[CHAPTER – PART 7] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIMEPart Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5] [6]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

“Bayi ini harus dibunuh. Dia tidak boleh hidup. Jika dia hidup, malapetaka akan melanda Korea Selatan selamanya.” Haeri menusukkan benda tajam ke.dada kiri bayi So Jin. So Jin dan satu orang pelayannya berteriak histeris. Bayi yang tadinya menangis keras, kini hanya terdiam, matanya tertutup.

Di kamar itu banjir airmata. So Jin mengambil bayinya dari tangan Haeri. Tuan Park tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya pasrah. Sebenarnya ia ingin mengabaikan ramalan itu karena di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, tuan Park sangat menyayangi bayi itu. Tuan Park terlalu takut jika ramalan itu benar-benar terjadi.

So Jin menatap sedih pada bayi yang kini berada di gendongannya. Baru saja ia menghirup udara di dunia, kini bayi itu harus meninggalkan kehidupan yang akan dimulainya. Tuan Park juga sangat sedih. So Jin tidak ingin jenazah bayinya dikuburkan. Ia yang akan mengurus jenazah bayinya itu

So Jin dan Kim Taehee membawa bayi itu keluar rumah. Taehee membawa anak laki-lakinya. Sedangkan So Jin membawa bayi yang nyawanya baru saja direnggut oleh Haeri. Malam sudah sangat larut. Kedua yeoja yang menggendong anaknya masing-masing berjalan menyusuri lorong-lorong jalan pintas menuju ke jalan besar. Di depan sebuah minimarket, So Jin menghentikan langkahnya.

“Ada apa, nyonya?” tanya Taehee yang tidak tahu alasan So Jin mendadak berhenti.

So Jin menoleh kanan-kiri mrlihat keadaan sekitarnya. Sepi. “Taehee adalah satu-satunya saksi mata dari pelayan yang melihat Haeri membunuh putriku. Kini kau akan menyaksikan aku membuang bayi ini. Aku tidak akan tega mengubur bayi ini.” So Jin meneteskan airmata untuk yang kesekian kalinya. Taeyeon pun ikut larut dalam kesedihan majikannya. “Aku memberi nama bayiku ini Park Jiyeon. Semoga ada seseorang yang segera menemukannya dan ia bisa bertahan hidup. Aku akan meletakkan bayi ini di dalam mobil box itu.” So Jin memang sengaja berhenti di dekat mobil box itu karena ia ingin membuang bayinya di sana.

“Nyonya, tolong biarkan putra eonniku bersama putri Anda supaya dia bisa menjaga putri Anda. Ini adalah amanat dari Taehee eonni tadi sebelum kita keluar dari rumah.”

So Jin menatap Taeyeon dalam-dalam. Pelayannya yang satu ini benar-benar loyal padanya. Ia dan eonninya, Kim Taehee berkali-kali menunjukkan loyalitasnya. So Jin juga menatap putra Taehee, putra semata wayangnya, Kim Jaejoong.

So Jin meletakkan bayinya di dalam mobil box, disusul Jaejoong yang juga naik dan masuk ke dalam box mobil itu. Kedua yeoja yang berdiri di belakang mobil box meneteskan air mata. Sesaat kemudian mereka melangkah pergi. Sesekali menoleh ke belakang. Melihat kedua anak yang baru saja dibuang.

“Semoga kalian bisa bertahan hidup,” ucap So Jin lirih.

Flashback end.

So Jin membasahi wajah cantiknya dengan airmata yang sedari tadi tak henti-hentinya mengalir bagai air sungai Han. Haeri yang melihatnya malah tersenyum sinis.

“Putrimu pasti sudah mati. Sudahlah, orang yang sudah mati jangan kau tangisi lagi.”

So Jin menatap Haeri tajam, ekspresinya sedingin es. “Kau yang sudah membunuh putriku. Apa kau masih belum puas?”

Haeri tersenyum sinis. “Jadi kau masih berharap putri kesayanganmu itu masih bisa bertahan hidup? Kau hanya membuang-buang waktu dan pikiran.”

“Keumanhe!” teriak So Jin. “Keluar dari kamarku sekarang. Aku mohon.”

Haeri tak menghiraukan kata-kata So Jin. Akhirnya So Jin melangkah keluar dari kamarnya. Dia sudah tak tahan melihat Haeri berlama-lama. Rasa sakit hatinya bertahun-tahun sama sekali belum sembuh. Ia sangat ingin bertemu dengan putrinya. Hatinya mengatakan bahwa putrinya masih hidup, masih bisa tersenyum, ia juga masih memiliki kesempatan dipanggil ‘eomma’ oleh putrinya. Tapi, apakah itu semua benar? Jika mengingat semuanya hanya angan-angan dan firasat, So Jin merasa sangat tersiksa. Batinnya tersiksa. Dadanya terasa sesak. So Jin yang baru keluar dari kamarnya, kini berada di dapur. Menuangkan air putih di gelasnya, meneguknya dan mengingat kata-kata Haeri. Tiba-tiba Soo Hee muncul dari balik pintu. Membuyarkan lamunannya.

“Eomma, kenapa eomma ada di sini?”

“Ah, anhiya, chagi. Eomma hanya merasa sangat haus. Makanya kemari.”

“Eomma, apa aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tentu saja boleh. Tanyakanlah.” So Jin meletakkan gelasnya di meja makan, di depannya.

“Apakah eomma pernah mendengar nama Jung Kyung Ho?”

Jlegeer!!

So Jin tak menyangka putrinya akan menanyakan hal itu padanya. Ia pun bingung bagaimana harus menjelaskannya.

“Soo Hee-a, kenapa kau menanyakan nama itu?”

Soo Hee terdiam sejenak. Ia menatap So Jin dengan lembut. “Eomma, orang yang bernama Jung Kyung Ho adalah pemilik senjata yang dibawa oleh warga Korut yang kita tangkap.”

“Mwo?” So Jin sangat terkejut. “Bagaimana bisa?”

“Molla. Aku juga bingung. Yang aku tahu, Jung Kyung Ho adalah seorang guru bela diri di Korut. Putra presiden Kim adalah salah satu muridnya.”

So Jin tambah kaget. Jung Kyung Ho, dia adalah mantan jenderal terbaik dan paling teladan di Korsel. Setelah putrinya Jiyeon dikabarkan meninggal dan jenazahnya dibuang, Jung Kyung Ho juga menghilang. Ada kabar bahwa ia telah tewas karena bunuh diri dengan meminun racun. Tapi sekarang, fakta mengatakan bahwa Kyung Ho adalah pemilik senjata itu. Apa maksud dari semua ini?

“Eomma…”

So Jin tersentak kaget. “Eoh, Soo Hee-a, maukah kau membantu eomma?” So Jin memegang kedua lengan Soo Hee.

“Mworago?”

“Eomma akan mengatakannya besok. Saat ini yang terpenting adalah kau bersedia membantu eomma.”

Soo Hee mengangguk pelan.

Hari ini Gongju mendapat libur satu hari dari Myungsoo. Gongju menggunakan waktu liburnya untuk menikmati momen-momen dengan keluarganya. Setelah bangun tidur, Gongju membantu Taeyeon dan Soo Min menyiapkan makanan. Ia juga menyukai kegiatan itu. Memasak adalah sesuatu yang menyenangkan seperti berlatih pedang.

“Jeogi, Gongju-a, bagaimana hasil negosiasi dengan pihak Selatan?” tanya Taeyeon yang ingin mengetahui nasib Kyung Ho.

Ekspresi Gongju berubah sedih. “Mollaseoyo, ahjumma. Myungsoo oppa belum meceritakannya kepadaku. Kemarin dia terlihat sangat frustasi. Sepertinya beban pikirannya terlalu berat.” Gongju melanjutakan mengiris tomat.

“Kyung Ho pasti bisa mengatasinya. Tapi sudah dua hari ini dia belum menampakkan batang hidungnya,” kata Soo Min.

“Ahjumma, apakah kau tahu dimana Kyung Ho saem berada selain di rumahnya?” tanya Gongju pada Soo Min.

“Eoh. Akan aku beritahu nanti.”

Gongju bersiap pergi ke tempat gurunya. Tiba-tiba Jaejoong memanggilnya untuk berlatih pedang. Gongju bingung, alasan apa yang akan ia katakan pada Jaejoong untuk menolak ajakan oppanya itu. Jaejoong sedikit curiga dengan gelagat Gongju yang tidak seperti biasanya. Biasanya, kapanpun Jaejoong mengajak latihan bela diri apapun, Gongju selalu menurutinya. Tapi sekarang hal itu tidak berlaku.

“Mianhae oppa. Aku ada sedikit urusan di luar. Kita akan latihan nanti sore. Eotte?” Jaejoong mengangguk.

“Gurae. Pergilah.”

Gongju pergi meninggalkan Jaejoong yang menatap punggungnya, makin lama makin menghilang. Jaejoong berniat membuntuti kemana Gongju pergi, tapi ia mengurungkan niatnya karena ingat bahwa ia punya janji dengan seorang jenderal, ya, jenderal Lim.

Gongju mencari alamat yang tertulis di atas secarik kertas. Jung Soo Min memberitahu Gongju dimana alamat Kyung Ho selain alamat rumahnya. Gurunya lebih memilih tinggal di tempat lain jika terjadi sesuatubyang tidak diinginkan seperti saat ini. Sesampainya di depan sebuah apartemen, Gongju menyipitkan matanya untuk melihat puncak apartemen itu dari bawah. Pasti ini tempatnya, batin Gongju.

Tanpa mengunggu lama, Gongju mengayunkan kakinya memasuki apartemen itu. Lantai 3, kamar nomer 215. Ketemu.

Gongju baru saja menemukan apartemen Kyung Ho. Ia tidak langsung mengetuk pintunya. Gongju diam sejenak untuk menyiapkan maksud tujuannya datang ke sana.

Tok tok tok…

Tak ada sahutan dari dalam. Gongju mengetuk pintu itu lagi.

Tok tok tok…

Masih tak ada jawaban. “Apakah Kyung Ho saem tidak ada? Tapi kemana?” gumam Gongju. Ia memberanikan diri membuka knop pintu. Terbuka. Gongju mengerutkan keningnya. Pintu apartemen gurunya tidak dikunci. Gongju masuk ke dalam kamar apartemen milik gurunya itu pelan-pelan. Di balik bajunya, ia sudah menyiapkan pedang kesayangannya. Gongju memperhatikan keadaan sekitarnya. Rapi. Tidak ada tanda-tanda adanya aktivitas yang terjadi di kamar ini. Gongju mulai curiga.  Gongju tidak akan menyerah jika menyangkut keselamatan orang-orang yang disayanginya. Gongju duduk terdiam di atas kursi yang terletak persis di samping pintu. Tiba-tiba ia mendengar suara langkah seseorang yang semakin dekat.

Cekleeek…

pintu apartemen Kyung Ho saem terbuka. Gongju bersembunyi di dalam lemari pakaian. Ia sengaja tidak menutup pintu lemari itu rapat-rapat karena ingin melihat siapa yang datang. Kyung Ho saem, batinnya.

Jung Kyung Ho terlihat sedang sibuk mencari sesuatu namun usahanya gagal. Dua orang namja mendatangi apartemennya. Gongju yang melihat dari dalam lemari pakaian tetap berdiam diri. Ia tidak ingin keluar dari tempat persembunyiannya karena hal itu dapat membahayakan gurunya. Urusannya pasti akan rumit. Kyung Ho dan dua namja itu berkelahi mati-matian, tiba-tiba salah satu dari dua namja itu mengeluarkan revolvernya dan menembakkan satu tembakan ke arah Jung Kyung Ho. Gongju membelalakkan matanya, menutup rapat-rapat mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia ingin keluar menyelamatkan gurunya. Tapi ia ragu. Bagaimana jika dia keluar, mereka malah membunuh gurunya. Akhirnya Gongju hanya menatap sedih gurunya yang tidak sadarkan diri itu dibawa keluar dari kamar apartemennya. Gongju segera berhambur keluar. Ia berniat membuntuti namja yang membawa gurunya pergi. Dengan berlari kecil, Gongju membuntuti mereka. Tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celana. Menggenggam sebuah pisau lipat untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Gongju sangat berhati-hati karena mereka membawa senjata api. Mereka masuk ke gang kecil yang berjarak 1 km dari apartemen Kyung Ho. Gongju menghentikan langkahnya di belakang sebuah mobil yang hanya berjarak beberapa meter dari para namja itu. Rupanya seseorang telah menunggu mereka di sana. Jung Kyung Ho dimasukkan ke dalam mobil sedan hitam. Kemudian mereka mulai bercakap-cakap dengan suara lirih. Gongju tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang mereka perbincangkan.

“Bawa dia ke hadapan nyonya. Beliau pasti senang dengan hasil pekerjaan kalia,” kata namja yang menunggu kedatangan dua orang namja yang membawa Jung Kyung Ho. Mereka pun berjalan mendekati mobil yang di dalamnya ada Kyung Ho.

Gongju mengerutkan keningnya. Nyonya? Nugu? Ia mengayunkan langkahnya, satu langkah. Namun tiba-tiba seseorang memegang bahunya. Gongju membalikkan badan. Ia terkejut melihat seseorang yang kini berdiri di depannya. Kim Jaejoong, berdiri dengan tatapan tajam.

“Jangan gegabah.”

“Tapi oppa, mereka membawa songsaenim.”

“Aku tahu. Aku sangat yakin kau mampu melumpuhkan mereka semua dengan ayunan pedangmu.” Jaejoong melirik pedang Gongju yang ia sembunyikan di balik baju dan dirangkapi jaketnya. “Bersabarlah. Mereka menggunakan taktik licik untuk menangkap Kyung Ho saem. Maka kita juga harus melakukannya. Jika kau menghajar mereka sekarang, urusannya akan bertambah runyam. Lebih baik sekrang kau ambil bukti. Igeo.” Jaejoong memberikan ponselnya pada Gongju untuk mengambil gambar para pelaku itu dengan rekaman video.

Kim Myungsoo, memejamkan kedua matanya yang lelah membaca beberapa berkas penting dan menatap layar laptop dalam waktu lama. Kepalanya masih terasa berat.

Ceklek…

Pintu terbuka. Myungsoo kaget. Dilihatnya pintu yang terbuka itu. Sejurus kemudian muncullah yeoja cantik dengan ekspresi yang tidak seperti biasanya. Ia terlihat mengkhawatirkan sesuatu atau lebih tepatnya mengkhawatirkan seseorang.

“Oh, chagi, bukankah hari ini aku meliburkanmu?” sambut Myungsoo.

“Oppa, jebal, ceritakan hasil negosiasi kemarin padaku. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa pada Kyung Ho saem.”

“Eoh, tenanglah. Ceritakan ada apa?” pinta Myungsoo.

Gongju menarik nafas dalam-dalam. Ia mulai menceritakan apa yang membuatnyasangat khawatir pada gurunya itu. Kini ia tidak tahu harus mencari gurunya kemana, mungkin Myungsoo mengetahui sesuatu. Setelah mendengar cerita dari Gongju, Myungsoo segera menghubungi jenderal Lim yang bertugas di perbatasan untuk memastikan bahwa tidak ada orang Selatan yang melampaui batas itu. Untuk saat ini wilayah perbatasan dijaga super ketat setelah adanya negosiasi kemarin. Jenderal Lim mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang melewati garis perbatasan. Baik tentara Utara maupun Selatan berjaga ketat di wilayah itu.

“Tidak ada seorang pun yang melewati perbatasan. Waeyo?” tanya Myungsoo pada Gongju yang baru saja duduk di sofa langganannya.

“Kyung Ho saem ditangkap oleh orang-orang yang tidak dikenal. Mereka menyebutkan kata ‘nyonya’. Pasti nyonya itu yang menyuruh mereka.”

“Apa mereka bukan mata-mata?”

“Oppa, aku melihatnya sendiri, para namja itu menerobos masuk ke dalam apartemen Kyung Ho saem. Kemudian mereka berkelahi dan salah satu dari dua namja itu menembakkan pelurunya ke dada kanan Kyung Ho saem.”

Myungsoo menjadi tegang. Ia sama sekali tidak menduga hal ini akan terjadi. “Hasil negosiasi itu, Selatan harus menyerahkan dua warga kita beserta alat buktinya kepada kita. Imbalannya adalah, Utara tidak akan menyerang Selatan apapun alasannya. PM Lee dan aku sudah menyetujuinya. Tapi kenapa jadi begini? Dalang di balik penangkapan Kyung Ho saem pasti orang Selatan.”

Gongju makin bingung. “Apa Jaejoong oppa mengetahui sesuatu?” lirih Gongju.

“Apa maksudmu?” tanya Myungsoo.

“Si nyonya itu. Mungkin Jaejoong oppa tahu tentang nyonya itu.”

Malam ini Soo Hee berniat menyamar lagi sebagai pelayannya untuk bisa masuk ke Utara. Namun para penjaga di perbatasan tidak mengizinkannya untuk melampaui garis perbatasan itu. Siapapun tidak boleh melintas, kecuali atas perintah presiden. Soo Hee pun menggunakan ide gilanya untuk bisa lolos ke Utara. Yang namanya Soo Hee pastilah punya beribu cara untuk mewujudkan segala keinginannya yang bertumpuk di kepala.

tbc

Leave comment please…

Gomawo chingu…🙂

51 responses to “[CHAPTER – PART 7] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s