[CHAPTER – PART 3] LOST IN BALI

LOST IN BALI 1Part sebelumnya:

[1] [2]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Mian for typos, leave comment, and don’t plagiat

Bruuukk!!
Jiyeon bertabrakan dengan seseorang yang hendak keluar dari rumah makan. Ia terjatuh, kakinya terkilir, tasnya juga terjatuh tapi untungnya barang-barang di dalam tasnya tidak jatuh berserakan di lantai. Jiyeon meringis menahan kakinya yang terkilir. Seorang yroja yang tidak sengaja menabraknya berusaha berdiri. Seorang namja membantu Jiyeon berdiri, Jiyron pun segera mengambil tasnya yang terlepas dari tangannya. Untung saja isi tasnya tidak berserakan di lantai.
“Mianhaeyo… Gwaenchana?” tanya yeoja yang tak sengaja menabrak Jiyeon.
“Gwaenchanayo…” ucap Jiyeon sambil membersihkan sekaligus merapikan bajunya. Jiyeon melihat yeoja yang berdiri di depannya. ‘Sepertinya yeoja ini tidak asing di penglihatanku,’ batin Jiyeon.
“Mianhae… Aku sungguh tak sengaja.” Yeoja itu mengulang kata maaf lagi pada Jiyeon. Jiyeon malah merasa sungkan dan tak enak hati. Ia tidak apa-apa, kaki kirinya hanya sedikit terkilir. “Jeogi, apa kau dati Korea?” tanya yeoja itu.
“Ah, ne. Aku dari Korea Selatan,” jawab Jiyeon.
“Nado. Joneun Ryu Hwayoung imnida. Ini namjachinguku, Lay Yixing.” Yeoja bernama Hwayoung itupun mengenalkan diri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan pada Jiyeon.
“Nan Park Jiyeon.” Jiyeon tersenyum dan menjabat tangan Hwayoung. Senang rasanya bertemu dengan orang Korea di negara lain. “Senang bertemu denganmu, Hwayoung-ssi dan Lay-ssi.”
“Nado, Jiyeon-ssi. Aku sungguh minta maaf atas kejadian ini.” Hwayoung terus saja meminta maaf. “Gurae, kami duluan, Jiyeon-ssi. Anyeong…”
“Ne, annyeong.”
Hwayoung dan Lay beranjak pergi dari rumah makan itu. Sedangkan Jiyeon, dengan sedikit tertatih, dia menghampiri meja terdekat lalu memesan makanan.

Jiyeon pov.
Bukan sekali ini aku makan makanan Indonesia. Di Korea aku juga tidak jarang makan di restoran Indonesia. Restoran di sana mendatangkan bumbu khusus dari Indonesia, istilahnya impor. Aku akui, masakan Indonesia memang super lezat dan mantab. Bumbunya sangat terasa. Lidahku sudah terbiasa dengan masakan Indonesia. Bahkan Chorong eonni bisa masak makanan Indonesia. Ya, walaupun cuma tiga jenis makanan, soto ayam, nasi goreng dan gado-gado. Meski sederhana tapi menurutku sangat enak. Di rumah makan ini aku memesan sate kambing dan apa ini? Jamu? Jamu beras kencur? Ah aku pesan ini saja. Tapi ku ingin dikasih es. Aku belum pernah minum jamu. Kalau sate, di Korea ada. Tentunya di rumah makan Indonesia. Harganya lebih mahal dari masakan asli Korea. Tapi harganya di sini malah jauh lebih murah. 3x lipat lebih murah. Waah aku bisa betah di sini.

Akhirnya perutku sudah kenyang. Apa sebaiknya aku kembali ke hotel ya? Tiiing… Ah, ponselku berbunyi. Pesan dari Jieun.
From: L. J
Jiyeon-a, jam berapa kau pulang? Ayo ke Bedugul. Chorong eonni sedang keluar dengan Siwan oppa.

Jiyeon menghela nafas. Mwo? Bedugul? Tempat apa lagi itu? Kenapa Jieun tidak minta Luhan untuk menemaninya? Kan Luhan tour guide mereka.

To: L. J
Yaak, Lee Jieun, kenapa kau tidak minta Luhan-ssi untuk menemanimu kr sana? Aku masih dalam perjalanan. Tidak tahu akan memakan waktu berapa lama. Kaau begitu kau tunggu saja di hotel.

From: L. J
Eoh, araseo. Kalau kau sudah dekat dengan hotel, hubungi aku. Aku akan menunggumu di depan hotel.

Aissh, di luar panas sekali. Aku ingin jalan kaki saja, tapi matahari tersenyum sangat indah di atas kepalaku. Tidak jadi, aku naik taksi saja. Kebetulan ada taksi lewat. Aku langsung menyetopnya. Di dalam taksi barulah terasa dingin. Aku meminta sopir menurunkan suhu AC nya sampai batas minimal. Kedua mataku dimanjakan oleh pemandangan di kanan dan kiri jalan raya. Ramai sekali. Dimana-mana bayak orang berjualan beraneka macam barang, terutama sovenir.
Sebentar lagi sampai di depan hotel. Akupun bersiap turun. Taksi berhenti, aku bayar biayanya, pintu taksi sudah kubuka, kakiku siap keluar lebih dulu.
Bruukk!
“Omo!” seruku.
“Jalan pak,” seru namja yang baru saja mendorongku masuk lagi ke dalam taksi. Dia seenaknya saja mendorongku. Aku kan mau turun. Kenapa dia malah mendorongku kembali ke posisi semula.
“Yaak,” teriakku tepat di depan telinga namja itu. Namja itu pun menoleh ke arahku. Mataku membulat sempurna. “Omo! Namja itu lagi… Hiish kurang ajar.”
“Yaak Park Jiyeon!” teriak Jieun yang berlari memburu taksi yang aku tumpangi bersama namja ini.
“Aigoo, aku harus turun Jieun sudah menungguku lama di sana,” gumamku. “Tolong hentikan taksi ini. Aku mau turun.” Aku menepuk-nepuk jok si sopir.
“Neo michyeoseo? Aku dikejar orang gay itu. Kenapa kau malah ingin berhenti di sini? Terus jalan pak.” Namja itu ingin berdebat denganku.
“Yaak, aku tidak ada urusan denganmu dan orang gay itu. Salahmu sendiri kenapa kau naik taksi ini. Harusnya kau menungguku turun dari taksi ini jika kau mau kabur bukannya malah mendorongku masuk ke dalam taksi. Aku tidak jadi turun. Haish, kasihan Jieun. Gara-gara namja ini, batal ke Bedugul.” Aku benar-benar kesal pada namja itu. Kulirik dia. Di bajunya ada nametag. Hmm aku penasaran, siapa nama namja ini. Kim Myungsoo? Nama yang lumayan bagus untuk orang yang menyebalkan seperti dia.
Jiyeon pov end.

Jiyeon terpaksa menuruti kemauan Myungsoo. Tapi pikirannya masih tertuju pada Jieun. Kriiing… Ada panggilan dari Jieun.
“Eoh, Jieun-a, mianhae. Jongmal mianhae. Kau lihat sendiri kan tadi saat aku mau turun dari taksi tiba-tiba seorang namja mendorongku kembali ke dalam taksi dan menerobos masuk. Aku tidak tahu ada dimana. Eottohke?”
Myungsoo melirik Jiyeon yang sedang berbicara dengan Jieun lewat ponselnya.
Ada perasaan sedikit bersalah di hati Myungsoo. Tapi apa boleh buat. Orang gay tadi mengejarnya sehingga ia terpaksa menerobos masuk ke dalam taksi yang masih ditumpangi oleh yeoja yang duduk di sampingnya.

Taksi berhenti di depan sebuah villa mewah milik Luhan. Villa itu nampak sepi. Jiyeon bingung harus kemana. Dia ingin kembali ke hotel naik taksi itu namun Myungsoo menarik lengannya. Mengajaknya masuk ke dalam vila. Jiyeon memberontak. Dia sama sekali tak mengenal namja yang mungkin namanya Kim Myungsoo.
“Yaak, apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku. Aku mau kembali ke hotel.” Jiyeon terus berontak namun Myungsoo tetap menarik lengannya, Jiyeon pun terpaksa menuruti kemauan Myungsoo. Jika tidak, tangannya pasti sudah lepas dari tubuhnya.
“Aku tidak akan menyakitimu. Kau duduk saja disitu.” Myungsoo menunjukkan deretan sofa warna cream pada Jiyeon danenyuruh yeoja itu duduk di sana. Kali ini Jiyeon menurut lagi.
Tak lama kemudian muncullah seorang yeoja dan dua orang namja dari pintu utama villa. Jiyeon terkejut karena ketiga orang itu adalah orang yang ia kenal. Semua yang berdiri di sana membelalakkan mata. Luhan, Hwayoung dan Lay baru saja tiba di villa. Sore ini, Myungsoo akan mengumumkan sesuatu. Maka dari itu, Hwayoung dan Lay datang lebih awal.
“Jiyeon-ssi, bagaimana kau bisa di sini?” tanya Luhan yang mendekati Jiyeon.
“Aku ke sini karena…”
“Aku yang membawanya ke sini.” Myungsoo menyela kata-kata Jiyeon.
“Jinjja?” tanya Luhan tidak percaya.
Jiyeon mengangguk pelan.
“Aku ingin mengumumkan sesuatu. Hyung, dugaanmu salah.”
Luhan mengerutkan kening, bingung. “Dugaan apa?” tanya Luhan. Hwayoung, Lay dan Jiyeon juga penasaran.
“Dugaanmu bahwa aku belum memiliki yeojachingu. Kau mengejekku pria yang kaku dan tidak laku. Sekarang aku umumkan pada kalian semua. Pasang telinga baik-baik.” Myungsoo memegang tangan Jiyeon. Yeoja itu tersentak kaget dan ingin melepaskan genggaman tangan Myungsoo namun tak berhasil.
“Dia adalah yeojachinguku,” ucap Myungsoo dengan sangat fasih dan jelas.
“Mwo?” Empat orang yang berada di sana membuka mulutnya serempak mengucapkan kata itu.
“Oppa, apa kau bercanda?” tanya Hwayoung.
“Kau pasti bercanda. Yaak, Myungsoo-a, sudahlah jangan bercanda,” timpal Lay.
“Siapa yang bercanda? Aku serius. Mulai hari ini dia resmi jadi yeojaku.”
Jiyeon bingung. Bagaimana bisa namja itu dengan seenak mulutnya mengatakan kalau mereka berpacaran? Gila. Ini benar-benar gila.
“Jeogi, aku akan kembali ke hotel. Terimakasih semuanya, an…”
“Kau mau kembali secepat itu?” tanya Myungsoo bersandiwara. Jiyeon menatapnya super tajam seperti ingin memakan namja bernama Kim Myungsoo itu.
“Jiyeon-ssi, jangan buru-buru. Tinggallah sebentar saja. Kami akan membuat pesta kecil-kecilan untuk.merayakan hari jadi kalian.
“Tidak perlu. Temanku sudah me…”
“Kau dengar kata Lay? Tinggallah sebentar chagi.” Lagi-lagi Myungsoo memotong pembicaraan Jiyeon. Chagi? Rasanya Jiyeon ingin muntah mendengar Myungsoo memanggilnya dengan sebutan itu.
“Mian, besok temanku akan ke Jogja. Jadi, aku harus menemaninya pergi kemanapun dia mau,” terang Jiyron agar dia bisa secepatnya keluar dari villa itu.
“Teman? Lee Jieun?” tebak Luhan.
“Ah, ne. Jieun akan melakukan penelitian di sana. Jadi besok dia alan berangkat ke Jogja. Tadi dia memintaku menemaninya pergi ke Bedugul tapi gara-gara seorang namja, rencananya gagal.” Jiyeon melirik Myungsoo dengan lirikan membunuh. Myungsoo menyipitkan matanya.
Setidaknya kali ini Myungsoo berhasil membuat Luhan percaya bahwa dia sudah punya yeojachingu. Kini tidak ada alasan lagi Luhan mengejeknya sebagai namja yang tidak laku. Justru Luhan lah yang belum memiliki yeojachingu. Meski hanya berpura-pura, Myungsoo merasa menang dari Luhan.

Jiyeon diantar kembali ke hotel oleh Luhan. Namja itu masih memiliki tanggungjawab sebagai tour guide karena Siwan menyewa jasanya selama sebulan penuh. Jadi selama itulah Luhan akan menemani Jiyeon, Chorong dan Siwan. Sedangkan Jieun, dia harus berangkat ke Jogja untuk.menyelesaikan penelitiannya. Jiyeon merasa kehilangan Jieun karena tidak bisa bersama-sama di Bali. Mereka sudah seperti keluarga, anhi, lebih tepatnya mereka seperti saudara kembar.
Selama sebulan di Bali, Jiyeon memanfaatkan waktunya untuk menyelesaikan penelitiannya. Dia bahkan dibantu oleh Chorong dan Siwan dalam menyelesaikan laporan penelitian itu. Chorong selalu memberikan semanga kepada dongsaengnya untuk segera menyelesaikan laporannya. Jiyeon pun semakin semangat apalagi jika ia mengingat namja bernama Kim Myungsoo yang mengaku-ngaku sebagai namjachingunya. Jiyeon semakin semangat menyelesaikan laporannya agar segera kembali ke Korea dan tidak bertemu lagi dengan Myungsoo. Dia sudah tidak ingin terlibat masalah dengan namja itu. Tapi kini, dia malah menjadi yeojachinu versi imitasi. Jiyeon benar-benar dibuat pusing oleh Myungsoo.

“Waah, sudah 90% selesai. Tak terasa juga waktu berputar begitu cepat. Sudah lebih dari tiga minggu kita di sini. Begitu laporanku selesai, kita kembali ke Korea, eonni. Aku senang sekali.” Jiyeon merebahkan tubuhnya di atas ranjang kamar VIP nya.
Kriiing…
“Jieun-a, akhirnya kau meneleponku. Laporanku hampir selesai. Eonni dan oppa membantuku menyelesaikannya. Empat hari lagi kami akan kembali ke Korea. Aku senang sekali.”
“Laporanku masih 50%. Mungkin aku akan tinggal lebih lama di sini. Apa kau tidak ingin menemaniku di sini?” tanya Jieun.
“Mian Jieun-a. Langgananku dan Chorong eonni mencari kami berdua. Kami memiliki tanggungjawab sebagai tenaga penjual jasa. Kau kan tahu itu. Mian… Oh iya, ah aku hampir lupa. Yaak, Jieun-a, aku ingin cerita padamu. Tapi sebelumnya apa kau mau percaya padaku?”
“Hiiish pabbo. Kau saja belum cerita. Bagaimana aku bisa percaya?”
“Oh iya, tapi setidaknya kau harus janji padaku bahwa kau akan percya ceritaku nanti.”
“Eoh. Palli!”
Jiyeon menceritakan hal-hal gila yang dialaminya bersama Myungsoo. Jieun tertawa terbahak-bahak di ujung telepon. Jiyeon mengerucutkan bibirnya.
“Yaak, kenapa kau malah tertawa? Apanya yang lucu?”
“Sepertinya sumpahmu nanti jadi kenyataan, Jiyeon-a.” Jieun melanjutkan tawanya.
“Semuanya akan segera berakhir.karena sebentar lagi aku kembali ke Korea. Hahaha… Senangnya…” Jiyeon menghibur dirinya dengan tertawa sendiri.

Malam ini Myungsoo masih menjalankan tugasnya sebagai tour guide. Dia telah melewati masa pelatihan dengan baik makanya dam waktu dua minggu pelatihan, ia.sudah dipercaya menjadi tenaga tour guide yang baru.
Saat hendak memasuki hotel Nusa Dua, dia melihat yeoja yang amat dikenalnya. Park Jiyeon sedang menikmati udara malam di depan hotel. Ia berjalan menjauh dari hotel. Myungsoo penasaran, akhirnya dia membuntuti Jiyeon.
Sedangkan Jiyeon, ia melihat sosok Luhan sedang duduk sendiri di kafe terbuka di dekat hotel. Jiyeon mengamati aktifitas Luhan dengan gelasnya. Tampan juga, batin Jiyeon.
“Luhan-ssi…” panggil Jiyeon lirih. Ia sudah berdiri di depan meja Luhan.
“Eoh, Jiyeon-ssi. Duduklah!” Luhan mempersilahkan Jiyeon dudum di kursi yang masih kosong.”
“Kau sedang apa di sini, Luhan-ssi?”
“Ah, aku hanya refreshing. Kau sendiri sedang apa di sini?” tanya Luhan balik.
“Aku tadi keluar untuk jalan-jalan sebentar. Saat lewat depan kafe ini, aku melihatmu sedang duduk sendiri di sini. Jadi, aku memutuskan untuk menghampirimu, Luhan-ssi.”
Jiyeon dan Luhan berbincang-bincang kafe yang terletak tidak jauh dari Nusa Dua hotel. Myungsoo menyaksikan dua orang itu dari kejauhan.
Luhan masih belum tahu bahwa sebenarnya Jiyeon dan Myungsoo hanya berpura-pura pacaran. Dia memperlakukan Jiyeon seperti adiknya sendiri karena memang menurutnya, yeoja itu pantas mendapat perlakuan demikian. Jiyeon mengatakan bahwa ia, Chorong dan Siwan berterimakasih pada Luhan yang telah menjadi tour guide nya selama di Bali. Dalam waktu tiga hari mereka akan kembali ke Korea. Karena tepat di akhir bulan, mereka harus sudah sampai di Korea. Banyak kerjaan yang menanti mereka di sana. Luhan hanya tersenyum tipis. Ia juga merasakan pergantian waktu yang begitu cepat. Rasanya baru kemarin dia menjemput rombongan Jiyeon. Tapi ternyata waktu sudah berjalan melewati banyak hari.
“Aku senang tinggal di sini. Tapi aku lebih senang tinggal di Seoul. Meskipun negara lain lebih indah dari negara kita, negara asal lebih menyenangkan dari negara manapun.
“Mungkin itu yang disebut nasionalisme,” kata Luhan.
“Eoh, ne.” Jiyeon memamerkan senyum manisnya. Menurutnya, Luhan jauh lebih hangat dibanding Myungsoo.
“Lalu bagaimana dengan hubungan kalian?”
Pertanyaan Luhan membuat Jiyeon harus memutar otaknya lebih giat untuk mencari jawaban yang tepat. Apa ini saatnya untuk berterus terang? Toh, dia kan sebentar lagi kembali ke Korea.
“Sebenarnya aku dan Myungsoo-ssi tidak pernah memiliki hubungan spesial. Bahkan kami baru saja saling kenal. Dia hanya berpura-pura.”
“Mwo?” Luhan terkejut mendengar pengakuan dari Jiyeon.

Jiyeon kembali ke hotel. Dalam perjalanan, dia teringat saat-saat bersama Myungsoo yang selalu membawa kesialan untuknya. Tapi di sisi lain, Jiyeon senang bisa mengalami semua hal konyol itu hingga membuatnya senyum-senyum sendiri. Di pintu masuk hotel, Jiyeon berhenti sejenak. Memandang hotel mewah di depannya. Ia tersenyum lagi. Tak terasa, ia harus meninggalkan hotel itu.
“Apa kau tidak ingin mengucapkan salam perpisahan padaku?” Myungsoo berdiri di belakang Jiyeon.
Jiyeon membalikkan badan. Ia sama sekali tak menyangka Myungsoo akan menemuinya.
“Eoh, aku pikir kau tidak mau bertemu denganku. Mari bicara sebentar,” ajak Jiyeon.
Myungsoo dan Jiyeon duduk di.kursi sofa di lobi depan hotel.
“Gomawo sudah membantuku berpura-pura menjadi yeojachinguku.”
Jiyeon tersenyum tipis. “Gomawo juga kau telah memberikan kenangan konyol untukku. Kau yang memulai sandiwara itu. Maka aku yang akan mengakhirinya.” Jiyeon mengulurkan tangan mengajak Myungsoo berjabat tangan. Myungsoo pun menerima uluran tangan Jiyeon.
“Gurae, sandiwara kita telah berakhir. Gomawo.” Myungsoo tersenyum. Baru kali ini Jiyeon melihat senyum namja itu.

Hari ini, Jiyeon, Chorong dan Siwan kembali ke Korea. Mereka masih menunggu keberangkatan beberapa menit lagi. Barang-barang sudah dicek. Pesawat yang akan membawa mereka ke Korea baru saja mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai. Sebelum berangkat, Jiyeon merasa ingin buang air kecil. Ia pun segera mencari eonninya yang duduk tidak jauh darinya.
“Yaak, kau mau kemana?” tanya Chorong.
“Eonni, titip tas dulu. Aku ingin ke toilet sebentar saja.”
“Tapi sebentar lagi kita berangkat.”
“Sebentar saja eonni. Aku sudah tidak kuat.” Jiyeon berlari mencari toilet terdekat. Ketemu. Saat di dalam toilet, ia mendengar pemberitahuan bahwa pesawat menuju Korea akan lepas landas dalam waktu lima menit. Sebagian penumpang sudah berada di pesawat. Namun Chorong dan Siwan masih menunggu Jiyeon yang sibuk di toilet. Acara di toilet sudah selesai. Jiyeon kembali menemui Chorong. Tiba-tiba ia teringat ponselnya tertinggal di toilet. Jiyeon ingin kembali ke toilet untuk mengambil ponselnya namun Chorong melarangnya. Jiyeon bersikeras mau mencari ponselnya. Di dalam ponsel itu ada beberapa softfile berkas penting. Jadi ponselnya harus ketemu.
“Eonni duluan saja. Tolong bawa barang-baragku juga. Nanti aku menyusul di pesawat.”
Jiyeon hanya membawa dompetnya berlari menuju toilet. Ponselnya tidak ada. Jiyeon sudah mencarinya di setiap sudut tapi hasilnya nihil. Terdengar lagi pemberitahuan bahwa pesawat menuju Korea sedang lepas landas. Jiyeon berlari sekuat tenaga untuk mengejar ketertinggalannya.
“Eonniiiii! Eonnniii!” teriak Jiyeon memandang sedih pesawat yang baru saja tinggal landas. “Eonnii!” Jiyeon berteriak memanggil eonninya sampai suaranya parau. Tak pernah terbayangkan. Kini dia tertinggal di bandara hanya membawa sebuah dompet yang berisi uang Won. Jiyeon terduduk lemas. Ia tak tahu harus.bagaimana. Airmatanya meleleh.
“Eonni… Chorong eonni…” lirihnya.
Seorang namja mendekatinya. Mengulurkan tangan padanya,”Ireona. Percuma kau menangis.”

Tbc.

45 responses to “[CHAPTER – PART 3] LOST IN BALI

  1. Oh man. Knp Myungyeon hanya acting aja berpacaran?😦 Tapi kesian Jiyeon ditinggalkn pula. Siapa aja yg menebus jiyeon?

  2. Pingback: [Chapter - Part 7] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [Chapter - Part 6] Lost In Bali | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [CHAPTER - PART 5] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s