[CHAPTER – PART 5] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIMEPart Sebelumnya:

PROLOG [1] [2] [3] [4]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Annyeong chingudeul…
Akhirnya  part ini dah kelar. Langsung aja. Check it out!

Setelah mengantar Soo Hee ke hotel, Myungsoo memacu mobilnya menuju taman kota. Seharian membantu presiden memikirkan masalah negara dan bertemu Soo Hee yang jujur tidak begitu ia harapkan, membuat Myungsoo merasa tertimbun reruntuhan bangunan. Kepalanya berat, badannya terasa pegal-pegal.
Tak memakan banyak waktu, mobil mewah miliknya berhenti di tempat parkir. Sepi. Bagaimana tidak? Tengah malam begini mana ada yang sudi ke taman untuk sekedar melepas penat? batinnya. Myungsoo memasuki taman dengan langkah berat. Dilihatnya sekelilingnya, benar-benar sepi. Myungsoo berjalan menuju sebuah bangku yang terbuat dari besi dengan cat warna putih.

Myungsoo pov
Larut malam begini aku tidak segera pulang tapi malah pergi ke taman. Entahlah aku juga tidak tahu kenapa aku ingin melakukannya. Tiba-tiba terlintas di benak dan pikiranku. Bagaimana hubunganku dengan Gongju nantinya. Semoga keluargaku menyetujui hubungan kami. Kalau tidak… Aah andwae! Harus bisa. Aku teringat sesuatu. Ya, ini tentang Kyung Ho songsaenim. Hanya ada satu cara yang bisa menyelamatkan Kyung Ho saem. Aku harus bertemu dengan presiden dan perdana menteri Korsel. Yang masih dalam tanda tanya besar adalah bagaimana bisa Kyung Ho saem begitu ceroboh meminjamkan senjatanya pada mereka. Kan tidak semua orang mendapat izin kepemilikan senjata. Lalu kenapa mereka membawanya sampai ke Korsel? Aiisshh jinjja! Aku bisa gila. Rupanya jadi presiden itu tidak enak. Apalagi perdana menteri. Haah…
Ku baringkan tubuhku yang penuh dengan rasa lelah, mataku terasa berat. Aku berbaring di atas kursi besi yang cukup panjang, kursi ini cukup menampung tubuhku dari kepala sampai kaki. Angin musim semi masih terasa dingin. Untung aku pakai baju berlapis-lapis. Ku pejamkan mataku sebentar saja.
Myungsoo pov end.

Gongju gelisah. Ia tidaj bisa tidur. Masalah gurunya masih menari-nari di otaknya. Menumpuk dalam folder ingatan. Gongju memutuskan keluar sebentar saja untuk menenangkan pikiran.
Cekleeek
Pintu ditutup Gongju dari luar. Malam ini angin bertiup cukup kencang. Gongju berjalan menyusuri jalan sepi. Hanya disinari lampu jalan yang tidak bergitu terang. Yeoja ini selalu berani kemanapun dan kapanpun ia pergi. Tak lupa juga ia membawa sahabat kecilnya, pisan lipat yang setiap saat ia bawa kemana-mana. Jarak 100 meter setelah melewati gedung latihan, Gongju mendengar suara langkah kaki samar-samar. Ia pun bersiaga jika tiba-tiba ada yang menyerangnya. Beberapa menit berjalan dari gedung latihan, Gongju tidak lagi mendengar suara lagkah kaki itu. Hatinya sedikit lega. Ia bertanya-tanya dalam hati. Siapa yang berani mengikutinya? Selama bertahun-tahun keluar malam pada jam segitu tidak ada yang pernah mengikutinya.
Gongju semakin dekat dengan tempat tujuannya, taman kota.
Seperti dugaannya, di dalam taman tidak ada siapapun. Inilah yang disukainya. Gongju menyukai tempat yang sepi. Di ujung barat, dekat dengan air mancur terdapat beberapa kursi besi warna putih. Gongju pun segera menuju ke sana. Saat sudah dekat, ia melihat ada yang aneh dengan salah satu kursi. Didekatinya. Matanya terbelalak kaget. Myungsoo? lirihnya.
Myungsoo, namja yang sangat ia cintai ternyata tertidur di taman. Posisi tidurnya miring ke kanan, sehingga menyisakan sedikit tempat kosong di kursinya. Gongju duduk di sisi kursi yang sisa itu. Ditatapnya lekat-lekat namja berpakaian abu-abu dan hitam itu. Tidurnya nyenyak sekali. Raut wajahnya sangat manis. Gongju baru menyadari bahwa namjanya itu ternyata sangat tampan. Mata dingin Myungsoo terpejam, menyilaukan kedamaian di dalamnya. Gongju membelai lembut rambut Myungsoo, turun ke dahi, hingga ke bagian wajah yang lain. Dikecupnya bibir tipis namja itu yang berhasil membuatnya terbangun. Myungsoo masih mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih menyesuaikan dengan cahaya lampu di sekitarnya. Setelah kesadarannya.penuh, ia tersentak kaget melihat yeoja yang ada di depannya.
“Apa kau hantu?” tanya Myungsoo polos.
“Iish… Oppa, apa kau mau menjadi kekasih hantu?” Gongju mempoutkan bibirnya. Myungsoo merusak suasana romantis dengan pertanyaannya yang mengesalkan Gongju.
“Jadi, kau nyata? Kau benar-benar Gongju?” tangan Myungsoo meraba kulit wajah Gongju yang mulus.
Gongju mengangguk. Tiba-tiba Myungsoo menariknya ke dalam dekapannya. “Waaah, aku kira kau hantu, chagi… Syukurlah ternyata bukan hantu.”
“Oppa, kenapa kau tidur di sini?” tanya Gongju dari dalam dekapan Myungsoo.
“Tadi aku belum ingin pulang lalu mampir ke sini. Tiba-tiba mataku terasa berat, jadi aku tidur sebentar di sini. Oh ya, jam berapa sekarang?” Myungsoo melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. “Omo… Jam 1 malam?”
“Wae?” tanya Gongju.
“Anhi. Aku akan betah di sini sampai pagi karena kau juga di sini.” Myungsoo mencium Gongju tanpa isyarat apapun yang menyebabkan yeoja itu cukup kaget karena perlakuan namjanya. Myungsoo melepas ciumannya tapi masih mendekatkan wajahnya dengan wajah Gongju, sangat dekat. “Kenapa kau ke sini?” tanya Myungsoo.
“Aku sering ke sini malam-malam seperti ini, oppa. Aku merasa damai jika berada di tempat yang sunyi.”
Myungsoo tersenyum tipis.
“Ada alasan apa di balik senyummu itu oppa?” tanya Gongju curiga.
“Aku berinisiatif, kita kencan malam hari ne? Kan siangnya kita di istana. Nah, malamnya kita berkencan. Otte?” Myungsoo tersenyum.
Gongju mengangkat kedua alisnya. Ia merasa Myungsoo semakin aneh. Apa namjanya itu stres karena masalah negara?
“Oppa, jangan terlalu banyak pikiran ne…” Gongju bersandar di bahu kiri Myungsoo.
“Bukankah kau yang menambah pikiranku?”
Gongju mengerutkan keningnya. “Jinjja? Ah, masalah songsaenim ya?” tanya Gongju.
“Yaak, bukan itu.”
“Bukan itu?” Gongju semakin bingung. Ia tampak berpikir keras.
“Bukan itu chagi. Kau yang selalu aku pikirkan,” bisik Mungsoo yang sukses membuat wajah Gongju semerah tomat.
Gongju selalu tak terbungkam jika Myungsoo sudah mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Mungsoo dan Gongju memutuskan untuk tidur di taman itu karena malam sudah sangat larut. Keduanya hanya mengenakan baju berlapis, jaket dan syal yang melingkar indah di leher masing-masing.

Di hotel, Soo Hee merasa kesepian. Dia sama sekali tidak punya kenalan di Korea Utara. Hanya Myungsoo dan Gongju. Tunggu, Gongju? Ia masih ragu apakah Gongju masih mengenalinya dan apakah dia sendiri masih mau berteman dengan Gongju. Terakhir kali Soo Hee melihat Gongju hanya melalui internet saat ada berita tentang aksi penangkapan pencurian di pasar. Soo Hee merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia menarik nafas panjang dan mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan sekarang. Pulang? Andwae. Susah payah usahanya pergi ke utara, ia tidak mungkin kembali ke selatan saat itu juga. Akhirnya Soo Hee memutuskan pergi mengelilingi kota Pyongyang.

Soo Hee berjalan santai di area pedestrian. Sepasang matanya tak berhenti mengamati sekelilingnya. Kota Seoul lebih indah dari ini, batinnya. Menurut Soo Hee, negara Korea Utara hanya unggul dalam bidang teknologi saja. Namun di bidang lain, Korsel lah yang mengunggulinya. Di depan restauran Prancis, Soo Hee berhenti sejenak. Dia berpikir bagaimana jika saat ini ia mampir ke restauran yang ada di depannya itu. Pasti lezat.
Soo Hee masuk ke dalam restauran. “Wuaaah daebak! Mewah sekali? Bersih, elegan, rapi, waiters nya tampan semua. Tapi kenapa semuanya namja?” gumamnya. Ia memilih kursi kosong di dekat pintu masuk yang terbuat dari kaca.

Di luar restauran ternyata ada seseorang yang tidak sengaja melihat Soo Hee lalu mengikuti langkah yeoja itu. Saat Soo Hee masuk ke dalam restauran Preancis, orang itu juga masuk, berjalan di belakang Soo Hee. Soo Hee tidak tahu menahu ada seseorang yang mengikutinya.

“Saya melihat Nona Soo Hee di Pyongyang, nyonya.” Namja yang mengikuti Soo Hee itu melaporkan keberadaan sang putri presiden, Park Soo Hee. Kepada siapa kalau bukan Haeri, ibu kandung Soo Hee.

Soo Hee mengeluarkan ponsel yang baru dibelinya dan membeli kartu perdana dengan ID pelayannya karena dia memang sedang menyamar sebagai pelayannya. Ditekannya nomor ponsel seseorang yang selalu hadir dalam ingatannya, Kim Myungsoo. Hanya ada satu nomor di ponselnya karena hanya nomor Myungsoo yang telah dihafalkan oleh Soo Hee. Soo Hee mengetikkan pesan dan dikirim ke nomor Myungsoo.
Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan oleh Soo Hee ludes. Soo Hee menatap ponselnya, kecewa karena tidak ada pesan sama sekali. Itu artinya tidak ada pesan dari Myungsoo.

Myungsoo mendatangi ruang kerja presiden Kim. Kali ini mungkin akan ada sesuatu yang penting. Raut wajah presiden Kim tampak sangat serius. Myungsoo pun tak berani bicara sembarangan.
“Ada apa jeoha?” tanya Myungsoo yang sudah menempati sebuah kursi di depan meja kerja presiden.
“Aku ingin membahas pertemuan dengan Korsel. Apa kau telah menentukan kapan kau akan ke sana?”
Myungsoo berpikir sejenak. “Secepatnya. Tapi aku belum menentukan tanggalnya, jeoha.”
“Gurae, aku saja yang menentukan tanggalnya. Kau dan perdana menteri Lee akan ke sana besok. Sekarang juga aku akan memerintahkan staf untuk menghubungi pihak Korsel. Kau harus bersiap, Myungsoo-a. Tugasmu hanya mendampingi perdana menteri. Karena dialah yang berhak menentukan kebijakan untuk negara kita. Jika terjadi apa-apa, kau bisa membantunya.”
“Ne, algesimita, jeoha.” Myungsoo undur diri. Ia akan menyiapkan beberapa berkas yang mungkin dibutuhkan besok saat acara negosiasi dengan pihak selatan.

Di dalam ruangan, Gongju membaca surat kabar. Salah satu berita yang tertulis di sana tidak lain adalah kasus penagkapan warga Korut. Gongju benar-benar penasaran, siapa mereka sebenarnya? Tiba-tiba pintu terbuka. Muncullah sosok tampan Myungsoo dengan ekspresi yang bisa ditebak, pasti ada masalah.
Gongju menatap namjanya yang berjalan ke arahnya.
“Oppa, waegurae?” tanya Gongju yang langsung melingkarkan lengan kirinya di lengan kanan milik Myungsoo. Myungsoo seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba ia memeluk Gongju dari samping. Gongju terperanjat kaget.
“Gongju-a, besok aku akan ke selatan.”
“Ke selatan? Untuk apa?” tanya Gongju lagi.
“Appa memintaku mendampingi perdana menteri Lee untuk negosiasi di sana. Kali ini aku harus berhasil. Kyung Ho saem yang akan terkena batunya jika hasil negosiasi itu nihil.”
“Tenanglah oppa. Aku yakin semuanya akan berjalan lancar. Perdana menteri Lee bukanlah orang sembarangan.”Gongju berusaha menyemangati Myungsoo. “Oh ya, tadi ponselmu ada pesan dari nomor asing. Aku tak tahu siapa itu. Bukalah oppa. Barangkali itu pesan yang penting.”
Myungsoo meraih ponselnya yang terletak di atas meja tepat di depannya. Dahinya berlerut saat membaca pesan itu. Soo Hee. Myungsoo melupakan Soo Hee yang sangat ingin bertemu dengannya. Di dalam pesan itu, Soo Hee meminta Myungsoo menemaninya jalan-jalan. Tentu saja Myungsoo menolak. Bagaimana ia bisa jalan-jalan jika besok ia harus berunding dengan Selatan. Myungsoo membalas pesan Soi Hee. Ia minta maaf karena banyak urusan penting jadi tidak bisa menemani Soo Hee. Myungsoo berinisiatif untuk meminta Gongju menemani Soo Hee jalan-jalan.
“Chagiya, aku minta tolong padamu boleh?”
“Eoh. Mwo?”
“Kau masih ingat Park Soo Hee?” tanya Myungsoo. Gongju berusaha mengingat nama itu.
“Putri presiden Park dari selatan?”
Myungsoi mengangguk. “Soo Hee datang ke selatan dengan diam-diam tadi malam. Sekarang dia ingin pergi jalan-jalan dan memintaku untuk menemaninya. Aku tidak bisa menolaknya karena mengibgat usahanya untuk bisa kemari penuh resiko. Untuk itu aku memintamu menemaninya jalan-jalan nanti sore. Eotteyo?”
“Apa tidak masalah jika aku yang menemaninya?”
“Tidak masalah. Aku sendiri yang akan bilang padanya. Gomawo chagiya…” Myungsoo memeluk Gongju.

Soo Hee mengatakan pada Myungsoo bahwa ia akan menanti namja itu di sebuah kedai samgyupsal di sekitar hotel. Yeoja itu rupanya telah menunggu cukup lama, namun namja yang diharapkan kedatangannya belum menampakkan batang hidungnya. Dari kejauhan, tampak seorang yeoja dengan pakaian serba panjang dan membentuk tubuhnya yang tinggi dan langsing dengan sedikit gaya maskulin mendekati kedai samgyupsal dimana Soo Hee kini berada. Soo Hee menatap aneh pada yeoja itu yang langsung menempati kursi kosong di depanya.
“Neo nuguya?” tanya Soo Hee.
“Kau Park Soo Hee kan?”
“Eoh,” jawab Gongju singkat.
“Apa kau tidak ingat aku? tanya Gongju.
Soo Hee menggeleng.
“Gurae, kita berkenalan dulu. Nan Gongju imnida.” Gongju menjabat tangan Soo Hee yang masih terpaku di depan Gongju dengan kedua kelopak matanya yang tak berkedip sama sekali.
“Kenapa kau ada di sini?” tanya Soo Hee.
“Oh ya, aku hampir lupa. Aku datang ke sini karena permintaan Myungsoo oppa untuk menemanimu berkeliling kota Pyongyang. Awalnya So Hee menolak, tapi pada akhirnya dia menerima keputusan Myungoo. Mungkin namja itu sedang sibuk.
“Kau, kenapa pakaianmu seperti itu?” tanya Soo mengamati Gongju dari ujung kepala sampai ujung kaki. Hmmm. Ternya Soo Hee mncuri pandang. Ia mencuri pandang melihat yeoja feminin dan setengah maskulin di depannya.
“Aku senang bertemu denganmu lagi, Soo Hee-ssi. Aku jadi teringat masa kecil kita bertiga.” Gongju lagi-lagi tersenyum.

Jaejoong mencari Gongju entah dimana. Ada sesuatu yang teramat genting. Ia melihat seorang yeoja berjalan letih menuju rumah mereka. Gongju baru pulang dari acara jalan-jalan bersama putri presiden Park.
“Kau darimana?” tanya Jaejoong khawatir.
“Tenanglah oppa. Aku baik-baik saja. Tadi aku mampir ke taman. Mencari hiburan dan udara segar. Waeyo? Tidak biasanya oppa mondar mandir di depan rumah.”
Jaejoong mengerutkan keningnya. “Masalah genting, Gongju-a.”
“Mwo? Masalah apa?”
“Kepolisian Korsel telah mengetahui identitas pemilik senjata yang mereka sita.”
Jlegeerr!!!
Bagai tertimpa pohon besar, Gongju langsung duduk bersimpuh. Apa yang dikhawatirkan benar-benar telah terjadi. “Apa itu artinya Kyung Ho saem akan ditangkap dan dipenjara?” Sepasang mata bulat Gongju berkaca-kaca.
“Itulah yang aku khawatirkan.”
Tiba-tiba Gongju teringat Myungsoo. Ya, kekasihnya itu akan melakukan negosiasi dengan pihak selatan terkait masalah ini. Gongju langsubg mengeluarkan ponselnya, menghubungi Myungsoo. Sudah tersambung.
“Myungsoo-a…” lirih Gongju di ponsel.
“Eoh, wae chagi?”
“Myungsoo, negosiasi itu harus berhasil.”
“Eoh. Memangnya ada apa?”
Jaejoong menatap Gongju. Menanti kata-kata yang akan keluar dari mulut manis yeoja yang sudah dianggap sebagai dongsaengnya.
“Kepolisian Korsel sudah mengetahui bahwa Kyung Ho saem adalah pemilik.senjata itu. Mereka pasti.sudah melakukan penyelidikan dan interogasi.”
“Mwo?” Terdengar suara Myungsoo sangat kaget. “Andwae! Ini tifak bisa dibiarkan. Mereka telah melanggar janjinya sendiri. Tidak bisa. Aku akan memberitukan kabar ini pada perdana menteri dan presiden. Kau tenang saja, ne…”
“Araseo. Aku tidak ingin Kyung Ho.saem ditangkap apalagi dipenjara. Aku tidak bisa membayangkannya.” Gongju meneteskan airmatanya.

Myungsoo menemui Soo Hee di hotel. Soo Hee senang sekali akhirnya Myungsoo mau bertemu dengannya di sela-sela kesibukannya. Ekspresi Myungsoo dan tatapan dinginnya seakan hendak membunuh Soo Hee.
“Waeyo oppa?
“Ternyata orang-orang Selatan berbuat licik dan tidak menepati janji,” seru Myungsoo dengan nada cukup tinggi.
“Oppa, maksudmu apa, eoh?”
“Tanyakan saja pada appamu dan orang-orangnya. Kalian mengingkari janji. Jangan salahkan aku jika Utara menyerang kalian secara tiba-tiba.” Myungsoo melangkah keluar kamar hotel Soo Hee. Tangannya mengepal. Kesal, itulah yang dia rasakan saat ini.
Braakk!!
Suara pintu ditutup oleh Myungsoo dengan kasar.

Sementara itu, Soo Hee kalang kabut. Bagaimana mungkin appanya mengingkari janji padanya. Apapun yang dijanjikan pada Soo Hee, appanya selalu menepatinya. Tidak seperti sekarang ini. Pasti ada yang tidak beres. Soo Hee pun bergegas kembali ke Korsel.

Akhirnya Soo Hee kembali ke negaranya dengan selamat. Ia langsung menuju ruang kerja appanya.
“Appa,” panggil Soo Hee dengan sedikit kesal. Emosinya.tertahan. Secara tidak langsung, ia telah dipermalukan di depan Myungsoo.
“Ah, chagiya…”
“Apa maksud appa mengingkari janji pada Korut? Mereka geram pada kita karena telah mengingkari janji. Bukankah mereka meminta kita untuk tidak segera menginterogasi warganya. Tapi kenapa appa bertindak sebaliknya? Mereka mengancam akan menyerang kita jika kita berani macam-macam.”
Presiden Park bingung. Ia pun panik.
Di luar ruangan rupanya Haeri mendengarkan percakapan putrinya dengan suaminya. Ia pun tersenyum tipis lalu masuk ke dalam untuk menenangkan putri dan suaminya agar tak perang argumen.
“Soo Hee-a, tenanglah. Kenapa kau dan appamu berdebat tentang Korut? Itu belum tentu terjadi. Kita harus mempertahankan prinsip kita. Jika ada warga negara Korut yang melanggar hukum di negara kita, maka kita juga berhak menghukumnya.” Haeri bermanis-manis ria di depan putrinya.
“Eomma, apa kau setuju dengan yang telah mereka lakukan?” Soo Hee melirik tajam.ke arah appanya. Haeri tidak menjawab pertanyaan dari putrinya.
“Jika eomma juga menyetujuinya, kita kan benar-benar hancur.”
“Park Soo Hee! Jaga mulutmu!” presiden Park membentak Soo Hee di depan Haeri.
“Berpikirlah dengan jernih, appa. Korut memiliki sekutu terkuat di dunia. Amerika, Inggris bahkan Australia menjadi sekutu setia mereka. Jika perang itu benar-benar terjadi, apa jadinya kita nanti? Aku lebih memilih menyerah daripada harus hancur diserang oleh mereka.” Soo Hee kesal. Ia melenggang keluar dari ruang kerja appanya. Percuma bicara dengan appanya apalagi eommanya juga memberikan dukungan yang menurutnya tak masuk akal. Soo Hee penasaran, siapa dalang di balik semua ini?

Myungsoo dan perdana menteri bersiap untuk mengadakan perjalanan ke Korea Utara. Gongju datang ke istana lebih awal dari biasanya. Ia ingin memberikan motivasi untuk namjanya.
“Oppa…” panggil Gongju lirih. Ia membantu Myungsoo memakai jasnya.
“Wae?”
“Apa kau tidak takut?” tanya Gongju.
“Kenapa takut? Seharusnya mereka yang takut.” Myungsoo mengancingkan jasnya yang berwarna hitam. Namja itu tampak sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam dan dasi bergaris warna abu kombinasi putih.
“Oppa, bawalah ini.” Gonngju meyerahkan kalung keberuntungannya pada Myungsoo. Sedangkan Myungsoo, ia malah menatap aneh pada yeojanya. “Bawalah ini, semoga semuanya berjalan dengan baik.” Gongju memamerkan senyum manisnya pada Myungsoo. Myungsoo menerima kalung itu dan memakainya. Tak lama kemudian ia menarik Gongju, memeluknya. Pelukan yang hangat.
“Aku janji padamu. Semua akan baik-baik saja. Berdoalah untukku, ne…” Myungsoo membelai lembut rambut Gongju yang kali ini dibiarkan tanpa ikatan. Gongju memejamkan matanya, menikmati pelukan dengan namjanya.

Soo Hee bersikeras ikut dalam acara negosiasi antara kedua negara. Namun presiden Park tidak mengizinkannya untuk ikut. Soo Hee pun semakin kesal pada appanya. Bujukan kedua eommanya agar Soo Hee tenang pun tak digubris. Ia merasa tidak tenang karena telah mendapat malu atas masalah ini. Myungsoo yang percaya padanya kini harus kecewa karena kenyataannya Korsel bertindak sendiri tanpa koordinasi dengan Korut. Masalah ini mungkin sepele namun bisa memicu perang besar. Bahkan mungkin perang dunia ketiga. Soo Hee tak menginginkan hal itu. Ia sangat mencintai Myungsoo. Jadi dia tidak akan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya dibenci oleh Myungsoo.

Myungsoo, perdana menteri Lee Donghae, perdana menteri Korsel Changmin, kepala kepolisian pusat Korea selatan, dan presiden Korsel tiba di gedung pertemuan berkelas Internasional dengan penjagaan yang amat ketat. Mereka tiba bersamaan. Myungsoo memasang ekspresi datar. Tak ingin menunjukkan emosi dan kekesalannya pada orang-orang Selatan mengingat mereka sedang berada di wilayah Korea Selatan.

Tbc.
Gimana chingu? Kalo ada yg kurang gimana gtu atau banyak typo, jongmal mianhaeyo…
Aku tunggu komennya.
Gomawoyo🙂

57 responses to “[CHAPTER – PART 5] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s