[CHAPTER – Part 3] My Jiyi

MYJIYI CAST MYJIYI

Sebelumnya : Teaser | 1 | 2

Park Jiyeon menatap karton  bertuliskan “GOOD WILL NEVER DIE! WE LOVE YOU FOREVER!” di depan meja belajarnya dengan tersenyum puas. Sementara itu, Eunji datang tergopoh-gopoh untuk menyalakan televisi di dalam kamar Jiyeon.

“Lihatlah!” ucap Eunji seraya menunjuk televisi yang sedang menayangkan acara tentang kabar Good Will siang itu.

Jiyeon terdiam sementara dirinya begitu serius memperhatikan tiap kata yang terlontar dari bibir si pembawa acara berita yang sedang membicarakan pasal keputusan yang akan PJJ Entertainment ambil buat Good Will. Begitu acara selesai, Jiyeon seperti biasa, terjatuh duduk dengan tubuh lemas. Matanya pun menerawang ke arah karton yang baru saja selesai di buatnya.

“Good Will vakum,” gumam Eunji. “Aku sudah menebaknya dari awal. PJJ pasti akan membuat keputusan seperti itu setelah salah satu artisnya yang menyebalkan itu membuat ulah.”

“Baru saja aku akan melakukan demo di depan kantornya…” gumam Jiyeon tiba-tiba, membuat Eunji otomatis tersontak kaget.

“Mwo? Demo?” tanya Eunji. “Yeonchu-ah, kenapa kau selalu berpikir gila seperti ini? Tidak ada gunanya kau melakukan hal itu. PJJ tidak akan merubah keputusan mereka hanya karena melihat wajah ibamu sedang memegang karton ini di depan kantor mereka.”

“Aku hanya ingin Good Will tetap mengudara, aku ingin wajah Seungri-Oppa selalu menghiasi layar kacaku ini,” ucap Jiyeon mulai terisak.

“Aigooo…” desah Eunji seraya mengurut keningnya sementara matanya menatap miris wajah sahabatnya yang sedang terisak ini.

“Apa mungkin aku harus mendatangi dorm Seungri-Oppa sekali lagi?” ucap Jiyeon mengusulkan hal yang sama gilanya dengan  demo tadi.

“Kau benar-benar keras kepala,” desah Eunji seraya merebahkan diri di atas ranjang Jiyeon. “Terserah kau saja. Kau mau berbuat hal gila apa lagi, aku tidak akan ikut campur.”

“Eunji-ah, kau satu-satunya sahabatku sekaligus…”

“Satu-satunya orang yang mau mengerti akan kegilaanmu yang semakin hari semakin membuatku kesal,” sela Eunji menuntaskan kalimat Jiyeon. “

“Kau kejam sekali,” gerutu Jiyeon seraya melipat gulungan karton di atas meja belajarnya.

“Pikirkan ini semua baik-baik, Jiyeon-ah,” ucap Eunji yang merasa ucapannya tadi agak kelewatan. “Pertama, ayahmu tidak pernah suka dengan semua tindakan aneh yang kau lakukan hanya untuk mendukung artis menyebalkan itu. Kedua, jika Good Will memang benar-benar vakum, itu tidak akan lama. Kau hanya perlu menunggunya dengan sangat bersabar sampai akhirnya PJJ-Ent mampu menemukan titik terang untuk masalah artisnya itu. Dan ketiga, jika sampai karier Good Will benar-benar hancur sehingga membuat band itu harus kehilangan formasi alias bubar, kau tidak perlu sedih karena aku yakin Lee Seungri memiliki ribuan cara untuk membuat dirinya kembali tampil di layar kaca. Bayangkan saja jika dia berubah haluan menjadi pemain film atau pembawa acara atau yang lebih konyol lagi menjadi pelawak?” Eunji otomatis tertawa terbahak-bahak setelah mendengar ucapannya sendiri. “Aku tidak bisa membayangkan jika Seungri melawak di…”

Jiyeon berhasil melemparkan bantal besarnya ke arah wajah Eunji, tepat di depan hidungnya.

“Seungri-Oppa tidak akan pernah berhenti menjadi penyanyi!” ucap Jiyeon keras, membuat sang ayah yang baru muncul di ambang pintu kamarnya otomatis terkejut.

“Kenapa kau berteriak seperti itu, Jiyeon-ah?” tanya sang ayah seraya melihat kekacauan yang sedang terjadi di dalam kamar sang anak. “Apa baru saja terjadi perang dunia di dalam kamar ini? Kau tidak tahu bagaimana cara membersihkan kamarmu?”

Jiyeon hanya menjawab semua pertanyaan sang ayah dengan sebuah senyuman. Sang ayah memang tipikal ayah cerewet yang sifatnya setara dengan ibu-ibu rumah tangga. Bahkan menurut Eunji, Park Ahjussi memiliki sosok seorang ibu di dalam dirinya dan itu terlihat sekali sejak ibu Jiyeon meninggal dunia.

“Jiyeon terlalu asik memikirkan bagaimana caranya membuat sekelompok namja tampan tetapi menyebalkan bernama Good Will kembali tampil di layar kaca sehingga waktu untuk membereskan kamarnya saja tidak ada,” celoteh Eunji tanpa jeda, membuat Jiyeon kembali melemparkan bantalnya, kini yang lebih kecil, ke arah wajah Eunji.

“Jangan melakukan sesuatu yang tidak penting seperti itu, Jiyeon-ah!” ucap sang ayah dengan geraman halus. “Sekarang kau keluar dari kamarmu, bantu Kim Beom membersihkan sawi!”

“T-tapi Appa…” rengek Jiyeon dengan nada penolakan.

“Kau mau melihat semua poster-poster tidak berguna ini hilang dari tembokmu hanya karena kau melawan perintah ayah?” tanya sang ayah yang selalu berhasil membuat Jiyeon patuh hanya karena mendengar nada suaranya yang tiba-tiba meninggi.

“Araseo,” jawab Jiyeon dengan nada melemah. “Aku akan membersihkan sawi.”

Maka jadilah sesiangan itu sampai sore hari Jiyeon berkutat di depan tumpukan sawi. Sampai akhirnya Kim Beom datang untuk mengambil sawi-sawi itu untuk diproses sampai ke tahap fermentasi.

“Ada apa dengan wajahmu itu?” tanya Kim Beom sambil tersenyum. Dia selalu seperti itu, seakan-akan dirinya sudah di program untuk selalu tersenyum di depan Jiyeon.

“Rasanya aku ingin menangis,” jawab Jiyeon dengan wajah putus asanya. “Good Will vakum. Dan aku sama sekali tidak punya rencana untuk membuat band kesayanganku itu dapat tampil kembali di layar kaca.”

Antara lucu melihat wajah Jiyeon dan kecewa karena yeoja satu ini lagi-lagi membicarakan band itu di hadapan Kim Beom.

“Perlu kau tahu, sampai kapanpun kau tidak akan bisa…atau lebih tepatnya kau tidak punya wewenang untuk membuat keputusan bagi Good Will. Mereka itu dibawah aturan sebuah label, Jiyeon-ah. Label itu yang berkuasa. Kau hanya bisa mengikuti aturan mereka tanpa bisa berbuat apa-apa,” ucap Kim Beom menjelaskan.

“Lalu apa gunanya demo?” tanya Jiyeon. “Banyak sekali aksi demo yang aku lihat hanya karena mereka ingin mengubah sebuah keputusan yang tidak sejalan dengan pikiran dan kemauan mereka.”

“Tetapi tidak semua demo berhasil, Jiyeon-ah,” ucap Kim Beom. “Bagaimana jika nasib Good Will justru semakin memburuk karena demo itu? Tidak ada gunanya kau melakukan hal itu…”

“Bicaramu sama saja seperti Eunji dan ayahku,” ucap Jiyeon dengan wajah ditekuk. “Kalian semua menyebalkan. Tidak ada yang mau membantuku. Tidak ada yang setuju dengan keputusanku.”

Kim Beom tidak bicara lagi. Dia hanya diam sementara matanya menatap kedua mata sendu Jiyeon. Sampai akhirnya Kim Beom berkata, “Baiklah. Aku yang akan membantumu. Tetapi dengan satu syarat…”

Mata sendu Jiyeon otomatis berubah cerah. Dengan sangat bersemangat Jiyeon bertanya, “Apa syaratnya?”

“Berhasil atau tidaknya, berjanjilah untuk tetap tersenyum,” jawab Kim Beom.

“M-mwo?” Kedua alis Jiyeon bertaut bingung. “Syarat macam apa itu?”

“Aku tidak suka melihatmu seperti ini, Jiyeon-ah,” ucap Kim Beom. “Tersenyum. Aku ingin selalu melihatmu tersenyum.”

“A-araseo,” jawab Jiyeon yang sebenarnya merasa aneh dengan kalimat yang baru saja Kim Beom ucapkan padanya. “Aku akan berusaha tersenyum…”

“…biarpun PJJ tetap pada keputusannya untuk membuat Good Will vakum,” sela Kim Beom melanjutkan ucapan Jiyeon.

“Walaupun rasanya sukar bagiku untuk melakukan hal itu,” desah Jiyeon. “Tetapi berusaha tidak ada salahnya.”

**

Malam harinya, Kim Beom berhasil membawa Jiyeon sampai di depan kantor PJJ Entertaiment tepat pukul sembilan malam dengan mobil bak putihnya. Park Jae Jung terlihat baru saja keluar dari kantornya dan tanpa banyak berpikir Jiyeon langsung menghadangnya dengan rentangan karton berisi dukungan untuk Good Will yang dibuatnya siang tadi. Park Jae Jung yang langsung mengerti maksud kedatangan Jiyeon langsung menyuruh Ha Dong Hoon mengusirnya.

“Kau lagi?” tanya Haha seraya mendorong pelan tubuh Jiyeon untuk membuka jalan bagi Jae Jung masuk ke dalam mobilnya.

Tidak perduli dengan pertanyaan Haha, Jiyeon lebih memilih mendorong manager Good Will yang pendek ini agar dia bisa menyusul Jae Jung yang sedang membuka pintu mobilnya.

“Beri aku lima menit untuk mengutarakan maksud kedatanganku kesini,” ucap Jiyeon cepat.

“Aku sudah tahu maksud kedatanganmu,” ucap Jae Jung. “Dan aku tidak perlu memberikan lima menit-ku yang berharga ini hanya untuk meladeni orang macam dirimu yang sudah berhasil menggangguku sesiangan ini.”

“Mwo?” tanya Jiyeon tidak mengerti maksud ucapan Jae Jung.

Haha otomatis menyela untuk menjelaskan. “Siang tadi kurang lebih sepuluh remaja sepertimu nyaris berhasil merusak pintu kantor PJJ hanya karena ingin bertemu dengan Park Jae Jung-ssi. Kuharap kau tidak memiliki niat serupa untuk…”

“Aku tidak akan merusak apa-apa disini,” sela Jiyeon cepat seraya menahan pintu mobil Jae Jung yang sudah terbuka kuncinya. “Aku tahu kenapa kau memutuskan hal itu untuk Good Will. Semuanya karena Park Bom, kekasih Seungri-Oppa saat ini. Tetapi rasanya tidak adil jika mengambil keputusan seperti itu hanya untuk menjauhkan Good Will dari…”

“Mantan penggemarnya?” sela Jae Jung. “Perlu kau tahu, Seungri berhasil membuat hampir dari setengah penggemarnya berubah menjadi sangat membenci Good Will. Mengadakan konser dipanggung jalanan untuk mereka pun rasanya akan sia-sia saja. Mendengar ucapanku ini, kau mulai terbayang bagaimana Seungri berhasil menghancurkan band yang aku bentuk susah payah ini?”

“Tidak mungkin keadaannya berubah separah itu,” ucap Jiyeon tidak percaya.

“Dengarkan aku, hagsaeng,” ucap Jae Jung. “Aku hanya membuat Good Will vakum untuk sementara ini. Ada kemungkinan mereka akan kembali setelah meradangnya berita Seungri dengan Bom ini mereda.”

“Berapa lama kau akan membuat mereka….”

“Aku tidak tahu. Mungkin tiga sampai lima bulan, entahlah…” jawab Jae Jung.

“I-itu terlalu lama…” ucap Jiyeon hampir menangis.

“Kau bisa gunakan tiga atau lima bulan itu untuk menyibuki dirimu dengan pelajaran disekolah,” ucap Jae Jung yang tiba-tiba mengubah arah pembicaraan. “Kurasa itu lebih berguna untukmu daripada menggangguku seperti ini. Dan apa kau tidak lihat? Malam semakin larut. Dan aku ingin cepat-cepat pulang dan tidur.”

“Satu pertanyaan lagi,” ucap Jiyeon yang kini menahan tangan Jae Jung yang ingin masuk ke mobil. “Good Will vakum dan aku tidak bisa melihat mereka lagi. Aku pun yakin Good Will tidak akan berada di dorm mereka selagi masa vakum berjalan…”

“Kau hagsaeng yang pintar,” ucap Jae Jung membenarkan dugaan Jiyeon.

“Lalu dimana aku bisa menemukan mereka?” tanya Jiyeon.

“Entahlah,” jawab Jae Jung. “Aku menyuruh mereka untuk menjernihkan pikiran mereka masing-masing, terutama untuk Lee Seungri. Aku menyuruhnya pergi jauh dari dorm, jauh dari kantorku ini bahkan dari tempat tinggal orang tuanya.”

“Kenapa kau melakukan hal itu?” tanya Jiyeon dengan dahi berkerut. “Lalu dimana dia akan tinggal?”

“Aku tidak mau tahu dimana dia berusaha mencari tempat untuk menjernihkan pikirannya,” jawab Jae Jung. “Aku hanya minta kepada dia untuk tidak bertemu dengan Bom lagi. Karena aku memberikan masa vakum kepada Good Will, bukan untuk membuat celah bagi Seungri agar dapat lebih sering bertemu dengan yeoja tua itu.”

Setelah bicara, Jae Jung pun masuk ke dalam mobilnya, disusul Haha yang bertugas menyupiri Jae Jung.

“Bahkan PJJ enggan tahu dimana keberadaan Oppa-ku,” desah Jiyeon kecewa. “Apa artinya aku benar-benar tidak bisa melihat wajah tampannya lagi? Andwae…aku tidak bisa…” isak Jiyeon seraya menunduk, menutupi rona kesedihannya pada Kim Beom yang datang menghampirinya.

“Kau sudah berjanji padaku,” ucap Kim Beom yang tahu bagaimana hasilnya.

“Aku ingin sekali melanggar janjiku padaku,” isak Jiyeon semakin keras. “Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berhenti menangis. A-aku ingin sekali menangis…”

Kim Beom kini hanya terdiam. Sakitnya perasaan Jiyeon saat ini entah mengapa dapat Kim Beom rasakan. Perlahan, Kim Beom memajukan tubuhnya seraya meletakkan kedua tangannya di punggung Jiyeon.

“Menangislah kalau begitu,” ucap Kim Beom pelan sementara Jiyeon masih terisak di dalam dekapannya saat ini.

**

Esok harinya…

“Seungri-ah, kau bisa tinggal di vila orangtuaku jika kau mau,” ucap Jong Hoon menawarkan bantuan pagi itu.

“Gumawo tetapi rasanya aku benar-benar akan mengikuti keinginan Jae Jung-ssi saat ini,” ucap Seungri yang saat ini sedang mengemasi barang-barang bawaannya. “Aku akan pergi jauh dari dorm dan dari rumah orangtuaku.”

“Kemana kau akan mencari tempat persembunyian?” tanya Jong Hoon. “Dengar, Seungri-ah…aku ini bukan hanya gitarismu. Aku juga sahabatmu. Min Hyuk dan Sehun pun mau berbagi tempat untukmu.”

“Terima kasih atas kebaikan kalian semua, tetapi aku benar-benar ingin sendiri saat ini,” ucap Seungri seraya mengecek kembali ponselnya. Jelas sekali dia sedang menunggu telepon dari Bom.

“Kau masih ingin bertemu dengan Bom?” tanya Jong Hoon. “Seungri-ah, itu hanya akan semakin memperburuk keadaan…”

“Bom berjanji akan selalu bersama denganku, bahkan jika suatu saat nanti karier Good Will hancur,” ucap Seungri seraya mengecek ponselnya yang baru saja berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Park Bom. Seungri terdiam cukup lama setelah membaca pesannya itu.

“Waeyo?” tanya Jong Hoon.

Seungri tidak menjawab, dia justru membanting ponselnya ke atas meja, membuat Jong Hoon otomatis tersentak kaget. Sementara Seungri terduduk lemas di atas sofa, Jong Hoon mencoba membaca pesan dari Bom.

Mianhae, Cagi. Untuk sementara ini rasanya kita tidak bisa bertemu. YG sedang membuat aturan baru, khususnya untuk diriku.

“Apa YG juga mengambil keputusan yang sama untuk 2NE1?” gumam Jong Hoon. “Vakum bersama? Lucu sekali.”

“Tidak ada yang lucu,” ucap Seungri ketus. “Aku benci dengan mereka semua. Apa salahnya jika aku memutuskan untuk menjalin suatu hubungan dengan Bom. Aku mencintainya dan dia mencintaiku. Aku benar-benar benci dengan semua orang!”

“Kau mendapatkan situasi seperti ini karena kau adalah Good Will, Lee Seungri,” ucap Jong Hoon memberitahu. “Kau bukan manusia biasa sekarang. Semua orang ingin mendapatkanmu, tidak perduli kau sedang mencintai seseorang. Jika mereka tidak bisa mendapatkanmu, itu artinya siapapun tidak boleh mendapatkanmu. Perlu kau tahu, keadaan Bom saat ini jauh lebih menyakitkan daripada keadaan kita. Kau tidak lihat fancafe 2NE1? Hampir setengahnya berhenti mengikuti. Dan kalau kau mengecek twitter Bom, followernya menurun drastis. Depan kantor YG dipenuhi spanduk yang dipatok di tanah bertuliskan ‘MATI KAU, PARK BOM!’. Semua itu sepertinya sudah cukup untuk membuat YG mendirikan perlindungan bagi artisnya.”

“Park Jae Jung tidak melindungiku!” ucap Seungri hampir berteriak. “Dia justru membuangku.”

“Kurasa dia bertindak seperti ini karena kau telah membantahnya habis-habisan,” ucap Jong Hoon terdengar seperti membela PJJ di telinga Seungri. “Berciuman di depan umum dengan Bom. Kau seperti sedang meluncurkan ribuan senapan kepada Jae Jung setelah dia membuat tembok tinggi diantara kau dengan Bom. Kau sudah menentang ucapannya, Seungri-ah.”

“Aku hanya mencintai Bom,” ucap Seungri terlihat sangat putus asa.

“Tidak akan ada yang mau mengerti dengan perasaan cintamu pada Bom, bahkan pada yeoja lain,” ucap Jong Hoon. “Untuk sekali ini aku setuju dengan ucapan Jae Jung-ssi. ‘Tidak ada pacaran lebih baik. Fokus pada kariermu yang baru melonjak.’

“Aku tidak akan menyerah,” ucap Seungri yang tidak perduli dengan ucapan Jong Hoon. “Aku tidak akan menyerah sampai akhirnya semua orang mau menerima hubunganku dengan Bom, bahkan Jae Jung-ssi…dia harus mengakui bahwa Bom memang yang paling pantas menjadi kekasihku.”

**

 Jiyeon menatap semua poster Good Will yang menghiasi dinding kamarnya.

“Haruskah aku melepas kalian semua?” tanya Jiyeon diiringi isak tangisnya. “Aku belum ingin berhenti mengagumi kalian semua. Terutama kau, Seungri-Oppa. Aku tidak mau berhenti menyukaimu. Tidak ada kau, tidak akan ada Good Will.”

Vakumnya Good Will membuat suasana di kamar Jiyeon berubah. Kamarnya kini bersih tanpa ada tanda-tanda bahwa dulunya dia penggemar berat band Good Will. Sikap riang Jiyeon pun tiba-tiba memudar. Kicauannya yang sering membuat Kim Beom tersenyum pun kini tidak terdengar lagi. Sedangkan Eunji merasa Jiyeon kini mulai sinting karena dia sering memergoki sang sahabat sedang berbicara sendiri.

“Yeonchu benar-benar sudah gila,” desah Eunji seraya menghampiri sang kakak yang baru saja selesai membersihkan meja.

“Waeyo?” tanya Kim Beom tidak mengerti maksud ucapan sang adik.

“Tidakkah kau merasa bahwa sikap Jiyeon belakangan ini berubah?” tanya Eunji balik. “Demi Tuhan, Oppa, rupanya kini seperti mayat hidup yang menghabiskan waktu setiap malam menggantung di bawah pohon. Tidak ada senyuman apalagi suaranya yang nyaring itu. Sepi total. Dan ketika aku masuk ke dalam kamarnya, kau tahu apa yang aku temukan? Tidak ada satu pun wajah dari personil Good Will yang biasa menghiasi kamarnya. Bersih. Total!” ucap Eunji menjelaskan dengan ekspresi berlebihan.

Kim Beom hanya diam tanpa merespon keluhan sang adik.

“Yaa, kau tidak mendengarkanku?” tanya Eunji seraya menyusul Kim Beom yang pergi ke belakang untuk mencuci piring, mangkuk dan gelas bekas pelanggan hari ini.

“Beberapa hari yang lalu aku mengantar Jiyeon ke kantor PJJ,” ucap Kim Beom, membuat Eunji otomatis terbelalak. “Jiyeon sudah bertemu dan bicara dengan founder label itu…”

“Lalu?” tanya Eunji penasaran.

“Dia gagal,” jawab Kim Beom. “Aku sudah duga dari awal. Park Jae Jung tidak akan mungkin merubah keputusannya hanya karena melihat wajah iba Jiyeon.”

“Geurae, Oppa! Itu sama persis dengan apa yang aku ucapkan pada Yeonchu!” ucap Eunji bersemangat. “Tetapi dia tetap pada pendiriannya untuk menemui Jae Jung itu. Lihat sekarang! Percuma dia datang. Sekarang dia hanya mampu bertingkah seperti zombie yang lupa diberi formalin.”

“Eunji-ah…kau harus bantu dia,” ucap Kim Beom tiba-tiba.

“Bantu katamu, Oppa? Aku sudah tidak tahu mau membantunya seperti apalagi. Nasihat dariku sudah keluar semua untuknya, tetapi dia tidak pernah mendengarkannya sedikit pun!” ucap Eunji bernafsu.

“Kalau begitu biar aku yang membantunya,” ucap Kim Beom.

Dan tepat setelah dirinya selesai membersihkan restoran kimchi Park Chi, Kim Beom langsung pergi ke kamar Jiyeon. Yeoja itu sedang duduk di atas ranjangnya seraya menatap buku-buku pelajarannya.

“Bagaimana keadaanmu, Jiyeon-ah?” tanya Kim Beom seraya duduk di depan Jiyeon.

“Entahlah, Oppa,” jawab Jiyeon tanpa semangat. “Aku seperti bukan manusia lagi sekarang. Apa yang aku suka di dalam hidup ini sudah diambil.”

“Kenapa kau hanya menyukai satu hal di dunia ini?” tanya Kim Beom membuat Jiyeon mendongak. “Kenapa kau hanya menyukai Lee Seungri?”

Bahkan Jiyeon sendiri tidak tahu jawabannya.

“Jika aku jadi kau, aku akan berusaha menyukai hal lain,” ucap Kim Beom. “Aku akan menyukai restoran Park Chi milik ayahmu.”

“Kau memang menyukainya, kalau tidak untuk apa kau mau bekerja dari pagi sampai malam hanya untuk mengurusi restoran ayahku itu,” ucap Jiyeon membuat Kim Beom tersenyum.

“Kalau begitu aku akan berusaha menyukaimu.” Ucapan Kim Beom kali ini berhasil membuat Jiyeon terdiam dan terkejut. “M-maksudku…aku akan berusaha mencari orang lain untuk aku sukai sebagai peralihan,” ralat Kim Beom cepat.

“Maksudmu aku harus menyukai artis lain, sehingga aku bisa melupakan Lee Seungri?” tanya Jiyeon dan langsung diangguki oleh Kim Beom. “Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Aku suka Good Will karena Lee Seungri. Harus Lee Seungri, harus ada dia.”

Kim Beom tidak langsung menanggapi ucapan Jiyeon karena hatinya mendadak seperti dibakar oleh api yang entah muncul dari mana.

“Jiyeon-ah,” ucap Kim Beom setelah berhasil mengontrol perasaannya. “Apa kau tidak mencintai ayahmu?”

“Tentu saja aku mencintai ayahku walaupun dia cerewet dan galak,” ucap Jiyeon lagi-lagi berhasil membuat Kim Beom tertawa.

“Biar kuberitahu, ayahmu tidak suka melihatmu begitu fanatik dengan Lee Seungri,” ucap Kim Beom. “Melihat kau begitu menyanjungnya, membuat ayahmu seperti merasa bahwa kasih sayang dan rasa cintamu telah dimonopoli oleh Lee Seungri. Aku yakin kau pasti tidak akan pernah berpikir sampai kesana.”

“Ne, aku tidak pernah berpikir sejauh itu,” ucap Jiyeon.

“Percayalah padaku, Seungri akan baik-baik saja dan akan segera kembali ke panggungnya, ke layar kacamu, Jiyeon-ah,” ucap Kim Beom. “Sementara dia dan band-nya menjalani masa vakum, kenapa tidak kau bagi kebersamaanmu dengan ayahmu? Kau bisa bantu restoran kimchinya. Aku yakin ayahmu pasti senang melihatmu mau membantu mengurusi restoran milik almarhum ibumu ini.”

Jiyeon terdiam, seperti meresapi setiap ucapan yang keluar dari bibir Kim Beom.

“Bagaimana jika Seungri tidak kembali?” tanya Jiyeon pelan.

Lama Kim Beom tidak menjawab, sampai akhirnya dia berkata, “Percayalah…disaat Good Will vakum dan seiring berjalannya waktu, aku yakin kau akan segera melupakan Lee Seungri dan sudah mencintai namja lain.”

**

Dan pada keesokan harinya, Kim Beom dan Eunji dikejutkan dengan kehadiran Jiyeon di dalam dapur pada Minggu pagi.

“Y-Yeonchu-ah…benar ini kau?” tanya Eunji seraya memegang wajah Jiyeon.

“Ne, aku Park Jiyeon yang tidak pernah suka di panggil Yeonchu!” ucap Jiyeon seraya membawa sawi-sawi di dalam tempat penyimpanan menuju halaman belakang rumah untuk dicuci.

“Oppa, kau beri apa dia sehingga dia bisa berubah waras seperti ini?” tanya Eunji pada Kim Beom yang kini sedang sibuk menatap Jiyeon lengkap dengan senyum manisnya.

“Aku tidak beri dia apa-apa, kecuali…”

“Oppa, gumawo…” sela Jiyeon seraya menghampiri Kim Beom. “Kau benar, seharusnya aku lebih memperhatikan restoran kimchi ini. Memang sih ada kau yang selalu siap sedia mengurusi ini semua, tetapi aku yakin ayahku jauh lebih senang jika aku turut membantumu. Walaupun aku agak tidak mengerti soal ‘mencintai namja lain’ yang kau ucapkan kemarin itu. Aku hanya percaya bahwa Seungri pasti akan kembali, entah bagaimana caranya dan entah bersama Good Will lagi atau…”

“…tiba-tiba dia memutuskan menjadi pelawak?” sela Eunji, membuat Jiyeon otomatis melemparkan salah satu sawi ke arah Eunji.

“Y-yaa! Kau tidak boleh melempar makanan!” teriak Eunji sementara Kim Beom melanjutkan senyumnya dalam diam.

**

Tiga hari kemudian…

Di televisi, Park Jae Jung tanpa member Good Will muncul dengan wawancaranya untuk mengkonfirmasi hubungan Lee Seungri dengan Park Bom. Park Jae Jung mengatakan bahwa hubungan diantara Seungri dan Bom sudah berakhir. Dan untuk beberapa saat Good Will akan menjalani masa vakum sampai tiba nantinya mereka akan muncul bersama dengan lagu terbaru tanda come back. Sementara itu, audisi pencarian bakat yang Jae Jung adakan resmi dibuka kembali.

“Mereka membuka audisinya lagi?” gumam Suho di dalam kamarnya. “Aku harus ikut dan tidak boleh gagal kali ini. Aku pasti bisa menjadi salah satu bagian dari PJJ-Ent!”

Sementara itu di luar rumah keluarga Park, Jiyeon sedang sibuk membantu Kim Beom melayani pelanggan sehingga dia tidak mendengar berita yang Jae Jung sampaikan itu. Lagipula keputusan yang Jae Jung utarakan kepada media sudah Jiyeon tahu secara pribadi. Good Will akan vakum dan entah kapan kembali.

Hanya satu orang yang bahagia dengan keadaan ini, yaitu Kim Beom. Tidak ada nama Seungri lagi yang mengudara di atas rumah keluarga Park. Kini yang Jiyeon selalu bicarakan hanya bagaimana caranya membuat kimchi seenak buatan Kim Beom. Dan Kim Beom sangat menyukai saat-saat dimana dirinya menyaksikan Jiyeon melayani pelanggan. Senyumnya muncul dan caranya yang lucu membuat Kim Beom tidak pernah bisa berhenti untuk tertawa.

“Jiyeon-ah, apa kau sedang beralih dari Seungri-Addict menjadi Kimchi-Lovers?” tanya Eunji usil malam harinya.

“Pabbo,” ucap Jiyeon seraya memukul kepala Eunji dengan buku pelajarannya.

“Kau benar-benar berubah,” ucap Eunji. “Setiap pulang sekolah, kau pasti langsung kabur ke dapur untuk menemui Oppa-ku. Jika hari libur, kau benar-benar terlihat seperti Ahjumma dengan tiga anak!”

Belum sempat Jiyeon membalas ejekan Eunji, muncul Suho yang terburu-buru mencari amplop coklat.

“Untuk apa, Oppa?” tanya Jiyeon seraya memberikan amplop coklat kosong miliknya pada sang kakak.

“Aku harus mengirim pendaftarannya malam ini,” ucap Suho sementara tangannya sibuk memasukkan kertas-kertas yang entah apa isinya ke dalam amplop coklat itu. “Dan pagi besok, kertas pendaftaranku ini sudah tiba di meja Park Jae Jung-ssi!”

“Mwo?!” Jiyeon dan Eunji otomatis terbelalak bersama.

“Waeyo? Bukankah aku sudah mengatakannya bahwa aku akan ikut serta dengan audisi PJJ?” tanya Suho. “Dan Eunji-ah, wajahmu benar-benar jelek sekarang.”

Eunji otomatis melemparkan guling ke arah Suho yang sudah keluar dari kamar Jiyeon.

“Namja itu…demi apapun dia lebih menyebalkan daripada Lee Seungri!” geram Eunji yang tidak pernah akur dengan Suho.

“Eunji-ah, coba pikirkan ini,” ucap Jiyeon tiba-tiba. “Jika Suho-Oppa sudah berhasil menjadi bagian dari PJJ, ada kemungkinan terbuka jalan bagiku untuk lebih sering bertemu dengan artis-artis PJJ, terutama Lee Seungri.”

“Mulai lagi,” desah Eunji. “Bukankah kau sudah mau melupakan Good Will?”

“Aku tidak pernah bilang aku mau melupakannya,” ralat Jiyeon. “Aku hanya sedang berusaha menerima nasib Good Will saat ini.”

“Jiyeon-ah, setelah Suho sudah berhasil masuk dan menjadi bagian dari PJJ, dia harus melewati masa training yang cukup lama,” ucap Eunji menjelaskan. “Bisa saja dia baru akan didebutkan menjadi artis setelah tiga atau empat tahun kedepan.”

“B-benarkah?” tanya Jiyeon yang baru tahu sistem perekrutan artis di label macam PJJ.

“Dan itu semua tergantung dari Suho sendiri,” tambah Eunji. “Jika dia berusaha keras agar terlihat baik dan matang di depan Jae Jung, dia pasti akan langsung didebutkan.”

“Beruntunglah karena Suho tipe pekerja keras,” ucap Jiyeon sambil tersenyum.

“Dan tipe namja menyebalkan yang sulit dapat pacar,” tambah Eunji dengan wajah yang sama menyebalkannya dengan Suho.

**

“Yeonchu-aaaaaah!” teriak Eunji seperti biasa seraya menghampiri tempat duduk Jiyeon di kelas. “Lihat!” Eunji membentangkan koran yang dibawanya di atas meja Jiyeon. “Ada yang bilang bahwa Seungri akan mengasingkan diri ke suatu desa!”

Jiyeon tidak merespon ucapan Eunji dan lebih memilih untuk membaca berita itu sendiri. Matanya begitu teliti menyusuri tiap kalimat yang wartawan itu tulis di dalam koran ini.

“E-Eunji-ah…” ucap Jiyeon pelan. “K-kau tahu dimana Seungri akan menetap saat masa vakumnya?”

“Tentu saja aku tahu!” jawab Eunji.

Dan secara bersamaan, mereka berdua berkata, “Gyeonggi-do.”

“Itu disini, desa itu disini. Gyeonggi-do, Eunji-ah….Gyeonggi-do!” teriak Jiyeon seraya memeluk tubuh Eunji erat-erat.

“L-lepaskan aku, Y-Yeonchu-ah…” erang Eunji nyaris kehabisan nafas. “Aku tidak bisa b-bernafas…”

“Tetapi…” Tiba-tiba Jiyeon melepaskan pelukannya. “Ada yang tidak masuk akal disini. Bagaimana mungkin para wartawan itu tahu dengan rencana pengasingan Seungri yang ditempatkan di desa ini? Coba bantu aku pikirkan hal ini, Eunji-ah…”

“Pabbo, mereka bukan wartawan kelas teri yang sulit mendapatkan berita mudah seperti ini,” ucap Eunji langsung menjawab. “Sebagai contoh. Managernya yang pendek itu pasti tahu dimana keberadaan Seungri. Dan jika aku jadi dia, aku akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menjual berita itu ke wartawan dengan imbalan berubah uang.”

“Kau benar-benar memiliki pikiran seorang kriminal, Eunji-ah,” ucap Jiyeon dengan wajah datarnya. “Dugaanmu terlalu jauh dan aku tidak bisa menyalahkan managernya itu yang sudah membantuku membawakan kotak makanan tteokbeoki-ku untuk Seungri-Oppa.”

“Kalau begitu untuk apa kau memikirkan hal ini? Jika memang Seungri-mu itu benar-benar akan tinggal di desa ini, kita tinggal mencarinya,” ucap Eunji memberi usul. “Kita buktikan apakah berita di koran ini benar atau tidak. Kita susuri jalanan Gyeonggi-do. Tiga sampai empat hari pun rasanya kita sudah bisa mengelilingi Gyeonggi-do dengan sepedaku itu.”

“Jika tidak benar?” tanya Jiyeon.

“Kau akan kembali menjadi Ahjumma yang hobi berkutat di dapur,” jawab Eunji seraya tersenyum lebar.

Dan siang itu disaat mereka sudah pulang sekolah, Jiyeon dan Eunji mulai merencanakan pembuktian atas berita tentang Lee Seungri yang terbit pagi ini.

“Apa kita perlu membawa bekal?” tanya Jiyeon yang dibonceng berdiri di belakang sepeda Eunji.

“Itu wajib!” jawab Eunji. “Aku tidak akan bisa memboncengimu dengan perut lapar.”

“Araseo…” ucap Jiyeon seraya menceklis daftar barang bawaan mereka nanti di atas kertas. “Y-yaa…kepalamu jangan bergerak…”

“Jangan lupa minta bawakan kaus kaki panjang pada Kim Beom-Oppa,” tambah Eunji mengingatkan. “Jika sudah sore hari, nyamuk-nyamuk itu akan bermunculan dan mulai menggigiti kaki dan tanganku.”

“Kaus kaki panjang,” ucap Jiyeon seraya menambahkan di bawah daftar ‘botol minum’.

“Tetapi…apakah ayahku akan mengizinkan rencana kita ini?” tanya Jiyeon mulai ragu.

“Kita bicarakan baik-baik dengan ayah…”

“Dia tidak akan mau mengerti,” sela Jiyeon.

“Kalau begitu kita minta bantuan Kim Beom-Opp….”

“Dia sama seperti ayahku. Bahkan dia lebih suka jika aku menjadi Ahjumma di dapur untuk membantunya,” sela Jiyeon lagi.

“Kalau begitu kita kabur saja diam-di…”

“Jika kita nekad melakukan hal itu, tidak akan ada yang namanya hari kedua,” sela Jiyeon yang ketiga kalinya. Eunji sudah jengkel di depan stang kemudi sepedanya.

“Bagaimana kalau kita bolos sekolah untuk memulainya dari pagi dan kita kembali ke rumah disaat jam pulang sekolah normalnya?” tanya Eunji yang kali ini berhasil menuntaskan kalimatnya.

Hanya saja tidak ada jawaban. Mereka pun sudah tiba lima meter dari rumah Jiyeon.

“Yaa! Bagaimana menurutmu?” tanya Eunji menagih respon dari Jiyeon yang masih terdiam di tempatnya saat ini.

“E-Eunji-ah…” ucap Jiyeon pelan dan terbata. “Kurasa…a-aku sudah tahu dimana Seungri-Oppa akan t-tinggal.”

“Mwo?” tanya Eunji seraya memutar kepalanya ke belakang untuk melihat Jiyeon.

“Lihat kedepan, Eunji-ah,” ucap Jiyeon semakin pelan.

Dan pada saat Eunji menoleh kembali ke depan, sosok pongah dan menyebalkan yang selalu menjadi ciri khasnya kini terpampang jelas sedang berdiri di ambang pagar kayu rumah keluarga Park. Lee Seungri baru saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam halaman rumah Park yang besar, sementara kesadaran Jiyeon maupun Eunji belum kembali.

To Be Continue

14 responses to “[CHAPTER – Part 3] My Jiyi

  1. aigoo baguss ff nya, baru pertama kali baca ff jiyeon yang cast cowok nya kim beom,, daebak, lanjut dong palli , fighting semangat🙂

  2. hahaha kenapa jadi gini coba?!! ini berkah utk jiyeon setelah dia galau berhari-hari😀 tapi si kim bum nnt potek lagi :3 huwaaaaa.
    so curious buat lanjutannya kak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s