[CHAPTER – PART 2] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIME

Part sebelumnya:

prolog [1]

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Tap tap tap…
Suara langkah kaki Myungsoo menyusuri koridor istana presiden. Di depan pintu ruang presiden langkahnya terhenti. “Gongju-a, kau tunggu di sini.”
“Ne,” jawab Gongju singkat dengan menundukkan kepalanya.
Myungsoo masuk ke dalam ruang kerja appanya.
“Oh, Myungsoo-a. Tumben kau datang jam segini.” Presiden Kim meletakkan kacamatanya yang baru saja dipakai untuk membaca beberapa laporan para menterinya. Dengan bersandar pada kursi hitamnya, sang preseiden yang sekaligus appa Myungsoo bertanya perihal kedatangan puteranya dengan ekspresi kekesalan yang ditahan.
“Jeoha, baru saja jenderal Lim melaporkan situasi perbatasan padaku. Dua orang penduduk kita telah ditahan oleh tentara Korsel karena mereka membawa senjata tajam dan senjata api. Pihak Korsel menduga kita yag mengirim mereka sebagai mata-mata. Sampai hari ini ku dengar mereka belum diinterogasi.”
“Apa yang kau khawatirkan? Jika kau tidak mengirimkan mata-mata itu, apa yang kau takutkan?”
“Jeoha, mereka mungkin tidak bersalah. Tapi masalah ini bisa memicu konflik yang runyam.”
“Lalu apa idemu?” tanya Presiden Kim pada putranya.
“Aku akan memanfaatkan kedekatanku dengan putri presiden Korsel untuk menyelidiki masalah ini.” Myungsoo tampak yakin dengan kata-kata yang baru saja ia lontarkan.
Presiden Kim Young Woon mengerutkan dahi. “Apa kau yakin? Lakukan dengan aman. Jangan sampai kau membuat kesalahan Myungsoo.”
“Ye, Jeoha.” Myungsoo undur diri.

Hari sudah semakin sore, matahari sebentar lagi tergelincir di balik gunung barat. Myungsoo dan Gongju menyusuri jalan menuju tempat latihan yang tidak jauh dari tempat tinggal Gongju. Myungsoo berjalan di depan, sedangkan Gongju mengekor di belakangnya. Suasana tampak sepi, hanya terdengar gonggongan anjing tanpa tuan yang lapar mencari makan.
Keduanya masuk ke dalam gedung tempat latihan yang biasa mereka gunakan bukan hanya untuk berlatih, namun untuk hal-hal yang mereka inginkan seperti curhat, menenangkan diri, hingga menginap jika tak ingin pulang ke rumah.
“Gongju-a, apa kau tahu kenapa.aku sangat menyukai tempat ini?” tanya Myungsoo ketika mereka sudah berada di dalam gedung itu. Sepi. Hanya mereka berdua. Jam segini orang-orang yang berlatih di tempat itu memilih untuk menyudahi latihan mereka karena hari semakin gelap.
“Anhi. Seseorang memiliki alasan sendiri untuk menyukai atau tidak menyukai sesuatu.” Gongju duduk di atas sebuah bangku kayu tua di bawah papan dart, di sisi kanan gedung itu. Myungsoo masih berkeliling di dalam gedung, mengamati setiap benda yang ada di dalam sana. “Aku menyukai tempat ini karena aku bertemu denganmu pertama kali di sini. Aku juga merasa nyaman berada di sini.” Myungsoo tersenyum kecil. “Gongju-a, malam ini ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu. Aku tidak bisa melakukannya di siang hari karena terlalu bahaya.”
Gongju bingung, penasaran dengan apa yang ingin ditunjukkan oleh Myungsoo. “Oppa, kau ingin menunjukkan apa?” tanya Gongju pada Myungsoo yang kini duduk di sebelah kanannya, bersandar di atas bahu kecilnya.
“Tidak ada yang tahu tentang hal ini. Aku hanya ingin memberitahukan ini kepadamu. Karena hanya kau dan Jaejoong hyung yang dapat aku percaya.” Myungsoo masih menikmati posisinya bersandar pada bahu Gongju.
“Araseoyo. Kapanpun kau ingin mengatakan padaku, aku siap mendengarnya, melihatnya dan merahasiakannya.” Gongju menerawang jauh melihat ventilasi udara tepat di hadapannya.
Myungsoo menegakkan posisi duduknya. Ia tak bersandar lagi pada bahu Gongju. “Gongju-a,” lirih Myungsoo yang memiringkan badannya hingga Gongju berada di hadapannya kemudian sedikit menarik lengan Gongju hingga jarak diantara mereka sangat dekat. “Apa kau ingin tahu alasanku menerima seorang pengawal sepertimu?”
Gongju menoleh ke kanan, ke arah Myungsoo. Ia terperanjat kaget, wajah mereka hampir bersentuhan. Gongju tampak tegang. Ia memalingkan wajahnya seperti semula. “Mwonde?” tanya Gongju yang tak berani menatap Myungsoo di sebelah kanannya.
Myungsoo menarik nafas panjang lalu memghembuskannya kasar. “Aku menerimamu karena kau yang diajukan jadi pengawalku. Jika itu orang lain, aku akan menolaknya. Aku tidak akan menyerahkan keselamatanku pada orang lain selain padamu, Gongju-a.” Mungsoo memegang tangan kanan Gongju.
Gongju masih belum berani menatap Myungsoo. Jantungnya terasa berdetak lebih kencang dibanding latihan seharian. “Gongju-a.”
“Eoh…” Gongju memberanikan diri menatap Myungsoo. Tatapan mata Myungsoo benar-benar membuatnya diam mematung. Pria tampan itu mampu membekukan syaraf Gongju hingga yeoja itu tak berkutik sama sekali. Selama bertahun-tahun bersama, baru kali ini Gongju merasa kikuk di depan Myungsoo.
“Maukah kau hidup bersamaku?” lirih Myungsoo setengah berbisik. Gongju tak tahu apa yang harus ia katakan bahkan ia tak tahu apa maksud ucapan Myungsoo. “Gongju-a, aku ingin menikahimu kelak. Apa kau bersedia hidup bersamaku?”
Gongju tak percaya ia mendengar kata-kata itu dari Myungsoo. Ia pun hanya mengangguk pelan. Tak berapa lama, Myungsoo membelai pipi mulus Gongju dan mendekatkan wajahnya. Bibirnya menyentuh bibir mungil Gongju lalu memeluk yeoja itu.

“Ahjumma, kenapa kau tidak mengatakannya pada Gongju? Bukankah dia sudah dewasa?” Jaejoong bicara pada So Min.
So Min menatap Jaejoong lekat-lekat. Jaejoong merasa tidak nyaman dengan tatapan itu.
“Ahjumma, jangan menatapku seperti itu seakan kau menyukaiku.”
Pletak!!
So Min memukul kepala Jaejoong dengan tangannya.
“Pabbo. Jaejoong-a, apa kau masih ingat siapa yang menyuruhmu menemani Gongju saat kalian dibuang?”
Jaejoong tampak mengingat sesuatu yang sudah lama sekali. Bahkan lebih dari 16 tahun yang lalu.
“Aku yakin dia ibuku. Tapi ada 2 yeoja. Aku lupa yang satunya.” Jaejoong memegang kepalanya agar dapat mengingat dengan jelas. “Ah, ahjumma, tadi kau memukulku ingatanku jadi berkurang,” gerutu Jaejoong.
“Iiish, anak ini…” So Min berdecak kesal.
Cekleeek…
Gongju masuk ruang tamu dimana Jaejoong dan So Min berada. Keduanya duduk berhadapan di atas bangku katu oak. Ekspresi Gongju tampak cemas.
“Gongju-a, kau darimana?” tanya So Min. Gongju tak menjawab. Ia menggigit bibir bawahnya.
Sedangkan Jaejoong menatap Gongju dengan penuh selidik. Pasti ada sesuatu yang ingin ia sampaikan. Jaejoong hafal sekali gelagat dan perilaku Gongju. “Wae?” Gongju balik menatap Jaejoong.
“Tadi saat aku bertugas menjadi pengawal Myungsoo, jenderal Lim melaporkan ada dua penduduk asli Korut masuk perbatasan Korsel dan ditangkap karena mereka memikili senjata tajam dan revolver asli buatan Korut. Ahjumma, apa mereka orang-orangmu?” Gongju menarik kursi yang masih kosong dan duduk di atasnya.
“Mwo? Penduduk Korut ditangkap tentara Korsel? Anhi. Aku tidak memerintahkan siapapun untuk melakukannya. Ini pasti ada pihak yang ingin mengadu domba Korut dan Korsel.”
Jaejoong dan Gongju memicingkan mata. “Pihak ketiga?” tanya mereka bareng. “Ahjumma, jelaskan secara lebih rinci,” pinta Jaejoong yang baru saja membenahi posisi duduknya.
“Ada pihak ketiga yang ingin mengadu domba kita degan Korsel. Mereka pasti mendapat keuntungan yang besar atas peristiwa ini. Atau mungkin mereka menginginkan salah satu negara hancur.”
Lagi-lagi Jaejoong dan Gongju melakukan hal yang sama, mereka melongo karena tak percaya dengan apa yang dijelaskan oleh So Min.
“Mungkin guru kalian lebih paham.”
Gongju memutar bola mata malas sedangkan Jaejoong menghela nafas panjang. Jika bertanya pada gurunya itu sama juga dengan pungguk merindukan bulan.

Haeri, istri kedua presiden Korsel sedang mengadakan pertemuan dengan 2 orang jenderal dan 1 orang menteri. Salah satu jenderal itu adalah adiknya sendiri, Junsu. Mereka membahas penyerangan yang mungkin akan dilancarkan pihak Utara jika situasi sudah memanas di kediaman Junsu. Namun salah satu diantara mereka ada yang menyinggung masalah putri presiden Park.
“Aku mendapat laporan bahwa putri Park So Jin masih hidup,” terang Junsu dengan nada meyakinkan. Ia menatap orang-orang yang ada di sana satu persatu.
“Putri yang mana? Bukankah putri yang satunya sudah mati?” tanya seorang menteri.
“Kau pasti salah. Mana mungkin putrinya masih hidup?” Haeri terlihat takut dan tegang.
“Anak buahku melihat seorang pemuda bernama Kim Jaejoong dengan seorang gadis seusia Soo Hee. Menurut informasi yang aku terima, keduanya tidak punya keluarga kandung.”
Haeri merasa tenggorokannya tercekat benda tajam. Ia ta bisa berkata apa-apa.
“Jaejoong?” tanya menteri tak percaya.
“Ya, putra dari seorang pelayan So Jin yang kini menderita lumpuh karena racun dari Haeri noona,” jelas Junsu.
Haeri nampak berpikir keras.
“Jika kabar itu benar, berarti akan ada 2 penguasa Korsel. Soo Hee dan Jiyeon.” Menteri mengambil kesimpulan secara logika. “Kita harus segera menyelidikinya.”

Soo Hee baru selesai latihan pedang. Jadwal latihannya memang malam hari, berbeda dengan Gongju. Gadis itu masuk ke dalam kamarnya yang dipenuhi barang-barang mewah dan berkelas. Bagaimana tidak? Barang-barang yang ada di kamar Soo Hee adalah barang yag diimpor dari luar negeri dengan kualitas paling tinggi. Soi Hee membersihkan diri di kamar mandi kemudian duduk di depaneja riasnya guna mengeringkan rambutnyayang baru saja dicuci. Setelah itu ia berpakaian dan duduk termenung di tepi ranjangnya. Ia teringat masa kecilnya bersama Myungsoo.

Flashback.
Myungsoo, Gongju dan Soo Hee waktu kecil sudah berlatih pedang dan ilmu bela diri. Soo Hee meminta diajari oleh Myungsoo karena menurut Soo Hee, kemampuan Myungsoo sangat hebat. Namun Myungsoo menolak halus. Ia mengatakan bahwa Gongju lah yang memiliki kemampuan di atas angin. Jadi, Soo Hee minta diajari oleh Gongju saja. Soo Hee tidak mau mengakui kemampuan Gongju adalah yang paling hebat. Dia mengira Myungsoo menyukai Gongju. Hal itu.membuatnya tidak suka pada Gongju karena Soo Hee menyukai Myungsoo.
Saat itu Gongju masih beratatus sebagai pemain akrobat, Soo Hee mengejek Gongju karena menurut pandangannya pemain akrobat tidak lebih dari seorang badut. Setiap kali Myungsoo dekat dengan Gongju, Soo Hee tidak suka. Maka dari itu, Soo Hee selalu menjauhi Gongju.
“Aku tidak ingin berteman dengan anak sepertimu. Aku tidak ingin oppa menyukaimu. Jadi jangan ganggu kami.”
Gongju hanya diam. Dia tak tahu apa salahnya. Tak lama kemudian anak itu berbalik dan berjalan makin menghilang.
Setiap kunjungan kenegaraan, Soo Hee selalu ikut appanya karena ingin bertemu dengan Myungsoo.
Flashback end.

“Gongju…” gumam Soo Hee mengingat nama Gongju dalam rangkaian ingatannya. “Seperti apa Gongju sekarang? Apakah dia masih bersama Myungsoo oppa? Aah, andwae. Tidak boleh.” Soo Hee membuyarkan lamunannya sendiri. Ia ingin mengingat Myungsoo, tapi setiap kali Myungsoo hadir di pikirannya, Gongju juga ada. Soo Hee bertambah kesal. “Aku ingin ke Selatan. Tapi bagaimana caranya? Aku tidak mungkin menghubunginya lewat sambungan telepon. Pasti Utara akan mengira bahwa aku mata-mata. Ya, pasti. Keurom, eottohke? Aku bisa gila.” Soo Hee membaringkan tubuhnya fi atas ranjang besarnya yang berwarna pink. Tak lama kemudian matanya terpejam.

Hari ini Gongju tidak latihan. Ia ingin membantu So Min ahjumma menyiapkan sarapan. Kesibukannya di dapur tidak terlalu melelahkan. Ia senang bisa membantu So Min ahjumma. Saat aktifitas di dapur selesai, So Min ahjumma menanyakan sesuatu pada Gongju.
“Gongju-a, apakah kau ingin tahu tentang keluargamu?”
“Mwo?” Gongju kaget. “Aku tidak tahu siapa keluargaku ahjumma. Keluarga bagiku seperti bintang yang sulit diraih. Aku tidak tahu siapa mereka, dimana dan bagaimana keadaan mereka.”
Jung So Min ingin sekali memberitahu sesuatu pada Gongju tapi ia mengurungkan niatnya. Mungkin waktunya kurang tepat. “Bersabarlah, Gongju-a. Kau pasti akan berkumpul dengan mereka.”
Gongju tersenyum tipis. Meski ia tidak yakin, Gongju mengiyakan kata-kata So Min.
Selesai makan, Gongju ingin membantu So Min membersihkan alat-alat makan yang kotor dan menyimpan makanan yang masih sisa ke dalam lemari makanan namun So Min melarangnya karena Gongju harus segera berangkat ke istana presiden.
Di dalam kamarnya, seperti biasa, Gongju mengambil pakaiannya yang tersimpan di dalam lemari kayu berwarna putih. Koleksi pakaiannya tidak banyak. Pakaian yang ia punya kebanyakan hanya celana panjang, kaos lengan pendek dan lengan panjang, kemeja, dan jaket. Ia ambil pakaian seragam pengawal kepresidenan berupa kemeja putih, celana kain warna hitam, dan blazer hitam. Rambut yang panjangnya i bawah bahu diikat hingga tengah-tengah kepala. Tak lupa pisau lipat ia simpan di dalam sepatu hitamnya. Gongju puas melihat penampilannya di depan pantulan cermin miliknya yang tak begitu besar. Sejurus kemudian Gongju melangkah pergi meninggalkan rumahnya menuju istana.

Di dalam istana, Myungsoo menanti kedatangan Gongju padahal belum waktunya dia bekerja. Jam kerjanya dimulai jam 7 pagi. Sedangkan sekarang masih jam 6.34 namun Myungsoo tak sabar bertemu Gongju.
“Tuan muda, saya sudah berada di luar.” Suara Gongju terdengar dari dalam ruang. Myungsoo melihat arlojinya. Pukul 6.50, Myungsoo tersenyum kecil.
“Masuklah, Gongju-a,” seru Myungsoo dari dalam ruangan.
Cekleeek…
Suara pintu terbuka, muncullah sosok yeoja cantik, tinggi, dan langsing dari balik pintu. Myungsoo melangkah beberapa langkah ke arah Gongju yang baru saja menutup pintu. Gongju kaget ketika berbalik ternyata Myungsoo sudah berdiri di belakangnya.
“Mendengarmu memanggilku dengan panggilan Tuan Muda rasanya geli sekali.” Myungsoo melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gongju kemudian mentautkan kedua tangannya di pinggang belakang Gongju. Tak ada jarak lagi diantara mereka berdua.
“Op, oppa. Apa yang kau lakukan?” tanya Gongju tegang.
“Ada apa dengan ekspresi itu? Apa kau tidak senang melihatku, eoh? Bukankah kita sudah menjadi sepasang kekasih?” Myungsoo mengangkat kedua alisnya.
Bau parfum Myungsoo menyeruak masuk ke dalam indera penciuman Gongju. Bau ini khas Myungsoo. “Hari ini ada acara di pasar tradisional. Aku, menteri perdagangan dan menteri dalam negeri akan melakukan pemantauan langsung di pasar-pasar tradisional. Apa kau siap mengamankan namjachingumu ini?” goda Myungsoo yang berhasil membuat wajah cantik Gongju memerah. “Omo, lihatlah. Wajahmu sudah memerah. Gurae, aku tidak akan menggodamu lagi hari ini.” Myungsoo melepaskan tautan tangannya di pinggang ramping Gongju. Namja itu mengambil beberapa laporan di atas meja kerjanya.
“Oppa, apa kasus dua penduduk kita yang tertangkap tentara Korsel itu sudah selesai?” tanya Gongju yang penasaran dengan kasus kemarin.
“Anhi. Tadi malam ku dengar dari jenderal Lim, mereka belum melakukan interogasi karena masih sibuk mengurusi keadaan pemerintahan. Wae?” kata Myungsoo yang membaca laporan di atas mejanya satu persatu.
Ada satu laporan yang membuat Myungsoo mengerutkan keningnya. Melihat ekspresi Myungsoo seperti itu membuat Gongju penasaran. “Oppa wae? Apakah ada laporan yang mengkhawatirkan?” tanya Gongju cemas.
“Eoh. Laporan tentang penyadapan ruang kerja menteri luar negeri. Ada seseorang yang sengaja melakukannya. Kasus ini masih dalam penyelidikan. Haish, kenapa ada saja masalah kriminal seperti ini? Apa hukum di negara ini kurang tegas?”
“Bukan hukumnya yang kurang tegas. Tapi penegakan hukumnya. Setiap aparat penegak hukum harus tegas dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.”
“Jika saja semua aparat penegak hukum itu sepertimu, mungkin negara akan aman. Omo, seharusnya aku menyiapkan pidato untuk acara nanti.” Myungsoo mencari selembar kertas yang berisi pidato untuk acara pemantauan di pasar tradisional yang ia susun tadi malam.

Rombongan putera presiden dan dua orang menteri tiba di pasar paling plosok di kota Pyongyang. Di kota itu masih saja ada pasar tradisional yang tergolong kumuh. Benar saja, saat tiba di lokasi, bau ikan dan barang-barang berbau menyengat menusuk indera penciuman. Terpaksa mereka menggunakan masker karena tidak terbiasa dengan bau seperti itu.
Myungsoo memantau harga pasar dari berbagai barang kebutuhan masyarakat seperti ikan, telur, minyak, gula dan lain-lain. Harga di pasar itu cukup tinggi dibanding pasar tradisional lainnya. Kualitas barang dagangan juga di bawah pasar lainnya namun pembeli di pasar itu lumayan banyak. Kebanyakan adalah orang-orang miskin.
Kenapa orang miskin malah membeli barang-barang di sini padahal harganya lebih mahal dari pasar yang lain, tanya Myungsoo dalam hati.
Sementara itu, Gongju berkeliling pasar mengamati keamanan pasar yang mendapat kehormatan dikunjungi oleh putra presiden. Gongju mengamati setiap kegiatan masyarakat di sekitarnya. “Hmm cukup aman,” gumamnya. Sesaat setelah mengatakan pasar itu cukup aman, tiba-tiba Gongju melihat seseorang sedang menguntit di belakang seorang ahjumma. Gongju mengikutinya. Benar, orang itu pencuri. Ia mencuri uang yang ada dalam tas ahjumma itu. Sang pemilik tas rupanya mengetahui gelagat dari orang yang terus mengikutinya. Si pencuri merampas tas ahjumma. Secepat mungkin Gongju mencegah aksi si pencuri. Rupanya si pencuri ingin bertarung dengan Gongju. Dengan senang hati, Gongju meladeninya. Pencuri itu melayangkan tendangan ke udara bermaksud menendang Gongju namun ia berhasil menangkap kaki pencuri itu dan melumpuhkan keuatannya dengan menyiku kaki itu sekeras mungkin kemudian kaki kanan Gongju melayang bebas mengenai pipi kanan si pencuri. Darah mengalir kecil di sudut bibir pencuri itu. Gongju melempar pencuri itu ke tengah jalan kecil di dalam pasar. Pencuri melempari Gongju dengan tomat. Gongju berhasil menangkis tomat yang akan mengotori bajunya. Tiba-tiba Gongju melihat sebuah kayu balok tidak.begitu besar dan melemparnya tepat mengenai mulut dan hidung pencuri. Pencuri itu tersungkur di tanah. Dengan sigap, Gongju menangkapnya. Ternyata aksi Gongju tadi dilihat oleh rombongan Myungsoo dan banyak orang yang berada di dalam pasar. Myungsoo menghampiri Gongju dan memintanya menyerahkan pencuri itu ke petugas kepololisian yang standby di sana.
“Gwaenchana?” tanya Myungsoo lirih. Tentu saja ia tidak ingin yeojanya.kenapa-kenapa.
Beberapa sorot kamera mengambil gambar Myungsoo dan Gongju untuk memuat berita tentang penggagalan pencurian oleh pengawal putra presiden.
Acara di pasar selesai. Gongju ingin segera pulang. Ia sudah merasa tak nyaman dengan seragam yang dikenakannya. Myungsoo mencegat Gongju di lobi depan. Memaksa Gongju untuk pulang bersamanya atau paling tidak diantar oleh sopir dengan mobilnya. Gongju menolak. Ia akan naik bus saja. Tidak pantas seorang pengawal menerima perlakuan seperti itu. Gongju pun meninggalkan istana dengan bajunya yang lusuh.

Gongju turun dari bus. Untuk sampai di rumahnya, ia harus berjalan kaki selama 15 menit. Saat di tengah perjalanan, ada seorang ahjuma yang kira-kira usianya 50 tahun datang menghampiri Gongju. Gongju bingung. Ia tak mengenal ahjuma itu. Tapi ahjumma itu menatapnya seperti telah mengenalnya.
“Ahjumma, apa yang kau inginkan? Apa kau perlu bantuanku?”
“Gongju…” lirih ahjumma itu.
“Ahjumma, bagaimana kau tahu namaku?” Ahjumma itu tidak menjawab. Ia malah menitikkan airmata dan membelai kulit pipi Gongju yang mulus seraya menyebutkan nama Gongju.
“Gongju, kaulah gongju (putri) yang sebenarnya.” Ahjumma itu terus meracau hingga akhirnya Gongju membawa ahjumma itu pulang.

“Gongju-a, siapa dia?” tanya Jaejoong.
“Molaseoyo, oppa. Ahjumma itu terus saja memanggilku tapi tidak mau mengatakan kata-kata yang lain. Tadi dia malah menangis.”

Saat sudah tenang, Gongju mendekati ahjumma itu. Ia bertanya,”Ahjumma, bagaimana kau tahu namaku?”
“Apa aku menyebut namamu?” tanya ahjumma itu.
“Ne. Kau memanggil Gongju. Itu namaku.”
“Maksudku gongju itu bukan memanggil namamu. Kau memang seorang gongju (putri).”
Gongju makin bingung.
“Aku akan menceritakannya padamu sebelum terlambat. Semoga Tuhan memberkatimu, Gongju…” Ahjumma itu pun menceritakan rahasia tentang Gongju. Gongju tercengang mendengar pengakuan ahjumma itu.

Tbc

Otteyo chingudeul? aku tunggu komennya ne….

gomawo

77 responses to “[CHAPTER – PART 2] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  2. Wah.. Myungyeon sepasang kekasih skrg.. Aku suka!! Hehe. Dan pandai betul jiyeon dlm bela diri sehingga menangkap pencuri. Dan bagaimana agaknya skrg bila jiyeon sudah mendengar cerita dari ahjumma itu?

  3. Pingback: [Chapter – Part 14] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s