Crown (Still You) – Chapter 12

lintangwoon’s story :

CHAPTER BEFORE : TEASER 1 –TEASER 2 – CHAPTER 1 – CHAPTER 2 – CHAPTER 3 – CHAPTER 4 – CHAPTER 5 – CHAPTER 6 – CHAPTER 7 – CHAPTER 8 – CHAPTER 9 – CHAPTER 10 – CHAPTER 11

COWN12

poster by lintangwoon

—————————————————————-

”Ketika aku membuka mata di pagi hari, hatiku terasa kosong
Aku merasa kekosongan, sama seperti yang aku lakukan sebelum aku bertemu denganmu”
(WINNER – EMPTY)

AUTHOR : LINTANGWOON

MAIN CAST : PARK JIYEON, KRIS WU, MYUNGSOO

ADDITIONAL CAST : YOONA, SEHUN, SUNGJONG, MINHO, CHAELIN, SANDARA, ETC.

LEGHT : CHAPTER

GENRE : ROMANCE, COMEDY AND LITTLE BIT FANTASY

RATING : NC – 17

INSPIRING BY

AN AWESOME NOVEL FROM SUJINI KOE, ‘MY BABY BRIDE’

——————-

pertama, biarkan author kipas-kipas dulu ya! hadeh!

aku bikin part ini dalam waktu 6 jam doang. serius! karena aku gak last chapter bisa touching 100.

meski lah ya. aku baca-baca ada yang spamming. hayo. hihi

maaf ya aku blm bales, soalnya tahu ini touch 100 baru kemaren dan hari ini langsung kebut bikin.

nah! semoga kalian suka ya.

meskipun tetep *uhuk*

hihi. 

kalau kalian punya empty-nya winner! this chapter recomended kalau kalian sambil dengerin itu.

pokoknya ditunggu jejak lanjutan kalian selanjutnya. 

kalau enggak. aku pending nih. *ngancem* 

xoxo!

happy reading readers!

———————————————————————————————————

Jiyeon menarik nafasnya dengan lelah. Ia menatap jamnya yang terletak di nakas didekat tempat tidurnya. Pukul 1 malam. Dan ia masih belum juga bisa terlelap.

‘Biasanya Ia akan memeluk-ku dan mengusap kepalaku dan membisikan kata-kata manisnya.’ batin Jiyeon pahit.

Setelah satu minggu Ia kembali ke Korea. Semua benar-benar telah berubah. Dan.. setelah Jiyeon kembali. Myungsoo yang lama-pun kembali. Ia mau meminum obat-obatnya dan mulai mengikuti kemo terapi setiap 2 hari sekali. Berbeda dengan dirinya, Jiyeon merasa kosong dan hampa. Sering sekali ia tertawa hambar dan mengingat wajah Suami. Atau mantan Suaminya yang terus menerus muncul. Bayangan wajah murka yang ditunjukan adalah setiap mimpi yang tak bisa Jiyeon hilangkan.

‘’Aku merindukanmu…’’ desis Jiyeon sambil mengusap airmata yang lagi-lagi turun.

Ia meruntuki kebodohan-nya setiap malam. Tuhan menghukumnya setiap malamnya. Wajah terluka Kris mengoyakan bagian dalam hatinya. Membuatnya merasa sebagai wanita jahat yang mempermainkan seseorang yang benar-benar membutuhkan-nya.

‘’Kembalilah padaku..’’ bisik Jiyeon sambil memandang langit kamarnya yang tetap sama.

Sekarang, kepalanya terasa begitu pusing. Perutnya yang telah lama tak ia isi, begitu perih dan membuatnya menyerit kesakitan. Airmatanya telah bercampur dengan peluh yang tak habis-habis. Ia mengenggam selimut tebalnya dan mengerang kesakitan.

‘’Kakek!’’ teriak Jiyeon lemah.

Tak ada jawaban sama sekali. Jiyeon mencoba bangkit dan turun dari ranjangnya.

BUK.

Ia merasakan dingin lantai yang menyentuh badan-nya yang terasa begitu berat. Airmata sudah tak terbendung lagi. Ia tak ingin mati, paling tidak.. sampai Kris memaafkan dirinya. Sampai Pria itu bisa kembali tertawa dan tersenyum kepadanya.

‘’JIYEON! YA TUHAN! BANGUN NAK!’’

Seketika.. pandangan Jiyeon mengabur begitu saja.

***

‘’2 minggu? Apa dokter yakin?’’ tanya Sungjong yang berhadapan langsung dengan Dokter yang menangani Jiyeon. Wajahnya tampak shock dengan jawaban Dokter Kim.

Dokter Kim tersenyum, ‘’Iya. Kehamilan Jiyeon-ssi memasuki minggu ke dua. Makanya, ia begitu lemah sekarang. Tolong, sebisa mungkin. Buat dia merasa nyaman.’’

Sungjong mengusap wajahnya dengan kasar. Ini semua salahnya. Jika saja Ia tak menyuruh Jiyeon kembali, pasti Ia dan Kris akan bisa merasakan kebahagian ini bersama. Semakin mengingat kebodohan-nya. Ia semakin marah dengan dirinya sendiri.

Setelah berbincang sejenak, Sungjong masuk ke Kamar tempat Jiyeon dirawat dan melihat Minho dan Kakek Jiyeon mengelilingi sahabatnya itu yang tampak pucat.

‘’Kabar gembira untuk kita semua..’’ ujar Sungjong ceria.

PLAK.

Minho memukul kepala Sungjong cepat, ‘’Yaa! Babo! Kau malah mengiklankan manggis sialan itu saat temanmu terbaring sakit. Kau ini dungu, eoh!’’ sembur Minho cepat.

Sungjong meringis kesakitan, ‘’Yaa! Hyung, dengar dulu makanya!’’

‘’Sudah-sudah! Katakan apa yang terjadi?’’ tanya Kakek tak sabar.

‘’Jiyeon hamil!’’ teriak Sungjong cepat.

Seketika, suasana sepi kembali menyerbu ruangan itu, Kakek terdiam lama sekali. Ia tahu betul, Jika Jiyeon memilih menceraikan Kris dan kembali. Ia bahkan sangat marah kepada Jiyeon. Marah sekali hingga ia tak mau melihat wajah Jiyeon lagi.

‘’A..aku hamil?’’

Mereka semua memandang kearah Jiyeon yang menatap mereka semua dengan tatapan sendu. Ia meminta penjelasan ke Sungjong yang sudah berkaca-kaca. Ia baru saja terbangun dan mendapati kabar ini.

‘’Chukkae Noona.’’ bisik Sungjong sedih.

Jiyeon terdiam lama. Membuat ketiga orang itu khawatir sekali. Namun, perlahan Jiyeon meneyentuh perutnya yang masih rata. Ia tersenyum getir. Hatinya diliputi rasa bahagia yang begitu ingin ia bagi dan rasa sedih karena tak mampu membaginya.

‘’Appa pasti senang jika ia tahu kau ada, Nak..’’ gumam Jiyeon pedih.

Ia mengelus perutnya lagi, ‘’Tapi, Appa bilang ia tak mau melihat Eomma dulu.’’ gumam Jiyeon lagi.

Kakek yang melihat penderitaan Cucu tersayangnya itu, tak mampu menutupi rasa sedihnya. Ia mencium puncak kepala Jiyeon. Ia tak mau memusuhi Jiyeon meski ia begitu marah dengan sikap Jiyeon yang begitu kekanak-kanakan.

‘’Ada Kakek bersamamu, Cucu buyutku..’’ bisik Kakek sambil ikut mengelus perut Jiyeon.

Jiyeon tersenyum tipis mendengar ucapan Kakeknya yang terasa memenenangkan hatinya. Meski tentu saja, tak akan pernah mampu mengganti hangat ucapan Kris yang dulu ia rasakan.

Sungjong perlahan ikut memandang Jiyeon dan tersenyum manis, ia mengenggam tangan Jiyeon yang mengelus perutnya.

‘’Aku akan menjadi Ayahnya.’’ ujar Sungjong dengan tersenyum senang.

Namun.. ‘’Aniya! Biarkan aku yang menjadi Appamu.’’ ucap Minho cepat.

Jiyeon tertawa melihat Minho dan Sungjong yang berpandangan sinis. Ia kemudian menarik tangan mereka berdua untuk menyetuh perutnya. Ia tersenyum kepada mereka berdua.

‘’Meski Ayahmu yang tampan tak bisa menyentuhmu. Paling tidak, ada Ayah-ayah yang setia menghiburmu disini, Nak. Jadi, jangan menyusahkan Eomma ya..’’ bisik Jiyeon seakan bayi yang ia kandung bisa mendengar suara manisnya.

Semua itu membuat mereka diliputi rasa kehangatan yang luar biasa. Myungsoo yang telah berdiri sejak tadi, ikut tersenyum dibalik punggung yang sedang saling menghangatkan satu sama lain. Ia juga akan ikut serta membahagiakan Jiyeon. Ia berniat sembuh dan kembali menjaga Jiyeon dan anaknya. Anak yang bisa mengembalikan kebahagiaan Jiyeon,kebahagiaan yang ia rebut begitu saja.

***

Minho, Krystal, Myungsoo dan Sungjong sedang mengamati wajah Jiyeon yang tampak begitu lelah. Sesekali, ia mengusap perutnya yang masih rata. Padahal, udara malam begitu dingin, namun Jiyeon meminta mereka menemaninya diatas atap seperti sekarang.

‘’Kau yakin dia baik-baik saja?’’ bisik Krystal pada Minho.

Sedikit ragu Minho mengangguk mengiyakan. ‘’Dia adalah orang tertangguh yang aku kenal. Semua akan baik-baik saja.’’

Myungsoo kemudian berdiri dan mengamati wajah Jiyeon. Yang lain juga ikut menatap Myungsoo bingung.

‘’Menikahlah denganku..’’ ujar Myungsoo yang dengan cepat membuat hati Jiyeon tertohok.

Bayangkan, ia sedang duduk memandang jauh dari atap rumahnya, merindukan Kris yang sudah lama tak ia temui. Dan tiba-tiba Myungsoo mengatakan ingin menikahinya.

‘Kegilaan apa lagi sekarang?’ batin Jiyeon jengah.

Jiyeon terdiam dengan ucapan Myungsoo, ia tersenyum kaku. ‘’Myungsoo-ah. Hajima.’’ ujarnya bersungguh-sungguh.

‘’Kenapa? Kau membutuhkan Ayah untuk anakmu kelak..’’ tanya Myungsoo bingung. Ia sungguh-sungguh ingin menikahi Jiyeon demi anaknya, demi melindungi Jiyeon seutuhnya.

Kemudian, Jiyeon bangkit dan menatap tajam Myungsoo yang memilih diam.

‘’Aku memang menceraikan Kris.. tapi, aku bukan penghianat. Aku mencintainya dan tak ada seorangpun yang bisa mengubahnya.’’ tegas Jiyeon sambil menatap tajam sekali kearah Myungsoo.

‘’Tapi..’’

‘’Dan. Jikapun aku membutuhkan sosok suami. Aku akan mencarinya kelak. Namun, untuk Anak ku ini. Tetap hanya Kris yang bisa mengisinya. Camkan itu.’’ kemudian Jiyeon segera berlalu dengan cepat. Langkahnya terasa begitu ringan, ia ingin lari dari hadapan Myungsoo.

Jiyeon tahu ucapan-nya begitu keterlaluan. Tapi, ia memang tak bisa dan tak mau menyetujui ucapan Myungsoo yang ia anggap suatu kesalahan. Ia akan mendidik anaknya kelak tanpa seorang Ayah. Dan.. itu tak masalah untuknya.

‘’Kau bodoh! Dia baru saja pulang dari rumah sakit dan kau memintanya menikah denganmu? Demi Tuhan, Myungsoo! Kenapa kau tega sekali?’’teriak Minho sambil menarik kerah baju Myungsoo.

Myungsoo memandang Minho tak peduli, ‘’Aku mencintainya! Sejak dulu! Dan bahkan aku ikhlas menerima anaknya. Aku akan menyayanginya! Apa aku salah jika aku ingin melindunginya!’’ teriak Myungsoo.

BUGH!

Ia meraba bibirnya yang terasa perih menerima pukulan dari Sungjong. Ia kaget dengan apa yang Sungjong lakukan.

‘’Aku meminta dia meninggalkan Kris Hyung demi Kau! Dan inikah yang ia dapatkan dari pengorbananya! Belum genap sebulan ia bercerai dan kau menyuruhnya menjadi Istrimu! Aku kecewa Hyung..’’ ujar Sungjong pedih.

Myungsoo termenung dengan ucapan Sungjong. Luka dibibirnya tak lagi terasa perih. Karena ia pantas menerimanya. Dan.. ia sadar akan itu.

***

 ‘’Sebaiknya, kita batalkan saja perjanjian ekonomi ini, My Lord. Bisa sangat membahayakan.’’

Tapi, Kris memilih diam dan menekuni berkas berkas di hadapannya. Sekali iya, ia tak akan pernah mau mengubah keputusan-nya. Dan.. ini adalah keputusan terakhirnya.

‘’Kerjakan seperti yang aku mau.’’ tegasnya.

Akhirnya, sekertarisnya bangkit dan mengangguk mengerti. Kemudian ia segera keluar dari kamar Kris. Sejak 4 bulan belakangan, Kris tak mau diganggu oleh siapapun. Ia lebih senang menyendiri dikamar atau Villa nya yang dekat dengan bekas kerajaan mereka dulu. Tifanny yang menyadari patah hati Kris tak bisa melakukan apapun. Tapi, ia juga yakin. Ada sesuatu yang membuat Jiyeon meninggalkan Kris. Selalu ia mencoba membujuk Kris untuk mencari tahu keadaan Jiyeon. Namun, adiknya itu hanya berdiam diri. Mengunci rapat perasaan-nya.

‘’Ehm, permisi My Lord. Bisakah saya meminta tolong?’’ tanya Henry yang muncul dari pintu kamarnya.

‘’Ada apa?’’

Kris kemudian berdiri dan merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku, ia menatap Henry.

‘’Begini. Anda tau resep lava cake yang dulu pernah Anda buat? Bisakah anda membuatkanku satu? Adik ku ingin sekali memakan lava cake itu.’’ ujar Henry sambil seperti menyembunyikan sesuatu.

Kris menyerit bingung, ‘’Adikmu yang di China? Kenapa tak kau belikan saja?’’ tanya Kris heran.

‘’Iya ingin aku yang membuatnya My Lord. Dan.. ia bisa tahu jika itu adalah kue yang kubeli atau kue rumahan. Kumohon, bantulah aku My Lord. Biar nanti saya kirim dan besok sampai ke China.’’ pinta Henry.

Menimang sejenak, Kris memutar bola matanya. Ia tak mau menyentuh dapurnya lagi, karena.. Itu mengingatkan-nya dengan Jiyeon yang sangat suka masakan-nya. Meski Kris adalah seorang Pangeran yang hidup serba kecukupan. Namun, ia sangat suka memasak. Dan.. untuk soal rasa. Jiyeon bisa menjamin semuanya.

‘’Kumohon..’’ bisik Henry sambil mengeluarkan jurus merengek terakhirnya.

Dengan cepat, Kris mengangguk dan berjalan di ikuti oleh Henry dibelakang-nya. Ia segera menuju ke pantry dan menyiapkan bahan-bahan kue kelas tinggi. Bahkan, kue seperti yang ia buat tak akan membusuk dalam waktu seminggu karena bahan yang digunakan memang sangat special.

‘’Ambilkan apronku, Henry.’’ ujar Kris cepat.

Ia tak mau berlama-lama mengingat segala kenangan tentang Jiyeon yang tumbuh begitu cepat.

‘’Jangan yang itu! singkirkan itu dan ambil yang lain!’’ teriak Kris ketika ia melihat Henry mengambil Apron yang sering ia gunakan ketika memasakan makanan untuk Jiyeon.

Henry mendesah dengan sedih. Ia begitu sedih melihat Tuan-nya benar-benar mencoba melupakan Jiyeon yang masih sangat mencintainya. Ia kemudian mengambil apron yang lain dan menyerahkan-nya ke Kris.

Dengan cekatan. Ia mulai mengambil mangkok dan menuangkan beberapa bahan seperti tepung, telur dan susu. Ia juga mengambil coklat batang yang tergolek disampingnya. Ketika ia menatap coklat itu.. pandangan-nya menjadi kabur..

‘’Ini enak..’’ bisik Jiyeon ditelingaku.

Aku memutar badan dan mendapatinya yang sedang mengigit coklat batang yang akan kugunakan untuk membuat kue. Aku segera mengambilnya dan melotot kearahnya.

‘’Kau ini… kebiasan makan apapun.’’ ujarku sambil menyentil dahinya.

Ia kemudian meringis dan mencemberutkan wajahnya. Membuatku ingin menciumnya. Ugh!

‘’Memangnya kenapa! Ahjusshi! Kau seperti tak pernah muda saja. Lelaki sepertimu memang tak mengerti kesenangan, Huh!’’ ujar Jiyeon sambil tetap mencemberutkan wajahnya.

Aku hanya tersenyum geli dan membiarkan dia sibuk dengan pikiran-nya.

PRANG!

Aku segera menatap apa yang ia lakukan. Dan.. aku berlari kearahnya. Ya Tuhan! Kenapa gadis ini membuatku selalu khawatir!

‘’KAU INI! Tanganmu terkena panci itu kan. Ya ampun Jiyeon.’’

Aku segera mengambil tangan kanan nya yang tampak merah setelah ia menjatuhkan panci yang panas. Aku menaruhnya ke kran dan menguyurnya dengan air dingin. Ia masih terdiam, mungkin masih belum sadar dengan apa yang ia alami.

‘’Kau tak apa?’’ ujarku sambil meniup lukanya yang sepertinya akan membekas.

Ia menggeleng, aku melihat airmata menggenang dipelupuk wajahnya, ‘’Sakit.. neomu apo.’’ bisiknya.

Aku mengelus pipinya dengan sayang. Tapi, ia malah sesenggukan dan menangis makin parah. Aku menggaruk pelipisku yang terasa berdenyut. Kemudian.. sebuah ide muncul. Aku mengigit coklat batang yang sempat kuambil darinya.

‘’Apo. Hmmmph!’’

Ketika ia berteriak, aku segera membungkam bibirnya dengan bibirku. Memasukan coklat yang kugigit, coklat yang telah sedikit meleleh. Ia tampak kaget dengan perbuatanku. Namun, perlahan, ia menutup matanya dan aku bisa merasakan senyum manisnya dibibirku. Rasa coklat dan senyum bibirnya membuatku bahagia. Aku melepaskan bibirku dan mengecup sudut bibirnya. Tampak wajahnya yang sedikit memerah.

‘’Kita lanjutkan nanti Sayang..’’ bisik ku tepat ditelinganya.

Ia tersenyum malu dan mengusap bibirnya yang belepotan coklat yang.. sangat manis.

Kris tersadar dan segera memijit kepalanya yang terasa pusing. Kemudian, ia mendapati tatapan memelas dari Henry. Ia tak mau terlihat lemah. Dengan cepat, ia kembali dari lamunan-ya dan menyelesaikan kegiatan memasak kue yang merupakan keahlianya. Kue kesukaan-nya. Kue yang mengingatkan-nya dengan seseorang yang jauh disana.

***

Jiyeon tersenyum dan menikmati coklat lava yang dibuat oleh Kris. Ia lagi-lagi tersenyum mengingat betapa sulitnya ia meminta Henry untuk membantunya. Ketika Henry bertanya kenapa Jiyeon sangat ingin Kue buatan Kris. Ia hanya berkata jika ia rindu padanya. Meski, itu hanya sebuah kebohongan belaka. Namun, ia belum siap memberitahu Henry jika ia sedang hamil.

Ia menikmati coklat yang masuk kedalam mulutnya dan mengunyahnya perlahan. Menikmati setiap rasa didalamnya.

Kenapa ia ingin coklat lava?

Ia masih begitu ingat jika dulu, Kris mengajaknya ke suatu bakery bernama Albern King Bakery. Saat itu, Kris begitu menikmati coklat lavanya. Membuat Jiyeon menggeleng tak percaya, melihat Kris bisa begitu menikmati masakan-nya.

‘Wajah mu saat itu benar-benar menggemaskan..’

Jiyeon kembali tersenyum mengingat wajah Kris saat itu. Ia kemudian mengelus perutnya yang telah membuncit meski baru Empat bulan. Namun, nafsu makan-nya begitu besar karena Kris kecil yang ternyata juga mudah sekali lapar.

‘’Kau menikmati masakan Appa?’’ bisik Jiyeon sambil mengelus perutnya.

Ia merasakan sedikit getaran diperutnya, seakan anaknya berkata jika ia menyukai masakan Appa-nya.

‘’Kalau begitu.. jika kau bertemu Paman Henry, kau harus berterimakasih padanya.’’ bisik Jiyeon lagi.

Ia menyisakan setengah coklat lavanya dan menyimpan-nya dikulkas. Ia tersenyum pedih. Ia merindukan Kris. Entah harus berapa kali ia katakan.

‘’Kau ingin memeluk Appa?’’ gumam Jiyeon sedih. Ia kembali melihat perut buncitnya, ‘’Maaf ya Sayang. Appa sedang sibuk..’’ suara Jiyeon terasa bergetar.

Ia kemudian duduk dan menyesap teh hangatnya. Berusaha menetralkan setiap rasa sedih yang menyusup dihantinya.

‘’Tapi, Eomma janji, kau pasti bertemu Appa dalam mimpi. Maafkan Eomma, ne?’’

Lagi-lagi, tanpa bisa dicegah. Perasaan sedih menerpa Jiyeon. Merapuhkan sudut hatinya. Belum lagi, seakan tak bisa menerima ucapan Eommanya, anak Jiyeon menendang kecil. Membutuhkan seorang Ayah didekatnya. Sesuatu yang tak bisa Jiyeon janjikan…

***

Nana mengamati tabnya yang ia taruh berdiri dipantry dan tersenyum senang. Melihat wajah Jiyeon yang awalnya Henry sembunyikan padanya. Namun, setelah mengancam jika ia akan mengadu pada pacar Henry jika ia telah berbohong. Henry-pun menyerahkan vidio callnya dengan Jiyeon.  Nana tersenyum senang melihat wajah Jiyeon yang tampak lebih gemuk..

‘’My Lady, kenapa wajah anda terlihat sedikit bengkak?’’ tanya Nana jujur.

Jiyeon tampak gugup dan mengusap pipinya, ‘’Ah, benarkah? Kurasa kau salah. Aku tidak..’’

‘’Kami semua merindukan My Lady.’’ potong Nana tiba-tiba.

Jiyeon sedikit menghela nafas. Ia bersyukur Nana tak bertanya lebih kepadanya. Karena ia tak yakin bisa menjawab pertanyaan Nana yang biasanya tak bisa dialihkan.

‘’Kenapa kau memanggilku begitu? Aku bukan Lady lagi.’’ gumam Jiyeon sedih.

Nana menggeleng perlahan, ‘’Jangan bilang begitu My Lady. Saya yakin, My Lord pasti akan menjemput My Lady lagi. Meski.. ia tampak kacau sekali. Begitu kasihan sekali. Ia bahkan tak pernah pulang.’’ terang Nana.

‘’Tapi apa dia sehat?’’ tanya Jiyeon cepat.

Nana tersenyum dan kemudian mengangguk.

‘’Dia sangat sehat sekali, My Lady. Ia sedang diruang tamu sekarang. Menunggu Nona Tifanny.’’

Tiba-tiba, Jiyeon merasa begitu merindukan Tifanny juga. Kakak Iparnya yang begitu cantik dan sangat baik padanya. Nana hendak mendengar suara Jiyeon lagi ketika ia dipanggil oleh pelayan yang lain.

Jiyeon kemudian tersenyum dan menunggu Nana yang sedikit lama. Jiyeon mengamati ruangan pantry yang terlihat. Ia juga amat sangat rindu kamarnya, lapangan yang luas, taman di Istana. Dan..

Seketika, hati Jiyeon terasa berat. Seakan sebuah batu besar dilempar kedalamnya. Ia melihat Kris!

Sosok yang begitu ia rindukan. Pria itu sedang mengambil gelas disudut pantry. Jiyeon menahan nafas melihat tangan Kris yang sekarang terlihat sedikit berotot. Ia tampak tak beraturan dengan rambut yang telah memanjang. Sedikit jambangpun muncul disekitar wajahnya.  Dengan kemeja yang digulung sebatas siku. Namun, kesan maskulin dan seksi justru terasa. Ia kemudian berbalik dan memandang tab itu.

Jiyeon segera menutup camera laptopnya. Ia mengamati wajah Kris yang menyerit bingung melihat hanya bayangan hitam ditab Nana. Ia menghedikan bahunya tak peduli. Dan berjalan menjauh.

‘’Jangan pergi!’’ pekik Jiyeon tanpa sengaja. Ia segera menutup mulutnya cepat.

Kris segera menatap kembali tab itu. Ia merasa familiar dengan suara itu.

‘’Siapa ini?’’ tanya Kris dengan suara beratnya yang menyeruak ditelinga Jiyeon.

‘Aku.. ini aku Appa..’ bisik Jiyeon sedih.

Kemudian, Kris tampak tak lagi peduli dan berlalu menjauh. Jiyeon termenung lama. Ia bisa mati jika terlalu merindukan Kris. Kris yang bahkan tak tahu jika ia ada didunia ini. Tak tahu jika kembaran kecilnya sedang menunggunya untuk tinggal disini. Jiyeon mengusap wajahnya. Ia bertekad menyimpan kenangan akan Kris serapat mungkin. Ia tak bisa berpura-pura semua akan baik-baik saja nantinya. Namun, ia harus bangkit. Atau.. ia akan semakin jatuh.

Jiyeon harus memilih salah satunya.

***

Ditempat lain..

Kris memegang dadanya yang terasa sesak. Hatinya terasa begitu teriris entah mengapa. Biasanya, ia hanya sesak. Namun, kali ini. Terasa begitu sesak. Hatinya begitu sesak sekali.

Ia kemudian bangkit dan menuju ke dapur. Ia membutuhkan minuman lagi. pandangan-nya terarah pada layar yang sejak tadi masih saja berwarna gelap. Ketika ia bertanya siapa. Tak ada jawaban sama sekali.

Ia mendekat kembali kelayar itu.. iya perlahan menyentuh layar itu..

Kemudian, dengan cepat ia menarik tangan-nya. Meski Nana adalah pelayan-nya. Tetapi, barang Pribadinya tak akan ia sentuh. Karena itu merupakan suatu privasi.

Tetapi, entah mengapa. Ia hanya menyandarkan tubuhnya ditembok sambil memandang tab itu kosong. Ia termenung lama. Memikirkan perasaannya belakangan ini. Ia terlalu marah untuk mengakui kerinduan-nya kepada Jiyeon. Mengapa Kris membuat perjanjian setahun pernikahan itu karena Dara yang menyuruhnya. Dara tak ingin Ia dan Jiyeon terus bersama. Akhirnya ia membuat agar, akhir surat itu diputuskan oleh Jiyeon. Yang justru mengecewakan hatinya.

‘’Aku benar-benar kecewa padamu..’’ gumam Kris sambil menutup matanya sedih.

Hatinya tak bisa sembuh. Karena bahkan, hatinya sudah hancur menjadi kepingan yang terlalu sulit untuk disatukan kembali.

***

Jiyeon mengelus wajah Kris yang nampak dihadapan-nya. Airmatanya kembali tak terbendung.

‘’Ini Appa.. Appamu..’’ bisiknya sambil tetap menatap wajah Kris yang benar-benar tak berubah.

Ia menghela nafas mendengar ucapan Kris.

’Aku benar-benar kecewa padamu..’

Jiyeon tak tahu, apa ia harus sedih karena Kris ternyata begitu kecewa. Ataukah ia senang, karena Kris masih memikirkan-nya. Ia benar-benar tak tahu.

Dengan perlahan. Jiyeon membawa laptop disamping tempat tidurnya. Laptop yang masih memperlihatkan wajah Kris yang menatap kosong kearahnya. Ia mengelus layar sekali lagi dengan ragu.

‘’Appa akan menemani kita tidur..’’ bisiknya menenangkan anaknya.

Entah sejak kapan. Kemudian, ia terlelap tanpa merasakan beban yang biasanya begitu menyiksanya. Ia terlelap dalam kesedihan dan kegundahan-nya. Kegundahan yang ia rasakan karena kesalahan yang ia buat. Dan.. Ia.. merasa pantas mendapatkan-nya.

‘’Saranghae, Ahjusshi..’’

-to be continued-

.

.

PS : touching 120. aku upload next secepatnya. *lmao*

141 responses to “Crown (Still You) – Chapter 12

  1. Baru kemarin aku baca dan ga bs berenti sampe sekarang. Maaf baru ninggalin jejak di chapter ini. Sayang banget rasanya kemarin kalau harus berenti.. lintang, please terusin ya chapternya.. huhuhu :’)

  2. please jiyeon come back to kris. kasian liat mereka tersiksa gituuu ihhhh.sedih bayanginyaaa
    ceritanya makin seru plus mendebarkan
    ga sabar nunggu next chap nya
    di tunggu sangat lanjutannnya

  3. Keren bangetttt ceritanya min, bikin orang mewek😥
    kenapa baru tau hamil waktu jiyeon ninggalin kris😥 terus knpa juga jiyeon mesti cerai dari kris padahal mereka sama2 suka😥 tapi juga kasihan sama myungsoo. Duhhh min penasaran banget lanjutan ceritanyaaa😥

    ditunggu ya min lanjutannya, semangatttttttttttt😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s