Crown (Still You) – Chapter 11

CHAPTER BEFORE : TEASER 1 –TEASER 2 – CHAPTER 1 – CHAPTER 2 – CHAPTER 3 – CHAPTER 4 – CHAPTER 5 – CHAPTER 6 – CHAPTER 7 – CHAPTER 8 – CHAPTER 9 – CHAPTER 10

Lintangwoon’s story :

CROWN

poster by lintangwoon

—————————————————————-

so im following my maps that leads to you.

(maroon 5 – maps)

——————————————————————————–

AUTHOR : LINTANGWOON

MAIN CAST : PARK JIYEON, KRIS WU, MYUNGSOO

ADDITIONAL CAST : YOONA, SEHUN, SUNGJONG, MINHO, CHAELIN, SANDARA, ETC.

LEGHT : CHAPTER

GENRE : ROMANCE, COMEDY AND LITTLE BIT FANTASY

RATING : NC – 17

INSPIRING BY

AN AWESOME NOVEL FROM SUJINI KOE, ‘MY BABY BRIDE’

——————-

aloha loha! lol!

*sembunyi dari readers*

ada yang kangen atau kesel karena aku nggak update2 kah?

maaf banget ya semuanya, aku jarang atau bahkan baru sempet update, soalnya. hiks

aku udah mulai kuliah dan sumpah.

rasanya tuh capek abis. jadilah aku baru bisa update sekarang.

nggak usah lama-lama deh ya!

cus aja part 11!

love u readers and sorry!

xoxo

——————————————

Jiyeon menyentuh pipinya yang terasa hangat. Kemudian, dengan cepat, ia mengeratkan pelukan-nya dipinggang Kris. Seolah-olah, pinggang itu terasa pas dengan lengan-nya yang cukup panjang. Ia tersenyum.. lagi-lagi.

‘Aku mencintaimu, Park Jiyeon.’

Kalimat itu seakan menggema kedalam hati Jiyeon yang paling dalam. Mengitari setiap jengkal hatinya dan seolah tertancap hingga ke lubuk terdalam. Jiyeon merasakan nafas hangat Kris yang menerpa rambutnya yang telah sedikit memanjang.

‘Kenapa, ia masih saja wangi? Apa semua Pangeran memang diberkahi tubuh yang wangi sepanjang saat? Tak adil!’ batin Jiyeon heran. Ia bisa mencium aroma citrus yang kuat dari tubuh Kris yang makin memeluknya dengan intens.

Jiyeon mengigit bibir bawahnya ketika merasakan pelukan Kris yang makin erat. Ia bisa merasakan dada Kris yang menyentuh tangan-nya. Setelah hal yang mereka berdua lakukan tadi malam. Entah mengapa Jiyeon merasa malu dengan dirinya sendiri…

Beberapa jam yang lalu..

Jiyeon merasakan ciuman panas Kris yang menyentuh seluru permukaan kulitnya, naik kembali ke bibir merah Gadis itu. Ia menatap Kris dengan bola matanya yang telah terbakar gairah, namun, nampak jejak-jejak kesakitan disana.

‘’Apa kau siap? Aku tak akan memaksamu..’’ ujar Kris sambil mengelus pipi Jiyeon.

Namun, Jiyeon tahu, ia akan sangat menyakiti Pria itu jika ia memilih berhenti. Dan entah mengapa ia kemudian mengangguk menyetujuinya. Kris kemudian tersenyum dan kembali mencium bibir Jiyeon. Mereka berdua kemudian tersenyum dan melanjutkan aktivitas yang sedikit tertunda. Awalnya Jiyeon begitu takut. Tetapi, apa yang dilakukan Kris benar-benar lembut dan membuatnya sama sekali tak bisa mengelak jika ia memang menginginkan Kris. Semua tentang Kris. Ia ingin menyatukan segala miliknya dengan Pria itu.

Jiyeon makin lama merasakan kupu-kupu yang berterbangan didalam perutnya. Diam-diam ia juga bertanya apa Kris juga merasakan-nya. Kemudian, ia menatap wajah Kris dan yakin jika Pria itu juga merasakan hal yang sama dengan-nya. Jiyeon mencengkeram bahu Kris yang putih seperti marmer dengan kuku-kukunya yang cukup tajam. Sebelum mereka berdua berteriak dengan sisa-sisa tenaga yang tersisa. Jiyeon yang masih terengah merasakan bibir Kris mengecup keningnya, dengan dalam.. hangat dan membuatnya begitu special.

‘’Terimakasih, Sayang..’’ ujarnya disela-sela kecupan dalamnya dikening Jiyeon.

Jiyeon kembali tersenyum malu mengingat kejadian tadi malam, ia kemudian menenggelamkan kepala-nya dibahu Kris dengan cepat.

‘’Selamat Pagi, My Lady..’’ ucap Kris dengan suara seraknya yang berbeda dari biasanya. Baru pertama kali Jiyeon mendengar suara Kris yang seperti ini. Dan.. ia rela menukar apapun untuk mendengar suara indah itu setiap pagi.

Pipi Jiyeon menghangat mendengar ucapan Kris yang membuat hatinya berdebar keras, ‘’Hmm. Pagi, My Lord.’’ jawabnya sedikit kikuk, bukan seperti dirinya yang biasa.

Kris menatap Jiyeon yang tampak menatap malu dirinya. Ia kemudian tersenyum dan menikmati pipi hangat Jiyeon yang membuat wajahnya makin menggemaskan. Dengan gerakan cepat ia mencium pipi Jiyeon.

‘’Hey, kenapa kau malu begitu? Kau mau mengulanginya lagi eh?’’ tanya Kris sambil menyunggingkan senyum jahil yang BELUM PERNAH sama sekali ditunjukan untuknya. Mendadak Jiyeon kehilangan nafas karena wajah Kris yang begitu tampan.

‘’Hajima! Jangan menggodaku!’’ teriak Jiyeon sambil menjauhkan badan Kris yang sama sekali tak bergerak karena pelukan Pria itu yang begitu erat.

Ia kemudian menyentuh rambut Kris yang berwarna ke-emasan. Menyentuhnya perlahan, dan Jiyeon mendapati jika rambut Kris benar-benar sehalus sutra. Ia tak berbohong tentang satu ini. Mata elang Kris menutup dengan perlahan, menikmati sentuhan Jiyeon yang terasa begitu menenangkan.

‘’Ceritakan tentang dirimu..’’ bisik Jiyeon tiba-tiba.

Kris perlahan membuka mata dan menatap Jiyeon, ‘’Tidak ada yang spesial. Aku hanya satu diantara sekian Pria yang jatuh cinta padamu.’’ jawab Kris yang membuat Jiyeon melambung tinggi.

Jiyeon terkekeh pelan, ‘’Bukan itu.. maksudku, tentangmu. Hal yang kau sukai. Hal yang kau benci?’’ terang Jiyeon sambil mengusapkan jarinya ke pipi Kris yang tirus dan terkesan kokoh.

‘’Yang aku sukai jelas kau. Dan yang kubenci adalah ketika kau menyukai orang lain.’’

‘’Jangan bercanda..’’ rengek Jiyeon sambil mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

Namun, Kris hanya diam dan seakan menyatakan jika ia benar-benar tak bercanda dengan jawabannya. Lagi-lagi, tatapan-nya membuat Jiyeon jengah dan ingin segera berlari mengunci pintunya.

Mendadak Kris mendekatkan wajahnya yang begitu putih dan mencium pipi Jiyeon lama, ia berbisik di telinganya. ‘’Aku akan membunuh siapapun yang mengambil milik-ku yang paling berharga. Dan sekarang. Kaulah yang paling berharga untuk-ku.’’

Kris hampir mengecup bibir Jiyeon ketika sebuah pintu terbuka begitu saja dari Kamarnya dan kemudian wajah polos Henry menyembul dibalik pintu. Membuat Jiyeon segera kalang kabut menutupi tubuhnya. Ia menatap tajam Henry. Kris sendiri tampak santai..

‘’YAA! JUGULE! KELUAR! KAU!’’ teriak Jiyeon sambil menimpuk Henry dengan bantal besar miliknya.

Namun, Pelayan kesayangan-nya itu malah menghindar dan tertawa, ‘’Mwo? Mwo! Tak kena. Tak kena!’’ teriak Henry sambil menggunakan bahasa Korea yang terdengar lucu. Memang Jiyeon dan Henry lebih terlihat seperti teman daripada Ratu dan Majikan-nya. Kris menggeleng melihat tingkah laku mereka.

Jiyeon menggigit bibir menahan marah dan kemudian  berlari menyusul Henry bersiap memberi Lelaki itu pelajaran. Meninggalkan Kris yang diam-diam melepaskan senyum bahagianya yang berusaha ia sembunyikan dari Jiyeon. Ia.. benar-benar bahagia.

***

Kebahagian Kris menular ke seluruh penjuru kantor Pagi ini. Semua orang mendapat senyuman manis Lelaki itu. Beberapa staff perempuan tampak terkejut dengan perubahan sikap Kris yang terkenal begitu dingin. Tak jarang beberapa dari mereka bertanya jika mungkin orang itu bukan Kris.

‘’Akhirnya goal juga, huh?’’ tanya Key yang telah bersandar dipintu ruangan Kris sejak tadi.

Kris memilih diam dan sesekali bersenandung sambil mengamati berkas-berkas yang buatnya lebih penting dari pada Sahabatnya yang konyol itu. Key sama sekali tak menyerah dan semakin bersemangat menggoda Kris.

‘’Istrimu? Wanita yang hebat kah? Ayolah, Man! Ceritakan padaku.’’ bisik Key jenaka. Yang hanya dibalas tatapan sinis Kris.

‘’Okay okay. Jika kau tak mau bercerita. Yang jelas, kau harus dengar sesuatu yang penting tentang Yoona.’’ ucap Key yang tiba-tiba membuat Kris menengok sejenak. Ia mengerutkan dahinya.

‘’Ada apa?’’ tanyanya. Ada nada khawatir dari sudut bibirnya.

Key menghela nafas dan kemudian duduk didepan Kris sambil mencondongkan tubuhnya dengan serius sekali. Dan.. Kris mencium gelagat tak beres dari apa yang Key tunjukan. Ia menghela nafas.

‘’Jangan bilang ia menemuimu dan memintamu untuk berbicara kepadaku. Begitu?’’ tanya Kris lagi tak sabar.

Key tak mengiyakan ataupun menampik ucapan Kris, ‘’Tidak hanya itu. Namun, ia juga mengancamku jika kau tak kembali padanya. Ia akan menyebarkan foto-foto kalian bersama. Bahkan.. foto ketika kau tertidur disampingmu.’’

Kris berusaha mengatur mimik wajahnya agar tak terlihat terkejut. Ia menghela nafas tak kentara.

‘’Aku tak peduli. Silahkan saja, jika ia mau mempermalukan dirinya sendiri.’’ jawab Kris dingin.

‘’Dan.. bagaimana dengan Jiyeon? Kau mungkin akan baik-baik saja. Tapi, tidak dengan Istrimu? Dia wanita Kris. Demi Tuhan. Melihat tingkahmu dulu. Aku yakin ia tak bisa menerimanya.’’ terang Key panjang lebar. Ia tampak sangat serius.

Mendengar ucapan Key yang sangat masuk akal. Kris mendadak terdiam. Key benar, jika Jiyeon tahu tentang hal ini. Ia bisa saja meninggalkan Kris. Dan sekarang Kris benar-benar tak bisa hidup tanpa Jiyeon disisi-nya. Senyuman Jiyeon, harum tubuhnya yang khas, tawanya yang begitu renyah. Kris tak tahu bagaimana caranya hidup tanpa semua itu. Kris benar-benar tak tahu.

‘’Kau khawatir?’’ tanya Key bisa membaca wajah gusar Sahabatnya. Ia kemudian tersenyum prihatin,

‘’Kau benar-benar mencintainya, huh?’’

***

Kakek Sunggyu menghela nafas dengan sedih, hatinya terasa begitu nyeri. Ia merindukan Cucu tersayangnya, yang begitu jauh entah dimana,

‘’Apa yang kau lakukan?’’ tanya Nenek dari luar Rumah.

Memilih diam, Kakek hanya menggeleng, ‘’Bukan apa-apa. Aku hanya merindukan Jiyeon sekali. Apa kabar Cucu kita itu ya, Nek?’’ tanya Kakek menerawang jauh.

Nenek menggeleng tak tahu dan tersenyum pahit, ‘’Aku juga tak tahu Kek, semoga saja ia dan suaminya hidup tenang. Aku harap ia malah tak kembali kemari.’’ jawab Nenek jujur.

‘’Kenapa begitu?’’ tanya Kakek bingung dengan ucapan Istrinya.

Kemudian, Nenek menghela nafas, airmata menggenangi matanya yang mulai kabur, ‘’Karena.. jika ia kembali kemari. Aku tak yakin ia mau pergi.’’ jawab Nenek sedih.

Dengan perlahan, Kakek mengalungkan tangan-nya dilengan Nenek dan meremasnya perlahan. Menguatkan-nya jika semua akan baik-baik saja.  Meski, ia tahu.. semua sulit untuk baik-baik saja.

***

Krystal mengamati raut muka Jiyeon yang begitu cerah. Jiyeon bahkan memakai warna Pink yang selama ini sangatlah ia benci. Bahkan beberapa kali ia memandang jauh dengan senyum anehnya. Ini sudah seminggu Jiyeon bertingkah seperti ini dan sangat membuatnya muak.

‘’Yaa. Neo micheosso annya? Kau ini kenapa? Senyum mu mengerikan!’’ ujar Krystal yang menghentakan Jiyeon dari lamunan-nya.

Kemudian, Jiyeon memegang pipinya dengan dramatis, ‘’Inilah cinta.. kau harus merasakan-nya, Soo jung-ah!’’ bisik Jiyeon tanpa berhenti tersenyum.

‘’Kau gila..’’ desis Krystal lagi.

Ia kemudian memilih menghabiskan makan siangnya yang belum ia sentuh sama sekali. Berbeda dengan Jiyeon yang telah habis sedari tadi. Yaa, sekarang mereka sedang beristirahat sambil menghabiskan waktu di cafe dekat Universitasnya..

Krystal tak sengaja melihat ke arah pintu masuk dan menatap seorang Wanita yang terbilang cantik dengan tubuh tinggi menjulang bak seorang model. Apalagi pakaian dan dandanan-nya terkesan begitu dewasa.

‘’Woah. Ipuda..’’ bisik Krystal tanpa sadar.

Jiyeon kemudian mengalihkan pandangan-nya kearah Wanita yang berjalan ke..

‘’Senang bertemu denganmu lagi, My Lady.’’ sapa Wanita itu dengan nada mengejek. Jiyeon bahkan bersumpah bisa melihat kilatan merendahkan di mata wanita itu.

Tak urung Jiyeon tetap memandang tajam Yoona, ‘’Tentu Yoona.’’

Yoona kemudian tersenyum dan memandang kursi diantara Ia dan Krystal. ‘’Bolehkah aku duduk disini? Ada yang ingin kutanyakan padamu. Dan ini.. sangat penting sekali.’’ ucapnya.

Jiyeon hanya mengangguk samar. Ia begitu malas menanggapi ucapan Yoona yang pasti selalu bisa merusak hari-harinya yang Indah.

‘’Apalagi? Apa aku belum cukup membuatmu malu didepan SUAMIku?’’ tanya Jiyeon dengan nada merendahkan.

Dan.. Yoona mengerling marah. Tiba-tiba, seluruh syarafnya menjadi kaku dan ia benar-benar merasa rendah.

‘’Jangan membuatku marah atau kau akan menyesal..’’ desis Yoona sambil menyerahkan sesuatu dari dalam tasnya. Ia menyeringai dan menikmati wajah bingung Jiyeon.

Tetapi, Jiyeon memilih diam tanpa mau membuka sebuah amplop besar yang ada didepan-nya. Padahal jauh didalam hatinya ia begitu penasaran. Yoona yang tahu Jiyeon pasti melakukan itu kemudian perlahan-lahan, ia membukanya dan memperlihatkan beberapa foto yang..

‘’Untuk apa kau memberikan gambar-gambar ini untuk ku?’’ tanya Jiyeon memasang wajah bingung yang ia buat-buat.

Namun, Yoona hanya tersenyum dan mendekatkan setiap gambar itu pada Jiyeon, memperjelas gambar-gambar itu. Bahkan Krystal meremas tangan Jiyeon, menguatkan sahabatnya itu agar tak menangis.

‘’Ini.. ketika kami berlibur ke Venezuella taun lalu. Kau tahu.. ia pencium yang hebat.’’ bisik Yoona disebuah foto ketika didalamnya ia dan Kris berciuman didepan sebuah kastil.

Jiyeon memandang foto itu tanpa ekspresi. Dan Yoona, kembali melanjutkan balas dendamnya.

‘’Ah, ini. Ketika ia menginap dirumahku. Wajahnya yang baru saja bangun memang yang paling tampan. Bukan begitu?’’ senyuman Yoona makin melebar.

Ketika ia akan menjelaskan foto yang lain, Jiyeon mencekal tangan-nya dengan kencang. Membuatnya meringis kesakitan.

‘’Murahan..’’ bisik Jiyeon tepat dimata Yoona.

Yoona menatap Jiyeon tak percaya, ‘’Ulangi? Apa katamu?’’

‘’Murahan.. kau. Sungguh, apa kau tak pernah menonton Drama atau apapun untuk membalaskan dendam-mu padaku? Ini benar-benar memalukan. Hahaha.’’ tawa Renyah Jiyeon terdengar menakutkan sekaligus menyakitkan.

Krystal yang sadar akan raut wajah Yoona yang bisa menampar Jiyeon secepatnya kemudian berdiri dengan cepat, menarik lengan Jiyeon meninggalkan Yoona yang menitikan airmata. Kali ini, buka airmata sedih yang ia rasakan. Ini murni airmata marah dan terhina. Ia meremas foto-foto itu.. da bersumpah akan membuat Jiyeon merasakan apa yang ia rasakan.

***

Kris melihat Jiyeon yang terduduk di depan televisi dengan melipat kedua tangannya dengan santai. Perlahan, Kris melingkarkan tangan-nya ke pinggang Jiyeon yang ramping. Menenggelamkan wajahnya ke bahu Jiyeon yang penuh dengan aroma-nya.

‘’Aku merindukanmu..’’ bisik Kris menggelitik leher Jiyeon.

Namun, Jiyeon tetap diam tanpa mengatakan apapun. Ia menutup matanya dan menikmati setiap getaran yang diberikan Kris pada-nya.

‘’3 hari terasa begitu lama, akhirnya aku bisa kembali dan menikmati aroma-mu lagi.’’

Tiba-tiba, Jiyeon memutar tubuhnya dan menatap Kris dengan mata-nya yang basah. Ia menatap Kris dengan pandangan terluka. Ia tak bisa menyimpan dan memendam kesedihan yang telah ditorehkan oleh Yoona siang tadi. Mendadak aroma Kris terasa seperti aroma mawar Yoona yang kental.

‘’Sayang, ada apa?’’ tanya Kris bingung, ia hendak menyentuh Jiyeon ketika Jiyeon kemudian menyuruhnya untuk tetap diam.

Jiyeon kembali mengamati setiap jengkal tubuh Kris, ia menghela nafas, ‘’Sejauh mana ia menyentuhmu?’’ bisik Jiyeon yang lebih terdengar seperti gumaman.

Kris menghela nafas. Jiyeon telah tahu.. apa yang dulu ia lakukan/

‘’Jiyeon..’’

Tanpa banyak kata, Jiyeon menarik Kris kedalam Kamar mereka. Ia kemudian menarik Kris ke kamar mandi dan mendudukannya di sudut. Kemudian, ia menghidupkan shower yang dengan cepat menyirami tubuh Kris yang kekar. Membuatnya basah secara perlahan.

‘’Lepaskan kemejamu..’’ ucap Jiyeon dengan suara bergetar. Airmata telah bercampur dengan air yang mengalir dari atas tubuhnya dan Kris..

Kris hanya diam dan melakukan perintah Jiyeon. Ia rela melakukan apapun agar Istrinya itu puas dan berhenti bersedih. Namun kemudian, Jiyeon menarik tangan Kris dengan kasar dan membuka kemeja Kris dengan cepat. Kris bahkan merasakan tangan Jiyeon yang bergetar hebat.

Setelah Jiyeon berhasil melepas kemeja Kris. Ia mengambil sabun dan menyabuni seluruh bagian Kris dengan kasar, aroma Citrus menguar dengan cepat. Jiyeon masih menangis dengan sesekali memukul dada Kris. Bahkan ia mengeluarkan suara kedinginan beberapa kali. Kris mengenggam tangan Jiyeon cepat. Membuat Jiyeon menatap mata elang Kris yang mengamatinya dengan sedih.

‘’Aroma Wanita itu masih ada…’’ bisik Jiyeon sambil kembali membersihkan tubuh Kris dengan tangan-nya yang dingin.

Ia kemudian mengambil handuk dan menatap bibir Kris. Ia menggosokan handuk yang kasar itu berulang kali dibibir Kris yang makin memerah karena apa yang ia lakukan. Kris bahkan merasakan perih setiap kali Jiyeon makin menggosokan bibirnya dengan handuk itu. Namun, sekali lagi. Ia hanya bisa diam.

‘’Maafkan aku.. aku bersalah.’’ ucap Kris akhirnya.

Jiyeon menatap Kris dan menyentuh wajahnya dengan sedih. ‘’Aku bisa apa? Setiap melihatmu, aku seperti melihat wanita itu juga..’’

Kris yang tak tahan segera bangkit dan meraih wajah Jiyeon dengan kedua tangan-nya yang besar, menelungkupkannya dan dengan gerakan cepat. Mencium bibir Jiyeon dengan lembut. Namun, Jiyeon justru membalasnya dengan kasar. Bahkan Jiyeon menciumi seluruh wajah Kris dengan cepat. Seolah tak akan ada hari esok untuk mereka berdua.

Tanpa mereka sadari. Keduanya sama-sama telah melepaskan baju masing-masing dan yang mereka berdua mau hanya membuat aroma keduanya bercampur menjadi satu tanpa menyisakan aroma lain yang menganggu mereka. Dibawah guyuran air.. mereka menyatu dengan sempurna.

***

‘’Pagi..’’ bisik Kris tepat ditelinga Jiyeon. Membuat Jiyeon sedikit bergerak, namun, masih tetap menutup matanya.

Kris kemudian tersenyum dan mencium kening Jiyeon, ia kemudian mengusap-usap rambut Jiyeon dengan sayang. Perlahan, ia bangkit dan membenarkan selimut yang menutup tubuh Jiyeon yang tampak kedinginan.

Dengan langkah panjang Kris memakai bajunya dan ia bersumpah. Akan membalas segala airmata yang telah Jiyeon rasakan karena Wanita itu. Kris tak main-main, ia akan mengenyahkan Wanita itu. dengan cara apapun.

***

Myungsoo menatap ke jendela yang mengarah langsung ke langit yang hari itu tampak gelap tanpa ada satupun bintang yang biasanya memperhiasnya. Perlahan, kekosongan kembali menyusup kedalam benaknya. Kekosongan yang hanya bisa diisi dengan satu nama. Nama yang bahkan ia coba untuk lupakan.

‘’Hyung..’’

Sungjong menghampiri Myungsoo yang tampak tak mau mendengarkan bahkan sekedar menoleh padanya. Setiap kali melihat Myungsoo, rasa sedih mendera hatinya.

‘’Hyung.. lupakan Jiyeon hyung.’’

Mendengar nama itu, Myungsoo sedikit terenyak. Kemudian, ia tertawa hambar.

‘Bahkan dengan hanya mendengar namanya saja. Hatiku terasa begitu pedih.’ batin Myungsoo.

‘’Kumohon Hyung, bangkitlah. Lawan penyakitmu seperti ketika kau melawan penyakitmu dulu. Jangan biarkan kanker ini kembali datang Hyung. Jebal. Aku mohon padamu..’’ bisik Sungjong yang sudah berkaca-kaca.

Myungsoo menepuk pundak Sungjong dengan lemah. Ia lelah..

‘Dulu, aku bisa berjuang karena aku berusaha hidup demi Jiyeon. Sekarang? Untuk apa aku berjuang melawan sakit ini?’

‘’Demi Aku, Hyung. Demi orangtuamu. Demi semuanya..’’ ujar Sungjong seakan bisa membaca jalan pikiran Myungsoo yang tampak begitu tumpul.

Sungjong berniat melakukan sesuatu, sesuatu yang harusnya ia lakukan sejak dulu.

***

Henry menatap Rain, pengacara khusus Kris dengan pandangan heran. Karena biasanya, jika pengacara itu datang. Kris pasti akan memberitahunya lebih awal. Namun, ia terkejut dengan kedatangan-nya yang tiba-tiba.

‘’Selamat siang, Henry, lama tak berjumpa.’’ sapa Rain sambil tersenyum ramah.

Dengan sopan Henry mengangguk dan menyuruhnya duduk dan menjamu Rain dengan ramah meski banyak pikiran masuk ke dalam otaknya.

‘’Kalau saya boleh tahu, apa keperluan Tuan datang kemari?’’ tanya Henry sambil memasang senyum sopan.

Rain mengangguk dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya, ‘’Aku ada urusan dengan My Lady. Kebetulan, hari ini, tepat 1 tahun My Lady datang ke Kanada. Dan.. ada sedikit keperluan yang harus ku urus dengan-nya.’’ terang Rain.

Henry mengangguk dan segera permisi. Entah kenapa, langkahnya terasa berat sekali. Ia kemudian naik ke Kamar Jiyeon, dan menemukan Wanita itu yang sibuk dengan handphone dan bergaya lucu.

‘Aish! Tuan Putri ini, dimanapun pasti berselca. Ya tuhan..’ batin Henry gemas.

Ia masih ingat betul. Hampir setiap hari, Jiyeon pasti mengupdate fotonya yang berdua dengan Kris. Ketika mereka makan malam bersama, ketika Kris dan Jiyeon menonton film yang pertama kali di Bioskop, saat Jiyeon membuatkan makan malam aneh untuk Kris. Belum lagi, ketika jamuan makan malam, ia mengajak Highnest Chaelin untuk berselcaria. Saat itu, Henry dan Nana hanya bisa melongo heran. Jiyeon? Sibuk berfoto dengan enak tanpa memandang wajah malu dan pandangan tajam Chaelin.

‘’Apa kau! Menguntit eoh!’’ bentak Jiyeon yang sadar dengan pandangan melongo Henry.

Henry mendegus sebal, ‘’Astaga, My Lady. Siapa juga yang mau melihat anda dengan bibir monyong seperti itu. Saya hanya mengabarkan jika..’’

‘’Jika Kris pulang dari kunjungannya ke Brazil?’’ tanya Jiyeon cepat.

Henry menggerak-gerakkan jari tangan-nya dengan dramatis. Senyum iseng tercetak dibibirnya, ‘’Tunggu dulu. Bukan itu..’’

Jiyeon seketika lemas mendengar jawaban Henry. Padahal, ia sangat amat ingin bertemu dengan Kris. Sejak kejadian, yang.. membuat Jiyeon malu sendiri karena bertingkah dramatis minggu lalu. Kemarin, Kris pergi Brazil. Henry bahkan sampai kewalahan menyeret Jiyeon dari pintu Bandara.

‘’Lalu apa?’’ tanya Jiyeon sama sekali tak semangat.

‘’Ada tamu yang mencari anda My Lady. Dia adalah seorang pengacara My Lord, Rain Bi. Ia dibawah sedang menunggu Anda..’’

Tanpa semangat, Jiyeon mengangguk dan turun dari tempat tidurnya. Perlahan, ia turun dan bertemu dengan orang yang Henry sebutkan.

‘’Ah, My Lady. Apa kabar..’’ ucap Rain yang hampir mencium tangan Jiyeon sebelum Wanita itu menariknya dengan cepat.

Ia tersenyum kikuk, ‘’Maaf, tapi, Suamiku menyuruhku untuk.. kau tahulah.’’ ujar Jiyeon sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

Rain memaklumi dan tersenyum hangat, ‘’Saya senang sekali. Anda dan My Lord bisa saling menyayangi dan mencintai seperti ini. Ah, seharusnya saya tak kemari..’’ ujar Rain masih dengan senyum yang sama.

‘’Maksud Anda?’’ tanya Jiyeon bingung.

‘’Ah.. langsung saja kalau begitu..’’ Rain menyerahkan sebuah kertas dengan tulisan yang begitu jelas disana.

‘’Surat Kontrak Pernikahan?’’ bisik Jiyeon tak percaya.

Apalagi ketika ia melihat tanda tangan Kris dan.. Ibunya diatasnya. Nafasnya seakan tercekat. Disurat itu dituliskan jika masa pernikahan mereka ialah 1 tahun/jika Pure Crystal telah ditemukan. Mendadak, airmata Jiyeon menggenang.

‘’My Lady.. saya harap, anda jangan menyimpulkan-nya dengan mudah.’’ ujar Rain sedikit panik. Ia kemudian melanjutkan, ‘’Tahun lalu, Ibu anda meminta jika pernikahan percobaan kalian dijalankan selama 1 tahun terlebih dulu atau sampai Pure Crystal ditemukan. Setelah itu, kalian akan bercerai.’’

Lagi-lagi, detak jantung Jiyeon berpacu dengan sangat cepat.

‘’Namun, diam-diam, My Lord datang dan meminta saya untuk membenahi kontrak tanpa se-pengetahuan Ibu anda. Iya meminta, jika surat perceraian akan dibuat, maka Anda harus tahu tentang kontrak ini. Dan hanya Anda yang bisa memutuskan apa mau atau tidak, pernikahan ini berlanjut. Sepertinya, My Lord lupa jika ini adalah 1 tahun pernikahan kalian kembali.’’

Detak jantung Jiyeon yang sempat berdetak kencang. Perlahan, detak jantungnya berubah menjadi sedikit perlahan dan ringan.

‘’Lalu? Apa Anda.. ingin melanjutkan-nya?’’ tanya Rain dengan seksama.

Saat itu. Jantung Jiyeon seakan berhenti berdetak.

***

Dan.. seakan kejutan siang tadi  belum cukup, Jiyeon menatap pesan yang Sungjong baru saja kirimkan melalui SNS-nya, tempat dimana ia mengupload foto-fotonya bersama Kris belum lama ini..

Jiyeon-ah! Kau memang jahat sekali! Jahat! Bagaimana kau bisa membuat kami cemburu dengan mengirimkan foto-fotomu dengan Ahjusshi seksi mu itu! OMG! Dia tampan sekali. Sungguh! Aku iri padamu, Chingu-ah..’

Senyum Jiyeon melebar melihat ucapan Sungjong..

Kami merindukanmu.. sungguh. Ah, Jiyeon-ah.. sebenarnya, aku.. aku tak tahu harus mengucapkan nya dari mana. Jiyeon-ah, apa kau masih ingat? 3 tahun lalu. Mengapa Myungsoo Hyung meninggalkanmu. Ia terkena kanker, Jiyeon-ah. Ia pergi ke Inggris untuk berobat. Bukan untuk belajar seperti pamitnya pada kita semua. Maafkan aku harus mengatakan ini padamu..’

Tanpa sadar, gejolak dihati Jiyeon kembali datang. Ia mengingat kenangan-nya dengan Myungsoo dulu. Senyumnya, tatapan hangatnya ketika berpamitan dengan-nya, caranya meyakinkan Jiyeon bahwa semua baik-baik saja.

‘’Babo Kim Myungsoo..’’ gumam Jiyeon.

‘Dan.. penyakit itu datang lagi. Sejak ia masuk ke rumah sakit, Dokter yang mengeceknya berkata jika Kankernya mulai hidup lagi ditempat yang berbeda. Ia terpuruk Jiyeon-ah. Ia tak mau makan, meminum obatnya, ia hanya memandang langit biru setiap harinya.. Bahkan, dalam tidurnya, ia menahan sakit dengan mengucapkan namamu tanpa sadar. Beberapa kali, ia mencoba melukai tangan dan kakinya dengan cutter, karena ia merasakan sakit yang luar biasa.’

Tanpa bisa ditahan lagi. Airmata telah memenuhi wajah Jiyeon. Membayangkan wajah Myungsoo yang kesakitan begitu menyiksa batin Jiyeon.

‘Kembalilah Jiyeon-ah. Jangan bawa jiwa Myungsoo bersamamu. Jangan buat Myungsoo yang bersemangat menghilang sepertimu. Kumohon.. kembalilah. Aku akan melakukan apapun, kembalilah. Aku tahu, ini sulit.. tapi, kembalilah.. kumohon.’

***

Kris berlari dengan cepat, peluh yang menempel di dahinya tak menghalangi niatnya mencari Jiyeon yang memutuskan meninggalkan-nya. Dan lebih parahnya, menceraikan-nya tanpa berkata apapun. Yang ia temukan dirumah, hanya Henry dengan wajah sedihnya dan Nana yang berlinang airmata.

Dan.. Henry bercerita jika siang kemarin Rain datang dan membuat Jiyeon memutuskan untuk pergi pagi ini. Dan.. disinilah Kris sekarang, setiap mata mengikuti arah Kris. Bagaimana tidak. Seorang Pangeran berlari ditengah hiruk pikuk Bandara.

‘’Kau tak bisa pergi begitu saja!’’ teriak Kris yang melihat Jiyeon memunggunginya.

Jiyeon yang tampak kaget dengan kehadiran Kris kemudian berbalik cepat, Kris berdiri didepan-nya. Dan itu bukan mimpi. Ini sebuah kenyataan.

‘’Kau telah kembali?’’ tanya Jiyeon sambil tersenyum pahit.

Namun, Kris hanya diam dan menatap Jiyeon marah. Ia bahkan tak sadar jika kedua kakinya terluka karena sempat jatuh ketika mengejar Jiyeon. Jiyeon yang sadar dengan luka di kaki Kris hendak menyentuhnya namun ditampik oleh Kris.

Kris bergeming dan membuka telapak tangan-nya, memperlihatkan dua cincin yang begitu Indah dan bersinar terang. Jiyeon menutup bibirnya yang bergetar,

‘’Jangan begini.. kumohon..’’ bisik Jiyeon sedih.

Airmatanya sama sekali tak terbendung. Ia terpaksa meninggalkan Kris. Terpaksa meninggalkan orang yang sangat ia cintai dihidupnya selama ini. Ia sedih, terluka..

‘’Kau mempermainkanku?’’ tanya Kris dengan nada tercekat.

Jiyeon menggeleng cepat. ‘’Aku..’’

‘’Kau membodohiku.’’ tegas Kris.

Ia menangis. Kris, seorang yang tegas dan berhati dingin menangisinya. Jiyeon bersumpah akan menukarkan apapun agar tak melihat airmata Kris.

‘’Aku memang terlalu mudah untuk kau bodohi..’’ tangis Kris pecah dan ia berusaha menutup matanya yang terasa pedih. Hatinya begitu sakit dan terluka.

Jiyeon berusaha menyentuh pundak Kris, namun sia-sia.

‘’Jangan muncul didepanku lagi..’’ bisik Kris sambil memijit pelipisnya. ‘’Kita berakhir.’’

Ucapan Kris benar-benar mengoyakan hati Jiyeon. Menyeretnya begitu jauh dan memecahkan-nya menjadi kepingan yang tak bisa dikenali. Entah berapa banyak airmata yang turun setelah ucapan Kris menggema ditelinga Jiyeon.

‘’Aku mencintaimu…’’ bisik Jiyeon yang cukup terdengar ditelinga Kris.

Kris tersenyum perih, ‘’Kau mencintaiku? Tapi, dimana kau berada ketika aku jatuh tak berdaya seperti ini? Kau memilih pergi meninggalkanku. Aku berada disampingmu ketika saat terburukmu. Tapi dimana kau? Dimana?’’ tanya Kris yang makin melukai Jiyeon.

‘’Kris…’’

‘’JANGAN MEMANGGIL NAMAKU! KAU TAK PANTAS!’’ teriak Kris frustasi.

Ia tak tahan melihat wajah Jiyeon yang ia anggap begitu busuk dan begitu menyakitkan baginya. Ia ingin mengenyahkan pandangan-nya saat itu juga.

‘’Maafkan aku..’’

Tapi, tak ada lagi Kris yang lembut. Tak ada lagi Kris yang begitu menatapnya dengan penuh cinta. Kris yang sekarang adalah Kris yang ia temui pertama kalinya. Seorang yang egois dan berhati dingin, seseorang yang memandang rendah arti sebuah ‘cinta’ .

‘’Semoga kau bahagia.’’

Dengan langkah cepat. Kris meninggalkan Jiyeon yang memanggil namanya berkali-kali dengan teriakan yang memekikan telinga siapapun yang mendengarnya. Kris memilih bangkit tanpa mau memandang Jiyeon. Ia tak sudi.

‘’Kumohon, dengarkan aku.. kumohon kembalilah.. kumohon, jangan meninggalkanku.’’ ucap Jiyeon berkali-kali.

Namun, terlambat, punggung Kris telah menghilang. Krystal yang menemani Jiyeon untuk kembali ke Korea membantu Jiyeon untuk berdiri. Tetapi, Jiyeon memilih diam dan meraung-raung memanggil nama Kris. Ia begitu menyesal. Menukar seseorang yang begitu sempurna untuk sebuah masa lalu yang tak ada artinya. Dan semua.. terlambat sudah.

-to be continued-

ps : kalau comment touch sampai 100. aku bakal langsung update loh :3

 

 

 

131 responses to “Crown (Still You) – Chapter 11

  1. mereka pisah ?? No… Tapi memang berat sih Jiyeon dia harus milih siapa antara myung yg sedang sakit atau suami yg dicintainya, tapi huwaaa.. kenapa mereka harus pisah😥😥

  2. Kapan dirimu update Ini ff Thor plak jujur aku gak tau hihi aduh Ini kris salah Pham ya….. Lgian Knpa jiyi gak bling sih Alaskan dy kmbli masak bgni akhirnya hiks hiks

  3. yahh aku telat baca , jiyeon knapa ninggalin kris . dan kris knaappa gk denger pnjelasaan jiyeon dlu huh
    aku next yaa keren thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s