Pretend (Chapter 12)

 

FF Pretend new

Tittle : Pretend

Author : brownpills

Main Cast:

  • Park Jiyeon
  • Kim Myungsoo
  • Krystal Jung
  • Bae Suzy
  • Choi Minho
  • Kai

Lenght :  Chaptered

Genre : Romance, Family, Schoollife

Rating : PG-14

A/N : Pure of my mind. Also share in FFH. Don’t be a Plagiator!

Italic: Krystal’s feeling.

.

.

-Prev-

Author’s PoV

 

 

Awalnya ada keraguan dalam hatiku ketika aku menginjakkan kaki di tempat yang tidak pantas untuk orang sepertiku.

 

 

Dasi merah bermotif kotak-kotak itu melingkar manis di kerah kemeja putihnya. jAS hitam melapisi kemejanya, menunjukkan lambang sekolah di bagian kanan atas. Rok di atas paha memperlihatkan kaki kurusnya, yang kini tengah melangkah di gedung sekolah dengan ornament elit. Kebanyakan furniture sekolah itu di ambil dari luar negri.

 

 

Perlahan aku sedikit beradaptasi dengan lingkungan di sekolah ini.

 

 

Rambutnya yang tergerai melambai seiring langkah kakinya. Tepuk tangan meriah memperlambat langkah kakinya. Sekitar lima meter darinya berdiri sebuah panggung mini. Beberapa siswa –terutama perempuan- memenuhi bagian depan panggung itu. Mereka terkadang menjerit. Itu karena sesosok pria sedang duduk sambil menyilangkan kakinya di atas punggung. Gitar akustik berada di pangkuannya.

 

 

Banyak yang ingin kuceritakan tentang mereka. Contohnya pria ini.

 

 

Alunan ringan terdengar begitu jemari pria itu memetik senar gitarnya. Hampir semua terhipnotis oleh charisma yang pria itu miliki.

 

 

Kim Myungsoo. Suka tebar pesona dan mengganggu murid lain. Dia yang mengajarkan padaku bahwa orang kaya itu tidak seenak yang orang lain pikirkan.

 

 

Di tengah permainan gitar yang Myungsoo mainkan, gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Sebelumnya ia sempat menarik kedua sudut bibirnya. Sesekali ia membenarkan tumpukan buku yang ia dekap. Saat melintasi kantin sekolah, ada hal yang membuatnya tertahan sejenak.

 

 

Semenjak kejadian itu, ia tidak banyak beraktivitas. Hanya termenung dalam kesendirian.

 

 

Pandangan Krystal terpaku. Sesosok gadis lain tengah menyantap makanannya. Duduk di sisi jendela yang langsung memamerkan pemandangan taman sekolah. Gadis dengan eyeliner yang menajamkan sepasang matanya itu tampak lesu.

 

 

Terkadang aku ingin membaca pikiran gadis itu. Dia yang terlihat tidak suka denganku, memandangku dengan tatapan dinginnya. Sepertinya aku salah. Dia tidak membenciku, tetapi tidak mengerti bagaimana cara berteman.

 

 

Tidak ada niat dalam hati Krystal untuk menghampiri gadis itu. Yang dilakukan Krystal hanya menatapnya dengan terbentang jarak. Melihatnya seolah menggiring Krystal ke tempat paling pekat.

 

 

Meski sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu, aku masih mengingatnnya dengan jelas di dalam pikiranku. Saat itu, di mana Jiyeon mencoba untuk bunuh diri.

 

 

Krystal menghela nafasnya dengan berat. Sembari menegapkan tubuhnya ia memalingkan wajah dari gadis itu. Mengalihkan jalannya menuju ke tempat tujuannya yang semula. Lagi-lagi, sesuatu kembali memaksa tungkai kakinya untuk berhenti.

Keramaian menggema di depan televisi pengumuman. Seperti biasa, murid perempuan memekik histeris seolah meraka adalah semut yang sedang mengerumuni gula. Dan semut itu adalah sesosok pria berkulit kecoklatan dengan tatanan rambutnya yang berantakan. Pria itu sedikit kewelahan menghadapi gerombolan murid perempuan.

 

 

Dia masih sama. Dikagumi oleh kaum hawa. Tidak bisa dipungkiri,karena popularitasnya kembali menanjak meski sempat ada kabar buruk tentang dirinya.

 

 

Krystal memanyunkan bibir tipisnya. Tanpa sadar, Krystal menggerutu pelan melihat tingkah genit gerombolan itu. Rasanya ia ingin menerobos dan membawa lari yang menjadi pusat perhatian mereka. Namun itu tidak mungkin, berhubung ia hanya seorang gadis biasa.

Di tengah kesibukannya melayani penggemarnya, pria itu menangkap sosok Krystal yang sedang memperhatikan dengan wajah cemburut. Dan dengan santainya ia melambaikan tangan pada Krystal. Diringi senyuman lebarnya, menunjukan lesung pipi yang enak dipandang.

 

 

Tingkah kenakan yang dimilikinya selalu membuat kepalaku pusing. Namun karena dia, aku dapat melupakan status yang kumiliki antara orang sederhana dan orang kaya. Dan karena dia pula, aku dapat merasakan manisnya perasaan yang membuat jantung meledak. Dia, Kai.

 

 

Reflek Krystal membulatkan matanya. Ketika perhatian teralihkan padanya, Krystal dapat merasakan hawa tidak enak dari penggemar gila itu, membuat Krystal menundukkan kepalanya sambil cepat-cepat menjauhi gerombolan itu. Di dalam hatinya, ia sudah menyumpahi Kai yang masih saja terus melambaikan tangannya tanpa dosa.

Merasa sudah jauh dari kandang harimaunya, Krystal menghembuskan nafas. Sesampainya di depan deretan rak berjulang tinggi, ia membuka salah satu kotak kecil yang terletak paling atas.

Saat lokernya terbuka ia menyimpan buku-buku yang ia bawa. Menggantikannya dengan berkas dokumen yang disusun rapi dalam map berwarna merah.

Krystal kembali mengunci lokernya dan melangkahkan kaki dengan bersiul ringan.

 

 

Di tempat menuntut ilmu ini, kami berdiri masing-masing. Dan beasiswa yang menjadi andalanku.

 

 

Pintu kaca di hadapannya terbuka otomatis. Penghangat ruangan menyambut Krystal dengan wangi khas buku di dalam perpustakaan. Kepalanya melongok di antara rak menjulang tinggi.

Merasa sudah menemukan sosok yang ia cari, Krystal meringis singkat sambil berjalan kecil menuju seorang pria yang tengah bersandar pada dinding rak deretan kedua.

 

 

Salah satu tangannya yang dimasukkan ke dalam saku. Sedangkan tangan lain memegang buku, dan gayanya yang bersandar itu sedikit menimbulkan perasaan yang tak kumengerti.

 

 

“Minho!” ucap Krystal lebih seperti bisikan tertahan.

Minho menolehkan kepalanya. Kedataran masih tersisa di wajahnya. Namun Krystal menjulurkan map merah yang ia bawa dengan kekanakkan.

“Berkas beasiswa,” ujar Krystal begitu Minho mengambil alih mapnya.

Pria itu mengecek sekilas. Kemudian mengangguk perlahan. Syarat untuk mendapat perpanjangan beasiswa memang sedikit rumit, tetapi berkat bantuan Minho, Krystal mudah melakukannya.

Hati-hati Krystal berbicara, “Kau masih mengingatnya?”

Gerak gerik mata Minho berhenti, tanda bahwa ia mengehentikan kegiatan membacanya.

“Maksudku—em—Bae Suzy—kau tidak bisa melupakannya?” Krystal mengulangnya dengan terputus.

“Mm.”

Krystal menarik nafas sejenak, “Jika kau terus seperti ini, maka Suzy tidak akan tenang di alam sana.”

Minho membulatkan bola matanya. Dia melirik gadis di sampingnya. Mulutnya tak dapat berkomentar.

“Suzy akan tenang jika kau hidup bahagia—“

Sementara Krystal mengatakannya begitu lirih, Minho membisu.

“—bukankah orang yang sudah meninggal bisa melihat kehidupan dari alam sana?”

Terasa seperti mendapat satu tembakan, pupil mata Minho kembali membesar. Lantas ia menghembuskan nafas dan menjawab, “Itu hanya di cerita fiksi.”

Aniya!” sergah Krystal sedikit membentak. Kini ia menatap Minho dengan serius, “Aku merasakannya! Kehilangan seseorang itu menyakitkan, tetapi akan lebih menyakitkan jika kita terus mengingatnya!”

Di luar kaca, salju berterbangan. Pohon tanpa ranting mendayu searah angin. Berhembusnya rintikan salju berhembus pula keheningan di antara Minho dan Krystal.

“Sepertinya kau pernah merasakan hal itu,” tebak Minho mencairkan ketegangan yang mendadak timbul.

Kepala Krystal tertunduk dalam. Jemarinya saling bertautan. Bahunya sedikit gemetar.

Ne, aku pernah merasakannya,” lirihnya suara Krystal terkalahkan deru angin musim dingin.

 

 

Saat itu… adalah hari paling mengerikan dalam hidupku. Saat aku kehilangan eomma.

 

 

—o0o—

Tetapi, sesekali aku bermimpi tentang eomma. Dan ketika itu ada harapan yang muncul. Aku ingin bertemu eomma.

 

 

Awan putih tidak begitu terlihat. Langit jingga membentang di atas kepalanya. Pakaian tebalnya melindunginya dari hawa dingin. Seperti biasa, ia termenung di bukit dekat rumahnya. Tak ada rumput hijau, hanya tumpukan salju putih yang menyelimuti tanah, pohon dengan cabang rantingnya, dan satu kursi yang ia tempati.

 

 

Tiap kali aku mengingatnya, tempat ini satu-satunya yang bisa meredakan kesedihanku.

 

 

Sebuah buku tebal ia genggam erat di atas pahanya. Pandangannya kosong terlempar jauh di sana.

“Krystal!”

Dan suara lantang itu mengejutkan dirinya. Membuatnya reflek membalikkan badan. Terlihat sesosok pria berkulit gelap mendekatinya dengan nafas terengah.

“Jadi ini bukit yang kau maksud,” ujar Kai menghempaskan tubuhnya di sebelah Krystal.

“Mengapa kau ke mari?”

“Ayahmu mencarimu. Dia bilang ini saatnya kau untuk latihan vocal.”

Mwoya? Bukankah ini jam untuk les pianomu?”

“Aku sudah selesai.”

Krystal mengerucutkan bibirnya mendengar penjelasan santai dari Kai. Kalau dipikirkan, Kai itu tidak pernah membuat hidupnya menjadi rumit. Dia menjalaninya seolah tak ada beban.

Waegure?” tanya Kai menyadari sikap Krystal yang sering melamun.

Ne?”

“Ada apa? Apa ada masalah?”

“Itu—“

Sepasang mata Kai lekat menatap Krystal yang kini tidak berani mengangkat kepalanya. Krystal merasa tidak bisa menceritakannya pada Kai, namun ia juga tidak bisa membuat Kai terus menatapnya dengan pandangan yang membuat mukanya merah padam.

“Aku…” suara Krystal tersendat, “… aku merindukan eomma.”

 

 

Dan akhirnya kalimat itu terucap.

 

 

Krystal semakin membenamkan kepalanya, dengan kedua tangannya yang mengepal di atas paha. Tubuhnya menggigil, entah karena suhu dingin atau karena ia menahan tangis.

Dan sentuhan lembut di kepala Krystal mencairkan es di dalam hatinya. Menyalurkan kehangatan untuk tubuhnya.

Kai mengelus lembut puncak kepala Krystal. Pria itu membelai tiap helaian rambut Krystal. Seperti ia ingin memberikan semangat untuk Krystal.

“K—ka—Kai,”

Senyuman melengkung di bibirnya. Kai menyengirkan deretan giginya, membentuk lesung pipi yang manis. Membuat kedua matanya bertambah sipit. Sedang Krystal tak berkata apapun, mulut gadis itu sedikit terbuka.

Arraseo, gwenchana. Jika kau merindukan ibumu, katakana saja. Luapkan semuanya, jangan menyimpannya di dalam hati.”

 

 

Jeongmal gwenchana? Eomma… aku rasa posisimu sudah tergantikan oleh seseorang. Pria ini meringankan bebanku tiap aku melihatnya tersenyum. Saat kecil, aku juga seperti itu, melihat eomma tersenyum di hadapanku cukup membuatku kembali semangat.

 

 

“Kau melamun lagi,” gerutu Kai.

Krystal mengerjapkan matanya mencoba kembali ke dunia nyata. Perlahan ia juga memamerkan senyuman manisnya. Bibir merah muda miliknya sempurna membentuk busur panah. Hal itu cukup mendebarkan jantung Kai.

“Krystal…”

“Mm?”

“Kau cantik.”

Senyum Krystal memudar sedikit demi sedikit. Tergantikan kedua alis Krystal yang saling bertautan tanda heran, terkejut mungkin.

Kai mengubah mimik wajahnya. Memandang dalam manik kecoklatan Krystal. Terhanyut dalam suasana sekitar.

“Krystal, jadilah pacarku…”

Sepenggal kalimat itu mampu meledakkan perasaannya. Menggeletik perutnya dan menerbangkan tubuhnya melayang di angkasa. Untuk sesaat Krystal seperti berada dalam dunia mimpi.

 

 

Eomma, aku ingin kau melihatnya juga. Melihat putrimu yang sedang jatuh cinta. Eomma, bogoushipeo.

 

-TBC-

Aku ingin hidup lebih lama…

“Jiyeon, hajima…”

“Kau pasti bisa bertahan, jiyeon.”

“Yeon-a, mianhae. Eomma jeongmal mianhae.”

“Jiyeon kau kuat! Bangunlah! Kami menantikanmu!”

-Road to Final-

Yang bingung dengan keadaan ibunya Krystal bisa cek di Chapter Prolog. Oya sampe lumpa ngucap salam –“. Anyeeeoooongggg~~~ akhirnya akhirnya akhirnya Hara bisa nyempetin blogging. Minggu kemarin jadwal Hara padet *sok sibut*. Tapi emang kok, tugas Hara numpuk, tiada hari tanpa presentasi dan PR :” *curcol*. Okey, bye curcol.

So, kabar kalian baik kan? *apa ini?!* hehe, sekali kali kepo boleh dong.

57 responses to “Pretend (Chapter 12)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s