[CHAPTER] PLUSH – Part 1

PLUSH ICAQUEARTUntitled-1 copyBased on PLUSH Movie (American erotic thriller film 2013)
[Park Sang Hyun as Thunder] [Kahi as PLUSH’s Manager]
Untuk yang kesekian kalinya aku membuat fanfiction berdasarkan film yang sudah ada. Setelah IN TIME dan UPSIDE DOWN, kali ini aku mencoba menyajikan PLUSH Movie dalam bentuk fanfiction. Big Warning untuk adek-adek manis kita yang masih di bawah umur. Aku nggak akan menceritakan kisah PLUSH ini segamblang seperti yang ada di filmnya karena kalau boleh di bilang PLUSH Movie ini tergolong film unrated yang sangat tidak diizinkan untuk dinikmati oleh remaja di bawah umur. So, buat kalian yang di bawah umur, setelah membaca fanfiction ini, mudah-mudahan kalian tidak tergoda untuk menonton film aslinya yang dibintangi oleh Emily Browning (diperankan oleh Jiyeon), Xavier Samuel (diperankan oleh Seungri) dan Cam Gigandet (diperankan oleh Myung Soo). Seratus persen jalan ceritanya sama, hanya saja ada beberapa dialog dan adegan yang aku ubah sendiri.

Tangisnya memecah kesunyian di dalam ruangan kecil dan sempit itu. Tangan dan kakinya terikat pada kursi kayu yang sedang didudukinya saat ini. Dia mencoba mengerang, meminta pertolongan. Tetapi tidak ada yang mendengar, kecuali satu pria yang sedang duduk di hadapannya saat ini. Pria itu hanya diam, tatapannya sulit dijelaskan. Cukup lama wanita itu menangisi dirinya sendiri. Percuma saja, si pria tidak akan mengubah pikirannya sampai akhirnya datang truk besar pengangkut kerikil. Si pria pun menyunggingkan sebelah senyumnya seraya berkata, “Waktunya berpesta.”

Dan yang selanjutnya yang terdengar hanyalah pekikan keras si wanita bersamaan dengan beradunya satu kerikil dengan ribuan kerikil yang lain yang kini sedang menimpa tubuh si wanita hingga wanita tersebut tenggelam di dalam timbunan kerikil itu. Pelan dan mengerikan, si pria pun mendesah, “Selamat tinggal.”

**

“APA KABAR SEMUA?!” teriak Thunder di atas mikrofonnya. Tangan kirinya memegang gagang gitar sementara yang satunya lagi sedang teracung ke arah wanita yang berdiri tepat di sebelahnya. Wanita itu bernuansa emas gelap, rambutnya, bola matanya, bahkan bibirnya yang memiliki lekukan sempurna. “KALIAN TAHU SIAPA MALAIKAT INI?” Teriakan Thunder terdengar kembali.

“PARK JEEEEEEY!” teriak penonton menjawab pertanyaan Thunder.

“Tentu saja kalian harus tahu siapa Malaikat Emas ini,” ucap Thunder seraya menarik Park Jiyeon, sang adik, si pencipta lagu, vokalis sekaligus pelengkap hidup Thunder, satu-satunya keluarga yang tersisa yang dia miliki.

Park Jiyeon tersenyum seraya mencium pipi Thunder. Mata Thunder pun berkilat nakal sebelum akhirnya membalas ciuman sang adik.

“Kami ada beberapa lagu tentang obsesi,” lanjut Thunder mulai berganti topik. “Coba dengarkan dan resapi arti lagu indah ini, tentu saja buatan si Malaikat Emas ini.” Thunder mengambil tangan Jiyeon untuk dikecupnya lembut. Dan yang selanjutnya terdengar adalah pekikan keras Thunder diiringi musik berisik yang dimainkan oleh personil bandnya.

PLUSH menjadi bintang di atas panggung mereka, memberikan apa yang disebut rasa kepada para penggemar setia mereka. PLUSH hidup karena lagu ciptaan Jiyeon, itulah yang selalu Thunder ucapkan dan tekankan kepada semua orang, terutama kepada ketiga personil PLUSH yang lain.

Jiyeon pun mulai menghentakan kakinya pelan sementara kepalanya bergoyang naik turun dengan mata terpejam. Mikrofon emas miliknya tergenggam erat di dalam tangannya dan tertopang kokoh di atas stand mic-nya yang berwarna senada.

#The voice sad to go….#” Jiyeon mulai melantunkan lagunya, lagu PLUSH. “….#move me…let me in…let me in…the look in your eyes this is punishing me…#

**

PARK JIYEON P.O.V

Selalu aku dan kakakku. Dulu kami bersembunyi di bawah tempat tidurku. Aku mulai dengan sebaris syair dan Thunder akan memetik melodi dari awang-awang. Kemudian lagu-lagu itu mulai menunjukkan hasil. Lalu kami berkemas dengan truk kami pindah dari Korea ke Los Angeles. Musik itu bagaikan tempat rahasia kami. Aku dan Thunder seperti sebuah kunci yang terbagi dua.

“Dan kami berjalan menyongsong gejolak….” Thunder memberikanku Blue Agave Tequila dalam gelas kecil.

“Siap untuk meledak…” sambungku seraya ber-cheers bersama Thunder sebelum meneguk tuntas tequila mahal ini masuk ke dalam kerongkonganku.

Aku dan Thunder, tidak ada yang bisa melukai kami. Karena aku dan Thunder saling memiliki. Lalu aku bertemu dengan seorang pria, tampan sudah pasti. Namanya Kim Myung Soo. Dia seorang wartawan, bukan musisi. Tapi dia menyukai syair-syairku, kata-kataku. Dan segalanya terjadi begitu cepat. Myung Soo menikahiku, tentunya setelah menghamiliku. Dua anak kembar harus kubawa-bawa di dalam perutku  selama acara pernikahan berlangsung. Saat itu umurku masih sembilan belas tahun. Sebelumnya Myung Soo pernah menikah dengan wanita Brazil. Dari hasil pernikahan pertamanya, dia memiliki satu anak. Setelah bercerai, Lila dibawa pergi oleh ibunya. Tetapi hari ini Lila hadir, untuk membawakan bunga pada acara pernikahan ayahnya, denganku tentunya. Selain Lila, dari pihakku tentunya ada Thunder yang setia mendampingiku.

“Apa kau menyayanginya?” tanya Thunder pelan setelah meneguk banyak tequila sepanjang acara penikahan berlangsung.

“Tentu saja,” jawab Myung Soo seraya menepuk bahu Thunder. “Kau terlalu banyak minum, sebaiknya kau masuk ke dalam dan tidur.”

“Aku tidak akan melewatkan sedikitpun acara pernikahan Malaikat Emas-ku,” ucap Thunder. “Dan aku harus melihatnya pergi keluar dari pintu gerbang itu saat kau membawanya.”

Myung Soo tersenyum lalu berkata, “Aku akan menjaganya.”

Thunder sangat mencintaiku. Dan aku tahu bagaimana perasaannya saat dirinya tahu aku tidak akan tinggal bersama dengannya lagi. Tetapi hidup terus berjalan. Aku harus memiliki seseorang yang aku cintai sebagai seorang pria yang mampu memberiku keturunan. Kim Myung Soo orangnya. Dan Thunder…aku yakin dia bisa menerima kepergianku seiring berjalannya waktu.

Aku dan Myung Soo merawat bayi sementara Thunder sibuk melakukan aktivitas sebagaimana layaknya bintang rock. Aku terlalu terbuai dengan statusku sebagai seorang istri dan ibu. Aku lupa bahwa Thunder masih membutuhkanku. Dia tidak punya siapa-siapa selain aku. Bahkan para gerombolan fansnya tidak bisa membuat perasaannya yang sepi merasa lebih baik. Aku tidak tahu harus melakukan apa, mengatakan apa, disaat aku menemukan tubuh Thunder tergeletak tak bernyawa di dalam markas PLUSH. Dia overdosis.

Aku tidak tahu apakah itu memang sudah takdir atau karena aku sudah mengabaikannya. Rasa bersalah menyeretku menjauh dari suamiku dan anak-anakku. Bahkan perlu waktu berbulan-bulan sebelum aku dapat menulis lagi. Tapi kemudian syair-syair itu tercurah dariku seperti gunung berapi. Lalu semua lagu-lagu itu berakhir tentang Thunder.

“Aku suka warna rambutmu, matamu dan bibirmu,” ucap seorang pria yang kuanggap sebagai psikiater yang mampu menangani depresiku selama tiga minggu belakangan ini. “Seperti malaikat emas.”

Aku tersenyum getir. Thunder tahu sebutan apa yang pantas untukku. Dan semua orang pada akhirnya berpendapat sama. Bahwa aku adalah Malaikat Emas. Aku Malaikat Emas milik Thunder.

“Lalu bagaimana kau menggantikan seseorang seistimewa kakakmu di posisi gitar?” tanya si pria di hadapanku ini.

“Seungri…dia hebat,” jawabku selepas mematikan puntung rokok yang sudah kuhisap habis. “Kahi telah mendengar permainan gitarnya di bar. Dalam audisi ternyata dia mengetahui semua lagu-lagu kami dengan sangat baik. Seungri hampir mirip dengan Thunder…”

“Maaf jika aku menyela penjelasanmu, Malaikat,” ucap Kahi menginterupsi. “Limo sudah sampai dan kita tidak boleh terlambat. Sesi selanjutnya akan kujadwalkan nanti.”

“Oke,” jawabku seraya beranjak berdiri. Dan sebelum aku pergi, aku pun sempat berkata, “Tidak ada yang bisa menggantikan Thunder. Dia segalanya bagiku. Bahkan lagu baru kami berisi tentang Thunder, semuanya. Beginilah caraku untuk mengenangnya.”

Di depan sudah ada kedua anak kembarku dan Myung Soo. Mereka sepertinya berhasil mencari cara agar tidak bosan menungguku. Bola yang Myung Soo tendang hampir menabrak kepalaku saat aku keluar melewati pintu.

“Ups…” Myung Soo pun menghampiriku. “Maafkan aku…”

“Hati-hati atau kau akan menggagalkan penampilannya bahkan sebelum acara di mulai,” ucap Kahi pada Myung Soo. Kahi manager PLUSH yang cerewet dan seksi. Dia mau menangani PLUSH karena dia sama nakalnya denganku, dengan Thunder dan dengan personil PLUSH lainnya.

“Jadi, aku harus pergi,” ucapku setelah menghelas nafas yang terdengar berat di telinga Myung Soo.

“Ya, setelah lama kau tidak melakukannya,” ucap Myung Soo seraya mengelus bahuku. “Apa kau yakin kau siap melakukannya?”

“Aku harus melakukannya,” jawabku berusaha terdengar yakin. “PLUSH tidak boleh redup. PLUSH adalah bagian dari diri Thunder yang masih bisa aku lihat dan aku rasakan dalam bentuk nyata. Mungkin awalnya akan terasa asing dengan panggung itu. Dan menakutkan. Aku hanya tidak ingin menemukan bayang-bayang Thunder di atas panggung itu. Aku tidak pernah tampil tanpa dirinya.”

“Percayalah Thunder pasti akan bahagia jika kau mau kembali seperti dulu,” ucap Myung Soo seraya mengecup dahiku. “Malaikat Emas…”

Aku mengangguk dengan berat. Dan mencoba tersenyum.

“Aku akan melakukannya,” ucapku seraya sedikit berjinjit untuk menemukan bibir Myung Soo yang kurasa sudah cukup lama tidak aku kecup.

“Kalau begitu hati-hati,” ucap Myung Soo setelah aku melepas kecupan lebih dulu. “Korea. Kau akan tampil disana. Seandainya aku bisa ikut. Kembali ke kampung halaman…”

“Kembar harus sekolah. Dan kau harus membimbingnya,” ucapku mengingatkan.

“Yeah, aku harus menunggu paling tidak sampai liburan musim panas,” ucap Myung Soo menghela nafas.

Dan perjalanan menuju kampung halamanku pun dimulai.

**

PLUSH cukup terkenal bahkan untuk Korea. Mereka semua menyambut kami dengan antusias. Aku keluar dari mobil setelah Seungri. Ada pelajar gila yang tiba-tiba saja menarik Seungri ke arah dirinya sebelum menciumnya. Seungri hanya diam, hanya menatap si pelajar sebelum akhirnya Kahi menarik tangan Seungri untuk masuk ke dalam karena pertunjukkan PLUSH sebentar lagi akan di mulai.

Di belakang panggung Kahi sudah menyiapkan dokter untukku. Aku memang tergila-gila pada minuman beralkohol sejak Thunder tiada. Biasanya aku hanya menghabiskan satu sampai dua gelas perhari. Tapi sekarang aku mampu menelan semua cairan itu berbotol-botol tanpa memikirkan efek buruk untuk kesehatan dan suaraku. Aku vokalis, tentu saja. Dan aku lupa dengan semuanya. Yang aku ingat hanya bagaimana caranya meluapkan emosiku untuk membalas kematian Thunder. Alkohol-alkohol itu belum membunuhku, tetapi sudah menyerang suaraku.

“Kau perlu mengurangi alkohol, Jey,” ucap dokterku setelah memeriksa tenggorokanku. “Sekarang aku akan menyuntikkan obat ini. Dia akan bereaksi cepat dan suaramu akan kembali untuk tiga jam ke depan. Tahan sedikit.” Dokter pun mulai menyuntik leherku.

Rasanya aku seperti memiliki suara palsu. Mungkin Thunder akan sedih untuk soal ini. Tetapi semua ini aku lakukan demi dia. Aku akan bertahan di panggung itu untuk tiga jam kedepan. Aku akan bertahan untuk Thunder.

**

Lagu lama PLUSH berhasil aku bawakan seperti biasanya. Sama seperti beberapa tahun yang lalu sebelum aku bertemu dengan Myung Soo. Semuanya masih terasa sama, pijakanku di atas panggung, para penggemar PLUSH, lagu kami dan nuansa rock yang memenuhi ruangan besar ini. Hanya satu yang beda. Tidak ada Thunder, tetapi ada dia. Lee Seungri, gitaris baru PLUSH.

Thunder selalu melakukan hal ini, mendekatkan wajahnya ke wajahku untuk ikut menikmati mic bersama. Thunder bersenandung pelan seraya menatap mataku dari jarak kurang dari lima centi. Nafasnya pun dapat aku rasakan. Dan kini gitaris baru itu seperti mengikuti cara Thunder. Dia mendekati wajahku, sebelum akhirnya menyenandungkan sebaris syair. Matanya menatap bibirku yang berwarna emas dengan deru nafas yang dapat aku rasakan dari jarak sedekat ini.

Lagu berakhir dan Seungri kembali menjauhkan wajahnya, kembali ke tempatnya semula berdiri.

“Kalian semua menakjubkan!” ucapku kepada para penggemar PLUSH sebelum memulai lagu kedua. “Jadi lagu baru kami akan rilis hari ini dan kami akan memainkannya sebentar lagi….” Terdengar sorak sorai penonton merespon ucapanku. “Lagu ini tentang Thunder. Aku ingin dia mendengar lagu ini, entah darimana tempat dia berada saat ini.”

Seungri pun memulainya dengan intro.

“#Where did you go…why did you go#.” Aku mulai bernyanyi. “#My mysteri…you left me alone…#

Mereka semua diam. Tidak seperti biasanya. Tidak ada ekspresi suka yang biasa mereka berikan untuk PLUSH. Lagu ini istimewa untukku karena tentang Thunder. Tetapi kenapa mereka semua tidak menanggapinya sama sepertiku?

Acara ini ditutup dengan sangat tidak menyenangkan.

**

“Kau mendengarkan tepukan tangan untuk lagu baru kami? Tentang Thunder? Half of Me?” tanyaku pada Kahi.

“Ya,” jawab Kahi.

“Tidak,” ucapku membantah. “Tidak ada tepukan tangan.”

“Kadang-kadang sesuatu yang baru memerlukan waktu untuk tumbuh bersamamu,” ucap Kahi berusaha menghilangkan kekhawatiranku tentang lagu ini. “Oke? Jangan terlalu ambil pusing. Aku pun menyukai lagumu. Tentang Thunder, itu ide yang sangat hebat. Dan menyentuh hati, tentunya.”

Aku hanya diam, tanpa senyum, tanpa jawaban.

“Ini pestamu,” ucap Kahi menambahkan. “Bersenang-senanglah.”

“Ya, aku harus bersenang-senang,” ucapku seraya meninggalkan Kahi.

Dan tepat saat aku membalikkan kepala, kulihat Seungri di sudut ruangan bersama dengan pria lain saling bertukar pandang dengan jarak orang yang ingin berciuman. Dan mereka benar-benar melakukannya. Jadi Seungri gay. Aku baru tahu. Sebenarnya tidak masalah buatku. Dia bermain cukup baik untuk PLUSH. Aku hanya butuh bakatnya. Dan sisanya terserah dia.

Kutinggalkan ruangan penuh bau alkohol ini menuju tangga darurat yang mengarah ke parkiran mobil. Ada baiknya jika aku kembali lebih cepat ke hotel, lalu tidur dan lupakan semua respon negatif dari mereka soal lagu baru buatanku itu.

Ada satu penggemarku yang tiba-tiba menghalangi jalanku. Aku cukup dikagetkan dengan kedatangannya yang tiba-tiba muncul di hadapanku.

“Park Jey, bisakah kau tanda tangani ini untukku?” tanya pria itu seraya memberikan selembar kertas padaku.

“Tentu,” jawabku dengan cepat menandatangi kertasnya.

“Aku penggemar setiamu,” ucap si pria seraya menampakkan giginya yang putih kusam. “Dan bisakah kau mencium kertas itu dengan lipstik ini?” Pria itu kini mengeluarkan lipstik berwarna hitam.

“Maaf?” tanyaku merasa agak aneh.

“Pakai saja lipstik hitam ini dan cium kertasnya,” ucap si pria kini dengan nada memaksa.

“Sebenarnya warna hitam bukan warna favoritku,” ucapku berusaha menolak permintaannya.

“Pakai saja lipstiknya, oke?” Kini si pria mulai mencengkeram tanganku dengan keras, membuatku otomatis meringis kesakitan.

Dan tak lama kemudian Seungri datang, entah sejak kapan dia meninggalkan ruang pesta itu dan datang kemari. Aku merasa dia baru saja membuntutiku.

“Dia bilang hitam bukan warna favoritnya,” ucap Seungri menekankan. Matanya berwarna hitam pekat dan tajam. Bahkan aku mampu merasakan aura berbeda dari matanya. “Lepaskan dia.”

“Aku hanya ingin dia mencium kertas…”

“Aku bilang lepaskan!” Nada suara Seungri mulai meninggi. Si pria masih diam tanpa berniat melepaskan tangannya dariku. “Kau tuli? Kau ingin dihajar?”

“Aku bilang aku hanya ingin….”

BUUUUUK!!!

Semuanya terjadi begitu cepat. Tinju hangat dari tangan Seungri berhasil menjatuhkan si pria yang kini hidungnya berdarah. Tidak lupa Seungri menarik tanganku untuk pergi dari tempat ini. Aku heran kenapa dia memilih kamar mandi sebagai tempat persembunyian kami dari pria psiko itu? Dan kurasa dia tidak perlu menutup bibirku dari belakang seperti saat ini. Aku tidak akan bersuara karena aku tahu kita sedang bersembunyi. Suara pria itu mulai terdengar memanggilku bersamaan dengan langkah kakinya yang menuruni tangga.

Si pria sudah pergi dan Seungri perlahan melepaskan tangannya dari bibirku. Matanya kini menatap mataku. Dan aku hanya bisa membalas tatapannya dengan ekspresi penuh tanda tanya.

“Penggemar fanatik,” ucap Seungri pelan.

“Yeah,” ucapku masih sedikit terengah-engah.

“Jadi kau mau kembali ke hotel?” tanya Seungri. “Pesta masih akan berlanjut.”

“Mereka tidak akan berhenti sampai pagi hari,” ucapku. “Aku lelah.”

“Kalau begitu aku antar,” ucap Seungri seraya menarik tanganku keluar dari kamar mandi menuju parkiran mobil.

Perjalanan dari tempat konser ke hotel kami tidak terlalu jauh. Sesampainya di hotel, aku sudah akan masuk ke dalam kamarku ketika Seungri tiba-tiba saja menahan tanganku.

“Kudengar di kamarmu menyediakan absinthe. Bisakah aku?” tanya Seungri dengan wajah ragu.

“Yeah, Kahi memesannya,” jawabku. “Tetapi apa kau tidak tahu absinthe sangat keras dan bahkan bisa menghilangkan kewarasanmu?”

“Jadi Kahi memesannya agar dia bisa menjadi gila sejenak?” tanya Seungri berusaha bercanda.

Aku pun tersenyum seraya menjawab, “Dia memang tidak pernah waras. Kalau begitu masuklah.”

Intinya, malam ini aku berhasil gagal tidur dan justru memasukkan pria yang baru kukenal kurang dari dua bulan ke dalam kamar tidurku. Tetapi semua ini aku lakukan karena Seungri ingin menjadi gila sejenak dengan absinthe yang Kahi pesan.

Aku tidak pernah mau mencoba minuman itu. Demi Tuhan. Seungri kini tergeletak tak sadarkan diri di atas ranjang hotelku dekat dengan jendela kaca hotel. Matanya setengah tertutup dengan kaos hitam yang hanya menutupi bagian dadanya. Kini aku dapat melihat pusarnya dengan bebas. Tidak ada anting yang menusuk pusarnya, justru kutemukan beberapa tatoo menghiasi area perutnya yang six pack.

Satu jam berlalu dan Seungri terbangun karena alarm sialan dari ponselku. Dia terhuyung menuju meja untuk meneguk air putih.

“Apa aku sudah cukup gila?” tanya Seungri seraya bersender kembali pada sofa, tepatnya di sebelahku.

“Kau tidak cukup gila,” jawabku yang tengah sibuk menatapi barisan artikel cacian dan hinaan dari penggemar PLUSH atas lagu baru kami.

“Sebaiknya kau jangan baca itu,” ucap Seungri yang mencuri lihat layar laptopku.

“Yeah, aku coba tak memandangnya,” ucapku seraya menutup browser dan laptopku sebelum berjalan ke meja untuk menyalakan rokok dan menuang segelas martini. “Kuakui lagu baru itu memang terdengar cengeng. Tetapi itu Thunder. Aku hanya berusaha mengembalikan Thunder ke atas panggung.”

Kini aku resmi terlihat frustasi di hadapan gitaris baru ini.

“Bahkan orang yang sedang mabuk tidak akan menyukai lagu itu,” ucapku seraya beralih ke sofa kembali.

“Aku menyukainya,” ucap Seungri berhasil membuatku tertawa sebentar.

“Lagu itu bukan sarana untuk mengundang rasa iba mereka padaku setelah bagian dari diriku meninggalkanku,” ucapku yang sudah tak bisa menahan air mata ini. “Kau tahu? Selama fase depresiku, aku berhasil membuat selusin lagu. Dan semuanya tentang dia, tentang Thunder. Seharusnya aku tahu semua lagu itu tidak pantas diperdengarkan kepada orang lain. Lagu itu sangat pribadi. Sangat cengeng…”

Aku kembali menyalakan rokokku dan dengan cepat Seungri menahan tanganku.

“Rokok yang baru kau nyalakan masih ada di sana,” ucap Seungri seraya menunjuk rokok yang kubakar pertama sedang bertengger manis di atas asbak di meja.

“Yeah,” jawabku pelan. “Aku sudah benar-benar tidak waras.”

“Kau tidak boleh meminum absinthe,” ucap Seungri lagi-lagi membuatku tertawa, walaupun sebentar.

“Aku tidak akan pernah menyentuh minuman itu,” ucapku seraya berjalan ke meja untuk mengambil rokokku yang sudah terbakar.

Kurasa keberadaan Seungri di kamar ini cukup menghiburku. Aku mulai mabuk, padahal aku hanya meminum dua gelas martini dengan alkohol ringan. Seungri masih terlihat fokus dan sadar di sebelahku. Matanya, entah mengapa dia terus menatapku, seakan-akan tidak bosan.

“Kenapa kau hanya diam dan melihatku seperti itu?” tanyaku seraya menyenderkan kepalaku di sofa.

“Kurasa kau butuh seseorang untuk memicu inspirasimu kembali,” jawab Seungri. “Aku tidak bilang lagu dengan konsep Thunder adalah hal yang salah dan cengeng. Tetapi Penggemar PLUSH benci itu. Mereka mencintai Thunder, kau dan PLUSH. Tetapi Half of Me sudah melewati batas ke-ciri khas-an PLUSH.”

Aku terdiam. Aku sudah mabuk tetapi aku masih mampu mendengar dan mengerti ucapannya.

“Lalu aku harus bagaimana?” tanyaku yang kini dapat melihat bayangan Seungri seperti menjadi tiga.

“Aku akan bantu kau,” jawab Seungri yang tiba-tiba saja menarik diriku agar tubuhku ini terlungkup diatas sofa. “Pertama, aku akan berikan pijatan ringan di bahu dan tengkukmu.”

Bahu dan tengkuk? Tengkuk adalah bagian tersensitif dari diriku. Tidak. Aku punya Myung Soo dan si kembar. Aku tidak mau kelewatan batas malam ini. Seungri cukup menjadi bagian dari PLUSH, bukan bagian dari hidupku.

“Sebaiknya tidak,” ucapku seraya menyingkirkan tangan Seungri yang sudah mendarat di bahuku. Aku pun mencoba kembali duduk. “Aku hanya perlu tidur. Dan besok pagi aku akan memiliki tubuh yang lebih baik, otak segar untuk berpikir dan….”

“Dan kau butuh pasangan untuk bercinta,” ucap Seungri melengkapi kalimatku. Aku terdiam, shyok tetapi hanya mampu diam. Wajah Seungri sekarang sama dekatnya saat waktu di panggung tadi. “Aku bisa bantu untuk soal itu.”

Aku tertawa dan mulai kehilangan akal sehat. Aku memang butuh bercinta karena sudah lama sekali sejak terakhir kali Myung Soo menyentuhku. Tetapi dengan Seungri? Dia pria baru dalam hidupku. Dan aku punya suami. Tetapi…

“Kau bingung karena suamimu dan si kembar?” tanya Seungri tiba-tiba, seakan-akan dia mampu membaca pikiranku.

“Aku…” Shit! Martini seharusnya tidak sekejam ini. Kenapa sekarang aku jadi sulit berpikir. Bahkan sulit untuk menolak belaian tangan Seungri yang kini sudah menyusup masuk ke dalam pinggangku. Seungri berhasil merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya.

“Dia tidak ada disini,” ucap Seungri lagi. “Kim Myung Soo jauh di L.A. Dan kau ada disini bersama denganku.”

God!” pekikku pelan. “Aku mengantuk sekali. Teler sekali.”

“Hanya martini,” ucap Seungri pelan seraya membelai wajahku. “Hanya martini, Love…”

Dan yang selanjutnya terjadi, aku benar-benar tidak tahu.

**

Aku terbangun di pagi hari yang mendung di bawah atap Seoul. Martini itu berhasil melumpuhkan inderaku semalaman. Myung Soo menelpon di saat kondisiku yang kini tengah telanjang bulat. Kejadian semalam pun kembali teringat. Ada Seungri yang seharusnya masih ada disini sekarang ini. Tetapi sepertinya pria itu berhasil meniduriku dan dengan seenaknya meninggalkanku dengan kondisi tanpa sehelai benang seperti sekarang ini.

Sambungan dari Myung Soo ku-ignore, berganti menjadi komunikasi lewat skype di laptopku.

“Kau telanjang bulat?” tanya Myung Soo yang sedang memberikan makan si kembar.

“Um, belakangan ini aku biasa tidur tanpa menggunakan baju,” jawabku asal. Jujur saja efek martini semalam masih menyisa di kepalaku.

“Kebiasaan baru yang tidak aku ketahui,” ucap Myung Soo seakan-akan sedang menyindirku. “Kita harus lebih banyak berkomunikasi, Jey…”

Sejak pertemuan pertama kami, Myung Soo memang lebih suka memanggilku ‘Jey’ ketimbang ‘Jiyeon’. Thunder pun lebih sering memanggilku ‘Malaikat Emas’. Dan Seungri, aku yakin semalam dia memanggilku dengan sebutan ‘Love’.

“Yeah,” jawabku menyetujui. “Aku akan coba kembali menjadi Jey-mu yang dulu. Menjadi istri dan ibu yang baik untukmu dan si kembar.”

“Aku senang mendengarnya,” ucap Myung Soo yang kini beralih pada kertas-kertas di depannya.

“Kau sedang mengerjakan apa?” tanyaku penasaran.

“Aku sedang coba menyelesaikan cerita pembunuhan debutan Texas itu,” jawab Myung Soo. “Untuk majalah Vanity Fair. Banyak sekali detail-detail mengerikan tentang si brengsek itu. Rasanya aku berhasil membangun karakternya dengan baik.”

“Kau bekerja dengan sangat keras,” ucapku.

Myung Soo pun tersenyum seraya berkata, “Aku merindukanmu.”

“Yeah, aku juga merindukanmu,” ucapku membalas. “Um, kau mau tahu respon yang mereka berikan untuk lagu baru PLUSH?”

“Tentu saja,” jawab Myung Soo cepat. “Mereka pasti menyukainya kan?”

Sesaat aku terdiam, kemudian menggeleng dan menjawab, “Tanggapan mereka tidak positif. Sangat menyebalkan.”

“Mereka hanya iri karena PLUSH selalu bisa memberikan hal baru pada setiap lagunya,” ucap Myung Soo tengah mencoba memperbaiki perasaanku. “Tetapi jika kau merasa berat dengan keadaan ini. Kau bisa berhenti mempromosikan lagu itu dan kembali ke rumah ini sebagai istriku dan ibu untuk si kembar. Bukuku akan terbit dan aku akan menghasilkan beberapa ribu dollar. Kau bisa beristirahat sejenak.”

“Aku mengerti,” ucapku pada Myung Soo bersamaan dengan munculnya Kahi di ambang pintu kamarku. “Aku akan coba selesaikan perkara lagu ini paling tidak.”

“Kau sudah bangun putri tidur?” tanya Kahi seraya merebahkan diri di atas sofa. “Hai, Myung…” Kahi melambai pada laptopku.

“Kau coba habiskan absinthe lagi?” tanya Myung Soo saat menatap wajah tipsi Kahi.

“Aku tidak meminumnya semalam karena Jiyeon sudah menghabiskannya, mencuri start dariku,” ucap Kahi seraya menepuk pantatku yang tengah berdiri.

“Kau meminumnya, Jey?” tanya Myung Soo terkejut. Aku pun sama terkejutnya dengan dirinya.

“Tidak,” jawabku cepat. “Aku hanya minum martini.”

“Yeah, martini yang sudah kau campurkan dengan absinthe,” ucap Kahi dengan mata merah.

Tidak. Aku tidak melakukannya. Jelas-jelas aku hanya minum martini. Lihat, botol martini ini masih tampak baik di tempatnya. Dan botol absinthe milik Kahi. Kenapa dengan botol ini? Kosong? Jelas Seungri hanya minum beberapa gelas kecil sebelum akhirnya dia jatuh di ranjangku.

“Kukira pendirianmu kuat, Jey.” Suara Myung Soo kembali terdengar. “Absinthe itu parah. Dan berbahaya untuk tubuhmu dan suaramu.”

“Tidak,” ucapku seraya menggeleng. “Aku tidak meminumnya. Demi Thunder yang mencintai drugs, aku tidak meminumnya. Percayalah.”

“Oke, kita putuskan obrolan kita sampai disini,” ucap Myung Soo tiba-tiba. “Aku perlu mengantar si kembar sekolah. Perlu kau ingat, Jey, aku tidak pernah melarangmu untuk menikmati minuman berbahaya itu. Tetapi kau punya si kembar yang butuh seorang ibu dan akupun butuh seorang istri. Thunder pun butuh kau untuk mengisi kekosongan PLUSH. Jadi tolong pikirkan kesehatanmu sendiri.”

Aku terdiam. Tidak berkata apa-apa sampai akhirnya Myung Soo memutuskan sambungan lebih dahulu. Sementara Kahi kini sudah pulas di atas sofa-ku, aku disini masih bingung memikirkan bagaimana bisa botol absinthe milik Kahi kosong sementara semalam aku merasa efek martini yang kuminum tidak seperti biasanya.

“Seungri…” gumamku pelan. “Pria itu…”

Dan tanpa banyak berpikir kupakai bajuku sebelum menghampiri kamarnya.

To Be Continue

30 responses to “[CHAPTER] PLUSH – Part 1

  1. Omo resiko dr absinthe sangat berbahaya buat Jiyi, pantes Jiyi bilang gx akan pernah minum itu
    Tp knpa Seungri ngelakuin hal itu?

  2. Wahhhh genre nya mature banget yaa
    Seungri knp tega ngelakuin itu??
    Kira2 nanti myungsoo bakal samperin jiyeon ga ya?

  3. ahh aku belom nonton filmnya, kasian myungsoo di khianatin jiyeon… seungri di sini jahat ya? apa dia pembunuh yang sedang di cari? next

  4. astaga kenapa seungri melakukan nyampur minuman jiyeon thor? Apa dia punya niat jhat ya sma jiyeon? Kasian myungnya thor. Ijin bca chapter selanjutnya ya thor🙂

  5. Hmm.. Kenapa seungri bisa jahat gitu ya? Nyampur martini-nya ji pake absinthe itu.. Kasian Myung, di khianatin Ji gara2 seungri.. Emm.. Curiga ama seungri, jangan2 dy pembunuh yg di ceritain di awal, yg kata myung debutan texas itu.. Mungkin korban berikutnya Ji? Hhahaha sotoy.. Blom pernah liat filmnya sih.. Oke izin ke next chap..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s