[ONESHOOT] BEAUTIFUL GARDEN

BEAUTIFUL GARDENAuthor:
Kim Lee Hye
Main Cast:
Park Jiyeon, Kim Myungsoo

Other:

Lee Junho, Ham Eunjung
Genre:
Romance
Rating:
PG-17

“Aku hanya ingin seseorang dapat mencintaiku apa adanya. Apakah itu hanya sebuah mimpi?”

Klinting… (*bunyi belnya GJ. Hehe)
Seorang pelanggan masuk ke dalam toko buku yang tidak jauh dari jantung kota Seoul. Toko buku itu hanya memiliki dua orang karyawan. Satu yeoja dan satu namja. Sang namja bernama Lee Junho bertugas menyediakan stok buku dan tugas berat lainnya. Sedangkan karyawan seorang yeoja bernama Park Jiyeon bertugas melayani para pengunjung dan pelanggan yang datang untuk membeli buku atau hanya.sekedar melihat-lihat koleksi buku di toko itu

Jiyeon pov.
“Selamat datang…” ucapku ramah seraya membungkukkan badannya 30°. Seorang namja berperawakan tinggi, tidak kurus juga tidak gemuk dengan tatapan mata seakan membunuh, masuk ke dalam toko tanpa senyum.  Setelah 10 menit menyeleksi buku yang akan ia pilih, namja itu membayar di tempatku, kasir. Namja itu bukan hanya sekali atau dua kali ke sini. Tapi sudah berkali-kali tapi ekspresinya setiap datang ke sini sama saja. Dingin.

Pulang dari toko buku, aku mampir.ke rumah Eunjung eonni. Kemarin aku diminta melamar menjadi seorang pengurus taman di sebuah rumah orang kaya. Mereka memiliki.tamanyang sangat bagus. Kata Eunjung eonni, mereka membutuhkan satu orang lagi yang mau bekerja mengurus bunga-bunga di sana. Akhirnya aku pun bersedia.
“Eoh, Jiyeon-a, kau sudah datang?” sambut Eunjung eonni dengan senyum ramahnya.
“Eonni, bagaimana tentang pekerjaan yang kau tawarkan padaku?” tanyaku to the point.
“Aku sudah membicarakannya dengan pemilik rumah. Mereka setuju. Mulai besok kau boleh bekerja di sana. Tapi bagaimana dengan tokomu?”
Aku terdiam sesaat. Tiba-tiba aku.mengingat sesuatu. “Pagi sampai siang aku akan bekerja di taman itu. Setelah itu siangnya aku ke toko buku. Pulang dari toko, aku harus ke bar.”
“Aigoo… Hidupmu itu penuh dengan kata ‘bekerja’ apa kau tidak jenuh? Sekali-kali ayo kita liburan,” ajak Eunjung eonni.
Liburan? Untuk biaya hidup saja aku harus bekerja ekstra keras, liburan hanya buang waktu, tenaga dan tentunya uang. Aku tidak bisa menghabiskan uangku begitu saja. “Anhiya, eonni. Aku tidak membutuhkan liburan hanya untuk mencari hiburan. Bekerja pun bisa menjadi hiburan bagiku.”Aku tersenyum pada Eunjung eonni agar ia tak tersinggung dengan penolakanku.
Jiyeon pov end

Keesokan hari, pagi-pagi Jiyeon berangkat menuju rumah mewah kediaman seorang keluarga kaya. Jiyeon mencari alamat yang tertera di selembar kertas kecil yang diberikan oleh Eunjung kemarin
“Ah, ini dia. Ketemu. Waaah besar sekali… Benar-benar rumah orang kaya. Yepoda…” gumam Jiyeon yang masih berdiri di depan pintu gerbang.

Rupanya saat itu tuan dan nyonya pemilik rumah sedang berada di rumahnya, tak ada urusan bisnis. Jiyeon pun mengenalkan dirinya. Keluarga itu bermarga Kim. Mulai hari ini Jiyeon bisa melaksanakan tugasnya di taman bunga yang terletak di samping rumah mewah itu.

Sehari, dua hari, dan seterusnya, Jiyeon telah melalui hari-harinya.bekerja di tiga tempat.di.waktu yang berturut-turut. Sudah lebih dari seminggu, Jiyeon tak pernah melihat anggota keluarga lain di rumah itu. Hanya tuan dan nyonya Kim yang ia temui di hari pertamanya.
Saat Jiyeon akan mengambil pupuk.di gudang, ia melihat sosok namja yang tak asing di indera penglihatannya. Ya, namja dingin sang pelanggan di toko buku. Jiyeon mengikuti langkah namja itu menuju ruang tengah. Ternyata benar. Namja itu rupanya putra dari tuan dan nyonya Kim. Kenapa beda sekali dengan orangtuanya? Mereka sangat ramah. Tapi putranya, tatapan matanya saja sudah ingin membunuh. Jiyeon pun melanjutkan atifitasnya lagi. Setelah Jiyeon berlalu, Kim Myungsoo, nama namja itu, menoleh ke arah Jiyeon dengan ekspresi penuh tanda tanya.
Myungsoo mengikuti Jiyeon yang berjalan menuju taman di samping rumah. Ia merasa pernah melihat Jiyeon berkali-kali. Tapi dimana? Myungsoo mengamati Jiyeon yang sedang menyiram dan memberi pupuk pada beberapa tanaman bunga yang ada di taman itu.

Siang hari tugasnya selesai. Kini Jiyeon bersiap pergi ke toko buku. Tapi sebelum itu ia ingin mencari kedai bibimbab dan tteokbokki karena perutnya sudah keroncongan. Setelah makan, Jiyeon langsung ke toko buku. Begitu masuk ke dalam toko, ia disambut oleh Myungsoo yang akan membayar di kasir. Keduanya tampak canggung. Mungkin sudah saling melihat tapi sama sekali belum ada percakapan diantara mereka.

Setiap hari bekerja dari pagi sampai larut malam membuat tubuh Jiyeon melemah. Hari ini ia telat datang di rumah Myungsoo. Lalu pulang dari toko buku lebih awal. Terakhir ke bar. Jiyeon sudah berganti pakaian pelayan bar. Ia melayani tamu-tamu yang memesan makanan dan minuman.

Myungsoo pov.
Malam ini aku bebas kemana-mana. Tugas kuliah sudah selesai. Aku memutuskan pergi ke bar untuk bertemu dengan teman-temanku. Yoseob, Sungje, Lay, dan Taemin hyung sudah ada di sana. Mereka menyambutku dengan tawa canda. Kami memesan beberapa jus dan alkohol. Tapi aku hanya memesan jus. Aku tidak berani minum alkohol karena trauma. Aku pernah mengalami kecelakaan mobil sepulang dari bar karena terlalu mabuk.
Pesanan sudah tiba.
Deg!
Yeoja itu lagi? Kenapa dimana-mana ada yeoja itu? Ah, mungkin hanya halusinasi. Tapi kenapa kelihatan nyata sekali? Dia bahkan tersenyum pada Lay. Aku sedikit sembunyi diantara Sungje dan Taemin hyung. Berharap yeoja itu tak melihatku. Tapi kenapa aku takut ia melihatku? Aneh.
Myungsoo pov end.

Setiap hari Myungsoo melihat Jiyeon menyiram bunga, memupuknya, memotong daun dan cabang yang kering, menyemprot obat anti hama.
“Yepoda…” gumam Myungsoo lirih.
Siang hari saat Jiyeon jaga toko buku, Myungsoo datang untuk melihat-lihat buku di sana. Begitu juga saat Jiyeon di bar, ia sengaja daang ke bar untuk melihat yeoja gardennya.

Tiga minggu berlalu. Myungsoo memutuskan untuk menyapa Jiyeon. Hatinya seperti ingin meledak jika ia tak segera menyapa yeoja itu. Jiyeon baru saja selesai melakukan tugasnya. Ia pun sudah berganti pakaian. Saat melewati teras samping, Myungsoo mencegatnya hingga membuat Jiyeon kaget.
“Kau, aku melihatmu di toko buku. Apa kau yeoja penjaga toko buku itu?” tanya Myungsoo memberanikan diri. Ia tak mau lagi dikatakan seperti penguntit jika ada yang melihat aksinya setiap hari.
Jiyeon terpaku di tempatnya. Ternyata namja itu juga mengenalinya. Sudah beberapa bulan sejak Myungsoo pertama kali datang ke toko buku, baru kali ini Myungsoo membuka suaranya. Bahkan tatapannya tidak sedingin biasanya.
“Ne. Aku memang penjaga toko itu. Gamsahapnida sudah menjadi pelanggan kami.” Jiyeon sedikit membungkukkan badannya.
Jiyeon hendak berlalu namun Myungsoo menahannya, ia memegang pergelangan tangan Jiyeon. “Berapa lama kau bekerja di sini?”
“Hari ini adalah hari terakhirku di sini.”
Myungsoo terperanjat kaget? Terakhir?
“Terakhir?” lirih Myungsoo.
Jiyeon mengangguk. Ini terakhir kalinya Jiyeon menapakkan kakinya di rumah Myungsoo.

Sudah beberapa hari Myungsoo tidak bertemu dengan Jiyeon.
Jiyeon pov.
Hari ini aku berhenti bekerja bekerja di toko buku. Satu persatu pekerjaan aku tinggalkan karena sebentar lagi aku akan pindah ke Jepang. Ikut saudaraku yang masih peduli padaku. Aku sedang menghitung uang gajiku dari toko kemudian aku jumlahkan dengan uang tabungan. Senyum tersimpul di wajahku yang kata orang-orang cantik. Sudah cukup banyak.
Aku harus berpikir ke depannya. Apa yang harus aku lakukan jika sudah berada di Jepang? Bekerja di mana? Tiba-tiba aku teringat bunga-bunga milik keluarga Kim dan… sapaan Myungsoo. Tersirat raut wajah sedih di wajahku. Aku merindukan tanaman bunga yang setiap hari aku rawat.

Sepulang dari bar, betapa terkejutnya aku melihat Kim Myungsoo berdiri di depan pintu masuk bersama Yeoseob. Tiba-tiba mata kami bertemu.
Deg!
Tatapan matanya kembali sedingin dulu. Aku berpura-pura tak melihatnya. Ku lanjutkan saja aktifitasku yang sudah ku mulai dua jam yang lalu. Karena ulah seorang namja yang mungkin usianya sedikit lebih tua dariku, aktifitasku sebagai pelayan terganggu. Dia menggangguku, memegang tanganku saat aku memberinya wiski, kemudia dia menarikku hingga aku jatuh ke pelukan namja itu. Segera ku jauhkan tubuhku darinya namun ia tetap memaksa. Aku pun semakin berontak. Kenapa tak ada yang mau menolongku? Aku hanya pelayan, bukan wanita murahan yang ia bayangkan. Apa seorang pelayan tidak pantas mendapat pertolongan?
Tenagaku habis, saat aku sudah pasrah, tiba-tiba ada yang menarikku menjauh dari tubuh si namja hidung belang itu. Kakiku terkilir saat itu. Kulihat wajah orang yang menarikku.
Deg! Kim Myungsoo. Dia menarikku dari rengkuhan namja itu. Myungsoo pun adu mulut dengan namja itu. Awalnya dia ingin menghajar namja kurang ajar itu. Tapi aku menghentikan aksinya. Aku takut ada yang terluka terutama dia. Aku takut Myungsoo kenapa-kenapa.
Setelah kejadian itu, aku dan Myungsoo keluar dari bar.
“Jongmal gomawoyo Myungsoo-ssi.”
Jiyeon pov end.

Myungsoo pov.
Ia berterimakasih padaku. Entah kenapa aku senang melihatnya lagi. Setelah ia berhenti bekerja di rumahku dan toko buku itu, aku kebingungan tak tahu bagaimana caranya ku bisa bertemu lagi dengannya? Dimana dia? Akhirnya yeoja itu sekarang di depanku. Ya, aku baru saja menolongnya dari perlakuan buruk namja tadi.
“Kenapa kau berhenti bekerja di rumahku dan toko buku itu? Kau malah bertahan bekerja di sini.” Dia mendongakkan kepalanya yang tadi tertunduk.
“Ada alasan pribadi. Aku tidak bisa menjelaskannya,” kata yeoja itu yang ku ketahui bernama Jiyeon. “Gomawo. Aku permisi.” Jiyeon sudah melaju satu langkah. Aku mencegahnya pergi. Kupegang pergelangan tangan kirinya.
Jiyeon, yeoja itu sungguh membuatku tersentuh dan kagum padanya. Seharian ia bekerja di berbagai tempat dengan semangat yang tinggi. Berbeda denganku yang masih kuliah.
“Tolong jangan pergi.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. “Jebal…”
Jiyeon menatapku aneh. Aku balas menatapnya. Kulihat dari matanya ia sedang menderita, sedang susah. Aku langsung mengambil kesimpulan bahwa ia sedang dalam masalah keuangan, mungkin.
Myungsoo pov end.

“Jiyeon-ssi. Apa kau mau meninggalkan aku?”
Deg! Jantung Myungsoo dan Jiyeon berdebar-debar.
“Apa maksudmu?” tanya Jiyeon lirih.
“Nan johaeyo.” Myungsoo menatap Jiyeon lekat-lekat. Tangan kanannya masih menggenggam tangan kiri Jiyeon. “Saranghaeyo, Jiyeon-a.” Kata-kata itu meluncur begitu saja tanpa terkendali.
“Kau mungkin sedang iba padaku. Jangan kau ucapkan kata-kata itu lagi.” Jiyeon melepas genggaman tangan Myungsoo.
“Aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kalau begitu, bisakah kau berhenti bekerja di sini? Kau berhenti bekerja di rumahku dan toko itu. Maka kau juga bisa beehenti dari sini.”
Jiyeon terdiam. “Jika ada orang yang mencintaiku, aku hanya ingin orang itu dapat mencintaiku apa adanya. Apakah itu hanya sebuah mimpi?”
Myungsoo terpaku. “Anhi, itu bukan mimpi.” Myungsoi menarik tubuh Jiyeon dan menciumnya lembut. Tangan kanannya melingkar di pinggang Jiyeon sedangkan tangan kirinya menarik tengkuk Jiyeon.
Mereka berciuman mesra di pinggir jalan depan bar. Jiyeon meneteskan airmata, bahagia bercampur haru. Rupanya masih ada orang yang mau mencintai gadis miskin seperti dia.

End.

Aku tunggu komennya yaa..
Annyeong…

68 responses to “[ONESHOOT] BEAUTIFUL GARDEN

    • iyakah?
      bahasa dan alurnya kurang gimana chingu? tolong beritahu, untuk perbaikan selanjutnya.
      jongmal gomawoyo🙂

  1. manurutku alurnya keceptan hehe tapi ceritanya bagus aku suka😀 haha myung saraf peka nya lemot banget yak-___-v kekeke
    adooh astgfr belom juga jadian udah………. -____-hhmmm yaudahlah gapapa/?😀 haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s