[CHAPTER – PART 4] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIMEPROLOG [1] [2] [3]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Annyeooong…
Aku post part 4 nih. Semoga tambah paham alur ceritanya yaa… Soalnya alur FF ini gk langsung aku jelasin secara tersurat, jadi readers harus memahaminya secara tersirat krn FF ini mirip skenario drama. Hohohoo…
Langsung aja cekidot

Myungsoo membuka surat balasan dari Soo Hee. Ia tersenyum kecil. Usahanya berhasil. Ya, Myungsoo berhasil membujuk Soo Hee untuk bicara pada presiden Park agar mau menunda proses interogasi dua warga Korut yang tertangkap tentara Korsel. Dalam surat itu, Soo Hee meyakinkan Myungsoo bahwa dirinya sanggup membujuk appanya untuk menunda penginterogasian. Bahkan kalau bisa, ia akan membujuk presiden Park untuk membebaskan tahanan Korut itu. Ada sedkit kelegaan di hati Myungsoo. Dengan begini, ketegangan akan mengendur. Setidaknya sampai dia menemukan cara untuk membawa pulang warga negaranya yang menjadi tahanan Korsel. Jika Soo Hee gagal maka Myungsoo sendiri yang akan menemui presiden Park untuk bernegosiasi tentang masalah itu. Namun karena Soo Hee menyukai Myungsoo, ia dapat memanfaatkan kedekatannya dengan putri Korsel itu untuk melancarkan rencananya.

Di halaman rumah, Gongju tertegun. Ia tidak menyangka bahwa gurunya tertimpa musibah seberat ini. Bagaimana bisa? tanyanya dalam hati. Karena tidak ingin menanggung rasa penasaran lebih dalam akhirnya Gongju bertanya pada Jaejoong. “Jaejoong oppa…”
“Eoh, wae?” Jaejoong sedang mencuci wajah dan tangannya karena baru saja latihan pernapasan. “Oppa, apa kau tahu tentang senjata guru yang dibawa 2 orang Korut itu? Ah, anhi. Maksudku…”
“Eoh, aku tau maksudmu,” ungkap Jaejoong. “Aku akan menceritakannya tapi kau harus membayar.”
Gongju mengerutkan keningnya. Membayar? Memangnya informasi itu sepenting apa? “Oppa, kenapa sekarang kau pelit sekali?”
“Iiish… Anak ini. Sebagai imbalannya kau harus menjawab 1 pertanyaan dariku dengn jujur. Ara?” Jaejoong malah kesal pada Gongju yang tak kunjung mengerti dengan ucapannya.
“Gurae. Yakso… Palli!”
“Ehm…” Jaejoong berdehem membersihkan tenggorokan agar suaranya terdengar lebih jelas. “Guru pernah bercerita bahwa dulunya punya murid seorang jurnalis surat kabar di Korut. Kemudian singkat cerita, muridnya itu meminjam senjata milik guru untuk melindungi dirinya saat meliput berita di wilayah konflik.karena di sana marak sekali pembunuhan. Hanya itu yang aku tahu. Sekarang ku akan bertanya satu hal padamu.”
“Mwo?” Gongju duduk di samping Jaejoong. Lengan kanannya menggaet lengan kiri Jaejoong dan menyandarkan kepalanya di bahu sebelah kiri milik Jaejoong. Hal seperti itu biasa ia lakukan karena mereka sudah menganggap satu sama lain lebih dari saudara. Mungkin malah seperti saudara kandung, mengingat keduanya terus bersama-sama dari kecil sampai saat ini.
Jaejoong tampak berpikir. Apa yang dapat ia tanyakan dari seorang Gongju. “Ahaa… Aku punya satu pertanyaan. Kau harus menjawabnya dengan sangat jujur.”
Gongju mengangkat kepalanya dari bahu Jaejoong. Ditatapnya oppanya itu. Tatapan curiga mengarah pada Jaejoong.
“Yaak, tatapanmu itu menggelikan sekali. Santai saja.” Jaejoong menahan tawa. “Gongju-a, apa kau menjalin hubungan dengan Myungsoo?”
Deg!
Gongju diam, yang bergerak hanya kelopak matanya berkedip-kedip. Wajahnya memerah. Hal itu malah membuat Jaejoong tertawa terbahak-bahak.”Yaak, ada apa dengan ekspresi itu? Aku sudah tahu jawabannya. Kau tak perlu menjawabnya dengan kata-kata. Ekspresimu itu lebih dari penjelasan dengan kata-kata.” Kali ini gantian Jaejoong merangkul bahu Gongju dengan sangat erat sangking gemasnya pada Gongju. “Waah ternyata kau sudah dewasa ya?” goda Jaejoong yang mampu membungkam Gongju hingga.tak berkata apa-apa lagi. “Cepatlah bersiap. Kau kan harus mendampingi Myungsoo oppa…” goda Jaejoong untuk kesekian kalinya. Gongju berdiri, melangkah ke dalam rumah untuk bersiap berangkat kerja.

Gongju sudah siap berangkat. Baru saja ia melangkahkan kaki keluar dari pintu rumahnya, Kyung Ho memanggilnya.
“Gongju-a, bukankah tadi aku ingin bicara padamu.” Gongju menepuk dahinya.
‘Pabbo…’ batinnya. “Aah, ne songsaenim.” Ia membalikkan badan menghadap gurunya yang berdiri tepat di belakangnya.
“Gongju-a, aku ingin bertanya padamu. Apa akhir-akhir ini kau melihat di sekitarmu ada orang yang mencurigakan?”
Gongju menggeleng,”Anhi, songsaenim.”
“Kapan terakhir kali kau terlibat perkelahian dengan seseorang?”
“Terakhir… Saat aku di pasar. Aku menangkap seorang pencuri. Waeyo? Apa songsaenim mengkhawatirkan aku?”
“Kau adalah yeoja, bukan namja seperti Jaejoong. Jadi aku lebih mengkhawatirkanmu.”
Gongju ingin menanyakan tentang senjata gurunya yang kini disita tentara Korsel tapi ia mengurungkan niatnya. Takut kalau nanti gurunya memarahi Jaejoong karena sudah yang sudah menceritakan masalah itu padanya. “Songsaenim jangan khawatir. Aku bisa jaga diri. Kata para pejabat, kemampuanku lebih unggul daripada Kim Myungsoo. Hehe… Aku kan murid songsaenim. Jadi aku harus bisa jaga diri.” Gongju memamerkan senyumnya pada Kyung Ho agar gurunya tidak khawatir padanya. “Aku akan baik-baik saja, songsaenim. Aku berangkat.” Gongju membungkuk memberikan salam pada gurunya.

Di perjalanan menuju istana, Gongju meikirkan sesuatu. Apa yang ditakutkan Gongju ternyata telah terjadi. Gara-gara perkelahiannya dengan pencuri hingga ia masuk headline di beberapa surat kabar dan berita, kini gurunya mengkhawatirkan keselamatannya lebih dari sebelumnya. Gongju tidak ingin membuat siapapun khawatir padanya. Ia harus bisa meyakinkan semua orang yang menyayanginya bahwa dirinya akan baik-baik saja.

Di istana, seperti biasa, Myungsoo menunggu kedatangan sang pujaan hati dengan tidak sabar. Begitu pintu ruangannya terbuka, ia senang sekali. Tapi Myungsoo kecewa karena Jenderal Lim lah yang masuk ke dalan ruangannya.
“Tuan muda, ada kabar baru dari Korsel,” kata jenderal Lim yang baru saja menempati kursi kosong di dep meja Myungsoo.
“Mwo?” tanya Myungsoo penasaran.
“Pihak Korsel menunda penginterogasian warga negara kita. Tapi mereka masih menahan kedua orang Korut itu hingga adanya perjanjian antara kedua negara. Ini adalah surat pemberitahuan sekaligus undangan untuk negosiasi dari pihak Selatan.” Jenderal Lim menyerahkan amplop besar berisi syrat yanv dimaksud oleh Jenderal Lim.
Myungsoo mengerutkan keningnya. Apa ini benar-benar nyata? Secepat inikah hasil kerja Soo Hee membujuk appanya? Batinnya bertanya-tanya. Seberapa besar cinta presiden Park pada putrinya hingga segala permintaan Soo Hee dikabulkan? “Eoh, baiklah. Gamsayo. Jenderal Lim, teruslah berjaga-jaga. Segalanya mungkin saja terjadi.’
“Ye, tuan muda. Saya pamit.” Jenderal Lim pun meninggalkan ruangan Myungsoo.
Tak lama kemudian Gongju datang. Raut wajah Myungsoo yang sedikit tegang kini beralih sumringah melihat Gongju berdiri di depannya.
“Oppa, Jenderal Lim tadi, kenapa dia ada di sini? Apa terjadi sesuatu?”
“Anhi,” jawab Myungsoo yang langsung memeluk Gongju. “Yaak, betapa rindunya aku padamu Gongju-a. Kenapa kau lama sekali di.perjalanan? Apa aku perlu menjemputmu setiap pagi?” Myungsoo masih memeluk Gongju. Gongju tersenyum kecil.
“Apa kau sopirku?” tanya Gongju.
“Meskipun aku putra presiden, aku rela jadi sopirmu. Bahkan jadi pembantumu pun aku rela.” Myungsoo melepas pelukannya lau mencium kening Gongju mesra. “Aku ingin waktu berhenti sekarang juga. Agar kita tetap seperti ini. Aku ingin tahu seperti apa Gongju di masa depan?”
“Oppa, aku juga ingin tahu seperti apa Kim Myungsoo di masa depan? Apakah kau masih mencintaiku atau malah berpaling dariku?” Gongju menikmati pelukannya lagi.
“Aku tak mungkin bisa berpaling ke hati yang lain. Sekali berlabuh, hatiku hanya tertambat padamu. Jika hatiku berlabuh lagi, aku akan kembali lagi padamu. Begitu seterusnya.”
Myungsoo dan Gongju mengumbar kata-kata cinta seakan mereka telah mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan.

Braakk!!
“Tidak mungkin. Dugaan kalian pasti salah. Apa kalian ingin aku gila?” bentak Haeri di perpustakaan rumah Joo Yeon, sepupunya sekaligus anggota dewan perwakilan Korsel.
“Eonni, tenanglah. Berita itu.mungkin tidak benar.” Joo Yeon menenangkan Haeri yang emosinya sudah meluap, bahkan tak dapat lagi ditampung olehnya.
“Anhi. Bagaimana aku bisa tenang? Jung Kyung Ho jelas-jelas bersama putri yang seharusnya mati.”
“Tapi, eonni. Membunuh seorang pengawal tingkat kepresidenan akan sangat sulit apalagi pengawal presiden Korut. Kau tahu sendiri, peralatan perang, senjata dan segala teknologi mereka jauh di atas kemampuan negara ini. Kabar tentang senjata pemusnah massal yag mereka miliki mungkin benar. Kalau tidak, mana mungkin AS kebakaran jenggot.”
Haeri terdiam. Ada benarnya juga kata-kata Joo Yeon. Mereka harus berhati-hati. Kalau tidak, mereka akan binasa, benar-benar binasa. Haeri kesal, Park Jiyeon dilindungi oleh orang-orang Korea Utara.
“Kita tunggu perkembangan selanjutnya,” tambah Joo Yeon.
Rencana Haeri untuk membunuh Jiyeon akan benar-benar dijalankan. Tapi ia tidak berani gegabah. Korut bukanlah musuh yang enteng.

Myungsoo dan Gongju baru saja makan siang bersama. Myungsoo ingin memberitahu Gongju kabar tentang penahanan warga negaranya. Ia merasa harus.mengatakannya pada Gongju agar yeoja itu tahu apa saja yang ia pikirkan. Sementaa itu, Gongju juga ingin memberitahu sesuatu pada Myungsoo. Ya, tentang kepemilikan senjata yang dibawa warga Korut itu. “Oppa, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”
“Mwo? Aah, kau ini mendahuluiku. Aku juga ingin memberitahukan sesuatu padamu. Katakan.”
Gongju menarik nafas dalam. Memilih kata yang tepat untuk mengungkapkannya. “Oppa, tadi pagi Jaejoong oppa mengatakan padaku tentang warga Korut yang ditahan pihak Korsel.” Myungsoo memasang kedua telinganya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Gongju. “Senjata yang mereka bawa…” Gongju tak berani mengatakan yang sebenarnya.
“Wae? Katakan padaku apa saja yang kau tahu,” desak Myungsoo menatap Gongju lekat-lekat.
“Senjata itu milik songsaenim,” kata Gongju memberanikan diri.
“Mwo? Kyung Ho songsaenim?” Myungsoi tak percaya. Gongju hanya.mengangguk. “Bagaimana bisa?” gumam Myungsoo.
“Jaejoong oppa yang mengatakan padaku. Dia tidak pernah berbohong padaku, oppa. Dan aku selalu percaya padanya. Jika memang seperti itu, Kyung Ho saem dalam bahaya. Bagaimana jika Kyung Ho saem ditangkap oleh Korsel?”
“Tidak bisa. Kyung Ho saem adalah warga Korut. Jadi Korsel tidak bisa seenaknya menangkap Kyung Ho saem apalagi menghukumnya. Jika mereka ingin menangkap Kyung Ho saem, maka mereka harus bekerja sama dengan kita. Aku tidak mungkin membiarkan Kyung Ho saem ditangkap. Andwae!”
Kedua mata Gongju berkaca-kaca. Ia takut kehilangan Kyung Ho songsaenim yang telah dianggap seperti ayahnya sendiri.

Putri presiden Park, Soo Hee merasa di atas angin karena permintaannya pada sang appa dikabulkan. Ia merasa sangat berjasa untuk Myungsoo. Dengan begini, ia berpikir hubungannya dengan Myungsoo semakin dekat.
Saat sedang menulis wishlist-nya, tiba-tiba Soo Hee mendapat ide. Ya, ide gila yang pernah ada di otaknya. Soo Hee segera mencari baju dan celana panjang warna hitam yang dimilikinya, mencari sebuah topi, kacamata jalan dengan bingkai yang cukup besar, tas ransel yang juga berwarna hitam. Dia memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya. Ponselnya dinon-aktifkan. Itulah usaha penyamarannya. Ia akan menyamar. Kemudian ia memanggil salah satu pelayannya dan meminta kartu identitas, paspor dan segala tentang pelayannya yang penampilannya mirip dengan Soo Hee.
Soo Hee naik taksi ke wilayah perbatasan. Kemudian dia menunjukkan kartu identitas, paspor dan lainnya hingga penggeledahan tasnya. Langkahnya sedikit lagi melalui perbatasan antara utara dan selatan. Dan akhirnya, kini ia menginjakkan kakinya di tanah Korea Utara. Tidak ada yang mencurigainya karena penyamarannya yang sangat sangat mirip dengan pelayannya. Dengan penuh semangat, Soo Hee melangkahkan kaki menjauhi wilayah perbatasan agar tidak ada yang bisa mencurigainya. Siapapun tidak mengetahui aksi nekad Soo Hee. Yeoja itu memiliki segudang cara untuk menemukan kesenangannya.

“Sudah semakin gelap. Aku antar pulang ne?” tawar Myungsoo pada Gongju yang melihat artikel tentang senjata api di layar tablet milik Myungsoo.
“Sebentar lagi oppa. Oppa, apa kau bisa menembak dengan revolver atau senjata api lainnya?”
“Tentu saja bisa. Bagaimana jika tiba-tiba ada orang yang ingin membunuhku lalu aku tidak bisa menembaknya? Pasti aku yang akan tertembak.”
Gongju hanya menatap Myungsoo aneh.
“Sudahlah. Ayo kita pulang.” Myungsoo mengajak Gongju pulang karena hari semakin gelap.

Di dalam perjalanan, Gongju membahas tentang masalah gurunya. Myungsoo bilang bahwa ia akan melakukan negosiasi dengan pihak Utara untuk membahasnya. Myungsoo berjanji akan menwntukan waktu secepatnya untuk menyelesaikan masalah itu. Ia juga berjanji pada Gongju bahwa gurunya akan baik-baik saja. Gongju pun tersenyum lega. Myunngsoi dapat diandalkan.
Akhirnya mereka sampai di kediaman keluarga Gongju. Myungsoo langsung pamit karena masih banyak urusan.
Saat sedang asyik-asyiknya mengendarai mobil mewah berwarna hitam miliknya, tiba-tiba seseorang menyeberang jalan seenaknya hingga hampir tertabrak mobil Myungsoo. Myungsoo pun turun dari mobil untuk memastikan bahwa orang itu baik-baik saja. Tidak lucu kan, seorang putra presiden hampir menabrak seseorang lalu kabur begitu saja. Meski orang itu yang bersalah, Myungsoo tetap harus memastikan keadaan orang itu.
“Gwaenchanayo?” tanya Myungsoo pada seseorang yang sedang membersihkan debu di celananya.
Orang itu menunduk. Betapa terkejutnya Myungsoo ternyata orang itu adalah Soo Hee.
“Park Soo Hee?”
Soo Hee terkejut melihat Myungsoo di depannya. “Oppa… Waah, akhirnya aku bisa bertemu denganmu. Terimakasih Tuhan.” Soo Hee tersenyum senang. Berbeda dengan Myungsoo, ia merasa asing jika bertemu langsung dengan Soo Hee.
Akhirnya Myungsoo dan Soo Hee makan malam di kedai pinggir jalan karena Myungsoo takut nanti akan ada banyak orang yang melihat ia makan malam bersama putri presiden Park.
“Soo Hee-a, kenapa kau ke sini?” lirih Myungsoo agar tak dapat didengar oleh orang-orang di sana.
“Oppa, aku ingin bertemu denganmu. Aku ingin melihatmu langsung. Tidak hanya di tv atau internet. Kau seperti Kpop idol bagiku.” Soo Hee sangat terpesona melihat ketampanan Myungsoo. Tapi Myungsoo bersikap biasa saja. Melihat yeoja manja ini sebenarnya dia ingin kabur. Tapi demi kepentingannya, ia harus tahan berlama-lama dengan Soo Hee.

Myungsoo meminta Soo Hee untuk.bermalam di hotel yang sederhana untuk mengurangi kecurigaan orang-orang padanya jika ia tidak mau ditangkap oleh polisi Korut. Soo Hee pun menurut. Ia diantar oleh Myungsoo ke sebuah hotel bintang satu. Beruntung, di sana tidak ada yang mengenali mereka berdua. Soo Hee benar-benar senang bersama Myungsoo malam itu.

Tbc.

Sekian dulu ya chingu. Bagaimana reaksi kalian setelah membaca part ini? Aku tunggu komennya.
Gomawo…
Annyeong…

65 responses to “[CHAPTER – PART 4] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Jgn smpe myungsoo berpaling pada sohee drpda pnasaran mending lanjut baca chapter 5 cekidottt!! Hehe

  2. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  3. Ahh. Nasib aja Myungsoo Ingin menyelamatkan warga2 nya lalu meminta pert olongapo soo Hee. Hehe. Tap berani sungguh soo Hee dtg ke utara. Fuh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s