[CHAPTER – PART 4] LOST IN BALI

LOST IN BALI 2Poster by kimleehye19 (me) @nicefanfiction.wp.com

Part sebelumnya:

[1] [2] [3]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Mian ya kalo singkat…
Agak sibuk dengan artworks. Hehe…
Mian for typos, Leave comment, don’t plagiat!
Happy reading🙂

Di dalam pesawat, Chorong merasa ada sesuatu yang kurang. Dia belum menyadari kalau dongsaengnya tertinggal di bandara. Siwan berkali-kali menebak apa yang tertinggal.namun belum ada jawaban yang dibenarkan oleh yeojachingunya itu.
“Apa kau yakin ada yang tertinggal?” tanya Siwan memastikan bahwa Chorong benar-benar mengingatnya.
“Aku merasa ada yang kurang tapi apa ya?” Chorong sendiri juga bingung. Tiba-tiba bibirnya membentuk huruf O. “Jiyeon. Jiyeonie eodi?” Chorong membungkuk di depan kursinya, mengamati sekeliling, mencari Jiyeon. Hasilnya nihil. “Eopso…” lirih Chorong yang kembali ke tempat duduknya.
“Apa kau yakin tidak ada?” Siwan malah berdiri kemudian berjalan mondar mandir melihat pelara penumpang satu persatu. Benar. Jiyeon tidak ada. Apa dia tertinggal di bandara? Ah, tidak mungkin. Siwan menggelengkan kepalanya sendiri. Meyakinkan diri bahwa tidak mungkin Jiyeon masih di bandara. Pasti dia ada di suatu tempat di pesawat ini.
Siwan kembali ke tempat duduknya. Ia sedikit khawatir jika dugaannya.benar, bukankah ini akan menjadi sumber kegalauan bagi Chorong karena Jiyeon adalah segalanya bagi yeoja itu.
“Eopso…” lirih Siwan, menjawab rasa penasaran Chorong.
Chorong menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya hingga wajah cantik itu tertutup tanpa celah.

Di bandara, Jiyeon terduduk lemas. Bagaimana mungkin dia bisa tertinggal di Indonesia. Jiyeon pasti akan sangat merindukan Chorong. Airmatanya meleleh seperti es krim yang terkena panas.
Seorang namja datang mendekati Jiyeon yang duduk lesu di atas lantai. Bahkan yeoja itu menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di sana. Namja itu mengulurkan tangan pada Jiyeon.
“Ireona. Percuma kau menangis. Eonnimu tidak akan mendengar tangisanmu.”
Jiyeon mendongak, ternyata Lay. Menurut Jiyeon, namja itu sama baiknya dengan Luhan. Jiyeon meraih tangan Lay dan berdiri tegak lalu mengusap airmatanya yang membasahi pipinya.
Lay menatap iba pada Jiyeon. Bagaimana mungkin seorang yeoja bisa bertahan di negeri asing hanya dengan sebuah dompet. Untuk itu, Lay mengajak Jiyeon pergi ke suatu tempat.
Di dalam perjalanan, Jiyeon masih terlihat sedih. Dia ingin menghubungi Jieun, tapi dia tidak hafal nomor ponsel Jieun. Sekarang dia hanya bisa pasrah. Entah apa yang akan terjadi padanya, Jiyeon tak peduli.
Lay yang sedang konsentrasi mengemudikan mobilnya, sesekali melirik ke arah Jiyeon. Dia menduga-duga, yeoja ini sedang mengantuk atau masih sedih…
Mobil Lay melaju cepat. Pikirannya tertuju pada satu hal, membawa Jiyeon ke tempat Luhan. Ya, hanya di tempat Luhan lah tempat teraman menurutnya. Dia tidak mungkin membawa Jiyeon ke rumahnya karena dia menumpang tinggal di rumah bibinya yang merupakan orang Indonesia keturunan Cina.
Ckiiitt…
Mobil berwarna merah yang membawa dua orang penumpang itu berhenti di depan sebuah vila mewah. Jiyeon masih belum sadar bahwa kini dirinya berada di tempat Luhan. Lay mengajak Jiyeon masuk ke dalam vila. Tak perlu mengetuk pintu, Lay langsung menerobos masuk ke dalam vila, Jiyeon hanya mengekor di belakang Lay. Tanpa basa basi, Lay membawa Jiyeon ke ruang keluarga. Ternyata di sana ada Luhan yang sedang menikmati secangkir White Coffe dan menyaksikan siaran televisi malam itu. Kedatangan Lay mengagetkan Luhan, apalagi di belakangnya ada Jiyeon.
“Lay, ke, kenapa kau membawa Jiyeon-ssi? Ada apa?” tanya Luhan yang sedang bingung. “Ah, Jiyeon-ssi, bukankah hari ini kau kembali ke Korea?”
Jiyeon tertunduk lesu. Kedua tangannya memegang dompetnya erat-erat. Lay yang sadar akan keadaan itu segera angkat bicara.
“Hyung, Jiyeon-ssi tertinggal di bandara. Pesawat yang seharusnya membawanya kembali ke Korea sudah lepas landas saat dia baru saja keluar dari toilet.”
Jiyeon mengangkat kepalanya, mengerutkan keningnya. Bagaimana Lay bisa tahu? tanyanya dalam hati.
“Eoh, gurae, ceritanya nanti saja. Lebih baik aku antar Jiyeon-ssi ke kamar dulu. Masih ada tiga kamar kosong.” Luhan mengayunkan langkahnya menuju tangga kayu miliknya, diikuti Jiyeon di belakang dengan langkah ragu-ragu.
Setelah melewati anak tangga terakhir, Luhan berjalan menuju kamar yang terletak di sebelah kanan tangga. Dia membuka knop pintu dan menyalakan lampu kamar itu. Jiyeon berdiri di depan pintu.
Luhan yang baik hati, sangat memahami perasaan Jiyeon. Ia ridak ingin bertanya lebih banyak pada yeoja itu.
“Jiyeon-ssi, masuklah. Untuk sementara kau bisa tinggal di sini. Ini kamarmu dan itu…” Luhan menunjuk pintu kamar yang berada tepat di samping kamar Jiyeon, namun kata-katanya terpotong oleh kemunculan sosok namja yang tidak.lain adalah Myungsoo. “Itu kamar Myungsoo.”
Telinga Myungsoo yang tajam mendengar Luhan menyebut namanya. Dia pun menghampiri Luhan dan Jiyeon yang masih berdiri di depan pintu. Myungsoo memperhatikan yeoja yang membelakanginya dengan seksama. “Hyung, apa kau menyewakan kamarmu? Siapa yeoja ini?” tanya Myungsoo lirih.
“Dia Park Jiyeon.”
“Nde? Mwo, mwoya?” Myungsoo sangat terkejut mendengar jawaban Luhan. Ia pun segera melihat wajah yeoja itu. Benar, dia Park Jiyeon. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah seharusnya dia kembali ke Korea?
“Ceritanya panjang, kau itu selalu LOLA (Loading Lama).” Luhan melangkah masuk ke dalan kamar yang akan ditempati Jiyeon kemudian mempersilahkan Jiyeon masuk. “Masuklah, Jiyeon-ssi. Istirahatlah.”
Myungsoo memperhatikan kedua orang di depannya dengan cuek.

Myungsoo pov
Aneh, kenapa Jiyeon bisa ada di sini? Apa Luhan hyung sengaja membawanya ke sini? Tapi untuk apa? Aah, molla. Aku ingin membuat kopi juga seperti Luhan hyung. Kopi Indonesia benar-benar nikmat, tentu saja menurut penilaian lidahku. Hehe…
Baru saja turun dari tangga, mataku menangkap sosok namja yang duduk di meja makan yang kelihatan dari sini. Aku mendekatinya. Oh ternyata Lay. Untuk apa Lay kemari? Kenapa hari ini banyak kejadian aneh?
“Myungsoo-a…” panggil Lay.
“Eoh,” jawab Myungsoo. Keduanya tengah duduk di kursi yang mengelilingi meja makan. “Tumben jam segini kau kemari. Mana Hwayoung?” tanya Myungsoo.
“Hwayoung baru saja berangkat ke Jakarta. Adiknya baru sampai dari Korea.”
“Dari Korea? Banyak sekali orang Korea yang datang ke sini,” gumamku. “Keurom, ada perlu apa kau kemari?” tanyaku lagi. Namja itu memang termasuk namja yang paling sering bertanya. Bahkan saat kuliah dulu, aku sering menanyakan hal-hal konyol pada dosenku sehingga beberapa dosenku akrab denganku karena hal itu.
Akhirnya Lay menceritakan perihal Jiyeon yang tidak sengaja tertinggal di bandara.
“Bagaimana kau tahu kalau dia baru keluar dari toilet?” tanyaku cerewet.
“Aku dan Hwayoung tidak sengaja lewat depan toilet. Tiba-tiba seorang yeoja keluar dari toilet, berlari sekuat tenaga untuk mengejar pesawat yang sedang lepas landas meskipun pesawat itu tidak mungkin berhenti karena teriakannya. Pesawat Hwayoung lepas landas setelah pesawat itu. Jadi aku berpisah dengannya di ruang tunggu. Saat itu aku mendengar suara yeoja memanggil eonninya. Aku putuskan untuk melihatnya, ternyata Jiyeon memanggil eonninya yang sudah dibawa pesawat tadi.” Lay berhenti bercerita. Aku serius mendengarkan cerita itu.
“Keurom, apa dia juga akan tinggal.di sini?” tanyaku lagi.
“Aku membawanya ke sini karena menurutku tempat ini aman baginya. Selain itu, kemarin Luhan kan tour guide’nya Jiyeon. Jadi aku rasa Luhan juga tidak keberatan jika Jiyeon ikut tinggal di sini.”
“Mwo? Di satu villa ada dua orang namja dan satu yeoja? Apa kau tidak berpikir itu mustahil?” Aku sedikit menaikkan nada suaranya.
“Aku akan meminta Hwayoung tinggal di sini.” Luhan muncul dengan segelas air putih di tangannya.
“Hyung, Hwayoung sedang ada di Jakarta. Bagaimana mungkin kau bisa memintanya tinggal di sini?” tanyaku spontan seakan tidak senang jika Jiyeon tinggal di vila ini.
“Kenapa kau bersikap seperti itu, Myungsoo-a? Bukankah dia sangat dekat denganmu? Seharusnya kau senang jika dia tinggal di sini.”
Aku terdiam, teringat sesuatu.
Myungsoo pov end

Flashback.
Beberapa hari setelah keberangkatan Jieun ke Jogja, Jiyeon dan Myungsoo janjian bertemu di Sanur.
“Kim Myungsoo, apa ini perlakuanmu terhadap orang yang baru saja kau kenal?” tanya Jiyeon yang berdiri di belakang Myungsoo. Sedangkan namja itu malah asyik menikmati pemandangan malam di Sanur.
Tak ada suara dari Myungsoo. Jiyeon sangat menantikan jawaban dari Myungsoo.
“Bukannya kau sudah tahu kenapa aku menjadikanmu yeojachingu palsuku?” Akhirnya Myungsoo buka suara.
“Kau bisa meminta yeoja lain, tapi kenapa harus aku? Kau tahu!? Setelah kau memberitahu mereka tentang ide gilamu itu, aku dan Luhan-ssi merasa sangat canggung karena menurutnya aku adalah yeoja mu.”
“Oo jadi kau menyukai Luhan hyung? Sebagai namjachingumu, apa yang harus aku lakukan? Cemburu?” Myungsoo membalikkan badannya, kini ia berhadap-hadapan dengan Jiyeon.
Jiyeon bingung menjawab pertanyaan Myungsoo. Apa yang dikatakan Myungsoo tidak benar. Percuma saja bicara dengan namja itu, batinnya. “Berhentilah bercanda. Aku tidak ingib bicara denganmu lagi sebelum kau memberitahu mereka kalau kita hanya pura-pura.”
“Aku bahkan tidak ingin bertemu denganmu. Tapi aku harap kita bisa mengakhiri semuanya dan berjabat tangan sebelum kau kembali ke Korea. Jangan salah paham dulu. Itu ku lakukan karena aku tidak ingin punya musuh dimanapun.”
Jiyeon tidak menyangka bahwa Myungsoo akan bicara seperti itu. “Gurae. Terserah padamu. Aku tidak peduli.” Jiyeon melangkah pergi. Sebenarnya Jiyeon tidak merasa sakit hati mendengar ucapan Myungsoo.
Flashback end

“Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya.” Myungsoo pergi meninggalkan Luhan dan Lay yang melihat sikap anehnya.

Jiyeon masih mengurung diri di kamar. Luhan bingung apa yang harus ia lakukan supaya Jiyeon tidak bersikap seperti itu. Maklum saja, namja tampan itu belum pernah berurusan dengan yeoja meskipun hanya perasaannya. Di villa itu habya ada Luhan dan Jiyeon. Myungsoo peegi menjalankan tugasnya sebagai tour guide di Sanur.

Tok tok tok…
Luhan mengetuk pintu kamar yang ditempati Jiyeon. Tak ada sahutan dari dalam kamar. Luhan mengetuknya lagi.
Cekleeek…
Pintu dibuka dari dalam. Jiyeon tampak lesu, pucat dan tidak bersemangat. Berbeda dengan waktu ia dan rombongannya masih utuh. Luhan merasa iba padanya.
“Jiyeon-ssi, makanlah, aku sudah menyiapkan makanan untukmu.”
Jiyeon menarik simpul di kedua ujung bibirnya. “Gomawo, Luhan-ssi.”
“Aku tidak ingin menerima penolakan. Jadi kau harus mau makan.” Luhan meninggalkan Jiyeon yang masih mematung di depan pintu kamarnya.
….

Di ruang makan, Jiyeon menikmati santapan khas Indonesia, soto ayam dan beberapa atribut makanan itu. Lidahnya yang sangat menyukai makanan Indonesia, membuatnya makan dengan lahap, menghabiskan porsi makanan di depannya. Luhan yang melihatnya hanya tersenyum. Syukurlah Jiyeon tidak mogok makan.
“Luhan-ssi, aku ingin bertanya padamu, boleh?”
Luhan menjawabnya dengan anggukan.
“Sebenarnya, Myungsoo itu siapa? Apa dia temanmu? Saudaramu? Atau mungkin yang lain?”
“Dia saudara sepupuku dari Korea. Ayahnya adalah adik kandung ibuku. Maka dari itu marganya Kim. Sedangkan aku bermarga Xi, dari garis keturunan ayahku yang seorang warga negara China. Orangtua Myungsoo adalah pengusaha sukses. Myungsoo baru saja lulus kuliah diploma di Australia. Dia tidak ingin bekerja di perusahaan appanya karena pasti karyawannya akan mendewakan dia secara berlebihan. Makanya Myungsoo melamar kerja di Indonesia sesuai dengan kelulusannya. Aku salut pada Myungsoo yang mau mandiri tanpa bantuan orangtuanya.”
“Hyung.” Tiba-tiba terdengar suara Myungsoo.yang baru saja pulang. “Ini titipanmu.” Myungsoo meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja makan, tepatnya di depan Luhan.
“Kau sudah pulang? Cepat sekali?” Luhan membuka bungkusan yang diberikan oleh Myungsoo tadi.
“Klienku ada yang sakit. Entah itu halmoninya atau haraboji, aku kurang tahu itu. Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, jadi aku putuskan pulang saja. Daripada berkeliaran di luar, berbahaya. Orang gay itu pasti akan mengejarku lagi.”
Mendengar penuturan dari Myungsoo membuat Jiyeon tersedak air putih yang ingin sedang diteguknya. Myungsoo menatapnya tajam. Jiyeon melirik Myungsoo. Dia pasti ingat kejadian beberapa waktu lalu.
“Wae?” tanya Myungsoo pada Jiyeon.
Luhan pun mengalihkan pandangan pada yeoja yang baru selesai makan yang duduk di sampingnya.
“Anhi. Aku hanya tersedak karena terburu-buru minum.” Jiyeon baru saja menemukan alasan logis dari otaknya supaya Myungsoo tidak mengira bahwa ia teringat kejadian itu.
“Hyung, aku pinjam ponselmu.”
“Untuk apa?”
“Menelepon appa. Appa dan eomma sepertinya sedang berada di Australia.”
“Lalu kenapa kau mau menelpon appamu dengan ponselku? Kau kan punya ponsel sendiri.”
“Karena kartumu lebih murah dibandibg kartuku. Aissh, begitu saja tidak mengerti.”
Jiyeon tersenyum tipis melihat Myungsoo manja terhadap Luhan. Namja itu benar-benar aneh, pikirnya. Kadang menyebalkan, kadang membuat hatinya geli.

“Oppa!” tiba-tiba terdengar suara yeoja.
“Eoh, Hwayoung-a. Kau sudah kembali?” tanya Luhan.
Hwayoung nimbrung di ruang itu bersama tiga orang lainnya. “Jiyeon-ssi, aku kira kau sudah kembali ke Korea.”
Lay yang baru datang saling pandang dengan Luhan. Apa Hwayoung belum tahu kalau Lay membawanya ke vila itu?

Tbc.

39 responses to “[CHAPTER – PART 4] LOST IN BALI

  1. Nmpk nya lay yg menolong jiyeon.. Dan adakah benar kata Myungsoo bahwa jiyeon suka sama luhan Atau sebaliknya? Hmm..

  2. Pingback: [Chapter - Part 7] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [Chapter - Part 6] Lost In Bali | High School Fanfiction·

  4. ooohh jadi ternyata yg nolong itu lay toh dikirain myung =)) kekeke
    aduh chorong plis ngakak deh adeknya ketinggalan dia ga nyadar =)) wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s