Sweetest

sweetest-myungyeon

Sweetest

by Shaza | Jiyeon & Myungsoo | 2000+ words of romance and hurt |

.

Manis. Tidak selamanya manis akan berakhir menyenangkan.

.

Kehidupan sekolah menengah atas yang digeluti Jiyeon tidak berbeda jauh dengan teman-temannya. Ketika mereka menggulung diri di antara rentetan pelajaran, maka dirinya turut melakukan hal serupa.

Perubahan zaman yang dinamis membawa sosoknya pula menuju sekat yang lebih lebar. Jiyeon menemui Myungsoo di atas jembatan pembelah sungai. Ketika anginnya menerbangkan surai cokelatnya, serta membuai lembut jemarinya yang terbungkus sarung tangan.

Musim dingin yang dihias dengan kesejukan itu terasa hangat ketika Myungsoo perlahan menghampirinya dari ujung jembatan, menyapanya dengan senyum lembut yang mau tak mau membuat gadis itu turut tersenyum.

Manik tajam Myungsoo memancarkan kejelasan tak berarti, namun cukup membasuh hati Jiyeon dengan segala ketenangan.

“Park Jiyeon.” Mulanya, menyebut nama dengan jabatan tangan yang singkat sebagai perkenalan. Teman barunya itu mengukir senyum yang lebih lebar, kurva lengkung itu terlihat manis di mata Jiyeon.

“Nama yang cantik.” Responsnya, enggan menyebutkan nama. Satu kalimat manis di pertremuan pertama mereka telah menuntun jantung Jiyeon menuju detakan tak teratur, ritme terantak serta waktu yang berjalan begitu cepat.

Matahari sore kala itu bergerak lebih gesit menuju kaki langit, meminta bulan untuk segera mengganti tugas. Menutup pertemuan manis Jiyeon dan Myungsoo.

Itu adalah empat tahun lalu yang menjadi kenangan tak terhapus di benak Jiyeon. Gadis itu tersadar bahwa dirinya telah mengilas balik masa lalu dengan secangkir cokelat panas di genggamannya. Maniknya mengatup keras, melawan kantuk yang hendak menariknya menuju kenyamanan ranjang.

Detik jam yang bergerak menuju menit itu telah ia amati semenjak hadirnya malam pada hari ini. Menanti kepulangan Myungsoo di apartemennya, selalu sama seperti itu—dan tak ada yang mengalih gerakkan rutintasnya dalam mengaduk larutan cokelat sebagai penopang kantuknya.

Jiyeon melirik brosur iklan yang teronggok tenang di samping sikunya. Ia melirik sesaat, lantas mengetahui bahwa produk es krim tengah dipromosikan melalui gambar serta tulisan warna yang mencolok. Jiyeon tertarik untuk membacanya. Ia bekerja sebagai mahasiswa di kampus yang tak rehat menyembulkan pebisnis serta luncuran iklan tak menarik.

Jiyeon mendapatkan brosur iklan setiap kali tungkainya melangkah membelah lajur menuju gerbang keluar kampus. Dan brosur es krim yang ia dapatkan ini adalah satu di antara brosur iklan lainnya. Es krim chambungau samanco terukir melalui garis-garis gambar di dalam brosur tersebut. Bentuk roti ikan yang diisi oleh es krim itu mengoyak perut Jiyeon.

Ia menelan liurnya, seleranya untuk mereguk larutan cokelat di cangkirnya telah menguap di udara. Celah keinginan di benak lebih mendorong selera makannya untuk melahap es krim dengan lapisan roti bentuk ikan itu.

Bunyi debuman kecil dari arah pintu mengejutkan Jiyeon. Tulang lehernya tertarik untuk mendongak, maniknya menyorot jelas ke arah Myungsoo yang baru saja menutup pintu apartemen. Gadis itu spontan melonjak, bangkit dari posisi terduduknya, lantas menghampiri tunangannya.

“Myungsoo-ya.” Panggilnya, tak acuh lagi pada secangkir cokelat yang ia letakkan di atas meja makan. Myungsoo menoleh, wajahnya lelah—dihias dengan anakan rambut yang tak lagi terkatup rapi. Pria itu menarik sudut bibir, melemparkan senyum kecil pada Jiyeon ketika gadis itu mendekatinya.

“Aku ingin es krim.” Lanjutnya disertai senyum yang menghela garis-garis di matanya untuk menyipit. Myungsoo memandang Jiyeon dengan sepasang alis yang terangkat, kemudian tubuhnya ditabrak oleh tubuh lain—Jiyeon. Gadis itu mengalungkan tangannya di punggung Myungsoo, selagi kepalanya terdongak ke arah pria berkulit kecokelatan itu.

Myungsoo baru saja menjejak apartemen mereka, dan tunangannya telah meminta hal-hal lain yang seolah menyeret kakinya untuk mengeluari apartemen. Senyumnya terkembang, ia mengacak kepala Jiyeon.

“Baiklah.” Tanpa bertanya apa tujuan gadis itu menginginkan sebuah es krim, Myungsoo kembali mengeluari apartemen. Menindih rasa lelah serta kantuk yang sejak tadi bersemayam di raganya. Myungsoo melempar napas panjang-panjang, meneguhkan hati untuk selalu menuruti keinginan Jiyeon.

Malam itu, di tengah senyapnya malam menjelang pagi, Myungsoo menyibukkan diri untuk mencari es krim. lebih dari itu, senyuman Jiyeon adalah satu yang terpenting di hidupnya.

.

.

Myungsoo pernah berkata, bahwa selama ia menjadi tunangan Jiyeon, benak—maupun batinnya—tak akan pernah lepas dari milik Jiyeon. Ia menjalin suatu hubungan yang spesial bersama Jiyeon ketika keduanya telah saling mengenal satu sama lain selama dua tahun.

Sesuatu dalam jati dirinya menghela ketertarikan berlebih pada sosok Jiyeon. Matanya yang dingin, serta tingkah polah yang kekanakan dalam sisi yang berbanding. Jiyeon kekanakan, bukan dalam artian ia adalah sosok yang manja, namun seorang gadis yang menguarkan kesan aku butuh pertolonganmu pada Myungsoo.

Myungsoo menangkapnya melalui sorot mata Jiyeon. Gadis itu mendapat kekangan dari kedua orang tuanya, kendati kedua beliau itu terlalu mengenyam sibuk di luar rumah. Dari sanalah, Myungsoo mengukir janji nyata untuk—selalu meluluskan seluruh keinginan Jiyeon, melewati seluruh usahanya.

Seperti pada malam kemarin, ia tidak tahu apa yang membuat gadisnya begitu menginginkan es krim, namun dirinya megikut sertakan daftar itu ke dalam permintaan yang harus ia janjikan.

Keduanya kini bertunangan, tinggal dalam satu naungan apartemen yang kecil—namun hangat. Selama itu pula, dirinya menyelam ke dalam lautan cinta yang manis bersama Myungsoo. Sosok Myungsoo yang selalu mengikrar janji nyata untuk segera menikahinya, itu semua terasa begitu nyata bagi Jiyeon.

Myungsoo acap kali mendapat teguran dari sahabatnya, Sehun. “Kau gila?” kalimat pertamanya yang tidak mengenakkan itu membuka percakapan pagi mereka di kantor. Sehun, dari balik mejanya tengah menyantap sekeping kimbab.

Myungsoo mereguk kopi hitamnya singkat sebelum mendelik ke arah Sehun. “Apa maksudmu?” ia meletakkan gelas kertas di atas meja yang tersarat oleh komputer, dan berkasnya. Sehun melongokkan kepala ke arah Myungsoo, kemudian mendengus.

“Tentu saja kau gila. Kau belum sarapan, bukan?” kali ini Sehun memperjelas maksudnya mengolok Myungsoo. Pria berkulit kecokelatan itu mengangguk kecil, matanya menerawang ke arah layar komputer, dengingnya memenuhi udara.

“Jiyeon tidak pernah membuatkanmu makanan, eh?” Sehun bertanya lagi, kali ini menyembunyikan kotak bekalnya ke dalam tas setelah menghabiskan seluruh isinya. Myungsoo memandang Sehun dengan kernyitan, kemudian membuang napas teratur.

“Terserah apa katamu.” Myungsoo mengusap wajahnya, mendalih pertanyaan berupa fakta dari Sehun itu dengan kesibukannya. Ia tak ingin terlalu diingatkan oleh tunangannya.

.

.

Jiyeon adalah sosok yang egois. Ia tidak peduli nasib orang lain ketika dirinya menyerukan pendapatnya. Ia tak acuh kepada kebahagiaan orang lain, atau kesedihan orang lain—hanya dirinya yang menjadi prioritas tertengah.

Ketika tungkainya melajur mengukir garis menuju gereja yang berada lima puluh meter di perumahannya, lantas doa yang ia gumamkan dalam hati hanyalah untuk dirinya—kebaikan dirinya, suksesnya, serta seluruh cinta yang diberikan Myungsoo padanya.

Sejak dulu, Myungsoo si pria manis itu tak pernah mengecewakannya—sama seperti malam kemarin, ketika dirinya menuang permintaan konyol yang berisi es krim bentuk ikan. Myungsoo berani menjanjikannya, dan ia memberikan es itu pada Jiyeon setelah lima belas menit berselang.

Siang itu, Jiyeon menekuri majalahnya—memandang setiap rinci artikel demi merenggang penat selama menyelam dalam lautan perkampusan. Ia melirik ke arah satu bagan yang memuat topik romantisme Korea yang tak kunjung berkurang tiap menitnya.

Korea memang selalu sama—romantis, namun tidak berkesan tinggi. Merangkap sederhana dalam artian yang menunjang memori untuk diingat. Jiyeon mendesis ketika membaca tiap rentetan kata yang dirangkai oleh wartawan di dalam majalah kota tersebut.

Kantin kampus tanpa bekapan geming itu menyuruk bising. Jiyeon tak berselera untuk menyentuh jajangmyeon di depannya. Ia menarik ujung botol air mineral, memutar tutup, lantas dengan tenang meneguknya—membersihkan kerongkongannya dengan basuhan air. Ia menerawang jauh, memikirkan tunangannya.

Myungsoo dengan segala romantisme Korea itu tampak bersanding balik, saling memunggungi. Begitu berbeda dengan kekhasan negeri ginseng ini. Myungsoo terkadang begitu berlebihan. Jiyeon membuang napas, mengurut pelipis.

Tunangannya tak pernah ingkar janji, menepati seluruh keinginannya dengan senyum manis. Myungsoo tak pernah menunjukkan kekurangannya terhadap Jiyeon, seperti memaksakan diri untuk selalu tampak sempurna dan berhati-hati di setiap langkahnya.

Jiyeon meragukan cinta Myungsoo. Seperti yang sudah-sudah. Kendati dua tahun mereka jalin dengan suatu keakraban, ketika status baru menjejak keduanya—meninggalkan persahabatan—justru yang ia dapatkan adalah Myungsoo si pekerja rajin yang kerap pulang larut.

Jiyeon bernapas pendek, berusaha memaklumi setiap detil takdir yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia hanya menginginkan Myungsoo yang dulu, Myungsoo yang selalu terbuka padanya.

Di bawah kesadarannya, Jiyeon menekan layar ponsel di sebelah majalah yang ia baca. Mengirimkan pesan singkat kepada Myungsoo.

Myungsoo kau selalu menerima segala keinginanku, bukan? Kalau begitu, berikan aku bintang.

Namun hati kecilnya berbisik sedih dengan permintaannya itu. Ia yakin, Myungsoo akan berusaha menerimanya dan berjanji akan membawakan satu bintang untuknya. Jiyeon menepuk keningnya dengan bantalan kedua lengan yang terlipat di atas meja.

Demi seluruh warga Korea, ia hanya ingin melihat Myungsoo-nya menolak permintaannya. Ia tidak ingin Myungsoo terus-terusan memanjakannya, hingga pada akhirnya akan melukai diri sendiri.

.

.

Tepat. Seperti dugaannya, Myungsoo pulang larut—sama seperti kemarin. Namun, suasana yang ia dapatkan hari ini jauh berbeda jika dibandingkan kemarin malam ketika dirinya menyelingi diri di antara brosur kampus.

Kini, ia menuai kecemasan berlebih pada Myungsoo yang tak kunjung pulang pada pukul nyaris menuju dini. Ia meringkuk, menunggu Myungsoo di depan pintu apartemen mereka—tak peduli pada angin musim gugur di tengah malam.

Maniknya menelusur sekerat langit keunguan yang ditabur titik bintang. Bukan ketenangan seperti dulu yang ia dapatkan, melainkan seukir penyesalan tertinggal dari pandangannya. Myungsoo-nya sedang mengelabuhi janji untuk membawa keinginannya, sebuah bintang.

Bahkan untuk anak yang masih terduduk di bangku sekolah dasar pun tahu, tidak akan ada yang bisa mengambil bintang bahkan harganya sangat mahal untuk satu butirnya diambil. Jiyeon mengerang, tidak menyangka bahwa Myungsoo akan mengabulkan permintaan konyolnya.

Ditemani kebisuan, Jiyeon berpikir—untuk apa Myungsoo begitu memanjakannya dengan segala hal manis? Membuatnya bahagia bukanlah dengan cara seperti ini. Jiyeon merutuk dalam keheningan. Faktor dari sikap egois dan manjanya telah menganak dari perbuatan manis Myungsoo selama ini.

Myungsoo yang selalu mengiyakan tanpa membantah itu membuat Jiyeon terlena. Melupakan sedikit bahwa manusia itu adalah tunangannya—yang entah mengapa dalam sisi manapun justru terlihat seperti budak atau kacung. Jiyeon menyesali setiap perbuatan yang ia tuang kepada Myungsoo selama ini.

Wajah dinginnya terhias senyum semenjak pertama kalinya Myungsoo mengenalnya di jembatan yang membelah sungai luas. Jiyeon hanya tidak pandai berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberinya seluruh kenikmatan dan manisnya cinta bersama Myungsoo.

Myungsoo yang tidak mengetahui bahwa bintang yang ia inginkan adalah bintangnya—Kim Myungsoo. Bukan bintang di atas langit malam.

Kepalanya menyelndup ke balik mantel, melindungi diri dari dingin sementara fokusnya hanya untuk menghangatkan kulitnya. Derit panjang menyeruak masuk ke dalam indra pendengarannya, membuat Jiyeon mematung beberapa jenak. Ia mengangkat kepalanya, hendak menilik sumber suara.

Di sana, Myungsoo dengan setelan jas formalnya sedang menutup gerbang kecil gedung apartemen. Ia mengedip ketika melihat Jiyeon tengah terduduk di atas tangga masuk gedung apartemen, sepasang alis tebalnya terangkat tinggi.

Myungsoo berlari kecil menghampiri tunangannya yang memucat. Jantungnya berdentum keras, otaknya terperas memaksa memori untuk mengingat pesan singkat berisi keinginan Jiyeon pada bintang itu.

“Jiyeon-ah. Hei, kenapa di sini?” Myungsoo turut berjongkok di hadapan tunangannya, mengusap wajahnya dengan telapak tangannya yang hangat. Pria itu mengembuskan napas ketika mendapati kebisuan Jiyeon. Ia menyelipkan anak rambut Jiyeon ke belakang telinga, mengamati wajahnya yang pucat.

“Tidak dingin? Ayo kita masuk.” Myungsoo beralih menggenggam jemari Jiyeon, menariknya lembut untuk berdiri. Jiyeon tertatih bangkit, memandang tunangannya dengan raut penuh rasa bersalah. Ia terdiam sesaat ketika melihat Myungsoo yang sedang merogoh benda di dalam saku celananya.

Tanpa jangka waktu yang lama, pria itu mengeluarkan selingkar cincin dengan bandul bintang di tengahnya. Jiyeon terbelalak, menahan napasnya ketika Myungsoo dalam spontan yang cepat menyematkan lingkaran perak itu di jari kelingkingnya.

Diikuti kikikan kecil, Myungsoo meraba benda yang telah tertanam di jari mungil Jiyeon. “Ini bintang-mu, Sayang.” Ujarnya di tengah hening malam, serta remang cahaya jendela gedung apartemen. “Aku tidak bisa memberimu bintang sungguhan, maafkan aku. Aku tahu aku mengecewakanmu, tapi—” penjelasan itu tak sempat bertemu ujung, Myungsoo membelalak ketika merasa lehernya tertarik ke depan. Itu sepasang lengan Jiyeon.

Jiyeon memeluknya, mengalungi lengannya pada leher Myungsoo sementara pria itu berusaha mengabaikan detak jantungnya yang melonjak tiba-tiba. Mengikuti naluri, Myungsoo melingkarkan lengannya pada pinggang Jiyeon, menyadari bahwa momen ini telah lama tertinggal jauh, lenyap bersamaan dengan masa.

Keduanya mengulum rindu dalam ketenangan. Dekap hangat itu menepis angin malam. Jiyeon merasakan matanya memanas, sesuatu yang mencabik hatinya ketika melihat Myungsoo yang menyematkan bintang di jarinya membuat gadis itu bersedih. Menampung segala kegigihan Myungsoo selama ini, ia tak dapat menyangkalnya lagi.

“Kenapa kau melakukan ini semua?” ia memperlambat tempo bicaranya ketika menyadari ada getar yang menyertai gumamannya. Jiyeon mendongak, tak melepas lingkaran di leher Myungsoo. “—kenapa kau selalu menerima permintaanku?” pertanyaan kedua ia luncurkan bersamaan dengan bulir air mata yang menggelinding di atas pipinya.

Tangan Myungsoo tergerak menyeka pipi tunangannya, menghapus segala air tak berguna itu. “Aku mencintaimu.” Dan memang hanya itulah alasan dari seluruh kegigihan itu ia lakukan. Myungsoo bukan malaikat dengan sepasang sayap yang dapat membentang, atau menyeret di ubin ketika tidak terentang. Myungsoo juga bukanlah Tuhan yang bisa mengabulkan permintaan tunangannya dalam hitungan kejap.

Namun, dirinya adalah sosok yang—berusaha—untuk berbuat manis kepada tunangannya. Menunjukkan cintanya melalui segenap perbuatan adalah jalan pikirnya, ditimbang dengan janji palsu yang diucap melalui mulut, ia jauh membenci ucapan romantis. Ia tegas menunjukkan cintanya melalui perbuatan.

Perbuatan manisnya itu untuk saat ini terlalu banyak menyakiti Jiyeon. Bukan karena ia tidak bahagia pada akhirnya. Namun, sekelumit perasaan bersalah yang bersemayam di lubuknya kian menyebar memakan sarafnya untuk segera menitikkan air mata.

“Maafkan aku, Myungsoo. Seharusnya, aku tidak pernah merepotkanmu dengan meminta ini-itu.” Jiyeon tidak dapat mengungkapkan cintanya kepada Myungsoo. Segalanya terlalu berbelit untuk dibabarkan menggunakan kalimat. Betapa ia menyayangi Myungsoo dengan segala ketulusannya.

Myungsoo tersenyum hangat, kembali menyembunyikan wajah Jiyeon di balik bahunya. “You’re my star. But, thanks for the ring. I do love it.” Jiyeon menggosok matanya, membuang seluruh kesedihannya di atas kebahagiaan yang sekarang ia dapatkan.

Myungsoo—tunangannya, hanya ingin menjadi sosok pria sempurna yang selalu memberikan kesan manis di setiap langkahnya bersama Jiyeon. Jiyeon mengapresiasi hal tesebut dengan cintanya. Tangannya selalu terentang lebar untuk menerima keduanya.

Memang, cinta yang manis tidak selalu berakhir menyenangkan. Manis yang berlebih juga akan mencekatmu, serupa dengan Jiyeon saat ini. Namun manis tetaplah manis yang akan membuatmu tersenyum.

.

.

/fin./

.

.

Ada yang masih inget sama Shaza? Itu loh, anak kelahiran tahun 2001 yang semua list FF-nya di sini tuh Myungyeon semua? HAHAHA!

Oke, mungkin aku gak bakal banyak bacot di sini. Di FF terakhir yang ku-post di sini, ada yang minta komentarnya dibales? Ehm, sebenarnya aku bisa aja sih ngebales. Tergantung dengan komen kalian ya, kalau komen kalian terlalu singkat—otomatis, aku gatau mo bales apa.

Intinya sih, aku bales komen yang menarik perhatianku aja. So, kalau mau komennya dibales, bikin komen yang menarik /halaah/

Ada yang bisa ngasih pendapat tentang pesan moral yang terkandung di fiksi ini? Tell me what you think.

Yang mau kontakan sama Shaza. Bisa lewat Twitter sama Instagram.

42 responses to “Sweetest

  1. emm.. baru sempat baca nic ff…. ketingglan bgt.. hiskhisk…
    aigoo myungsoo sbr bgt n penyanyang bgt.. klo di khdpan real caya gx caya pasti gx ada org yx memiliki karakter sperti myungsoo di ff ini….
    next project i wait…

  2. Eeehhhh , maaf banget shaza , ngepost nya kapan koment nya kapan … Hahahahah , alna baru sempat baca … Iiiih , gerem deh liat kamu , msih sebaya adek aku kamu uda bisa buat ff , sebenarnya gak palah kaget , tapi masih gerem ajasih … Oiyaaa , pengen deh baca ff berchapter nya kamu shaza , kpan bisa buatnya , ditunggu ajayaaa … Invite yaaa pin aku 2B425BF9 biar tambah akrab , tpi kalau gak di invite pun tak apaapa …. Jjjjjjjaaaaannnnngggg shaza ..

    • FF chapter? Duh, kalo itu masih dipertimbangkan ya kak. Buat pinnya, maaf aku gak punya BB, juga gak punya apps-nya, maaf ya kak. Tapi makasiiih baby’s udah mau baca dan komen.

  3. Tumben lma saeng baru ng’post…🙂
    as usual,eonni sllu exited buat bca bila udh lihat yg nulis author shaza ini,keren,bhs tulisanx bgus,kan g enak bgt klu bca ff Korea,tpi bhsx pke “dong”,”engga”,aneh aja byangin org Korea ngomong kya gitu,y kan…hehe…
    two thumbs up buat kmu ^^

    pesan moralx,mungkin ini y,,,dlm sebuah hbungan hrs ad keterbukaan,saling empati dgn pasangan,ap yg mnjdi keinginan psngan,jgn kita aja yg minta d perhatiin,intix jgn egois,mian klo salah..🙂

    yg mnt koment d bls,kyx eonni y,,klu g slh eonni pernah koment gini “klo bisa,bls juga koment readerx” gitu y,,,tpi gpp,sebisax aja saeng,soalx eonni dan mngkin reader yg lain jg ngerti,klu kmu juga sibuk,d luar dunia per ff an..hehe… mian ne…

    last but not least,keep writing about Myungyeon,klu Eonni lihat d HSF ini byk Myungyeon shipper.
    Gomawoyo and Fighting ^^

    • Hai eonni! Aku balas komen eonni yaaa~
      Ini, aku emang gak begitu aktif di HSF, soalnya aku bukan myungyeon shipper. Jelasnya, aku bukan myungsoo, jiyeon, suzy, minho stans gitu. Jadi, yaaah.. aku suka aja bergabung di sini. Maaf ya kalau aku kelamaan update T^T

      Hehe, makasih udah excited baca FF-ku. Duh, senengnyaaa.. oh, itu mah karakter aku dong kak, xixixi.

      Wis, pesan moralnya bener banget. Seratus deh buat kakak, ciyeee.. hehe.

      Oh, jadi kakak yang minta dibales. Enggak kok, aku anaknya gak begitu sibuk. Malah kalau udah disuruh bales komen, biasanya bisa panjaaang banget, bawel deh -,- makanya aku diemin aja kalo ada yang komen, maaafff.

      Siaaappp.. aku usahakan lah cepat, huehehehe. Makasih komennya ya kaaak🙂

  4. aku juga gak tau thor mau komentar apa., karena ff mu ini sungguh luar biasa.. daebakk..
    aku tnggu ff myungyeon lainnya..

  5. shaza \^o^/ aku semangat kalau baca ff mu…
    awalnya liat summary udah bikin khawatir kalau akhirnya myungyeon break up :3 eyyy ternyata gak😀
    pesan moralnya yaa?? agh aku bukan org yg pintar sprti dirimu yg pandai membuat diksi.. tapi kurasa pesan moral ff ini menyangkut ego.. yayaya, aku sangat memahami susahnya mengurangi masalah ego, eakkk.
    FF terakhir yang ku- post di sini? eoh… apa maksudmu shaza?? aku msh mengharapkan ff myungyeon mu di sini. Keep writing shaza! fighting🙂

    • HAIII!! Aku suka komennya kakak, hehe.
      Duh, itu termasuk bener kok buat pesan moralnya, hihihihi.

      Bukan gitu kak. Coba baca ulang notes-ku.
      “Di FF terakhir yang ku-post di sini, ada yang minta komentarnya dibales”

      Jadi, di post-an terakhirku itu ada yang minta komennya dibales. Inget post-an terakhirku di WP ini gak? Itu judulnya Envious. Nah, di envious itu ada salah satu reader yang minta komennya dibalas.

      Maap nih, aku agaki berbelit ngejelasinnya. Intinya aku bakal tetep nulis kok di sini, tapi mungkin gak seaktif author lain T^T
      Thanks ya kaaa🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s