[Chapter – 3] HIGH SCHOOL LOVERS : Good Friend.

hsl1

High School Lovers : Good Friend

© Flawless

Poster © Swa @ARTFantasy

Park Jiyeon, Krystal Jung (Kim Soojung), Kim Myungsoo, Choi Minho.

 

*

 

Uap panas mencuat dari dua gelas cangkir kecil yang berada di atas meja berbentuk oval. Satu dari cangkir itu sudah diambil oleh Soojung, sementara satunya masih menganggur di meja menanti untuk segera diambil oleh pemiliknya. Soojung menaikkan sebelah alisnya memandangi Myungsoo selagi menyeruput cokelat panas miliknya. Dia menyenggol pelan siku Myungsoo yang masih terdiam dengan wajah idiotnya yang sangat menjengkelkan, menurut Soojung. “Aku pikir Jiyeon cukup hebat sampai bisa membuat Oppa nampak seperti anak idiot.”

 

Myungsoo berpaling pada Soojung, lalu melemparkan tatapan ingin membunuh kepada adiknya. Baiklah, mungkin perkataan Soojung sedikit benar, tetapi mengingat kata anak idiot membuat Myungsoo kesal sendiri. Menurutnya, Jiyeon memang memberikan dampak yang besar tetapi tidak sampai pada taraf bisa membuatnya menjadi lebih gila dari sekarang. “Kau berlebihan. Aku biasa-biasa saja.”

 

Soojung memutar bola matanya malas. Dia cukup tahu bagaimana sosok Myungsoo yang cuek itu. Kakaknya mungkin tidak sadar, tapi dia sebagai seseorang yang menghabiskan 17 tahun hidupnya bersama Myungsoo tahu pasti hal yang dirasakan kakaknya sekarang. “Jadi?” Soojung sekali lagi menyeruput cokelat panasnya, menunggu Myungsoo untuk menjawab sepenggal kata singkatnya.

 

“Apa?” jawab Myungsoo acuh tak acuh. Dia meraih cangkir miliknya yang sedari tadi menganggur, lalu menyeruputnya lebih cepat dari Soojung. Ekor matanya melirik kilas Soojung yang tengah memandanginya dengan kesal. Myungsoo hanya membalas dengan reaksi yang menggantung.

 

Lagi-lagi waktu bercengkrama sepasang kakak-beradik harus hancur karena cekcok satu sama lain. Katakan saja mereka tidak akur, atau mungkin terlalu akur sampai setiap detik yang berlalu diantara mereka hanya terisi oleh pertengkaran khas dari kakak-beradik yang sedang dalam masa pertumbuhan.

 

*

 

Angin malam mulai berhembus lebih kencang dari sebelum-sebelumnya. Langit pun nampak tak bersahabat dengan kegelapan pekat tanpa bintang. Suara-suara bising sudah jauh dari telinga mengingat hari yang sudah sangat larut. Dalam kesunyian Jiyeon berdiri sendirian di balokoni rumahnya memandang kemanapun tanpa arah yang jelas. Dia mengingat tahun-tahun semasa kecilnya sebelum adanya perpisahan orang tuanya. Mereka semua bahagia dan setiap saat tidak ada perasaan lain selain kehangatan yang menyelimuti mereka, namun apa mau dikata semuanya jelas hanya berupa kenangan manis dalam ingatan seorang gadis penyendiri sepertinya. Napasnya dihembuskan dengan berat seolah memiliki puluhan beban yang tak sanggup lagi dipikulnya di bahunya. Kemudian, entah untuk alasan apa sosok pria permen karet itu menyelinap menghantui pikiran kacaunya. Sebenarnya tidak ada yang special, hanya saja bagi Jiyeon, setelah membiarkan Kim Myungsoo mendekatinya dengan bebas sepertinya penyesalan besar mulai datang menghinggapinya pada saat-saat tertentu. Mungkin secara alamiah dirinya terlalu takut jika suatu saat nanti dirinya mulai kehilangan arah lagi, dan akhirnya harus terjatuh dengan menyedihkan.

 

Suara mobil terdengar memenuhi pendengaran Jiyeon. Dia menebak itu pasti Ibunya. Siapa lagi memang yang akan datang selarut ini? Jiyeon bergerak meninggalkan balkoni berniat untuk segera menuju kamarnya, tidak ingin tertangkap Ibunya jika sampai sekarang dia masih terjaga dengan penuh pikiran-pikiran aneh.

 

Jiyeon menarik selimutnya sampai batas dada, lalu mulai memaksa matanya untuk menutup. Sial, disaat seperti ini matanya justru tidak merespon perintahnya. Dengan frustasi Jiyeon mulai bergerak-gerak gelisah di atas ranjangnya.

 

“Jiyeon-ah, kau sudah tidur?”

 

Itu suara Ibunya. Lembut bak kapas. Jiyeon sebisa mungkin untuk tidak bangun dan berlari ke dalam pelukan Ibunya, sekedar menunjukkan seberapa besar kerinduannya selama beberapa hari ini tidak melihat Ibunya. Tapi, mengingat waktu Jiyeon sadar Ibunya butuh waktu istirahat sekarang setelah selesai mengurusi pekerjaan yang sangat melelahkan.

 

“Selamat malam, dan mimpi indah, Yeon-ah.”

 

“Selamat malam, dan mimpi indah eomma.”

 

*

Jiyeon mengedarkan pandangannya ke sekitar lingkungan sekolah, mencari sosok permen karet itu. Dia menghembuskan nafas lega, sekali lagi bersyukur karena pagi normalnya kembali dapat dirasakannya setelah beberapa hari sempat mendapat ganguag yang sangat menyebalkan.

 

“Oh, Park Jiyeon!”

 

Jiyeon berhenti melangkah, lalu menoleh ke belakang singkat. Dan coba tebak apa yang matanya baru saja tangkap. Kim Myungsoo, tentu saja. Dia kembali berbalik tidak menghiraukan seruan keras dari Myungsoo seolah suara keras pria itu hanya angin lalu.

 

Senyum Myungsoo tidak tampak lagi tergantikan oleh wajah yang sangat masam semenjak Jiyeon memilih tidak mengindahkan seruannnya. Dia mendengus kesal. Rasanya baru kemarin Jiyeon sedikit terasa lebih lembut, dan sekarang Jiyeon sudah kembali kesifat aslinya.

 

“Wah-wah, ini rekor. Oppa ditolak lagi, ha-ha.”

 

Sial. Suara cempreng Soojung lagi-lagi mengisi pendengarannya. Myungsoo memberikan tatapan membunuh pada adiknya, sekaligus tangannya secara spontan mencubit sebelah pipi adiknya hingga mau tidak mau adiknya itu meringis kesakitan. “Kau pasti sangat senang menggodaku. Iya, ‘kan?”

 

“Tentu saja,” jawab Soojung singkat sembari memberikan senyum tanpa dosanya. Dia terkikik geli melihat kakaknya yang sudah terlihat terbakar kekesalan. Ini masih sangat pagi, dan dia sudah berhasil menggoda kakaknya. Menurutnya, ini sebuah kesempatan emas. Lagi pula jarang-jarang dia mendapatkan kesempatan untuk membuat Myungsoo merenggut sepagi ini.

 

“Dasar bocah nakal.” Myungsoo mencubit kedua pipi Soojung tanpa ampun, sama sekali tidak memperdulikan rengekan-rengekan dari adiknya yang meminta untuk dilepaskan. Lalu, Myungsoo melihat kilas Minho yang tengah berjalan ke arah mereka, spontan saja otak jahilnya mulai bekerja. “Soojung-ah, suami masa depanmu sedang menuju ke sini.”

 

Soojung menautkan kedua alisnya bersamaan tidak mengerti. Dia menoleh mengikuti arah pandangan Myungsoo. Soojung memaki Myungsoo dalam hati, lalu dengan kesalnya menginjak kaki kanan kakaknya yang kebetulan terlihat santai di sebelah kakinya. “Dia bukan suami masa depanku!”

 

Myungsoo merinding setelah merasakan kemarah Soojung. Dia hanya mengangguk-anggukkan kepala kala Soojung mulai mencecarkan puluhan ancaman-ancaman agar dia tidak lagi kelepasan berbicara, terutama di hadapan Minho. “Soojung-ah, dia sudah dekat jadi aku pergi. Dan, aku minta tolong kau dekati Jiyeon.”

 

Soojung merenggut kesal. Bagaimana tidak, setelah memebuatnya kesal setengah mati, kakaknya itu tanpa malu sedikit pun justru meminta pertolongan. Ck, benar-benar menyebalkan, pikir Soojung.

 

“Ya! Soojung, kau tidak apa-apa?”

 

Bukankah itu suara Minho? Iya, itu suara Minho. Telinga Soojung masih cukup bagus untuk bisa mengenal suara berat milik si pria kodok itu. Soojung tersentak, lalu sedikit mundur ke belakang karena baru menyadari jika sedari tadi Minho mengamatinya dengan jarak yang terbilang sangat kecil.

 

“Ya Tuhan, ada apa denganmu? Sepagi ini sudah termenung. Ada masalah?” Minho memulai percakapannya dengan serangan pertanyaan. Dia sebenarnya sedari tadi sudah menahan senyum melihat wajah Soojung yang nampak bodoh, tapi berhubung dia sendiri takut jika nanti Soojung marah maka sebisa mungkin tawanya harus ditelannya kembali.

 

“Masalah? Tidak. Tidak juga.” Jawaban macam apa yang baru saja kau berikan Soojung, dasar bodoh. Soojung merutuki kebodohannya sendiri sembari memajukan bibirnya pertanda kekesalannya sudah naik satu tingkat lebih tinggi dari sebelumnya.

 

“Ah, kau manis sekali.” Minho mengacak tataan rapi rambut Soojung. Lagi pula ini salah gadis itu sendiri karena membuatnya gemas dengan tingkah sederhananya. Benar-benar sesuai tipe adik idamannya.

 

“Sudah, aku pergi.”

 

Soojung berlari meninggalkan Minho dengan tanda tanya besar setelah berhasil melarikan diri. Ini satu-satunya cara. Dia tidak boleh lagi terlalu dekat dengan pria kodok itu, atau dia harus mengambil resiko semakin menyukai sosok pria itu.

 

*

 

Soojung memberanikan duduk di sebelah Jiyeon. Sesekali melirik Jiyeon, apakah gadis dingin itu terganggu atau tidak atas kehadirannya yang tidak diundang. Sebenarnya kalau bukan karena kakaknya yang meminta pertolongan dia mungkin tidak akan melakukan hal aneh seperti ini.

 

“Jiyeon-ssi, kau dan Oppaku.. ehm, apa kalian berteman?”

 

Soojung membeku di tempatnya setelah Jiyeon secara spontan menoleh padanya dengan tatapan yang memiliki serat aneh. Dia menelan salivanya dengan susah payah, lalu memutuskan untuk kembali membuka suara. “Begini, aku hanya ingin kau menjadi teman Oppaku, dan aku tentu saja.”

 

“Apa permen karet itu mengatakan aku adalah temannya? Tapi maaf, aku tidak berminat berada dalam hubungan pertemanan!” Jiyeon kembali focus pada buku biologi tebalnya. Dia berhenti memperdulikan perkataan Soojung yang semuanya nyaris berisikan si permen karet itu.

 

“Aish, Park Jiyeon-ssi, Oppaku sudah berusaha untuk berteman denganmu dan menolongmu keluar dari dunia hampamu itu, asal kau mau tahu!”

 

Dunia hampa. Benarkah selama ini dia hidup di dunia hampa? Selama beberapa saat Jiyeon diam memikirkan kalimat Soojung. Untuk kali pertama ada yang membuatnya goyah, dan ia benci untuk mengakuinya. Mereka bahkan tidak tahu apa alasannya memilih hidup dalam dunia hampa seperti ini, tapi mereka justru mau menariknya keluar.

 

“Dengar baik-baik. Entah Myungsoo, kau atau siapa pun itu tidak berhak mencampuri hidupku! Kalian bisa mencampuri hidup orang lain, tapi jangan aku.” Jiyeon menutup bukunya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Soojung.

 

*

 

Myungsoo menghembuskan nafasnya kesal entah untuk yang keberapa kalinya. Masalahnya, sejak tadi dia berkeliling sekolah mencari Jiyeon dan tidak menemukan sosok gadis itu di mana pun, dan sekarang apa ini? Jiyeon justru nampak duduk manis di bangku penonton lapangan basket. Sebelumnya dia sudah ke lapangan basket dan tidak menemukan siapa-siapa, lalu Jiyeon tidak tahu bagaimana sudah duduk manis sembari memandangi lapangan yang kosong.

 

“Ya, Park Jiyeon!” Seru Myungsoo memecah sunyi. Dia berlari secapat mungkin menuju Jiyeon, sebelum gadis itu nantinya lebih dulu melarikan diri darinya. Myungsoo duduk di samping Jiyeon sembari mengatur deru nafasnya yang berpacu sangat cepat akibat kelelahan. Dia menoleh ke samping. Jiyeon sepertinya masih sibuk dengan beban pikirannya sendiri. “Park Jiyeon, kau mendengarku?”

 

“Eoh?” Jiyeon tersentak, baru tersadar jika pria permen karet itu sudah duduk tepat di sebelahnya. Sekilas ucapan Soojung tadi lewat di kepalanya. Astaga, tidak. Mereka tidak bisa membuatnya goyah. Tidak boleh.

 

“Soojung sudah memberitahuku dan kau mungkin terganggu, tapi bisakah kau mempertimbangkannya?” Myungsoo bertanya dengan wajah cemas. Dia sangat berharap telinganya mendengar apa yang sangat ingin didengarnya. Hanya satu kata, ‘ya.’ Itu saja tidak lebih.

 

Jiyeon menatapi manik mata Myungsoo yang tengah memancarkan sebuah harapan. Apa mungkin sekarang dia memang harus membuka mata? Tapi bagaimana kalau mereka sama seperti Ayahnya yang meninggalkannya. Bagaimana jika mereka nanti membuatnya hancur untuk ke dua kalinya. Dia tidak mau mencatat rasa terluka lagi dalam hatinya. Luka dari Ayahnya sudah cukup, dan dia tidak akan mau lagi terluka. Tapi, pria di hadapannya ini benar-benar tulus dan berniat menolongnya.

 

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu sebelumnya, tapi aku sangat ingin untuk menjadi teman yang baik untukmu. Mungkin suatu saat nanti kau bisa membuatku menjadi rumah tempat paling aman bagimu untuk pulang.”

 

“Bagaimana kalau kau berubah setelah hari ini?”

 

Trauma. Setidaknya itu yang bisa Myungsoo tangkap setelah mempelajari sosok Jiyeon selama beberapa hari ini. Dia tahu gadis itu sudah terluka di masa lalu hingga akhirnya membuatnya kehilangan arah. Ini mungkin terdengar aneh, tetapi semenjak matanya beradu tatap dengan manik mata Jiyeon untuk kali pertama dia sudah mengambil keputusan untuk masuk ke kehidapan Jiyeon dan melindungi gadis itu, sama seperti dia melindungi adiknya, Soojung.

 

“Kau bisa percaya padaku.” Myungsoo mengeluarkan jari kelingkingnya berniat untuk mengikat janjinya pada Jiyeon. Dia tersenyum hangat menenangkan Jiyeon. Tanpa perintah dia meraih tangan Jiyeon, lalu menautkan kelingkingnya dan milik Jiyeon, kemudian kembali tersenyum hangat.

 

Aku harap dia benar-benar bisa menjadi rumah yang aman untukku. Jiyeon membatin dalam hati. Dia mengukir senyum di bibirnya membalas Myungsoo. Gadis itu sama sekali tidak tahu apakah ini langkah yang benar atau justru langkah yang salah, tapi setidaknya sekarang ada seseorang yang mau menolongnya untuk keluar dari dunianya sendiri dan mulai memandangi dunia lain yang lebih indah.

 

TBC

 

Aduh aku sumpah minta maaf banget karena mulai ngaret. Plus, sekalinya post isinya gaje atau gak jelas. Tapi, semoga kalian suka dengan ff ini. Dan, makasih buat yang udah komen di part sebelumnya, juga buat siders yang udah mau luangkan waktu buat baca ff super duper aneh aku, makasih banget.

Ah, nama penaku berubah dari A’Moore jadi Kyube *Gak penting banget sih :3

 Next part secepatnya kalau tugas sekolah tidak menumpuk ><

 

42 responses to “[Chapter – 3] HIGH SCHOOL LOVERS : Good Friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s