AMNESIA

amnesia-myungyeon

Amnesia

by Shaza | Myungsoo & Jiyeon | 3000+ words of romance and hurt |
RECOMMENDED SONG: 5 SECONDS OF SUMMER — AMNESIA

.

I wish that i could wake up with amnesia, and forget about this stupid little things.

.

Aku mengingatnya. Jelas mengingat kalimat pengakhiran tali-temali kasih kami. Mengingat kapan kau berkata dengan suara penuh gentar, lantas memutus asaku dalam hitungan kejap.

scene-1

Derum mobilku beradu dengan kendaraan lain yang masih memadati jalanan kota. Embusan angin malam menerpa kulitku langsung melalui jendela mobil yang terbuka separuh. Melewati padatnya kota di malam hari, mobilku tertarik gas membelah jalan melajur ke tempat yang begitu aku rindukan.

Sahutan klakson tak lagi terdengar di pendengaranku. Sebobot mobilku telah membisu di mulut pagar pub yang memendar cahaya lampu di antara gelapnya malam. Meremangkan pandanganku. Kelopakku memberi bingkai yang lebih kecil ketika bola mataku mengulur pandang pada sekeruk ukiran yang membentang huruf label pub.

Di tempat inilah, kau dan aku menghabiskan waktu malam. Mereguk sebotol whisky atau terkadang vodka dalam satu sensasi pejaman mata, serta hangat menenangkan yang beradu dengan dentum musik di dalam ruang kedap suara—pub—itu.

Jemari dinginku menggesturkan gerakan kecil memutari stir mobil, selayang pandangku mengarah pada pintu utama pub yang dijaga oleh dua pria bertubuh kekar, lantas dihias dengan wajah masamnya. Ingatanku membawa segurat senyum di bibirku ketika bayang-bayangmu menyembul dalam benak.

Namun, ingatan itu tersapu realita ketika gadis bersurai pirang tengah berjalan melewati pintu, hendak pula menerobos godaan pria kekar yang menjaga pintu masuk. Gadis itu adalah Carise—temanmu, dan aku mengenalnya.

Sementara mataku tak rehat menguntit pergerakannya, kurasakan gadis itu kini telah menatapku. Melangkah menggubris dua pria hidung belang itu demi mendekatiku. Aku berkedip, merasakan tatapan penuh kehangatan memendar dari manik Carise.

“Myungsoo?” suaranya yang serak menyapa gendang telingaku, membawanya menuju getaran halus. Aku mengangguk kecil, membuka jendela mobil sepenuhnya. Gadis berwajah Eropa itu melambai sesaat ke arahku sebelum akhirnya aku membalas.

“Hai, Carise!” meski tidak seceria gadis itu, namun aku memaksakan segores senyum di wajahku. Ia bersandar pada pintu mobilku dengan sepasang lengan yang ia lipat di atas perut. “Kau tak bertanya keadaan Jiyeon?” namamu termartil dari bibir Carise, sahabatmu. Membuatku dalam hitungan kilas merasakan ujung jemariku membeku.

Anak rambutnya yang sepintas tampak putih itu beterbangan dibawa angin malam, menguar pesonanya yang anggun. Namun, ketika namamu disebutkan olehnya—aku tak pernah mengelak bahwa dirimulah satu-satunya gadis anggun.

“Ia baik-baik saja sejauh ini. Sangat baik, maksudku.” Carise membalas terkaannya sendiri ketika mendapati diriku yang membisu. Kau baik-baik saja, itu kabar yang kudapati dari temanmu. Namun, hati kecilku berkata lain—kau tidak baik-baik saja atas segalanya.

Carise tersenyum menepuk bahuku, namun aku hanya tertawa garing. Menanti enyahnya raga temanmu dari hadapanku. Beberapa jenak ketika temanmu telah raib dari pandanganku, aku kembali merenung—memikirkan betapa sulitnya hidup ini kudaki.

Aku bertanya-tanya, apakah kau berbohong padaku atas ini semua? Benarkah kau baik-baik saja di sana tanpa meraung kesepian seperti yang biasa kau lakukan saat aku tak kunjung menemanimu di apartemen. Jika memang benar kau baik-baik saja, maka apa saja kenyataan yang telah kita bangun selama ini?

Menarik rem tangan untuk melonggarkan sendatan mobil, aku kembali melajukan mobil dengan napas terembus pendek-pendek. Aku sama sekali tidak merasa baik.

.

.

scene-2

Pagi itu, Tuhan mengembalikan nyawaku kepada raga ketika jam telah merujuk angka tujuh. Cahaya matahari tak sanggup menembus kamar kusamku. Tertatih, aku menurunkan kaki di atas ubin kamarku yang dingin.

Kutilik sisi samping ranjangku, tak ada dirimu di sana. Tak ada ragamu yang mengisi ruang hampa itu, membuat keningku bertaut penuh gundah. Bangkit dalam satu tarikan napas, aku merenggangkan kedua tangan, mengusir lelah yang lebih didominasi kerubutan wajahmu.

Mengacak rambut, tungkaiku membawa tubuh menuju dapur. Sekilas, aku merasa seperti orang bodoh karena tidak ingat keberadaan roti tawar yang biasa kujadikan sarapan, alih-alih membersihkan diriku, meski sekadar mencuci wajah.

Aku menarik rak dekat kaki, membawanya untuk terbuka. Lalu, tidak mendapati roti tersebut. Aku mengingatnya, masih mengingat bahwa selama ini dirimulah yang membuatkanku sarapan. Bukan sarapan dengan menu lezat dan bervariasi seperti yang orang lain inginkan, namun menyerap segala kepedulian. Aku masih mengingat senyummu ketika menyodorkan sepiring roti selai yang terkadang dikesampingkan bersamaan dengan telur dan daging.

Bahkan hawa pagi hari yang biasa kau bawa dengan kehangatan itu masih menguar di dapur ini. Semasa, aku tersadar bahwa dirimu telah membawa kehidupanku terlalu jauh, kau meninggalkan banyak kenangan di tempat ini. Sedikitnya, aku merasa buruk ketika tubuhku terempas di atas sofa yang terasa kosong dan lengang tanpa hadirmu. Aku memejamkan mata, tidak benar-benar bermaksud untum tertidur.

Namun, hal ini membuatku begitu ingin kembali terlelap, lantas bangun dengan keadaan lupa ingatan. Itu jauh lebih baik dari sekarang.

.

.

scene-3

Meski sudah terinjak sekitar satu minggu, aku masih mengingat jelas gambaran di mana aku tengah berdiri di depan stasiun, pemberhentian kereta yang akan disua olehmu ketika jam pulang telah menunjuk.

Hari di mana kehancuran hidupku berawal. Saat itu adalah malam musim panas yang dingin, berbanding dengan siang hari. Desisan roda kereta yang menggesek rel sedari tadi menopang kantukku. Seperti memaksa mataku untuk tetap terbuka hingga kereta yang kautumpangi akhirnya berhenti melaju.

Gerbong kereta sarat korosi itu berkali hilir mudik di mataku, sementara kakiku mulai terasa letih untuk menahan bobot tubuh. Di saat-saat seperti itulah, pintu di salah satu gerbong terbuka, segera menyurukkan manusia-manusia dengan wajah lelah untuk segera keluar dari sesakan gerbong.

Aku melihatmu dengan pakaian kasual—bukan pakaian kantormu—dan itu membuatku mengernyit. Ketika aku hendak menyerukan namamu, kau menunduk dalam. Menimbun bingung di benakku. Perlahan-lahan, kantukku terusir oleh wajah sedihmu malam itu.

“Jiyeon­-ya. Kenapa kau sudah berganti pakaian ini? Bagaimana bisa?” itu pertanyaan beruntun yang aku berikan padanya ketika sosok rapuh itu telah berdiri di hadapanku. Tas yang tersampir di bahu ringkihnya tampak kusam, dan kurasa sejauh itu aku belum pernah melihatnya.

Lazimnya, aku menunggu kepulanganmu dari tempat kerjamu di stasiun ini. Aku dan kau memiliki tempat kerja yang berbeda, jauh. Dan ketika jam kerjaku telah usai, aku akan menyeret kaki untuk beranjak ke stasiun ini—menjemputmu, sebelum benar-benar pulang ke apartemen.

Dengan wajah kusut, kami akan pulang, bersama dengan pakaian kantor yang masih merekat di tubuh kami. Tapi, malam itu kau tidak mengenakan pakaian kantormu. Seperti telah kautukar di suatu tempat yang tidak kuketahui.

“Aku akan pergi.” Suaramu terdengar parau ketika menyahuti rentetan pertanyaanku. Tertelan dengan berisik stasiun, serta pengapnya udara. Aku berkedip satu kali, hendak meyakinkan pendengaran dan berusaha fokus.

“Apa maksudmu? Bicaralah yang jelas.” Aku menekan bibir, panik. Kau mengangkat wajah, kutemukan bulir-bulir air mata telah bergelinding jatuh mengenai pipimu, menghapus riasan wajahmu. Aku terhenyak sesaat, kau tampak—begitu menyedihkan.

“Aku ingin kita berhenti sampai di sini.”

Aku mengingatnya. Jelas mengingat kalimat pengakhiran tali-temali kasih kami. Mengingat kapan kau berkata dengan suara penuh gentar, lantas memutus asaku dalam hitungan kejap.

“Ibuku sudah memilihkan yang terbaik untukku.” Dan, itulah alasan mengapa kau tidak lagi mengenakan pakaian kantor yang biasa kaukenakan ketika menyambutku di stasiun ini. Itulah faktor mengapa senyummu hilang malam ini, digantikan oleh tetes air mata yang membuatku perih.

“Myungsoo, maafkan aku.” Dan ketika itulah, kau mendekat memelukku erat. Mengukir janji serta bukti bahwa dirimu masih mencintaiku, kendati kau ingin mengakhiri hubungan kami. Dekapanmu terasa dingin, membuat tubuhku yang masih ditimpa keterkejutan itu turut merasa sesak.

“Tu—tunggu, bagaimana dengan buku impian kita? Hei, kita sudah mengisinya penuh dengan impian-impian kita di masa depan, bukan? Tidak mungkin—” aku berdalih, hendak menyadarkanmu dari segala mimpi buruk ini. Namun, kurasakan kau menggeleng dalam pelukanku.

“Aku tidak membutuhkan mimpi-mimpi itu lagi.” Kau baru saja menggores luka, membuatku hampir kesulitan bernapas. Kau mengatakannya seolah delapan tahun kebersamaan kita hanyalah sandiwara, kepalsuan belaka. Ingin rasanya aku meneriakimu, tetapi kau tengah menangis.

Lenganku terulur juga untuk membalas dekapan terakhirmu. “Jangan lupakan aku.” Pesanku padamu, kurasakan kau mengangguk. Sisi bahuku lembap, tersiram air matamu. Kau melepas pelukan, lantas memandangku dengan mata basah. “Maafkan aku.”

Dan, entah mengapa… hingga detik ini, aku tidak mengetahui sahutanku. Aku tidak mengerti jelas, apakah aku memaafkanmu atau tidak. Kata-kata terakhirmu membuatku tersadar bahwa sejak tadi, aku masih terduduk di atas sofa ruang tengah dekat dapur. Kepalaku yang memutar memori itu agar terasa nyata mencabik hatiku.

Perutku meraung lapar. Pagi ini, aku memutuskan untuk tidak mengisi perutku dengan makanan, dan memilih untuk membersihkan diri. Aku sungguh tidak merasa baik, kau harus tahu itu, Jiyeon.

.

.

scene-4

Layar ponselku berkerlip di atas meja, getarnya mengetuk permukaan kayu yang menopang benda pipih tersebut. Aku mengalihkan pandangan dari larutan kopi—amatiran—ku, lantas memicing ketika mendapati pesan baru dari temanku, Baekhyun.

Aku membuka pesannya, berisi ajakan untuk berkumpul—lebih tepatnya, berlibur atau bermain. Teman-teman kantorku memang tidak pernah menyadari usia, bahkan aku dan mereka sudah nyaris menginjak kepala tiga. Sisanya, ia bertanya mengapa aku tidak keluar apartemen akhir-akhir ini. Semacam hal itu, membuatku mengerang.

Aku tersadar bahwa notifikasi menyembulkan ikon surat email. Aku membukanya, meski malas. Dan, itu adalah undangan pernikahan—di mana seharusnya aku heran, mengapa undangan pernikahan justru disampaikan melalui surel email. Namun, mataku tak berkedip ketika membaca judul besar email tersebut.

Wedding Invitation.

Kemudian di sisi bawah, tertera nama temanku yang akan melangsungkan acara tersebut bersama seorang wanita yang dicintainya. Terlalu diingatkan oleh pernikahan, aku mendesah berat. Terburu-buru menutup email.

Salah. Keputusanku untuk terburu menutup email itu adalah langkah yang salah. Di mana manikku segera tersuguh oleh autograf dirimu di layar utama. Sosokmu yang tengah tersenyum membelakangi gunung. Poninya tersibak di sisi wajah, mengekspos kening. Sementara kelopaknya mengecil karena senyum lebarnya menarik sudut mata.

Itu adalah masa-masa di mana kau dan aku berlibur ke Jepang. Aku terlalu banyak diingatkan oleh bayang-bayangmu. Dan kini, tanganku tergerak untuk membuka foto-fotomu yang masih tersimpan rapi di ponselku.

Terkikis oleh waktu, foto kami masih berada di sana. Meski telah seminggu lamanya kau pergi, namun aku masih dapat melihat kau dan aku di setiap foto tampak bahagia. Foto selca, foto ketika hari jadi kami yang pertama, foto hari ulang tahunmu, ketika suksesnya proyekku, dan—fotomu yang sedang tertidur.

Aku mengaku, aku senang melihatnya. Setiap tampilannya membuatku tanpa sadar tersenyum, namun segala realita menyapu anganku. Kini, aku tetaplah Myungsoo. Kesepian. Ruang makan apartemenku lengang, menyisakan detik jam yang terus bergerak membawa kesedihanku.

“Jiyeon-ya~ aku ingin melupakanmu.” Gumamku, menutup wajah dengan telapak tangan.

.

.

scene-5

Kafe ini adalah kafe di mana kau dan aku biasa menghabiskan waktu di Minggu pagi. Aku tidak tahu mengapa, namun sepasang kakiku yang membawaku kemari. Aku tahu, semestinya aku tidak melakukan ini, ini hanya akan membuatku kembali mengingatmu.

Di ruang bangku bernomor dua puluh empat inilah kau biasa terduduk di hadapanku, mengukir senyum lebar sambil sesekali menuang ceritamu ke dalam detik-detik kebersamaan kami. Di mana aku hanya menikmati ekspresimu yang dinamis, terkadang penuh senyum, menggerutu, kesal, tertawa geli, dan mendengus.

Larutan teh yang dipadu dengan es beku itu mengepulkan asap dingin. Memberi kesejukan di pagi musim panas, serta sedikit-banayk memulihkan ingatanku terhadap dirimu. Sesaat, aku merasa seperti orang bodoh—mengenang dirimu di antara puluhan manusia yang sedang jatuh cinta di kafe ini.

Kulirik jendela bening yang menyorot jalanan kota. Sepasang—seorang gadis dan pria, melempar senyum, menggamit jemari, dan tertawa—aku merasakan kehangatan yang mereka pancarkan melalui sorot mata.

Tersadar akan hari ini, aku mengingat berapa lama aku tidak menggali hari bersamamu. Ketika bahkan dunia berseru riang di hari Minggu, kelopak mataku justru terasa berat—begitu mendamba ranujang, dan segumpal bantal untuk menyembunyikan wajahku.

Memoriku mengenai dirimu hingga saat ini masih sering kali berayun merabunkan fokusku. Mataku terpejam, membiarkan indra pendengaranku bekerja lebih tajam untuk menampung desing mesin kopi, celoteh pengunjung, tapak kaki tergesa, hingga suara lembut seorang gadis menyapa gendangku, menggetarkannya.

“Myungsoo?” aku mengingat suara lembut itu. Namun tersadar bahwa hal itu mungkin saja hanya ilusi. “Kim Myungsoo?” suara itu terdengar lebih nyata. Aku merasakan dentum jantungku membludak, bersamaan dengan langkah kaki beritme teratur yang terdengar mendekatiku. Aku membuka kelopak mata, spontan.

Jantungku tertekan oleh udara ketika melihatmu—dirimu—dengan pakaian kaus longgar bersama rok selutut sedang berdiri di hadapanku. Kelopakmu mengerjap, seperti tidak menyangka atas kehadiranku di kafe ini. Itu kau—Park Jiyeon. Benarkah itu kau?

“Kita bertemu lagi?” namun wajah penuh kejutmu itu lantas disapu oleh senyum manis yang begitu aku rindukan. Kau menepuk kedua telapak tangan, mengapresiasi ketidak-sengajaan kami yang bertemu di kafe penuh kenangan ini. Kutilik sesaat wajah tenangmu, aku merindukan segalanya.

“Ini keajaiban. Bagaimana kabarmu, Myungsoo?” tanyamu. Tidak membiarkan aku meregang keterkejutan. Di tanganmu, terdapat gelas kertas berisi cokelat, aku tahu kau begitu menyukainya. Bagaimana mungkin aku melupakan segala hal tentangmu? Kaui menjatuhkan tulang duduk tepat di bangku depanku. Kembali sebuah gestur yang mengingatkanku pada masa lampau ini berkali-kali menghunjam jantungku.

Seukir senyum tergurat di bibirku. Aku mengangguk sekilas. “Aku baik.” Sahutku. Menyembunyikan letupan aneh yang terus memukul dadaku sejak kedatanganmu di kafe ini. Seminggu lamanya aku tidak bersua denganmu, memandang wajahmu, mendengar suaramu, mengetahui kabarmu. Dan, hari ini Tuhan berbaik hati mempertemukan kami kembali. Raga kami, bukan hati kami.

Ini hanyalah seulir garis yang dibuat Tuhan untuk menopang kebahagiaanku, sesaat. Aku mengetahuinya ketika sesosok pria tinggi muncul dari belakang punggungmu. Menebar senyum menawannya padaku dan dirimu.

“Jiyeon? Kupikir kau ingin ke toilet.” Pria dengan rambut cokelat emas itu memberikan senyumnya padamu, kemudian membungkuk ramah padaku. Aku turut menganggukkan kepala. “Maaf, Sayang. Aku bertemu dengan teman lamaku, namanya Myungsoo.” Kau menyergap kalimat pria bersurai emas itu dengan senyum yang menarik sudut matamu.

Luka yang tersimpan di lubukku kembali tertuang garam. “Myungsoo-ah. Perkenalkan, ini kekasihku, Kris.” Kebahagiaan, semangat, dan penabur kesenangan di hatiku telah pergi. Menyisakan baying-bayangnya yang semu.

Hatiku masih kesepian. Tidak sanggup menangis, namun tersinggung kebekuan yang begitu lama. Aku ingin melupakan ini semua. Ingin terbangun dari mimpi buruk ini, dan menemukan dirimu di sampingku—seperti hari-hari biasa di mana kau masih menyandang kekasihku.

“Aku Myungsoo. Teman Jiyeon.”

.

.

myung-1

Kicau burung gereja dari balik jendelaku mencicit, menggantikan tugas alarm ponselku yang kini tengah teronggok mati tanpa tenaga daya baterai. Aku mengedip beberapa kali, kelopak mataku terasa berat—lengket, dan sukar untuk terbuka.

Beberapa saat, ketika diriku terbangun di atas ranjangku yang sempit, desahan berat kuloloskan melalui mulut. Beradu dengan udara pagi yang segar. Sebelum indra penglihatanku bekerja lebih sempurna, indra penciumanku lebih cepat tanggap menampung aroma roti bakar yang lezat.

Kurasakan duniaku selayak berputar. Aku tidak bias membedakan nyata dan semu ketika jemariku terulur ke arah nakas, dan meraih buku impian yang aku bangun bersamamu. Halaman demi halaman kujumpai dengan senyum. Kembali, aku mengingat segala tentangmu. Kenyataan pahit di mana rupanya aku tidak terbangun dengan keadaan lupa ingatan, seperti yang aku inginkan kemarin. Jelas, hingga sekarang, aku masih mengingat hari di mana kau memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, hari di mana air matamu turun bersamaan dengan pelukan terakhir kami.

Mataku terpejam. Tidak tahu, kapan asaku akan terangkat. Semangatku seperti telah terkubur dengan masa-masa. Ingin aku tertawa, menghujatku dengan makian pengecut. Sebelum kudengar teriakan dari luar kamar.

“Myungsoo-ah! Kau ini kenapa susah sekali dibangunkan? YAK!” alisku membentuk tukikan berhadap ketika mendengar lengkingan itu dari luar kamar. Diikuti dengan derap langkah dari arah pintu. Aku terburu-buru menajamkan pandangan pada pintu kamar yang mengayun terbuka, lantas menyorong sosok berpakaian kasual di balik benda berbakal kayu tersebut.

Kau. Park Jiyeon.

Aku mengedip. Mengilas balik apa saja mimpi-mimpiku selama ini. Di mana aku begitu menginginkan semua kejadian di mana kau mengakhiri hubungan kami ini hanyalah mimpi buruk, dan aku berharap agar aku dapat terbangun dengan keadaan lupa ingatan.

Sayangnya, aku masih mengingatnya. Mengingat hari di mana kau menangis, memelukku di stasiun dengan riasan wajah yang luntur melewati pipimu. Aku mengingatnya dengan jelas, nyatanya aku tidak lupa ingatan.

Sekarang kau berdiri di pintu kamarku dengan kedua tangan yang berkacak pinggang. Dahimu mengerut, sebelum akhirnya mendekatiku yang masih terduduk di ranjang.

“Apa yang kau lakukan dari tadi, bodoh?” makimu gemas. Kemudian kurasakan jemarimu terulur menampik keningku, sedikit sentuhan di sana terasa seperti nyata. “Hei, kenapa diam saja? Cepat mandi, dan aku akan menyiapkan sarapanmu.” Tubuhmu berbalik, hendak meninggalkanku. Namun, perkataannya barusan menarik kesadaranku dalam waktu singkat—amat singkat—hingga detik tak menyaingi pergerakanku yang menghela pergelanganmu.

“Jiyeon?” aku memanggil namamu dengan suara parau. Hendak memaksa seluruh keraguan ke daratan realita. Kau mengernyit ketika mendapati wajah bingungku. “Ada apa?” tanyamu, menghalau sinar matahari pagi yang menyelundup masuk melalui celah tirai kamar.

Aku spontan menurunkan kakiku ketika merasakan jemari hangatmu terasa nyata di genggamanku. “Kau Jiyeon?” aku bertanya selayak orang konyol. Entah, aku merasa—hari ini ragaku menurunkan beban, terasa ringan. Dan udara di sekitarku terasa seperti dulu. Senyummu tergurat di bibir, menyuguhkan paras manis itu di mataku.

Kau mendekat ke arahku, mengangkat tangan—lantas memulas pipiku dengan jemarimu. “Kau kenapa? Habis mimpi buruk, hm?” pertanyaan itu membuatku terkesiap beberapa detik. Cicit burung gereja mengantarkan ketenangan yang dibawa detik bersama kehangatan sosokmu di hadapanku. Dalam beberapa saat, kepalaku terasa pening.

Bayangan semu di mana dirimu berdiri membelakangi gerbong-gerbong kereta dengan air meruah dari matamu. Perlahan-lahan, bayangan itu seperti tidak lagi bersemayam di ingatanku—tersapu senyum yang lebih nyata di depan mataku.

Beberapa jenak, aku memproses kata mimpi buruk yang baru saja kau ucapkan. “Mi—mimpi buruk? What?” aku menelengkan kepala seperti orang bodoh, sementara kau tertawa kecil. “Ayolah, Myungsoo. Ini sudah terjadi sekitar tujuh kali berturut-turut. Apa kau tidak bosan?” garis-garis di sudut matamu tertarik menggores sebentuk lengkungan manis. Aku merasakan jantungku menghentak-hentak begitu keras di balik sternum.

Perlahan, selagi dirimu tertawa begitu manis di jatuhi sinar matahari pagi, kedua lenganku terulur untuk mendekapnya. Merasakan terisinya ruang hampa di relung hatiku ketika tubuh jangkungmu masuk ke dalam dekapanku.

“Aku tahu…” gumamanku menyeruak di antara keheningan ketika sepasang lenganmu ikut melingkari punggungku. “Kau tak akan pergi. Aku tahu itu.” Sementara dirimu meneguhkan pelukan kami, aku mengecup dahimu.

Hari ini kuinjak dengan segala mimpi-mimpi buruk yang terlalui, sementara keinginanku untuk terbangun dalam keadaan lupa ingatan adalah sebuah kegagalan. Aku tidak kehilangan ingatanku, tentu saja—karena di dalam memoriku, masih tersimpan jutaan benang kasih yang kurajut bersamamu.

Segala keinginanku untuk terbangun dengan keadaan lupa ingatan adalah sebuah kegagalan. Faktanya, kenyataan di mana kau masih berada di sisiku saat ini adalah yang terbaik, dan tak ingin kulupakan. Mimpi buruk itu adalah satu kilasan di mana diriku harus mudah mensyukuri cintamu saat ini—dan selamanya.

“Kau sungguh tak apa?” kau melepas pelukan kami, memandangku dengan raut wajah penuh cemas. Lantas aku mengangguk. “Tidak apa.” Detik yang terus melaju ini akan selalu kukenang, kusimpan dalam memori agar tidak terlupakan.

.

.

// finite. //

.

.

Sebenarnya aku gak punya peraturan buat pembaca yang pengen baca FF-ku. Cuma, risikonya yah.. kalo udah baca FF-nya, maka WAJIB baca Author’s Note-nya juga. Readers pinter pasti bisa menghargai barang sedikit sapaan seorang penulis di Author’s Note-nya. Ngerti?

Ehm, ada yang tahu lagu 5SOS judulnya Amnesia? Oke, sebenarnya ini FF terinspirasi dari sana. Awalnya suka banget sama lagu itu, kepikiran pengen bikin FF tentang myungyeon yang pake main setting lagu ini, tapi ternyataaaa… apa banget, jadinya gagal total begini.

Yang ada cuma alur ngebut, feel nguap, gak jelas, bikin bingung. Duh, maaf deh ya. Abis jujur, kangen banget sama pembaca di HSF. Sumpah, komen kalian tuh ngangenin tau gak, hehe. Aku awalnya malah udah bikin Paper Heart sebagai goodbye stage sementara sebelum aku hiatus ke kampung inggris, tapi ternyata kangennya cepet juga yah sama kalian.

And last, makasih banget yang udah mau baca dan jujur… aku anaknya gak begitu banyak teman di sekolah, tapi semenjak menulis di sini—aku merasa punya banyaaaak teman. Kalian rupanya ada yang ngasih pin BB, akun line, twitter, FB, makasih ya udah mau kenalan sama aku. Aku anaknya terbuka kok, jadi yang mau kenalan lebih jauh, silakan ajaaa..

Seperti biasa, aku nantinya hanya akan menjawab komen-komen yang menarik.

32 responses to “AMNESIA

  1. jadi cuma mimpi?
    waw .. daebak

    terbawa suasana banget, sampe ikutan sedih juga sama semua kata2 myung..
    *kata2authormaksudnya*
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s