[CHAPTER – PART 6] LOVE IS NOT A CRIME

 LOVE IS NOT A CRIMEPart Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4] [5]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Perwakilan kedua negara sedang mengadakan pertemuan terkait penangkapan dua warga Korut yang merupakan wartawan dari sebuah media di Korut dan kasus kepemilikan senjata yang dibawa oleh mereka. Myungsoo dan perdana menteri Lee mendengarkan penjelasan yang dipaparkan oleh perdana menteri Korea selatan dan kepala kepolisian Korsel. Pandangan Myungsoo menerawang ke arah meja di depannya. Namun pendengarannya sangat aktif menangkap pembicaraan para pejabat negara di ruangan itu.
“Kami tidak bisa menunggu interogasi seperti yang diminta oleh Korut. Mereka memang warga Korut, tapi mereka terbukti membawa senjata ke wilayah Korsel. Senjata itupun sudah terbukti milik warga negara Korut. Jadi kami memutuskan untuk melanjutkan proses hukum kasus ini.” Kepala Kepolisian Korut menjelaskan alasan mereka melanggar janji dengan pihak utara.
“Bukankah dalam hukum internasional, hanya negara asal yang berhak melakukan proses hukum. Selatan boleh saja menangkapnya. Tapi selanjutnya kamilah yang mempunyai wewenang menangani kasus ini,” jelas PM Lee dengan raut wajah yang masih fresh. PM Lee memang dikenal sebagai namja yang super sabar. Untuk itu Presiden Kim memilihnya sebagai PM di Korut.
Tak ada yang dapat membantah pernyataan dari PM Lee. Myungsoo masih diam. Dia menunggu pernyataan lagi dari pihak selatan.
“Terkait senjata itu… Hmm kami sudah menentukan keputusan. Berdasarkan bukti yang kami terima dari mata-mata dan tersangka, senjata itu adalah milik seseorang bernama Jung Kyung Ho yang saat ini tinggal di Utara. Namun Jung Kyung Ho bukanlah orang asli Korut. Dia adalah warga Korsel sebelum pindah ke Korut. Karene dia adalah… karena dia adalah mantan jenderal di Korsel. Jadi kami memutuskan menarik kembali Jung Kyung Ho dan menangkapnya atas tuduhan pengkhianatan terhadap negara. Harap pihak Utara memaklumi.” Seorang jenderal Korsel yang bernama Hwang Chansung, jenderal yang berjaga dan mengawasi wilayah perbatasan menjelaskan dengan memberikan bukti foto Jung Kyung Ho sewaktu masih menjadi jenderal di Korsel, tanda pengenal jenderal milik Jung Kyung Ho dan sidik jari yang diambil dari senjata itu yang telah dinyatakan cocok dengan sidik jari Jung Kyung Ho. Mereka masih menyimpan sidik jari para pejabat dan orang penting di negara itu.
Myungsoo terlonjak kaget. Tidak bisa. Tidak boleh begini. Ia mengerutkan keningnya. Berpikir. PM Lee juga terlihat sama seperti Myungsoo. Pihak selatan diam sejenak. Kemudian tiba-tiba salah satu staf di sana membawa bukti senjata itu ke hadapan Myungsoo dan kawan-kawan. Myungsoo memicingkan mata. Sesaat kemudian ia mendapati seauatu yang mengganjal.
“Chakkaman. Tadi jenderal Hwang mengatakan bahwa bukti-bukti itu diperoleh dari mata-mata. Apa maksud Anda? Apa kalian secara rahasia telah menyebarkan mata-mata i negara kami.” Myungsoo mulai emosi. Mata elangnya menatap jenderal Hwang dengan tatapan super tajam. Siapapun yang melihatnya pasti akan takut dan menghindarinya. PM Lee pun tak berani menatap putra presiden terbaik se-Asia itu.
“Mata-mata?” ulang Jenderal Hwang.
“Cukup jawab pertanyaanku. Jangan bertele-tele. Dari ucapanmu tadi membuktikan bahwa kau telah menyebar mata-mata di negara kami tanpa sepengetahuan kami. Benar begitu?” jelas Mungsoo untuk yang kedua kali.
Pihak selatan tampak gelisah.
“Apa aku harus memberi sangksi.pada Korsel agar tidak lagi berbuat licik di belakang kami. Atau…” Myungsoo memutus kata-katanya. Ia menatap PM Lee lalu tersenyum kecil. “Atau kami akan membuktikan pada kalian ancaman kami tempo dulu.”
Suasana menegang. Siapa yang tidak tahu ancaman tempo dulu? Korut berniat mencaplok wilayah Korsel dengan paksa. Dengan memeranginya. Tak peduli bahwa mereka masih serumpun. Kali ini Myungsoo bukan hanya ingin merebut Korsel tapi juga ingin memberi peringatan pada pemerintahnya agar tak memandang Korut sebagai negara yang mudah dikelabuhi.
“Putra presiden benar. Pihak selatan sudah melakukan tindak.kriminal juga. Kami bisa menuntut kian ke Mahkamah Internasional atau kami akan benar-benar mengambil selatan secara paksa dan memerangi selatan. Aku punya sebuah nego yang tidak merugikan utara maupun selatan. Aku memawarkan pada selatan untuk meyerahkan kasus ini sepenuhnya pada kami atau kalian tetap akan mengambil alih kasus ini tapi… Kami akan mengusut dan mengajukannya pada Mahkamah Internasional dan memberikan sanksi yang paling berat pada kalian.” Kali ini PM Lee bicara dengan tegas. Myungsoo dibuat kaget olehnya.

Di dalam istana presiden Korsel, Soo Hee tampak khawatir. Ia takut jika hasil negosiasi itu akan menjauhkannya dengan Myungsoo. Jika itu terjadi maka dia akan melakukan sesuatu yang besar untuk kedua negara. Soo Hee sama sekali tidak takut jika negaranya diserang oleh Korut asalkan.hubungannya dengan Myungsoo baik-baik saja.
Soo Hee duduk di atas sifa berwarna hitam di sudut ruang khusus tamu kepresidenan. Ia melamun. Membayangkan apa yang akan terjadi jika negosiasi itu gagal dan menebak-nebak bagaimana nasibnya setelah itu. Soo Hee teringat ucapan Haeri, eommanya.

Flashback
Soo Hee yang baru saja selesai bermain biola di kamarnya dikejutkan oleh kedatangan Haeri secara tiba-tiba.
“Omo, eomma… Bisakah eomma.tidak.mengagetkanku?” Soo Hee melempar biolanya ke atas ranjang karena kaget dengan adanya suara pintu kamar yang dibuka oleh Haeri.
Haeri melangkah mendekati Soo Hee yang kini duduk di tepi ranjangnya. Setelah dekat dengan putrinya ia berkata,”Soo Hee-a, sampai kapan kau akan seperti ini? Apa kau tidak ingin seperti appamu atau PM Changmin?”
Soo Hee menatap eommanya. “Apa maksudmu eomma?”
“Putriku Soo Hee, kau adalah satu-satunya putri presiden. Kau memiliki potensi dan peluang untuk memiliki.kekuasaan di negara ini, seperti appamu.”
“Apa maksud eomma aku harus.seperti appa atau PM Changmin?” tanya Soo Hee menyimpulkan kata-kata eommanya.
“Gadis yang pintar.” Haeri membelai rambut Soo Hee dengan lembut.
“Apa aku adalah bonekamu, eomma?” Haeri terkejut mendengar kata-kata Soo Hee.
“Park Soo Hee! Apa kau tidak bisa berpikir? Jika kau berkuasa, kau bisa melakukan segala hal. Ara?” Haeri melangkah meninggalkan Soo Hee yang mematung di tempatnya.
Braakk!
Haeri menutup pintu kamar Soo Hee dengan keras, mengakibatkan putrinya kaget untuk yang kedua kali.
Di dalam kamarnya, Soo Hee menghela napas panjang.
Flashback end.

Soo Hee memutar-mutar ponsel yang digenggamnya sedari tadi. Oa tersadar dari lamunannya kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya.
“Benar kata eomma. Jika aku memiliki kekuasaan maka aku bebas melakukan apapun. Keurom, apa yang harus aku lakukan? Jika menjadi presiden atau PM bisa membuatku lebih dekat dengan Myungsoo, aku akan mengejar jabatan itu. Keunde, bagaimana mungkin seorang pemimpin negara bisa dekat dengan orang penting dari negara musuhnya? Aah mola.” Soo Hee bicara sendiri. Beruntung tidak ada orang lain di sana.

Hari semakin larut. Di ruangannya, Myungsoo terlihat sangat lelah. Pertemuan dengan orang-orang Selatan tadi membuatnya terlihat.kacau. Myungsoo mengurungkan niatnya untuk pulang secepatnya. Ia.masih ingin menikmati lesendiriannya di ruang itu. Duduk bersandar di atas kursi dan meluruskan kakinya, melepas penat, stres dan semacamnya. Myungsoo tidak menyangka bahwa orang-orang Selatan bisa berbuat selicik itu. Seluruh dunia mengenal Korea Utara sebagai negara komunis yang kesannya kejam dan bengis. Tapi justru Selatan yang berbuat demikian. Melanggar perjanjian, menyebar mata-mata di negara lain, menindak hukum warga negara lain seenaknya saja. Myungsoo memejamkan matanya. Mencoba menghilangkan wajah-wajah orang Selatan yang bisa membuatnya naik darah.

Di tempat lain, Gongju dan Jaejoong mengkhawatirkan Kyung Ho saem. Bagaimana nasib guru mereka setelah negosiasi itu? Gongju dan Jaejoong duduk bersandar di bawah pohon maple di dekat rumahnya. Menatap langit sepi tanpa kehadiran bintang ataupun bulan.
“Kenapa langit begitu sepi?” lirih Gongju.
“Mungkin langit sudah enggan tersenyum lagi. Aah rasanya aku jadi gila.” Jaejoong mengacak rambutnya sendiri.
Gongju menoleh ki sebelah kiri, menatap Jaejoong dengan tatapan aneh. “Aku tidak akan dekat-dekat dengan oppa jika kau sudah gila,” goda Gongju untuk memecah keheningan malam.
“Aaiish… Kau berani menjauhiku? Awas saja!” Jaejoong mengacak rambut Gongju. Gongju pun mengerucutkan bibirnya dan merapikan kembali rambutnya. “Bagaimana nasib Kyung Ho saem?” lirih Jaejoong kembali menerawang ke atas.
“Bukankah kita sudah sepakat untuk tak membahasnya malam ini?” Gongju kesal. “Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Kyung Ho saem tidak bersalah. Mungkin Kyung Ho saem hanya difitnah atau hanya terseret kasus ini saja. Atau bahkan ada yang menjebaknya.”
“Omo, menjebak?” ulang Jaejoong yang menoleh pada Gongju lalu mengangkat kedua alisnya.
Gongju mengangguk. “Keunde, siapa yang mau menjebak Kyung Ho saem?” Gongju mengerutkan alisnya, berpikir.
“Ah sudahlah. Aku mau tidur saja. Besok ada pertandingan taekwondo.” Jaejoong berdiri lalu melangkah meninggalkan Gongju sendirian.
“Oppa, eodika? Aish, namja ini selalu seenaknya sendir,” keluh Gongju. Ia menekuk kedua lututnya dan kembali bersandar pada pohon maple yang tidak terlalu besar.
Beberapa menit berlalu. Gongju tertidur di bawah pohon. Posisinya.yang tidak nyaman membuatnya terbangun. Tiba-tiba ia mendengar suara burung rajawali di sekitarnya yang membuatnya teringat pada burung rajawali milik Myungsoo. Gongju meraih bandul peluit pemberian Myungsoo. Ditatapnya sebentar lalu ia meniup peluit itu tiga kali.
“Sampai kapan kau akan di situ?” Gongju terlonjak kaget mendengar suara namja yang sangat dikenalinya. Ia menoleh ke sumber suara. Matanya membulat. Myungsoo sudah ada di hadapannya.
“Oppa… Apa kau benar Myungsoo oppa?”
“Eoh…” jawab Myungsoo singkat.
“Bagai… Ah, bagaimana, kena..pa, ah aku bingung mau bertanya apa. Kau, bagaimana bisa di sini oppa? Bukankah tadi tidak ada siapa-siapa.” Gongju bingung.
Myungsoo mendekati Gongju yang masih begong di tempatnya. Ia tersenyum kemudian memeluk Gongju. Yeoja itu mampu membuat hatinya tenang, membuat emosinya stabil. Bagi Myungsoo, selalu ada kedamaian di dekat Gongju. Maka dari itu, ia akan sangat merindukan yeojanya jika beberapa jam saja tidak bertemu dengannya.

Flashback.
Myungsoo pov.
Badanku terasa pegal-pegal, mungkin persendianku banyak yang kurang pelumas atau sedikit ada makhluk ghaib yang menindih tubuhku. Aah rasanya seperti baru saja lari maraton dengan mengangkut beras satu kuintal di punggung.
Dinding ruangan membuatku bosan. Dimana-mana hanya ada warna putih. Monoyon sekali. Akhirnya aku memutuskan keluar saja. Mobil kupacu menuju tempat latihan bela diri yang letaknya tidak jauh dari rumah Gongju. Aku ingin menemuinya tapi aku belum menyiapkan jawaban tentang Kyung Ho saem. Jika mengingat masalah itu, kepalaku terasa ingin meledak seakan ada bom atom atau geranat di dalamnya.
Tempat latihan itu terletak di gang sempit, jadi aku harus memarkir mobilku agak jauh, di pinggir jalan yang lebib lebar. Aku menyusuri jalan gang kecil yang biasa dilewati Gongju jika ia mau kemana saja karena jalan ini adalah jalan pintas menuju rumahnya. Beberapa meter lagi aku sampai di tempat latihan. Sunyi senyap tanpa suara, gelap pula. Saat jarakku sudah sangat dekat, tiba-tiba indera pendengaranku menangkap satu suara. Ya, itu suara peluit. Saat tiupan yang pertama, aku memutuskan untuk melihat siapa yang meniup peluit yang serupa dengan peluitku yang telah aku berikan pada Gongju. Tiupan kedua, aku semakin dekat dengan sumber suara. Sumber suara itu tidak jauh dari rumah Gongju. Aku semakin dekat, rupanya Gongju yang meniupnya. Aku tersenyum senang. Tiupan ketiga, aku dudah berdiri di dekatnya. Mungkin dia akan kaget melihatku di sini.
Myungsoo pov end.

“Gwaenchana?” tanya Gongju pada Myungsoo yang masih memeluknya erat-erat.
“Aku harus baik-baik saja jika ingin bertemu denganmu.” Myungsoo melepas pelukannya. Menatap yeojanya dengan sayang. “Rasanya aku baru saja masuk surga.”
Gongju tersipu.
“Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan padaku. Tolong jangan sekarang. Kepalaku hampir meledak jika mengingatnya.” Myungsoo mengambil posisi dudum bersandar pada pohon seperti yang dilakukan Gongju tadi.
“Aku tidak akan menanyakannya sebelum oppa sendiri yang bercerita padaku.” Gongju menyusul Myungsoo duduk di sampingnya. “Apapun hasilnya, aku siap mendengarkan. Jika hasilnya buruk, aku dan Jaejoong oppa akan melakukan sesuatu sesuai rencana kami.”
Myungsoo bertanya-tanya. Rencana apa yang mereka siapkan? “Rencana apa?” tanya Myungsoo penasaran.

Gongju tersenyum. “Jika waktunya tiba, aku akan menunjukkannya langsung pada oppa. Aku dan Jaejoong oppa tentu saja tidak akan membiarkan Kyung Ho saem ditangkap apalagi dihukum.”

Di kediaman presiden Korsel, seirang yeoja paruh baya yang lebih dikenal sebagai istri resmi presiden Park, sedang merenungkan sesuatu. Ia sama sekali tidak tahu tentang masalah negara yang kini berurusan langsung dengan presiden Korut dan putranya.
“Masalah apa yang dapat menyita pikiran sang istri presiden?” sindir Haeri yang sengaja mendatangi So Jin untuk sekedar beradu mulut.
“Pergilah, Haeri. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” So Jin memalingkan wajahnya dari Haeri.
“Kau pasti memikirkan putrimu yang sudah tewas itu.” So Jin kaget kenapa Haeri masih mengungkit itu. Kekhilafannya membuang bayinya adalah hasil kelicikan Haeri apalagi Haeri lah yang menusukkan benda tajam ke dada putrinya yang mengakibatkan putrinya berhenti menangis saag itu.

Flashback.
Seorang peramal memasuki rumah mewah milik keluarga Park. Ia bertemu dengan tuan park yang saat itu belum menjadi seorang presiden. Tuan Park termasuk salah satu menteri dan pengusaha paling sukses di kalangan pejabat negara. Peramal yang mendatangi tuan Park mengatakan bahwa nantinya kedua istri tuan Park harus melahirkan putri, bukan putra. Jika kwdua istrinya melahirkan putri, maka akan dua orang putri Park yang akan menjafi malapetaka bagi keluarga dan rakyat Korea Selatan. Tuan Park sama sekali tidak mengerti tentang hal itu. Peramal menjelaskan bahwa jika yang lahir daru rahim kedua istrinya adalah dua orang putri maka salah satu putri akan membaaa bencana dan malapetaka. Untuk itu salah satu istrinya harus melahirkan seorang putra yang tidak akan dikalahkan oleh putri. Jika keduanya adalah putri, maka salah satu harus dibunuh. Tuan Park kaget, ia yang percaya omongan dukun merasa tak tega membunuh bayinya.
Malam harinya, kedua isteri tuan Park merasakan mulas pada perutnya, tenaga medis yang menangani bidang khusus persalinan didampingi oleh masing-masing pelayan mereka.
Di kamarnya, Haeri melahirkan seorang putri, bukanlah seorang putra. Sementara itu So Jin didampingi oleh Kim Taehee dan Kim Taeyeon, juga melahirkan seorang putri. Haeri mengetahui bahwa So Jin juga melahirkan seorang putri maka dia memiliki siasat licik.
Setelah melahirkan, Haeri menemui peramal dan mengatakan bahwa bayi So Jin juga perempuan. Ia membela bayinya bukanlah pembawa bencana dan mapetaka seperti yang telah diramalkan. Tetapi bayi So Jin lah yang akan membawa bencana dan malapetaka. Untuk itu, bayi So Jin harus dibunuh. Awalnya si peramal ragu dengan kata-kata Haeri. Namun ia diyakinkan oleh Haeri jika bayinya yang membawa malapetaka maka dia sendiri yang akan membunuhnya kelak. Untuk itu, si peramal harus mempercayainya. Akhirnya peramal pun mempercayai Haeri. Tak berapa lama setelah bertemu dengan Haeri, si peramal pergi mencari tuan Park yang sedang berada  di dalam kamar So Jin.
Peramal bertemu dengan tuan Park. Ia mengatakan bahwa bayi So Jin nantinya akan membawa nasib buruk bagu mereka. Oleh karena itu, bayi So Jin harus dibunuh agar mereka terhindar dari malapetaka yang akan menimpa.
“Tuan, di dunia ini tidak akan mungkin ada dua matahari atau dua bulan. Mereka akan bertabrakan dan membawa bencana. Jika salah satu dibunuh maka tidak akan ada yang namanya dua matahari atau dua bulan. Bencana akan terhindar,” jelas si peramal pada Tuan Park yang sedikit didengar oleh So Jin dari balik pintu kamarnya.
Tuan Park yang tengah bicara dengan peramal di luar kamar So Jin tak menyangka bahwa ia harus membunuh bayinya. Begitu pula So Jin. Ia tak mungkin membunuh bayi yang baru dilahirkan.
Haeri menghampiri tuan Park yang masih di luar kamar So Jin. Ia mengatakan bahwa mereka harus segera membunuh bayi itu sebelum malapetaka yang diramalkan akan terjadi. Dengan berat hati, tuan Park menyetujui ucapan Haeri. Mereka pun masuk ke dalam kamar dan mendapati So Jin sedang menimang bayinya.
Haeri mengatakan pada So Jin bahwa bayi itu harus dibunuh, harus dikorbankan demi keselamatan bersama. So Jin menolak. Ia tak tega membunuh bayinya. So Jin membawa bayinya menuju ranjang, hendak menidurkan bayinya. Tiba-tiba Haeri menarik lengannya dan merebut bayi itu dari tangan So Jin. So Jin kaget, ia melepaskan bayinya.
“Bayi ini harus dibunuh karena dia akan membawa bencana untuk kita semua.” Haeri bersiap membunuh byi itu dengan menyiapkan benda tajam menyerupai tusuk konde untuk ditancapkan ke dada bayi So Jin.
So Jin memohon agar bayinya.tidak dibunuh. Ia tak percaya pada ucapan peramal. Namun Haeri tidak menghiraukannya.

Tbc.

Gimana chingu? Apa terlalu singkat? Aku baru bisa pos soalnya harus review drama aslinya. Hehe… Tapi gk mirip bgt sama yang aslinya karna ini sudah aku bumbui dengan racikan bumbu yang berbeda dari aslinya. Hehe…
Aku tunggu komennya. Gomawo.🙂

45 responses to “[CHAPTER – PART 6] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. Pingback: [Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  3. Pingback: [Chapter – Part 13] Love is NOt A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s