[CHAPTER – PART 1] LOVE IS NOT A CRIME

LOVE IS NOT A CRIME

Poster by: kimleehye19

Story: Based on Princess Ja Myung Go “KDrama”

Author: kimleehye19

Main Cast:

Park Jiyeon (as Gongju), Kim Myungsoo, Yoon Soo Hee (as Park Soo Hee)

Other Cast:

Park So Jin, Park Jungsu ‘Leeteuk SJ’, Haeri ‘Davichi’, Kim Young Woon ‘Kangin SJ’, Jung Kyung Ho, Kim Jaejoong, Im Siwan, Kim Taeyeon, Joo yeon ‘After School’, Shindong SJ, Jung So Min, Hwang Chansung, Changmin ‘DBSK’

Genre:

Romance, family, action

Rating: PG-17

Part 1

Kabut tebal menyelimuti kota Pyongyang, Korea Utara. Terdengar suara pedang beradu di dalam gumulan kabut pagi itu. Di halaman sebuah rumah yang cukup besar, seorang yeoja remaja berambut panjang yang dikuncir ekor kuda sedang berlatih pedang dengan seorang namja tinggi jakung. Keduanya tampak serius menjalani latihan. Di kala semua orang sedang menikmati mimpi mereka di atas kasur, Gongju dan Jaejoong malah menikmati dentingan pedang mereka yang beradu tanpa henti. Tak terasa latihan telah melewati hitungan menit hingga hitungan jam, 2 jam. Waktu yang terasa tidak lama tapi cukup membuat keduanya berpeluh keringat. Gongju mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah. Permainan tadi benar-benar menguras tenaga. Tidak seperti biasanya, kali ini Gongju dan Jaejoong latihan seakan sedang bertarung beneran.

“Kau harus lebih sering olahraga, Gongju-a.” Jaejoong memberikan sebotol air minum pada Gongju yang sedang meluruskan kakinya dan mengistirahatkan anggota tubuhnya yang lain.

“Eoh, araseo, oppa. Oh ya, nanti sore aku dan tuan muda Myungsoo akan pergi ke pesta rakyat. Apakah oppa ada waktu? Kau bisa ikut kami. Sempatkanlah waktumu untuk mencari hiburan,” kata Gongju yang memberondongi oppanya dengan kata-katanya tanpa titik koma.

“Nanti sore ada pertemuan dengan Jenderal Hwang. Kalian pergi saja.”

“Eoh, gurae. Keunde, oppa, apakah kau akan pergi berkencan?” selidik Gongju yang memicingkan matanya dan melirik ke arah Jaejoong.

“Issh, nappeunyo… anhi. Untuk saat ini belum ada kata yeoja dalam kamus hidupku.” Jaejoong mengacak rambut Gongju.

Kreet…

Suara kursi ditarik keluar dari bawah meja, kemudian seorang namja paruh baya mendudukinya. “Tampaknya Korea Selatan akan mengadakan serangan ke Korea Utara sebagai bentuk penolakan atas keputusan Presiden Kim kemarin.” Namja paruh baya itu menyeruput kopinya.

“Itulah yang aku takutkan. Tentara Korut benar-benar kuat. Apabila benar-benar terjadi perang, apa yang akan kita lakukan?” tanya Jung So Min pada namja yang sedari tadi diajak bicara, Jung Kyung Ho.

Jung Kyung Ho adalah guru Gongju dan Jaejoong. Dialah yang melatih keduanya hingga menjadi seorang ahli pedang, taekwondo, wushu, dan lainnya. Murid kesayangannya, Gongju mendapatkan banyak pujian dari kalangan pejabat. Kecantikan Gongju pun tak luput dari pujian-pujian mereka.

“Kita lihat dulu situasinya. Aku khawatir jika kita salah mengambil tindakan maka akibatnya sangat fatal. Ini menyangkut hidup jutaan orang di Korut dan Korsel.” Kyung Ho menatap kosong pada gelas yang duduk manis di depannya. Tak lama kemudian dia mengingat sesuatu. “Gongju eodi?” tanyaya pada So Min.

“Dia baru saja berlatih pedang, mungkin sekarang sedang membersihkan pedangnya atau malah sudah latihan memanah. Anak itu seperti titisan dewa.” So Min menyimpulkan sudut bibirnya membentuk senyuman. “Oh ya, bagaimana? Apa kau sudah bicara dengan Jenderal Hwang?”

Kyung Ho menggeleng. “Jenderal Hwang akan bicara dengan Jaejoong nanti sore.”

Jung So Min hanya manggut-manggut tanda mengerti.

Cekleeek…

“Songsaenim…” panggil Gongju pada Kyung Ho. Spontan, Kyung Ho dan So Min menoleh ke arah Gongju yang berdiri di depan pintu. “Songsaenim, ada seorang ahli nujum datang kemari. Dia menunggu di halaman depan.”

Kyung Ho baru tahu jika ada seorang ahli ramal yang mencarinya. Gongju dan So Min memandangnya aneh. Tidak biasanya Kyung Ho bertemu dengan ahli ramal.

“Ahjuma, ada hubungan apa songsaenim dengan ahli ramal itu?”

Jung So Min hanya menggeleng.

“Eoh. Gurae, aku kembali latihan, ahjuma.” Lalu Gongju pamit untuk latihan memanah.

Gongju berjalan menyusuri jalan yang jarang sekali dilalui orang-orang hanya untuk sekedar lewat atau mencari sesuatu. Tak memakan waktu hingga 5 menit, ia sampai di depan sebuah bagunan tua yang cukup luas. Bangunan itu dulunya adalah sebuah gedung olahraga di kota setempat. Karena sudah tak terpakai, akhirnya bangunan itu digunakan oleh Jung Kyung Ho untuk melatih beberapa muridnya, termasuk Gongju dan Jaejoong. Hampir satu langkah dilalui Gongju memasuki gedung itu tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Diam tak bergerak. Itulah yang dilakukan Gongju sesuai apa yang diajarkan oleh Kyung Ho jika ada seseorang yang melakukan sesuatu padanya seperti saat ini. Gongju waspada, tangan kanannya mengepal siap melancarkan pukulan jika orang itu berniat tidak baik padanya.
“Kau akan berlatih?” tanya seorang namja. Gongju lega karena ternyata dia mengenal suara itu, bahkan sangat mengenalnya.
Gongju membalikkan badan. Sejurus kemudian senyum tersimpul manis di wajah cantiknya. “Nde. Apa tuan muda juga ingin berlatih?” tanya Gongju balik. Namja yang dipanggil dengan sebutan ‘tuan muda’ tidak lain adalah Kim Myungsoo, putra presiden Korut.
Myungsoo dan Gongju berlatih memanah bersama. Tak jarang mereka tertawa bercanda ria. Ya, keduanya telah saling mengenal saat masih kecil.

Flashback
“Gongju-a, apa kau akan selalu melakukan sirkus itu?” tanya Myungsoo kecil. Gongju tidak menjawab. Ia hanya tersenyum pada Myungsoo.
“Kami hidup dari hasil permainan sirkus, tuan muda. Apabila aku berhenti melakukannya, itu berarti aku tidak bersyukur karena Tuhan masiih memberikan hidup padaku.” Gongju memakai kostum untuk aksi sirkus/akrobatnya.
Dari kecil, Gongju dan Jaejoong terbiasa melakukan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan layaknya anak-anak biasa. Mereka berdua harus bekerja keras membantu orangtua angkat yang telah sudi memberikan penghidupan pada mereka. Inilah yang dimaksud sebagai rasa syukur.
Sejak kecil, kedua anak itu berlatih pedang, karate, wushu, memanah hingga taekwondo. Guru mereka, Jung Kyung Ho, tak pernah mengajarkan pada mereka untuk menggunakan senjata api. Menurutnya, senjata api hanyalah dipakai untuk orang penakut. Mereka takut menghadapi lawan secara langsung.
Gongju telah selesai memakai kostum yang akan ia gunakan untuk akrobat nanti. Myungsoo mendekatinya lalu memberikan sebuah kalung keberuntungan pada Gongju agar hasil dari permainan akrobatnya nanti lebih banyak dari kemarin. Agar keluarga Gongju bisa makan enak. Gongju pun langsung memakai kalung pemberian Myungsoo.
“Gongju-a, semoga sukses,” teriak Myungsoo yang nelambaikan tangannya menatap Gongju yang semakin jauh. Myungsoo senang bisa memberikan sesuatu pada Gongju.
“Nde, gamsahamnida tuan muda!” teriak Gongju yang sudah menjauh.
“Semoga kalung keberuntungan itu benar-benar memberikan keberuntungan untuknya,” gumam Myungsoo yang menatap kosong ke jalanan karena Gongju sudah tidak terlihat.
Sedari kecil, Myungsoo, Gongju dan Jaejoong sering berlatih pedanfmg bersama. Kadang mereka melakukan real exercise untuk ujian yang diberikan oleh guru mereka, Jung Kyung Ho.
Flashback end.

Di ibukota Korea Selatan, Seoul, seorang putri presiden sedang tidak berselera makan. Park Soo Hee, gadis itu selalu merasa kesepian. Dulu waktu Korut dan Korsel masih bersahabat, keluarganya sering berkunjung ke Korea Utara, bertemu dengan keluarga presiden Korut. Makanan lezat yang sudah dihidangkan di depan matanya tak bernilai apa-apa baginya. Padahal di luar sana masih banyak sekali orang yang mengais rezeki untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dengan mengemis, menjadi buruh, kerja paruh waktu, dan lainnya.
“Agassi, makanan ini sudah hambar, saya akan mengantarkan makanan yang lain.” Seorang pelayan istana presiden dengan setia melayani makanan sang putri. Tak ada suara. Selalu seperti itu.
Ceklek…
Pintu kamar Soo Hee dibuka oleh seseorang yang ternyata eommanya. Soo Hee berhambur memeluk eomma-nya. “Eomma, apa aku masih bisa pergi ke Utara?” tanya Soo Hee manja.
“Chagiya, untuk saat ini situasi masih genting. Keputusan presiden Korut untuk menyerang kita tidaklah main-main.” Park So Jin membelai lembut rambut panjang putrinya. “Jika situasinya tak seperti ini, kau pasti bisa main k sana.”
“Eomma, Selatan jauh lebih indah dari Utara. Tapi aku merasa sangat kesepian di sini. Aku ingin bermain dengan Myungsoo oppa,” rengek Soo Hee yang duduk bersandar di bahu eommanya.
“Kau bersabarlah dulu, chagiya. Semuanya butuh waktu. Tidak semudah membalikkan telapak tangan,” terang So Jin pada putrinya.
Pelayan yang tapi mengambil makanan Soo Hee, kembali dengan nampan yang dipenuhi makanan enak dan bergizi. Lagi-lagi Soo Hee tidak mau menyantapnya meski sekedar satu atau dua suap. Eommanya hanya bisa menggeleng kepala melihat perilaku putri kesayangannya.
“Eomma, dimana eomma Haeri? Hari ini aku belum melihatnya sama sekali.”
“Eomma juga tidak tahu, chagi. Aku akan meminta pelayan untuk mencari dimana keberadaan eomma Haeri,” tawar So Jin untuk menyenangkan putrinya.
“Tidak perlu, eomma. Nanti aku sendiri yang akan mencarinya.”

Jenderal Shin menghadap presiden Park untuk melaporkan situasi terakhir di perbatasan. Jenderal Shin adalah orang kepercayaan presiden, lebih tepatnya tangan kanan presiden. Apapun rencana dan keputusan presiden, ia pastilah mengetahuinya. Kecakapan dan kegesitannya dalam bertempur membuat Presiden Park semakin yakin bahwa Jenderal Shin memang dapat diandalkan. Di Korea Selatan, tentara mendapatkan perlakuan khusus dari pemerintah. Tentu saja ada maksud tersembunyi di balik semua itu.
“Pyeha (panggilan untuk orang yang memiliki jabatan paling tinggi di Korea), situasi dan kondisi di perbatasan sedikit tegang.”
“Apa maksudmu?”
“Kami memberlakukan pemeriksaan menyeluruh kepada orang-orang yag masuk dan keluar dari dan ke Korea Selatan. Kami menemukan dua orang warga asli Korea Utara membawa senjata tajam dan sepucuk revolver. Orang itu kami tangkap atas dugaan mata-mata dari Utara. Mohon petunjuk jeoha.”
“Hmm, interogasi mereka. Buatlah mereka mengatakan apa yang sejujurnya. Aku semakin tidak percaya pada Utara. Ucapan presiden Kim yang ingin menyerang kita, sampai saat ini masih menyisakan luka di hati rakyat Korea Selatan. Katakan pada petugas penjaga penjara untuk memperketat penjagaan para tahanan. Dan kau, lanjutkan tugasmu di perbatasan. Jika terjadi sesuatu yang mencurigakan, segera laporkan padaku.” Presiden Korsel menghela nafas panjag lalu menghembuskan perlahan.

Beralih ke Utara. Sore ini, sesuai janji, Gongju akan pergi menikmati pesta rakyat Korea Utara yang diadakan tiap tahun. Gongju melakukan beberapa persiapan karena dia akan pergi dengan Myungsoo. Berbeda dengan penampilan sehari-hari, kali ini Gongju membiarkan rambutnya yang baru saja dipotong lebih pendek itu terurai. Dipandangnya pantulan dirinya di depan cermin. Ia berpikir tentang dirinya sendiri. Siapa dia? Siapa orangtua kandungnya? Dimana orangtua kandungnya berada? Bagaimana keadaan keluarganya? Semua itu terngiang di otanya lagi dan lagi. Gongju merasakan matanya sedikit berair, diusapnya dengan saputangan. Tunggu, sapu tangan itu pemberian Myungsoo saat mereka masih kecil. Gongju tersenyum kecil melihat sapu tangan warna peach yang ia pegang. Dengan kostum sederhana, celana jeans panjang warna biru tua dipadukan dengan kaos lengan pendek berwarna biru muda dan jaket hitamnya. Gongju sama sekali tidak memiliki satu dress pun. Yang dimiliki hanya pakaian seperti namja karena menurutnya itulah pakaian yang sesuai dengan karakternya. Seseorang tidak perlu memaksakan diri untuk tampil sempurna di depan orang lain. Menjadi diri sendiri saja sudah cukup untuk tampil sempurna karena setiap manusia pasti tidak bisa hidup tanpa percaya diri.
Setelah selesai bersiap, Gongju menyembunyikan pedangnya di tempat yang tidak akan dilihat orang. Pedang kesayangannya tidak mungkin dibawa kemana-mana. Sekarang ini bukanlah jaman Goguryeo atau Joseon. Ini adalah zaman modern yang tidak semua orang diizinkan memiliki senjata seperti pedang. Pedangnya dudah di tempat yang aman. Gongju kembali ke kamarnya, mengambil dua buah pisau lipat. Satu disimpan di saku dalam jaketnya, sedangkan yang satunya lagi dimasukkan ke dalam sepatu bagian samping kiri. Gongju selalu melakukan hal itu untuk melindungi diri saat tak memegang pedangnya.

Jalan raya tampak ramai orang berlalu lalang. Salah satu tujuan mereka mungkin sama dengan Gongju. Gongju lebih menyukai berjalan kaki untuk menempuh jarak yang tidak terlalu jauh. Kata oppanya, Jaejoong, ia harus sesering mungkin berolahraga.
Bunga sakura yang tumbuh sebagai awal musim semi menghiasi sisi kanan-kiri jalan yang dilalui Gongju. Tak berapa lama kemudian dia sampai di tempat yang diminta oleh Myungsoo. Myungsoo belum datang. Gongju akhirnya menunggu Myungsoo beberapa lamanya.

“Gongju-a, ah, mian, aku telat. Apakah kau sudah menunggu lama?” tanya Myungsoo yang langsung mengambil posisi duduk di samping Gongju.
“Gwaenchana, tuan muda. Aku tiba di sini setengah jam yang lalu.”
“Mwo? Setengah jam? Ah, jongmal mian. Itu bukan waktu yang sebentar. Oh ya, sebagai permintaan maaf, aku akan membelikanmu es krim. Otte?”
Gongju mengangguk pelan. Keduanya mendekati penjual es krim lalu menikmati es krim bersama-sama.
“Aku ingin mengambil selca kita berdua. Otteyo? Kau tidak boleh menolak.” Myungsoo menarik Gongju masuk ke dalam Photobox dan mengambil beberapa selca. Myungsoo tersenyum puas melihat hasilnya. “Waaah daebak! Hasilnya bagus. Johae…” Myungsoo memberikan dua lembar foto pada Gongju, sedangkan dia sendiri menyimpan 3 lembar foto. Gongju pun tersenyum melihat hasil foto itu.
Myungsoo dan Gongju menikmati acara pesta rakyat dengan semangat. Di berbagai arena permainan, Myungsoo selalu memenangkan hadiah yang diberikan pada Gongju. Selesai melakukan ritual-ritual pesta, keduanya berjalan kaki di sekitar taman kota. Sebenarnya Gongju merasa sedikit minder jika bersama Myungsoo. Namun Myungsoo.tak.menyadari hal itu. Ia menganggap statusnya dengan Gongju adalah sama. Bahkan Myungsoo sangat mengagumi Gongju karena lihai dalam karate dan yeoja itu juga ahli pedang terbaik di Korea Utara.

Di perjalanan pulang, Myungsoo dan Gongju berpisah. Gongju menolak diantar Myungsoo sampai ke rumah. Alasannya simpel. Ia sungkan.
Gongju kembali melalui jalan yang dipenuhi guguran bunga sakura yang indah. Ia berhenti sejenak di tempat itu. Melihat keindahan bubga khas Korea-Jepang itu. Dari kejauhan, Gongju melihat sosok oppanya berjalan dengan seorang namja bertubuh kekar. Ia pun berlari mengejar oppanya yang saat semakin dekat dengannya. Dilihatnya namja itu pergi dengan melambaikan tangan pada oppanya.

“Oppa!” panggil Jiyeon yang sudah berdiri di belakang Jaejoong dengan jarak 6 meter darinya.
Jaejoong berbalik, ia pun terkejut melihat Gongju sudah standby di sana. “Yaak, sedang apa kau di sini?” tanya Jaejoong dengan ekspresi yang masih bisa ditebak, terkejut dan penasaran kenapa Gongju berada di sana.
“Aku dalam perjalanan pulang oppa.” Jiyeon mengamati sekitarnya kemudian bertanya pada Jaejoong,” Oppa, apa ahjussi tadi itu Jenderal Hwang yang terkenal sangat cekatan dan disiplin?” tanya Jiyeon selidik.
“Ahjussi? Yaak, usianya sama denganku, pabbo.” Jaejoong mengacak rambut Gongju yang tadi tertata rapi, kini malah terlihat lusuh. Gingju menggerutu kesal. “Kajja pulang. Aku punya sesuatu untukmu.”
“Jongmal? Waaah, oppa memang top!” puji Gongju pada Jaejoong.
Gongju dan Jaejoong menyusuri jalan yang mulai gelap. Gongju minta digendong oppanya. Ia selalu bermanja ria pada oppanya. Jaejoong tak pernah menolak permintaan Gongju.
“Oppa, katamu punya sesuatu untukku…” Gongju menggeletakkan kepalanya di bahu Jaejoong.
“Eoh. Kau tahu Jenderal Hwang tadi?”
“Eoh. Wae?” tanya Gongju malas.
“Tadi Jenderal Hwang mengatakan padaku bahwa presiden memintamu untuk menjadi pengawal pribadi putranya.”
“Putra yang mana?” tanya Jiyeon heran.
“Kim Myungsoo. Beliau memintamu datang besok pagi. Dan mulai besok kau resmi menjadi pengawal pribadi Kim Myungsoo. Otte? Haengbokaeyo?”
“Anhi. Aku takut oppa.”
“Takut kenapa? Harusnya kau senang karena setiap hari bisa bersama Myungsoo.”
“Putra presiden sama pentingnya dengan presiden. Apa aku bisa menjadi pengawalnya?”
“Hanya kau yang pantas mendapatkannya, Gongju-a.” Mereka sampai di depan rumah. Gongju turun dari punggung Jaejoong.
“Gurae. Aku akan melakukannya demi oppa dan demi Myungsoo.” Gongju menunjukkan sikap tanggungjawabnya.

Keesokan harinya, seperti biasa, Gongju dan Jaejoong latihan di halaman rumah. Berbeda dengan yang kemarin. Hari ini Kyung Ho mengawasi mereka. Ilmu bela diri keduanya semakin meningkat. Itulah yang membuat Kyung Ho bangga pada mereka. Selesai latihan, Kyung Ho memanggil Jaejoong.
“Jaejoong-a, apa Gongju menerima perintah itu?” tanya Kyng Ho. Tatapan matanya menerawang jauh ke depan.
“Nde, songsaenim. Aku meyakinkannya untuk menerima tawaran itu. Keunde, kemarin apa yang dikatakan oleh peramal? Siapa yang memanggilnya kemari?”
Kyung Ho menatap Jaejoong beberapa detik kemudian beralih melihat Gongju yang sedang membersihkan pedangnya. Ia menarik nafas dalam sebelum menjawab pertanyaan Jaejoong. “Peramal itu, aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Katanya, akan ada dua matahari yang bertabrakan dan akan ada bulan yang menabrak matahari. Aku sendiri juga belum mengerti arti kata-kata itu.” Kyung Ho nampak beepikir mengenai hal yang baru saja ia katakan.
“Songsaenim. Aku akan membantumu memecahkan teka teki itu. Percaya atau tidak pada peramal itu, kita harus tahu apa arti teka teki si peramal.”Jaejoong meyakinkan Kyung Ho.
“Gurae. Aku yakin kau bisa membantuku. Jaejoong-a, aku minta padamu untuk mengawasi dan menjaga Gongju. Kau yang tahu semua tentangnya. Oh ya, aku sudah mendengar kabar ibumu. Pasalnya, dia diberi racun pelumpuh syaraf oleh Haeri.”
Mendengar kata-kata tentang ibunya membuat Jaejoong sakit hati.
“Ini pasti berkaitan dengan masa lalu Gongju. Sebelumnya kejadian itu, aku melihat istri presiden Park dan eomma menangis tersedu melihat kami berdua di dalam sebuah mobil box yang membawa kami ke Korea Utara.”
“Semua akan terungkap cepat atau lambat. Hanya waktu yang dapat menjawabnya. Aku harap kau bersabar dulu. Ibumu pasti akan sembuh dan bersaksi di depan semua orang tentang Gongju.”

Di dalam istana, Gongju menghadap presiden Kim. Pakaian serba hitam yang dikenakannya terlihat seperti seorang pengawal. Punggungnya dihiasi pedang warisan seseorang yang berasal dari Jepang.
“Appa, apa benar appa memerintahkan Gongju sebagai pengawalku?” tanya Myungsoo dengan ekspresi tidak percaya bahwa appanya memberikan pengawal wanita untuk menjaganya. “Apa aku akan selalu dikawal oleh Gongju? Kenapa aku butuh pengawal? Aku bisa menghadapi musuh sendiri appa.”
“Myungsoo-a, sejak kapan kau banyak bicara seperti itu. Aku melihat ilmu beladiri Gongju meningkat pesat. Aku yakin kemampuannya di atas kemampuanmu. Kau tidak bisa menolak ini.” Presiden Kim dengan santainya menikmati sajian pagi itu itu. “Gongju-a, mulai sekarang kau akan mengawal putraku kemanapun dia pergi. Jangan sampai terjadi apa-apa padanya.”
“Iye, Jeoha…”Gongju membungkuk pada presiden Kim.

Di ruangannya, Myungsoo hanya berdua dengan Gongju. Ia duduk di atas sofa putih yang terletak di sudut ruangan itu. Sedangkan Gongju hanya berdiri di depannya. Myungsoo menatap intebs pada Gongju, melihat penampilan yeoja itu. “Ternyata kau juga pantas memakai kostum seperti itu. Cocok.” Myungsoo melihat kostum Gongju dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gongju hanya diam dan menunduk. Meski mereka berdua telah akrab selama bertahun-tahun, Gongju tetap malu bila Myungsoo melihatnya seperti itu.
“Tuan muda, Jenderal Lim datang menghadap.” Myungsoo kaget. Batinnya bertanya-tanya mengapa Jenderal sepenting itu datang menghadapnya?
“Masuklah!” seru Myungsoo yang sudah duduk di belakang meja kerjanya.
Seorang jenderal berpangkat tinggi masuk ke dalam ruangan yang dihiasi dengan barang-barang mewah. Di dalam ruangan yang tertata rapi itu, Jenderal Lim menjelaskan maksud kedatangannya.
“Ada apa? Pasti ada sesuatu yang sangat penting.” Myungsoo membuka percakapan.
“Tuan Muda, dua orang penduduk asli Korea Utara ditangkap tentara Korea Selatan di perbatasan. Mereka membawa satu senjata tajam dan satu pucuk revolver asli buatan Korut. Mereka mendyga bahwa penduduk itu adalah mata-mata yang kita kirim.”
“Mwo?” Myungsoo terlonjak kaget. Matanya membelalak. Ia langsung bangkit dari kursinya. “Onje?”
“Kemarin. Menurut saksi mata, dua penduduk itu sekarang dijebloskan ke dalam penjara di Korea Selatan. Presiden Korsel geram atas kejadian ini.”
Tangan Myungsoo mengepal dan terlihat ingin memukul sesuatu atau seseorang. Gongju juga terkejut mendengar kabar ini. Ia tampak berpikir. Memikirkan bagaimana cara membebaskan kedua orang itu.
“Apa kau sudah melaporkannya pada presiden?” tanya Myungsoo dengan tatapan kesal dan serius.
” Presiden memintaku melaporkan wilayah perbatasan pada Tuan muda.”
“Hmm.. Gurae, aku akan mengatakannya pada presiden. Tetaplah menjaga wilayah perbatasa. Perketat penjagaan dan kirimkan saksi mata untuk menyelidiki apa yang dilakukan pihak Korsel terhadap dua penduduk kita yang menjadi tahanannya. Jangan bertindak dulu. Sekarang kau boleh pergi.”
Jenderal itupun meninggalkan ruangan. Gongju menatap kepergian jenderal itu hingga lenyap di balik pintu.
“Aku harus menyelidikinya langsung.” Tiba-tiba Myungsoo mendapatkan satu ide. Ya, ide cemerlang untuk menyelidiki kasus ini.
“Tuan muda, apa yang akan kau lakukan mengenai kasus ini?” Gongju bertanya pada Myungsoo.
“Tuan muda? Hmm kita sudah bersama selama bertahun-tahun. Lagipula ini bukan zaman kerajaan seperi dulu. Meski aku ini pitra presiden, hubungan kita sudah dekat Gongju-a. Mulai sekarang panggil aku dengan sebutan oppa.”
“I, iye? Eoh, nde, op, oppa…”

Tbc.

jangan lupa komennya ya chingu. kritik, saran atau apalah… yang penting komennya aku tunggu ne…

gomawo…🙂

78 responses to “[CHAPTER – PART 1] LOVE IS NOT A CRIME

  1. Wah awal yg baik,, myungsoo suruh jiyeon manggil dia oppa,, moga ajj pertanda baik,,
    Next,,

  2. Pingback: [Chapter 15] Love Is Not A Crime | High School Fanfiction·

  3. Permulaan yg menarik. Myungyeon sudah mmg akrab. Haha. Dan Myungsoo menyuruh Jiyeon memanggil nya oppa. 😏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s