Paper Heart

paperheart

Paper Heart

| by Shaza | Myungsoo & Jiyeon | 1000+ words of romance and fluff |
I found the poster—randomly—on Google.

.

I seem to be strong on the outside but my heart like paper

.

“Happy first anniversary,” itu sepotong kalimat yang berdenging di kepala Myungsoo sore itu. Suasana kelas yang begitu senyap membuat telinganya menampung desau angin sore di musim gugur. Ia mendesis kecil, merasakan sunyinya kelas telah membuat kepalanya dirasuki kalimat Jiyeon siang tadi.

Ini hadiah anniversary dariku. Jam tangan couple, kupikir kita belum memiliki benda couple sejak setahun yang lalu.” Lantas kekehan kecil yang manis turut menghiasi ujung kalimat Jiyeon siang itu, kalimat yang kini masih mendesing tajam di telinga Myungsoo. Myungsoo membuang napas, tak menyangka bahwa hari ini—hari ulang tahun kebersamaan mereka—akan menjadi hancur di detik berikutnya.

Di detik ketika dirinya tiba-tiba mendengar jeritan seorang senior yang menyatakan cinta padanya. Di kala itulah, sorot mata Jiyeon beralih sendu, merasa telinganya kurang berkenan mendengar jeritan itu.

Aku ke kelas dulu.” Dan itu adalah kalimat terakhir yang dilempar oleh Jiyeon, sesaat setelah gadis senior itu menyerukan pernyataan cintanya secara terang-terangan di depan penjuru kantin. Myungsoo mengerjap setelahnya, tak paham mengapa Jiyeon tiba-tiba saja mengatupkan bibirnya rapat-rapat, dan menjauh darinya.

Sore ini, Myungsoo menyadari bahwa tingkah laku yang dituding oleh Jiyeon adalah fakta tunggal mengenai teremuknya hati gadis itu, tersebab oleh pernyataan cinta seorang senior siang tadi. Myungsoo mengaku, di hari ulang tahun kebersamaan mereka, Myungsoo belum sempat mengucap selamat, apalagi menyampaikan sesuatu berlabel hadiah.

Ia tak dapat berbuat hal lebih untuk kembali menarik atensi gadisnya kini. Pria itu mendesah berat, merentangkan tangannya ke atas. Maniknya bergulir menuju penjuru ruang kelasnya yang telah lama senyap, tak terisi oleh teman-teman sekelasnya.

Myungsoo menunduk, menyejajarkan wajahnya pada permukaan meja belajar yang rata. Di atas sana, tersusun lembaran kertas origami warna, sisa kegiatannya dalam mata ajar seni beberapa menit yang lalu. Myungsoo memandang kertas itu lama, berusaha menyerap ide untuk kembali menarik Jiyeon.

.

.

Jiyeon tersadar, ia telah lama mengikis detik yang terus beranjak menjadi menit itu di dalam kelas. Membiarkan angin musim gugur seolah mengetuk ringan kaca jendela kelas yang sunyi, sementara sepasang maniknya memaku layar ponsel.

Harap-harap nama Myungsoo akan tergores di dalam layar sana, namun meski ponselnya telah mengindikasikan tanda baterai lemah, langit kota melunturkan warna biru, serta detik jam dinding telah bergelincir mulus ke arah masa yang lebih lama, tetap saja nama Myungsoo tidak berada di daftar orang yang mengontaknya.

Jiyeon mendecakkan lidah. Memahami kondisi saat ini, ialah satu-satunya orang yang telah membuat hari jadi mereka hancur, tak tertata sesuai dengan lajur yang ia inginkan. Ialah orang yang justru menjauhi Myungsoo, sementara pria itu tak mengecap salah sama sekali.

Gadis itu meletakkan sisi wajah bagian kirinya di atas permukaan meja, memandang pintu kelas yang tertangkap jauh di indra penglihatannya. Ia berusaha menaksir adanya pergerakan di pintu tersebut, lantas menampilkan sosok Myungsoo di balik sana, namun—tak lama, ia tersadar bahwa hal itu hanyalah sebuah ilusi yang singgah di kepalanya.

Jiyeon merutuk, hatinya begitu serupa dengan lembaran kertas. Ketika terpatut singgungan kecil, seluruh permukaannya akan hancur, robek. Sama halnya dengan hatinya kini. Baru saja Jiyeon akan menutup sepasang kelopak matanya, menyusur alam mimpi, jika bukan karena suara pintu yang tergeser mengusiknya.

Ia mengangkat kepala, lantas mengarahkan manik tepat pada pintu kelasnya yang tergeser dari luar. Jantungnya berdebar keras. Sembari menanti sosok dibalik pintu itu, Jiyeon menekan bibirnya, mengukir lekukan tipis di sana.

“Jin,” suara dalam itu mengejutkannya. Jiyeon spontan bangkit, membiarkan helaian rambut yang sebelumnya merekat di bahunya kini menjuntai jatuh ke punggung. Ia mengerjap, tidak menyangka bahwa ilusinya akan menjadi nyata dalam sekejap.

Setelahnya, sosok jangkung bersurai kelam menyembulkan tubuh ke dalam kelas Jiyeon. Gadis itu mengangkat alis, mendapati gestur gugup yang ditunjukkan oleh pria tersebut, Myungsoo.

“Myungie? Kau—”

“Aku tahu, aku bodoh. Kau boleh menjambakku, memukulku, dan bahkan menamparku setelah ini.” Myungsoo memotongnya cepat, tak mengizinkan Jiyeon untuk menyelesaikan kalimatnya. Kalimat dari pria itu lantas mengukir kerutan samar di dahi Jiyeon, menuai ekspresi bingung.

Pria itu melangkah mendekat. Langkah kakinya terdengar menggema di antara lingkup kelas yang sunyi dan senyap. Sementara, langit kota mulai menjingga dan cicit burung gereja mewakili keheningan yang tenang di sore itu, Myungsoo mengangsurkan tangannya ke arah Jiyeon.

Sesaat, tubuh jangkung Jiyeon membeku selagi maniknya menyorot selembar kertas berpola hati di tangan Myungsoo. Ia mengedip sekali, membiarkan Myungsoo menjelaskan maksud dari ketertibaan gerakan tersebut.

“Aku lupa memberimu hadiah anniv,” gumamnya, nyaris tertelan angin sore dan tak masuk ke dalam pendengaran Jiyeon. Gadis itu melangkah perlahan mendekati pria kesayangannya, menciptakan dua langkah sebagai jarak di antara tubuh mereka.

Jemari gadis itu teracung ke depan, menerima sodoran tangan Myungsoo. “Are you serious, Myung?” Jiyeon memandang pola kertas hati yang terbentuk melalui bantuan gunting tersebut, lantas mengusapnya. “You give me a paper heart as a gift?” Jiyeon menyambung pertanyaan ambigunya dengan wajah yang terarah pada paras Myungsoo.

Pria di hadapannya mengerjap, “Yes, why? You don’t like it? Okay, then. I’ll buy a real gift for you,” tangan Myungsoo baru saja akan kembali merampas kertas berbentuk hati di genggaman Jiyeon, jika bukan karena gadis itu sendiri yang menyembunyikannya di balik punggung. Myungsoo memaksa tulang lehernya untuk tergerak ke arah wajah sang kekasih.

Ditemukannya senyum kecil yang tersungging di bibir gadis itu. “No, Myung. Who says i don’t like it, hm?” Jiyeon menedesak tubuhnya untuk lebih ke depan, lantas tertawa lepas ketika maniknya merekam wajah bingung Myungsoo. Dalam diam, Jiyeon menyimpan kertas hati-nya di dalam saku.

You’re just sostupid.” Dan, terkadang, Jiyeon merasa bahwa kebodohan Myungsoo itulah yang membuatnya tak pernah bosan berada di dekat pria itu. Ia menggeleng sesaat, sebelum akhirnya kembali tergelak keras, menertawakan wajah dungu kekasihnya.

Ia spontan menubruk tubuhnya ke dalam dekapan Myungsoo, tak mengajukan permintaan terlebih dahulu, tanpa persetujuan. Gadis itu memejam, “Thanks, Myungie.” Gumam Jiyeon, cepat tertangkap oleh pendengaran Myungsoo. Pria itu mengukir senyum seraya turut mendekap kekasihnya.

Well, it’s just a heart. Made of paper, anyway.” Myungsoo membalas dengan wajah yang didesaki oleh hawa kebahagiaan. “Bukan kertas ini, bodoh. Tapi—” sejenak setelah Jiyeon memukul punggung Myungsoo, ia mendongak, memaksa maniknya untuk bersitatap dengan netra bundar Myungsoo.

“—for all the things that you’ve given to me. Thanks. What would i do without you?” dan tak berada di jarak yang jauh dengan perasaan Jiyeon, hati Myungsoo pun turut menghangat kala mendengar kalimat yang termartil dari bibir Jiyeon. Ia merasa…dihargai.

Anytime, sweetheart.”

Sore musim gugur yang manis bagi keduanya. Angin sore menuntun mereka menuju sebuah gerbang kesadaran, bahwa cinta mestilah membutuhkan waktu dan proses. Kesalahpahaman akan selalu hadir di antara sebuah hubungan, dan hal itu menyimpan pelajaran untuk saling bersabar dan memahami.

Pada kenyataannya, hati Jiyeon tidaklah serapuh kertas.

.

.

/fin./

.

.

Such a stuck idea T^T

Tahu deh, ini emang absurd. Weirdo sumpah. Cuma mau bikin fluff, tapi sepertinya gagaaaaaal. Eh, maafin ya. Soalnya entar aku bakal pergi ke kampung inggris, jadi yah… sebagai goodbye stage, kubikin vignatte ini aja. Jangan pada kangen yaaa /tamploshaza/

34 responses to “Paper Heart

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s