[ONESHOOT] THE SEEKER

the seeker

Author : Yochi Yang

Title : The Seeker

Main Casts : Park Jiyeon and Kim Myungsoo

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Fluff

Rating : General

 

Woe chingudeul, masihkah ente-ente mengingat diriku yang sering “dimimpikan” oleh Akang Yoseob ini? Muahaha betol syekale, author Beng balik lagi euy! Maap baru oneshot yaw yang keluar. Ntar kapan-kapan nyoba bikin yang chapter lagi deh. Ohya salam kenal ya buat new readers. Kenalin ane selingkuhannya Yoseob, kalo ketemu dia salamin ye😀

 

 

Jiyeon’s POV begins

BRUK!!

“Aish! Yaa! Perhatikan jalan—ucapanku terhenti ketika kulihat siapa yang baru saja menabrakku itu.

Mian..” ujar namja itu singkat, lalu bahkan tanpa melihatku apalagi membantuku berdiri, ia langsung beranjak pergi begitu saja meninggalkanku.

Sakit. Kecewa. Itulah yang kurasakan saat itu. Dan ini bukan pertama kalinya aku merasakannya. Ya, namja itu, Kim Myungsoo, dia adalah namja yang sudah membuatku gila seperti ini. Sedih rasanya melihat ia kembali muncul dengan perubahan yang menyakitkan seperti ini.

Flashback-> 3 years ago..

PRAKK!!

OHMO GELANGKUUU!!”

Aku berjongkok perlahan, tertegun saat kulihat gelang berwarna perak milikku terjatuh dan terbagi menjadi dua bagian. Aku hampir tak percaya dengan penglihatanku. Gelang milikku patah? Demi Tuhan ingin sekali aku menjerit lebih kencang lagi. Mungkin gelang itu memang sama sekali tak berharga, apalagi hanya terbuat dari bahan murah yang bisa didapat di mana saja. namun bagiku itu sangatlah berharga, karena itu adalah pemberian dari seseorang yang sangat penting bagiku. Yah, walaupun mungkin saat ini aku tak bisa bertemu dengannya lagi. Tanpa sadar air mata jatuh dari kedua pelupuk mataku. Mianhae.. Mianhae aku tak bisa menjaga benda pemberianmu. Jeongmal mianhae..

Setelah mengusap air mataku, kupungut benda berhargaku yang sudah tidak utuh itu. Mungkin karena benda itu sudah berumur terlalu lama makanya sudah terlalu rapuh. Dengan perasaan sedih aku kembali duduk di atas bangku panjang, menunggu antrian untuk mengambil slip pembayaran pendaftaran mahasiswa baru di universitas ternama ini. Dengan sedikit menundukkan kepala, kedua mataku tak lepas dari gelang patah milikku. Wajah anak itu kembali terbayang di mataku. Wajah pahlawanku 10 tahun yang lalu. Entahlah, perasaan senang dan sedih bercampur menjadi satu saat itu. Kuhela napas panjang perlahan, berusaha melapangkan dadaku untuk saat ini.

“Sepertinya itu berharga untukmu.”

Aku sedikit terkejut dan menoleh. Kulihat seorang namja asing sudah duduk di sebelahku. Namja itu menatapku dengan senyum di wajahnya.

Emm..” anggukku seadanya, kembali mengalihkan pandanganku pada gelang di telapak tanganku.

“Bukankah itu hanya barang imitasi? Bagaimana bisa berharga? Apa pemberian dari seseorang yang berharga juga?”

Jujur, sebenarnya aku sedikit merasa terganggu dengan keingintahuan namja itu, untuk itulah aku hanya diam tak menjawab meskipun aku tahu dia menunggu jawabanku.

Hmm.. Sepertinya kau tipe orang yang tertutup. Mian kalau aku terlalu ingin tahu. Hanya saja tanpa sengaja gelang itu mengingatkanku pada kejadian beberapa tahun yang lalu. Saat aku melihat seorang anak kecil yang menangis di pinggir pantai seorang diri.”

Aku sedikit tersentak mendengarnya dan kembali menoleh padanya, “N-ne?”

Ahh.. Hanya kenangan masa kecilku. Aku memberikan gelang pemberian dari Eommaku padanya karena dia terus menangis sambil memanggil-manggil Oppanya.”

Deg! Entah kenapa jantungku mendadak seperti berhenti berdetak, namun mulutku tak juga bermaksud ingin bicara.

“Dia bilang Oppanya pergi jauh dan tidak akan kembali selamanya. Padahal Oppanya sudah berjanji akan memberikan hadiah ulang tahun untuknya. Karena merasa kasihan, kuberikan saja gelang milikku padanya agar dia berhenti menangis. Lucunya, dia benar-benar berhenti menangis. Bahkan dia memanggilku Oppa.”

Aku semakin sesak mendengarnya. Namja itu tersenyum kecil.

“Padahal sebenarnya itu adalah kenangan terakhir dari Eomma..” lanjutnya lirih membuatku menegang.

Geu-geuge—Apa maksudmu?” tanyaku.

“Gelang itu.. Itu adalah pemberian terakhir dari Eomma, sebelum dia meninggal karena serangan jantung..”

Deg! Lagi-lagi aku tertegun mendengarnya. “Mi-mian..” ucapku tanpa sadar.

Namja itu kembali tersenyum dan mengibaskan sebelah tangannya. “Anni.. Aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Walaupun orang yang kita cintai sudah tak ada di dunia lagi, bukankah mereka masih ada dalam hati kita? Untuk itulah aku sudah tak terlalu memikirkan gelang itu lagi. Tanpa adanya gelang itu pun, Eomma masih tetap selalu bersamaku.”

Aku terdiam mendengar ucapannya. Dia benar. Walaupun gelang ini patah, namun aku masih bisa mengingat wajah anak itu dengan jelas. Senyumnya, aku masih bisa mengingatnya dengan baik.

“Ngomong-ngomong, gelang itu.. Siapa yang memberikannya padamu?”

Aku tak segera menjawab. Perlukah aku menceritakan kejadian waktu itu padanya? Tapi, kenapa aku tiba-tiba merasa ada yang aneh? Baiklah, tidak ada salahnya kalau aku menceritakannya pada namja ini.

“Ini—”

“Kim Myungsoo.”

Ucapanku terhenti saat kudengar suara petugas bagian administrasi memanggil nama itu melalui speaker. Bersamaan dengan itu pula namja di sampingku itu menoleh.

Ah, jamkkanman. Giliranku.” ucapnya padaku, lalu tanpa menunggu jawabanku ia pun bangkit meninggalkanku.

Aku tertegun, bahkan lebih menegang dari sebelumnya. Memori beberapa tahun yang lalu pun kembali muncul dalam kepalaku.

“Gomawo, Oppa..”

“Op-Oppa? Tapi sepertinya kita seumuran. Panggil saja aku Myungsoo. Kim Myungsoo..”

“Kim.. Myungsoo?”

“Emm.. Lalu kau sendiri? Siapa namamu?”

“Aku— Park Jiyeon..”

Kedua tanganku mengepal keras. Dadaku berdegup kencang. Namja itu.. Dia.. Apakah dia Kim Myungsoo? Pahlawanku?

Aku masih duduk di tempatku, dengan perasaan tak menentu aku menunggu namja itu keluar dari ruang administrasi. Waktu berjalan terasa lamban sekali. Tak henti-hentinya aku melihat ke arah pintu keluar ruang administrasi, berharap namja itu muncul dari sana.

Deg! Dan akhirnya ia pun muncul. Namja itu melihat ke arahku masih dengan senyum di wajahnya. Ya Tuhan, aku benar-benar ingin menjerit saat itu juga. Bagaimana bisa aku tidak mengenali senyuman ini dari awal? Senyuman yang mampu menyembuhkan kesedihan hatiku.

“Kau dapat nomor berapa? Apa masih lama?”

Aku bahkan hampir tak bisa mendengar pertanyaan sederhananya itu. Aku benar-benar terpaku melihatnya.

“Aku—”

“Park Jiyeon!”

Sekilas aku melihat sedikit keterkejutan dari wajahnya saat namaku dipanggil melalui speaker.

“Itu— aku..” kataku pula.

Tepat seperti yang kuharapkan, namja itu tertegun. Entahlah, aku merasa senang karena aku jadi yakin kalau ia pun masih mengingatku.

“Kau— Park Jiyeon?”

Dan itulah pertemuan pertama kami setelah beberapa tahun yang lalu. Aku, Park Jiyeon akhirnya bertemu kembali dengan pahlawanku, Kim Myungsoo.

Dan sejak saat itu aku selalu bertemu dengannya. Hubungan kami semakin lama semakin dekat hingga aku merasa jatuh cinta padanya. Kim Myungsoo, dia adalah namja yang baik walaupun sedikit usil. Bahkan saking baiknya ia sampai-sampai kebaikannya itu sering disalah artikan oleh orang lain terutama para yeoja. Aku tidak tahu bagaimana perasaannya terhadapku karena sikapnya padaku tidak jauh beda dengan sikapnya terhadap yeoja lainnya. Dan itulah yang membuatku sedikit kesal. Namun hubungan kami selalu terjaga baik walaupun hanya sebatas sahabat. Dan aku sudah cukup bahagia hanya dengan seperti itu.

Namun kesedihan kembali menemuiku ketika kami berdua menginjak semester ketiga. Kim Myungsoo, salah satu mahasiswa yang memang memiliki otak jenius itu mendapatkan bimbingan khusus di Inggris selama satu tahun. Aku senang mendengarnya, namun dari dalam lubuk hatiku yang paling dalam, aku merasa sedih. Bagaimana tidak, setelah ini aku akan kembali berpisah dengan pahlawan yang baru saja bertemu denganku. Dia seperti seorang panglima perang yang akan kembali bertempur di medan perang meninggalkanku. Ingin sekali aku mencegahnya, namun walau bagaimanapun juga aku tak bisa menjadi egois dengan menghalangi masa depannya. Hanya satu kalimat darinya yang masih kuingat sampai sekarang ketika ia hendak berangkat ke Inggris.

“Tetaplah seperti ini untuk setahun yang akan datang dan seterusnya apapun yang terjadi..”

Aku tak begitu paham apa maksud ucapannya, akan tetapi hati kecilku merasa ia seolah memintaku untuk tetap menunggu dan mencintainya sampai ia kembali. Dan aku mengangguk menanggapi ucapannya itu. Kim Myungsoo, aku akan menunggunya sampai ia kembali.

Setahun telah berlalu. Namun Myungsoo tak juga kembali. Ia bahkan sudah tak bisa dihubungi lagi. Kami berdua lost contact. Tak terbayangkan betapa sedihnya hatiku saat itu. Aku tak bisa lagi berbicara ataupun bertatap muka dengannya walau hanya melalui lcd. Aku tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba menghilang seperti itu. Berkali-kali aku berusaha mencari tahu keberadaannya namun hasilnya tak pernah seperti yang kuharapkan. Akhirnya aku benar-benar kehilangannya hingga dua tahun berlalu.

Selama dua tahun lamanya kujalani hari-hariku tanpa seorang Kim Myungsoo. aku terus berkata dalam hati dan berusaha meyakinkan diriku kalau ia akan kembali, entah itu satu, dua atau bahkan bertahun-tahun yang akan datang. Dan keyakinan konyol itulah yang akhirnya membuatku tetap menjalani hariku sedikit tanpa beban.

Dan akhirnya hari itu tiba. Seorang namja bertubuh tinggi dan berperawakan ramping itu kembali muncul di hadapanku dengan penampilan yang masih sama seperti dulu. Tak bisa terbayangkan betapa bahagianya hatiku saat itu. Aku kembali dipertemukan dengan pahlawanku untuk yang ke sekian kalinya. Namun rupanya kebahagiaanku tak sepenuhnya kudapatkan. Kim Myungsoo, seseorang yang kunanti selama ini telah berubah. Ia menjadi namja yang dingin dan kasar. Aku tak tahu apa sebabnya namun sikapnya benar-benar menghancurkan perasaanku. Ia benar-benar jauh dari sosok Kim Myungsoo yang pernah kukenal dulu. Walaupun aku berusaha mendekatinya dengan maksud ingin tahu penyebab ia berubah, namun berkali-kali pula ia berusaha menghindariku. Bahkan sekalipun ia tak pernah menatapku walau sedikit saja. Akhirnya sikapnya yang seperti itulah yang membuatku turut berubah menjadi yeoja yang sensi dan mudah marah.

Back to present

Aku masih menatap punggung namja yang baru saja menabrakku itu. Sejujurnya aku masih mengharapkan ia kembali seperti dulu, selalu tersenyum dan baik terhadap siapapun. Tapi sepertinya harapanku tinggallah harapan. Ia benar-benar tak bisa diharapkan lagi. Kutarik napas sepenuh dadaku dan kulangkahkan kedua kakiku dengan gontai. Aku terus berjalan tak tentu arah, memikirkan sikap Myungsoo yang masih belum bisa kupahami sampai sekarang. Hingga tanpa sengaja aku mendengar obrolan beberapa mahasiswi yang sedang berkumpul di depan ruang kelas.

“Dia terlihat aneh sejak kembali dari Inggris. Seperti bukan Kim Myungsoo yang pernah kita kenal dulu. Ia selalu menyendiri dan seperti selalu menghindar dari orang lain.”

“Kau benar. Dia jadi menyebalkan sekarang. Sangat dingin dan angkuh.”

“Bukan hanya itu. Dia lebih terlihat seperti orang yang selalu kebingungan. Apa otaknya sudah dicuci sewaktu berada di Inggris?”

“Dwaesseo.. Untuk apa membicarakan namja aneh seperti itu? Kita bahas orang lain saja..”

Aku hanya diam mendengarkan percakapan para yeoja itu. Aku berpikir sejenak, dan sejurus kemudian entah kenapa aku membalikkan badanku lalu berjalan menuju arah Myungsoo pergi tadi. Tidak sulit menemukannya, namja itu terlihat duduk seorang diri di bangku panjang dekat gedung olahraga. Tempat itu memang jarang ada mahasiswa yang berkeliaran di sana. Mungkin itulah salah satu alasan kenapa Myungsoo sering berdiam diri di sana sambil mendengarkan musik— kurasa.

Dengan perlahan dan mengerahkan seluruh keberanianku, aku duduk pula di sebelahnya tanpa bicara sepatah kata pun. Dan tepat seperti yang kuduga, Myungsoo beranjak berdiri hendak pergi. Namun secepat kilat aku memegangi lengan kemejanya sehingga membuatnya urung beranjak.

Kajima (jangan pergi)..” ucapku pelan sembari menunduk, tak berani menatapnya.

Myungsoo tak menyahut, namun sejurus kemudian ia melepaskan pegangan tanganku dan kembali beranjak. Aku tak tinggal diam. Kupegangi lengannya lebih erat dari sebelumnya.

“Apa kau akan terus bersikap seperti ini padaku?”

Lagi-lagi Myungsoo tak berusaha menjawab, melainkan hanya menatap datar ke depan seolah tak peduli sama sekali padaku.

“Myungsoo-ya—”

“Tinggalkan aku sendiri.” potongnya dengan suara dingin khasnya.

Aku tak bergeming. Kini bahkan kedua tanganku justru memegangi lengan kirinya dengan erat.

“Apa ini balasan yang kau berikan pada orang yang selama ini sudah menunggumu? Aku memang tak mengharapkan balasan darimu, tapi setidaknya apa kau tak ada niat sedikitpun untuk membalasnya dengan sesuatu yang pantas?”

Myungsoo tak menjawab. Sungguh, namja di depanku ini benar-benar berbeda dengan namja yang kukenal selama ini. Sangat berbeda.

“Kau— Apa kau bukan Kim Myungsoo?” ucapku lagi.

“Aku tak ingin bertemu denganmu. Tinggalkan aku sendiri—”

“Kalau kau memang bukan Kim Myungsoo, dimana dia sekarang? Tolong kembalikan dia padaku sekarang. Bilang padanya kalau ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengannya. Bukankah dia sendiri yang mengatakan padaku kalau ia memintaku untuk tetap seperti ini untuk seterusnya? Lalu apa maksudnya? kenapa dia mengatakan hal seperti itu kalau ia sendiri bahkan tidak datang menemuiku? Apa dia hanya ingin mempermainkanku saja? Eoh? Untuk apa dia kembali jika ia kembali dengan sikap seperti ini? Katakan padaku apa maunya?!” aku berkata dengan nada meninggi. Entah sejak kapan butiran air mata sudah berjatuhan membasahi kedua pipiku.

Namun ternyata Myungsoo masih diam seperti semula. Dan kediamannya seperti itu sangat membuatku putus asa. Ia benar-benar tak peduli lagi padaku. Dengan perlahan kulepas kedua tanganku yang semula memegangi lengannya, lalu kembali duduk tanpa melihat ke arahnya.

“Pergilah..” ucapku pelan.

Namun aku tak melihat Myungssoo beranjak dari tempatnya.

Wae? Bukankah kau ingin pergi? Kenapa kau diam saja? Bukankah kau tak ingin bertemu denganku? Kalau begitu pergilah. Geogjeongma, ini— adalah terakhir kalinya aku menemuimu. Mulai saat ini, aku takkan mengganggumu lagi..” Sungguh. Sesak rasanya dadaku saat kuucapkan kalimat itu. Aku tidak yakin dengan ucapanku, tapi entahlah, kata-kata itu seperti keluar begitu saja dari mulutku. Dengan kasar kuusap air mataku yang sejak tadi tak berhenti mengalir. Aku masih tak melihat Myungsoo beranjak. Dengan tak sabar aku pun berdiri.

Geurae.. Kalau kau tak pergi, aku yang pergi.” ucapku sambil beranjak. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Hatiku sakit, sedih melihat Myungsoo yang seperti ini. Apakah ini adalah terakhir kalinya aku melihatnya? Apakah ini terakhir kali aku berbicara dengannya? Kim Myungsoo, pahlawanku, akhirnya hanya seperti ini akhir pertemuanku dengannya.

Annyeong, Kim Myungsoo..” gumamku pelan sambil mengusap air mataku dan melangkahkan kedua kakiku. Ya, sepertinya memang hanya berakhir seperti ini pertemuanku dengannya. Namun tiba-iba saja aku merasakan pergelangan tanganku dipegang. Aku tertegun. Myungsoo menahanku? Benarkah Myungsoo mencegahku pergi?

Kajima..” bisiknya lirih.

Aku terkejut sekaligus tak percaya dengan perlakuannya. Namun belum sempat aku mengucapkan apapun, Myungsoo sudah menarikku dan mendekapku dengan erat.

Kajima, Jiyeon-a.. Aku membutuhkanmu..” ulangnya dengan berbisik.

“M-Myungsoo-ya—” apa ini? apa Myungsoo menangis? Dia— menangis?

Mianhae..” bisiknya sambil terisak. Tunggu. Kenapa dia tiba-tiba menangis?

“Myungsoo-ya—”

Saranghae..”

Deg! Jantungku berdetak kencang mendengar ucapan Myungsoo itu.

“M-mwo?” aku tercengang mendengar ucapannya itu sekaligus heran kenapa ia tiba-tiba menangis lalu mengatakan dia mencintaiku?

Mianhae.. Aku menyatakan perasaanku dalam keadaan seperti ini.. Aku tidak pantas untukmu..” ucapnya lagi membuatku semakin bingung.

“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mengerti..” kataku.

Myungsoo tak segera menjawab. Ia melepaskan pelukannya lalu menatap lurus ke depan.

“Jiyeon-a.. Apa kau masih mengharapkanku seandainya aku cacat?” tanyanya kemudian.

Geuge—Apa maksudmu?”

“Aku— aku kehilangan penglihatanku..”

Deg! Jantungku mendadak serasa berhenti berdetak mendengarnya.

M-mworago?” tanyaku sedikit terbata.

Ne.. Aku— buta..”

Kepalaku mendadak pusing. Apa baru saja Myungsoo mengatakan kalau dirinya buta? Atau aku hanya salah mendengar?

“Ketika di Inggris, aku mengalami kecelakaan. Sebuah mobil menabrakku saat aku sedang berjalan. Lukaku parah dan harus dirawat selama berminggu-minggu. Aku berhasil diselamatkan tapi aku kehilangan penglihatanku. Itulah kenapa aku menghilang selama setahun. Mianhae..”

Aku belum mampu menyahut, masih belum sepenuhnya percaya dengan cerita Myungsoo. Dia— buta? Tapi dia tidak terlihat seperti orang buta? Namun sejurus kemudian aku sadar. Mungkin itulah alasannya kenapa dia sering terlihat seperti kebingungan, atau di saat ia yang tak pernah sekalipun menatapku. Atau ketika ia yang acapkali menabrak seseorang. Tapi kenapa? Kenapa ia baru mengatakannya sekarang padaku?

Mianhae.. Aku memintamu menungguku, tapi aku malah kembali dengan keadaan seperti ini. kau pasti merasa kecewa padaku..” lanjutnya lagi.

Greb! Aku kembali merangkul Myungsoo, membenamkan kepalaku di dadanya.

Geumanhae.. Jangan pernah sekalipun berkata seperti itu. Walaupun kau buta, kau masihlah seseorang yang kutunggu. Kau masihlah pahlawanku yang selalu kurindukan. Kim Myungsoo jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu hanya karena kau sudah tidak seperti dulu lagi. Kim Myungsoo yang dulu, sekarang, atau yang akan datang, aku akan selalu menerimamu.”

“Apa— kau serius menerimaku? Aku— namja yang cacat. Bahkan untuk melindungimu saja aku mungkin tak bisa.”

“Kau tak perlu berusaha melindungiku. Aku sudah merasa terlindungi hanya dengan berada di dekatmu saja. Jadi kalau kau ingin melindungiku, tetaplah berada di dekatku.”

“Jiyeon-a..”

Aku meraih tangan Myungsoo dan menggenggamnya dengan erat. Tangan ini.. Aku tidak akan pernah melepaskannya.

“Mulai sekarang, akulah yang akan menjadi penglihatanmu, Myungsoo-ya..”

Gomawo..” sahut Myungsoo sambil mengeratkan pegangan tangannya sekaligus pelukannya padaku, membuatku memejamkan mata merasakan kehangatan darinya.

Keunde Myungsoo-ya, aku penasaran bagaimana kau bisa merasakan kehadiranku setiap kali aku mendekat?”

“Aku mengenali baumu.”

“T-tapi aku mengganti parfumku.”

“Aku tetap bisa mengenalinya.”

Jinjja? Lalu saat berjalan kau juga tak memakai tongkat ataupun brainport. Bagaimana kau melakukannya tanpa menabrak sesuatu?”

“Aku hanya mengikuti insting saja.”

Insting? Bagaimana bisa?”

“Aku sudah berlatih selama di Inggris, jadi sudah terbiasa.”

Walaupun masih belum sepenuhnya puas dengan jawaban Myungsoo, aku tak bertanya lagi. Yah, paling tidak ia bersikap seperti itu padaku selama ini karena ia hanya merasa rendah diri dengan penderitaannya. Tapi sekarang, sepertinya tak ada kebahagiaan lain selain yang kualami hari ini. Aku, Park Jiyeon akhirnya bersatu dengan pahlawanku, Kim myungsoo.

Jiyeon’s POV ends

 

Myungsoo’s POV begins

Sepertinya hari ini aku telah berhasil menemukan seorang yeoja yang benar-benar tulus. Park Jiyeon, gomawo sudah menerimaku walaupun aku mengatakan sudah kehilangan penglihatanku. Mianhae sudah mengujimu dengan kebohongan seperti ini. Tapi dengan begini aku jadi benar-benar yakin kalau kau memang yeoja yang kucari selama ini..

Myungsoo’s POV ends

– THE END –

 

Apa ada yang bertanya kenapa author keceh ini kaga pernah nongol? Jawabannya adalah karena ane udah jadi orang sibuk syekale jadi waktu luangnya cuman digunain buat tidur doang, muahaha sok sibuk. Maap ya.. Tapi beneran kok kaga bohong. Kalo ga percaya tanya aja sama selingkuhan ane. Tau kan? Baguss..😎

Yang kangen author keceh tapi agak boros ini silahkan RCL, yang ga kangen juga monggo RCL😀

Kamsahamnidaa ~~ ♥♥♥..

 

137 responses to “[ONESHOOT] THE SEEKER

  1. Huaaah kirain myung beneran buta ternyata engga,ff nya keren thor sempet nangis pas jiyi ngmg ama myung tapi ga di tanggepin😦 bnyk2 bikin ff myungyeon ya thor kkk

  2. sorry thor baru baca hehehe 
    critanya keren banget thorr , jiyeon setia banget nunggu si myungg. ditunggu ff berikutnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s