Is It a Curse? [Chap. 9]

It is a Curse

Cast:

Kim myungsoo
Park jiyeon

Other cast:
Park chanyeol

Genre: Fantasy,Romance, Sad/ Hurt

Author : @kethychan

A/N: Ini ff murni keluar dari otak ku, mungkin jika ada sedikit kesamaan itu hanya lah kebetulan semata. Please don’t siders and don’t plagiat ok😉

Summary: Apa ini sebuah kutukan? Jika memang ini sebuah kutukan kenapa harus aku yang mengalami semua ini? Kenapa tidak orang lain saja? Aku benci berada dalam situasi seperti ini!!

Backsong : Hyun ah –Can you love [ ost her lovely heels]
Entah kenapa saat menulis ff ini, aku ngerasa nyaman dan feel nya dapat pas denger lagu ini. Tapi aku gak tahu klo kalian[up to you] hanya recommend aja kq😀

Story Begin~

Author P.O.V

Myungsoo menatap dalam kearah Chanyeol. Percakapan singkat yang ia dengar tadi seketika memunculkan berbagai macam pertanyaan di benak nya. Sosok yang di tatap hanya membalas dengan tatapan kosong nan tertekan. Myungsoo menghampiri Chanyeol, di sentuh nya pundak Chanyeol, bermaksud untuk meyakin kan namja tersebut bahwa tak apa –apa jika namja itu ingin bercerita dengan nya. Terdengar tarikan nafas gusar dan sedetik kemudian Chanyeol menceritakan awal dari sikap Jiyeon yang berubah seperti ini.

Myungsoo mendengarkan cerita Chanyeol dengan tatapan yang sangat tak percaya. Ia cukup shock dengan kehidupan masa kecil Jiyeon yang begitu suram dan menyakitkan. Kehidupan masa kecil yang harus nya di hiasi oleh tawa dan kebahagian. Tapi, ini berbanding terbalik. Jiyeon menghabiskan masa kecil nya dengan keterpurukan dan rasa tertekan. Tubuh Myungsoo seketika melemas setelah mendengarkan cerita Chanyeol tersebut.

“Inikah alasan semua orang takut dengan Jiyeon? Dan inikah alasan namja –namja kemarin menculik Jiyeon?” batin Myungsoo parau.

“Melihat dongsaeng ku seperti ini rasa nya sangat sakit sekali, apakah penderitaan nya selama ini belum cukup pula. Aku tak ingin kehilangan nya, aku belum sempat membuat nya bahagia dan tertawa dengan lepas. Jika boleh, aku ingin bertukar tempat dengan nya, cukup sampai disini ia merasakan penderitaan, aku hanya ingin melihat nya tersenyum bahagia.” Parau Chanyeol, Myungsoo menghembuskan nafas nya berat dan di tepuk pelan pundak Chanyeol.

“Hyung, percayalah Jiyeon pasti akan baik –baik saja. Dan aku berjanji akan membuat Jiyeon kembali seperti Jiyeon yang dulu, kau bisa memegang janji ku hyung” gumam Myungsoo berusaha meyakin kan Chanyeol.

“Geurae, aku percaya pada mu dan aku juga sangat berharap banyak pada mu”

Author P.O.V end

Jiyeon P.O.V

Mata ku perlahan –lahan terbuka. Di mana ini? Tempat macam apa ini? Perlahan –lahan aku menyusuri tempat bernuansa putih ini. Sama sekali tak ada tanda –tanda kehidupan, apakah ini surga? Apakah appa ada disini?. Kaki ini terus melangkah tak tentu arah. Tampak di penglihatan ku, di ujung dari jalan ini nampak seberkas cahaya yang sangat menyilaukan mata, ku percepat langkah kaki ini menuju seberkas cahaya tersebut.
Bagai memasuki sebuah dimensi lain, tempat ini jauh berbanding terbalik dengan tempat sebelum nya. Aku kini melihat sebuah rumah berdesain minimalis dengan di kelilingi oleh tanaman bungan terawat. Hanya ada sebuah rumah itu saja, dan sekitar nya di tumbuhi oleh pohon –pohon rindang. Mungkin tempat ini bisa di bilang seperti hutan. Perlahan aku mulai memasuki pekarangan rumah tersebut. Indara penciuman ku menangkap sebuah aroma yang sangat sedap. Tempat ini berpenghuni.

Tok

Tok

Tok

Ku ketuk pintu itu 3 kali, namun tak ada respon sama sekali di dalam nya. Apakah sang pemilik rumah sedang pergi? Entah lah. Aku beralih menuju taman bunga yang masih berada di pekarangan tersebut. Di sana ada sebuah ayunan, melihat itu mata ku berbinar –binar. Segera saja aku duduk di ayunan itu dan mengayunkan nya.

“Andai appa ada, mungkin sekarang appa yang mendorong ayunan ini” parau ku yang terus saja menatap alam di sekitar ku.

“Suasana yang sangat damai, di tempat ini tak ada yang mengenal ku. Tempat impian ku”

Ceklek

Suara pintu terbuka, sontak saja aku menghentikan pergerakan ayunan ini, aku membalikkan tubuh ku dan melihat sosok yang membuka pintu tersebut. Diri ini cukup terperangah saat melihat sosok yang berada di hadapan ku.

“Ap –appa? Be –benarkah I –ini ap –appa?” ucap ku terbata. Sosok di hadapan ku hanya tersenyum teduh. Senyuman yang sangat kurindukan selama ini. Tanpa banyak kata lagi langsung saja ku rengkuh tubuh namja tersebut, dapat ku rasakan appa membalas pelukan ku.

Hiks hiks hiks

Tangis ku pecah. Aku sangat merindukan appa. Sangat –sangat merindukan appa. Aku ingin appa kembali kesisi ku. Ani, tetapi ke sisi kami.

“Uljima, jiyeonnie. Appa disini” appa mengelus rambut lembut penuh kasih sayang, saat ia akan melepaskan pelukan ini. Aku menahan nya.

“Andwae, jika aku melepaskan pelukan ini pasti appa akan pergi. Andwae! Hajimanyo appa” isakan ku semakin keras, appa terus saja mengelus rambur lembut, di kendurkan nya pelukan ini dan di hapus jejak air mata ku.

“Appa tak akan pergi, appa selalu berada di sisi Jiyeonnie. Jadi uljima, nde” pinta appa padaku. Seketika saja isakan ku terhenti. Aku menatap appa dalam.

“Appa, Jiyeon ingin selalu berada di sisi apa, Jiyeon sudah lelah dengan kenyataan hidup yang Jiyeon hadapi selama ini, Jiyeon ingin di tempat ini bersama appa” ucap ku mantap dan ku sertakan senyuman yang snagat bahagia.

“Itu bukan kenyataan melainkan takdir mu Jiyeonnie. Itu bukan lah takdir yang buruk, benar seperti perkataan oppa mu. Itu adalah kelebihan”

“Eh? Bagaimana appa tahu apa yang di katakana Chanyeol oppa?” aku mengerutkan alis ku. Bagaimana appa bisa tahu?

“Tentu saja appa tahu, walau raga appa tak ada di sisi kalian. Tapi jiwa appa selalu menyertai kalian. Appa selama ini selalu mengawasi kalian, jadi appa tahu apa yang terjadi pada keluarga tersayang appa” jawab appa dengan senyuma angel nya. senyuman yang selalu mampu membuat dunia ku terasa sangat damai dan teduh.

“Kelebihan? Benarkah itu sebuah kelebihan? Tapi, tetap saja Jiyeon ingin berada disisi appa, titik!” seru ku. untuk sekian kali nya appa hanya tersenyum kecil melihat tinggakah ku. Appa kah ada yang lucu?

“Tentu saja Jiyeonnie. Appa kau sudah yakin dengan keputusan mu? Bagaimana dengan oppa dan eomma, apa kau yakin ingin pergi meninggalkan mereka? Bukan kah tadi kau sempat berdoa agar di beri satu kesempatan agar bisa berada di sisi eomma dan oppa mu, bukankah kau ingin membuat mereka bahagia. Bagaimana dengan perasaan mu terhadap Myungsoo, apakah kau ingin berhenti sampai disini tanpa berusaha untuk mengetahui lebih jauh lagi tentang perasaan itu?”jelas appa panjang lebar, seketika aku bungkam dan tak dapat berkata banyak. Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?.

“Bagaimana Jiyeonnie? Apa kau masih bersikeras ingin berada di sisi appa dengan melupakan perasaan orang –orang yang berada di sisi mu?” desak appa. Mendengar ucapan nya membuat ku menjadi bimbang dengan keputusan ku sendiri

Jiyeon P.O.V end

Author P.OV

Chanyeol kini nampak gusar, karena dokter tak kunjung keluar dari ruangan Jiyeon. Separah itukah luka Jiyeon?. Dewa langit, dewi fortune tolong lindungi Jiyeon dan biarkan dia tetap berada di sisi kami. Batin Chanyeol berdoa. Tak lama dokter dan para suster telah keluar dari ruangan operasi Jiyeon, langsung saja Chanyeol langkahkan kaki ini mendekat kearah dokter tersebut.
“Dokter bagaimana keadaan adik saya? Tanya Chanyeol dengan ekspresi panik nya. Myungsoo yang berada di belakang Chanyeol hanya menatap penuh harap dengan ucapan yang akan di keluarkan oleh dokter di hadapan nya.

“Nona Jiyeon mengalami koma dan kami belum bisa memastikan kapan yeoja itu siuman”darah Chanyeol berdesir, ia merasakan tubuh nya kembali lemas dan dalam sekejap mata pandangan Chanyeol gelap.

“Hyung! Hyung, ireona… ireona” Myungsoo menggoyang –goyang kan pelan tubuh Chanyeol. Ia tahu namja ini sangat shock mendengar perkataan dokter, ia juga tahu Chanyeol sangat –sangat mengkhawatirkan Jiyeon dan menyayangi Jiyeon, ia tahu Chanyeol sangat tak ingin kehilangan dongsaeng kesayangan nya itu.

Setelah membawa Chanyeol keruangan UGD. Myungsoo kini telah memasuki ruangan Jiyeon. Yeoja itu terkulai lemah di tempat nya, mata nya mengatup rapat. Yang terdengar diruangan itu hanya suara alat medis yang begitu nyaring. Myungsoo mendudukkan diri nya di kursi kecil di dekat ranjang Jiyeon , mata nya menerawang di tiap lekukan wajah yeoja itu.

“Ya! Yeoja pabo! Kenapa kau mempertaruhkan nyawa mu sendiri demi orang lain, apa kau sudah tahu kematian yeoja kecil itu maka dari itu kau ingin menukar nya dengan nyawa mu. Neo jinjja michiseo! Ya! Setidak nya jawab dulu pernyataan cinta ku, jangan melakukan hal seenak nya seperti ini…” parau Myungsoo yang air mata nya telah mengenang di pelupuk mata nya.

“Ya! Apa kau tak memikirkan perasaan eomma mu, oppa mu dan aku eoh?! Kau tahu, oppa mu jatuh pingsan karena mendengar kau koma. Jadi palliwa bangun, hem! Jebalyo, PARK JIYEON BANGUN LAH!” desak Myungsoo. Yang kini jemari nya telah menggenggam erat jemari Jiyeon.

“Kau tahu, semenjak aku bertemu dengan mu saat di kelas, kau sudah menyita perhatian ku, hanya kau saat itu yang mengacuhkan ku, hanya kau yang membenci ku di sekolah, hanya kau yang tak menginginkan keberadaan ku, hanya kau seorang. Dan sikap mu itu lah yang membuat ku tertarik dengan mu, awal nya aku kira kau adalah renkarnasi dari Hana. Tetapi, hal itu salah besar, kalian adalah orang yang berbeda. Namun, sikap kalian itu hampir sama, karena hanya kalian yang mampu membuat ku sangat khawatir, hanya kalian yang bisa membuat ku ingin selalu berada di sisi kalian dan ingin melindungi kalian. Hanya kalian. Namun, rasa sayang ku pada Hana itu hanya sebatas saudara laki –laki yang ingin selalu menjaga yeodongsaeng nya. Tetapi, jika bersama mu aku tak bisa memperlakukan mu sama seperti Hana. Jika di sisi mu, aku selalu ingin menjaga dan berada di sisi mu sebagai seorang namja yang menjaga ‘yeoja nya’. Aku tahu ini terlalu cepat dan begitu tiba –tiba, namun ketahui lah, bukankah cinta tak memerlukan waktu…” Myungsoo menggantung kan kalimat nya, ia menghembuskan nafas berat nya dan kembali melanjukan kalimat nya

“Jadi aku mohon Park Jiyeon bangunlah! Aku sangat –sangat menyukai mu, ah! Ani, lebih tepat nya aku sangat mencintai mu, cepatlah bangun dan balas pernyataan cinta ku ini.” Suara ku memarau, mata ku terus saja terfokus pada sebuah objek yang terkulai lemah di atas ranjang ini. Aku sangat berharap ia mendengar perkataan ku dan segera bangun dari tidur nya.

Tittttt… tittttt

Suara mesin medis itu terdengar sangat nyaring di telinga Myungsoo dan dilihat nya alat pendektektor jantung di samping kanan nya Jiyeon. Angka yang tertera di sana perlahan –lahan jumlah nominal nya semakin kecil. Melihat hal tersebut Myungsoo pun menekan beberapa kali tombol merah yang berada di dekat infuse.

“Ya! PARK JIYEON BANGUN!!! BERTAHAN LAH!” teriak Myungsoo frustasi. Beberapa dokter telah memasuki ruangan Jiyeon dan meraka telah mengeluarkan alat –alat medis, seorang suster memaksa Myungsoo untuk keluar dari ruangan Jiyeon.

“Jiyeon! BANGUNLAH, JANGAN PERGI. JEBAL KAJIMA!” teriak Myungsoo frustasi dengan air mata yang telah membanjiri wajah nya. Suster itu dengan paksa mengeluarkan Myungsoo dari ruangan. Myungsoo menyenderkan tubuh nya di pintu ruangan Jiyeon, di usapkan wajah nya gusar.

“Jebal jangan tinggalkan aku,” lirih Myungsoo.

Baru saja aku merasakan semangat hidup ku kembali, apakah kali ini juga kau akan mengambil nya? Jebal di dunia ini hanya dia yang ku punya, hanya dia yang bisa membuat ku merasa hidup kembali. Tolong beri dia kesempatan. Batin Myungsoo berdoa.

Author P.O.V end

Jiyeon P.O.V

Aku mendengar sebuah suara. Suara yang sangat aku kenal, suara seseorang yang beberapa waktu belakangan ini selalu mengusik hidup ku. Tunggu dulu, suara nya memarau, apa dia menangis? Dia seperti bukan Myungsoo yang ku kenal. Namja menyebalkan itu menangis. Hei! Ada apa ini? Apa dunia akan kiamat?! Konyol sekali.
Dia menangis. Menangisi diriku, untuk apa?. Benarkah dia menyukai ku? Apakah ia menangis karena takut kehilangan ku?! hahaha~ itu benar –benar konyol.

“Jiyeonnie, apa kau dengar suara itu? Bukankah itu suara Myungsoo, dia sangat menginginkan mu kembali. Apakah kau tak berniat kembali?” appa kembali membujuk ku, aku hanya mendesah pelah.

“Aku hanya ingin berada disisi appa,” jawab ku singkat.

“Mungkin kau ingin berada disisi appa, tapi tidak dengan hati mu. Pikirkan lah baik –baik keputusan mu, sebelum kau menyesal nanti nya” lirih tuan Park berusaha untuk meyakinkan kembali keputusan putri kesayangan nya itu

To Be Continue…

PS: Eottokhae? Gajekah? Ato makin absturd?
Author butuh inspirasi eksra buat part ini, bener2 menguras energy nulis part ini [Lebay lo thor -_-] nah! Di part ini Myung dah kethy buat lebih menunjukan rasa suka nya dengan Jiyi, eotte? Dan disini juga Myung dah dapet lampu ijo dari Chanyeol [Hore… jingkrak –jingkrak gaje]…
Kethy butuh pesan dan kesan klian saat baca FF ini… Gomawo buat para readerdeul yang udah menjadi pembaca setia FF ini dan mw ngikutin terus perjalanan cerita gaje ini -_-. Next Chap di tunggu aja yang readers. Oh ya sekedar info ajh Kethy mw Hiatus nh,, FF ini bakal Soon kmebali 2 bulan lagi,,, Kethy hiatus karena di sbuk kan dengan kegiatan N tugas2 yg begitu menumpuk [kalian thu lh yg terkena imbas kurikulum 2013 -__-] jdi harap bersabar nde readerdeul😉
Dan thank’s for SIDERs… Annyeong~ Pyong~

35 responses to “Is It a Curse? [Chap. 9]

  1. Hiks hiks baca part ini airmata aku sampe ngebanjirin kamar akuu,, #plakk lebay beuudd,,,
    Tapi sumpah thor baca’y sedih bggt,, author daebakk deh,,
    Lanjut baca nee penasaran tingkat ddewa niie,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s