[CHAPTER – PART 1] LOST IN BALI

LOST IN BALI Author: Kim Lee Hye

Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Luhan EXO, Ryu Hwayoung
Other Cast:
Park Chorong, Lay EXO, Im Siwan, Lee Jieun
Genre:
Romance, Friendship
Rating:
G

Annyeonghaseo yeorobun…
FF kali ini tetap main cast Myungyeon. Semoga kalian suka.
Don’t forget leave, comment, like and give vote ne…
Happy Reading…

Terdengar gemericik air di kamar mandi. Seorang yeoja sedang menggosok gigi dengan malas di depan sebuah cermin, tentunya di dalam kamar mandi yang berukuran cukup luas dengan ukuran 3x3m. Acara rutin tiap pagi telah selesai. Sikat gigi dan pasta gigi juga sudah berada di tempat semula. Yeoja itu, Park Jiyeon berkumur membersihkan sisa-sisa pasta gigi yang masih melekat di dinding mulut, gusi, dan gigi putihnya. Kemudian dia memamerkan deretan giginya di depan cermin. Sudah bersih.
“Yaaak, Jiyeon-a! Pali!” teriak Chorong, eonni Park Jiyeon.
“Eoh, ara. Chakkaman gidaryeo, eonni,” balas Jiyeon dengan suara yang tidak kalah nyaring. Selama lebih dari 5 menit, Jiyeon baru saja selesai gosok gigi dilanjutkan menyiramkan air ke seluruh tubuhnya. Jiyeon dan Chorong tidak memiliki bath up karena mereka sangat tidak menyukai mandi di bath up. Terlalu boros dan memakan waktu lama untuk sekedar mandi. 10 menit kemudian Jiyeon keluar dari kamar mandi dengan masih dibalut handuk berwarna pink.
“Aigoo, baru selesai?”
“Hehe… Uri sarangi eonni, jangan cepat marah. Kau akan kelihatan cepat tua. Aku akan segera berpakaian dan berias. Apa eonni sudah sarapan?” tanya Jiyeon yang masih sibuk mencari baju yang ingin dipakai hari itu.
“Ajikdo… Aku menunggumu, Dino-a. Makanya pali pali,” jawab Chorong.
“Ah, ne, araseo, araseo.”

Chorong dan Jiyeon pergi ke kampus naik bus. Jiyeon mengambil diploma jurusan pariwisata sedangkan Chorong mengambil program sarjana jurusan sastra Jepang. Jiyeon mengambil jurusan pariwisata karena dia sangat menyukai traveling. Jika tabungannya sudah cukup untuk travelling maka Jiyeon akan menggunakannya travel ke tempat yang ingin ia kunjungi. Chorong, yeoja itu terlalu cinta pada bahasa Jepang. Dia berniat untuk menjadi seorang sastrawan Jepang yang sukses.
Sampai di kampus. Jiyeon dan Chorong berjalan beriringan. Dua yeoja cantik itu selalu mencuri perhatian para namja di kampus. Sampai di tangga dekat lobi depan, Chorong berbelok arah, berpisah dengan dongsaengnya yang akan menaiki tangga yang sudah berada di depan matanya. Jiyeon berjalan sendirian dengan menikmati permen karet yang sedari tadi dikunyahnya.
“Jiyeon-a!”
Jiyeon menghentikan langkahnya saat tepat di bawah tangga. Ia mencari ke segala arah. Seperti suara sahabatnya. Tapi dimana?
“Yaaak! Apa yang kau cari?” tanya Jieun yang langsung melingkarkan tangannya di bahu Jiyeon secara tiba-tiba.
“Anhi. Tadi aku mendengar suara hantu, kau tahu hantunya yeoja suaranya sama sepertimu. Apa kau juga mendengarnya?” goda Jiyeon pada Jieun yang sudah membuatnya kesal.
“Omo, tega sekali kau mengejek suaraku seperti hantu. Bahkan hantu saja menutup telinga saat mendengar jeritanku. Mereka pasti kalah. Oh ya sekarang hari apa? Han Saem akan mengumumkan tugas akhir kita pada hari rabu.”
“Hari rabu ya hari ini, pabo! Tugas akhir? Kata Siwan oppa, tugas akhir tiap angkatan untuk diploma berbeda-beda.”
Jiyeon mengerutkan kening, bingung.
Setelah berjalan menempuh koridor sepanjang 100meter, Jiyeon dan Jieun tiba di ruang kuliah. Mereka berdua hampir terlambat. Hari ini Han saem akan mengumumkan tugas akhir untuk angkatan diploma yang akan lulus tahun ini.
“Sebenarnya tugas ini tidak berat. Tingkat kesulitan tugas akhir tergantung pada lokasi yang akan kalian jadikan obyek penelitian. Lokasi yang dimaksud adalah tempat-tempat pariwisata yang memiliki nilai budaya, sejatah dan keagamaan di dunia. Terserah kalian ingin mengadakan penelitian dimana, bebas.” Han saem menjelaskan tentang detail tugas akhir untuk angkatan diploma tahun ini. Mahasiswa yang ada dalam ruangan mulai memikirkan lokasi penelitian mereka hingga suara mereka semakin lama semakin bertambah volume. Han saem meminta mahasiswa memikirkannya besok.

Jiyeon berjalan keluar kelas dengan ekspresi yang sulit diartikan. Di sampingnya, Jieun malah sedang menulis wishlist nya di sebuah note kecil sambil berjalan. Ketika menuruni tangga, Jieun hampir terjatuh. Untung saja Jiyeon memegang lengannya, jika tidak, ia pasti sudah berguling-guling sampai anak tangga yang terakhir.
“Haish, gunakan mata kepalamu untuk melihat jalan yang kau lewati, bukan mata kakimu.” Jiyeon memelototi Jieun yang hampir celaka karena kecerobohannya. Mereka berjalan di koridor lantai dasar.
Jiyeon menemukan sebuah bangku kosong di taman yang tak jauh dari tempatnya saat ini. “Kajja!” Jiyeon menarik lengan Jieun agar mengikuti langkahnya menuju bangku kosong di pinggir taman, 15 meter dari tempatnya berjalan.
“Yaak, ige mwoya?” berontak Jieun. Ia berusaha melepaskan tangan Jiyeon yang menarik lengannya.
“Anjaseo! Yaak, kau mau duduk atau berdiri?” Jiyeon duduk di atas bangku yang menjadi incarannya tadi. Jieun menurut. Ia duduk di samping Jiyeon.
“Jieun-a, apa kau sudah menemukan lokasi yang tepat?”
“Ajikdo…” Jieun menggeleng cukup kencang. Jiyeon berdecak heran dengan gelengan Jieun yang seperti anak kecil. “Gurae, aku akan mencarinya di mesin ajaibku. Chaaan….” Jiyeon mengeluarkan laptopnya.
“Issh… Sejak kapan kau membawa laptop ke kampus?”
“Yaak, kau pikir aku tidak sanggup membeli laptop, eoh? Sebenarnya ini laptop milik Chorong eonni. Hahaha…” Jiyeon tertawa lepas. Dihidupkannya laptop tipis itu lalu ia mulai browsing mencari artikel tentang tempat pariwisata alam di dunia. Jiyeon menginginkan lokasi pariwisata untuk penelitiannya adalah pariwisata yang memiliki nilai budaya tinggi. Ia ingin mengangkat nilai budaya itu menjadi obyek penelitiannya. Berbeda dengan Jieun, ia ingin tempat pariwisata yang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena Jieun sangat menyukai sejarah dunia.
Bola mata Jiyeon berputar-putar menbaca artikel dan melihat ganbar yang tampil di layar laptopnya. “Huwaaaa daebak!”
“Apa kau menemukannya?” tanya Jieun penasaran.
“Aku menemukannya Jieun-a. Ada dua lokasi pariwisata yang bagus untuk kita. Aku juga menemukannya untukmu.” Jiyeon tersenyum senang, bangga karena dirinya telah membantu Jieun mencari lokasi penelitian yang tepat.
“Oh, jinjjayo?” Jieun menempel pada Jiyeon untuk bisa melihat hasil searching yang Jiyeon lakukan sedari tadi. “Eodi?”
“Indonesia…” jawab Jiyeon bersemangat.
“Indonesia? Apa tidak ada tempat lain?” Jieun merasa kurang puas dengan hasil pencarian Jiyeon.
Pletaakk!
Jiyeon memukul kepala Jieun dengan buku tipis yang menjadi alas laptopnya. “Yaak, coba lihatlah. Indonesia bahkan jauh lebih luas dari Korea. Bacalah ini! Indonesia memiliki banyak sekali suku, bahasa, pulau, tempat pariwisata yang kaya akan nilai sejarah, budaya, keindahan alam. Di sana juga banyak sekali pantai indah. Salah satunya di pantai Sanur, Kuta di Bali. Pantai di Lombok juga bagus dan sangat alami. Apa kau tidak tertarik pergi ke sana?” tanya Jiyeon gemas karena Jieun meremehkan hasil pencariannya. “Igeo. Candi Borobudur, candi prambanan, kepulauan Nias, suku Toraja, masih banyak lagi yang menyimpan nilai sejarah. Bahkan candi Borobudur masuk dalam daftar keajaiban dunia. Apa kau tidak ingin meneliti di sana?”
Jieun diam saja. Sekarang ia bahkan bingung apa yang harus ia katakan. “Banyak sekali… Daebak! Gurae, aku memilih Indonesia.” seru Jieun yang menjadi lebih bersemangat daripada Jiyeon. Jiyeon memicingkan mata, menatap tajam pada Jieun. “Waeyo?” tanya Jieun polos. Jiyeon memutar bola matanya malas. “Omo, bagaimana kita ke sana? Apa lokasinya mudah dicapai?” tanya Jieun lagi.
“Yaaakk! Lee Jieun! Bacalah sendiri. Kau terlalu banyak tanya!” seru Jiyeon kesal pada Jieun yang tak.berhenti bertanya.
“Aigoo, si Dino mengamuk…” lirih.Jieun dengan tampang tak berdosa. “Yaak, lihat ini, perjalanan dari Korea ke Indonesia cukup mudah. Jika kau akan ke Bali, kau bisa naik pesawat Korea langsung ke Bandara Internasional di Jakarta lalu terbang ke Denpasar. Jika kau ingin ke Magelang tempat Borobudur, lebih baik kau terbang ke bandara Adisucipto di Jogjakarta.” jari telunjuk kanan Jiyeon melukis di atas layar laptopnya. “Omo! Jogja? Aku pernah mendengarnya. Onje?” Jiyeon mengingat-ingat sesuatu.
“Haish, ingatanmu itu buruk sekali.” Jieun mengambil alih laptop Jiyeon.
“Ingatanmu bahkan lebih buruk,” balas Jiyeon yang tidak terima atas kata-kata Jieun.
“Keurom, kapan kita ke sana?” tanya Jieun yang masih berkutat dengan laptop milik Jiyeon, anhi, tepatnya milik Chorong.
Jiyeon tampak sedang berpikir. “Tunggu tanggal mainnya.” Jiyeon mengeluarkan senyum evil-nya.

Chorong bersenandung ria di dalam kamarnya. Ia sedang asyik menyelesaikan tugas-tugasnya yang harus dikumpulkan besok lusa sembari mendengarkan lagu boyband kesukaannya.
Tok tok…
“Eonni, kau ada di dalam?” tanya Jiyeon menempelkan sisi kanan kepalanya di pintu kamar Chorong.
“Eoh. Wae?” Chorong masih asyik menggoreskan pena di atas kertas putih di depannya.
Cekleek…
Jiyeon membuka pintu kamar Chorong. Setengah badannya sudah berada di dalam kamar, setengahmya lagi msih diantara kedua gawang pintu itu. “Eonni. Aku ingin bicara sesuatu.”
“Mworago?” Chorong masih tetap.konsentrasi dengan tugasnya meskipun Jiyeon datang mengganggu.
“Eonni, untuk tugas akhir nanti, aku ingin mengadakan penelitian di Indonesia. Tepatnya di Bali. Apakah boleh?” tanya Jiyeon ragu-ragu. Takut Chorong marah.
Chorong berhenti menulis kata-kata di atas tumpukan kertas di atas mejanya, ia menatap Jiyeon fengan sedikit melirik. “Jinjja? Apa kau serius?”
“Eoh. Waeyo? Apa kau mengizinkanku eonni? Kalau eonni tidak mengizinkan, aku juga tidak akan pergi.” Jiyeon tertunduk lesu. Ia sudah menyiapkan mentalnya jika eonni-nya tidak mengizinkan. Tapi ia belum menyiapkan lokasi alternatif untuk penelitiannya jika penelitiannya di Bali batal.
“Bali?” tanya Chorong. Ia sedang mempertimbangkan permintaan Jiyeon. “Hmm gurae. Kau boleh ke sana. Oh ya, kapan kau ke sana? Aku sarankan saat libur musim semi ini. Eotte?”
Jiyeon terperangah. Kenapa justru Chorong yang bersemangat pergi ke sana? “Eonni, aku kan bukan ingin liburan, tapi untuk penelitian.”
“Aah, kau ini. Aku juga mau ke sana, Jiyeon-a. Siwan oppa mengajakku berlibur di sana.”
“Jinjjayo?” pekik Jiyeon dengan mata melotot.
Chorong mengangguk mantab. Senyum terkembang di bibirnya.

Sementara itu, di kediaman keluarga Kim, putra tunggal yang bernama Myungsoo sedang mengutak utik ipad-nya.
Myungsoo pov
Jenuh, bosan, di rumah tidak ada siapa-siapa. Appa dan eomma ke luar negeri. Biasa, urusan bisnis. Kadang juga mereka cuma berlibur. Sepulang dari Australia, aku sama sekali tidak memiliki teman. Teman-temanku berasal dari berbagai negara. Ya, aku baru saja lulus kuliah diploma di Australia jurusan Sastra Bahasa Inggris dan Jerman. Aku sudah melamar pekerjaan di berbagai bidang seperti pariwisata, pendidikan, hingga di perusahaan-perusahaan. Aku tidak mau bekerja di perusahaan appa. Menurutku jika bekerja di sana, aku akan sulit.mengembangkan diri. Karena di sana pasti semua karyawan akan mendewakan aku.
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang yang selalu rapi, tentu saja. Aku kan orang yang perfectionist. Sejenak terlintas di pikiranku untuk melamar kerja di luar negeri. Ya, Indonesia. Kebetulan kakak sepupuku, Luhan hyung tinggal di sana. Dia memiliki bisnis villa di Bali. Aah, aku akan menghubungi Luhan hyung. Mana ponselku?
To: Luhan Hyung
Hyung, kau bisa membantuku? Apa di sana ada lowongan? Paling tidak di bidang pariwisata. Aku bisa bahasa Inggris, Korea dan Jerman. Otte?

Cliiing… Sms dari Luhan Hyung
From: Luhan hyung
Eoh, kemarilah. Ada beberapa lowongan, sebagai supervisor di sebuah minimarket, tour guide, atau kau juga bisa membantuku mengurus villa. Tenang bro, maksudku mengurus penyewaan villa dan prasarana yang lain. Otte? Kalau kau mau, berangkatlah lusa.

Waah, ada lowongan di sana. Baiklah. Aku mau.
To: Luhan Hyung
Gurae, aku mau hyung. Aku ambil yang tour guide dan aku juga bersedia membantumu mengurus usahamu itu. Aku akan terbang ke Indonesia lusa.

Akhirnya aku dapat kesempatan kerja. Bali bukanlah tempat yang buruk. Bahkan Bali hampir sama dengan Jeju. Pemandangan di sana sangat menakjubkan. Aku pernah ke Bali sekali saat mengantar Luhan hyung pertama kali pergi ke sana, sebelum aku kembali ke Australia saat masih kuliah dulu. Bali wait me….

Luhan hyung benar-benar bisa diandalkan. Tidak percuma aku punya hyung sepupu seperti dia. Ahh, aku tidak sabar. Oh ya, persyaratannya harus ku siapkan sekarang. Nanti akan kukirimkan pada Luhan hyung melalui email. Keunde, aku lupa email Luhan hyung. Aish, Myungsoo pabbo. Kenapa tadi aku lupa tidak menanyakannya? Aku SNS saja. Kalau mengirim SMS biayanya mahal. Hehehe… aku kan belum bekerja, jadi harus berhemat. Ada lagi yang aku lupakan. Aku harus memberitahu appa dan eomma kalau aku melamar kerja di Indonesia dan akan tinggal bersama Luhan hyung di sana. Aku bosan sekali di sini.
Myungsoo pov end.

Hari ini Jiyeon berencana pergi ke rumah Jieun. Dia ingin membicarakan rencana keberangkatan mereka ke Bali. Jiyeon dan Jieun sudah meng-email-kan tugas akhir mereka ke Han saem dan sudah mendapat persetujuan dari gurunya itu. Jieun berencana mengadakan penelitian di Jogja namun ia ingin pergi ke Bali dulu. Jieun dan Jiyeon akan menikmati keindahan pantai dan tempat-tempat lainnya di sana.
“Waaah Jiyeon-a… Masuklah. Makanan sudah menunggumu,” seru Jieun yang baru saja membuka pintu yang telah diketuk berulang kali oleh Jiyeon.
“Jinjja? Uwaaa… Kau tahu saja kalau aku suka makan. Hehehe…” Jiyeon menampilkan senyum evil-nya.
Jiyeon dan Jieun makan bersama. Orangtua Jieun adalah pengusaha daging tersukses di Seoul. Namun Jieun sama sekali tidak menyombongkan diri. Berbeda dengan Jiyeon. Dia dan Chorong harus bekerja sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Jieun sering memberikan olahan daging pada Jiyeon secara cuma-cuma, sebagai tanda persahabatan.
“Mashiketa…” seru Jiyeon. “Aku sudah kenyang. Jongmal gomawoyo, Jieun-a. Oh ya, hari ini paspor kita selesai. Chorong eonni dan Siwan oppa juga ikut loh. Katanya Siwan oppa mengajaknya berlibur di Bali.”
“Jongmal? Uwaah pasti asyik rame-rame. Karena Chorong eonni sudah dibiayai oleh Siwan oppa, maka biaya untuk kita berdua akan aku tanggung. Serahkan saja padaku.”
“Jinjja? Jongmal gomawo lagi ne, Jieun-a…”

Jiyeon dan Jieun makan bersama. Mereka berteman bahkan bersahabat sejak masih kecil, kira-kira sejak umur 4 tahun. Dulu mereka bertetangga. Namun orangtua Jiyeon memilih pindah ke rumah baru yang jaraknya lebih dekat dari kantor appa Jiyeon. Persahabatan mereka tetap erat karena memang selalu bersekolah di sekolah yang sama.

Jiyeon, Chorong, Jieun, dan Siwan sudah bersiap berangkat ke Bali. Mereka masih menggu keberangkatan pesawatnya 30 menit lagi. Begitu pula dengan Myungsoo. Ia juga telah bersiap di bandara, menunggu keberangkatan pesawat ke Indonesia. Myungsoo hanya membawa satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel yang menggantung di punggungnya.
30 menit kemudian. Semua penumpang telah menempati tempat duduk masing-masing. Ternyata kursi yang ditempati Myungsoo berada di belakang kursi Jiyeon dan Jieun. Sementara itu Chorong dan Siwan menempati kursi di bagian paling depan. Agak jauh dari dongsaengnya.
Pesawat tinggal landas. Para penumpang pun memunggu beberapa jam hingga sampai di tanah zamrud Khatulistiwa, Indonesia.

Tbc.
Hehehe..
Otteyo? GJ ya? Idenya masuk menerobos ke otakku begitu saja. Komennya aku tunggu banget lho chingu.
Gomawo…🙂

70 responses to “[CHAPTER – PART 1] LOST IN BALI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s