk dirinya-pun bahkan mungkin jiyeon telah lupa seperti apa rasanya. Sungguh ia benar-benar merindukan kedua orang tuanya.

“Kenapa kau memandangi mereka seperti itu?”

“Aniya..”

Jiyeon cepat-cepat mengalihkan perhatiannya tepat ketika dirasakannya sesuatu bergetar di atas meja. Handphonenya menampilkan sebuah nama yang sangat ia kenal.

“Yeoboseyo..” jiyeon berusaha mengatur suaranya senormal mungkin, kendati sebenarnya ia ingin berteriak ‘kim woobin, keluarkan aku dari neraka!’

“Ne…”

“Ne.. Saya mengerti..”

Jiyeon menutup sambungan teleponnya dan jari jemarinya dengan lincah bermain-main di layar sentuh ponsel dengan mengirimkan pesan singkat kepada sahabatnya kim woo bin.
Dan ah.. Sebenarnya gadis itu hanya mengada-ada saja, tak dipedulikannya wobin yang mengoceh heran dari seberang telepon mendengar jiyeon yang hanya berkata ‘ne.. Ne, saya mengerti’.

“Hemm.. Myungsoo-ssi, sepertinya saya harus pulang sekarang juga.. Saya masih ada pekerjaan paruh waktu yang harus di lakukan..” Jiyeon hendak berdiri dari posisinya sebelum myungsoo dengan sigap meraih terlebih dahulu pergelangan tangannya.

“Aku akan mengantarmu..”

“Tidak perlu.. Saya biasa naik bus.. Annyeong~”

Setengah tergesa-gesa jiyeon mengambil langkah cepat agar ia bisa segera keluar dari tempat itu. Ugh.. Myungsoo benar-benar membuatnya tak nyaman.
Apa yang harus dilakukannya sekarang? Sampai kapan ia akan terus menjadi sekretaris kim myung soo? Dan bagaimana ini, hari ini tepat seminggu ia bekerja di perusahaan kim jong suk dan gadis itu bahkan belum menemukan satu pun petunjuk tentanf apa yang harus ia lakukan? Namun yang pasti Ia tetap harus waspada pada putera kim jong suk. Ia bukanlah laki-laki yang gampang sekali di bodohi. Dan sikap manisnya benar-benar patut di pertanyakan.

To be continued..

Saya membutuhkan kritik dan saran kalian ^^

35 responses to “The Heir’s Secretary (2nd Chapter)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s