Brownpills

FF brownpills

Tittle: Brownpills

Author: brownpills

Genre: Life, Schoollife

Length: Oneshoot

Cast: Jiyeon Park

Support Cast: Suzy

.brownpills.

Without her know, it was poison in mylife.

Tanpa dia tahu, pill itu adalah racun dalam hidupku.

 

.brownpills.

 

BRAK!

 

Tumpukan buku itu mulus berserakan di lantai. Seorang gadis yang baru saja memasuki bangku sekolah menengah keatas itu membanting tubuhnya di kasur dengan motif polka. Sepasang matanya berkunang-kunang menatap langit kamarnya.

Keringat membasahi rambutnya yang tidak beraturan. Wajahnya berminyak terkena sinar lampu. Nafasnya terengah. Gadis itu lelah.

Bunyi ketukan pintu menyadarkanya dari setengah tidurnya. Memaksanya untuk kembali duduk sembari menata buku yang tadinya ia buang asal-asalan.

“Yeon-a,” suara lembut memecah keheningan.

Seorang wanita paruh baya membuka pintu seraya masuk ke dalam kamarnya. Wanita dengan potongan rambut pendek itu membawa dua botol obat di tangannya.

“Bersihkan dirimu terlebih dahulu,” ujarnya manis.

Namun gadis bernama Jiyeon itu meresponnya dengan senyuman kecut. Ibunya sibuk membereskan deretan obat di meja belajar Jiyeon. Menggantikan obat yang tinggal separuh dengan obat yang baru saja ia bawakan.

“Tidak perlu minum vitamin yang ini lagi, eomma sudah membeli yang baru,” lanjut ibunya tanpa memperhatikan Jiyeon. “Kurom. Istirahatlah sejenak, setelah itu eomma akan mengantarkanmu ke tempat kursus.”

Begitulah kata terakhir yang diucapkan oleh ibunya. Taka ada kehangatan, hanya senyum yang sangat sederhana.

Jiyeon menghela nafas. Ponselnya bergetar menarik perhatiannya.

Beberapa pesan masuk ada di dalam media social. Kebanyakan dari teman sekelas barunya. Dengan kesal Jiyeon membanting ponselnya seolah ponselnya itu tempat pelampiasan amarahnya.

 

Sudah dua tahun semenjak aku mengkonsumsi multivitamin itu. Semakin lama membuatku semakin mual. Lantas aku sadar, pill itu adalah racun dalam hidupku.

.

.

 

Tidak peduli seberapa keras aku belajar, aku tetap belum mampu menjadi anak cerdas.

 

Ketika teman-temanya beristirahat di foodcourt, kali ini ia memilih untuk di kelas. Memanfaatkan waktunya untuk memecahkan soal matematika yang mampu membuatnya berkali-kali bersumpah serapah dalam hati.

Hampir tiga lembar sudah terisi oleh coretan angka yang tidak jelas. Sesekali gadis itu mengaitkan rambutnya ke belakang cuping telinga atau membenakan ikat rambutnya

“Jiyeon!”

Suara nyaring seorang gadis menyentakkannya.

“Suzy! Kamu mengagetkanku.”

Yang disindir malah menyengir kuda sembari mendudukan diri di sebelah Jiyeon. Sudah dari kelas delapan Suzy dan Jiyeon berteman. Suzy memiliki wajah yang cantik. Bingkai kacamata bernaung di hidung bangirnya. Suzy pula gadis yang terbilang pintar.

Suzy yang juga mementingkan belajar menjadi dekat dengan Jiyeon. Mereka berdua sama-sama tidak tertarik dengan hal-hal berbau romantis atau lain kebanyakan. Kedua gadis kutu buku itu mengejar prestasi mati-matian.

Pernah Jiyeon menyangka apakah Suzy di rumah sama sepertinya? Pulang sekolah, belajar, kursus, belajar lagi. Entahlah, Jiyeon mencoba menghentikan prasangkanya.

“Apa itu? Eoh, matematika? Memang hari ini ada matematika?” tanya Suzy sambil membuka bingkisan roti yang baru ia beli.

Aniy, besok pelajaran matematika. Aku sedang mengerjakan tugas ini.”

“Aku juga ingin mengerjakannya. Tetapi aku tidak membawa bukunya. Haish, padahal nanti aku masih kursus,” gerutunya mengerucutkan bibir mungilnya.

Jiyeon menarik senyuman melihat tingkah sahabatnya, “Kerjakan bersama saja denganku.”

Senyum Suzy merekah mendengar tawaran Jiyeon. Gadis itu segera meraih bolpoin dan ikut membaca soal penuh angka itu.

 

Di luar mungkin kami tampak akrab. Namun jauh dilubuk hati, kami saling bersaing. Sebenarnya apa yang membuat kami begitu tertekan?

 

.

.

Mentari memancarkan sinar di ujung cakrawala. Menandakan aktivitas manusia akan dimulai. Udara sejuk terhirup di batang hidungnya. Rambutnya bergerak ke sana kemari seiring langkah kakinya meniti tiap anak tangga.

Suara berderik terdengar ketika ia membuka pintu kelas. Gelap ruangan membuatnya menekan tombol lampu agar mendapat cahaya yang cukup. Jiyeon meletakkan tasnya di bangku paling depan dekat dengan guru.

Hanya ia seorang yang berada di kelas. Sering Jiyeon datang terlebih dahulu dibanding teman-temannya. Hal pertama yang gadis itu lakukan memastikan bawaan jadwal bukunya sudah lengkap.

Tak beberapa lama,dering ponsel terdengar menandakan panggilan masuk. Kata ‘Mom’ tertera di layar ponselnya. Sebelum mengangkat telepon masuk itu, Jiyeon menancapkan earphone kemudian terdengar suara ibunya di seberang sana.

“Yeon-a, kau sudah sampai di sekolah? Kau tidak telat bukan?”

Jiyeon tersenyum miris. Bukan ucapan selamat pagi yang ia terima. Berusaha bernada datar Jiyeon menjawab, “Ne.”

“Maap eomma menelponmu mendadak. Tadi eomma lupa mengatakan sesuatu—“

Mulut Jiyeon bergeming menantikan kalimat ibunya.

“—hari ini kau pulang sekolah naik bus saja. Appa pergi ke luar kota, eomma sedang mengurus kain-kain untuk pakaian—“

Ah, saking sibuk dengan sekolah, Jiyeon sampai lupa bahwa ibunya adalah pemilik salah satu butik yang cukup terkenal di dunia maya.

“—atau jika kau mau eomma akan mengirim taksi—“

Eomma,” potong Jiyeon, “Gwenchana. Aku naik bus saja.”

Jinjja? Ya sudah,” sahut ibu Jiyeon dengan suara bising di belakangnya –mungkin butik sudah ramai-. “Ah iya! Kau jangan lupa, nanti malam ada kursus fisika.”

Eomma,” suara Jiyeon tampak lesu, “Aku ijin kursus hari ini.”

Wae? Apa ada masalah?”

“Eoh, nilai ulanganku tidak cukup baik.”

“Karena itu kau masuk kursus. Perbaiki nilai ulanganmu dengan rajin belajar.”

“Hari ini saja biarkan aku tidak kursus,” pinta Jiyeon.

“Ada apa denganmu, Yeon-a? Tidak biasanya kau seperti ini. Kau paling rajin untuk kursus. Ada apa? Apakah kau tidak suka dengan temanmu? Kau ingin pindah kelas? Eomma bisa mengatakan pada gurumu. Agar kau ditempatkan di kelas yang—“

Eomma!” tahan Jiyeon. Gadis itu muak mendengar celotehan yang manis di engar tetapi menusuk di hati, “Istirahat! Yang kuinginkan hari ini hanyalah istirahat.”

“Istirahat? Apakah sehari penuh kemarin tidak cukup untuk istirahat? Satu hari dilewatkan untuk belajar akan sia-sia multivitamin yang eomma berikan selama ini.”

Sakitnya tak tertahankan. Bibirnya gemetar tiap mendengarnya. Tak ada tetesan air mata, gadis itu terlalu kuat untuk menahannya.

“Hari ini kursus dulu. Besok kau boleh istirahat,” tegas ibunya. “Sudah ya, eomma mengurus butik dulu.”

Piipp.

Nada putus itu meninggalkan Jiyeon dengan kehampaan. Kepalan tangannya bergetar. Rahangnya gemeretak, tubuhnya memanas.

Dengan garang Jiyeon menyaut botol putih di dalam tasnya. Menuangkan beberapa pill ke telapak tangannya. Lantas menelannya sekaligus tak peduli tanpa air yang membasahi tenggorokannya.

 

Tiap kali merasa putus asa, aku akan melenan pill berwarna cokelat itu sekaligus.

 

Pahit rasanya tidak sepahit rasa di hatinya. Remuk jantungnya di awal hari. Lelah pikiran dan tubuhnya. Ingin rasanya ia menghapus ingatan, membutakan mata, meremukkan tulang, dan melumpuhkan persendiannya. Ia merasa hidup terpenjara terpasung luka.

Nafasnya terengah dengan dadanya yang sesak. Air matanya tidak bias keluar. Ia menahannya dengan rintihan pelan. Di jalan penuh kendala, ia adalah sebatang pohon kering kerontang. Tanpa daun, layu, dan akhirnya mati.

 

Sebenarnya apa yang membuat hidup menderita? Kegiatan sekolah? Pagi, siang, malam, tiada hari tanpa belajar? Aku menyukai belajar. Namun peraturan semakin lama semakin membelenggu. Mengikat anak muda yang belum siap harus disiapkan. Ibaratkan saja produk gagal.

Tak ada hal yang bisa diperbuat. Selain mematuhi aturan yang dibuat orang dewasa. Dan menjalaninya dengan kecurangan.

-END-

Hara comebackkk setelah sekian lama gak muncul *plak*. Bukannya membawa Pretend malah membawa FF lain, tapi gak kalah serunya kan? plakk. oke oke, Hara mau nerangin kemana aja selama ini Hara menghilang(?). Enggak deng, Hara gak update sekitar tiga minggu, itu karena TUGAS. Entahlah, kalian yang dapet K2013 seharusnya paham. Berangkat pagi, pulang sore, malam kursus. Kapan bisa bernapas??? Eh buseett, udh deh uneg-unegnya.

Pretend gimana kak?  masih dilanjuttiiiinnnn dong yaa. Inget, dilanjutin. Kemungkinan sehabis Hara mid test, biar pikiran bisa tenang dulu *apa ini*. Oke fix, bye bye, miss u~~ fighting ~~ lov yu~~

17 responses to “Brownpills

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s