[Chapter-Part 2] Shadow Sun

shadowsun1

Credit poster to Sifixo@IndoFFArt

Title : Shadow Sun[Chapter 2]

Author : Ayhu Park

Casts :

  • Kim Myungsoo
  • Park Jiyeon
  • Choi Minho
  • Suzy Bae
  • Park Jungsoo/Park Ahjussi

Genre : Time Machine, Joseon Era, Romance

Length : Chaptered

Rating : PG-13

Prev : Chapter 1

Disclaimer : Tokoh milik diri mereka,orang tua, dan Tuhan.Author cuman pinjam nama.Plot,alur cerita hasil hayalan author.

A/N : FF ini adalah gabungan FF author yang lain yaitu Miracle Power dan The Lost Moon.

            Sedikit penjelasan bagi yang kurang mengerti, doryeonim itu adalah bahasa korea yang artinya tuan muda. Dan sebenarnya, Myungsoo memanglah buronan, itu karena dia melintasi waktu dan masuk ke era joseon. Minho dan Suzy yang bekerja di OSEP bertugas untuk menangkap Myungsoo dan mengembalikannya ke eranya, abad 21. OSEP adalah organisasi yang menjaga keseimbangan waktu karena di masa depan nanti, mesin waktu telah ditemukan sehingga organisasi ini bertugas untuk mencegah orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang mencoba mengubah nasibnya dengan pergi menemui masa lalunya. OSEP memiliki cabang di setiap abad dan kota-kota besar termasuk di Seoul. Jadi Minho adalah anggota OSEP yang berasal dari Seoul pada abad ke 21. Sedang Suzy adalah anggota OSEP yang berasal dari Seoul pada abad ke 29.

            Sedikit info, pada abad ke 21, OSEP adalah organisasi rahasia yang hanya diketahui oleh anggota-anggotanya saja. Sedang pada abad ke 29, OSEP bukanlah organisasi rahasia lagi. Hal itu dikarenakan mesin waktu belum ditemukan pada abad ke 21 sedang pada abad ke 29 sudah ditemukan. Orang-orang yang membuat mesin waktu di abad ke 21 juga merupakan orang yang berasal dari abad ke 29.

            Semoga penjelasan di atas dapat memudahkan para readersdeul untuk lebih mengerti alur cerita abal-abal ini. HAPPY READ!

­~^_^~

Joseon Era

Sang surya masih terlelap di ufuk timur tapi Park Ahjussi telah berada di depan paviliun besar milik Jiyeon. Ia tak memasuki area depan melainkan langsung menuju ke area belakang tempat Myungsoo berada.

            BRAKK. Park Ahjussi membuka pintu dengan kasar membuat Myungsoo yang masih terlelap refleks terduduk dengan mata sayupnya. Ia melirik ke sekeliling lalu mendapati Park Ahjussi yang tengah menatapnya datar.

            “Ternyata yang kemarin itu bukan mimpi” Gumam Myungsoo, sendiri.

            “Bangun!” Perintah Park Ahjussi. Myungsoo menatap Park Ahjussi dengan wajah yang memelas “Tapi aku masih mengantuk. Berikan aku waktu sejam lagi lalu aku akan pergi”

            “Sebentar lagi Jiyeon agasshi akan bangun dan kau harus pergi sebelum dia bangun. Cepat berdiri!” Bentak Park Ahjussi. Myungsoo tak bisa melawan. Ia mencoba untuk berdiri walau kesadarannya belum pulih sepenuhnya.

            Myungsoo berjalan ling lung mengambil seragamnya lalu mengganti baju pemberian Jiyeon kemarin dengan seragamnya.

            “Cepat pergi!” Perintah Park Ahjussi lagi.

            Myungsoo pun meninggalkan paviliun itu tanpa berpamitan dengan Jiyeon.

            Myungsoo kembali memasuki hutan. Setelah berjalan cukup jauh, matahari mulai terbit. Ia melintasi persawahan dan melihat para petani itu menggunakan pakaian budak era joseon. Myungsoo mencoba untuk mencerna hal yang dilihatnya sejak kemarin “Apa aku benar-benar berada di era joseon? Tapi itu tidak mungkin. Atau apa mungkin aku menjadi gila karena masalah itu?”

            Myungsoo menggeleng-gelengkan kepala sendiri. Para petani yang ada di sawah itu menatap aneh ke arah Myungsoo karena seragam yang digunakannya. Myungsoo memberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang petani yang ada di situ.

            “Permisi, tempat apa ini?” tanya Myungsoo. Petani itu menatap Myungsoo aneh “Ini adalah sawah”

            “Maksud saya, apa disini adalah Hanyang?” Myungsoo harap-harap cemas. Tapi petani itu malah mengangguk dengan santai lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

            Walau sudah sehari berada di tempat asing ini tapi Myungsoo baru percaya kalau dia benar-benar berada di Hanyang bukan di Seoul.

­~^_^~

            Jiyeon terbangun dari tidurnya. Ia segera membereskan diri lalu berniat memasak untuk Myungsoo, tapi ia sadar kalau Myungsoo telah pergi saat melihat baju Myungsoo yang dikeringkannya semalam telah menghilang. Jiyeon mencari di sekeliling paviliun. Ia tidak dapat menemukan Myungsoo tapi hanya menemukan Park Ahjussi.

            “Ahjussi, Myungsoo kemana?” tanya Jiyeon.

            “Saya sudah menyuruhnya pergi, agasshi” Jawab Park Ahjussi.

            “Tapi saya masih harus berbicara padanya. Anda tidak bisa menyuruhnya pergi begitu saja seperti itu” Jiyeon tidak terima.

            “Saya tahu agasshi ingin mempertahankannya disini, tapi hal itu tidak bisa saya benarkan”

            “Kenapa? Dia dalam keadaan yang sulit sekarang. Saya hanya ingin membantunya”

            “Dia dan agasshi tidak bisa bersama. Dia akan menjadi pembawa sial untuk agasshi jika agasshi mempertahankannya”

            “Tapi aku tidak bisa membiarkan dia berkeliaran tanpa tahu arah di luar sana” Jiyeon tampak cemas jika mengingat nasib Myungsoo.

            Tiba-tiba terdengar suara pagar. Sepertinya seseorang membuka pagar paviliun.

            “Saya yang akan memeriksa ke depan” Ucap Park Ahjussi. Jiyeon menggeleng “Biar saya yang mengecek di depan”

            “Kalau begitu saya akan ke belakang untuk memotong kayu” Park Ahjussi berlalu ke belakang, begitupun dengan Jiyeon yang menuju ke depan.

            Jiyeon membuka pintu dan mendapati seorang namja tinggi yang menggunakan baju polisi menghampiri Jiyeon.

            “Permisi, agasshi, saya dari kepolisian dan saya sedang mencari seorang buronan. Apakah mungkin anda pernah melihat laki-laki dengan wajah seperti ini?” tanya polisi itu sambil menunjukkan sebuah lukisan wajah yang terlihat seperti Myungsoo.

            “Dia… Sepertinya saya tidak asing dengan wajah itu tapi saya tidak yakin pernah melihatnya dimana” Jawab Jiyeon.

            Polisi yang sebenarnya Minho itu pun mengangguk.

            Sementara di belakang, Park Ahjussi tengah memotong kayu saat seorang polisi yang tidak lain adalah Suzy menghampirinya.

            “Bagaimana bisa anda masuk ke sini tanpa izin?” tanya Park Ahjussi marah.

            “Maaf. Saya dari kepolisian dan kami mencurigai seorang buronan berada di paviliun ini sehingga saya harus masuk tanpa izin”

            “Tidak ada buronan atau apapun di paviliun ini. Hanya ada saya dan agasshi yang tinggal disini”Bentak Park Ahjussi. Suzy mengangguk lalu pamit undur diri. Sepeninggal Suzy, Park Ahjussi berpikir sebentar lalu ia terlonjak kaget saat mengetahui sesuatu.

            Suzy sendiri menemui Minho yang tampak menunggunya di depan. Mereka pun pergi tanpa membawa hasil.

            Di dalam paviliun, Park Ahjussi buru-buru menemui Jiyeon.

            “Agasshi, anda harus segera pergi dari paviliun ini?”

            “Kenapa?” tanya Jiyeon, terkejut.

            “Tempat ini sudah tidak aman. Kim Myungsoo itu telah membawa kesialannya untuk anda. Anda harus segera pergi” Park Ahjussi tampak sangat panik.

            “Aku memang akan meninggalkan paviliun ini, tapi bukan untuk lari dan bersembunyi, melainkan aku akan mencari Myungsoo dan membantunya keluar dari masalahnya” Tegas Jiyeon.

            “Anda tidak bisa mengorbankan keselamatan anda demi Kim Myungsoo, agasshi”

            “Kami yang tidak seharusnya bertemu malah bertemu. Apa artinya itu? Itu semua adalah takdir untuk menyeimbangkan kembali apa yang tidak pada tempatnya”

            “Tapi agasshi…”

            Jiyeon tidak memperdulikan kata-kata Park Ahjussi dan buru-buru meninggalkan paviliun.

­~^_^~

            Minho dan Suzy diharuskan melapor sehari sekali pada atasan, itu artinya, mereka harus kembali ke abad 21 untuk melapor pada Inspektur So Jisub, atasan yang bertanggung jawab atas kasus ini. Saat ini, mereka tengah menuju ke tempat mesin waktu berada agar mereka dapat kembali ke abad 21.

            Mereka berhenti di tengah hutan. Minho mengeluarkan kartunya lalu menempelkannya di udara, seketika muncul sebuah pintu di hadapan mereka. Minho menekan password. Pintu itu terbuka, mereka pun masuk ke dalamnya. Minho menekan ‘Abad 21-Seoul’

            Semua berubah menjadi hitam-hitam lalu kembali seperti semula. Minho dan Suzy membuka mata mereka. Dan kini mereka tengah berada di samping lubang yang ada di hutan terlarang.

            Minho dan Suzy berjalan keluar hutan.

            “Apa kau akan menyempatkan diri ke abad 29?” tanya Minho. Suzy mengangguk “Aku harus bertemu dengan ibuku karena kemarin aku belum memberitahukan tugas ini secara langsung padanya. Bagaimana denganmu? Apa kau akan pulang ke rumah?”

            “Tentu saja. Ibuku juga sedang menungguku. Aku hanya berkata akan kerja lembur kemarin” Jawab Minho.

            Mereka telah keluar dari hutan. Minho mengeluarkan kartunya lalu menekan sebuah tombol dan tiba-tiba muncul sebuah mobil entah darimana. Mereka pun pergi menggunakan mobil itu.

­~^_^~

Joseon Era

            Myungsoo yakin kalau dia benar-benar berada di jaman joseon. Ia juga sudah sangat jengah melihat tatapan aneh orang-orang yang dilaluinya. Terlintas ide kotor di benak Myungsoo “Mau tidak mau aku harus mengganti bajuku dan cara termudah mendapatkan baju adalah dengan mencurinya”

            Myungsoo mengendap-ngendap memasuki sebuah rumah yang tampak sepi. Lingkungannya pun juga tampak sepi karena sebagian orang-orang itu telah pergi bekerja di sawah sejak pagi. Myungsoo mendapati baju yang tengah dikeringkan. Tanpa berpikir panjang, Myungsoo buru-buru mengambil baju itu.

            “Ada pencuri!” Teriakan seorang anak kecil mengangetkan Myungsoo. Ia segera lari. Anak itu terus berteriak. Beberapa orang dewasa yang ada di dalam rumah segera keluar lalu mengejar Myungsoo.

            Myungsoo berlari sampai ke daerah persawahan tapi hal itu justru membuatnya semakin mudah tertangkap. Saking licinnya, Myungsoo terjatuh. Para petani yang ada di situ segera menangkap Myungsoo dan memberikannya pada orang-orang yang mengejar Myungsoo.

            Sebagian orang memukul Myungsoo, sebagiannya lagi membawanya ke daerah permukiman tadi. Mereka melempar Myungsoo. Beberapa dari mereka siap-siap dengan batu di tangan mereka. Warga-warga itu pun melempari Myungsoo, tapi…

            Seorang yeoja menghalangi tubuh Myungsoo, alhasil ialah yang terkena lemparan batu. Myungsoo begitu terkejut, sementara yeoja itu mencoba untuk tersenyum. Yeoja yang tak lain adalah Jiyeon itu sedikit oleng lalu terjatuh ke arah Myungsoo. Myungsoo mencoba menahan Jiyeon yang saat ini bersandar di bahunya.

            Warga yang ada disitu juga sedikit kaget. Mereka berhenti melempari Myungsoo batu atau lebih tepatnya melempari Jiyeon. Di saat yang bersamaan Park Ahjussi datang menenangkan warga-warga itu.

            “Bawa agasshi ke paviliun sekarang” Perintah Park Ahjussi marah pada Myungsoo. Walau Myungsoo juga terluka saat dipukuli warga tadi, tapi ia berusaha sekuat tenaga menggendong Jiyeon kembali ke paviliun.

            Selama perjalanan, Myungsoo tak habis pikir dengan apa yang Jiyeon lakukan “Kenapa dia harus menolongku? Akan lebih baik kalau dia tidak menolongku. Aku sepertinya memang hanya bisa merepotkannya. Aku benar-benar merasa tidak enak”

            Ia pun sampai di paviliun. Ia segera membaringkan Jiyeon di tempat tidur secara terbalik karena bagian belakang Jiyeon yang terkena lemparan batu tadi.

            Myungsoo menatap Jiyeon resah “Sejak kemarin, kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah mati”

­~^_^~

Abad 21

            Setelah melaporkan hal-hal yang terjadi kemarin pada Inspektur So, Minho dan Suzy diberikan waktu satu jam untuk pulang ke rumah masing-masing.

            Minho pulang ke rumahnya. Ia mendapati ibunya dengan wajah cemas “Ada apa, eomma?” tanya Minho.

            “Minhoya, apa kemarin kau sengaja menghindari pertemuan itu?” tanya Ibu Minho, lembut. Minho menggeleng “Aku sama sekali tidak berniat menghindarinya. Kemarin aku benar-benar ada pekerjaan. Aku minta maaf pada Kim Sooro Ahjussi dan anaknya karena tidak bisa hadir”

            “Begitu yah, eomma pikir kau sengaja menghindarinya seperti Myungsoo”

            “Myungsoo?” Nama yang diucapkan ibunya itu menarik perhatian Minho.

            “Iya. Kim Myungsoo. Anak dari Sooro. Saat mengetahui ayahnya akan menikah lagi, ia marah besar dan lari dari rumah. Ia belum kembali sampai sekarang. Karena kau seorang polisi, kau bisakan memaksimalkan pencariannya. Eomma khawatir pada keadaan Myungsoo” Penjelasan Ibu Minho terlalu jelas, membuatnya tak sanggup berkata apa-apa selain mengangguk.

­~^_^~

Abad 29

            Suzy akan segera kembali ke Abad 21. Saat ini, ia tengah berpamitan dengan ibunya.

            “Suzyah, jaga dirimu baik-baik. Eomma begitu takut jika kau harus bertugas lagi di jaman Joseon” Ibu Suzy memeluk Suzy. Suzy mengangguk “Iya, eomma. Aku akan berhati-hati”

            “Dan kau tahu kan besok adalah hari apa?”

            “Sesibuk apapun aku, aku tidak akan pernah melupakannya, eomma”

            “Kau akan pulang kan, besok?”

            “Aku pasti pulang” Angguk Suzy pasti.

            Setelah berpamitan, Suzy berangkat ke kantornya. Ia buru-buru menuju ke abad 21.

Abad 21

Ternyata Minho sudah menunggunya.

            Mereka menuju ke hutan terlarang.

            “Kau tahu siapa Myungsoo?” tanya Minho. Suzy menatap Minho bingung “Apa maksudmu? Kim Myungsoo adalah tersangka yang kita kejar karena melintasi waktu tanpa izin”

            “Kau benar, tapi fakta yang baru kuketahui adalah Kim Myungsoo merupakan anak dari tunangan ibuku” Minho tertawa geli saat mengucapkannya.

            “Anak dari tunangan ibumu? Itu artinya, Kim Myungsoo adalah calon adikmu?” Suzy membekap mulutnya tak percaya.

            “Ya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kantor tahu mengenai fakta ini”

            Suzy mencoba kembali bersikap normal “Hanya ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang baik dan yang buruk. Kemungkinan baiknya, semua akhirnya tahu alasan Myungsoo memasuki mesin waktu itu karena ketidak sengajaan ditambah dia adalah calon adikmu, kemungkinan hukumannya tidak akan berat. Sedang kemungkinan buruknya, kau akan dibebas tugaskan dari kasus ini dan kau tidak bisa lagi mengontrol pencarian Myungsoo”

            “Aku berharap kemungkinan baiknya yang terjadi. Tapi kuharap, kau tidak usah membicarakan tentang hubunganku dan Myungsoo di kantor saat ini” Pinta Minho. Suzy mengangguk.

­~^_^~

Joseon Era

            “Jangan bunuh dia! Jangan bunuh dia!” Teriak Jiyeon mengingau. Myungsoo yang ada di sampingnya buru-buru membangunkan Jiyeon “Jiyeon, sadar! Sadarlah” Myungsoo mengguncang tubuh Jiyeon.

            Jiyeon terbangun dengan napas yang memburu. Ia segera memeluk Myungsoo yang berada di sampingnya. Myungsoo sedikit terkejut, tapi ia dapat merasakan badan Jiyeon yang bergetar hebat dan jantungnya yang berdegup dengan kencang. Myungsoo balas memeluk Jiyeon sambil menepuk-nepuk lembut punggungnya.

TBC

.

.

.

Author udah berusaha semaksimal mungkin, so, don’t forget to leave your mark.

Readerdeul juga bisa membaca FF Author yang lain disini

50 responses to “[Chapter-Part 2] Shadow Sun

  1. Pingback: [Chapter-Part 1] Shadow Sun 2 – Minho Meet Jiyeon And Suji | High School Fanfiction·

  2. Pingback: Shadow Sun[Epilog] | Nealra Note·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s