[CHAPTER – PART 3] LOVE IS NOT A CRIME

 LOVE IS NOT A CRIMEpart sebelumnya:

prolog [1] [2]

 Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Annyeong… Aku datang bawain sesuatu nih. Part 3 dari FF chapter ku yg kedua “Love Is Not A Crime”. Gomawoyo untuk yang sudah read FF ku. Aku kasih satu jempol deh. Untuk yang udh RCL nomu nomu nomu gomawoyo. Aku kasih dua jempol untuk kalian. Buat all of readers, aku semakin semangat bikin FF jika kalian meninggalkan jejak komentar.
Ya udah simak yuk part 3 nya…

“Aku akan menceritakannya padamu sebelum terlambat. Semoga Tuhan memberkatimu, Gongju…” Ahjumma itu pun menceritakan rahasia tentang Gongju. Gongju tercengang mendengar pengakuan ahjumma itu.
Airmatanya meleleh. Kenapa tidak ada satupun yang mengatakan hal itu padanya. Apa tidak ada yang tahu tentang hal itu.
Gongju berjalan keluar rumah. Menyusuri jalanan yang sepi. Pukul 10 malam bukan waktunya jalan-jalan apalagi seorang yeoja berjalan sendirian. Pikirannya penat. Entah apa yang harus ia lakukan setelah mengetahui yang sebenarnya. Gongju tak sadar langkahnya sampai di depan rumah Myungsoo. Ditatapnya rumah mewah itu. Airmatanya semakin deras. “Oppa…” Gongju memejamkan mata, memanggil Myungsoo dengan suara hatinya, berharap namjanya mendengar suara hatinya. Airmata meleleh membasahi pipi mulusnya.
Benar saja, tak lama kemudian Myungsoo keluar dari rumahnya. Myungsoo yang saat itu juga sedang memikirkan Gongju tiba-tiba langkahnya terayun begitu saja tanpa ia sadari. Ia melihat Gongju berdiri di depan rumah mewahnya. Awalnya Myungsoo tak percaya karena sebelumnya ia memikirkan yeoja itu, ia mengira Gongju yang berdiri di depan rumahnya hanya bayangan semu. Tapi ternyata Gongju nyata ada di depannya. Gongju berlari, berhambur memeluk Myungsoo. Tangisnya pecah di dalam pelukan Myungsoo. Myungsoo membelai lembut rambut yeojanya.
Myungsoo berusaha menenangkan Gongju. Ia menghapus airmata yang tumpah dari mata indah kekasihnya itu. Gongju mengatur nafasnya.
“Gongju-a, kau tahu kenapa seseorang menangis?” tanya Myungsoo memecah keheningan malam itu. Mereka berada di empat latihan. Meski gelap dengan sedikit sekali penerangan, tempat itu tetap menjadi tempat favorit mereka. Suasana yang hening dapat menenangkan pikiran.
Myungsoo sengaja tidak menanyakan alasan Gongju menangis, ia tidak ingin ikut campur dalam masalah yeojanya. Ia hanya ingin menjadi tempat berlindung bagi Gongju. Dipeluknya tubuh Gongju seakan. Kedua matanya tertutup. Merasakan hangatnya kebersaman mereka. “Ternyata pendekar juga bisa menangis. Bukankah songsaenim pernah mengatakan pada kita bahwa pendekar itu harus kuat segalanya. Jika kau menangis di depan musuh, kau pasti sudah dibunuh oleh musuhmu. Bayangkan jika.aku adalah musuhmu, aku pasti sudah menikammu. Uljima… Apapun masalahmu, aku yakin itu bisa membuatmu semakin kuat dan tegar. Gongju-a, hatiku sangat perih melihatmu menangis. Apa kau juga ingin melihat airmataku menetes?”
Gongju mendongak, menatap Myungsoo yang balik menatapnya. “Jika kau ingin marah, marahlah padaku. Jika kau ingin menangis, menangislah di pelukanku, jika kau ingin tersenyum, tersenyumlah di depanku. Bagaimanapun keadaanmu, aku akan selalu ada untukmu.” Myungsoo menangkup wajah sembab Gongju dengan kedua tangannya kemudian ia mencium kening Gongju, turun ke kedua mata, hidung dan terakhir mencium bibir Gongju yang basah terkena airmata.

Jaejoong duduk termenung di halaman tempatnya latihan pedang. Tiba-tiba ahjumma yang dibawa oleh Gongju kemarin datang menghampirinya.
“Ahjumma, kau juga sudah bangun?” tanya Jaejoong sopan. Naja itu selalu bersikap sopan pada siapapun.
Ahjumma itu malah menangis setelah menatap Jaejoong. Jaejoong bingung. Apakah kata-katanya telah menyakiti ahjumma ini? Tapi kata-kata yang mana? “Ahjumma, waegurae?”
Ahjumma itu hanya menangis. “Jaejoong-a…”
Deg!
Darimana ahjumma itu tahu namanya? Tanya Jaejoong dalam hati. Jaejoong diam.
“Jaejoong-a, kau Jaejoong kan?” Jaejoong pun mengangguk dengan ragu. Ahjumma itu malah semakin menangis. Hal itu membuat Jaejoong tambah bingung. Apa yang salag dengan namanya? Tanyanya lagi dalam hati. “Ahjumma…”
“Akhirnya aku bertemu dengan kalian. Mianhae. Mianhae….” Ahjumma menangis lagi. “Akulah yang membuang kalian berdua.”
Deg!
Lagi-lagi Jaejoong terkejut mendengar pengakuan ahjumma itu.
“Aku Kim Taeyeon, mantan pelayan Ny. Park. Ibumu, Kim Taehee adalah kakakku. Dia yang menyaksikan langsung Ny. Haeri membunuh bayi Ny. Park So Jin dengan menusukkan tusuk konde ke dada sebelah kiri bayi itu. Bayi itu, putri Ny. Park berhenti menangis. Ny. Park tidak ingin jenazah putrinya disemayamkan. Ny Park mengambil bayinya. Akhirnya dia memintaku untuk membantunya membuang bayi itu dan kau, Jaejoong. Ibumu meminta kau diikutsertakan dengan bayi itu agar ada yang mau merawat kalian.” Taeyeon ahjumma masih menangis. “Sesaat sebelum membuang jenazah bayinya, Ny. Park memberikan nama untuk putrinya, Park Jiyeon. Nama asli Gongju adalah Park Jiyeon.”
Jaejoong meneteskan airmatanya. “Keurom, dimana eommaku?”
“Setelah kejadian itu aku tak melihatnya lagi sampai sekarang. Maka dari itu aku mencari kalian berdua selama hampir 20 tahun. Akhirnya aku dapat menemukan kalian berdua.”
Jaejoong tak menyangka, ternyata selama ini yeoja yang diingatnya saat ia dibuang bukanlah eommanya, namun bibi kandungnya. Eommanya menghilang setelah kejadian itu. Hati Jaejoong teramat sedih. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan eommanya. Ternyata eommanya berada entah di mana. Jaejoong dan ahjummanya menangis. Baru kali ini Jaejoong menangis sedalam itu. Namja yang hangat dan baik itu ternyata mengalami sesuatu yang menyakitkan hati.

Jung Kyung Ho datang membawa sebuah surat kabar. Dari raut wajahnya ia terlihat sangat cemas. Tak lama kemudian Shindong dan Jung So Min keluar menyambut kedatangan Kyung Ho. Mereka masuk ke dalam ruang tamu dan duduk mengelilingi meja. Kyung Ho melempar surat kabar itu ke atas meja yang sontak membuat Shindong dan So Min kaget.
“Ige mwoya?” tanya Shindong dengan sedikit takut.
Kyung Ho menghela nafas berat kemudian ia menatap Shindong dan So Min bergantian.
“Lihatlah. Wajah Gongju terpampang jelas di dalam surat kkabar itu. Berbagai media memberitakannya, menjadikan halaman utama.” Kyung Ho menunjuk ke arah surat kabar di atas meja.
Shindong membuka mulutnya, kaget. So Min malah menutup matanya tak percaya. “Bagaimana bisa?”
“Bacalah sendiri. Aku takut hal ini diketahui oleh orang-orang Haeri yang akan membunuh Gongju.”Kyung Ho tampak sangat cemas. “Gongju bisa menjadi incaran mereka jika mereka mendapat sedikit petunjuk tentangnya.”
“Aigoo…” lirih Shindong yang masih menatap surat kabar itu.
“Keurom, eotteohkeyo?” tanya So Min yang juga ikut cemas.
“Kita tunggu apa yang akan terjadi. Jika sesuatu yang buruk akan menimpa kita, Gongju harus disembunyikan. Belum waktunya Gongju menginjakkan kaki di Selatan,” jelas Kyung Ho.

Shindong dan So Min saling pandang. “Jika ini berbahaya untuk Gongju, itu artinya kita harus benar-benar waspada terhadap segala kemungkinan yang terjadi.

“Haeri tidak bisa dianggap remeh. Meski dia bukan isteri resmi presiden Park, rasa haus kekuasaannya tak pernah pudar. Jika Park Soo Hee yang berkuasa di Korea Selatan, segalanya akan dikendalikan oleh Haeri. Aku takut Gongju akan sangat syok ketika ia kembali ke sana. Fakta bahwa ia dibuang saja akan sangat menyakiti hatinya apalagi jika Haeri dan Soo Hee berkuasa di sana. Dapat dipastikan Gongju tidak akan aman, bahkan untuk hidup saja mungkin sulit.” Kyung Ho menghela nafas panjang, matanya menerawang menatap pintu tertutup yang tepat di hadapannya.

Senja telah tiba, disambut gelapnya hari karena sebentar lagi matahari akan benar-benar terbenam. Di kediaman presiden Korsel terdengar suara yeoja memanggil eommanya.
“Eomma! Haeri eomma!” seru Soo Hee memanggil eommanya di kamar yang berukuran besar. Soo Hee tidak menemukan eommanya. “Dimana eomma?” gumamnya. Ia berlari ke lantai dasar, masih mencari eommanya. Ternyata eomma nya berada di dapur, minum bir sesuka hatinya.
“Eomma, kenapa kau seperti ini? Mana pantas isteri presiden minum-minum bir di rumahnya?” Soo Hee mengkhawatirka keadaan eommanya yang sudah mabuk berat.
“Soo Hee-a, kenapa kau memanggilku eomma? Bukankah kau sudah punya 1 eomma dan melupakanku.” Haeri melanjutkan minumnya. “Appamu lebih memilih So Jin sebagai isteri sahnya. Dan mengakuimu sebagai putrinya. Lalu apa artinya aku di sini?” Haeri terus meracau.
“Eomma, kau tetap eommaku. Kau yang melahirkanku. Eomma So Jin juga eommaku. Hanya saja hanya untuk kepentingan politik, aku berstatus sebagai anak eomma So Jin. Eomma, keumanhe…” Soo Hee membujuk eommanya untuk berhenti minum. Ia tak tega melihat eommanya seperti itu.
Sebagai kepala negara, Presiden Park Jungsu hanya boleh memiliki satu orang istri. Park So Jin lah yang diakui sebagai isteri resmi presiden Park. Sedangkan publik tidak begitu tahu tentang sosok Haeri.

Di lain tempat, presiden Park selesai melihat hasil laporan beberapa menteri. Ia membaca semua laporan kenegaraan bersama perdana menteri yang masih begitu muda, Changmin. Ia dan Changmin sangat akrab. Setelah memangku jabatannya sebagai perdana menteri, kehidupannya berubah drastis. Karena kedekatannya dengan presiden Park, Changmin ditunjuk sebagai kandidat calon perdana menteri pada waktu itu. Kemudian karena kecakapannya, dewan perwakilan Korsel menyetujui pengangkatan Changmin sebagai perdana menteri. Haeri tidak begitu suka pada Changmin. Kedekatan Changmin dan Presiden Park juga dengan Park So Jin membuatnya semakin membenci namja perdana menteri itu. Bagi Haeri, Changmin merupakan ancaman terbesar setelah putri Park So Jin yang dikabarkan masih hidup, Park Jiyeon.
Presiden Park terlihat sangat lelah. Saat memasuki ruang keluarga, ia melihat So Jin yang sedang duduk termenung. TV dibiarkan menyala. Tatapan mata So Jin ksong.
“Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya presiden Park yang telah membuyarkan lamunan isterinya. Ia duduk di samping istrinya dan melihat tayangan berita hari itu. “Hmm… Putra Presiden Kim tumbuh menjadi namja yang tampan,” gumam presiden Park.
Isterinya, Park So Jin spontan mengalihkan pandangannya pada tayangan berita tentang seorang pengawal putra presiden Kim Young Woon yang berhasil menangkap pencuri saat ada kunjungan putra presiden dan menteri ke salah satu pasar tradisional di kota Pyongyang.
“Kenapa dia merekrut pengawal wanita untuk puteranya? Keunde, pengawal itu terlihat mahir dalam ilmu bela diri. Dari ekspresi wajahnya sangat kelihatan kalau dia yeoja yang mandiri.” Presiden Park memuji pengawal putra presiden Kim yang tidak lain adalah Gongju. Ia terpesona melihat aksi bela diri Gongju dan kecantikan yeoja itu.
Di sisi lain, Haeri telah mengetahui berita itu. Ia bahkan sudah mengirimkan mata-mata untuk mengawasi Gongju karena kecurigaannya yang kemarin, Gongju adalah Park Jiyeon. Keberadaan Gongju yang lebih sering di kalangan pejabat negara Korsel dengan penjagaan ketat, memaksa mata-mata Haeri untuk bekerja lebih keras karena tidak mudah mengintai kediaman dan istana kepresidenan Korea Utara.
Bagaimanapun caranya, putri dari Park So Jin tidak boleh kembali ke Korea Selatan karena tidak lama lagi presiden Park akan lengser. Calon presiden berikutnya adalah Park Soo Hee, yang telah diketahui adalah putri presiden Park satu-satunya. Awalnya Haeri mengincar jabatan perdana menteri untuk putri kesayangannya, Soo Hee. Namun keinginannya itu kandas karena Presiden Park memilih Changmin sebagai perdana menteri. Kini ia mengincar posisi presiden untuk putrinya. Soo Hee selalu ia minta mengikuti segala acara presiden dan ibu negara untuk meraih hati rakyat agar pada pemilu nanti, mereka lebih memilih Soo Hee daripada kandidat yang lain. Namun kini keinginan itu hampir kandas. Putri Park So Jin akan kembali dan bersaing dengan Soo Hee untuk memperebutkan kursi presiden. Tentu saja Haeri akan melakukan apapun untuk mewujudkan keinginannya itu.

Gongju duduk termenung di atas sofa dalam ruangan Myungsoo. Myungsoo menatap yeoja itu aneh. Kemarin dia menangis. Sekarang dia hanya termenung. Sebenarnya ada apa dengannya. Tiba-tiba Gongju pamit pulang. Ia mengatakan bahwa tidak ingin membuat guru dan Jaejoong khawatir. Ini sudah malam. Dia harus segera pulang. Gongju menutup pintu lalu mempercepat langkahnya keluar dari lokasi istana presiden. Myungsoo yang ditinggal begitu saja hanya bisa bengong tanpa sempat mengucap sepatah kata. Dilemparnya laporan di tangannya lalu diraihnya kunci mobil. Ia segera menyusul Gongju yang mungkin sudah menjauh dari sana.
Dengan seragam seperti biasa, setelan celana panjang, kemeja dan blazer, Gongju menyusuri jalan kota Pyongyang. Pikirannya menjalar kemana-mana. Antara percaya atau tidak, kini ia tahu bahwa dirinya adalah putri dari presiden Park Jungsu, presiden Korsel. Dia harus membuktikan sendiri bahwa dirinya benar-benar putri presiden Park.
Tiiiin…
Suara klakson mobil Myungsoo membuyarkan lamunannya. Gongju menghentikan langkahnya. Menatap mobil hitam yang menghentikan langkahnya. Myungsoo menyembul dari dalam mobil.
“Masuklah. Tidak baik jam segini berjalan sendirian.”
Gongju menurut. “Oppa, apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Gongju pada Myungsoo yang baru saja melajukan mobilnya.
“Eoh. Mwonde?”
“Oppa, apa  Korut benar-benar akan menyerang Korsel?”
“Aku rasa begitu. Tapi mungkin akan ditunda. Jika terjadi konflik antar dua negara, Korut akan benar-benar membumihanguskan Korsel. Kau tahu kan, persenjataan kita jauh di atas Korsel. Sekutu pasti akan membantu kita.”
Gongju menundukkan kepala. Ia takut jika Korut menyerang Korsel akan banyak rakyat Korsel jadi korban. Gongju menghela nafas panjang.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu. Kau tidak perlu menjawab karena ini bukan pertanyaan.” Myungsoo melajukan mobilnya di sebuah jembatan. Kemudian dia.keluar dari mobil. Disusul Gongju. Myungsoo memejamkan mata. Menikmati semilir angin malam itu. Tangannya meraih tangan Gongju dan menggenggamnya. “Aku tak akan melepas tangan ini selamanya. Artinya aku tidak akan melepasmu.selamanya.” Gongju tertegun, diam, menatap Myungsoo yang telah membuka matanya.
Myungsoo melonggarkan dasinya, membuka kancing bajunya yang paling atas kemudian melepas sebuah kalung. Kalung itu tidak berbandul liontin, melainkan sebuah peluit. Myungsoo meniup peluit itu. Tak lama kemudian seekor rajawali terbang ke arahnya dan mendarat di atap mobil. Gongju terkejut melihat rajawali itu. Di zaman seperti sekarang bukankah rajawali adalah burung yang sangat langka.
“Aku kenalkan padamu. Inilah sahabat pengantar pesanku. Sudah bertahun-tahun aku memeliharanya. Dialah yang selalu menyampaikan pesan-pesanku pada bawahanku dalam menjalankan sebuah tugas negara. Jika menggunakan alat komunikasi modern, pasti akan mudah dilacak atau disadap.” Myungsoo ingin mengalungkan peluit itu di leher Gongju. Namun dia melihat ada sebuah kalung melingkar indah di leher Gongju. Diraihnya kalung itu. “Kalung ini… Kalung keberuntungan,” gumam Myungsoo. Gongju menatap Myungsoo yang berdiri sangat dekat di hadapannya. “Kalung ini yang membuatku tetap bersamamu, oppa.” Myungsoo tersenyum. Ia melepaskan kalung itu dari leher jenjang Gongju kemudian melepaskan peluit dari kalungnya dan memasangnya di kalung keberuntungan itu. Lalu ia memasangkannya lagi di leher Gongju.
“Yepoda. Jika kau merasa sedih, kesal, ingin menangis dan kesepian, tiuplah peluit ini. Aku akan datang menemuimu.” Myungsoo tersenyum begitu juga Gongju lalu mereka berdua berciuman mesra disaksikan rajawali yang bertengger di atap mobil Myungsoo.
“Kajja. Aku antar kau pulang.” Myungsoo menuntun Gongju masuk ke dalam mobil. Malam sudah semakin larut. Orangtua angkat Gongju dan Jaejoong pasti mengkhawatirkannya.

Seperti biasa, Jaejoong dan Gongju sedang latihan. Kali ini mereka latihan wushu. Namun aktifitas keduanya terhenti karena kedatangan Jung Kyung Ho, gurunya. Jaejoong dan Gongju memberi salam pada Kyung Ho.
“Aku datang ke sini untuk bicara dengan kalian berdua. Tapi sebelum itu, aku ingin bertemu dengan ahjumma yang kemarin.” Kyung Ho merasa pernah bertemu dengan ahjumma itu. Maka dari itu ia ingin bicara empat mata dengan ahjumma itu.
Jaejoong dan Gongju terdiam di halaman. Keduanya merasa canggung. Gongju mengira Jaejoong telah mengetahui semuanya. Jaejoong juga begitu. Akhirnya Gongju memberanikan diri buka suara. “Oppa, kenapa aku jarang melihatmu? Aku merindukanmu, oppa.” Matanya terasa panas. Ia teringat masa lalunya yang telah diceritakan oleh Taeyeon ahjumma. Dia dan Jaejoong dibuang di sebuah mobil box.
“Akhir-akhir ini aku sibuk. Kau tahu tentang dua warga Korut yang ditangkap tentara Korsel?” Gongju menggeleng. “Ternyata senjata yang mereka bawa adalah senjata milik songsaenim.”
Gongju sangat terkejut mendengar penjelasan Jaejoong. “Songsaenim?”
Jaejoong mengangguk. “Aku takut membayangkan apa yang akan terjadi pada songsaenim jika senjata itu terbukti miliknya.” Jaejoong tampak sedih. Gongjupun tak kalah sedih.

Myungsoo duduk di tepi ranjangnya. Ia baru saja membersihkan diri seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi. Gosok gigi, cuci muka, mandi, dan sebagainya. Badannya masih terbalut handuk. Ia meraih sepucuk surat yang digulung kecil. Surat dari Soo Hee yang diantar burung rajawali tadi malam. Myungsoo mengambil surat itu dari atap mobilnya setelah dilepaskan oleh rajawali kesayangannya. Tentu saja tanpa sepengetahuan Gongju. Myungsoo tersenyum kecil ketika membaca surat balasan dari Soo Hee.

Tbc.

Semoga part ini tidak mengecewakan. Aku tunggu LIKE/VOTE/KOMENTARNYA
Jongmal gomawo…
Annyeong…🙂

70 responses to “[CHAPTER – PART 3] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. Gongju ternyata seorang puteri. Mesti Jiyeon byk fikiran. Namun Aku confuse. Myungsoo mmg mencintai jiyeon kn? Tapi masih berkomunikasi sama soo Hee? Harap2 Myungsoo tetap dgn jiyeon

  3. Pingback: [Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  4. Pingback: [Chapter – Part 13] Love is NOt A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s