[FICLET] Go Home

Go Home3

Go Home

litemints presents

 Bae Suzy and Lee Junho short film

|| Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life || Ficlet (789 w) || Teen || Warning! Junho’s POV || Already posted here ||

.

.

.

Karena Lee Junho punya banyak definisi mengenai kata ‘pulang’.

***


Aku tak pernah tahu kalau meninggalkan tanah kelahiran selama satu dekade akan berakhir secanggung ini. Duduk tenang dengan mata menyalang. Meresapi tiap aspek yang tertangkap indera. Mengolahnya dalam ruang pikir tanpa sudi susah payah bereaksi.

Matahari berpendar jingga. Gelitik dingin menggoda kulit dengan malu-malu. Lampu lalu lintas memancar hijau, lalu merah, terkadang kuning. Pedestrian berwajah lelah berlalu lalang tanpa saling sapa. Terperangkap dalam jebakan metropolitan bertajuk individualitas. Sebagian dari mereka melewati jangkau pandangku sampai hilang di ujung jalan. Sebagian lagi berhenti di tepian dan berteriak memanggil taksi. Sisanya adalah mereka yang mengutak-atik ponsel dan duduk di bangku-bangku sekitarku dalam naungan atap halte yang sama.

Aku sedikit banyak berharap bahwa sore milik Seoul tak berbeda dengan sore di tempat lain. Namun, kontinuitas menggusur ekspektasiku tanpa peduli betapa ulu hatiku mendadak nyeri disusul perih. Gadis itu datang, menjejalkan bokongnya di bangku sebelahku. Dengan rok putih tulang selutut dan jaket rajutan hangat. Seumpama magnet yang menarik segala memoar lampau ke dalam pusaran rasa tak bernama. Aku mendadak kalut. Sedikit-sedikit merengut sedih lalu tersenyum lebar sampai mulutku seperti mau sobek. Rasanya ingin aku berteriak, memaki pada reklame di seberang jalan atas kebodohan yang diperbuat mimik wajahku.

“Lama tak jumpa, Lee Junho.” Ia bersuara. Lirih. Lembut dan halus bak sutra hingga aku merasa begitu hina untuk menimpali.

Sudut mataku memberi informasi bahwa ia tengah menatapku tanpa kedip. Selalu begini. Lagi-lagi begini. Bae Suzy belum berubah—dan aku sedikit berlega hati karenanya.

“Masih ingat aku kan?”

Mungkin ini terdengar konyol. Tapi sungguh, mendengar ia bersuara membuat hasrat diamku kian memuncak. Seakan mulutku ditempeli lakban hitam dan tubuhku terjerembap pada pojok ruangan tak bercahaya. Aku serasa diadili dengan cara tak adil.

“Aku hidup dengan baik di sini. Menunggu kamu pulang bukan hal yang sulit. Aku punya ribuan cara biar rasa rinduku tidak menggunung.”

Ia bertutur dengan kepala terteleng ke kanan. Matanya menerawang lurus sembari bibirnya mengulas senyum ketulusan. Tapi aku tahu ia baru saja berdusta. Semata-mata meyakinkanku untuk tidak merasa bersalah.

“Ingat toko buku milik Tuan Choi? Dulu kita bermain di sana seharian, sampai diusir karena toko harus tutup. Rasanya menggelikan. Tapi nggak lagi karena sepuluh tahun belakangan aku selalu datang sendiri.”

Aku ingin berkata bahwa aku pun masih mengingat itu. Bahwa ada ruang khusus tempat kusimpan kenangan tentang Bae Suzy. Dewasa ini, kusadari bahwa ruang itu adalah penyimpan memori terbaik sepanjang hidup.

“Tiap akhir pekan aku datang ke toko kue milik Bibi Ahn. Dulu selalu kamu yang mentraktir dan aku memesan banyak donat. Kalau sepuluh tahun ini kamu masih melakukan hal yang sama, mungkin aku sudah segendut dugong yang kita lihat waktu karyawisata semasa sekolah dasar.”

Wajahku memanas. Lantas keluarlah bayang kejadian sepuluh tahun silam. Berlatar meja kursi kosong dan remah-remah donat di atas piring, bibir kami bertemu tuk pertama kali. Aku masih ingat rasanya. Begitu juga dengan teriak kaget milik Bibi Ahn yang mengudara di tengah kegiatan mengasyikkan kami. Sangat memalukan. Aku tidak ingat wajah siapa yang lebih merah waktu itu.

“Jelang petang begini aku selalu di sini. Hanya memastikan kalau anganku melihat kamu pulang bisa terwujud.”

Panas di wajahku lenyap seperti ditimbun satu truk es balok. Sensasi dinginnya merambat ke ulu hati. Aku membeku untuk sekadar menggerakkan bola mata. Lalu cincin di jari manisnya membuatku paham: bahwa aku tengah diadili rasa sesalku sendiri.

“Kata Ibu, aku sudah menunggu terlalu lama, nanti bisa jadi perawan tua. Akhirnya Ibu membawaku ke rumah temannya yang memiliki anak laki-laki seusiaku. Tujuh hari lalu, margaku resmi berganti jadi Kim.”

Kepalaku tertoleh. Kami bertukar tatap demi menyelami irama konstan dalam satuan sekon. Gulir waktu jadi terasa begitu berharga. Alirannya ingin kuhentikan sampai di sini. Supaya aku bisa terperangkap dalam satu momen bersamanya. Satu momen yang tak kutahu kapan bisa terulang kembali.

“Aku senang kamu sudah pulang.”

Bibirku terkulum tak nyaman. Mulutku ingin bersuara. Menyatakan bahwa aku pun senang dapat bertemu dengannya sambil menyimak decit kendaraan berlalu lalang. Tapi rasa sesal memorakporandakan segala aksara. Aku terasingkan dalam palung terdalam. Tanganku berusaha menggapai miliknya. Hingga kusadari tangan itu mulai melebur—bersatu padu dengan partikel udara. Lamat-lamat ia kembali berujar,

“Jadi, sekarang aku bisa pulang dengan tenang.”

dan ia hilang. Tak pernah lagi kudengar suaranya.

Bangku di sebelahku kini kosong. Sebenarnya memang begitu sejak jutaan sekon yang lalu. Kutengok sekeliling dan tak lagi kudapati kaum berwajah lelah dalam jumlah besar. Hanya tersisa dua. Semuanya berdiam di bawah dekapan bulan.

Tubuhku terdampar dalam realitas yang tak pernah kuharapkan. Imajinasiku buyar. Fantasiku berkhianat. Dahiku terantuk batu memori beberapa jam lalu. Di mana linangan air mata basahi gundukan tanah berbatu nisan. Tempat ia berpulang. Dalam keabadian.

.

.

.

Namanya Lee Junho—yang terpenjara dalam seribu satu kenangan bersama si gadis masa lalu.

Tak ada yang bagus dari penjara. Pengap. Membosankan.

Ia ingin pulang.

Supaya mampu bernapas tanpa dijejal rasa sesal.

Untuk sekadar menapak masa depan tanpa menengok ke belakang.

Jadi,

adakah yang tertarik membantu?

-fin


Halo! Rasanya udah lama sekali tidak membuat postingan di sini. Sekolah menyita waktuku untuk sekadar menilik blog. So, satu minggu setelah postingan ini, aku akan segera resign. Hehe jadi ini semacam goodbye stageku dari HSF😦 (/elap ingus) Huhuhu tapi aku masih bisa ditemui kok di dunia fanfic, tapi nggak di sini😦

Oke, mohon maaf ya kalau selama author di sini aku nggak ramah dan ada yang merasa komennya belum dibales heu sekali lagi itu karena kesibukan sekolah, mohon dimaklumi.

See you, minna-san!🙂

Salam hangat,

litemints (Nenni/98l)

5 responses to “[FICLET] Go Home

  1. oh gosh, can i cry?
    pemilihan bahasanya bagus bgt, membuat pembaca diposisikan sebagai junho and gosh all those feels just so blue, dan author mengucap selamat tinggal? astaga, saya butuh tisu :”(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s