[CHAPTER – PART 2] LOST IN BALI

LOST IN BALI 1Part sebelumnya:

[1]

Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Pesawat menuju Indonesia lepas landas dengan lancar. Para penumpang mulai menikmati pemandangan dari atas awan. Beruntung hari ini cerah. Jadi keberangkatan pun tidak mengalami penundaan seperti bulan kemarin.
Jiyeon dan Jieun menikmati perjalanan mereka dengan main batu-kertas-gunting. Siapa yang kalah harus mendapat hukuman. Sangking asyiknya, mereka tidak sadar bahwa sedari tadi keduanya diperhatikan oleh seorang namja berwajah dingin karena mereka terlalu berisik. Jieun yang menyadari hal itu langsung memberi isyarat pada Jiyeon untuk tutup mulut. Jiyeon yang tidak mengerti maksud Jieun, membulatkan matanya.
“Yaak, kita sedang diawasi oleh namja itu,” bisik Jieun pada Jiyeon yang medekatkan telinganya ke arah Jieun.
“Mwo? Nugu?”
“Issh, pabbo. Mana aku tahu? Memangnya aku kenal siapa lagi jia bukan kau, eonni dan oppa?” Jieun sedikit kesal karena sikap Jiyeon.
“Eoh, araseo, araseo. Namja itu kenapa menatap kita terus-terusan? Hah, aku sumpahi dia jatuh cinta padaku.” Jiyeon membenahi posisi duduknya.
“Yaak, seenaknya saja kau mengucapkan sumpah.”
“Wae? Kalau benar terjadi juga tidak apa-apa. Ngomong-ngomong dia lumayan tampan.” Jiyeon tersenyum puas. Jieun malah menggelengkan kepalanya. Heran atas sikap Jiyeon.

Beberapa jam kemudian. Di bandara Ngurah Rai, Bali.
Jiyeon, Jieun, Siwan dan Chorong bingung mau kemana. Diantara mereka berempat yang menguasai bahasa Indonesia hanyalah Siwan. Itupun masih tergolong awam. Jiyeon dan Jieun malah bengong tak tahu apa yang harus dilakukan. Sekilas Jiyeon melihat namja yang menatapnya di pesawat.

Jiyeon pov.
Omo, bukankah itu namja yang tadi menatapku setajam silet saat di pesawat. Hmmm ternyata dia dijemput seorang yeoja cantik dan tinggi.
“Annyeonghaseo…” sapa seorang namja tampan, ah bukan. Cantik. Ya, menurutku namja ini cantik.
“Annyeonghaseo…” balas Chorong eonni, Jieun dan Siwan oppa kompak. Aku masih terpaku mengagumi makhluk namja cantik itu.
“Joneun Luhan Xi imnida. Aku adalah tour guide rombongan Anda.” Namja itu mengenalkan dirinya. Waah tour guide setampan ini? Bahkan dia.lebih tampan dari Halyu Star.
“Luhan-ssi, setelah ini kita harus kemana?” tanyaku dengan polos. Sontak, ketiga orang yang datang dari Korea bersamaku pun menoleh. Aku malah bingung dengan sikap.mereka. “Wae?” tanyaku pada mereka. “Aah, aigo, aku lupa. Nan Park Jiyeon. Ini eonniku Park Chorong, sahabatku Lee Jieun dan ini namjachingu eonni, Im Siwan.” Lagi-lagi dengan polosnya aku mengenalkan mereka semua pada namja bernama Luhan. Omo, Luhan? Seperti nama yeoja saja…
Luhan-ssi menuntun kami untuk naik taksi. Chorong eonni dan Siwan oppa naik taksi yang belakang. Sedangkan sisanya, aku, Jieun, dan Luhan-ssi naik taksi yang depan. Jieun kelihatan terpesona dengan wajah tampan Luhan-ssi. Akupun hanya berdecak lirih. Saat taksi melaju pelan, aku tidak sengaja melihat namja di pesawat tadi bersenda gurau dengan yeoja yang menjemputnya. Mereka masuk ke mobil. Setelah itu aku tidak tahu. Mereka sudah tidak terlihat lagi.
Jiyeon pov end.

“Luhan-ssi, di hotel manakah kita akan menginap?” tanya Jieun.
“Hotel Nusa Dua Bali. Kalian pasti akan suka berada di sini,” kata Luhan dengan senyum termanisnya.
Double Ji (Jiyeon dan Jieun) pun saling menatap.
Entah apa nama hotelnya yang penting nyaman dan fasilitasnya lengkap, pikir Jiyeon.

“Sudah sampai.” Luhan membuka.pintu taksi.
Double Ji pun menyusul keluar dari taksi dan menyeret koper mereka masing-masing yang kemudian disambut oleh dua orang namja asli Indonesia yang bertugas membawakan barang-barang mereka.

Myungsoo menanti kedatangan Luhan. Meski saat di bandara ia telah bertemu dengan hyungnya itu, rasa rindunya harus ditahan karena Luhan sedang melaksanakan tugasnya sebagai tour guide.
Cekleeek…
Pintu utama villa mewah milik keouarga Luhan terbuka. Muncul sosok namja yang rupawan, siapa lagi kalau bukan Luhan sang pemilik villa.
Mendengar pintu terbuka, Myungsoo berhambur menemui Luhan di ruang santai.
“Hyung!” panggil Myungsoo yang langsung mendapat respon dari pemilik status yang baru saja ia serukan.
“Eoh, mian tadi aku harus bertugas. Maklum saja, tour guide di sini jarang yang fasih dan lancar bahasa korea dan bahasa China. Kau sudah mandi?” tanya Luhan yang sedang menuangkan air putih ke dalam gelas yang dipegangnya.
“Eoh,” jawab Myungsoo singkat. “Oh ya, hyung, apa kau sudah mengirimkan surat lamaranku ke pusat pelatihan tour guide?”
“Sudah. Kau sudah diterima berdasarkan ijazah dan berkas-berkasmu yang lain. Besok kau harus ikut aku ke pusat pelatihan. Kau harus menjalani pelatihan minimal dua minggu. Apa kau bisa bahasa Indonesia?” Luhan meletakkan gelasnya di atas meja ruang makan yang bersebelahan dengan ruang santai.
“Sedikit. Teman-temanku dulu juga banyak yang dari Indonesia. Tapi aku tidak tahu rumah mereka dimana. Hahaha… Aku suka orang Indonesia. Mereka ramah sekali. Inilah perbedaan mereka dengan bangsa lain.” Myungsoo menyandarkan punggungnya ke sofa warna cream yang didudukinya. Luhan menatapnya aneh.
“Oh ya, apa tadi Hwayoung mampir ke sini?” tanya Luhan.
“Eoh. Hanya sebentar. Wae?”
“Tadi namjachingunya menanyakan keberadaannya padaku. Aku juga tidak tahu karena tadi kan dia menjemputmu. Sudahlah. Aku mau mandi lalu tidur. Besok pagi harus bertugas lagi. Kau juga, tidur sana.” Luhan menaiki tangga yang terbuat dari kayu jati. Villa milik keluarganya itu memiliki desain yang unik. Desain yang menggabungkan antara rumah model Indonesia dengan beberapa sentuhan desain Eropa. Jadi terkesan mewah dan berkelas.

Keesokannya, double Ji, Chorong dan Siwan menunggu tour guide mereka di lobi depan. Sudah sepeluh menit mereka menunggu di sana. Jiyeon melihat sosok namja yang dinanti-nanti. Kemudian dia berdiri dan memanggil Luhan.
“Luhan-ssi!” seru Jiyeon. Luhan menoleh ke arahnya lalu mengayunkan langkahnya menghampiri rombongan dari Korea itu.
“Ah, mian sudah membuat kalian menunggu lama. Tadi aku harus mengantar dongsaengku ke pusat pelatihan tour guide. Lalu meluncur ke sini. Ya sudah, ayo kita berangkat.”
Jiyeon sangat bersemangat, begitu juga Chorong. Pasangan kakak beradik itu tampak kompak untuk saat ini. Sedangkan Jieun dan Siwan masih bingung mereka akan dibawa kemana. Jieun malah berpikir negatif. Dia berpikir bahwa Luhan akan menyekap mereka di sebuah gudang atau bangunan kosong.
“Yaak, Jieun-a!” panggil Jiyeon yang sukses membuyarkan lamunan Jieun. “Kau melamun apa? Apa kau membayangkan kencan dengan Luhan-ssi?” goda Jiyeon.
Pletakk!!
Sebuah pukulan dari tangan Jieun mendarat mulus di kepala Jiyeon. Yeoja itupun meringis kesakitan untuk menggoda Jieun lagi.
“Aku tidak akan terpengaruh. Kau itu pandai bersandiwara,” ketus Jieun.
Jiyeon tersenyum. Jieun memang sudah sangat mengenal Jiyeon karena mereka sudah bersahabat sejak lama sekali.
Dalam perjalanan, rombongan Jiyeon tak henti-hentinya melihat pemandangan sekeliling. Bayak turus asing, kios-kios souvenir, pura, dan pemandangan lainnya yang membuat mereka kagum. Tanpa terasa, mereka telah sampai di salah satu pantai terindah di Indonesia, Kuta beach. Jiyeon membulatkan matanya melihat keindahan pantai itu, ombaknya bergulung teratur, banyak peselancar memamerkan aksi mereka.
“Waah, daebak!” Chorong berjalan mendekati pantai dengan semagat tinggi.
“Eonni, aku tidak pernah melihat pantai seindah ini. Waah aku tidak sabar ingin berenang di sana,” tunjuk Jiyeon ke arah gulungan ombak.
Melihat orang-orang di depannya terkagum-kagum akan keindahan pantai Kuta, Luhan hanya tersenyum. Ekspresi mereka sama dengannya saat ia menginjakkan kaki pertama kali di pulau Dewata itu.
“Luhan-ssi, apa nama pantai ini?” tanya Jiyeon.
“Pantai Kuta.”
“Kuta? Lucu sekali…” gumam Jiyeon lirih namun dapat didengar oleh Luhan.
Chorong dan Siwan menikmati kemesraan mereka dengan ombak-ombak yang bergulung bolak-balik. Sedangkan double Ji hanya melihat.mereka berdua dari kejauhan.
“Ternyata begitu ya kalau memiliki namjachingu…” ungkap Jieun yang tak melepas pandangannya.pada Chorong dan Siwan yang bermesra-mesraan di tepi pantai.
“Kenapa kita belum pernah merasakan yang namanya pacaran ya…” Jiyeon mempoutkan bibirnya. “Ah, Chorong eonni membuatku galau.”
“Aku tidak merasa jelek. Tapi kenapa kita belum laku?” keluh Jieun.
“Kau dan aku sama-sama cantik karena kita sudah bersahabat lama sekali. Bahkan kau lebih dari sahabat. Ah, anhi. Saudara. Kau lebih dari saudara.”
“Memangnya apa ada yang lebih dekat dari saudara?”
“Aah andwae! Tidak mungkin kalau aku berpacaran denganmu…”
“Yaak, pabbo. Memangnya aku.sudah gila, eoh?” Lagi-lagi Jieun dibuat kesal oleh Jiyeon.
Jiyeon tertawa lepas. “Araseo… Kau dan aku lebih dari saudara. Ah, bagaimana kalau saudara kembar?”
Kali ini malah Jieun yang tertawa lepas. “Bisa juga. Kita saudara kembar. Hmm siapa yang eonni dan siapa yang dongsaeng?”
Jiyeon dan Jieun malah menikmati kebersamaan mereka berdua dengan duduk-duduk di tepi pantai.

Malam ini, sesuai jadwal yang mereka buat dengan Luhan, waktunya melihat pertunjukan seni khas Bali. Semua tampak antusias. Setiba di lokasi, Luhan menuntun mereka untuk melihat pertunjukan itu dari dekat. Berbagai macam pujian keluar begitu saja. Tari khas Bali benar-benar daebak, pikir Jiyeon. Jiyeon berdiri di samping Chorong, Jieun berdiri agak jauh dari mereka. Sedangkan Siwan berdiri dekat dengan sang penari.
“Eonni, bagaimana bisa ada tarian seindah itu?”
“Ah, molaseo. Indonesia memang memiliki banyak sekali tari daerah. Ini masih salah satunya.” Chorong tetap terpaku melihat sang penari meliuk-liukkan tubuh. “Omo! Jiyeon-a, kau kan jago dance. Apa kau bisa menirukan gerakan mereka?”
“Michyeoseo? Anhi. Aku tidak bisa. Gerakannya indah sekali. Orangnya juga cantik-cantik.”
“Yaak, liat itu. Bagaimana mera melakukan gerakan mata seperti itu?” tanya Chorong.
“Molla, eonni.”
“Kau bisa mnirukan gerakan mata mereka? Matamu kan lebih.lebar dari mataku.”
“Aah, eonni. Neo michyeoseo? Dari tadi mengatakan hal yang tidak masuk akal. Mana bisa aku menirukan mereka? Haissh… Itu tarian tingkat tinggi.”
“Kostumnya… Apa mereka tidak merasa risih dengan kostum seperti itu?”

Chorong tak henti-hentinya mengembangkan senyum. Apalagi sekarang salah satu penari meminta Siwan untuk ikut menari bersama. Tentu saja Siwan bingung. Ia hanya menirukan sedikit gerakan yang dirasa mudah untuk ditirukan. Chorong mengambil posisi di tempat lain, ia ingin mengambil foto Siwan yang berada di tengah-tengah penari. Ini kesempatan langka, batinnya. Indonesia benar-benar negara yang kaya budaya yang menyenangkan dan indah seperti ini. Chorong tidak bisa membayangkan betapa banyaknya jenis tarian di Indonesia. Jika tari Bali begitu indah, bagaimana dengan tari-tari yang lain? Chorong semakin penasara. Ia pun berjanji dalam hati jika ada kesempatan dan uangnya cukup, ia akan kembali ke Indonesia dan mengunjungi tempat-tempat yang indah selain Bali.

Sementara itu, Jiyeon menikmati tontonan tarian itu sendiri, jauh dari Jieun, Chorong maupun Siwan. Ia terlalu asyik melihat gerakan para penari yang menurutnya menakjubkan hingga tak menyadari sekelilingnya. Orang-orang datang dan pergi silih berganti.

“Eonni, kapan-kapan aku akan belajar menari tarian ini.” Jiyeon tersenyum senang. Karena tidak ada respon dari eonni-nya, ia menoleh ke arah tempat Chorong di sampingnya. Matanya membelalak. Namja itu. Ya, Myungsoo, namja yang menatap Jiyeon dan Jieun di pesawat, kini berdiri di samping Jiyeon. Myungsoo merasa ada yang menatapnya, ia pun menoleh. Jiyeon memalingkan wajahnya.

“Omo, namja itu lagi…” lirih Jiyeon.

Myungsoo masih melihat Jiyeon yang berdiri mematung di sampingnya. Ia sedikit ingat postur tubuh Jiyeon dan wajah Jiyeon dari arah samping. Tiba-tiba Jiyeon melihat ke arahnya. Pandangan mereka bertemu namun Jiyeon buru-buru memalingkan wajahnya tadi. Sedangkan Myungsoo mengerutkan keningnya. Bertanya-tanya adapa dengan yeoja itu. Kenapa melihatnya sama seperti melihat hantu?

“Jeogi, kau yeoja yang di pesawat itu kan?” Myungsoo buka suara. Ia tidak tahan penasaran. Lebih baik bertanya daripada penasaran berkelanjutan.

Jiyeon perlahan-lahan menghadapkan wajahnya ke arah Myungsoo. “Ah, ne.” Jiyeon tidak berani menatap mata Myungsoo. Pasti tatapannya sama tajamnya dengan saat di pesawat, pikir Jiyeon.

Tidak ada kata-kata lain yang keluar dari mulut Myungsoo. Ia merasa rasa penasarannya sudah terobati dengan jawaban singkat dari yeoja itu. Lagipula ia tidak mengenal yeoja yang berdiri di sampingnya.

Myungsoo datang ke acara pertunjukan tari itu karena dia sedang dalam masa pelatihan untuk menjadi tour guide. Ia harus bisa mengenal dan menghafal segala tentang Bali dan Indonesia. Maka dari itu, nantinya Myungsoo akan menggunakan waktunya untuk pergi ke tempat-tempat wisata, pertunjukan seni seperti tari Bali, atraksi, dan lain sebagainya.

Jiyeon mencari keberadaan rombongannya dengan menoleh kanan-kiri, membolak-balikkan badannya. “Opseo..” lirihnya.

Myungsoo mendengar kata yang keluar dari mulut Jiyeon. Ia pun mengikuti pandangan Jiyeon yang bingung mencari rombongannya. Saat sibuk mencari ke segala arah dengan penglihatannya, tiba-tiba mata Jiyeon dan Myungsoo bertemu. Jiyeon terlihat panik. Ia tidak menemukan keberadaan rombongannya. Akhirnya Jiyeon melangkahkan kaki mencar ke segala tempat. Myungsoo mengikutinya dengan berlari kecil.

“Eonni!” seru Jiyeon diantara kerumunan orang-orang yang mulai membubarkan diri. “Lee Jieun!” seru Jiyeon lagi. Kali ini ia meneriakkan nama Jieun. Orang-orang di sekelilingnya memandang aneh. Jiyeon masih berlari ke sana kemari, mencari rombongannya. Tiba-tiba ia berhenti, berdiri sejenak lalu jongkok di dalam kerumunan orang banyak.

Myungsoo melihat Jiyeon yang panik dan bingung. Ia mendekati Jiyeon dan menarik lengan yeoja itu untuk berdiri. “Ireona!”

Jiyeon mendongakkan kepalanya. Ia melihat Myungsoo di depannya, menarik lengannya. Jiyeonpun berdiri.

“Siapa nama tour guide’mu?” tanya Myungsoo. Ia dan Jiyeon berjalan pelan menuju tempat yang aman dari kerumunan orang.

“Lu, Luhan Xi,” jawab Jiyeon lirih.

Myungsoo mengerutkan keningnya. Luhan hyung? batinnya.

“Kau tunggu di sini. Aku cari tour guide mu itu.” Jiyeon menurut. Myungsoo melangkah pergi meninggalkan Jiyeon di depan sebuah pura.

Jiyeon mencari tempat duduk di sekitarnya. Ia menunggu Myungsoo datang dengan Luhan di depan pura. Sepuluh menit, lima belas menit. Myungsoo ataupun Luhan belum datang. Jiyeon ingin menangis. Jika ia hilang di Korea itu tidak masalah. Masalahnya akan berbeda jika ia hilang di Bali, Indonesia. Sesaat kemudian, seorang namja datang menghampirinya. Luhan.

“Jiyeon-ssi…”

Jiyeon mendongakkan kepalanya, melihat siapa yang memanggilnya. “Luhan-ssi? Akhirnya aku bertemu dengan orang yang bisa mengantarku ke hotel.”
Luhan mengantar Jiyeon kembali ke hotel. Ia pun minta maaf karena keteledorannya, Jiyeon terlantar di lokasi pertunjukan tadi. Jiyeon sudah memaafkannya.

Di kamar, Jiyeon memeluk Chorong. Ia hampir saja kehilangan eonninya tercinta. Chorong membelai lembut rambut panjang dongsaengnya itu.

Hari ini, Jieun harus mengunjungi semua tempat wisata di Bali. Ia hanya punya waktu tiga hari di Bali. Setelah itu, ia harus terbang ke Jogja untuk menyelesaikan penelitiannya. Jiyeon memulai penelitiannya hari ini. Ia mendatangi kantor walikota Denpasar, pergi ke beberapa tempat bersejarah, dan meminta berkas salinan tentang tempat-tempat yang baru dia datangi. Jiyeon pergi ke sana kemari hanya bermodalkan GPS. Awalnya Jiyeon ingin mengajak Jieun. Tapi ia kasihan pada sahabatnya itu karena hari ini adalah hari terakhir Jieun di Bali. Ia pun meminta Jieun untuk mengajak Chorong eonni pergi ke tempat-tempat yang ingin dikunjungi.

Cuaca di Indonesia tidak sama dengan di Korea. Matahari terik berada tepat di atas kepalanya. Karena panas, Jiyeon mampir ke sebuah rumah makan untuk membeli minuman atau kalau memungkinkan, ia akan membeli makanan juga. Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah makan yang menjadi incarannya, ia menabrak seseorang. Anhi, lebih tepatnya tak sengaja bertabrakan.

Tbc.

Aku tunggu komennya ya chingu…🙂

50 responses to “[CHAPTER – PART 2] LOST IN BALI

  1. Hehe. Bagus mereka sudah di Bali Dan menikmatinya. Dan hampir aja jiyeon sesat. Nasib baik Myungsoo ada. Ingin lihat lebih lagi momen Myungyeon🙂

    • haaaaai tinkyu yaa udah ngebut baca ff buatanku. Maaf gak bisa bales semua komenmu yg ada di Love is not a crime. Makasih banget yaaa ^^

  2. Pingback: [Chapter - Part 7] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [Chapter - Part 6] Lost In Bali | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [CHAPTER - PART 5] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

  5. Pingback: [CHAPTER - PART 4] LOST IN BALI | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s