(CHAPTER – PART 6 END) MY BOOK

MY BOOK1

Part Sebelumnya:
[1][2] [3] [4] [5]

Author: kimleehye19
Main cast: Park Jiyeon, Kim Myungsoo, Choi Minho, Bae Suzy
Genre: Romance, school life, fantasy
Rating: PG-17

Annyeong…
Part 5 kemarin aku bikin saat mau tidur, jadi pas ngantuk gitu banyak tanda baca dan huruf yang keliru. Hehe mianhae… Maklum, kalo malem cuma pake hp buat bikin FF. Oke, aku berusaha jadi author profesional, jadi stiap kesalahan harus diperbaiki. Ini dia part 6. Kali ini aku buatnya siang, soalnya malem sibuk bikin poster untuk FF baru.
Check it out!

Myungsoo yang baru merasakan ciuman hanya menatap Jiyeon dengan tatapan penuh tanda tanya. “Apa kau baru saja menciumku?”
Jiyeon tersipu malu. “Yaak, sekarang bukan waktunya bercanda!”
Myungsoo berpikir sejenak. Jika Jiyeon menciumnya, apakah itu artinya Jiyeon jatuh cinta padanya. Jika iya, seharusnya sekarang dia sudah jadi manusia seperti dulu. Tapi bagaimana cara mengetahuinya? Myungsoo masih bingung.
“Jiyeon-a, pergilah ke restoran saja. Biar kupikirkan cara mengambil buku itu dari nenek sihir si Bae Suzy. Aah, Suzy itu jinja! kalau begini aku bisa cepat tua.”
Jiyeon mendengar kata-kata Myungsoo dengan tertawa geli. Bagaimana mungkin dia bisa cepat tua? Dia kan belum jadi manusia seutuhnya, lagi-lagi Jiyeon tersenyum.
“Kau kenapa?” tanya Myungsoo.
“Anhiya. Myungsoo-a, apa syaratnya supaya kau bisa kembali menjadi manusia?” tanya Jiyeon yang membungkukkan bahu agar sejajar dengan Myungsoo yang berada di atas kursi roda.
Myungsoo diam. Dia bingung bagaimana harus menjawab. “Eh… Igeo… Hmm…”
Jiyeon mengernyitkan dahi. “Kau tidak amnesia kan?”
“Apa itu amnesia?” tanya Myungsoo dengan ekspresi tak berdosa.
Jiyeon memutar bola matanya malas. “Ah, lupakan. Apa syaratnya?”
“Baiklah. Aku jelaskan. Sebenarnya ada dua opsi yang diajukan dewa. Lalu aku memilih… Hmm… Aku akan menjadi manusia jika mencintai dan dicintai oleh sang pemilik buku.”
“Jongmal? Kau bilang, saat bukunya direbut orang, kau tidak akan bisa aku lihat. Tapi kenapa sekarang bisa?” Jiyeon bingung. “Ooh baiklah, aku akan menyulapmu benar-benar jadi manusia.” Jiyeon mencium Myungsoo yang hanya bisa menatap yeoja yang menciumnya. Jiyeon pun melumat bibir Myungsoo dengan lembut. “Yaak, apa kau juga baru pertama kali berciuman?” tanya Jiyeon. Myungsoo menjawabnya dengan anggukan.”Hah, manusia purba. Aku juga baru pertama kali. Tapi aku lebih pandai darimu.” Tiba-tiba Myungsoo menarik lengan Jiyeon agar wajah yeoja itu tak jauh dari wajahnya kemudian melumat bibir Jiyeon dengan lembut seperti yang Jiyeon lakukan tadi. Myungsoo melepasnya.
“Siapa yang tidak pandai?” Lalu Myungsoo melanjutkan adegan kissing-nya dengan Jiyeon. Tangannya memegang tengkuk Jiyeon. Sedangkan tangan Jiyeon memegang lengan Myungsoo di kanan-kirinya.

Chanyeol di rumah sendirian merasa kesepian. Dia heran kenapa tadi Jiyeon berlari keluar rumah seperti hendak menangkap pencuri… Oh Tuhan, dongsaengku aneh sekali. Bagaimana eomma bisa melahirkan yeoja seperti dia? Chanyeol menuruni tangga menuju dapur untuk mengambil minum. Tiba-tiba ponselnya berdering. “Omo! Haish, siapa yang telfon malam-malam begini? Hmm panggilan dari Jiyeon,” gumamnya. “Eoh, neo eodi? Mwo? Bekerja menggantikan Myungsoo?” Chanyeol melihat arlojinya. “Jam 11? Eoh, ara. Yaak, nanti jangan lupa kalau sudah mau pulang hubungi aku. Eoh annyeong…”
Klik. Jiyeon menghubungi Chanyeol karena minta dijemput sepulang bekerja nanti.

Jam 10 malam, Jiyeon sudah selesai bekerja. Tulang-tulangnya rasanya mau lepas. Kemudian dia menghubungi Chanyeol untuk segera dijemput. Tiba-tiba ia kepikiran lagi soal buku yang diambil Suzy. Tadi saat bekerja pun Jiyeon tetap kepikiran hingga tidak bersemangat. Jiyeon menunggu Chanyeol di depan restoran. Setelah menunggu 15 menit oppanya datang dengan Lamborghini miliknya.
Di perjalanan pulang, Jiyeon terlihat melamun hingga mendadak ia ingin diantar ke rumah Suzy. Chayeol kesal. Permintaan yang mendadak itu selalu saja keluar dari mulut Jiyeon.
“Kau mau apa ke sana?”
“Nanti oppa akan tahu sendiri.”
“Yaaak, sudah larut begini tidak sopan berkunjung ke rumah orang.” Chayeol memperingatkan Jiyeon.
“Dia juga tidak peduli saat berbuat jahat padaku.”
Chanyeol menatapnya aneh. Tidak biasanya Jiyeon seperti itu.

Ckiit…
Mobil Chanyeol berhasil parkir dengan mulus di depan rumah Suzy. Rumah yang tergolong megah itu terlihat sepi seperti rumahnya sendiri. Jiyeon melangkah masuk ke halaman kemudian memencet bel saat tiba di depan pintu. Tak lama kemudian Suzy membuka pintu.
Deg!
Jiyeon dan Chanyeol kaget. Tepat sekali dia membuka pintunya, batin Jiyeon.
“Si, silahkan masuk.” Suzy mempersilahkan mereka masuk.dan duduk di sofa warna hitam. “Kalian mencari appa?’
Tiba-tiba Jiyeon mendapatkan ide. “Ne. Tolong panggilkan appamu,” kata Jiyeon dingin.
Chanyeol dibuat bingung oleh tingkah laku dongsaengnya itu. Suzy segera memanggil appanya. Tak berapa lama kemudian tuan Bae muncul. Ia terkejug melihat kedatangan Chanyeol dan Jiyeon.
“Suatu kehormatan bagi saya, agassi dan presdir Park berkenan datang ke gubuk saya. Apa kiranya yang membawa anda berdua datang dari jauh-jauh di malam seperti ini?”

Tanpa babibu, Jiyeon langsung ke pokok permasalahan karena Chanyeol hanya mengantar dongsaengnya, tidak tahu menahu tentang maksud kedatangan mereka.
“Sebelumnya saya minta maaf tuan Bae. Kedatangan saya kemari adalah ingin meminta kembali buku saya yang diambil oleh putri anda.”
“Buku? Benarkah?” tanya tuan Bae tidak percaya.
“Saya ingin memintanya kembali karena Suzy mengambilnya tanpa izin saya.”
“Suzy-a, apa benar begitu?” Tanpa menunggu jawaban dari putrinya, tuan Bae melanjutkan. “Buku apa yang kau curi? Appa sudah menyuruhmu minta maaf pada keluarga Park, tapi kamu malah mencuri buku Jiyeon agassi?”
Plakk!!
Tamparan lagi. Suzy memohon pada appanya jangan menamparnya lagi.
“Appa benar-benar malu punya putri sepertimu. Apa yang telah appa ajarkan padamu sehingga kamu seperti ini. Benar-benar keterlaluan. Cepat ambil buku itu dan berikan pada Jiyeon agassi!”
Suzy menuruti perintah appanya. Dia berjalan ke kamarnya dengan berlinangan airmata. Airmata yang tak seberapa dibanding kesengsaraan Jiyeon akibat ulahnya.
Dengan ragu, Suzy memberikan buku itu pada Jiyeon. Jiyeon segera meraih bukunya. Dibukanya halaman yang berisi gambar Myungsoo. Opso. Jiyeon bingung. Apakah Myungsoo sudah menjadi manusia?

Jiyeon dan Chanyeol pamit. Ketika hendak masuk ke dalam mobil, mereka mendengar teriakan tuan Bae. Keduanya pun segera berlari ke sumber teriakan itu.
“Suzy-a…” gumam Jiyeon.
Suzy, gadis itu naik ke lantai 2 dan berdiri di tepi pagar besi di teras lantai 2. Yeoja itu berniat bunuh diri dengan melompat dari lantai 2.
“Oppa, otteohke?” Jiyeon cemas melihat Suzy yang banjir airmata dan berdiri di tepi pagar, sedikit lagi dia akan meloncat.
“Suzy-a, turunlah. Pikirkanlah baik-baik. Kau tidak boleh seperti itu..” Jiyeon berusaha membujuk Suzy untuk tidak terjun dari lantai 2. Cukup lama Jiyeon membujuk Suzy. Suzy akan menghentikan aksinya kalau Jiyeon memberikan buku itu padanya. Bagai di ujung kematian, Jiyeon merasa sangat takut. Jika dia tidak memberikannya pasti Suzy akan celaka. Tapi jika ia memberikannya, dia akan kehilangan Myungsoo.
Akhirnya, karena kasihan melihat tuan Bae begitu menyayangi Suzy apalagi Suzy adalah putri semata wayangnya, Jiyeon memberikan buku itu pada Suzy, tentunya dengan perasaan yang sehancur-hancurnya. Jika kali ini dia kehilangan Myungsoo lagi maka dialah yang akan mati. Jiyeon menahan tangisnya. Setelah menyerahkan buku itu pada Suzy, Suzy minta maaf dan berterimakasih pada Jiyeon. Jiyeon tak begitu mendengarkan kata-kata Suzy. Baginya, baik Suzy minta maaf atau berterimakasih atau bahkan bersujud di bawah kakinya, ia tak akan peduli. Jiyeon tidak kuat lagi menahan keluarnya airmata, ia berhambur keluar.  Chanyeol menyusul.
“Ji, kau kenapa?” tanya Chanyeol.
“Aku rindu appa. Melihat mereka berdua membuatku teringat almarhum appa. Oppa, aku ingin ke rumah sakit. Kau pulang saja.”
Jiyeon mempercepat langkahnya.

Jiyeon pov.
Aku sudah tidak sanggup. Apakah kali ini aku akan benar-benar kehilangan dia? Andwaeyo sesangi… Jebalyo… Airmataku tak ku hiraukan lagi seberapa banyak mengalir dari ujung mataku. Aku berlari sekuat tenaga. Aku harus bertemu Myungsoo. Dia tidak boleh pergi. Oh Tuhan, aku mencintainya. Jangan pisahkan aku darinya…
Kakiku tak sanggup lagi berlari. Akhirnya Chanyeol oppa menyusulku dan menyuruhku masuk ke dalam mobil. Lamborghini milik oppa melaju dengan sangat cepat. Oppa tidak tahu apa-apa, tapi karena rasa sayangnya padaku, dia rela melakukan apa saja untukku. Itu karena oppa telah berjanji pada appa bahwa ia akan menjagaku, menggantikan appa.

Kamar 1207. Aku harus segera ke sana. Oppa yang melihatku cemas malah mengkhawatirkan aku. Ia sudah tahu kalau tekadku pergi ke RS hanya karena Myungsoo.

Myungsoo…
Oh Tuhan, syukurlah. Syukurlah dia masih di sana. Aku mendekati Myungsoo yang sedang tidur nyenyak. Kuraih tangannya. Ku letakkan telapak tangannya di wajahku kemudian aku menciumnya sekilas. Aku benar-benar lega melihatnya damai dalam tidurnya. “Anyeongi jumuseyo, Myungsoo-a…” lirihku.
Jiyeon pov end.

Myungsoo pov.
Aku merasakan seseorang sedang memegang tanganku dan menempelkannya di kulit mulus berair. Aku mendengar suaranya terisak, Jiyeon. Ada apa dengan Jiyeon. Ku buka mataku. Yeoja itu sedang menundukkan kepalanya. “Jiyeon-a, waeyo? Yaak, kenapa kau selalu menangis di depanku, eoh?”
Jiyeon menatapku. “Myungsoo-a, sebutkan tanda-tanda kalau kau sudah menjadi manusia lagi! Palli!”
Tadi saja aku sudah merasa bingung, sekarang Jiyeon malah bertanya tentang itu, aku semakin bingung. “Tandanya…” Ah, aku sendiri juga kurang tahu. “Eoh, tandanya antara lain… Gambarku. Ya, gambarku di buku itu sudah tidak ada, lalu apa lagi ya?” Haish, para dewa memang sudah mengatakannya padaku. Tapi aku lupa. Aku harus mengingatnya.

Flashback.
Saat kembali ke khayangan beberapa waktu yang lalu, Myungsoo bertanya jawab dengan salah satu dewa. Dewa yang satu ini sangat menyayangi Myungsoo. Dia menyayangkan sikap Myungsoo yang mengharuskannya terkurung dalam sebuah buku.
“Kim Myungsoo, setelah kujelaskan sedua opsi itu, kau memilih yang mana?”
“Aku akan mencintai dan berusaha untuk dicintai sang pemilik buku. Tapi, tanda-tanda kalau aku sudah menjadi manusia bagaimana?” tanya Myungsoo.
“Kau akan menghilang dari buku itu. Tapi, buku itu harus dilenyapkan karena sebenarnya buku itu adalah kurungan atau penjara ysng dibuat oleh para dewa. Kami memiliki banyak kurungan tapi hanya satu yang berupa buku. Jadi kau harus membakarnya.”
Myungsoo tampak berpikir. “Ne, araseo.”
Flashback end.

“Jiyeon-a, kita harus melenyapkan buku itu. Meskipun aku sudah nenjadi manusia lagi, buku itu harus tetap dihancurkan. Buku itu ada di mana? Apakah masih di tangan Suzy?”
Jiyeon mengangguk pelan. Raut wajahnya tampak sedih. Myungsoo menggenggam tangan Jiyeon. Ia pun membalasnya.
“Mian aku selalu merepotkanmu. Inilah yang menjadi alasan aku kembali padamu dan memilih untuk dicintai dan mencintaimu. Karena kau orang yang dapat membuka hatiku, Jiyeon-a. Aku ingin menjadi manusia lagi karena ingin selalu bersamamu. Jika tidak, aku akan bergantung pada buku itu selamanya.”
“Aku akan mengambil buku itu. Apapun caranya. Aku tidak ingin kau pergi lagi, Myungsoo-a.”

Jiyeon kembali ke sekolah. Dia punya satu cara untuk mengambil buku itu dari Suzy. Untuk itu, kali ini dia akan melibatkan seseorang.
“Minho-a, aku ingin bicara denganmu.” Jiyeon duduk di bangku depan Minho.
“Waeyo? Kau tampak serius begitu. Apa ada sesuatu?”
“Ah, aku hanya ingin minta tolong padamu. Bisa?”
“Eoh. Mwondae?”
Jiyeon pun memceritakan semua tentang buku Myungsoo yang kini berada di tangan Suzy. Minho membulatkan matanya. Ia tak percaya ini bisa terjadi di dunia nyata. Seperti dongeng saja.
“Yaak, kenapa ekspresimu begitu?”
“Anhiya. Gurae, aku akan membantumu. Aku yang akan membakar buku itu. Kau tenang saja. Malam ini aku akan ke rumah Suzy.”
Jiyeon tersenyum lega. Akhirnya Minho mau membantunya.

Minho pov.
“Suzy-a eodi? Eoh, aku ke rumahmu sekarang.” Dalam waktu kurang dari 10 menit, aku sudah berada di rumah Suzy karena jarak rumah kami tidaklah jauh. “Appamu mash ada di sini?”
“Anhi,” jawab Suzy singkat.
Aku dan Suzy mengobrol di ruang tamu. Dengan berbohong padanya, aku mengatakan ingin meminjam buku Fisika karena aku tidk begitu mengerti materi kelas 1. Suzy menyuruhku mengambilnya sendiri di kamarnya. Sedangkan dia memvuatkanku minuman dan mengambil beberapa snack. Aku masuk ke dalam kamarnya. Di atas meja belajarnya ada sebuah buku yang tampaknya kuno sekali. Mungkin ini buku yang dimaksud Jiyeon. Segera ku ambil dan kumasukkan dalam jaketku. Setelah itu aku mencari buku fisika. Ketemu. Aku menuruni tangga menuju lantai dasar. Suzy menungguku di sana dengan banyak makanan dan minuman.
“Suzy-a, buku apa yang kau rebutkan dengan Jiyeon?”
“Aku tidak bisa memberitahumu, oppa.”
Aku mengambil sebuah korek dari saku jaketku yang memang sudah kusiapkan dari rumah. “Apakah buku ini?” Suzy tersentak kaget melihat buku itu di tanganku. Tanpa bicara apapun, aku keluar rumah untuk membakar buku itu. Suzy menyusulku. “Suzy-a, kau boleh marah padaku. Tapi saat itu juga kita tidak punya hubungan apa-apa lagi.”
“Oppa…” Aku melihat airmatanya menetes. Sebenarnya aku tudak tega melihatnya seperti itu. Tapi mengingat penderitaan yang dialami Jiyeon karena peebuatan Suzy, menguatkan keyakinanku untuk melakukan ini. Ya, aku harus melakukan ini. Aku membakar buku itu di depan Suzy.
“Oppa, buku itu sangat berarti bagiku.”
“Wae? Apa kau mencintai Myungsoo?” Dia terkejut dengan kata-kataku.
“Hanya Myungsoo yang dapat membantuku memiliki segalanya. Aku membutuhkan dia untuk membantuku dalam segala hal. Gurae oppa. Kau boleh membakarnya. Aku tidak ingin kehilangan oppa.” Aku tak percaya Suzy bicara seperti itu. Akhirnya aku tidak menyesal membuatnya sedih karena buku itu. Dengan begini aku bisa membantu Jiyeon.
Minho pov end

Di RS.
Jiyeon mendengarkan Myungsoo yang menceritakan masa lalunya. Tawa keduanya terdengar hingga keluar kamar. Tiba-tiba sesuatu terjadi pada Myungsoo. Kepalanya sakit, rasanya seperti terbakar. Begitu juga dengan tulang-tulangnya. Myungsoo menjerit kesakitan. Jiyeon bingung, ia tak tahu harus berbuat apa. Namun ternyata rasa sakit yang dirasakan oleh Myungsoo lenyap seketika. Cidera akibat kecelakaan pun semhuh total. Ia kembali menjadi manusia. Jiyeon mengerutkan dahi, bingung.
“Jiyeon-a, aku telah kembali.”
“Mwo?”
“Aku kembali menjadi munusia.”
“Oh Sesangi…” Mata Jiyeon berkaca-kaca. Dia masih tak percaya Myungsoo telah menjadi manusia.kembali. Ia telah bebas dari kurungan itu. Minho berhasil membakarnya, gomawo Minho-a.., batin Jiyeon.

Myungsoo keluar dari RS. Dia dinyatakan sembuh total.
Di pinggir sungai Han, Jiyeon dan Myungsoo jalan-jalan menikmati pemandangan sungai di sore hari yang tampak memukau. Keduanya bergandengan mesra. Senyum terukir di wajah berseri dari keduanya. Akhirnya perjuangan Myungsoo berakhir di sini. Appanya pasti bahagia melihat Myungsoo menjadi manusia lagi.
“Aku tak percaya punya namjachingu dari masa lalu. Seharusnya aku memanggilmu haraboji,” gurau Jiyeon.
“Hmm kalau kau memanggilku haraboji, aku tidak segan-segan menciummu. Hahaha….” Myungsoo tertawa lepas. Ia menatap Jiyeon lekat-lekat. Ternyata yeoja itu cantik juga, batinnya.
Jiyeon melingkarkan lengannya di leher jenjang Myungsoo. Wajah mereka sangat dekat hingga terdengar hembusan nafas masing-masing.
Chu…
Myungsoo mencium bibir Jiyeon, malumatnya lembut. Mereka sangat menikmati ciuman itu. Sungai Han dan sekitarnya menjadi saksi bisu kemesraan Jiyeon dan Myungsoo.

End.

Akhirnya end juga…
Aku bingung mau berkata apa. Yang penting tinggalkan komentar ne…
Yg udah ngikutin FF ini jongmal gomawo. Kalian telah menyemangatiku. Aku akan datang lagi dengan FF baruku.
Gomawo…
Annyeong… ^_^

69 responses to “(CHAPTER – PART 6 END) MY BOOK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s